JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Faktor Risiko Terjadinya Covid-19 Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2
Introduction: Covid-19 is an infectious disease that first appeared in the city of Wuhan, China, and was caused by SARS-CoV-2. This literature review aims to identify risk factors for the occurrence of Covid-19 in patients with type 2 DM. Methods: Analytical descriptive literature review design. Data obtained through article search results using five electronic databases namely Pubmed, ProQuest, ScienceDirect, Cochrane Library, and Google Scholar identified 10,951 articles with a total sample of 5,464,617 respondents. The analysis uses a map of the extracted data in a grid synthesis table including author, year of publication, country, purpose, sample, design, duration, results, and conclusions of the study. Results: The six articles identified in this review showed that one study reported risk of developing COVID-19 in patients with type 2 diabetes 1,369 times, one study 2,180 times, one study 4.7 times, and another study up to 16.5 times. Patients who are male and aged 53 years have a risk of 1.395 times higher than those who are younger and female. Conclusion: Patients with type 2 diabetes have a significantly higher risk of contracting Covid-19 compared to people without diabetes, especially in patients aged 53 years and male.Pendahuluan: Covid-19 merupakan penyakit menular yang muncul pertama kali di kota Wuhan China dan disebabkan oleh SARS-CoV-2. Tujuan mengidentifikasi faktor risiko terjadinya Covid-19 pada penderita DM tipe 2. Metode: Deskriptif analitis desain literature review. Data diperoleh melalui hasil pencarian artikel menggunakan lima database eletronik yaitu Pubmed, ProQuest, ScienceDirect, Cochrane Library dan Google Scholar diidentifikasi 10.951 artikel dengan jumlah sampel keseluruhan 5.464.617 responden. Analisis menggunakan peta data yang diekstraksi dalam tabel sintesis grid termasuk penulis, tahun publikasi, negara, tujuan, sampel, desain, durasi, hasil dan kesimpulan penelitian. Hasil: Enam artikel teridentifikasi dalam tinjauan ini menunjukkan bahwa, satu studi melaporlakan risiko terjadinya Covid-19 pada penderita DM tipe 2 sebesar 1.369 kali, satu studi 2,180 kali, satu studi 4.7 kali, dan satu studi lainnya hingga16.5 kali. Pasien yang berjenis kelamin laki-laki dan berusia ≥53 tahun memiliki risiko sebesar 1,395 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berusia lebih muda dan berjenis kelamin perempuan. Kesimpulan: bahwa penderita DM tipe 2 secara signifikan memiliki risiko lebih tinggi terkena Covid-19 dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki penyakit diabetes, terutama pada pasien yang berusia ≥53 tahun dan berjenis kelamin laki-laki
Perbedaan Penyembuhan Hecting Wound Tikus Putih Jantan Sprague Dawley dengan Wharton’s Jelly Dan D Gel
Introduction: Post-heating wounds are wounds that occur because of medical action, physiologically the body will experience a wound healing process. D gel is a gel containing cyclic siloxane and vitamin C that can be used for post-heating wound healing, but one of the other wound treatments that can currently be used is human umbilical cord mesenchymal stem cell extract (WJMSCs). Aim: knowing the difference in post-heating wound healing time between WJMSCs extract and D gel. Method: Using a laboratory experimental study using 21 male white rats (Rattus Copernicus) Sprague Dawley strain which was grouped into three different treatment groups. The treatments were divided into K group: negative control (povidone-iodine), P1: WJMSCs extract, and P2: D gel. Observations on post-heating wounds were carried out for 14 days using the Nagaoka criteria and the data were analyzed using categorical descriptive statistical tests and Kruskal-Wallis. Results: showed that there was a significant difference in post-heating wound healing time between WJMSC extract and D gel with p-value = 0.03, with wound healing time in group K: 12.7 days, group P1: 7 days, and group P2: 11 days. Conclusion: that there is a significant difference in post-heating wound healing between WJMSC extract and D gelPendahuluan; Luka post hecting adalah luka yang terjadi akibat tindakan medis, secara fisiologis tubuh akan mengalami proses penyembuhan luka. D gel merupakan gel yang mengandung siloxane cyclic dan vitamin C yang dapat digunakan untuk penyembuhan luka post hecting, tetapi salah satu pengobatan luka lain yang saat ini dapat digunakan adalah ekstrak sel punca mesenkimal tali pusat manusia (WJMSCs). Tujuan; mengetahui waktu perbedaan penyembuhan luka post hecting antara ekstrak WJMSCs dengan D gel. Metode; menggunakan penelitian eksperimental laboratorik yang menggunakan 21 ekor tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok perlakuan berbeda. Perlakuan dibagi atas kelompok K: kontrol negatif (povidone iodine), P1: ekstrak WJMSCs, dan P2: D gel. Pengamatan terhadap luka post hecting dilakukan selama 14 hari menggunakan kriteria Nagaoka dan data dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif kategorik serta Kruskal-Wallis. Hasil; menunjukkan adanya perbedaan waktu penyembuhan luka post hecting antara ekstrak WJMSC dengan D gel secara bermakna dengan p value= 0,03, dengan waktu penyembuhan luka kelompok K: 12,7 hari, kelompok P1: 7 hari, dan kelompok P2: 11 hari. Kesimpulan; bahwa terdapat perbedaan bermakna penyembuhan luka post hecting antara ekstrak WJMSC dengan D ge
Efektivitas Ekstrak Lada Hitam (Piper nigrum L) Terhadap Jumlah dan Motilitas Spermatozoa
Introduction: Infertility is a major problem in married couples and 40% is caused by malefactors. This is caused by an increase in reactive oxygen species (ROS) which can affect the quantity and quality of spermatozoa so that there is a change in the number and motility of the spermatozoa produced. Objective: To determine the effectiveness of black pepper extract (Piper nigrum L) on the number and motility of spermatozoa. Method: using literature studies from various sources of national and international journals by summarizing the discussion, and comparing the results presented in these various sources. Result: black pepper has the main content of piperine which acts as an antioxidant. Piperine can also increase gonadotropin hormones, especially luteinizing hormone (LH) which will stimulate the formation of spermatozoa or the process of spermatogenesis so that it affects the number and motility of spermatozoa. Conclusion: Giving black pepper extract has an effect on the number and motility of spermatozoaPendahuluan: Infertilitas merupakan permasalahan utama pada pasangan suami istri dan 40% disebabkan oleh faktor laki-laki. Hal ini disebabkan oleh peningkatan reactive oxygen species (ROS) yang dapat mempengaruhi kuantitas maupun kualitas spermatozoa sehingga terdapat perubahan jumlah maupun motilitas dari spermatozoa yang diproduksi. Tujuan: mengetahui efektivitas pemberian ekstrak lada hitam (Piper nigrum L) terhadap jumlah dan motilitas spermatozoa. Metode: menggunakan studi literatur dari berbagai sumber jurnal nasional maupun internasional dengan cara meringkas pembahasan, dan membadingkan hasil yang disajikan pada berbagai sumber tersebut. Hasil: lada hitam memiliki kandungan utama piperin yang berperan sebagai antioksidan. Piperin juga dapat meningkatkan hormon gonadotropin terutama luteinizing hormone (LH) yang akan merangsang pembentukan dari spermatozoa atau proses spermatogenesis sehingga berpengaruh terhadap jumlah dan motilitas spermatozoa. Kesimpulan: Pemberian ekstrak lada hitam memiliki pengaruh terhadap jumlah dan motilitas spermatozo
Obesitas dan Depresi pada Orang Dewasa
Introduction; obesity is the most common chronic physical disease in modern society, and depression is the most common psychological condition. Destination; see if there is a significant relationship between obesity and depression. Method; a literature review study, in which researchers seek, combine the essence, and analyze facts from several scientific sources that are accurate and valid, which support and become evidence. Result; that depression and obesity are both associated with social stigma, feelings of low self-esteem, and chronic health conditions. When depression and obesity co-exist, the adverse health and social consequences are significant. Conclusion; Depression is a mood disorder characterized by the main symptoms of depressive effects, loss of interest and anhedonia, and loss of energy which is characterized by rapid fatiguePengantar; obesitas adalah penyakit fisik kronis yang paling umum di masyarakat modern, dan depresi adalah kondisi psikologis yang paling umum. Tujuan; melihat apakah terdapat hubungan bermakna antara obesitas dan depresi. Metode; studi literature review, di mana peneliti mencari, menggabungkan inti sari serta menganalisis fakta dari beberapa sumber ilmiah yang akurat dan valid, yang mendukung dan menjadi bukti. Hasil; bahwa depresi dan obesitas sama-sama terkait dengan stigma sosial, perasaan harga diri rendah, dan kondisi kesehatan kronis. Ketika depresi dan obesitas terjadi bersamaan, konsekuensi kesehatan dan sosial yang merugikan menjadi signifikan. Kesimpulan; Depresi dimana gangguan mood yang ditandai dengan gejala utama berupa afek depresif, kehilangan minat maupun anhedonia, dan kehilangan energi yang ditandai dengan cepat lelah
Pengaruh Stres dengan Perilaku Olahraga Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Selama Pandemi Covid-19
Introduction; The current Covid-19 pandemic is one of the major health crises for individuals in all countries, continents, RAS, and socio-economic groups. Objectives; know the effect of stress on exercise behavior during the Covid-19 pandemic. Method; quantitative research with analytic design and cross-sectional approach. The measuring instruments used were the DASS42 questionnaire (Depression Anxiety Stress Scales 42) and the exercise intensity questionnaire. Result; Of the 60 samples studied, it was found that the largest age frequency distribution in this study was 30 people (50%), the highest gender frequency was 32 women (53.3%), the level of stress that was most often found. namely moderate stress as many as 21 people (35%), the frequency of sports behavior that was mostly found with low intensity was 25 people (41.7%). Conclusion: There is no effect of stress on exercise behavior on students when they enter the covid-19 medical facultyPendahuluan; pandemi Covid-19 saat ini merupakan salah satu krisis kesehatan utama bagi setiap individu di semua negara, benua, RAS, dan kelompok sosial ekonomi. Tujuan; mengetahui pengaruh stres terhadap perilaku olahraga selama pandemi Covid-19. Metode; penelitian kuantitatif dengan desain analitik dan pendekatan cross sectional. Alat ukur yang digunakan adalah angket DASS42 (Depression Anxiety Stress Scales 42) dan angket intensitas latihan. Hasil; Dari 60 sampel yang diteliti, didapatkan distribusi frekuensi usia terbanyak dalam penelitian ini adalah 30 orang (50%), frekuensi jenis kelamin tertinggi adalah 32 perempuan (53,3%), tingkat stres yang paling sering ditemukan. yaitu stres sedang sebanyak 21 orang (35%), frekuensi perilaku olahraga yang paling banyak dijumpai dengan intensitas rendah sebanyak 25 orang (41,7%). Kesimpulan: Tidak ada pengaruh stres dengan perilaku olahraga pada mahasiswa pada saat masuk fakultas kedokteran covid-19
The Hubungan Infeksi Saluran Pernafasan Akut dengan Kejadian Stunting
Introduction; stunting is a nutritional problem because it can increase morbidity and mortality, cognitive decline, motor skills, language development, learning abilities, and work capacity. Objective: To determine the relationship between ARI and the incidence of stunting. Methods: Using the literature by searching for the keywords stunting, acute respiratory infections, and acute respiratory infections on Google Scholar and Pubmed. A literature search from both national and international journals then summarizes the topics of discussion and compares the results presented in the articles. Result; Infection increases energy requirements to lead to immunity and cellular repair. Inadequate energy intake due to decreased appetite and malabsorption exacerbates this condition. The imbalance between demand and income causes children to fall into a stunted state. Conclusion: there is a relationship between acute respiratory infections and the incidence of stunting.Pendahuluan; stunting merupakan masalah gizi karena dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, penurunan kognitif, motorik, perkembangan bahasa, kemampuan belajar, dan kapasitas kerja. Tujuan: mengetahui hubungan antara ISPA dengan kejadian stunting. Metode: menggunakan literatur dengan mencari kata kunci stunting, infeksi saluran pernafasan akut, dan infeksi saluran pernafasan akut di Google Scholar and Pubmed. Pencarian pustaka baik dari jurnal nasional maupun internasional kemudian merangkum topik diskusi dan membandingkan hasil yang disajikan dalam artikel. Hasil; Infeksi meningkatkan kebutuhan energi untuk memimpin kekebalan dan perbaikan sel. Asupan energi yang kurang karena nafsu makan menurun dan malabsorpsi memperburuk kondisi ini. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pendapatan menyebabkan anak jatuh dalam kondisi kerdil. Kesimpulan: ada hubungan antara infeksi saluran pernafasan akut dengan kejadian stuntin
Analisis faktor Keaktifan Kader dalam Kegiatan Posyandu
Introduction; The development and improvement of the quality of posyandu services is strongly influenced by the participation of the community, including cadres. Objectives; knowing the factor analysis of cadre activity in posyandu activities. Method; quantitative research with a descriptive analytical cross-sectional study approach, data collection is done by distributing questionnaires to respondents. The data analysis used was univariate and bivariate with the help of SPSS. Results; shows that there is a relationship between the level of education, knowledge, appreciation and distance from home with the activeness of cadres in posyandu activities. Conclusion: there is a relationship between education, knowledge, appreciation and distance from home with cadre activity in posyandu activitiesPendahuluan; perkembangan dan peningkatan mutu pelayanan posyandu sangat dipengaruhi oleh peran serta masyarakat diantaranya adalah kader. Tujuan; mengetahui analisis faktor keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Metode; penelitian kuntitaitf dengan pendekatan deskriptif analitik crossectional study, pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada responden. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat dengan bantuan SPSS. Hasil; menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan, pengetahuan, penghargaan dan jarak rumah dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyandu. Kesimpulan: ada hubungan antara pendidikan, pengetahuan, penghargaan dan jarak rumah dengan keaktifan kader dalam kegiatan posyand
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia
The health of the elderly, which decreases with age, will affect the quality of life of the elderly. Increasing age will be accompanied by decreased body function, the onset of various diseases, body balance and the risk of falling. This study aims to determine the factors that affect the quality of life of the elderly in Surabaya, East Java, by applying the HRQoL questionare. This study is survey research, which was conducted on 94 older people aged over 60 years. Multiple regression analysis was conducted to analyze factors related to the quality of life of the elderly, including predisposing factors, support, health needs and behaviour. The results showed that the need factor, namely health status, most significantly affects the quality of life of the elderly. The findings of this study can be used to develop intervention policies to improve the quality of life of the elderlyKesehatan lansia yang semakin menurun seiring bertambahnya usia akan mempengaruhi kualitas hidup lansia. Bertambahnya usia akan disertai dengan penurunan fungsi tubuh, timbulnya berbagai penyakit, keseimbangan tubuh dan risiko jatuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia di Surabaya Jawa Timur dengan menerapkan kuesioner HRQoL. Penelitian ini merupakan penelitian survei, yang dilakukan pada 86 lansia berusia di atas 60 tahun. Analisis regresi berganda dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup lansia, antara lain faktor predisposisi, dukungan, kebutuhan kesehatan dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kebutuhan yaitu status kesehatan paling signifikan mempengaruhi kualitas hidup lansia. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan kebijakan intervensi untuk meningkatkan kualitas hidup lansi
Studi Fakor Resiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Dataran Tinggi Dan Dataran Rendah
Introduction: nutritional problems are a global problem throughout the world. Malnutrition is an occurrence of wrong nutrition, it can be undernutrition or overnutrition. Globally, the incidence of stunting is still very high, including in Indonesia. Objective: to analyze the risk factors for stunting in children under five in the Highlands and Lowlands. Methods: The research used is quantitative with a case-control research design. The research location in Jeneponto Regency is divided based on the highland and lowland areas with a total sample of 76 studies (38 stunting toddlers and 38 normal toddlers) in the highland and lowland areas with a total sample of 152 toddlers aged 6-59 months. Data were processed using SPSS with univariate and bivariate analysis. Results: that the results show that the source of drinking water in the highlands (p=0.037; OR 2.676 (CI=1.049-6.829) is a risk factor for stunting. Conclusion: that the source of drinking water is a risk factor for stunting. So it is hoped that further checks will be made on drinking water quality in highland areas, providing education to families regarding drinking water management.Pendahuluan: masalah gizi menjadi masalah global di seluruh dunia. Malnutrisi adalah kejadian gizi yang salah, bisa kekurangan gizi (undernutrition) maupun kelebihan gizi (over nutrition). Secara global kejadian stunting masih sangat tinggi termasuk di Indonesia. Tujuan: menganalisis faktor risiko kejadian stunting pada balita di wilayah Dataran Tinggi dan Dataran Rendah. Metode: penelitian yang digunakan adalah kuantiatif dengan desain penelitian case control. Lokasi penelitian di Kabupaten Jeneponto terbagi berdasarkan wilayah dataran tinggi dan dan dataran rendah dengan jumlah sampel penelitian masing-masing 76 (38 balita stunting dan 38 balita normal) di wilayah dataran tinggi dan dataran rendah dengan jumlah sampel 152 balita usia 6-59 bulan. Data diolah menggunakan SPSS dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil: bahwa hasil menunjukka sumber air minum di wilayah dataran tinggi (p=0,037; OR 2,676 (CI=1,049-6,829) merupakan faktor risiko kejadian stunting. Kesimpulkan: bahwa sumber air minum merupakan faktor risiko kejadian stunting. Sehingga diharapkan adanya pengecekan lebih lanjut kualitas air minum di wilayah dataran tinggi, memberikan edukasi kepada keluarga terkait pengelolaan air minum
Determinan Sosial Kesehatan Terhadap Kepatuhan Pengobatan Dots Penderita Tb Paru
Introduction; pulmonary TB is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Transmission occurs when a smear-positive pulmonary TB patient coughs or sneezes and the patient accidentally spreads germs into the air in the form of phlegm splashes. The purpose of this study was to determine the existence of social determinants of health on the compliance of dots treatment with pulmonary tuberculosis patients. Method; This research uses a descriptive-analytic method by using the "Cross-Sectional" study approach method by taking a sample from a population and using a questionnaire as a data collection tool. The population in this study was a sample of 33 people. The data obtained were processed in the form of univariate bivariate and multivariate analysis with =0.05 using SPSS. Results; shows that the relationship between knowledge p = 0.02, family support p = 0.01, drug swallowing supervision p = 0.00. Conclusion; that there is a relationship between knowledge, family support, and supervision of drug ingestion on adherence to DOTs treatment of pulmonary TB patientsTB paru merupakan penyakit menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi ketika penderita TB paru BTA positif batuk atau bersn dan tanpa disengaja penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak.Seorang penderita TB paru BTA Positif dapat mengifeksi 10-15 orang disekitarnya.Ketidakpatuhan penderita untuk berobat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa faktor diantaranya yaitu faktor tingkat pengetahuan,dukungan keluarga,dan pengawas menelan obat (PMO).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya determinan social kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan dots penderita Tb paru diwilayah kerja puskesmas manuju kabupaten Gowa.
Penelitian ini menggunakan metode deskriftive analitik dengan menggunakan metode pendekatan studi “Cross Sectionalâ€dengan mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Populasi dalam Penelitian ini adalah jumlah sampel 33 orang. Data yang diperoleh diolah dala bentuk analisis univariat bivariate dan multivariate dengan α=0,05 dengan menggunakan SPSS.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hubungan pengetahuan p=0,02 lebih kecil dari α=0,05 artinya ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan ketidakpatuhan pengobatan, dukungan keluarga (p=0,01) lebih kecil dari α=0,05 artinya ada hubungan antara dukungan keluarga dengan ketidakpatuhan pengobatan, dan pengawasan menelan obat (p=0,00) lebih kecil dari α=0,05 artinya ada hubungan antara pengawas menelan obat dengan ketidakpatuhan berobat. Kesimpulan penelitian ini adalah Ada Hubungan Pengetahuan, dukungan keluarga dan pengawasan menelan obat Terhadap kepatuhan pengobatan DOTs penderita TB paru di wilayah kerja puskesmas manuju kabupaten Gow