Journals Politeknik Negeri Sambas (Journal Poltesa)
Not a member yet
    387 research outputs found

    Analisis Kadar Air dan Daya Terima Panelis Cemilan Stick dengan Variasi Penambahan Ikan Teri Nasi (Stolephorus commersonii) yang Berbeda

    Get PDF
    Cemilan stick pada dasarnya memiliki kandungan protein dan karbohidrat yang berasal dari bahan-bahan dasarnya yaitu tepung terigu dan telur, namun memiliki sedikit kandungan kalsium didalamnya. Ikan teri nasi (Stolephorus commersonii) juga merupakan salah satu ikan yang mulai dari kepala, daging sampai tulangnya dapat langsung dikonsumsi sehingga dapat menjadi penyumbang kalsium yang baik untuk tubuh manusia. Cemilan stick dapat memberi sumbangan gizi yang baik apabila terdapat karbohidrat, protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ikan teri nasi (Stolephorus commersonii) terhadap kadar air dan uji sensori dari cemilan stick.  Sedangkan manfaat dari penelitian yaitu dapat menambah wawasan pembaca dan sebagai bahan informasi dan pengembangan bagi penelitian berikutnya, serta agar masyarakat dapat mengetahui pengolahan ataupun  pembuatan stick dengan bahan tambahan ikan teri nasi (Stolephorus commersonii). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pada uji sensori dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada uji kadar air. Perlakuan yang akan dilakukan adalah penambahan ikan teri nasi segar yang terdiri atas lima perlakuan dan masing-masing 0 gram, 125 gram, 130 gram, 135 gram dan 140 gram. Konsentrasi perlakuan ikan teri nasi segar diulang sebanyak 4 kali untuk uji kadar air dan uji kalsium. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan ikan teri nasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap sensori stick. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan P5 dengan penambahan ikan teri nasi sebanyak 140 gram, dimana kadar air yang dihasilkan masih sesuai SNI yaitu < 4%, sedangkan untuk analisis sensori perlakuan P5 memiliki aroma, rasa dan tekstur yang disukai panelis.   Kata Kunci: Stick, Ikan Teri Nasi, Kadar Air &nbsp

    PENGEMBANGAN SISTEM SANGRAI KOPI UNTUK KELOMPOK PONDOK KOPI DI DESA SULUNG

    Get PDF
    Perkebunan kopi di Indonesia sebagian besar adalah perkebunan rakyat yang dikelola secara tradisional menggunakan teknologi sederhana. Permasalahan secara umum yang dihadapi petani kopi saat ini adalah modal, kualitas kopi dan pemenuhan kebutuhan pasar. Mitra dalam kegiatan pengabdian ini adalah kelompok Pondok Kopi Desa Sulung Kecamatan Sejangkung Kabupaten Sambas. Kelompok ini didirikan pada tanggal 16 November 2019, terdiri dari 10 orang anggota dan diketuai oleh ibu Norensi. Permasalah utama yang dihadapi mitra terdapat pada proses sangrai biji kopi. Proses sangrai dilakukan secara manual menggunakan wajan dan hasil sangrai biji kopi tidak seragam. Solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan menerapkan teknologi sangrai biji kopi. Tahapan kegiatan yang akan dilakukan adalah melakukan analisis proses sangrai, pembuatan mesin sangrai biji kopi, uji fungsional mesin sangrai biji kopi, pelatihan pengoperasian dan perawatan mesin sangrai biji kopi, pendampingan terhadap mitra, penyerahan mesin sangrai, dan evaluasi kegiatan. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pembuatan mesin sangrai kopi, pembuatan sistem kontrol suhu dan pengujian mesin sangrai kopi. Berdasarkan hasil pengujian, mesin sangrai kopi yang telah dibuat dapat bekerja dengan baik melakukan proses penyangraian dan kontrol suhu pada mesin dapat bekerja dengan lancar. Pada kegaitan pelatihan pengoperasian dan perawatan mesin sangrai biji kopi, mitra diajarkan tentang : a. Melakukan penyetingan suhu mesin sangrai kopi, b. Mengatur nyala api penyangraian, c. Mengecek kondisi sampel biji kopi yang disangrai, d. Mengeluarkan biji kopi yang disangrai dari drum penyangrai, e. Pengamanan yang harus dilakukan jika mesin mengalami kendala, f. Perawatan rutin dan sederhana yang biasa dilakukan pada mesin sangrai

    Analisis Kimia Dan Organoleptik Bubuk Penyedap Rasa Berbasis Limbah Udang Sebagai Alternatif Penyedap Alami

    No full text
    Limbah udang merupakan hasil samping yang dibuang begitu saja tanpa termanfaatkan, sehingga dapat memicu timbulnya aroma tidak sedap bagi lingkungan akibat terjadinya pembusukan. Dampak bagi lingkungan adalah mengundang bibit penyakit. Udang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi termasuk kulitnya. Selain kandungan protein yang masih terkandung didalamnya, limbah udang juga berpotensi menjadi flavor karena memiliki komponen asam glutamat. Pemanfaatan limbah udang menjadi produk seperti penyedap rasa akan menambah nilai ekonomi. Selain menjadi penyedap rasa alami berprotein, produk juga diharapkan dapat menjadi altenatif mengurangi penggunaan penyedap sintetik MSG (Monosodium glutamate). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air, kadar protein dan organoleptik penyedap rasa alami berbasis limbah udang dengan variasi lama waktu penyangraian. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor perlakuan meliputi lama waktu penyangraian 20 menit, 30 menit, 40 menit, 50 menit dan 60 menit sebanyak 3 kali ulangan. Hasil penelitian menujukkan kadar air terendah dan memenuhi SNI adalah pada PT4 sebsar 3,4%, PT5 sebesar 3,5% dan PT3 sebesar 3,6%. Kadar protein tertinggi adalah pada PT3 sebesar 2%. Penyedap rasa terbaik berdasarkan penilaian panelis adalah pada perlakuan PT4 dengan skor 3,8 (suka) berwarna coklat, tekstur yang halus serta aroma dan rasa produk sangat kuat sehingga disukai panelis

    Pembuatan Mesin Pengayak Cocopeat Tipe Rotari Horizontal

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan membuat mesin pengayak serat sabut kelapa, menjelaskan prinsip kerjanya dan menentukan kapasitas mesin. Mesin pengayak serat sabut kelapa hasil penelitian ini menggunakan sistem rotary horisontal model segi enam kerucut. Cara kerja berputar otomatis yang sangat membantu proses ayak serat sabut kelapa sehingga lebih cepat dan menghemat waktu. Permintaan serat sabut kelapa yang cukup tinggi membuat mesin pengayak horisontal model segi enam kerucut efektif untuk pelaku industri kapasitas kecil sampai besar. Mesin pengayak cocopeat horisontal sistem rotary memiliki waktu relatif singkat dan hasil yang lebih banyak dibandingkan dengan mesin pengayak pengayak konvensional. Dari proses pembuatan mesin didapatkan hasil spesifikasi mesin berupa dimensi pengayak berbentuk segi enam, diameter hoper input 25 cm, diameter hoper output 38 cm, panjang body (tabung) 80,6 cm, menggunakan motor listrik yang berdaya 0,5 H

    Pembuatan dan Uji Kinerja Mesin Perajang Singkong dengan Mata Pisau dari Cakram Sepeda Motor

    Get PDF
    Telah dilakukan uji kinerja mesin perajang singkong dengan mata pisau dari cakram sepeda motor. Uji kinerja dilakukan dengan memvariasikan jumlah mata pisau dan kecepatan putaran mesin. Jumlah mata pisau yang digunakan berjumlah 2,3,4 mata pisau dan kecepatan putaran mesin 303,2 rpm, 664,9 rpm, 765,5 rpm, sehingga menghasilkan 9 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah mata pisau dan kecepatan putaran mesin terhadap hasil perajangan singkong. Hasil perajangan yang tidak rusak adalah pada kombinasi perlakuan dengan jumlah mata pisau 3 dan kecepatan putaran mesin 664,9 rpm, dengan hasil perajangan singkong yang tidak rusak sebanyak 123,3 g. Hasil perajangan terendah pada kombinasi perlakuan dengan jumlah mata pisau 4 dan kecepatan putaran mesin 765,5 rpm dengan hasil perajangan singkong yang tidak rusak sebanyak 34,3 g

    The SEGMENTASI KONSUMEN DARI SEGI VARIABEL DEMOGRAFIS DAN VARIABEL PSIKOGRAFIS DI RUMAH KOPI SEKUNTUM

    No full text
    Objek penelitian ini adalah Rumah Kopi Sekuntum kabupaten Sambas, objek yang akan diukur adalah demografi dan psikografi. Adapun hasil yang didapat dari penelitian yang bertujuan untuk mengetahui segmentasi konsumen dari segi variabel demografis dan variabel psikografis di rumah kopi sekuntum. Pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling yaitu yaitu Rumah Kopi Sekuntum yang ditemui secara kebetulan pada penelitian yang membeli atau pernah membeli kopi dari 100 responden. Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang segmentasi konsumen rumah kopi sekuntum, responden yang dipilih yaitu konsumen yang berkunjung ke rumah kopi sekuntum Kecamatan Sambas.  Sebagian besar yang dominan berkunjung ke rumah kopi sekuntum adalah laki laki jumlah konsumen 85 orang dengan presentase 85% dan konsumen perempuan hanya 15 orang dengan presentase 15%. Hal ini menunjukan kebiasan laki laki minum kopi sebelum atau sesudah bekerja sambil mengisi waktu luang dan bersantai. Sedangkan perempuan jarang minum kopi diluar dan hanya menikmati kopi dirumah atau waktu acara – acara tertentu. Hasil penelitian ini sama dengan Ni Ketut Lasmini mengenai jenis kelamin konsumen kopi yang dilaksanakan di perusahaan Kopi Bubuk Bali Banyuatis yang berlokasi dijalan Ahmad Yani, Singraja, Kabupaten Buleleng. Berdasarkan usia, konsumen rumah kopi sekuntum didominasi oleh kelompok usia remaja 12 – 25 tahun jumlah konsumen 60 orang dengan pesentase 60%. Konsumen rumah kopi sekuntum didominasi oleh konsumen berprofesi sebagai pelajar/mahasiswa dengan jumlah 35 orang dan perentase 35% .&nbsp

    DESAIN ILLUSTRASI DIGITAL MOTIF KAIN TENUN LUNGGI KABUPATEN SAMBAS MENGGUNAKAN TEKNIK GAMBAR

    Get PDF
    Kain Tenun Lunggi adalah kain tenun songket merupakan kain khas Sambas  yang menjadi icon masyarakat Sambas. Kabupaten Sambas merupakan daerah berbusana melayu dengan kain tenun songket sebagai ciri khas kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat , pemerintahan dan kegiatan adat istiadat sehingga permintaan akan produk tenun lunggi sangat meningkat.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif  dengan lokasi  penelitian Desa Semberang Kecamatan Sambas sebagai pusat tenun  di Kabupaten Sambas, untuk teknik pengambilan data penulis melakukan observasi, studi literatur , dan wawancara.  Hasil analisis kendala yang dihadapi oleh pengrajin adalah pembuatan motif bersifat konvensional menggambar pola dikertas menggunakan pensil , sehingga permintaan berkurang karena produk sulit dipreview dimana hasil produk belum terlihat, kemungkinan kesalahan pembuatan motif dan kombinasi pewarnaan bisa terjadi. Untuk   mengatasi   permasalahan     penulis memberikan   solusi   membuat   media   desain grafis    yang   dikembangkan berupa  desain motif illustrasi digital. Tujuan dari penelitian adalah pembuatan desain motif tenun lunggi Sambas menggunakan illustrasi digital dengan Teknik pixel art. Ciri khas gambar pixel art adalah gambar digital yang memiliki motif mozaik atau kotak-kotak pixel. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan memanfaatkan komputerisasi desain grafis pembuatan desain motif tenun songket Sambas menggunakan illustrasi digital dapat dilakukan , konsumen dapat melihat preview motif dan warna yang diterapkan pada struktur kain sebelum kain diproduksi sehingga mempermudah koreksian terkait dengan warna motif kurang besar ,garis kurang lengkung, warna tidak sesuai motif.  Dengan desain melalui ilustrasi digital komputer kesalahan produksi bisa diatasi, menghemat waktu dan biaya  serta sebagai media priview sebelum produk diproduksi

    SALURAN PEMASARAN GAMBAS (Luffa acutangula L.) DI DESA SUNGAI PALAH KECAMATAN GALING KABUPATEN SAMBAS

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran gambas, biaya, keuntungan, marjin dan farmer’s share pada saluran pemasaran Gambas di Desa Sungai Palah, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 saluran pemasaran, Pemasaran 0 keuntungan Rp 6.000/Kg, serta farmer’s share yang diterima produsen100%. Biaya pemasaran pada saluran I sebesar Rp 1.200/Kg dengan keuntungan Rp 3.800/Kg, marjin Rp 5.000/Kg serta farmer’s share 54,55%, dan efisiensinya sebesar 10,9%. Sedangkan biaya pemasaran pada saluran II sebesar Rp 1.667/Kg dengan keuntungan Rp 3.333/Kg, marjin Rp 5.000/Kg serta  farmer’s share 54,55%, dan efisiensinya sebesar 15,15%

    Microcontroller Based Bird Pest Repellant Modifications Using A Pir Sensor

    No full text
    Hama yaitu seluruh hewan yang merugikan pertanian dan organisme pengganggu tanaman yang merusak secara fisik, contohnya seperti burung. Hama burung bisa memakan padi hingga rata-rata sejumlah 5 g perhari. Penelitian ini bertujuan untuk memoifikasi dan mengetahui kinerja alat pengusir hama burung berbasis mikrokontroler menggunakan sensor pir (passive infra red). Pembuatan alat ini meliuti beberapa tahaan yaitu studi pustaka, identifikasi sistem, merancang alat dan sistem kontrol, pengujian fungsional, pengujian lapangan dan analisis data. Mikrokontroler arduino uno sebagai pengendali alat, akumulator sebagai sumber daya, sensor PIR sebagai sensor pendeteksi serta motor servo sebagai penggerak. Berdasarkan hasil pengujian jarak deteksi alat diketahui bahwa jarak rata-rata jangkauan sensor hanya 4 m. Ini dikarenakan sebab penggunaan sensor kadangkala kurang dapat mendeteksi keberadaan burung yang jumlahnya 1 ekor dan area lahan memiliki cakupan yang luas

    Pengaplikasian Serbuk Kayu Secang (caesalpinia sappan. L) dan Suhu Penyimpanan pada Kecap Kelapa Borneo

    Get PDF
    Kecap Kelapa Borneo adalah produk kecap manis yang berasal dari pemasakan air kelapa yang ditambahkan gula merah dan rempah-rempah. Proses pembuatannya tanpa menambahkan bahan pengawet menyebabkan Kecap Kelapa Borneo memiliki umur simpan yang relatif singkat jika disimpan pada suhu ruang. Kayu secang dapat ditambahkan pada bahan pangan berfungsi sebagai pengawet alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk kayu secang dan suhu penyimpanan terhadap umur simpan,  mutu fisik, mikrobiologis dan kimia Kecap Kelapa Borneo. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu penambahan serbuk kayu secang  KS1 = 2,34 gram,  KS2 = 3,9 gram dan KS3 = 5,46 gram. Faktor kedua yaitu P1 = penyimpanan pada suhu ruang 24 – 35˚C dan P2 = penyimpanan pada suhu dingin 10 – 15˚C. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan  KS1P1, KS2P1 dan KS3P1 (penyimpanan suhu ruang 24 – 35˚C) dan KS1P2, KS2P2 dan KS3P2  (penyimpanan pada suhu dingin 10 – 15˚C) pada hari ke-1 sampai hari ke-35 secara sensori masih dalam kondisi baik. Kondisi ini ditandai dengan aroma harum khas gula merah dan rempah-rempah masih tercium kuat. Warna yang dihasilkan masih berwarna hitam kecoklatan, namun perlakuan yang disimpan pada suhu ruang memiliki tekstur lebih encer sedangkan pada penyimpanan suhu dingin memiliki tekstur lebih kental. Hasil uji mikrobiologi baik perlakuan yang disimpan pada suhu ruang maupun suhu dingin dinyatakan negatif mengandung cemaran bakteri coliform. Perlakuan KS3P2 menghasilkan nilai viskositas tertinggi yaitu  28,12 dpas dan kandungan protein tertinggi yaitu sebesar dan 24,76%

    362

    full texts

    387

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals Politeknik Negeri Sambas (Journal Poltesa)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇