JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
    583 research outputs found

    Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Angka Kejadian Dermatitis Seboroik

    Get PDF
    Background : The incidence of seborrheic dermatitis is related to several risk factors, one of them is gender. Men have a two times greater incidence than women, associated with androgen hormone stimulation, resulting in sebaceous activity to produce more sebum. Increased sebum can induce Malassezia proliferation and trigger seborrheic dermatitis. Purpose : To determine the correlation between gender and incidence rate of seborrheic dermatitis in dermatovenerology polyclinic of regional general hospital dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung 2019. Method : Using an observational analytical design with a cross-sectional approach. The samples were collected by using total sampling technique. Data collection was done by recording in medical records and registration books and then analyzed them using the Chi-Square test. Results : There were 217 samples collected. There were 52 male patients (63%) and 31 female patients (37%) with dermatitis seborrheic, while in atopic dermatitis based on gender, 58 male patients (43%) and 76 female patients (57 %) were found. Chi-Square statistical test results obtained p = 0.008 (p <0.05) which meant a significant correlation between gender and incidence rate of seborrheic dermatitis. Conclusion : The final results show that the male sex, has a greater risk to trigger seborrheic dermatitis.Latar Belakang : Kejadian dermatitis seboroik berkaitan dengan beberapa faktor risiko, salah satunya ialah jenis kelamin. Laki-laki mengalami peningkatan insiden dua kali lebih besar dibandingkan perempuan, dikaitkan dengan stimulasi hormon androgen, sehingga terjadi aktivitas kelejar sebasea untuk memproduksi sebum yang lebih. Peningkatan sebum dapat menginduksi proliferasi Malassezia dan memicu terjadinya dermatitis seboroik. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan angka kejadian dermatitis seboroik di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2019. Metode Penelitian : Menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan pada rekam medis dan buku registrasi dan kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil Penelitian : Didapatkan dari 217 sampel yang didapat. Pada penderita dermatitis seboroik laki-laki sebanyak 52 orang (63%) dan pada perempuan sebanyak 31 orang (37%), sedangkan pada dermatitis atopik berdasarkan jenis kelamin pada laki-laki sebanyak 58 orang (43%) dan pada perempuan 76 orang (57%). Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p=0,008 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan angka kejadian dermatitis seboroik. Kesimpulan : Hasil akhir menunjukan bahwa jenis kelamin laki-laki, memiliki risiko yang lebih besar untuk memicu terjadinya dermatitis seboroik

    Konsumsi Ikan Asin dan Daging Asap dengan Kejadian Karsinoma Nasofaring

    Get PDF
    Background: The dominant factor in the onset of nasopharyngeal carcinoma is that of the Mongoloid race with the habit of consuming salty fish and food preserved by one of the bacon. Purpose: To know the relationship between the consumption of salted fish and smoked meats with the incidence of nasopharyngeal carcinoma. Methode: This research method is observational analytic and uses a cross-sectional approach. The samples in this study were all patients diagnosed with nasopharyngeal carcinoma recorded which corresponds to the inclusion Criteria amounting to 52 persons. The sampling techniques in this study used the total sampling technique. Analysis of data using univariate analysis and bivariate analysis using the chi-square test. Results: frequency distribution characteristic of the nasopharyngeal carcinoma patient majority of male gender at 64.4%, the highest majority in the age group 46-55 years by 32.7%, the most work is farmers Of 32.7%. There is a significant connection between the consumption of salted fish and the occurrence of nasopharyngeal carcinoma (p:0.003) and there is a significant link between the consumption of smoked meats and the incidence of nasopharyngeal carcinoma (p:0.003). Conclusion: There is a significant link between the consumption of fish and smoked meats with the incidence of nasopharyngeal carcinoma.Latar Belakang: Faktor dominan timbulnya karsinoma nasofaring adalah dari Ras Mongoloid dengan kebiasaan mengkonsumsi ikan asin dan makanan yang diawetkan salah satunya daging asap. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi ikan asin dan daging asap dengan kejadian karsinoma nasofaring. Metode : Penelitian ini metode observasional analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis karsinoma nasofaring yang tercatat dalam Rekam yang sesuai kriteria inklusi berjumlah 52 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil : dari 52 responden diketahui distribusi frekuensi karakteristik pasien karsinoma nasofaring mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebesar 64,4%, mayoritas tertinggi pada kelompok usia 46-55 tahun sebesar 32,7%, pekerjaan terbanyak adalah petani sebesar 32,7%. Diketahui terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi ikan asin dengan kejadian karsinoma nasofaring (p:0,003) dan terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi daging asap dengan kejadian karsinoma nasofaring (p:0,002). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi ikan dan konsumsi daging asap dengan kejadian karsinoma nasofarin

    Tingkat Pengetahuan Osteoporosis Sekunder dan Perilaku Pencegahan Mahasiswa Universitas Malahayati

    Get PDF
    Background: Osteoporosis occurs due to the body's inability to regulate mineral content in the bones and will interfere with the process of bone metabolism. signs and symptoms of osteoporosis are called hidden killers (silent disease). Research Objectives: To determine the relationship between the level of knowledge of secondary osteoporosis with secondary osteoporosis prevention behavior in students at Malahayati University 2019. Research Method: This research is an analytic survey research using a cross-sectional design. The sampling technique is simple random sampling. The number of samples was 76 respondents, the data were analyzed using the Spearman test. The research instrument was in the form of a questionnaire. Results: The study found that the highest level of knowledge distribution was good knowledge as many as 62 respondents (81.6%) and distribution of prevention behaviors most of the good behaviors were 50 respondents (65.8%). Spearman's statistical test results showed a relationship with the results of p = 0.001 (p 0.1). Conclusion: There is a relationship between the level of knowledge with preventative behavior about secondary osteoporosisLatar Belakang : Osteoporosis terjadi karena ketidak mampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral di dalam tulang dan akan menggangu saat proses metabolisme tulang. tanda dan gejala penyakit osteoporosis ini disebut dengan pembunuh tersembunyi (silent disease). Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan osteoporosis sekunder dengan perilaku pencegahan osteoporosis sekunder pada mahasiswa Universitas Malahayati 2019. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan menggunakan rancangan  cross sectional. Teknik pengambilan sampel berupa simple random sampling. Jumlah  sampel sebanyak 76 responden, data dianalisis menggunakan uji spearman.Instrumen penelitin ini berupa kuesioner. Hasil penelitian: Penelitian ini didapatkan distribusi tingkat pengetahauan terbanyak adalah pengetahuan baik sebanyak 62 responden (81,6%) dan distribusi perilaku pencegahan terbanyak perilaku baik sebanyak 50 responden (65,8%). Hasil uji statistik spearman didapatkan adanya hubungan dengan hasil  p=0,001 (p 0,1). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan tentang osteoporosis sekunder

    Peran Tenaga Kesehatan dalam Melaksanakan Pelayanan Kesehatan WBP Rutan

    Get PDF
    This research focuses on the role of health workers in carrying out health services for WBP in Detention Centers. The research method used is a qualitative approach. Data collection techniques used are field research by conducting interviews and observations as well as literature studies. Based on the results of research conducted it is known that the role of health workers in detention centers is in accordance with their main duties and functions. Detention centers have a Polyclinic as a place for the implementation of health services in detention centers. In addition in the implementation of health services, there is an MoU between the detention center and the Government. In this case the provision of free health services with a National Identity Card (KTP) at a government-owned health agency. In addition, the detention center supports the implementation of the National Health Insurance for Penitentiary Guides in the Detention Center. But in the implementation of health services, the role of health workers does not run optimally because health workers in detention centers are only nurses' medical backgrounds, besides the lack of supporting infrastructure. After analyzing various facts, several alternative solutions were found to be done by: increasing the number of human resources for medical doctors in detention centers. Each disease experienced by WBP can be directly dealt with in detention centers and the addition of infrastructure facilities so that the role of health workers in the implementation of health services in Detention center can run optimally.  Penelitian ini berfokus pada peran tenaga kesehatan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan bagi WBP di Rumah Tahanan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan penelitian lapangan dengan melakukan wawancara dan observasi serta studi kepustakaan.Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa peran tenaga kesehatan di Rutan telah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Rutan memiliki Poliklinik sebagai tempat pelaksanaan pelayanan kesehatan di dalam Rutan. Selain itu dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, ada MoU antara pihak Rutan dengan Pemerintah. Dalam hal ini pemberian pelayanan kesehatan gratis dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di instansi kesehatan milik Pemerintah. Selain itu pihak Rutan mendukung terselenggaranya Jaminan Kesehatan Nasional bagi Warga Binaan Pemasyarakatan di Rutan. Namun dalam pelaksanaan pelayanan kesehatannya, peran tenaga kesehatan tidak berjalan dengan maksimal dikarenakan tenaga kesehatan yang ada di Rutan hanya berlatar belakang medis perawat, selain itu sarana prasarana yang kurang mendukung. Setelah menganalisa berbagai fakta yang ada ditemukan beberapa alternatif pemecahan masalah di lakukan dengan cara : melakukan penambahan SDM tenaga kesehatan dokter di Rutan setiap penyakit yang dialami oleh WBP dapat langsung ditangani di dalam Rutan dan dilakukannya penambahan sarana prasarana agar peran tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di Rutan dapat berjalan dengan maksimal

    Ikterus Obstruktif Pada Penderita Tumor Pankreas

    Get PDF
    Pancreatic carcinoma is a rare malignancy due to its relatively low incidence but it is ranked 8th in the world for its mortality. Obstructive jaundice is the results of malignancy that in most cases occurnot only due to pancreatic carcinoma but also cholangiocarcinoma.  The purpose of this study  to find out the description regarding obstructive jaundice in patients with pancreatic tumors at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek in 2017-2019. This study was an This current research used descriptive approach and medical record to obtain primary data with40 peoplebecame the research sample. The result showed In general, the age distribution frequency of patients with pancreatic tumors and diagnosed with obstructive jaundice was >50 years old of 30 people (75.0%), 23 of them weremales (57.5%). Mostly, their direct bilirubin levels was abnormal of 37 people (92.5%), same as their total bilirubin levels that regularly abnormal of 39 people (97.5%), supporting investigation on patients by using USG of 28 people (70.0%). The frequency distribution of patient operations was 28 people (70.0%). The conclusion is serious treatment is necessary for pancreatic tumor patients with obstructive jaundice for supporting their recovery.Karsinoma pankreas merupakan keganasan yang langka hal ini dikarnakan  insidensinya yang terbilang rendah tetapi menduduki peringkat 8 dunia untuk mortalitasnya. Ikterus obstruktif merupakan keganasan akibat yang sebagian besar terjadi karena karsinoma kaput pankreas. Dan sebagian kecil terjadi karena kolangiokarsinoma.  Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui gambaran ikterus obstruktif pada penderita tumor pankreas di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2017 – 2019. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. dengan pengambilan data primer dari rekam medik dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 40 orang. Diketahui Distribusi frekuensi usia pasien yang terdiagnosa ikterus obstruktif pada penderita tumor pankreas sebagian besar berusia > 50 tahun sebanyak 30 orang (75.0%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 23 orang (57.5%). kadar bilirubin direct pasien sebagian besar tidak normal sebanyak 37 orang (92.5%) ,kadar bilirubin total sebagian besar tidak normal sebanyak 39 orang (97.5%), pemeriksaan penunjang pada pasien dengan menggunakan USG sebanyak 28 orang (70.0%). Distribusi frekuensi tindakan operasi pasien sebanyak 28 orang (70.0%). Kesimpulan, Penanganan serius pasien Ikterus Obstruktif Pada Penderita Tumor Pankreas sangat dibutuhkan untuk kelangsungan kesembuhan bagi si pasien

    Status Gizi dan Kelelahan terhadap Produktivitas Kerja

    Get PDF
    Workers are one of the factors that influence production, in addition to other factors that support the production process such as skills, time and capital. Workers are the same as the general public who have the right to obtain equality of basic rights, one of which is the right to a healthy life. The diversity of labor nutrition problems is a challenge that must be faced and controlled optimally. The existence of work nutrition is important because the nutritional status will represent the physical quality and immunity of workers, as a component of builders and energy input when the body feels tired due to work, and can increase motivation or enthusiasm for work which will determine work productivity. Research conducted concluded that there is a relationship between nutritional status and fatigue on labor productivity. Therefore optimal regulation of nutritional status by minimizing work fatigue is needed to achieve optimal productivity. Arrangement of working hours, organizing meals, availability of drinking water and sports facilities can be an option to monitor the nutritional status of workers and avoid fatigue as factors that affect productivity.Pekerja merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produksi, disamping faktor lain yang menunjang proses produksi seperi keterampilan, waktu dan modal yang dimiliki. Pekerja sama halnya dengan masyarakat umum yang berhak untuk mendapatkan persamaan hak-hak dasar, salah satunya hak untuk dapat hidup sehat. Beragamnya masalah gizi tenaga kerja adalah tantangan yang harus dihadapi dan dikendalikan seoptimal mungkin. Keberadaan gizi kerja penting karena status gizi akan merepresentasikan kualitas fisik serta imunitas pekerja, sebagai komponen zat pembangun dan masukan energi ketika tubuh merasa lelah akibat bekerja, serta dapat meningkatkan motivasi atau semangat dalam bekerja yang akan menentukan produktivitas kerja. Penelitian yang dilakukan menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dan kelelahan pada produktivitas tenaga kerja. Oleh karena itu pengaturan status gizi yang optimal dengan minimalisasi kelelahan kerja diperlukan agar tercapai produktivitas yang optimal. Pengaturan jam kerja, penyelenggaraan makan, ktersediaan air minum dan sarana olahraga dapat menjadi opsi untuk memantau status gizi pekerja dan menghindari kelelahan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap produktivita

    Komplikasi Sistemik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

    Get PDF
    Diabetes mellitus is one of the main health problems in people who have long and short term complications. The prevalence of Diabetes Mellitus in Indonesia in 2018 is 8.5%, in Lampung 1.4%. Patients suffering from diabetes mellitus only realize the danger of this disease after various complications that arise both acute and chronic. Purpose of the research is to know profile of systemic complications in type 2 diabetes mellitus patients at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung.Methods: This research uses a descriptive survey method with a cross-sectional approach. This research was conducted in February 2020 by taking medical record data on type 2 diabetes mellitus patients at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2019. Results: Subjects in the study were 72 patients. Analysis of the data used in this study is univariate analysis. Frequency distribution based on acute complications of KAD in 6 patients (8.3%), hypoglycemia in 8 patients (11.1%). Microvascular complications were retinopathy in 8 patients (11.1%), nephropathy in 11 patients (15.3%), neuropathy in 5 patients (6.9%). Macrovascular complications were cerebrovascular 3 patients (4.2%), coronary heart disease 8 patients (11.1%), and ulcers of 20 patients (27.8%). Conclusion: Frequency distribution based on complications, of the 72 people studied, the majority of patients experienced complications, as many as 43 people (59.7%)Diabetes melitus merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada masyarakat yang mempunyai komplikasi jangka panjang dan pendek. Prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia tahun 2018 sebesar 8,5%, di Lampung 1,4%. Pasien yang menderita diabetes melitus baru menyadari bahaya penyakit ini setelah timbul berbagai komplikasi yang bersifat akut maupun kronik. Penelitian ini untuk mengetahui profil komplikasi sistemik pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung. Metode Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan februari tahun 2020 dengan mengambil data rekam medis pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2019. Subjek dalam penelitian berjumlah 72 pasien. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat. Hasil: Distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi akut KAD 6 pasien (8,3%), hipoglikemia 8 pasien (11,1%). Komplikasi mikrovaskuler yaitu retinopati 8 pasien (11,1%), nefropati 11 pasien (15,3%), neuropati 5 pasien (6,9%). Komplikasi makrovaskuler yaitu serebrovaskuler 3 pasien (4,2%), penyakit jantung koroner 8 pasien (11,1%), dan ulkus 20 pasien (27,8%). Kesimpulan: Distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi, dari 72 orang yang diteliti sebagian besar pasien mengalami komplikasi yaitu sebanyak 43 Orang (59,7%)

    Karakteristik Histopatologi dan Stadium Klinis Kanker Nasofaring

    No full text
    Background: Nasopharyngeal Cancer is an endemic disease in Southeast Asian and China. The incidence of nasopharyngeal cancer will raise at 30 years old and will reach its peak in 46 – 55 years old. The incidence of nasopharyngeal cancer is 2 – 3 fold higher in man. Nasopharyngeal cancer patients are usually diagnosed at a late stage so they have a bad prognosis. Based on the problem above the author want to study the Characteristic of Histopathology and Clinical Stage of Nasopharyngeal Cancer in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Period 2016 – 2019. Aims: This study wants to know about the Characteristic of Histopathology and Clinical Stage of Nasopharyngeal Cancer, the frequency distribution of Nasopharyngeal Cancer based on gender and age in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahu 2016-2019. Methods: This study used a retrospective descriptive study with 63 patients in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Period 2016 – 2019.Result: Based on the obtained data, the number of nasopharyngeal cancer cases in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Period 2016 – 2019 increased annually. The total samples that were used in this study were 63 samples. The highest distribution of nasopharyngeal cancer which is sorted by age is the group of 46 – 55 years old with 28.6%. The highest distribution of nasopharyngeal cancer which is sorted by sex is the man with 65%. The highest distribution of nasopharyngeal cancer which is sorted by Histopathology classification is Nonkeratinizing Cell Carcinoma – Undifferentiated subtype with 71.4%. The highest distribution of nasopharyngeal cancer which is sorted by the clinical stage is Stage III with 63.3%. Conclusion: This study reveals the Characteristic of Histopathology and Clinical Stage of Nasopharyngeal Cancer, the frequency distribution of Nasopharyngeal Cancer based on gender and age in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahu 2016-2019.Latar Belakang : Kanker Nasofaring merupakan penyakit endemik di beberapa bagian di Asia Tenggara dan Cina. Pada tahun 2018 terdapat 348.809 kasus baru dan 207.210 kematian yang disebabkan oleh kanker nasofaring. Insidensi kanker nasofaring akan meningkat setelah berusia 30 tahun dan insidensi tertinggi berada pada usia 45-55 tahun. Insidensi kanker nasofaring pada pria lebih tinggi 2-3 kali dibandingkan insidensi pada wanita. Pasien kanker nasofaing pada umumnya terdiagnosa pada stadium lanjut sehingga memberburuk prognosis. Berdasarkan masalah tersebut, maka penulis ingin mengetahui karakteristik histopatologi dan stadium klinis kanker nasofaring di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahun 2016 – 2019. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik histopatologi kanker nasofaring dan stadium klinis kanker nasofaring, untuk mengetahui distribusi frekuensi kanker nasofaring berdasarkan jenis kelamin dan usia di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahu 2016-2019. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan sampel sebanyak 63 pasien di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahun 2016 – 2019 Hasil: Secara garis besar ditemukan bahwa pasien dengan diagnosis kanker nasofaring di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2016 – 2019 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 63 pasien. Distribusi tertinggi berdasarkan umur yaitu pada kelompok 46 – 55 tahun dengan persentase 28.6%, berdasarkan jenis kelamin yaitu laki – laki dengan persentase 65%, berdasarkan tipe histopatologi yaitu Nonkeratinizing Cell Carcinoma – Undifferentiated subtype dengan persentase 71.4% dan berdasarkan stadium klinis yaitu Stadium III, yaitu sebanyak 22 kasus atau 63.3%.Kesimpulan : Didapatkan karakteristik histopatologi dan stadium klinis kanker nasofaring dan didapatkan distribusi frekuensi kanker nasofaring berdasarkan jenis kelamin dan usia di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahun 2016 – 201

    Perbandingan Nilai Indeks Green dan King antara Anemia Defisiensi Besi dengan Thalassemia

    Get PDF
    Background: The definitive differential diagnosis between Thalassemia and iron deficiency anemia is based on the results of HbAâ‚‚ electrophoresis, serum iron levels, and ferritin calculations. The purpose of using indices is to distinguish and detect subjects with high probability who need appropriate follow-up and to reduce unnecessary investigative costs. Objective: To determine the difference in the value of the Green & King Index between Iron Deficiency Anemia patients and Thalassemia patients in Abdul Moeloek Regional Hospital in Lampung Province in 2019. Method: This research is a quantitative study with a comparative test by taking secondary data. With the number of samples using a ratio of 1: 1 so that there were 152 people with iron deficiency anemia and 152 people with Thalassemia. Results: The results of statistical analysis using the Mann Whitney U test showed a p-value for comparison of the Green & King index values ​​between iron deficiency anemia patients and thalassemia patients of 0,000 (p <0.05). Conclusion: There is a significant difference in the value of the Green & King index between iron deficiency anemia patients and thalassemia patients in Abdul Moeloek Regional Hospital Lampung Province.Latar Belakang: Diagnosis diferensial definitif antara Thalassemia dan anemia defisiensi besi didasarkan pada hasil HbAâ‚‚ elektroforesis, kadar zat besi serum, dan perhitungan feritin. Tujuan menggunakan indeks untuk membedakan dan mendeteksi subyek yang memiliki probabilitas tinggi yang memerlukan tindak lanjut yang tepat dan untuk mengurangi biaya investigasi yang tidak perlu. Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai Indeks Green & King antara pasien Anemia Defisiensi Besi dengan pasien Thalassemia di  RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2019. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan uji komparatif dengan mengambil data sekunder. Dengan jumlah sampel menggunakan perbandingan 1:1 sehingga didapatkan 152 orang penderita anemia defisiensi besi dan 152 orang penderita Thalasssemia. Hasil: Hasil analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney U test menunjukan p-value untuk perbandingan nilai indeks Green & King antara pasien anemia defisiensi besi dengan pasien thalassemia sebesar 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai indeks Green & King antara pasien anemia defisiensi besi dengan pasien thalassemia di RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung

    Potensi Antioksidan Kedelai (Glycine Max L) Terhadap Penangkapan Radikal Bebas

    Get PDF
    Free radicals are molecules that have unstable and reactive properties, because they have one or more unpaired electrons. Free radicals can attack vulnerable compounds such as lipids and proteins, which will eventually cause dangerous diseases. Free radicals threaten the health of the body because of their reactive and unstable nature, because of their instability, free radicals react with molecules that are closest after entering the body, and produce other free radicals, and eventually become a chain reaction that can threaten the health of the body. Soybean (Glycine max L) has antioxidant compounds that can react with free radicals and stop the rate of free radicals to react with molecules in the body, namely isoflavones and other compounds, such as proteins, fats, and vitain A, C and D. Soybean (Glycine max L) has been shown to play an important role in healing or inhibiting diseases caused by free radicals, as well as the antioxidants contained, namely isoflavones that are consumed regularly can protect the body from free radicalsRadikal bebas merupakan molekul yang memiliki sifat tidak stabil dan reaktif, dikarenakan memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Radikal bebas dapat menyerang senyawa yang rentan seperti, lipid dan protein, yang akhirnya akan menyebabkan penyakit berbahaya. Radikal bebas mengancam bagi kesehatan tubuh dikarenakan sifatnya yang reaktif dan tidak stabil, karna ketidakstabilannya, radikal bebas bereaksi dengan molekul yang paling dekat setelah masuk kedalam tubuh, dan menghasilkan radikal bebas lainnya, dan akhirnya menjadi reaksi berantai yang dapat mengancam kesehatan tubuh. Kedelai (Glycine max L) memiliki senyawa antioksidan yang dapat bereaksi dengan radikal bebas dan menghentikan laju radikal bebas untuk bereaksi dengan molekul dalam tubuh, yakni isoflavon dan senyawa lainnya, seperti protein, lemak, dan vitain A,C dan D. Kedelai (Glycine max L) terbukti berperan penting pada penyembuhan atau penghambatan penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas, serta antioksidan yang terkandung yaitu isoflavon yang dikonsumsi teratur dapat melindungi tubuh dari radikal bebas

    435

    full texts

    583

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇