JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Penatalaksanaan Batuk Efektif Akibat Tuberkulosis Paru
Introduction: Tuberculosis is a public health problem around the world, with Indonesia in particular being the second leading cause of death from infectious diseases.
Objective: Carry out comprehensive nursing care to clients experiencing respiratory system disorders due to Pulmonary TB with effective cough interventions.
Method: The design of the study uses a case study, which aims to describe the phenomenon with a nursing care approach.
Results: Showing clients said frequent coughs at night, coughing up phlegm, and difficulty removing phlegm are the causes of this Pulmonary TB results in primary infection of the alveoli resulting in increased secretion production resulting in ineffective airway clearance problems.
Conclusion: Optimization of airway management in pulmonary tuberculosis nursing care with airway clearance is not effectivePendahuluan: Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, dengan Indonesia khususnya menjadi penyebab kematian kedua akibat penyakit menular.
Tujuan: Melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif kepada klien yang mengalami gangguan system pernapasan akibat TB Paru dengan intervensi batuk efektif.
Metode: Desain penelitian menggunakan studi kasus, yang bertujuan menggambarkan fenomena dengan pendekatan asuhan keperawatan.
Hasil: Menunjukan klien mengatakan sering batuk pada malam hari, batuk berdahak, susah mengeluarkan dahak menjadi penyebab tersebut adalah TB Paru mengakibatkan infeksi primer pada alveoli mengakibatkan produksi sekret meningkat sehingga muncul masalah bersihan jalan nafas tidak efektif.
Kesimpulan: Optimalisasi menejemen jalan nafas dalam asuhan keperawatan tuberkulosis paru dengan bersihan jalan nafas tidak efektif
Dampak Kejadian Preeklamsia dalam Kehamilan Terhadap Pertumbuhan Janin Intrauterine
Introduction: The most common maternal death causes are bleeding, pregnancy hypertension (preeclampsia and eclampsia), and infections.
Objective: Analyze the impact of preeclampsia in pregnancy on the growth of the fetus in the womb.
Method: Observational analytical research with longitudinal panel study design. The population of pregnant women in samples taken by purposive sampling was 74 pregnant women.
Results: Chi-square test P-value of 0.000 or <0.05, preeclampsia and OR 0.017 (0.002-0.15), and regression analysis of preeclampsia status had an effect of 0.017. The determinant coefficient (Negelkerke R Square) shows that the probability value of pregnant women experiencing preeclampsia can cause the possibility of fetal growth to be inhibited by as much as 48%.
Conclusion: That preeclampsia dramatically affects the development of the intrauterine fetus. To improve the nutritional status of intrauterine mothers and fetuses, counselling can be done on pregnant women.Pendahuluan: Penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia dan eklamsia), dan infeksi.
Tujuan: Menganalisis dampak kejadian preeklamsia dalam kehamilan terhadap pertumbuhan janin intrauterine.
Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain longitudinal panel study. Populasi ibu hamil yang ada di dan sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 74 ibu hamil.
Hasil: Uji chi square nilai P-value 0,000 atau <0.05, preeklamsia dan OR 0.017 (0.002-0.15) dan analisis regresi status preeklamsia memiliki pengaruh 0,017. Koefisien determinan (Negelkerke R Square) menunjukan nilai probabilitas ibu hamil yang mengalami preeklamsia dapat menyebabkan kemungkinan pertumbuhan janin terhambat sebanyak 48%.
Kesimpulan: Bahwa preeklamsia sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin intrauterine. Konseling dapat dilakukan kepada ibu hamil untuk meningkatkan status gizi ibu dan janin intrauterine
Efektivitas Suplementasi Tepung Daun Kelor dan Bee Bread Terhadap Kadar Hemoglobin, Hematokrit Remaja Putri Anemia
Introduction: anemia is still a health problem moringa plant in Latin known as Moringa Oleifera Lam is one type of plant that contains high iron.
Objective: To determine the effectiveness of supplementation of Moringa leaf flour capsules and bee bread on hemoglobin and hematocrit levels of anemic adolescent girls.
Method: Randomized Controlled Trial (RCT). The subjects of the study were anemic adolescent girls, 13 people in the intervention group (giving supplements of Moringa leaf flour capsules and bee bread), and 11 control groups (giving supplements of Moringa leaf flour capsules and placebo) according to the inclusion and exclusion criteria. Characteristic data was measured using a temporary questionnaire to assess changes in hemoglobin and hematocrit levels, pre-and post-supplementation blood samples were tested. Data analysis using Chi-Square, Dependent, and Independent t-test.
Results: The increase in hemoglobin levels was greater in the intervention group (mean difference 1.72) compared to the control group (mean difference 1.15). Meanwhile, the hematocrit level experienced a greater decrease in the control group (mean difference 3.27) than the intervention group (mean difference 2.78).
Conclusion: there is no significant difference in the comparison of hemoglobin and hematocrit values ​​between the intervention and control groups after supplementation (posttest)Pendahuluan: anemia masih merupakan masalah kesehatan. Tanaman kelor atau dalam Bahasa latin dikenal dengan Moringa Oleifera Lam merupakan salah satu jenis tanaman yang mengandung zat besi tinggi.
Tujuan: mengetahui efektivitas suplementasi kapsul tepung daun kelor dan bee bread terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit remaja putri anemia.
Metode: Randomized Controlled Trial (RCT). Subyek penelitian adalah remaja putri anemia 13 orang kelompok intervensi (pemberian suplemen kapsul tepung daun kelor dan bee bread) dan 11 orang kelompok kontrol (pemberian suplemen kapsul tepung daun kelor dan placebo) sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data karakteristik diukur menggunakan kuesioner sementara untuk menilai perubahan kadar hemoglobin dan hematokrit dilakukan pengujian sampel darah pre dan post suplementasi. Analisis data menggunakan Chi Square, Uji t Dependen dan Independen.
Hasil: Peningkatan kadar hemoglobin lebih besar ditunjukkan oleh kelompok intervensi (mean difference 1.72) dibandingkan dengan kelompok kontrol (mean difference 1.15). Sementara itu kadar hematokrit mengalami penurunan yang lebih besar pada kelompok kontrol (mean difference 3.27) dibandingkan kelompok intervensi (mean difference 2.78).
Kesimpulan: tidak ada perbedaan yang signifikan pada perbandingan nilai hemoglobin dan hematokrit antara kelompok intervensi dan kontrol setelah suplementasi (posttest).
 
Pemberian Rational Emotive Behavior Therapy Dalam Mengontrol Perilaku Agresif Pada Pasien Perilaku Kekerasan
Introduction: Violent behavior is one of the symptoms of mental disorders that can trigger physical harm to patients and others.
Aims: To determine the provision of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) in controlling aggressive behavior in patients with violent behavior.
Methods: This review uses a literature review approach. Sources of data obtained through article search results using four databases, namely Pubmed, Proquest, Garuda, and Google Scholar identified 26,083 articles. The analysis uses a map of the extracted data in a grid synthesis table including author, year, country, purpose, sample, design, duration, results, and conclusions of the study.
Results: Four articles identified in this review showed that before REBT therapy was given, most of the patients were unable to control aggressive behavior as indicated by a high mean risk score for aggressive behavior, both cognitive, affective, social, and physiological, but after REBT therapy most of the patients were able to control aggressive behavior. characterized by a significant change in the symptoms of the risk of violent behavior experienced by the patient.
Conclusion: Based on the results of a review of four articles, it was concluded that the administration of REBT could significantly improve the patient's ability to control violent behavior in aggressive behavior characterized by changes in the patient's cognitive, affective, social, and physiological responsesPendahuluan: Perilaku kekerasan merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang dapat memicu bahaya secara fisik pada diri pasien maupun orang lain.
Tujuan: mengetahui pemberian Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dalam mengontrol perilaku agresif pada pasien perilaku kekerasan.
Metode: Tinjauan ini menggunakan pendekatan literature review. Sumber data diperoleh melalui hasil penelusuran artikel menggunakan empat database yaitu Pubmed, Proquest, Garuda, dan Google Scholar diidentifikasi 26.083 artikel. Analisis menggunakan peta data yang diekstraksi dalam tabel sintesis grid termasuk penulis, tahun, negara, tujuan, sampel, desain, durasi, hasil dan kesimpulan penelitian.
Hasil: Empat artikel teridentifikasi dalam tinjauan ini menunjukkan bahwa sebelum diberikan terapi REBT sebagian besar pasien tidak mampu mengontrol perilaku agresif ditandai dengan tingginya rerata skor risiko perilaku agresif baik kognitif, afektif, sosial maupun fisiologis, namun setelah terapi REBT sebagian besar pasien mampu mengontrol perilaku agresif ditandai dengan perubahan yang signifikan pada gejala risiko perilaku kekerasan yang dialami pasien.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil review empat artikel, disimpulkan bahwa pemberian REBT secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan pasien perilaku kekerasan dalam mengontrol perilaku agresif ditandai dengan perubahan respon kognitif, afektif, sosial dan fisiologis pada pasie
Analisis Terapi Bekam Sebagai Intervensi Masalah Keperawatan Nyeri Akut Pada Keluarga Dengan Tahap Perkembangan Lansia
Introduction: One of the problems that often occurs in families with the developmental stage of the elderly is degenerative diseases such as hypertension. Headache and heaviness in the neck are one of the symptoms of hypertension that make it uncomfortable and one of the non-pharmacological therapies to reduce pain is cupping.
Aims: To analyze cupping therapy as an intervention for acute pain nursing problems in families with the developmental stage of the elderly. The research method used is a descriptive method with a case study approach.
Results: This study indicates that the problem of acute pain is well resolved where there is a decrease in pain levels after cupping therapy is given. Before being given cupping therapy the pain scale was 4 (moderate) and after cupping therapy the pain scale was 1 (mild).
Conclusion: This study is that cupping therapy can reduce the scale of acute pain in the elderly through activated skin receptors, causing an increase in blood circulation and blood supply to the skin and internal organs through nerve connections.Latar belakang salah satu masalah yang sering terjadi pada keluarga dengan tahap perkembangan lansia adalah penyakit degeneratif seperti hipertensi. Nyeri kepala dan rasa berat ditengkuk merupakan salah satu gejala hipertensi yang membuat tidak nyaman dan salah satu terapi nonfarmakologi untuk menurunkan nyeri tersebut adalah dengan bekam.
Tujuan menganalisis terapi bekam sebagai intervensi masalah keperawatan nyeri akut pada keluarga dengan tahap perkembangan lansia.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus.
Hasil menunjukkan bahwa masalah nyeri akut teratasi dengan baik dimana ada penurunan tingkat nyeri setelah diberikan terapi bekam. Sebelum diberikan terapi bekam skala nyeri yang dirasakan yaitu 4 (sedang) dan setelah diberikan terapi bekam skala nyeri menjadi 1 (ringan).
Kesimpulan bahwa terapi bekam dapat menurunkan skala nyeri akut pada lansia melalui reseptor kulit yang diaktifkan sehingga menyebabkan peningkatan sirkulasi darah dan suplai darah ke kulit serta organ-organ internal melalui koneksi saraf
Meningkatkan Psikospritual Perawat dengan Pengukuran Assesment of Sprituality and Religious Sentiments (Aspires)
Introduction: Psychosprituals are the integrative energy nurses need to serve patients. An empathetic nurse is a nurse who can develop psycho-spirituality, which is a need that must be met.
Objective: To get a clear picture of nurses in psychospiritual aspects in several private hospitals in South Sulawesi. Method: This study is comparative analytical research with a cross-sectional multisite study approach.
Results: showed that the psychospiritual level of nurses at several private hospitals in Makassar city was good. ASPIRES is categorized as good if you get a score>70; the category is sufficient if you get a score of 35–70 and categorized as less if the value is <35.
Conclusion: There are significant psychospiritual differences in nurses based on demographic characteristics, namely gender, age, level of education, and length of service. It can be used as information material for hospitals to improve the quality of services by paying attention to psychospiritual aspects through programs offered by researchersPendahuluan: Psikospritual merupakan energi integratif yang perlu dimiliki perawat dalam melayani pasien. Perawat yang berempatik adalah perawat yang mampu mengembangkan psiko-spiritual yang saat ini menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Tujuan: Mengetahui gambaran yang jelas tentang perawat dari segi psikospiritual di beberapa rumah sakit swasta di Sulawesi Selatan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional multisite study.
Hasil: menunjukkan bahwa tingkat psikospiritual perawat pada beberapa RS Swasta di kota Makassar adalah baik. ASPIRES dikategorikan baik apabila mendapatkan nilai>70, kategori cukup jika mendapatkan nilai 35–70 dan dikategorikan kurang jika nilai<35.
Kesimpulan: Bahwa terdapat perbedaan psikospiritual yang signifikan pada perawat berdasarkan karakteristik demografi yaitu jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan masa kerja. Dapat dijadikan bahan informasi bagi rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan memperhatikan aspek psikospiritual melalui program-program yang ditawarkan oleh penelit
Efektivitas Pemberian Air Jahe Merah Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenorea Pada Remaja Putri
Introduction: Dysmenorrhea results from an excessive amount of prostaglandins. The chemical content of gingerol in red ginger can block prostaglandins to reduce pain at the time of menstruation.
Aims: To analyze the effectiveness of giving red ginger water in reducing the intensity of dysmenorrhea pain in young women.
Metode: Quantitative research method- pre-experiment design, One Group Pretest Posttest Design. The sample uses a non-probability sampling technique with a purposive sampling method. The instrument uses a Numeric Rating Scale (NRS) questionnaire. Meanwhile, data analysis used the Wilcoxon test with a confidence level of α = 0.05.
Results: Showed that there was effectiveness between red ginger water and dysmenorrhoea where p-value = 0.0001.
Conclusion: There is effectiveness between red ginger water and dysmenorrhoea. It is suggested that the findings of this study can be a solution to overcoming dysmenorrhoea by using a type of non-pharmacological therapy, namely the administration of red ginger water.Pendahuluan dismenorea diakibatkan karena jumlah prostaglandin yang berlebihan. Kandungan kimia gingerol dalam jahe merah mampu memblokir prostaglandin sehingga dapat menurunkan nyeri pada saat mentruasi.
Tujuan menganalisa efektivitas pemberian air jahe merah terhadap penurunan intensitas nyeri dismenorea pada remaja putri.
Metode penelitian kuantitatif- preexperiment design, One Group Pretest Posttest Design. Sampel menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Instrumen menggunakan kuesioner Numeric Rating Scale (NRS). Sedangkan analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan α = 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat efektivitas antara air jahe merah dengan dismenorea dimana p value = 0,0001.
Kesimpulan bahwa terdapat efektivitas antara air jahe merah dengan dismenorea. Disarankan temuan penelitian ini dapat menjadi solusi dalam mengatasi dismenorea dengan menggunakan jenis terapi non-farmakologi yaitu pemberian air jahe merah
Peran Serta Masyarakat dengan Angka Kejadian Diare
Introduction: Diarrhea is one of the most common causes of child morbidity and mortality, exacerbated by inadequate water, sanitation and hygiene services, and malnutrition, especially in developing countries.
Purpose: Knowing the participation of the community in the incidence of diarrhea.
Methods: Quantitative research design using an observational analytical approach with Cross-Sectional. The total sample of 69 people, the collection of in-depth interview data, observation, and document review, were analyzed univariately and bivariate with the help of SPSS version 21.
Results: This shows that the chi-square statistical test obtained a p-value = 0.000 < 0.05 for the role of society.
Conclusion: There is a relationship between the part of society with the incidence of diarrhea. Therefore, in conducting socialization and education or counseling about the incidence of diarrhea to the entire community by collaborating with health workers to increase the community's active role in health.Pendahuluan: Diare merupakan salah satu penyebab paling umum dari morbiditas dan mortalitas anak, diperburuk oleh air yang tidak memadai, layanan sanitasi dan kebersihan, dan kekurangan gizi, terutama di negara-negara berkembang.
Tujuan: Mengetahui peran serta masyarakat dengan angka kejadian diare.
Metode: Desain penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan analitik observasional dengan Cross Sectional. Jumlah sampel 69 orang, pengumpulan data wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, dianalisis univariat dan bivariat dengan bantuan SPSS versi 21.
Hasil: Menunjukan uji statistik chi-square diperoleh nilai p = 0,000 < 0,05 peran masyarakat.
Kesimpulan: Bahwa ada hubungan peran masyarakat dengan angka kejadian Diare. Oleh karena itu, dalam melakukan sosialisasi dan edukasi atau penyuluhan tentang kejadian Diare kepada seluruh masyarakat dengan bekerja sama dengan tenaga kesehatan sehingga bisa meningkatkan peran aktif masyarakat tentang kesehata
Pengaruh Latihan Kesimbangan dan Ankle Strategy Exercise Terhadap Risiko Jatuh Pada Lansia
Introduction: Elderly people who have health problems are said to be more vulnerable (frailty). One aspect that causes the elderly to experience vulnerability is the high risk of falling.
Aim: Determine the effect of balance training and Ankle Strategy Exercise on the risk of falls in the elderly.
Methods: Using comparative analytic research one group pretest-posttest design Population pre-elderly 50-60 years and elderly >60 years, sampling with a purposive sampling technique that met the inclusion criteria. Data collection with the Timed Up and Go Test (TUG) instrument.
Results: Showed that the value of p = 0.000 (p <0.05).
Conclusion: There is an effect of giving balance exercises and ASE on the risk of falling in the elderly.Pendahuluan: Lansia yang memiliki permasalahan kesehatan dikatakan lebih mengalami kerentanan (frailty). Salah satu aspek yang menyebabkan lansia mengalami kerentanan adalah risiko jatuh yang tinggi.
Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan keseimbangan dan Ankle Strategy Exercise terhadap risiko jatuh lansia.
Metode: Menggunakan analitik komparatif dengan desain penelitian one group pretest-posttest design Populasi pre lansia 50-60 tahun dan lansia >60 tahun, pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dengan instrumen Timed Up and Go Test (TUGT).
Hasil: Menunjukkan bahwa nilai p=0.000 (p<0,05).
Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian latihan keseimbangan dan ASE terhadap risiko jatuh lansia
Hubungan Self Efficacy dengan Self Management Pada Pasien Post Stroke
Introduction: Stroke is a circulatory disorder in the brain that occurs suddenly, which is characterized by loss of function from certain parts of the body so that it is disabled. Strokes that enter the rehabilitation phase to reduce disability cause body functions to increase so that they can carry out daily activities that are part of self-management. So that it will be able to self-efficacy well so that self-management in the rehabilitation phase can run.
Aims: To know the relationship between self-efficacy and self-management in post-stroke patients.
Method: This type of research is observational analytic with a cross-sectional study research design. Sampling using non-probability sampling techniques through accidental sampling amounted to 41 respondents. The instrument used is a questionnaire.
Results: Statistical trials showed that there was an association between self-efficacy with self-management in post-stroke patients.
Conclusion: That has implications for nurses the importance of increasing self-efficacy in stroke patients so that patients are motivated to heal and improve their quality of life and have an impact on good self-managementPendahuluan: Stroke merupakan gangguan peredaran darah di otak yang terjadi secara mendadak, yang ditandai dengan hilangnya fungsi dari bagian tubuh tertentu sehingga mengalami kecacatan. Stroke yang memasuki fase rehabilitasi untuk mengurangi kecacatan menyebabkan fungsi tubuh meningkat sehingga dapat melakukan aktivitas sehari-hari yang menjadi bagian dari selfmanagement. Sehingga akan dapat selfefficacy yang baik agar self management pada fase rehabilitasi dapat berjalan.
Tujuan: mengetahui hubungan antara self efficacy dengan self management pada pasien post stroke.
Metode:Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional study. Pengambilan sampel menggunakan teknik non-probability sampling melalui accidental sampling yang berjumlah 41 responden. Instrument yang digunakan adalah berupa kuesioner.
Hasil: uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan self efficacy dengan self management pada pasien post stroke.
Kesimpulan: Bahwa berimplikasi terhadap perawat pentingnya meningkatkan self efficacy pada pasien stroke sehingga pasien termotivasi untuk sembuh dan meningkatkan kualitas hidup serta berdampak pada self management yang bai