JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Tingkat Kecanduan Smartphone dan Self Efficacy dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Background: The use of smartphones by students have positive and negative impacts on the learning process. The ease in obtaining information with smartphones makes students motivated to participate in the learning process in class. Learning achievement is influenced by characteristics that indicate the factors originating from within students, one of which is self-efficacy which refers to self-confidence in the abilities possessed. Methods: The design of this study was observational analytic with a cross-sectional design. The sampling technique in this study used a purposive sampling method and obtained a total sample of 118 people. Data analysis used the Spearman trial test. Research Results: The result of Spearman correlation bivariate statistical test obtained that each p-value = 0.024 in smartphone addiction and p-value = 0,000 in self-efficacy.Conclusion: There is a significant relationship between smartphone addiction and self-efficacy with learning achievement of the students in the Medical Faculty, University of Malahayati, class of 2018Latar Belakang: Penggunaan smartphone oleh mahasiswa dapat memberikan dampak yang positif dan negatif dalam proses pembelajaran. Dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi dengan smartphone membuat mahasiswa termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran dikelas. berlangsung. Prestasi belajar dipengaruhi oleh karakteristik yang menunjukkan kepada faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik, salah satunya adalah self-efficacy yang merujuk kepada keyakinan diri terhadap kemampuan yang dimilik. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pendekatan analatik observasional dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 118 orang. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s. Hasil Penelitian: Hasil uji statistik bivariat korelasi Spearman’s didapatkan masing-masing nilai p- value = 0,024 pada kecanduan smartphone dan p-value = 0,000 pada self-efficacy. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan smartphone dan self-eficacy dengan prestasi belajar pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati angkatan 201
Angka Kejadian Ileus Obstruktif Pada Pemeriksaan BNO 3 Posisi Di RSUD Abdul Moeloek
Background: Obstructive Ileus is a state where the contents of the lumen of the gastrointestinal tract cannot be transmitted to the distal due to mechanical obstruction or barriers. Causes of obstruction of ileus are related to the affected age group and obstruction location. Objective: To know the incidence of obstructive ileus on the examination of BNO 3 position in the radiology. Method: The research is a descriptive study with a cross-sectional approach. The samples in this study are all records of the medical record of obstruction ileus patients that were diagnosed through examination of the BNO 3 position. The sampling technique used a total sampling technique of 30 respondents. Data analysis using univariate analysis. Results: unknown age frequency distribution of ileus obstructive patients diagnosed through the examination of BNO 3 most vulnerable positions aged > 65 years as much as 30.0%. The most genders in male female respondents as much as 63.7% and the location of most obstructive ileus in 73.3%. Conclusion: The incidence of ileus obstrusion on most BNO examination at the age of > 65 years with male gender and the location of high-level obstruction ileusLatar Belakang : Ileus obstruktif (ileus mekanik) adalah suatu keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak dapat disalurkan ke distal karena adanya sumbatan atau hambatan mekanik. Penyebab ileus obstruksi berkaitan pada kelompok usia yang terserang dan letak obstruksi. Tujuan: Untuk mengetahui angka kejadian ileus obstruktif pada pemeriksaan BNO 3 posisi Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan crosssectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh catatan rekam medik pasien ileus obstruksi yang terdiagnosis melalui pemeriksaan BNO 3 posisi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling sebanyak 30 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil : Diketahui distribusi frekuensi usia pasien ileus obstruktif melalui pemeriksaan BNO 3 posisi paling banyak rentan usia > 65 tahun sebanyak 30,0% dengan jenis kelamin paling banyak pada responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 63,7% serta letak ileus obstruktif paling banyak pada ileus obtruksi letak tinggi sebanyak 73,3%. Kesimpulan : angka kejadian ileus obstrusi pada pemeriksaan BNO paling banyak pada usia > 65 tahun dengan jenis kelamin laki-laki serta letak ileus obstruksi letak tinggi
Derajat Toksisitas Trombosit pada Penderita Kanker Kolorektal yang Mendapat Kemoterapi CapeOX
Colorectal cancer treatment one of which is chemotherapy. One of the regimens/chemotherapy medicine is CapeOX (Capecitabine + Oxaliplatin). The use of oxaliplatin which is platinum-based chemotherapy has side effects in the form of hematological toxicity (myelosuppression) one of which is platelet count. Thrombocytopenia is a platelet count of less than 100,000 / mm3this is one of the hematological toxicity that can be found in colorectal cancer patients who received chemotherapy. Research Objective: The purpose of this study was to determine the difference average of platelet levels and pre and post-chemotherapy CapeOX and the form of the degree of platelet toxicity in colorectal cancer patients receiving CapeOX chemotherapy.Method: This study is a historical (retrospective) cohort. The sample of this study was 70 patients obtained from a consecutive sampling calculation. Data analysis using Paired T-Test.Results: The age of colorectal cancer patients ranged from 18 to 73 years, with the highest frequency of 56-65 (38.6%), comparison of female 34 (48.6%) and male 36 (51.4%). The most widely used type of surgery was a Low Anterior Resection of 40 (57.1%). In this study, the highest decrease in platelet levels occurred in the sixth series of 54.186/mm3 with a standard deviation of 16.127/mm3. There was a decrease in average platelet levels highest occurred in the sixth cycle of 54,186 / mm3 with a standard deviation of 16,127 / mm3, and obtained first-degree platelets) toxicity in the 5th and 6th cycles of 3 (4.3%) and 18 (25.7) and who experienced second degree in the 5th and 6th cycles of 1 (1.4%) and 10 (14.3%).Pengobatan kanker kolorektal salah satunya adalah kemoterapi, Regimen/obat kemoterapi salah satunya adalah CapeOX (Capecitabine + Oxaliplatin). Penggunaan oxaliplatin yang merupakan kemoterapi berbasis platinum memiliki efek samping antara lain berupa toksisitas hematologi (myelosupresi) antara lain ialah kadar trombosit. Trombositopenia adalah jumlah trombosit yang kurang dari 100.000/mm3hal ini merupakan salah satu toksisitas hematologi yang dapat ditemukan pada pasien kanker kolorektal yang menjalani kemoterapi.Tujuan Penelitian : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rerata kadar trombosit pre dan post kemoterapi CapeOX dan derajat toksisitas trombosit pada penderita kanker kolorektal yang mendapat kemoterapi CapeOX. Metode : Penelitian ini berbentuk historical (retrospective) cohort. Sampel penelitian ini adalah 70 pasien yang didapatkan dari perhitungan consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji T-Test Berpasangan.Hasil :Usia pasien kanker kolorektal berkisar antara 18 tahun sampai dengan 73 tahun dengan frekuensi tertinggi 56-65 (38,6%). Perbandingan wanita 34(48,6%) dan laki-laki 36(51,4%). Didapatkan jenis operasi paling banyak digunakan adalah Low Anterior Resction sebanyak 40(57,1%). Terdapat penurunan rerata kadar trombosit tertinggi terjadi pada siklus keenam sebesar 54,186/mm3 dengan simpangan baku sebesar 16,127/mm3, dan didapatkan toksisitas trombosit derajat satu pada siklus ke-5 dan ke-6 masing-masing sebanyak 3(4,3%) dan 18(25,7%) dan yang mengalami derajat dua pada siklus ke-5 dan ke-6 masing-masing sebanyak 1(1,4%) dan 10(14,3%)
Hubungan Rhinitis Alergi dengan Kejadian Asma Bronkial
Allergic rhinitis defined as an inflammation on nasal mucosa which triggered by contact with allergen. Allergic rhinitis has been linked with bronchial asthma. For that reason, the relationship of allergic rhinitis with the incidence of bronchial asthma needs to be known in supporting the approach to diagnosis and treatment of one another. In this article a variety of literature studies are carried out to summarize and compare the results of the current understanding so that relevant publications are formed. The relationship between the two is explained pathophysiologically and epidemiologically. Pathophysiologically includes the effects of nasal physiology on the bronchus, nasobronchial reflexes, similar inflammation, and the mediators and markers involved. Epidemiologically, it is explained that rhinitis is a significant risk factor for the onset of asthma as an adult.Rhinitis alergi merupakan radang mukosa nasal yang dipicu oleh paparan alergen. Rhinitis alergi memiliki keterkaitan dengan asma bronkial. Untuk itu, hubungan rhinitis alergi dengan kejadian asma bronkial perlu diketahui dalam menunjang pendekatan diagnosis dan pengobatan satu sama lain. Pada artikel ini dilakukan studi berbagai literatur dengan upaya meringkas dan membandingkan hasil pemahaman terkini sehingga terbentuk publikasi yang relevan. Hubungan keduanya dijelaskan secara patofisiologis dan epidemiologis. Secara patofisiologis mencakup efek fisiologi hidung terhadap bronkus, reflek nasobronkial, inflamasi serupa, serta mediator dan marker yang terlibat. Secara epidemiologis dijelaskan bahwa rhinitis merupakan faktor risiko signifikan timbulnya asma yang ber-onset saat dewasa
Pengaruh Pemberian Asiklovir dalam Menurunkan Progresifitas dan Transmisi HIV
Background: The HIV / AIDS epidemic presents severe challenges for development and social progress. HIV is a virus that is transmitted mainly through sexual contact, intravenous lines that are used together, and mother to child transmission that can occur during the process of birth or breastfeeding. HIV is mainly caused by infection with HIV-1 or HIV-2, a retrovirus of the family retroviridae, genus Lentivirus. Treatment with anti-retroviral therapy has been effective and has helped to maintain health for those with HIV infection but HIV-related mortality rates remain high. Prevention efforts are made to reduce mortality and morbidity related to HIV. One of the prevention efforts that can be done is using acyclovir but this is still controversial. Acyclovir is an agent used to treat infections caused by the herpes simplex virus (HSV). Objective: To determine the role of acyclovir in reducing transmission of HIV transmission. Method: Using literature studies from both nationally and internationally journal by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. Results : HIV coinfection with HSV can increase transmission and disease progression. The main treatment for herpes simplex is with acyclovir. Acyclovir at a dose of 2x400 mg and valacyclovir at a dose of 2 x 500 mg reduce the progression of the disease. Acyclovir has a direct anti-HIV effect. But acyclovir does not reduce transmission from HIV itself. Conclusion: Acyclovir plays a role in reducing mortality and the progression of HIV to AIDS with direct anti-HIV effects.Latar belakang : Epidemi HIV/AIDS memberikan tantangan berat bagi pembangunan dan kemajuan sosial. HIV merupakan virus yang ditularkan terutama melalui hubungan seksual, jalur intravena yang digunakan secara bersamaan, dan transmisi ibu ke anak yang dapat terjadi saat proses kelahiran ataupun menyusui. HIV terutama disebabkan karena infeksi HIV-1 atau HIV-2, retrovirus yang tergolong dalam famili retroviridae, genus Lentivirus. Pengobatan dengan terapi anti-retroviral memberikan hasil efektif dan telah membantu menjaga kesehatan bagi mereka dengan infeksi HIV namun angka mortalitas terkait HIV tetap tinggi. Upaya pencegahan dilakukan untuk menurunkan angka mortalitas maupun morbiditas terkait HIV. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah pemberian asiklovir namun hal ini masih kontroversial. Asiklovir adalah agen yang digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV). Tujuan : Mengetahui peran dari asiklovir dalam menurunkan transmisi penularan HIV. Metode : Menggunakan studi letarute dari junal baik nasional maupun internasional dengan meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil : Koinfeksi HIV dengan HSV dapat meningkatkan laju transmisi dan progresifitas penyakit. Pengobatan utama untuk herpes simpleks adalah dengan asiklovir. Asiklovir dengan dosis 2x400 mg dan valasiklovir dengan dosis 2 x 500 mg berperan dalam mengurangi progresifitas penyakit. Asiklovir mempunyai efek anti-HIV secara langsung. Namun asiklovir tidak menurunkan laju transmisi dari HIV itu sendiri. Kesimpulan : Asiklovir berperan dalam menurunkan angka kematian dan progresifitas HIV menjadi AIDS dengan adanya efek anti-HIV secara langsung
Hubungan Ferritin Serum dengan Berat Badan dan Tinggi Badan Pada Penderita Thalasemia Î’ Mayor
Background: One marker that can be used to measure excess iron in the body is to measure ferritin plasma levels in the case of iron buildup in the pituitary gland, it interferes with the secretion of Growth Hormone (GH), Thyroid-Stimulating Hormone (TSH), and Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) Objectives: Knowing the relationship of serum ferritin with growth disorders in thalassaemia β major patients at Abdul Moeloek Hospital in 2020. Method: Research in the form of observational observation of the latitude, conducted in February-April 2020 serum ferittin levels are obtained by reviewing the observation of medical record data. and measurement of body weight and height based on the BMI formula to see growth disorders in the β-major thalassemia patients. Results: Analysis of research data using Fisher's statistical trials. During the study obtained a total of 60 samples. There is a meaningless relationship between levels of serum ferritin with growth disorder (P = 0,002) in Thalassaemia major.Latar belakang: Salah satu penanda yang dapat digunakan untuk mengukur kelebihan besi pada tubuh adalah dengan mengukur kadar feritin dalam plasma. Apabila terjadi penumpukan besi pada kelenjar hipofisis, akan mengganggu sekresi dari Growth Hormone (GH), Thyroid-Stimulating Hormone (TSH), dan Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) sehingga pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu. Sebagian besar pasien thalassemia ditemukan mengalami gangguan pertumbuhan yang signifikan. Tujuan: Mengetahui hubungan feritin serum dengan berat badan dan tinggi badan pada penderita thalasemia β mayor di Rumah Sakit Abdul Moeloek tahun 2020. Metode: Penelitian berupa analitik observasional potong lintang, dilakukan pada bulan februari - april 2020 kadar ferittin serum didapat dengan meninjau observasi data rekam medis. dan pengukuran berat badan dan tinggi badan berdasarkan rumus IMT untuk melihat gangguan pertumbuhan pada pasien thalassemia β-mayor. Hasil: Analisis data penelitian menggunakan uji statistik Fisher. Selama penelitian berlangsung didapatkan total 60 sampel. Kesimpulan terdapat hubungan yang tidak bermakna antara kadar feritin serum dengan gangguan pertumbuhan (p=0,002) pada penderita talasemia mayor
Perbedaan Hematokrit Darah Segar dan Darah Simpan (30 Hari) DI UTD RSAM Bandar Lampung
Background: at the time of erythrocyte blood collection will be damaged, every day the viability of erythrocytes continues to decrease due to decreased levels of ATP (Adenosine Triphosphate), so that if ATP levels decrease then the loss of membrane lipids, membrane stiffens and the shape of the discs into spherical (discs) not central polar and small size). This study aimed to determine the difference in the hematocrit value of fresh blood with blood storage (30 days) at UTD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung in 2020. Method: The type of research used in this study is quantitative observational with non-probability sampling design. The sample used in this study was respondents who were willing to donate their blood at UTD RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung. Analysis of data using the Wilcoxon formula. Results: obtained p value> 0.05 which means there is no significant difference between fresh blood and blood storage (30 days) at UTD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung. Conclusion: donor blood management and donor blood quality at the site are in good condition so that donor blood can be given to recipients, without having significant component changesLatar Belakang: pada saat pengambilan darah eritrosit akan mengalami kerusakan, setiap hari viabilitas eritrosit menjadi terus menurun akibat dari penurunan kadar ATP (Adenosin Trifosfat), sehingga apabila kadar ATP menurun maka terjadinya kehilangan lipid membran, membrane menjadi kaku dan bentuknya dari cakram menjadi sferis (tidak central polar dan ukuran kecil). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perbedaan nilai hematokrit darah segar dengan darah simpan (30 hari) di UTD RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung tahun 2020. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif observasional dengan desain non probability sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini responden yang bersedia mendonorkan darahnya di UTD RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung. Analisa data menggunakan rumus wilcoxon. Hasil: diperoleh p value >0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara darah segar dengan darah simpan (30 hari) di UTD RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung. Kesimpulan: pengelolaan darah donor dan kualitas darah donor di tempat tersebut dalam keadaan baik sehingga darah donor bias diberikan kepada resipen, tanpa memiliki perubahan komponen yang signifikan
Pengaruh Lidah Buaya Menurunkan Kadar Glukosa Darah pada Diabetes Melitus Tipe 2
Background: The management of diabetes involves the medical treatment, including pharmacotherapy or anti-diabetic drugs as management. Diabetes Mellitus Type 2. Pharmacotherapy drugs in their use are often accompanied by side effects on the human body, therefore, various kinds of complementary treatments are studied to find ingredients that can be used as anti-diabetic, one of the phyto-pharmacy that is believed to have an anti-diabetic effect is aloe vera (Aloe vera). Aim: To determine the effect of aloe vera (Aloe vera) to reduce blood glucose levels in type 2 diabetes mellitus. Methods: The method used by the author is a literature study from various national and international journals. This method is used with the aim of presenting, increasing knowledge and understanding of the topics discussed by summarizing the material that has been published and providing factual information or new analysis from the relevant literature review and then comparing the results in the article. Results: Aloe vera contains chemicals that have hypoglycemic properties including chromium, alprogene, acemannan, anthraquinone, phytosterol, and methanol. Conclusion: Aloe vera has been shown to reduce blood glucose levels in type 2 diabetes mellitus.Latar Belakang: tatalaksana dari diabetes melibatkan pengobatan medis, termasuk farmakoterapi atau obat-obatan anti-diabetic sebagai tatalaksana. Diabetes Melitus Tipe 2. Obat-obatan farmakoterapi dalam penggunaanya sering disertai efek samping pada tubuh manusia, oleh karena itu, berbagai macam pengobatan komplementer diteliti untuk menemukan kandungan yang dapat dijdikan antidiabetes, salah satu fitofarmaka yang diyakini memiliki efek antidiabetes adalah lidah buaya (Aloe vera). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh lidah buaya (Aloe vera) untuk menurunkan kadar glukosa darah pada diabetes melitus tipe 2. Metode: Metode yang digunakan oleh penulis adalah studi literatur dari berbagai jurnal nasional maupun internasional. Metode ini digunakan dengan tujuan menyajikan, menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai topik yang dibahas dengan meringkas materi yang telah diterbitkan serta memberikan informasi fakta atau analisis baru dari tinjauan literatur yang relevan kemudian membandingkan hasil tersebut dalam artikel. Hasil: lidah buaya memiliki kandungan kimia yang berkhasiat hipoglikemik diantaranya kromium, alprogen, acemannan, antraquinon, phytosterol, serta metanol Kesimpulan: Aloe vera terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah pada diabetes mellitus tipe
Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Merokok Pada Siswa SMK Negeri Tanjungsari Lampung Selatan
Smoking is one of the activities that still carried out by individuals in all ages ranging from children to adults. Smoking offers the possibility for an ex-smoker to become a smoker again or for those who have never tried smoking to get interested in trying it. They always have a reason to smoke. The prevalence of active smokers in Indonesia increases rapidly. If the government does not wide-awake with more effective policies, the number of smokers in Indonesia is estimated will be increased by 90 million people in 2025Merokok merupakan salah satu kegiatan yang masih dilakukan individu dalam segala usia mulai dari anak-anak hingga dewasa dan tidak menutup kemungkinan untuk mereka yang sebelumnya sudah merokok, kemudian merokok kembali, ataupun bagi mereka yang sebelumnya belum pernah mencoba merokok pun menjadi tertarik untuk mencobanya. Perlahan seperti air, mereka selalu memiliki alasan untuk merokok. Prevalensi perokok aktif di Indonesia meningkat sangat cepat. Apabila pemerintah tidak sigap dengan kebijakan yang lebih efektif, diperkirakan pada tahun 2025 jumlah perokok di Indonesia akan bertambah sebanyak 90 juta oran
Sindrom Outlet Dada
Latar Belakang: thoracic Outlet Syndrome merupakan salah satu penyakit langka yang ditemukan dan masih banyak yang belum diketahui mengenai penyakit ini. Penyakit ini merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh kompresi anyaman neurovascular yang keluar pada Thoracic Outlet. Thoracic Outlet sendiri merupakan struktur di bawah leher dan berada di antara klavikula dan tulang iga pertama. Tujuan: mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit Thoracic Outlet Syndrome secara komprehensif. Metode: Menggunakan studi literature dari jurnal baik nasional maupun internasional dengan cara meringkas topic pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil: Thoracic Outlet Syndrome merupakan penyakit dengan berbagai etiologi. Thoracic Outlet sendiri bisa dikategorikan menjadi 3 tipe yaitu TOS arterial, TOS venosa dan TOS neurogenic. Diagnosis penyakit ini ditentukan dengan gejala gejala yang ditunjukkan pasien. Perubahan gaya hidup dan terapi fisik merupakan pengobatan lini pertama untuk penyakit ini, jika terdapat komplikasi maka disarankan untuk melakukan tindakan operatif. Kesimpulan: Masih terdapat banyak hal yang tidak diketahui mengenai Thoracic Outlet Syndrome. Diagnosis dini sangat penting untuk menentukan tipe Thoracic Outlet Syndrome yang dialami guna menentukan pengobatan yang tepat sesuai tipenyaBackground: Thoracic Outlet Syndrome is one of the rarest diseases in the world with not a lot of information behind it. It is a collection of symptoms caused by compression in the neurovascular bundle exiting the Thoracic Outlet. The Thoracic Outlet is a structure under the neck between the first costae and the clavicle. Objective: To know more about Thoracic Outlet Syndrome comprehensively. Methods: Using literature studies from national and international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. Results: Thoracic Outlet Syndrome is a disease with various etiologies. The. The diagnosis of the disease is determined by the symptoms exhibited. Thoracic Outlet Syndrome can be divided into 3 types, which are Arterial Thoracic Outlet Syndrome, Venous Thoracic Outlet Syndrome, and Neurogenic Thoracic Outlet Syndrome. Physical rehabilitation and change in lifestyle remain the first-line treatment for this disease, with complications, surgery is recommended. Conclusion: There are many things still unknown to Thoracic Outlet Syndrome, early diagnosis is essential to diagnose the type of Thoracic Outlet Syndrome to determine the correct treatment for the type