Jurnal Online Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima
Not a member yet
1144 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI KITAB JURUMIYAH DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN ILMU NAHWU DI PONDOK PESANTREN DARUT THOLIBIN AL-QODIRI 02 JEMBER
Kemampuan memahami ilmu nahwu merupakan tuntutan wajib bagi santri pondok pesantren Darut Tholibin Al-Qoidiri 02 Gumukmas-Jember. Kitab jurumiyah merupakan media bagi para santri untuk meningkatkan pemahaman ilmu nahwu. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana proses pengimplementasian kitab jurumiyah, mengetahui kendala dan solusi pada pemebelajaran kitab jurumiyah serta mengetahui tingkat pemahaman ilmu nahwu para santri Pondok Pesantren Darut Tholibin Al-Qodiri 02 Gumukmas-Jember. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa pengimplementasian kitab jurumiyah menggunakan metode menghafal, bandongan dan sorogan. Penerapan kitab jurumiyah menggunakan ketiga metode tersebut cukup efektif dalam memahami ilmu nahwu. namun, masih ada kendala dalam pembelajaranya, seperti Ada beberapa santri yang belum mahir dalam membaca dan menulis Al-Qur’an dan bahasa Arab, Para santri mudah jenuh dalam pembelajaran ilmu nahwu, dan kurangnya para santri dalam memahami materi kitab jurumiyah
FENOMENA FOMO DALAM QS. AN-NISĀ’[4]: 83 ALA MA’NĀ CUM MAGHZĀ: STUDI ANALISIS MEDIKASI INTEGRITAS HIERARKI-KONSEPSI PSIKORELIGIUS
Digitalisasi mentransformasi gaya hidup dari 'face to face' menuju 'screen to face'. Implikasinya ialah membuka ruang gejala psikologis-negatif yakni (Fear of Missing Out) FoMO. Data historis dan analisis interpretasi An-Nisā/4:83 menunjukkan pada embriologi FoMO telah menjangkiti para hipokrit di era Al-Qur'an, namun dalam hal ini Sang Risalah dan Ulil-Amri menjadi mitra medikasi yang terabaikan. Untuk mengkontekstualisasi fenomena ini Ma'nā cum Maghzā menjadi sebuah bacaan kedisinian- dengan mengintegrasikan medikasi Abraham Maslow dan al-Ghazali menjadi tujuan penelitian dalam karya ini, sehingga pembaca dapat menikmati secara 'Asyik dan Ma'syuk'. Metode kualitatif jenis kepustakaan dengan analisis deskriptif menjadi pisau analisis metodologi. Kepustakaan digunakan untuk menangkap data-analisis data lanjutan dalam mengeksplorasi narasi FoMO dalam An-Nisā'/4: 83 dan medikasinya. Dengan itu triangulasi sumber menjadi verivikasi berbagai data tersebut. Hasil pembahasan mengungkap bahwa FoMO yang terlukis dalam An-Nisā'/4: 83 dapat diketahui dengan bantuan Ma'nā cum Maghzā. Selain itu integritas medikasi memberi lima poin utama: 1) Pengakuan diri dan kesadaran digital; 2) Afiliasi dan kebutuhan sosial; 3) Redefinisi & reorientasi harga diri; 4) Refleksi & Tazkiyah jiwa; 5) Aktualisasi & misi eksistensial diri
ANALISIS PERAN PELATIHAN DAN WORKSHOP BERBASIS POAC DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU SDN 036 UJUNGBERUNG KOTA BANDUNG
Pendidikan abad ke-21 menuntut guru memiliki kompetensi yang tinggi dalam aspek pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Untuk menjawab tantangan tersebut, pelatihan dan workshop menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran pelatihan dan workshop berbasis POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dalam meningkatkan kompetensi guru di SDN 036 Ujungberung, Kota Bandung. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dan mengacu pada teori pelatihan dari Glickman et al. serta teori manajemen POAC oleh G.R. Terry. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelatihan dan workshop yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prinsip POAC mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru. Dalam tahap perencanaan, program disusun sesuai kebutuhan guru; pada tahap pengorganisasian, pelibatan narasumber dan struktur kegiatan terkoordinasi dengan baik; pelaksanaan kegiatan berlangsung interaktif dan kontekstual; serta pengendalian dilakukan melalui evaluasi berkelanjutan. Temuan ini memperkuat bahwa pelatihan dan workshop yang dikelola secara sistematis mampu meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, mengelola kelas, serta memperkuat interaksi sosial dan etika profesi. Dengan demikian, implementasi pelatihan berbasis POAC dapat menjadi model pengembangan profesionalisme guru yang efektif di sekolah dasar
LITERASI BERBASIS DATA DAN BUDAYA LOKAL: PRAKTIK BAIK DARI PROGRAM GEMAR LITERASI DI KABUPATEN BIMA
Rendahnya kemampuan literasi dasar siswa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), termasuk di Kabupaten Bima, menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Sebagian besar siswa belum mencapai level kecakapan minimum dalam membaca, sementara pendekatan pembelajaran yang digunakan kurang mempertimbangkan keragaman kemampuan serta latar belakang budaya siswa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pemangku kepentingan pendidikan dalam meningkatkan literasi dasar melalui pendekatan berbasis data dan budaya lokal. Metode yang digunakan yaitu pendekatan partisipatoris berbasis komunitas, yang mencakup tujuh tahapan: rembuk pendidikan, pemetaan data sekolah dan desa, sosialisasi lintas sektor, pelatihan fasilitator daerah, uji coba modul literasi berbasis kemampuan siswa, refleksi dan revisi modul, serta advokasi kebijakan. Lokasi kegiatan difokuskan di 25 sekolah dasar dan 9 desa di Kabupaten Bima. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan literasi berbasis data mampu menghasilkan profil belajar siswa dan desa secara lebih akurat. Modul literasi yang dikembangkan secara kontekstual terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran, memungkinkan guru mengidentifikasi kesulitan belajar siswa, dan menumbuhkan antusiasme siswa dalam proses membaca. Kesimpulannya, pengabdian ini membuktikan bahwa pendekatan literasi berbasis data dan budaya lokal merupakan strategi efektif untuk meningkatkan keterampilan literasi dasar secara inklusif, relevan, dan berkelanjutan di wilayah marginal seperti Kabupaten Bima.
Kata Kunci: Literasi Berbasis Data; Budaya Lokal; Pendidikan Daerah 3T
KOMODIFIKASI HIJAB DALAM ENDORSEMENT ARTIS NON-HIJAB DI TIKTOK: IMPLIKASI BAGI PENDIDIKAN ISLAM
Meningkatnya penggunaan media sosial, khususnya TikTok, telah mempercepat komodifikasi nilai-nilai budaya dan agama, termasuk hijab sebagai simbol religius dalam Islam. Penelitian ini mengkaji bagaimana endorsement hijab oleh selebritas non-hijabi di TikTok merekonstruksi makna hijab—dari simbol ekspresi keagamaan menjadi komoditas fesyen yang dikendalikan oleh dinamika pasar. Melalui analisis konten terhadap video TikTok dari Dinda Marsya | @sattka.basic, khususnya yang menampilkan influencer seperti Tissa Biani dan Syifa Hadju, ditemukan bahwa hijab semakin direpresentasikan sebagai elemen estetika yang terlepas dari nilai-nilai normatif Islam. Representasi ini mencerminkan mekanisme hiperrealitas sebagaimana dikemukakan dalam teori simulakra Jean Baudrillard, di mana simbol keagamaan direduksi menjadi citra konsumtif yang terpisah dari makna aslinya. Fenomena ini membawa implikasi penting bagi pendidikan Islam, terutama dalam mendorong kesadaran kritis generasi muda Muslim terhadap transformasi simbol keagamaan dalam ruang digital. Pendidikan Islam perlu merespons melalui strategi pedagogis yang tidak hanya menanamkan pemahaman normatif tentang hijab, tetapi juga membekali peserta didik dengan literasi media agar mampu menghadapi realitas yang dibentuk oleh budaya konsumsi dan algoritma media sosial
Hukum Internalisasi Nilai Kearifan Lokal ‘Maja Labo Dahu’ dalam Meningkatkan Kesadaran Hukum Berlalu Lintas di Kalangan Pelajar Sekolah Menengah Kota Bima
Lonjakan pelanggaran lalu lintas di kalangan pelajar Kota Bima, yang meningkat tajam dari 105 kasus (2023) menjadi 220 kasus (2024), mencerminkan krisis kesadaran hukum yang serius di kalangan generasi muda. Pelanggaran seperti tidak memakai helm, melawan arus, balapan liar hingga meninggal dunia bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi cerminan degradasi karakter dan lemahnya penanaman nilai moral. Pendekatan represif terbukti belum menyentuh akar persoalan. Penelitian ini bertujuan menggali dan menginternalisasikan nilai Maja Labo Dahu sebagai fondasi pembentukan kesadaran hukum berlalu lintas di kalangan pelajar sekolah menengah Kota Bima. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner di empat sekolah di Kota Bima, melibatkan pelajar, guru, orang tua, tokoh adat, dan aparat kepolisian satlantas Polres Bima Kota. Hasil Penelitian Menunjukan bahwa Kesadaran hukum berlalu lintas pelajar di Kota Bima masih rendah, ditandai oleh maraknya pelanggaran seperti berkendara tanpa helm, SIM, dan melanggar rambu- rambu lalulintas. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya pemahaman hukum, lemahnya pengawasan keluarga dan sekolah, serta dampak negatif media sosial. Internalisasi nilai kearifan lokal Maja Labo Dahu, yang menanamkan rasa malu dan takut sebagai kendali moral, berpotensi membentuk kesadaran hukum. Namun, modernisasi dan lemahnya penguatan nilai budaya menghambat efektivitasnya. Pengintegrasian nilai ini dalam pendidikan dan lingkungan sosial menjadi strategi penting untuk membangun kesadaran hukum berlalu lintas secara berkelanjutan.Lonjakan pelanggaran lalu lintas di kalangan pelajar Kota Bima, yang meningkat tajam dari 105 kasus (2023) menjadi 220 kasus (2024), mencerminkan krisis kesadaran hukum yang serius di kalangan generasi muda. Pelanggaran seperti tidak memakai helm, melawan arus, balapan liar hingga meninggal dunia bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi cerminan degradasi karakter dan lemahnya penanaman nilai moral. Pendekatan represif terbukti belum menyentuh akar persoalan. Penelitian ini bertujuan menggali dan menginternalisasikan nilai Maja Labo Dahu sebagai fondasi pembentukan kesadaran hukum berlalu lintas di kalangan pelajar sekolah menengah Kota Bima. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner di empat sekolah di Kota Bima, melibatkan pelajar, guru, orang tua, tokoh adat, dan aparat kepolisian satlantas Polres Bima Kota. Hasil Penelitian Menunjukan bahwa Kesadaran hukum berlalu lintas pelajar di Kota Bima masih rendah, ditandai oleh maraknya pelanggaran seperti berkendara tanpa helm, SIM, dan melanggar rambu- rambu lalulintas. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya pemahaman hukum, lemahnya pengawasan keluarga dan sekolah, serta dampak negatif media sosial. Internalisasi nilai kearifan lokal Maja Labo Dahu, yang menanamkan rasa malu dan takut sebagai kendali moral, berpotensi membentuk kesadaran hukum. Namun, modernisasi dan lemahnya penguatan nilai budaya menghambat efektivitasnya. Pengintegrasian nilai ini dalam pendidikan dan lingkungan sosial menjadi strategi penting untuk membangun kesadaran hukum berlalu lintas secara berkelanjutan
PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN ALAM: INTEGRASI PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT
Artikel ini membahas klasifikasi dan perkembangan rumpun ilmu pengetahuan alam (IPA) dari perspektif Islam dan Barat, dengan tujuan menjelaskan sejarah, ruang lingkup, hakikat, serta landasan filosofis dari masing-masing pendekatan. Permasalahan yang diangkat mencerminkan kesenjangan epistemologis antara sains Islam dan Barat, khususnya dalam upaya integrasi nilai spiritual ke dalam sains modern. Islamisasi ilmu dipandang sebagai solusi atas sekularisasi pengetahuan yang telah mengabaikan dimensi sakral dalam memahami alam dan manusia. Penelitian ini bertujuan menjembatani pemahaman tersebut dengan mengkaji jenis, ciri-ciri, dan tokoh-tokoh kunci dalam perkembangan ilmu alam dari kedua paradigma. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Data dikumpulkan melalui penelusuran berbagai sumber ilmiah daring, seperti jurnal, buku elektronik, dan artikel akademik yang relevan dengan topik epistemologi IPA dalam pandangan Islam dan Barat. Hasil kajian menunjukkan bahwa paradigma IPA dalam Islam menekankan keterpaduan ilmu dengan nilai wahyu dan etika, sementara paradigma Barat berfokus pada rasionalitas dan objektivitas empiris. Integrasi keduanya dapat memperkaya kurikulum IPA agar lebih humanis, etis, dan spiritual. Temuan ini relevan untuk mendukung rancangan pendidikan sains yang holistik dan transformatif.
Kata Kunci: Islam, Barat, epistemologi, ilmu alam, integrasi ilm
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS RENDERFOREST PADA PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI KURIKULUM MERDEKA DIKELAS IV SEKOLAH DASAR
Guru masih mengunakan metode ceramah dan minim
menggunakan media pembelajaran yang digunakan masih
berupa media cetak, dan guru belum bisa memanfaatkan media
yang berbasis teknologi untuk menunjang pembelajaran
berdiferensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
media pembelajaran berbasis Renderforest pada pembelajaran
berdiferensiasi kelas IV sekolah dasar. Jenis penelitian ini
merupakan pengembangan atau R&D (Research and
Development) peneliti menggunakan model ADDIE. Penelitian
dilakukan di SDN 1 Kertayasa pada peserta didik kelas IV yang
berjumlah 30 orang. Uji validasi dilakuakan kepada dua orang
ahli yaitu ahli media dan ahli materi. Hasil validasi yang
diperoleh dari para validator adalah ahli materi memperoleh
nilai 90% dan ahli materi memperoleh nilai 93%. Peneliti
menyebarkan angket respon pendidik dan respon peserta didik
hasil yang diperoleh dari respon pendidik 90% dan respon
peserta didik adalah 77% darik hasil tersebut media yang
dikembankan dinyatakan layak untuk digunakan. Peneliti juga
melakukan tes pretest dann posttest untuk mengukur
keefektivan media tersebut, yang dianalisis mengguanakan uji
normalitas, uji homogenitas dan uji paired sample T-Test. Hasil
uji analisis data menunjukan bahwa data yang diperoleh
bersifat normal dan homogen. Uji paired simple test memperoleh
sig 0,00 . Dengan demikian nilai (sig 2-tailed) 0,00 < 0,05
menunjukan terdapat pengaruh signifikan pada pretest dan
posttest
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN DESIMAL DI SD
Kemampuan untuk melakukan operasi mental dalam bentuk tindakan, prosedur, objek, dan skema ketika membangun konsep didefinisikan sebagai pemahaman konsep matematika. Hal ini juga mencakup kemampuan untuk mengingat dan menarik kesimpulan dari aturan-aturan khusus ke dalam hubungan matematis, yang dalam hal ini pada materi operasi hitung bilangan desimal, yang meliputi penambahan dan pengurangan nilai desimal. Rendahnya pemahaman operasi bilangan desimal di sekolah dasar merupakan masalah utama penelitian ini. Tujuan penelitian ini guna mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan pemahaman konsep operasi hitung bilangan desimal di SD melalui model problem based learning. Metode penelitian yang digunakan adalah Pre-Eksperimental Design dengan tipe One-Group Pretest-Posttest Design. Data dalam penelitian ini diperoleh dari tes tertulis (pretest dan posttest), angket respon siswa, observasi aktivitas siswa dan dokumentasi. Sebanyak 18 siswa di kelas IV A SD Negeri 12 Tanjung Batu menjadi subjek penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis gain ternormalisasi (N-Gain), teknik analisis data angket respon siswa, teknik analisis ketuntasan hasil belajar, dan teknik analisis data observasi aktivitas belajar siswa. Berdasarkan dari hasil analisis data diperoleh kesimpulan yaitu penerapan model problem based learning dinyatakan berhasil dan terjadi peningkatan kemampuan pemahaman konsep operasi hitung bilangan desimal di SD. Hal ini dilihat dari hasil N-gain yang didapat yaitu 56,15% dengan kriteria keefektifan “Cukup Efektif”
PERAN FASILITATOR DALAM PENDAMPINGAN UMKM NASABAH BANK X DI KANTOR CABANG WELERI
UMKM merupakan sektor penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Namun, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan akses informasi, pengetahuan manajerial, serta keterampilan digital. Hal tersebut juga dirasakan oleh pelaku UMKM Nasabah Bank X yang nasabahnya adalah perempuan prasejahtera produktif. Menjawab tantangan tersebut, Bank X membuat Program Pendampingan Usaha melalui kolaborasi dengan Universitas, sebagai bentuk pemberdayaan UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran fasilitator dalam pendampingan usaha. Metode pengabdian dilakukan melalui pendampingan empat sesi dimana setiap sesi ada empat kali pertemuan dengan pelaku usaha. Hasil penelitian menunjukan bahwa fasilitator menjalankan peran sebagai edukator, motivator dan pendamping teknis yangefektif dalam peningkatan kapasitas usaha, khususnya dalam aspek pemasaran digital dan manajemen usaha. Secara keseluruhan program ini menunjukan bahwa fasilittaor berkontribusi nyata dalam menguatkan usaha UMKM secara partisipatif dan berkenlanjutan