Jurnal Elektronik Wacana Etnik
Not a member yet
123 research outputs found
Sort by
TEKS KABA SABAI NAN ALUIH DAN NASKAH TEATER “SIKLUS DENDAM SABAI†(Tinjauan Resepsi Sastra)
Through active reaction, readers give response in new form of works. “Siklus Dendam Sabai†is one of this new form of kaba Sabai Nan Aluih. This article describes the reader response which brings differences between those two objects. Furthermore, the differences (theme and plot) are manifest of active reader background which shows in the new form of the work
CERITA RAKYAT DI KECAMATAN 3 NAGARI KABUPATEN PASAMAN
Folktales have motive structure which contains and reflects the people who have it. Its necessary to documenting and archiving the folktales for next generations. This article describes the research result of documentation Kecamatan Tigo Nagari folktales. There are eleven folktales in Tigo Nagari. Nine of them are the people legend and three of them are . Those folktales are 1) Gunung Pasaman dan Talang Perindu, 2) Larangan menanam tebu, serai, kunyit, dan pisang, 3) Bukik Putuih, 4) Inyiak Durian Gunjo, 5) Aia angek di Malayu, 6) Lubuak Gadang, 7) Tajulangek dan Tajugambuang, 8) Larangan Mangulai Paku, 9) Batang Lundang, 10) Rawa Menangis, 11) Datuak dan Harimau
SILEK KUMANGO: KEBERADAAN, PEWARISAN, DAN KEARIFAN LOKAL MINANGKABAU
Nowadays, the Minangkabau silek is waning interest and users. Technological developments are considered to be the cause. This article describes the research result of the presence of silek Kumango in Kanagarian Rao-Rao Tanah Datar, West Sumatra. Using ethnographic methods and approaches, it’s also obtained the inheritance and local genius in this silek. There are some functions and symbols that show local content in silek Kumango which are manifested in the succession process, control, and motion itself in this silek
MAKNA LEKSIKAL PERMAINAN RAKYAT MELAYU SAMBAS: PENDEKATAN ETNOLINGUISTIK
This study focuses on the observation of cultural object, that is folk games. The referred folk games are traditional games played by the local people. Acquisition of data conducted in the 19 subistrict of Sambas, West Kalimantan. Researcher uses qualitative research method, specifically by translating the vocabulary data of Malay folk games in the District of Sambas. This study also uses ethnolinguistic approach that views the relationship between language and cultural elements within Malay community in Sambas. Analysis conducted by researcher towards the collected data is the type of meaning analysis based on the classification of tools, techniques, player name, and the name of the folk game.By virtue of research, researcher accumulated 173 words as research data. All of data comprise of 30 kind of folk games with classification, that is 51 words as tools, 44 words as techniques, 4 words as player name, and 30 words as the name of the folk games classification
STRUKTUR NOVEL TOEANKOE PANTJOERAN RAWANG DAN SJAIR SI BAKRI (CATATAN AWAL)
Artikel ini membahas persoalan struktur novel Toeankoe Pantjoeran Rawangdan Sjair Si Bakri (TTPRSSB). Noverl TTPRSSB adalah sebuah novel yang palingsederhana yang pernah diterbitkan oleh Kantoor voor de Volkslectuur, saat initelah berganti nama menjadi Balai Pustaka. Semua karya sastra bagaimanapunbentuknya pasti memiliki struktur yang membangun karya tersebut. Masingmasingjenis karya sastra memiliki struktur yang berbeda, sehingga kajianstruktural tidak akan bisa diterapkan secara sama antar sesama bentuk danjenis karya sastra
TRADISI MINTA HUJAN ARMAROHIMIN
Tradisi Minta Hujan Armarohimin adalah sebuah tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Nagari Taram. Tradisi minta hujan mungkin dimiliki di daerah lain, akan tetapi menurut anggapan penulis Tradisi Minta Hujan Armarohimin hanya ada di Nagari Taram Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota. Keberadaan tradisi ini tidak terlepas dari perkembangan ajaran Islam di Nagari Taram. Tradisi ini langsung dibawa dari Mekah pada waktu salah seorang ulama yang berasal dari Nagari Taram yaitu, Haji Kamin pergi menunaikan ibadah haji. Sehingga masyarakat Taram dalam memohon untuk diturunkannya hujan tidak melakukan shalat sunat Istisqa, akan tetapi melakukan Tradisi Armarohimin.Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan Tradisi Armarohimin dan penjelasan tentang kepercayaan masyarakat berkaitan dengan tradisi ini.Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data tentang Armarohimin dan kepercayaan masyarakat yang berkembang di Nagari Taram. Data didapat dengan melakukan wawancara dengan informan yang mengetahui tentang Armarohimin dan masyarakat sekitar. Selain itu, juga dilakukan studi kepustakaan guna mengumpulkan referensi untuk menunjang keilmiahan dari penelitian ini.Penelitian ini dilakukan juga menganalisis tentang fungsi dari tradisi Armarohimin bagi masyarakat Nagari Taram. Analisis tersebut menggunakan teori folklor yang kemukan oleh Bascom, bahwa bahwa folklor memiliki fungsi-fungsi bagi masyarakat pendukungnya.Setelah seluruh data dianalisis, ditemukan bahwa Tradisi Armarohimin ini tidak sepenuhnya bebas dari kepercayaan masyarakat setempat terhadap takhyul. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan lama masyarakat sebelum kedatangan Islam yang banyak mengandung takhyul dan magik. Kedatangan agama Islam ternyata tidak mampu menghilangkan kepercayaan lama tersebut, bahkan kepercayaan lama mampu berpadu dengan agama Islam dan menghasilkan sebuah tradisi baru, seperti tradisi balimau.Keadaan tersebut melahirkan kelompok masyarakat yang menerima dan menolak tradisi Armarohimin. Kelompok-kelompok ini membenarkan pendirian mereka dengan pemahaman masing-masing.Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Tradisi Minta Hujan Armarohimin merupakan sebuah ritual agama Islam yang masih dipengaruhi oleh kepercayaan lama sebelum kedatangan agama Islam yang masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Nagari Taram
CITRA PEREMPUAN DALAM PERIBAHASA MINANGKABAU
This paper describes woman image in peribahasa Minangkabau. Data research were obtained from interview and literature observation. The peribahasa forms which contain woman image are gurindam, mamang, pepatah petitih, and seloka. The woman image in this forms are firm, kind, wise, deligent, and polite
UNSUR-UNSUR MAGIS DALAM LIRIK LAGU MINANGKABAU
Minangkabau people believe in magical practice. This believeness also reflected on their songs. This article describes that matter through song lyrics. Using sociological approach with library research and interview, the result shows that Minangkabaukabau song (Gasiang Tangkurak, Sampelong, Limau Kiriman Urang, and Kasiak Tujuah Muaro) have magical practice contents. Those contents also reflect one of cultural tradition of Minangkabaukabau people
PERTUNJUKAN BATOMBE: DESKRIPSI SINGKAT
This article describes batombe of Nagari Abai Sangir Solok Selatan Sumatera Barat. Batombe is a performance which shows pantun dialog between men and women. Batombe performed in batagak panghulu, marriage, and build a rumah gadang. There are functions on this performance. Those are entertaining, supporting, unifying, and learning media of the society
ASAL USUL DAN MAKNA NAMA GELAR DATUAK DI NAGARI NAN TUJUAH KECAMATAN PALUPUH KABUPATEN AGAM
This study reviews the meaning of datuak title as an elder (penghulu) in Nagari Nan Tujuah, Palupuh Agam which based on the traditional proverb "ketek banamo, gadang bagala". This research use qualitative method with interview techniques and semiotic theory by Michael Riffaterre. The results shows datuak titles in MInangkabaukabau, especially those in Nagari Nan Tujuah depart from an idea and a good hope. With this title, the elders are expected will fulfill their duties and functions as the people will