JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pengetahuan Calon Pengantin Sebelum dan Setelah diberikan Pendidikan Gizi 1000 HPK Melalui Media Presentasi dan Booklet
Introduction: Early stunting prevention efforts must be made to break the chain of stunting spread.
Objective: To find out whether there is an effect of knowledge of the prospective bride and groom before and after being given 1000 HPK nutrition education through presentation media and booklets.
Method: Pre Experiment design where there is no control variable. This study used a non-randomized one-group pre-post test design, with 26 respondents with various educational backgrounds.
Results: Statistical tests showed that there was a significant effect (p-value 0.000) of giving 1000 HPK nutrition education with presentation media and booklets to prospective brides before and after being given treatment.
Conclusion: After being given health education, the average knowledge of the prospective bride and groom increased by more than 50% compared to the average before being given 1000 HPK nutrition education.Pendahuluan: Upaya pencegahan stunting secara dini harus dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran stunting.
Tujuan: mengetahui apakah ada pengaruh pengetahuan calon pengantin sebelum dan setelah diberikan pendidikan gizi 1000 HPK melalui media presentasi dan booklet.
Metode: Desain Pra Experiment dimana tidak terdapat pengontrolan variable. Penelitian ini menggunakan non-randomized one group pre-post test design, responden berjumlah 26 orang dengan latar pendidikan yang beragam.
Hasil: Uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan (p-value 0.000) pemberian pendidikan gizi 1000 HPK dengan media presentasi dan booklet kepada calon pengantin perempuan sebelum dan setelah diberi perlakuan.
Kesimpulan: Bahwa setelah diberikan pendidikan kesehatan, rerata pengetahuan calon pengantin meningkat lebih dari 50% dibandingkan rerata sebelum diberikan pendidikan gizi 1000 HPK
Peningkatan Kadar Kolesterol dan Usia Pada Ibu Rumah Tangga
Introduction; Cholesterol is a metabolite of fat that contains sterol compounds and is primarily concentrated in cell membranes in the body and the circulatory system.
Purpose; To determine the total cholesterol level in homemakers (IRT) based on the age range category of 25-80 years and the relationship between increasing total cholesterol levels with the age of IRT.
Method; The research method is descriptive-analytical with a cross-sectional approach, with a total sample of 30 and the sampling technique is purposive sampling. Data on the relationship between total cholesterol levels and age were statistically analyzed by bivariate analysis with the Pearson correlation index on SPSS software.
Results; Total of 30 IR respondents, the average cholesterol level was 198.07 mg/dL, and the average age was 47.87 years. 50% of respondents have good cholesterol levels, 26.67% in the border category, and 23.33% in the danger category, with the highest cholesterol levels being 297 mg/dL and the lowest being 130 mg/dL.
Conclusion; Total cholesterol levels in IRT in Tanjung are dominated by women over 45 years, with cholesterol levels ranging from 130 to 300 mg/dL, and there is a strong relationship between increased cholesterol levels in the body and rising agePendahuluan Kolesterol merupakan lemak hasil metabolit yang mengandung senyawa sterol dan banyak terkonsentrasi pada membran sel di dalam tubuh serta sistem sirkulasi.
Tujuan Mengetahui kadar Kolesterol total pada ibu rumah tangga (IRT) berdasarkan kategori rentang usia 25 – 80 tahun dan hubungan peningkatkan kadar Kolesterol total dengan usia IRT.
Metode Penelitian adalah deskriptif analitis dengan pendekatan corss-sectional method, dengan total sampel 30 dan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling method. Data hubungan level kolesterol total dan usia dianalisis secara statistik dengan analisis bivariate dengan indeks pearson correlation pada SPSS software.
Hasil studi menunjukkan IR rata-rata level kolesterol 198.07 mg/dL, dan rata-rata usia 47.87 tahun. Terdapat 50% responden memiliki kadar kolesterol baik, 26.67% kategori perbatasan, dan 23.33% kategori bahaya dengan level kolesterol tertinggi 297 mg/dL dan terendah 130 mg/dL.
Kesimpulan Kadar kolesterol total pada IRT di Kelurahan Tanjung, Purwokerto Selatan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara peningkatan kadar kolestrol di dalam tubuh dengan penambahan usi
Faktor Risiko dan Manajemen Mirror Syndrome
Introduction: Mirror syndrome is a rare prenatal clinical condition associated with significant fetal death and maternal morbidity.
Objective: To Know more about Mirror Syndrome comprehensively.
Methods: The literature review study combines the essence of several relevant sources from national and international sources.
Results: Mirror syndrome is defined by the presence of a clinical trial that includes fetal hydrops, placental hydrops, and maternal oedema. Several fetoplacental diseases are also associated with MS, which can be classified into diverse groups based on: different etiologies.
Conclusion: There are many things still unknown about Mirror Syndrome. Early diagnosis is essential to determine the etiology of Mirror Syndrome and the appropriate treatment according to its type.Pendahuluan : Mirror Syndrom merupakan kondisi klinis yang langka pada kehamilan terkait dengan signifikan kematian janin dan morbiditas ibu.
Tujuan : Mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit Mirror Syndrom secara komprehensif.
Metode: menggunakan metode studi literature review yaitu menggabungkan inti sari dari beberapa sumber yang relevan baik dari sumber nasional maupun internasional.
Hasil: Mirror Syndrome didefinisikan oleh adanya trias klinis yang termasuk hidrops janin, hydrops plasenta dan edema pada ibu. Beberapa penyakit feto-plasenta juga terkait dengan MS, yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok yang beragam berdasarkan: etiologi yang berbeda.
Kesimpulan : Masih terdapat banyak hal yang tidak diketahui mengenai Mirror Syndrome. Diagnosis dini sangat penting untuk menentukan etiologic Mirror Syndrome guna menentukan pengobatan yang tepat sesuai tipeny
Relaksasi Otot Progresif Menurunkan Tekanan Darah Pasien Hipertensi
Introduction: Hypertension or high blood pressure is still a health problem experienced by the world's population, especially in Indonesia. Hypertension or high blood pressure is an increase in systolic blood pressure 140 mmHg and diastolic blood pressure 90 mmHg when examined twice within 5 minutes in a calm state. One way to reduce blood pressure in hypertensive patients is to relax muscles progressively.
Objective: This study aims to explain progressive muscle relaxation in lowering blood pressure in hypertensive patients.
Methods: The retrieval and data collection method are carried out through library research by tracing the results of scientific publications from 2017-2022 through the Google Scholar, Pubmed, and Researchgate databases.
Results: Progressive muscle relaxation can be done continuously at least twice daily for 25-30 minutes.
Conclusion: Progressive muscle relaxation should be done correctly with the correct sequence, movement, and focus so that individuals who do progressive muscle relaxation feel relaxed. Progressive muscle relaxation can be done independently or in combination with other non-pharmacological techniquesPendahuluan: Hipertensi atau tekanan darah tinggi saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang dialami oleh penduduk dunia terutama di Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastole ≥ 90 mmHg saat dilakukan pemeriksaan sebanyak 2 kali dengan rentang waktu 5 menit dalam keadaan tenang.Salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi adalah dengan melakukan relaksasi otot progresif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan relaksasi otot progresif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Metode: Metode yang digunakan adalah metode pengambilan dan pengumpulan data yang diilakukan melalui studi pustaka dengan melakukan penelurusan dari hasil publikasi ilmiah dengan rentang waktu 2017-2022 melalui database Google Scholar, Pubmed dan Researchgate.
Hasil: Relaksasi otot progresif dapat dilakukan secara terus menerus minimal 2 kali sehari selama 25-30 menit.
Kesimpulan: Relaksasi otot progresif ini sebaiknya dilakukan dengan benar seperti benar urutan, benar gerakan, dan dilakukan dengan fokus sehingga individu yang melakukan relaksasi otot progresif benar-benar mendapatkan perasaan rileks. Relaksasi otot progresif dapat dilakukan secara mandiri maupun dikombinasikan dengan teknik non-farmakologi lainnya
Kebijakan dan Upaya Progresif dalam Penanggulangan Stunting pada Balita
Introduction: Stunting is a condition of growth failure in children under five due to chronic malnutrition characterized by their length or height being below the standard.
Objective: Know progressive policies and efforts in overcoming stunting in toddlers. Method: Qualitative research with 16 informants, including ordinary and key informants.
Results: Show that aggressive actions in overcoming stunting are minimal because officers' knowledge, parenting, and role are still shallow.
Conclusion: That progressive efforts to combat stunting still need to be improved regarding maternal knowledge about healthy and nutritious food for toddlers. Policymakers to play a proactive role in tackling stunting through education, counselling, and empowerment to mothers of toddlers so that they can understand the causes and risks if their children suffer from stunting. Pendahuluan: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Tujuan: Mengetahui kebijakan dan upaya progresif dalam penanggulangan stunting pada balita.
Metode: Penelitian kualitatif dengan jumlah infoman sebanyak 16 orang, yang terdiri infoman biasa dan informan kunci.
Hasil: Menunjukkan bahwa upaya pogresif dalam penanggulangan stunting masih sangat minim karena pengetahuan, pola asuh maupun peran petugas masih sangat rendah.
Kesimpulan: Bahwa upaya progresif penanggulangan stunting masih perlu ditingkatkan mengenai pengetahuai ibu mengenai makanan yang sehat dan bergizi untuk diberikan kepada balita. Pengambil kebijakan agar berperan proaktif dalam memerangi stunting baik melalui edukasi, konseling maupun pemberdayaan kepada ibu balita agar mereka bisa memahami penyebab maupun resiko apabila anaknya menderita stunting
Pengaruh Senam Hamil Yoga Terhadap Kadar Endorphin Plasma dan Tingkat Kecemasan pada Ibu Primigravida Trimester III
Introduction: Women in pregnancy experience many changes, both physical and psychological so that it will make anxiety levels increase and happiness hormones decrease, especially in primigravid mothers before delivery.
Aim: Measure endorphin levels and anxiety levels of the third trimester of the primigravida mother.
Method: Metode uses a quasi-experiment design with pretest-posttest control group design. The sample was 13-trimester primigravida pregnant women in the intervention group and 13 people in the control group according to inclusion and exclusion criteria. Measurement of anxiety levels using questionnaires with the HAR-S method while measurement of plasma Endorphin levels was done by testing pre and post-blood samples. Data analysis uses the T-test and the Mann-Whitney test.
Results: The results showed that there was an influence of yoga on endorphin levels and there was an influence of yoga on anxiety levels. Thus, there is an effect of yoga on endorphin levels and anxiety levels in pregnant women primigravida trimester III.
Conclusion: Pregnant gymnastics yoga increases endorphin levels and lowers anxiety levels in the third-trimester primigravida motherPendahuluan: Wanita dalam masa kehamilan banyak mengalami perubahan, baik fisik maupun psikologis sehingga akan membuat tingkat kecemasan meningkat dan hormon kebahagiaan menurun khususnya pada ibu primigravida menjelang persalinan.
Tujuan: Mengukur kadar endorphin dan tingkat kecemasan ibu primigravida trimester III.
Metode: Menggunakan quasi experiment design dengan pretest posttest control group design. Sampelnya adalah ibu hamil primigravida trimester III sebanyak 13 orang pada kelompok intervensi dan 13 orang pada kelompok kontrol sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran tingkat kecemasan dengan menggunakan kuesioner dengan metode HAR-S sementara pengukuran kadar Endorphin plasma dilakukan dengan pengujian sampel darah pre dan post. Analisa data menggunakan uji T dan uji Mann Whitney.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh senam hamil yoga terhadap kadar endorphin dan ada pengaruh senam hamil yoga terhadap tingkat kecemasan. Dengan demikian, ada pengaruh senam hamil yoga terhadap kadar endorphin dan tingkat kecemasan pada ibu hamil primigravida trimester III.
Kesimpulan: Senam hamil yoga meningkatkan kadar endorphin dan menurunkan tingkat kecemasan pada ibu primigravida trimester II
Hubungan Tingkat Depresi Dengan Gejala COVID-19 Pasca Isolasi Mandiri
Introduction: COVID-19 is a new disease caused by SARS-CoV-2 which was discovered in Wuhan, China in 2019 and then became a global pandemic. The COVID-19 pandemic contributed to an increase in anxiety, depression, and other stress symptoms, one of which is due to the severity of the symptoms caused during self-isolation. Depression can affect anyone regardless of education, ethnicity, age, income, or marital status, which impacts worsening the course of the disease.
Aims: Find out the relationship of depression levels with post-self-isolation COVID-19 symptoms.
Method: This type of research is quantitative with an analytical survey research design. Data collection uses interviews and BDI-II questionnaires. The bivariate analysis uses the Spearman correlation test.
Result: A correlation value of 0.819, indicating a relationship between depression levels and symptoms in post-self-isolation COVID-19 patients.
Conclusion: The relationship is meaningful between depression levels and post-self-isolation COVID-19 symptoms.Pendahuluan: COVID-19 merupakan penyakit baru yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 yang ditemukan di Wuhan, Cina pada tahun 2019 kemudian menjadi pandemi global. Pandemi COVID-19 berkontribusi pada peningkatan kecemasan, depresi, dan gejala stress lainnya salah satunya akibat beratnya gejala yang ditimbulkan saat isolasi mandiri. Depresi dapat mengenai siapa saja tanpa memandang pendidikan, etnik, usia, penghasilan maupun status perkawinan yang berdampak perburukan perjalanan penyakit.
Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat depresi dengan gejala COVID-19 pasca isolasi mandiri.
Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian survei analitik. Pengambilan data menggunakan wawancara dan kuesioner BDI-II. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman.
Hasil: Nilai korelasi sebesar 0.819, menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat depresi dengan gejala pada pasien COVID-19 pasca isolasi mandiri.
Kesimpulan: bahwa hubungan bermakna antara tingkat depresi dengan gejala COVID-19 pasca isolasi mandiri
Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang
Introduction; Stunting in toddlers is one of the nutritional problems in the world, especially in developing countries. As many as 21.3% or around 144 million toddlers in the world are stunted, more than half of the world's stunted toddlers are from Asia, and more than two-fifths live in Africa. Stunting is a serious threat to the existence of children as the next generation of a nation.
Purpose; This study analyzed the risk factors associated with the incidence of stunting in toddlers in developing countries using a systematic literature review and meta-analysis.
Method; Literature search using online journal portals namely ProQuest, PubMed, and Garuda. The journal used in this study is a journal with a maximum reputation of Q2 and sinta 2, in the period 2010-2020, with a cross-sectional and case-control study design.
Results; Based on the search results, seven kinds of literature were obtained, and conducted by systematic literature review was.
Conclusion; The results of the meta-analysis of risk factors related to the incidence of stunting in toddlers in developing countries are birth weight and exclusive breastfeedingPendahuluan: Stunting pada balita merupakan salah satu masalah gizi di dunia, khususnya di negara berkembang. Sebanyak 21,3% atau sekitar 144 juta balita di dunia mengalami stunting, lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia dan lebih dari dua per lima tinggal di Afrika. Stunting menjadi ancaman serius terhadap keberadaan anak-anak sebagai generasi penerus suatu bangsa.
Tujuan: Penelitian ini menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di negara berkembang menggunakan systematic literature review dan meta-analysis. Metode; Penelusuran literatur menggunakan portal jurnal online yaitu ProQuest, PubMed dan Garuda. Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jurnal bereputasi maksimal Q2 dan sinta 2, dalam rentang waktu 2010-2020, dengan design studi cross sectional dan cased control.
Hasil: Berdasarkan hasil penelusuran didapatkan tujuh literatur yang dilakukan systematic literature review.
Kesimpulan: Hasil meta-analysis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di negara berkembang yaitu berat badan lahir dan ASI eksklusi
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Seks Bebas
Introduction: Indonesian teenagers seem to be more tolerant of premarital sexual lifestyles or promiscuous sex. Many factors influence this behavior, one of which is the attitude and knowledge about the free sex itself. This knowledge and attitude can be improved by providing counseling or health education.
Purpose: Knowing the effect of health education on adolescents' knowledge and attitudes about promiscuous sex.
Method: Pre-Experimental type of research with the research design is One Group pre-test post-test design. The sample of this study included 84 students at SMK Negeri 6 Makassar using Cluster Sampling as a sampling technique for the Research Instrument using a questionnaire. The data analysis used is bivariate analysis, Paired Sample T test.
Results: Showed that there was an increase in the number of respondents who had good knowledge between before and after health education, namely an average change of 7,131 (± 3,229) by 98.8% with a p value of 0.000. And there was an increase in the number of respondents who had a good attitude between before and after health education, namely an average change of 3,917 (± 3,860) by 100% with a p value of 0.000.
Conclusion: That there is an influence of health education on students' knowledge and attitudes (i) about promiscuous sex.Pendahuluan remaja Indonesia nampak lebih bertoleransi terhadap gaya hidup seksual pranikah atau seks bebas. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ini, salah satunya adalah sikap dan pengetahuan tentang seks bebas itu sendiri. Pengetahuan dan sikap ini dapat ditingkatkan dengan pemberian penyuluhan atau pendidikan kesehatan.
Tujuan mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang seks bebas.
Metode jenis penelitian Pra-Eksperimental dengan rancangan penelitiannya adalah One Group pre-test post-test design.Sampel penelitian ini meliputi 84 siswa di SMK Negeri 6 Makassar dengan menggunakan Cluster Sampling sebagai teknik pengambilan sampel Instrumen Peneitian menggunakan kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah analisa bivariate, Uji Paired Sample T test.
Hasil menunjukkan terdapat peningkatan jumlah responden yang memiliki pengetahuan baik antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan yaitu perubahan rata-rata 7,131 (± 3,229) sebesar 98,8% dengan p value 0,000. Dan terdapat peningkatan jumlah responden yang memiliki sikap baik antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan yaitu perubahan rata-rata 3,917 (± 3,860) sebanyak 100% dengan p value 0,000.
Kesimpulan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap siswa (i) tentang seks beba
Ketikdakstabilan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II
Introduction: Diabetes mellitus is a metabolic disorder characterized by an increase in blood glucose levels (Hyperglycemia) due to damage to insulin secretion and insulin work; daily blood glucose levels vary, and blood sugar levels will increase after eating and return to normal within 2 hours.
Purpose: To determine the instability of blood glucose levels in patients with type II diabetes mellitus.
Method: Design qualitative research with a study approach, a method carried out to expose or describe the actual situation.
Results: There was a gap between patient 1 and patient 2 in the study results. In patient 1, it was found that the patient had anemic conjunctiva, and patient 2 had no complaints of anemic conjunctiva. This happens because low hemoglobin levels can prove the presence of iron deficiency anemia. Serum protein levels provide an estimate of offal protein deposits.
Conclusion: The problem of nursing instability of blood glucose levels in patients has not been resolved because the blood glucose levels of both cases have not stabilized/are normal.Pendahuluan: Diabetes melitus adalah gangguan metabolic yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah (Hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresi insulin dan kerja insulin, kadar glukosa darah setiap hari bervariasi, kadar gula darah akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam
Tujuan: Mengetahui ketikdakstabilan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe II.
Metode: Desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi, suatu metode yang dilakukan dengan tujuan untuk memaparkan atau menggambarkan keadaan sebenarnya.
Hasil: Bahwa terdapat kesenjangan antara pasien 1 dengan pasien 2 pada hasil pengkajian. Pada pasien 1 ditemukan pasien mengalami konjongtiva anemis sendangkan pasien 2 tidak ada keluhan kongjungtiva anemis. Hal ini terjadi karena Kadar hemoglobin yang rendah dapat membuktikan adanya anemia defesiensi zat besi. Kadar protein serum memberikan perkiraan simpanan protein viscera.
Kesimpulan: Bahwa masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah pada pasien belum teratasi karena kadar glukosa darah kedua kasus belum stabil/ normal