Jurnal Elektronik Wacana Etnik
Not a member yet
123 research outputs found
Sort by
BATAGAK URANG TUO NAGARI DI BALAI BARU KECAMATAN KURANJI KOTA PADANG
This article describes the implementation of the Batagak Urang Tuo Nagari ceremony. Batagak Urang Tuo Nagari is one of the most important ceremonies in the traditional order in the Balai Baru because traditional communities are beginning to be aware of the importance of the role of Urang Tuo Nagari in society and in other areas of Minangkabau.In Batagak Urang Tuo Nagari the ninik mamak, bundo kanduang, cadiak pandai, and anak kemenakan still retain the important elements contained in the procedures for their implementation. Keywords: Traditional Ceremony, Batagak Urang Tuo Nagari, Balai Bar
NAMA-NAMA TEMPAT MAKAN KHAS MINANGKABAU DI KOTAMADYA BUKITTINGGI
This paper describes the meaning of the eatery names in Bukittinggi. Data provide with simak method. The basic technique is sadap and the advanced technique is simak libat cakap technique and simak bebas libat cakap technique continued with an interview. Data were analyzed with padan technique.The results show that the names of eatery in the Bukittinggi have different meanings, namely based on the background of owner origin, the unique characteristic, similarity, and an abbreviation. The use of these meanings can be classified in the form of lexical and referential meanings
KOSA KATA BAHASA MINANGKABAU OLEH PENUTUR TUA DAN PENUTUR MUDA
This article describes words that have changed the Minangkabau language vocabulary by Old Speakers and Young Speakers in Kanagarian Gunuang Rajo and the causes of these changes.The method used consists of three stages, the provision of data, the data analysis stage, and the stage of presenting the results of data analysis. The methods and techniques used in the data provision stage are competent methods and referring methods. In the skillful method used proficient techniques, fishing techniques, note-taking techniques, and recording techniques, while the listening method was used tapping technique, then continued with several techniques, namely SLC technique and SBLC technique. In data analysis used referential and translational matching methods with basic techniques, namely PUP techniques. The follow-up technique is the HBB technique.The results of data analysis and classification found two forms of changes in vocabulary usage in Kanagarian Gunuang Rajo, namely 1) Words that are lost or not used anymore caused by internal and external factors. Internal factors, namely: homonymic conflict. External factors, namely: social aspects, age, education and foreign languages, 2) The emergence of new vocabulary found only in the form of new words formed from outside Kanagarian Gunuang Rajo.Keywords: Change, vocabulary, factors, old speakers, speaker
RAISING INTEREST IN MALAY CLASSIC LITERATURE IN YOUNG READERS
The interest in reading printed books has tapered off in this digital age as shownby reports of continual loss from many book publishers over the years. What todo to whet reading habits, especially among the young? What are the optionsin store in book publishing? What can publishing experts predict? What can wesay how to whet reading habit? We know that without reader, more publisherswill wind up their business. Thus, new ways and outlets have to search.Though Malay hikayat are considered important, they are not interesting. Tomake them interesting, relevant and acceptable to young readers, publishersmust recognize the twin purposes of instruction and delight that have longbeen accepted as the primary goals of books for children and the fact that theyare important and form a distinctive category of readers with separate needsand interests. Only by making the books interesting, relevant and acceptableto them, Malay hikayat can hope to live on. Though physically weak, they arespiritually, emotionally and imaginatively strong. Stories about animals, fantasyand legends are popular with them. They love the illustrated books, cartoons,comics, movies and others on Pak Pandir, Pak Belalang, Singapura DilanggarTodak, Puteri Gunung Ledang, Hang Tuah dan Hang Jebat. These stories arealso among the ï€ nest examples of moral tales that encourage them to focus onself-improvement like Aesop fables, stories from Grimn’s brothers. This meansthat integration of visual and verbal elements has remained a signiï€ cant featureto attract children. In this paper, we argue that publishers must adapt storiesfrom Malay classical literature to illustrated books, movies, comics, movies, ï€ lmsand e-books. Linking the best visual and verbal elements in these publicationsis the way forward to teach literacy, history and moral to young readers
Struktur Fonologis Nama Orang Minangkabau
Nama diri bisa mengidentifikasi asal-usul daerah atau kesukuan orang. Seseorang berasal dari Minangkabau, setidak-tidaknya menurut perkiraan, melalui nama dirinya. Artinya, nama diri orang yangberasal dari daerah atau suku tertentu memperlihatkan adanya kekhasan. Kekhasan itu tentunya tidak terlepas dari bunyi-bunyi yang membentuk nama diri tersebut. Tulisan ini adalah hasil penelitian dengan objek penelitian yaitu nama diri orang Minangkabau. Sampel penelitian diambil di daerah tertentu dengan tahun kelahiran dari masa tertentu pula. Dari penelitian diperoleh sejumlah kecenderungan struktur fonologis nama diri orang Minangkabau
PEMULIHARAAN NASKHAH-NASKHAH NUSANTARA: SATU PENGALAMAN DAN PENGAJARAN
Naskhah-naskhah Melayu merupakan naskhah yang paling banyakbilangannya di dunia dan tidak menghairankan naskhah-naskhah ini bertebaran diseluruh ceruk rantau di mana-mana sahaja terdapat sesebuah masyarakat Islam dan Melayu itu menetap. Bilangannya yang cukup banyak dan tidak terdapat angka yang benar-benar tepat menyebabkan naskhah-naskhah Melayu boleh ditemui di manamana sahaja. Oleh yang demikian, tidak menghairankan Indonesia merupakan negara yang paling ramai masyarakat Islam merupakan tempat naskhah-naskhah Melayu ini bertebaran
ALIH MEDIA MANUSKRIP KUNO SEBAGAI PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF
Indonesia sebagai negara yang memiliki kearifan lokal dan nilai-nilai luhur bangsasepantasnya diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu cara untuk mewariskannyaadalah dengan mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalam manuskrip kuno.Salah satu manfaat mempelajari manuskrip kuno adalah memetik kearifan danperbandingan antara apa yang telah terjadi di masa lalu dan kenyataan hidup yangdihadapi pada saat ini. Namun sayangnya, karena manuskrip kuno itu adalah artefakbudaya yang langka dan kondisinya yang sudah sangat tua, maka harus ada upaya untukmengalihmediakannya ke dalam bentuk lain, seperti digitalisasi. Karena digitalisasihanya sebatas menyelamatkan kandungan manuskrip kuno itu, juga harus ada usahamengalihmediakanya ke dalam bentuk yang kreatif seperti buku, komik, kartun danï€ lm agar kandungan manuskrip kuno itu bisa diakses oleh masyarakat banyak.Mengalihmediakan dengan media kreatif kontemporer itu tidak hanya menyelematkannilai-nilai yang dikandungnya, ternyata juga bisa mengembangkan ekonomi kreatif.Namun sayangnya tidak semua orang sepakat dengan mengalihmediakan manuskripkuno sebagai sumber inspirasi untuk pengembangan ekonomi kreatif. Sebagianpihak berpendapat bahwa menarik kebudayaan tinggi (manuskrip kuno) ke ranahindustri kreatif akan mendegradasi nilai-nilai kebudayaan tinggi itu. Pendapat inisetidaknya didengungkan oleh Theodore W Adorno dan Max Horkheimer denganmenggagas Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Pendapat lain menyatakan bahwa menarikkebudayaan tinggi ke ranah industri adalah usaha melanggenggakan kebudayaanitu sendiri. Pendapat ini setidaknya dipegang teguh oleh Herbert J Gans, pengamatindustri kebudayaan dari Amerika. Makalah ini bermaksud untuk memaparkansecara mendalam, persoalan apa sebenarnya yang terjadi terhadap manuskripkuno ketika dijadikan sumber inspirasi untuk pengembangan ekonomi kreatif
KEPUSTAKAAN ILMU TRADISIONAL: SUMBANGAN NASKHAH-NASKHAH ILMU BEDIL MELAYU
Di Malaysia, genre kepustakaan ilmu tradisional Melayu secara relatifnyaboleh dikatakan baharu, selepas ia diperkenalkan oleh Harun Mat Piahpada dekad terakhir kurun ke-20. Genre yang diguna pakai dalam menelaahbidang kesusasteraan tradisional ini mempertegaskan tentang konsep ilmuorang Melayu yang terkandung di dalam naskhah-naskhah mereka, sebagaisuatu korpus karya yang bersifat ilmu pengetahuan dan juga pedoman(treatise) yang mengandungi kepercayaan dalam konteks pengamalanilmu-ilmu tersebut. Salah satu cabang karya kepustakaan ilmu tradisionalyang dirujuk adalah ilmu yang berkait dengan penggunaan senjata apiatau dinamakan sebagai ilmu bedil. Kalau hendak dibandingkan dengannaskhah-naskhah ilmu yang lain, setakat ini naskhah ilmu bedil masihterlalu kecil liputannya. Justeru, kertas kerja ini akan memperkatakanbeberapa hal berkenaan naskhah ilmu bedil Melayu dan potensinyadalam memperkayakan konsep dan konteks kepustakaan ilmu tradisional
MANUSKRIP ACEH: REVITALISASI KEARIFAN MASYARAKAT ACEH DI ERA GLOBAL
Tahun 2004 menjadi titik balik Aceh berbenah dan bangkit dari keterpurukan.Pasca bencana alam (gempa-tsunami) dan bencana kemanusiaan (kon ik)menuntun adanya proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan olehPemerintah Daerah, Indonesia dan pihak asing (luar negeri) dalam berbagai bidangturut menumbuhkan perekonomian dan sosial masyarakat Aceh dengan pesat.Proses itu tidak hanya fokus di infrastruktur, akan tetapi juga di bidang sosialkeagamaan dan cagar budaya, serta mempengaruhi pola pikir dan cara pandanggenerasi sekarang.Sebagai daerah kaya potensi alam dan mewariskan nilai sejarah dan budayamasa lampau, Aceh bergulir dalam beragam cuaca politik dan kebijakan, mulaidari periode kesultanan, kolonial, hingga kemerdekaan Indonesia. Pergolakan danpeperangan panjang juga menghiasi tiga periode tersebut di Aceh, baik pertikaianinternal, perang saudara, maupun kon ik vertikal dan horizontal. Akibatnya,cagar budaya dan kearifan masyarakat terkubur oleh bencana kemanusia tersebut,terlebih “kekayaan alam dan kearifan†musnah saat bencana alam terbesar terjadidi abad ke-21
Motif-Motif Tenun Pandaisikek sebagai Interpretasi Falsafah Alam Takambang Jadi Guru
Minangkabau people have ability to interpretate nature for Pandaisikek woven patterns and motifs. Furthermore this situation encourages weaving pattern to match what is in the culture so interpretated symbolically on the woven motifs. In other words, the symbols on the woven motifs have meanings that refer to the idea of the shape and behavior of the philosophical idealism. This article describes some of the Pandaisikek woven motifs. The woven motifs are people interpretation of nature as one of the symbols and learning materials to the next generation