JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
    583 research outputs found

    Karakteristik COVID-19 Pada Anak

    Get PDF
    Introduction; COVID-19 is a new problem in the world of Health in all countries that have not been completely resolved until now. COVID-19 can infect anyone, including children. Objective; Assessing the incidence, transmission, symptoms, treatment, examination, classification, and management of COVID-19 in children. Method; Discuss the publication of 26 research articles on COVID-19 in children from various sources such as NCBI and Scholar from 2020-to 2022 and present them in relevant articles. Results; The incidence of COVID-19 in children is lower; clinical manifestations tend to be mild and asymptomatic than in adults. Transmission to children is mainly from the family. The classification of COVID-19 in children tends to be the same as in adults. Until now, no treatment for COVID-19 has been found, and only supportive therapy has been given. Conclusion; The incidence and clinical symptoms are milder than in adults, and children have a good prognosis.Pendahuluan; COVID-19 adalah permasalahan baru dunia Kesehatan di seluruh negara yang masih belum teratasi secara total hingga saat ini. COVID-19 dapat menginfeksi siapapun termasuk anak. Tujuan; Mengkaji terkait angka kejadian, penularan, gejala, pengobatan, pemeriksaan, klasifikasi dan tatalaksana COVID-19 pada anak. Metode; Membahas publikasi 26 artikel penelitian mengenai COVID-19 pada anak dari berbagai sumber seperti NCBI, Schoolar sejak 2020-2022 dan menyajikannya dalam bentuk artikel yang relevan. Hasil; Kejadian COVID-19 pada anak memiliki angka yang lebih rendah, manifestasi klinik yang cenderung ringan dan tanpa gejala disbanding orang dewasa. Penularan pada anak utamanya dari keluarga. Klasifikasi COVID-19 pada anak cenderung sama dengan orang dewasa. Hingga kini pengobatan COVID-19 belum ditemukan dan hanya diberikan terapi suportif. Kesimpulan; Angka kejadian dan gejala klinis lebih ringan dibandingkan orang dewasa serta pada anak memiliki prognosis yang bai

    Efektivitas Senam Dismenore dan Musik Klasik Terhadap Penurunan Dismenore Pada Remaja

    No full text
    Background: Dysmenorrhea is pain or cramps in the lower abdomen during menstruation. The impact of dysmenorrhea that occurs in adolescents can interfere with daily activities. Efforts to overcome dysmenorrhea can be made pharmacologically and non-pharmacologically. Providing dysmenorrhea exercise therapy and Mozart classical music can help reduce pain non-pharmacologically. Objective: This study analyzed the effectiveness of dysmenorrhea exercise and classical music in reducing dysmenorrhea in adolescents. Method: quasi-experiment with two groups pretest-posttest design. Using purposive sampling, the number of samples was 92 people, which were divided into 46 dysmenorrheal gymnastics teenagers and 46 classical music teenagers. Data analysis using Wilcoxon and Mann-Whitney. Results: Wilcoxon test obtained an average before and after dysmenorrhea exercise -a value of 0.000 <0.05, and classical music -a value of 0.000 <0.05. based on the Mann-Whitney test, it was found that the average after being given dysmenorrhea exercise and classical music showed a -value (0.313 > 0.05), meaning that there was no significant difference in the decrease in dysmenorrhea between gymnastics and classical music after being given treatment to adolescent girls. Conclusion: Dysmenorrhea gymnastics and classical music are equally effective in reducing dysmenorrhea.Latar belakang: dismenore merupakan nyeri atau kram perut bagian bawah pada saat menstruasi. Dampak dismenore yang terjadi pada remaja yaitu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Upaya untuk mengatasi dismenore dapat dilakukan secara farmakologi dan non-farmakologi. Memberikan terapi senam dismenore dan musik klasik mozart dapat membantu mengurangi nyeri secara non farmakologi. Tujuan: penelitian menganalisis efektivitas senam dismenore dan music klasik terhadap penurunan dismenore pada remaja. Metode: quasy eksperimen dengan rancangan two group pretest-posttest. menggunakan purposive sampling, jumlah sampel 92 orang yang terbagi menjadi 46 remaja senam dismenore dan 46 remaja musik klasik. analisis data menggunakan wilcoxon dan mann-whitney. Hasil: uji wilcoxon didapatkan rata-rata sebelum dan sesudah diberikan senam dismenore Ï-value 0.000 <0.05, dan musik klasik Ï-value 0.000 <0.05. berdasarkan uji mann-whitney didapatkan rata-rata sesudah diberikan senam dismenore dan musik klasik menunjukkan Ï-value (0.313 >0.05) artinya tidak terdapat perbedaan penurunan dismenore yang signifikan antara senam dan musik klasik sesudah diberikan perlakukan pada remaja putri. Kesimpulan: senam dismenore dan musik klasik sama-sama efektif menurunkan dismenore

    Tingkat Pengetahuan Terhadap Ibu Hamil Resiko Tinggi Melalui Kompetensi Soft Skill dan Kinerja Petugas Kesehatan

    Get PDF
    Introduction: Building health is a way to increase awareness, willingness, and ability to live a healthy life for everyone so that an optimal level of public health can be achieved. Objective: Knowing the influence of knowledge levels on high-risk pregnant women through soft skill competence and the performance of health workers. Method: Quantitative research conducted. The study population was the entire pregnant woman. The sampling technique is simple random sampling with the slovin formula so that the sample of this study is 126 people. Data collection techniques involve observation, questionnaires, interviews, and documentation, while data analysis techniques use path analysis. Results: Show that high-risk pregnancies can be handled with better knowledge, soft skill competence, and health workers' performance. The story of knowledge is a variable that has a dominant influence on high-risk pregnancies, which is indicated by the high advocacy and empowerment carried out by health workers in supporting the quality of pregnancy. Conclusion: High-risk pregnancies can be handled with better knowledge, soft skill competence, and health workers' performance. However, the competence of soft skills and the implementation of health workers contribute to improving pregnancy qualityPendahuluan: membangunan kesehatan merupakan cara untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang sehingga tingkat kesehatan masyarakat yang optimal dapat tercapai. Tujuan: mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan terhadap ibu hamil resiko tinggi melalui kompetensi soft skill dan kinerja petugas kesehatan. Metode: Penelitian kuantitatif yang dilaksanakan. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil. Tehnik sampling adalah simple random sampling dengan rumus slovin sehingga sampel penelitian ini adalah 126 orang. Teknik pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan path analysis. Hasil: menunjukkan bahwa kehamilan resiko tinggi dapat ditangani dengan semakin baiknya tingkat pengetahuan, kompetensi soft skill dan juga kinerja tenaga kesehatan. Tingkat pengetahuan merupakan variabel yang memiliki pengaruh dominan terhadap kehamilan resiko tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya advokasi dan pemberdayaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam mendukung kualitas kehamilan. Kesimpulan: bahwa kehamilan resiko tinggi dapat ditangani dengan semakin baiknya tingkat pengetahuan, kompetensi soft skill dan juga kinerja tenaga kesehatan. Meskipun demikian kompetensi soft skill dan juga kinerja tenaga kesehatan memberikan kontribusi yang baik dalam meningkatkan kualitas kehamila

    Gejala Depresi pada Lanjut Usia di Masa Pandemi Covid-19

    Get PDF
    Introduction: Corona Virus Diseases (Covid-19) 's impact on older adults leads to physical health problems and can affect psychological issues such as depressive symptoms. This study aims: To determine the prevalence of depressive symptoms in older adults and the related factors that influence depressive symptoms. Methods: This study uses a literature review approach based on data sources from Google scholar, PubMed, and ProQuest.Then, 17,323 articles were filtered based on inclusion criteria, and 14 were included in this study. Results: The prevalence of depressive symptoms ranged from 7.7% to 62.3%. The older adults at risk of having symptoms of depression are the older adults in older age groups ≥ 75 old age, living alone, loneliness, lack of social contact with family and friends, and older adults with comorbidities or illnesses. The prevalence of depressive symptoms among older adults with comorbidities was 61%. Conclusion: The results of this literature study can be used as a basis for providing interventions to older adults at risk of having symptoms of depression so that older adults can achieve physical and psychological well-being.Pendahuluan: Dampak Corona Virus Diseases (Covid-19) pada lansia tidak hanya mengarah pada masalah kesehatan fisik namun juga masalah psikologis yang dapat menyebabkan lansia memiliki gejala depresi. Tujuan: mengetahui prevalensi gejala depresi lansia serta faktor yang mempengaruhi tanda dan gejala depresi lansia di masa pandemi Covid-19. Metode: Tinjauan ini menggunakan pendekatan literature review yang menggunakan sumber data dari Google scholar, PubMed dan ProQuest. Kemudian ditemukan hasil penelusuran artikel sebanyak 17,323 yang kemudian dilakukan penyaringan berdasarkan kriteria inklusi, 14 artikel yang ditelaah dalam penelitian ini. Hasil: Rentang prevalensi pada lansia diperoleh hasil dengan rentang 7.7 % - 62.3%. lansia yang beresiko memiliki gejala depresi adalah lansia dengan kelompok usia lebih tua ≥ 75 tahun, lansia yang tinggal sendiri, merasa kesepian, kurangnya kontak sosial baik dengan keluarga dan teman, serta lansia yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas. Prevalensi lansia yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas adalah sebanyak 61%. Kesimpulan: Berdasarkan hasil studi literatur ini dapat menjadi dasar dalam pemberian intervensi pada lansia yang beresiko memiliki gejala depresi, sehingga lansia dapat mencapai kesejahteraan fisik serta psikologis yang diharapka

    Personal Hygiene dengan Kejadian Demam Tifoid

    Get PDF
    Introduction: Typhoid fever is closely related to personal hygiene, food hygiene, a slum environment, poor cleanliness of public places, and people's behavior that does not support healthy living. Objective: To determine the relationship between personal hygiene and the incidence of typhoid fever. Methods: The research design was descriptive-analytical, with a total sample of 20 people. Results: The statistical test showed that the personal hygiene p-value: was 0.001, the washing p-value: was 0.010, and the level of public knowledge (was 0.001). Conclusion: There is a relationship between personal hygiene, washing, and public knowledge level with typhoid fever incidence. Therefore, health workers can do prevention and control typhoid fever in the community.Pendahuluan: Demam typoid erat kaitannya dengan higiene perorangan, higiene makanan, lingkungan yang kumuh, kebersihan tempat umum yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Tujuan: Mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian demam tifoid. Metode: Desaib penelitian ini peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif analitik dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang. Hasil: Uji statistic menunjukkan bahwa kebersihan diri p-value: 0,001, mencuci nilai p-Value: 0,010 dan tingkat pengetahuan masyarakat (0,001). Kesimpualan: Bahwa terdapat hubungan kebersihan diri, mencuci dan tingkat pengetahuan masyarakat dengan kejadian demam tifoid. Oleh karena itu, bagi petugas kesehatan dapat melakukan pencegahan dan penanggulangan penyakit demam tifoid di masyarakat

    Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur Mahasiswa

    No full text
    Introduction: Sleep is one of the physiological needs of humans that function for the recovery process of the body. College students are one of the populations with a high prevalence of sleep problems. Aims: knowing the influence of progressive muscle relaxation techniques on students' sleep quality. Method: This research is a type of quasi-experiment with pretest and posttest with a control group design. The sampling technique is stratified proportional random sampling involving 64 respondents divided into 2 groups: the intervention group (conducting progressive muscle relaxation for 4 days) and the control group (performing standard intervention: listening to musical instruments) with 32 respondents each. Sleep quality is measured by the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The significance level in the study was 95% (p<0.05). Results: Showed significant differences in sleep quality before and after progressive muscle relaxation (p= 0.000). Showed no significant difference between the sleep quality of the intervention group and the control group after the post-test (p= 0.048). Conclusion: That there is an influence of progressive muscle relaxation techniques on the sleep quality of students. Progressive muscle relaxation can activate the parasympathetic nerve to stimulate the hypothalamus to produce serotonin which can cause sleepPendahuluan: tidur adalah salah satu kebutuhan fisiologis manusia yang berfungsi untuk proses pemulihan tubuh. Mahasiswa adalah salah satu populasi dengan prevalensi tinggi masalah tidur. Tujuan: mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur mahasiswa. Metode: penelitian ini merupakan jenis penelitian quasy experiment dengan pretest dan posttest with control group design.Teknik pengambilan sampel adalah stratified proportional random sampling yang melibatkan 64 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok : kelompok intervensi (melakukan relaksasi otot progresif selama 4 hari) dan kelompok kontrol (melakukan intervensi standar : mendengarkan instrumen musik) dengan masing- masing 32 responden. Kualitas tidur diukur dengan Pitsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Tingkat signifikansi dalam penelitian ini adalah 95% (p<0,05). Hasil; menunjukkan perbedaan signifikan kualitas tidur sebelum dan sesudah relaksasi otot progresif (p= 0,000). Menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kualitas tidur kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah posttest (p= 0,048). Kesimpulan; bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur mahasiswa. Relaksasi otot progresif dapat mengaktifkan saraf parasimpatik untuk merangsang hipotalamus memproduksi serotonin yang dapat menimbulkan tidu

    Stunting dan Indeks Massa Tubuh Anak Usia 0-5 Tahun

    Get PDF
    Introduction: Indonesia is one of the countries in Asia with the percentage of short toddlers besides Myanmar and Vietnam. Although Malaysia, Thailand, and Singapore have stunting cases, the stunting prevalence is less than 20 percent. Objective: To determine the prevalence of stunting and malnutrition in the work area of the Rumah Tiga Health Center. Methods: This study used a cross-sectional design with a total sample of 954 children under five. Result: the prevalence of stunting in children under five is 17.9 percent. The Body Mass Index of toddlers with a below-normal category is 4.82 percent. Conclusion: Toddlers who experience stunting occur at the age of 1-3 years and are dominated by males. Toddlers who have a body mass index below normal are also at the age of 1-3 years and are male.Pendahuluan : Indonesia menjadi salah satu Negara di Asia dengan persentase balita pendek selain Myanmar dan Vietnam. Malaysia, Thailand dan Singapura meskipun memiliki kasus stunting namun prevalensi stuntingnya kurang dari 20 persen. Tujuan : mengetahui prevalensi stunting dan kurang gizi di Wilayah Kerja Puskesmas Rumah Tiga. Metode : penelitian menggunakan desain cross sectional dengan sampelnya berjumlah 954 balita secara total sampling. Hasil : prevalensi stunting pada balita sebesar 17,9 persen. Indeks Massa Tubuh balita dengan kategori di bawah normal yaitu 4,82 persen. Simpulan : Balita yang mengalami stunting terjadi pada usia 1-3 tahun dan didominasi oleh laki-laki. Balita yang memiliki indeks massa tubuh dibawah normal juga berada pada usia 1-3 tahun dengan jenis kelamin laki-laki

    Efektivitas Terapi Audio Visual (Film Kartun) Terhadap Kecemasan Pada Anak Usia Prasekolah

    No full text
    Introduction: Anxiety is a subjective experience of feeling uncomfortable that arises from unspecified causes. Pharmacological therapy to reduce anxiety is the administration of anti-anxiety drugs (alprazolam triazole benzodiazepine) 0.5 mg 3 times a day. One of the distraction techniques that can be used to reduce anxiety in children undergoing surgery is the use of audio-visual therapy (cartoon films). Objective: The purpose of this study was to determine the effectiveness of audio-visual therapy (cartoon films) on anxiety in preschoolers. Method: This study explores quantitative evidence published in electronic databases such as Pubmed, and google scholar. By using a journal search strategy, the final results are 3 articles which are the main references in the preparation of this research. Results: From the three articles reviewed, it can be seen a significant effect in reducing anxiety levels in preschool children after audio-visual therapy intervention. Conclusion: That audio-visual therapy (cartoon films) is effective in reducing anxiety levels in children aged 3-6 yearsLatar Belakang : Kecemasana dalah pengalaman subyektif berupa perasaan tidak nyaman yang muncul dari penyebab yang tidak spesifik. Terapi farmakologis untuk menurunkan kecemasan yaitu pemberian obat anti kecemasan golongan (alprazolam triazolobenzodiazepine) 0,5 mg 3 kali dalam sehari. Salah satu tehnik distraksi yang bias digunakan untuk menurunkan kecemasan pada anak yang menjalani tindakan keperawatan yaitu penggunaan terapi audio visual (film kartun). Tujuan: dari penelitian (literatur review) ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi audio visual (film kartun) terhadap kecemasan pada anak usia prasekolah. Metode: Penelitian ini mengeksplorasi bukti kuantitatif yang diterbitkan dalam database elektronik seperti pubmed, dan google schoolar. Dengan menggunakan strategi pencarian jurnal, hasil akhir ada 3 artikel yang menjadi referensi utama dalam penyusunan penelitian ini. Hasil: Dari ketiga artikel yang direview dapat dilihat efek yang signifikan dalam penurunan tingkat kecemasan pada anak prasekolah setelah diberikan intervensi terapi audio visual. Kesimpulan: Bahwa terapi audio visual (film kartun) efektif untuk mengurangi tingkat kecemasan pada anak usia 3-6 tahun

    Pengaruh Promosi Kesehatan Menstrual Hygiene Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Menstruasi Awal

    Get PDF
    Introduction personal hygiene behavior during menstruation is a very important thing to do in ensuring the health of the organs of adolescent girls both physically and mentally. Aim to know the effect of menstrual hygiene health promotion on the knowledge and attitude of early menstrual adolescents. Method Quantitative research uses Pre-Experiments with the design of one group Pretest-posttest design, with purposive sampling with the Wilcoxon Test. Results the findings of the study showed the knowledge and attitudes of adolescent girls after being given health promotion increased and had a good impact on adolescents about menstrual hygiene. Conclusions that there is an effect of menstrual hygiene health promotion on the knowledge and attitude of early menstrual adolescents.Pendahuluan: perilaku personal hygiene ketika haid/menstruasi merupakan suatu hal yang sangatlah berperan penting dilakukan dalam memastikan kesehatan organ-organ remaja putri baik secara fisik maupun mental. Tujuan: mengetahui pengaruh promosi kesehatan menstrual hygiene terhadap pengetahuan dan sikap remaja menstruasi awal. Metode: penelitian kuantitatif menggunakan Pre-Eksperimen dengan rancangan one group Pretest-posttest design, dengan pengambilan sampel Purposive Sampling dengan Uji Wilcoxon. Hasil: temuan penelitian menunjukkan pengetahuan dan sikap remaja putri setelah diberikan promosi kesehatan terjadi peningkatan dan memberikan dampak yang baik bagi remaja tentang menstruai hygiene. Kesimpulan; bahwa terdapat pengaruh promosi kesehatan menstrual hygiene terhadap pengetahuan dan sikap remaja menstruasi awal

    ASI Eksklusif Sebagai Faktor Protektif Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita 24-59 Bulan

    No full text
    Introduction: Stunting is a nutritional problem that, until now, has been a concern and an issue that has not been able to be resolved. Exclusive breastfeeding is predicted to minimize the risk of stunting because exclusive breastfeeding contains immune components, antibodies and calcium, and nutrients needed by babies. Objective: To analyze the effect of exclusive breastfeeding on the incidence of stunting in children aged 24-59 months. Method: A literature review using PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) for data extraction. The databases used include Google Scholar, Science direct, and Pubmed. And Sage Journals using the keywords (“Exclusive Breastfeeding†OR Breastfeeding OR “Breastfedâ€) AND (Stunting OR “Growth Disorder†OR “Stunted Growthâ€) AND Toddler. Results: Extraction obtained 16 articles were analyzed. Conclusion: Exclusive breastfeeding for toddlers 24-59 months can be a protective factor against stunting, while non-exclusive breastfeeding can be a risk factor for toddlers experiencing stuntingPendahuluan: Stunting merupakan suatu permasalahan gizi yang sampai waktu ini tengah menjadi atensi dan persoalan yang belum mampu teratasi. Asupan ASI eksklusif diprediksi mampu meminimalkan risiko stunting karena dalam ASI eksklusif terkandung komponen imun antibodi dan kalsium serta nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi. Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan. Metode: Literatur review dengan menggunakan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) untuk ekstraksi data. Database yang digunakan meliputi Google Scholar, Science direct, Pubmed. Dan Sage Journals dengan menggunakan kata kunci (“Exclusive Breastfeeding†OR Breastfeeding OR “Breast fedâ€) AND (Stunting OR “Growth Disorder†OR “Stunted Growthâ€) AND Toddler. Hasil: Eksktraksi diperoleh 16 artikel yang dianalisis. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif pada balita 24-59 bulan dapat menjadi faktor protektif terhadap stunting sedangkan pemberian ASI non eksklusif dapat menjadi faktor risiko balita mengalami stunting

    435

    full texts

    583

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇