JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Sikap Asertif Perawat dalam Memberikan Pelayanan Keperawatan di Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit
Introduction; The era of globalization that is being and will be faced by us in the health sector raises a glimmer of hope for the opportunity to improve health services. Objectives; know the assertiveness of nurses in providing nursing services in inpatient installations at hospitals. Method; Descriptive research describes the level of education, work experience, and gender towards the assertiveness of nurses. Result; shows that verbal communication 38 (69.1%), non-verbal communication 39 (70.9%) and the factors that influence verbal and non-verbal communication 30 (54.5%). Conclusion; that in providing nursing services, nurses can show non-assertive behavior because it is influenced by several factors, for example, environmental factors. The interaction environment will affect effective communication.Pendahuluan; Era globalisasi yang sedang dan akan kita hadapi dibidang kesehatan menimbulkan secercah harapan akan peluang meningkatnya pelayanan kesehatan. Tujuan; mengetahui sikap asertif perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan di instalasi rawat inap di rumah Sakit. Metode; penelitian deskriptif menggambarkan tentang tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan jenis kelamin terhadap sikap asertif perawat. Hasil; menunjukkan bahwa komunikasi verbal 38 (69,1 %), komunikasi non verbal 39 (70,9%) dan faktor yang mempengaruhi komunikasi verbal dan non verbal 30 (54,5%). Kesimpulan; bahwa dalam memberikan pelayanan keperawatan, perawat dapat menunjukkan perilaku yang tidak asertif karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, contoh faktor lingkungan. Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif
Pengaruh Faktor Pengetahuan dan Aksesibilitas Dalam Pemanfaatan Kelambu Insektisida
Introduction; Malaria suffers quite a lot and is still a public health problem because of its high morbidity and mortality rates. This infectious disease can cause death, especially in high-risk groups, namely infants, toddlers, and pregnant women. One of the groups that are vulnerable to malaria in pregnant women. Aim; This study aims to determine the knowledge, accessibility, and use of insecticide bed nets during pregnancy. Method; This type of research is descriptive-analytical. With a cross-sectional approach with a sample of 78 pregnant women by means of accidental sampling. Data analysis was performed using a frequency test. Result; That 57.69% of respondents about insecticide bed nets from mass media such as the internet, newspapers, social media. as many as 65.38% of respondents had at least 1 insecticide bed net in their house obtained from the puskesmas (55.13%). as much as 34.62% of respondents said that insecticide-treated bed nets were given to them at the 3rd trimester of pregnancy. However, 35.9% have not used it properly. Respondents hoped that insecticide bed nets should be provided free of charge (43.59%). Conclusion; All pregnant women are ready to use insecticide bed nets if adequate information and bed nets are available at affordable prices or provided free of chargePendahuluan; Penyakit malaria cukup banyak penderitanya dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Penyakit infeksi ini, dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok resiko tinggi yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil. Salah satu kelompok yang rentan terhadap malaria adalah ibu hamil. Tujuan; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, aksesibilitas dan pemanfaatan kelambu insektisida selama kehamilan. Metode; Jenis penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Analitik. Dengan pendekatan Cross sectional dengan jumlah smpel 78 ibu hamil dengan cara akidental sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji frekuensi. Hasil; bahwa 57,69% responden mengetahui tentang kelambu insektisida dari media masa seperti internet, surat kabar, social media. sebanyak 65,38% responden memiliki setidaknya 1 kelambu insektisida di rumah mereka yang didapatkan dari puskesmas (55,13%). sebanyak 34,62% responden menyebutkan bahwa kelambu insektisida diberikan pada mereka pada saat telah trimester ke-3 usia kehamilan. Namun sebanyak 35,9% responden belum mengunakannya dengan benar. Responden berharap bahwa kelambu insektisida harus diberikan secara gratis (43,59%). Kesimpulan; Semua wanita hamil telah mengetahui tentang kelambu insektisida namun penggunaannya belum benar. Seluruh responden siap menggunakan kelambu insektisida jika informasi yang memadai disediakan dan kelambu tersedia dengan harga terjangkau atau disediakan secara grati
Efektivitas Daun Sirsak (Annona muricata Linn) terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Hipertensi
Introduction: Hypertension is a non-communicable disease that is often referred to as the "silent killer" which can be defined as a condition in which the blood vessels have high blood pressure (systolic blood pressure > 140 Soursop leaves are often used as an alternative treatment). hypertension. The content of soursop leaf which is estimated to reduce blood pressure is potassium ion. Result: to determine the effectiveness of soursop leaf (Annona muricata Linn) in reducing blood pressure in hypertension. Methods: Using literature studies from both national and international journals by summarizing the discussion topics and comparing The results are presented in each article. Results: Potassium ion has several mechanisms in lowering blood pressure, namely weakening myocardial contraction, increasing sodium excretion from the body, inhibiting renin release, causing vasodilation, and inhibiting endogenous vasoconstriction. High levels can increase sodium excretion, so that it can reduce blood volume and blood pressure. Flavonoids work as ACE inhibitors which will inhibit the change of AI into AII thereby reducing the secretion of antidiuretic hormone (ADH) which makes the amount of urine secretion increase and a lot of salt (NaCl) is released which eventually results in a decrease in blood pressure. Vitamin C also plays a role in lowering blood pressure, because it can modulate the production of nitric oxide. Conclusion: giving soursop leaves can reduce blood pressure levels in hypertensionPendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering disebut sebagai “silent killer†(pembunuh diam-diam) yang dapat didefinisikan dengan suatu kondisi dimana pembuluh darah memiliki tekanan darah tinggi (tekanan darah sistolik > 140 Daun sirsak sering digunakan sebagai pengobatan alternatif hipertensi. Kandungan daun sirsak yang diperkirakan dapat menurunkan tekanan darah adalah ion kalium. Tujuan: mengetahui efektivitas daun sirsak (Annona muricata Linn) terhadap penurunan tekanan darah pada hipertensi. Metode: Menggunakan studi literatur dari jurnal baik nasional maupun internasional dengan cara meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam setiap artikel. Hasil: Ion kalium mempunyai beberapa mekanisme dalam menurunkan tekanan darah, yaitu memperlemah kontraksi miokardium, meningkatkan pengeluaran natrium dari dalam tubuh, menghambat pengeluaran renin, menyebabkan vasodilatasi, dan menghambat vasokontriksi endogen. Kadar kalium yang tinggi dapat meningkatkan eksresi natrium, sehingga dapat menurunkan volume darah dan tekanan darah. Flavonoid bekerja sebagai ACE inhibitor yang akan menghambat perubahan AI menjadi AII sehingga menurunkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) yang membuat jumlah sekresi urin meningkat dan banyak garam (NaCl) yang dikeluarkan akhirnya mengakibatkan penurunan tekanan darah. Vitamin C juga berperan dalam menurunkan tekanan darah, karna dapat memodulasi pengeluaran nitric oxide. Kesimpulan: pemberian daun sirsak dapat menurunkan kadar tekanan darah pada hipertens
Penerapan Atraumatic Care dengan Kecemasan Anak Pra-Sekolah Saat Proses Hospitalisasi
Introduction: Hospitalization is a crisis condition in children when the child is sick and hospitalized. Getting sick and being hospitalized is an unpleasant experience and most of the nursing process makes children afraid and even traumatized. Atraumatic care is a therapeutic care service in the setting of children's health services through the use of actions that reduce physical and psychological distress experienced by children and parents. The application of atraumatic care with audiovisual, namely providing cartoon videos, this therapy is very effective in reducing anxiety in children who are hospitalized. The goal is to reduce the anxiety due to hospitalization with Atraumatic care. Method The research method is a quasi-experimental design with a pre and post-test control group. Analysis of the data using the Wilcoxon test and to test the differences between the two groups using the independent test or Mann Whitney test. A sample of 56 preschoolers. Results: There was a difference between preschool children's anxiety during hospitalization in the experimental group and the control group (p-value 0.001). The conclusion is that there is an effect of applying audio-visual atraumatic on the anxiety of preschool children. Suggestions should apply audio-visual atraumatic care to reduce anxiety in pre-school childrenPendahuluan: Hospitalisasi merupakan suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan sebagian besar proses keperawatan menjadikan anak takut bahkan trauma. Pelayanan Atraumatic care merupakan suatu pelayanan perawatan terapeutik dalam tatanan pelayanan kesehatan anak melalui penggunaan tindakan yang mengurangi distres fisik maupun distres psikologis yang dialami anak maupun orang tua. Penerapan atraumatic care dengan audiovisual yaitu memberikan video kartun, terapi ini sangat efektif mengurangi kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi. Tujuan menurunkan angka kecemasan akibat hospitalisasi dengan Atraumatic care. Metode penelitian yaitu quasi eksprimen dengan rancangan pre and posttest control group. Analisa data menggunakan uji wilcoxon dan untuk menguji perbedaan dua kelompok menggunakan uji independent test atau Mann Whitney test. Sampel 56 anak prasekolah. Hasil: Ada perbedaan kecemasan anak prasekolah saat hospitalisasi pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (p value 0,001). Kesimpulan ada pengaruh penerapan atraumatik audio-visual pada kecemasan anak prasekolah. Saran sebaiknya menerapkan atraumatic care audio visual untuk mengurangi kecemasan anak pra-sekolah
Ekstrak Pollen Kurma (Phoenix dactylifera L) Sebagai Terapi Infertilitas Pada Pria
Introduction Infertility is one of the problems faced by couples who want to have children. Infertility in a year occurs as much as 15% in couples who expect pregnancy. Aim; analyzed that the antioxidant content in DPP can counteract free radicals and prevent oxidative stress. Method; The analysis is carried out with a systematic literature review method by examining, identifying, assessing, and presenting it. Result; found various studies showing that DPP extract has an effect to prevent and treat infertility. Conclusion; that there is a decrease in sperm quality due to increased oxidative stress due to an imbalance of antioxidants and free radicalsPengantar; Infertilitas merupakan salah satu masalah yang dihadapi pasangan yang ingin memiliki keturunan. Infertilitas dalam setahun terjadi sebanyak 15% pada pasangan yang mengharapkan kehamilan. Tujuan; menganalisis bahwa kandungan antioksidan pada DPP dapat menangkal radikal bebas dan mencegah terjadinya stress oksidatif. Metode; analisis dilakukan dengan metode systematic literature review dengan menelaah, mengidentifikasi, mengkaji, dan menyajikannya. Hasil; ditemukan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa ekstrak DPP memiliki efek untuk mencegah dan mengobati kemandulan. Kesimpulan; bahwa adanya penurunan kualitas sperma akibat peningkatan stress oksidatif akibat ketidakseimbangan antioksidan dan radikal beba
Aktivitas Anti-Inflamasi Bawang Hitam (Allium sativum L.)
Introduction: Inflammation is a series of non-specific innate processes that are activated by the body in response to foreign invasion, tissue damage, or both. Purpose: To determine the anti-inflammatory activity of black onions. Methods: using literature studies from national and international journals by summarizing discussion topics and comparing the results in articles. Results: Black onions have anti-inflammatory activity through their bioactive components S-allyl cysteine, polyphenols, and flavonoids and can be used as an alternative anti-inflammatory agent in phytopharmaca. Conclusion; The fermentation process carried out by heat treatment at certain humidity in garlic will produce an end product in the form of black garlic or aged black garlicpengantar: Inflamasi merupakan serangkaian proses bawaan non-spesifik yang diaktifkan oleh tubuh sebagai respon terhadap invasi asing, kerusakan jaringan, atau keduanya. Tujuan: mengetahui aktivitas anti-inflamasi bawang hitam. Metode: menggunakan studi literatur dari jurnal-jurnal nasional dan internasional dengan meringkas topik diskusi dan membandingkan hasilnya dalam artikel. Hasil: Bawang hitam memiliki aktivitas anti-inflamasi melalui komponen bioaktifnya S-allylcystein, polifenol, dan flavonoid serta dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif agen anti-inflamasi dalam fitofarmaka. Kesimpulan; Proses fermentasi yang dilakukan dengan perlakuan panas pada kelembapan tertentu pada bawang putih akan menghasilkan sebuah produk akhir berupa bawang hitam atau aged black garli
Indentifikasi Keterkaitan Lifestyle Dengan Risiko Diabetes Melitus
Introduction; Diabetes is still recorded as the cause of death worldwide with a prevalence that is always increasing significantly, which is indicated by (polyphagy), (polydipsia) (polyuria). Destination; know the relationship between lifestyle and the risk of diabetes mellitus. Method; quantitative research with a descriptive correlative design using a cross-sectional study approach. The sampling technique is propulsive sampling according to the criteria determined by the researcher. Result; There are 50 (55%) respondents who have a good lifestyle and 41 (45%) have a bad lifestyle. There are 53 (58%) respondents who are at risk for diabetes mellitus, 38 (42%) respondents are not at risk. Conclusion: there is a relationship between lifestyle and the Risk of Diabetes Mellitus.Pengantar; Diabetes masih tercatat sebagai penyabab kematian dunia dengan prevalensi yang selalu meningkat secara signifikan yang ditandai dengan (polifagi), (polidipsi) (poliuri). Tujuan; mengetahui keterkaitan Lifestyle dengan Risiko Diabetes Melitus. Metode; penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif yang menggunakan pendekatan Cross Sectional study. Tehnik pengambilan sampel yaitu propusive sampling sesuai dengan kriteria yang ditentukan peneliti. Hasil; Terdapat 50 (55%) responden yang memiliki lifestyle yang baik dan 41 (45%) memiliki lifestyle yang buruk. Terdapat 53 (58%) responden yang beresiko diabetes mellitus, 38 (42%) responden tidak beresiko. Kesimpulan: adanya keterkaitan lifestyle dengan risisiko Diabetes Melitu
Pengaruh Perendaman Air Perasan Jeruk Lemon dan Asam Cikala Terhadap Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofiller
Introduction; The smooth surface of the nanofiller composite resin can become rough with the consumption of acidic foods/drinks. Objectives; know the difference of the effect of immersion of lemon juice and cikala acid juice on the roughness of the nanofiller composite resin. Method; laboratory experimental research with nanofiller composite resin samples. Statistical test using ANOVA test. Results; showed that there was a significant difference (p <0.05) between the roughness of the nanofiller composite resin soaked in cikala acid juice and the control group but the results showed no significant difference (p> 0.05) between the roughness of the nanofiller composite resin immersed in water. lemon juice with the control group. Conclusion; that there is a significant difference between the effect of soaking water with cikala acid juice and lemon juice on the surface roughness of the nanofiller composite resinPendahuluan; permukaan halus resin komposit nanofiller dapat menjadi kasar seiring konsumsi makanan/minuman yang mengandung asam. Tujuan; mengetahui perbedaan pengaruh perendaman air perasan jeruk lemon dan air perasan asam cikala terhadap kekasaran resin komposit nanofiller. Metode; penelitian eksperimental laboratoris dengan sampel resin komposit nanofiller. Uji statistik menggunakan uji anova. Hasil; menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara kekasaran resin komposit nanofiller yang direndam air perasan asam cikala dengan kelompok kontrol tetapi hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang siginifikan (p>0,05) antara kekasaran resin komposit nanofiller yang direndam air perasan jeruk lemon dengan kelompok kontrol. Kesimpulan; bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengaruh rendaman air perasan asam cikala dan air perasan jeruk lemon terhadap kekasaran permukaan resin komposit nanofiller
Pentingnya Pemberian Nutrisi Secara Dini Terhadap Pasien Post-Operasi Laparotomy Perforasi Ileus
Background: Digestive surgery patients are very at risk of experiencing malnutrition, this is because the gastrointestinal tract function is not optimal. Patients who have perforated ileus really need nutrients to help reduce or cope with malnutrition. This is important because malnutrition can slow down the postoperative wound healing process. Objective: to find out more about the importance of early nutrition in patients with digestive surgery, especially in patients with ileus perforations. Methods: Using literature studies from both national and international journals by summarizing the discussion topics and comparing the results presented in the article. Results: Early nutrition will lead to faster wound recovery and healing and prevent complications from occurring so that the length of stay for patients will be shorter and will indirectly reduce costs incurred for patient treatment. Conclusion: There is an effect of early nutrition in patients after ileus perforation surgeryPendahuluan: Pasien yang mengalami perforasi ileus sangat membutuhkan zat gizi untuk membantu mengurangi atau menanggulangi malnutrisi. Hal tersebut penting karena malnutrisi ini dapat memperlambat proses penyembuhan luka pasca operasi. Tujuan: mengetahui lebih lanjut pentingnya pemberian nutrisi secara dini pada pasien bedah digestif khususnya pada pasien perforasi ileus. Metode: Menggunakan metode studi literatur dari berbagai jurnal nasional dan internasioanl yang kemudian diringkas menjadi topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan kesebuah artikel. Hasil: Pemberian nutrisi secara dini akan menyebabkan pemulihan dan penyembuhan luka lebih cepat dan mencegah terjadinya komlikasi sehingga lama rawat pasienpun akan semakin pendek dan secara tidak langsung juga akan menekan biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan pasien. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian nutrisi secara dini pada pasien pasca bedah perforasi ileu
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tindakan Pencegahan Penularan HIV oleh ODHA Pada Orang lain
Introduction; HIV is the main cause of the decline in the secondary immune system, which gradually leads to the AIDS stage. HIV and AIDS are pandemic, attacking millions of people in the world, men, women, and even children, so it is necessary to take steps to prevent HIV transmission. Aim; know the factors that influence the prevention of HIV transmission by PLWHA. Method; quantitative descriptive-analytic research with a cross-sectional design, with uvivariate, bivariate, and multivariate data analysis. Results; showed that the factors related to the prevention of HIV transmission by people living with HIV were a length of stay with HIV (p=0.000) and knowledge (p=0.000). In multiple logistic regression analysis, it was found that length of stay with HIV (p=0.007 95% CI: 0.014-0.517) and knowledge (p=0.014 95% CI: 1.343-14.451) were the most influencing factors to prevent HIV transmission. Conclusion; that the factors that most influence the prevention of HIV transmission by PLWHA are knowledge and duration of living with HIV.Pendahuluan; HIV menjadi penyebab utama menurunnya sistem imun sekunder, yang lambat laun mengarah pada stadium AIDS. HIV dan AIDS merupakan pandemi, menyerang jutaan penduduk di dunia, pria, wanita bahkan anak-anak sehingga perlu dilakukan tindakan pencegahan penularan HIV. Tujuan; mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan pencegahan penularan HIV oleh ODHA. Metode; penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan desain cross sectional, dengan analisis data uvivariat, bivariat dan multivariat. Hasil; menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan penularan HIV oleh ODHIV adalah lama mengidap HIV (p=0,000) dan Pengetahuan (p=0,000). Pada analisis regresi logistik ganda diketahui bahwa lama mengidap HIV (p=0,007 95% CI: 0.014-0.517) dan pengetahuan (p=0,014 95% CI: 1.343-14.451) merupakan faktor yang paling mempengaruhi tindakan pencegahan penularan HIV. Kesimpulan; bahwa faktor yang paling mempengaruhi tindakan pencegahan penularan HIV oleh ODHA adalah Pengetahuan dan Lama mengidap HIV