Online Journal Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya
Not a member yet
    242 research outputs found

    Fertilization, Cleavage and Implation

    No full text
    Most of the livestock in Indonesia are still conventional or traditional farms, where the quality of the seeds, the use oftechnology and the skills of farmers are still relatively low, thus affecting the productivity and genetic quality oflivestock. Therefore it is necessary to have knowledge about livestock reproduction that discusses fertilization,cleveage and implantation. Fertilization or fertilization (singami) is the fusion of two gametes which can be a nucleusor nucleus cells to form a single cell (zygote) or fusion of the nucleus. the process starts with the preparation of ovumcells and spermatozoa; penetration; core incorporation; and early zygote cleavage. Fertilization phase is the meetingbetween sperm cells and ovum cells and will produce zygote. Zygote will perform cell division (cleavage). The zygotethen undergoes growth and development through stages, namely division, gastrulation, and organogenesis.Implantation or also known as oxidation is the process of implanting the embryo, which is the result of conception,into the uterine wall (endometrium) to further develop

    Acute Pseudomembranous Candidiasis in Patients with Hypertension

    No full text
    Introduction. Oral candidiasis is an opportunistic infection that is often found in the oral cavity caused by the growth of candida fungi. The calcium channel blocker antihypertensive drug, amlodipine, has a side effect that can reduce the amount of salivary flow, the reduced amount of saliva will cause anti-candida components in saliva such as lysozyme, histatin, lactoferrin, and calprotectin are also reduced, so that candida can easily develop in the cavity. mouth. This research was aimed to determine the management of cases of acute pseudomembranous candidiasis in hypertensive patients. Case presentation. A woman 16 years old came to the Mohammad Hoesin Hospital in Palembang with a complaint of a yellowish white spot on the upper surface of her tongue which she noticed since 2 weeks ago. The yellowish white patches feel sore when the patient brushes his tongue with a toothbrush. The patient feels uncomfortable with the state of his tongue so he wants his tongue to be treated. The patient had a history of hypertension since 1 year ago. The patient was given the drug nystatin drop. In the first control, 1 week after administration of the drug, found white lesions on the tongue that began to decrease and appear thinner compared to the previous visit. In the next control, the patient's tongue was clean so that the use of nystatin was stopped. The supporting investigation is a microbiological examination with a type of fungal culture against a tongue swab. The results of the examination indicated that the microscopic results of the yeast cell (+) KOH and the results of the germ culture in the form of Candida sp. The patient was diagnosed with acute pseudomembranous candidiasis and was treated with topical antifungals and was referred to an internal medicine specialist for hypertension control. Conclusion: Management of oral candidiasis is very important to know, and must be followed by controlling hypertension in the patient so that a good oral prognosis is obtained

    Potensi Terjadinya Interaksi Obat Antidiabetik Oral Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Usia Lanjut

    No full text
    Seiring bertambahnya usia, seseorang akan mengalami penuaan dan berakibat pada rentannya tubuh terhadap berbagai macam penyakit sehingga menyebabkan peresepan obat dalam jumlah banyak sekaligus. Hal tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat. Diabetes Melitus (DM) adalah suatu sindrom kelainan metabolik yang ditandai oleh adanya keadaan hiperglikemik yang disebabkan adanya defek pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. DM biasanya disertai dengan komorbiditas lain seperti hipertensi, hiperlipidemia, depresi, penyakit stroke, dan lain-lain yang mana dari tiap penyakit tersebut memerlukan kombinasi dari dua hingga lebih macam obat atau bahkan lebih sehingga hal tersebut dapat mengarah terhadap kejadian interaksi obat.  Penelitian ini adalah studi observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Sampel adalah rekam medik pasien DM tipe 2 usia lanjut di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 2016-2017. Sampel penelitian berjumlah 101 pasien.  Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 101 pasien DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari hasil penelitian didapatkan kelompok umur yang paling berpotensi mengalami interaksi obat adalah usia 60-74 tahun (56 orang). Golongan obat anti diabetes yang paling sering diresepkan adalah sulfonilurea (55,96%) yang terdiri dari 3 jenis obat, tetapi secara keseluruhan obat yang paling diresepkan adalah metformin (38,36%). Tipe interaksi obat yang paling berpotensi terjadi adalah farmakodinamik (56 kasus) sedangkan derajat interaksinya yang paling berpotensi adalah Moderate (117 kasus). Semakin banyak jumlah obat yang diresepkan semakin tinggi pula angka kemungkinan terjadinya interaksi obat

    Metabolisme Oksidatif Dan Peranan Neuroglobin Terhadap Homeostasis Oksigen Di Otak

    No full text
    Otak merupakan organ utama tubuh yang mendapat prioritas utama dalam suplai energi. Meski yang mengisi 2% dari total berat tubuh, namun dalam kondisi bekerja tanpa aktivitas fisik, otak dapat mengkonsmsi 80% dari total konsumsi tubuh. Sama seperti sel tubuh yang lain, sel otak menjalankan fungsinya dengan menggunakan sumber energi dari  adenosine tri phosphate (ATP). Pembentukan ATP terjadi melalui dua alur metabolisme yang saling berhubungan yaitu glikolisis dan posforilasi oksidatif. Sel otak sangat rentan terhadap hipoksia dan hipoglikemia, karena otak tidak memiliki cadangan glukosa dan oksigen. Neuroglobin merupakan protein intra neuronal yang berperan penting pada metabolisme energi. Neuroglobin berperan pada transfer dan suplai O2 di sel neuron, sensor O2 di sel neuron, oksidase terminal (mengambil ion H dari NADH utk menjadi H2O dan NAD), detoksifikasi ROS, dan deoksigenase NO menjadi NO3

    Pengaruh Iskemia-Reperfusi terhadap Gambaran Seluler Tubulointerstisial Renalis, Kadar Cystatin C dan Glomerular Filtration Rate (GFR) Tikus Wistar

    No full text
    Acute Kidney Injury (AKI) merupakan penurunan fungsi ginjal secara cepat. Penyebab AKI terbesar adalah iskemia/reperfusi yang memicu respon inflamasi dan menyebabkan kerusakan ginjal. Inflamasi merupakan respon proteksi dan perbaikan jaringan, namun dapat menyebabkan fibrosis yaitu jaringan normal digantikan oleh matriks ektraseluler seperti kolagen. Kerusakan yang terjadi pada bagian tubulointerstisial berpengaruh besar terhadap fungsi ginjal yang dapat diukur dengan GFR menggunakan cystatin C. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh durasi iskemia-reperfusi terhadap gambaran seluler tubulointerstisial, kadar cystatin C dan GFR pada tikus Wistar serta korelasi antara gambaran seluler tubulointerstisial, kadar cystatin C dan GFR. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain posttest only with control group. Penelitian menggunakan 30 ekor tikus Wistar yang dilakukan di animal house dan laboratorium biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Gambaran seluler tubulointerstisial, kadar cystatin C dan GFR dinilai dengan persentase fraksi area kolagen, ELISA dan rumus Larsson. Iskemia 30 menit dan reperfusi 14 hari 99,1% berpengaruh terhadap persentase fraksi area kolagen, iskemia 120 menit dan reperfusi 14 hari 98,8% berpengaruh terhadap kadar cystatin C serta 99,5% berpengaruh terhadap GFR. Terdapat korelasi yang signifikan antara persentase fraksi area kolagen dan kadar cystatin C (p=0,0001, r=0,901), serta GFR (p=0,0001, r=-0,834), lalu antara kadar cystatin C dan GFR (p=0,0001, r=-915). Durasi iskemia-reperfusi berpengaruh terhadap gambaran seluler tubulointerstisial, kadar cystatin C dan GFR serta terdapat korelasi antara gambaran seluler tubulointerstisial, kadar cystatin C dan GFR pada tikus Wistar

    Kasus Porensefali pada Seorang Anak Laki-Laki Berusia 12 Tahun

    No full text
    Kista porensefali merupakan keadaan terdapatnya celah kavitas kistik pada otak atau lebih spesifik menunjukkan adanya area kistik fokal dari encephalomalasia yang berhubungan dengan ventrikel dan atau ruang subarachnoid. Manifestasi klinis dari kista porensefali sangatlah beragam, tergantung dari ukuran kista dan lokasi pada hemisfer otak. Bisa asimtomatik sampai pada sangat terganggu. Porensefali klinis harus dicurigai jika pasien menunjukkan hemiplegia spastik, makrosefali asimetris, transiluminasi tengkorak unilateral, atau terdapatnya supresi tegangan pada satu sisi pada EEG. Pada laporan kasus ini dilaporkan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dengan kista porensefali yang telah dilakukan drainase dan  menunjukkan perbaikan klinis. Diagnosis porensefali dikonfirmasi dengan CT scan. Tatalaksana dan pathogenesis porensefali masih sedikit diketahui. Perlu penelitian dan evaluasi lanjut terhadap perkembangan kedepannya

    Prevalensi Kejadian Preeklampsia dengan Komplikasi dan Faktor Risiko yang Mempengaruhinya di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang (Studi Prevalensi Tahun 2015, 2016, 2017)

    No full text
    Preeklampsia dengan komplikasi merupakan penyakit obstetri dengan prevalensi tertinggi di Indonesia sehingga dapat meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi. Penyakit ini dikenal sebagai the disease of theorydikarenakan belum terdapatnya teori yang mampu menjelaskan faktor risiko penyakit ini secara jelas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi kejadian preeklampsia dengan komplikasi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin periode 1 Januari 2015 - 31 Desember 2017 sekaligus menganalisis faktor risiko yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional.Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medik ibu bersalin di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Sampel penelitian terdiri dari 117 ibu bersalin dengan PDK dan 183 ibu bersalin non-PDK. Data dianalisis menggunakan uji chi-squaredan regresi logistik biner metode Enter pada aplikasi SPSS. Prevalensi kejadian preeklampsia dengan komplikasi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2015–31 Desember 2017 adalah 14,45%. Hasil analisis bivariat menunjukan usia maternal (p=0,000; PR=2,229; CI 95%: 2,556–7,212), IMT (p=0,000; PR=2,167; CI 95%: 1,525-3,080), riwayat hipertensi dalam kehamilan (p=0,000; PR=3,597; CI 95%: 2.860–4.523), dan jumlah paritas (p=0,007; PR=0,618; risk=1,618; CI 95%: 0.43– 0.883) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian preeklampsia dengan komplikasi. Pekerjaan (p=0,065), jarak kehamilan (p=0,458), dan riwayat penyakit maternal (p=0,573) memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap kejadian tersebut. Hasil analisis multivariat menunjukkan usia maternal, pekerjaan, IMT, jarak kehamilan, dan riwayat hipertensi dalam kehamilan memiliki probabilitas sebesar 74,5% terhadap kejadian preeklampsia dengan komplikasi. Prevalensi kejadian preeklampsia dengan komplikasi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin masih relatif tinggi, dan faktor risiko yang paling signifikan terhadap kejadian tersebut adalah riwayat hipertensi dalam kehamilan

    Identifikasi Polimorfisme Gen mTOR rs 2536 dan rs 2295080 serta Ekspresi ER, PR, HER-2, Ki-67 pada Penderita Kanker Payudara

    No full text
    Kanker payudara adalah suatu penyakit keganasan yang berasal dari transformasi neoplastik sel-sel epitelial, sebagai akibat akumulasi perubahan genetik, epigenetik dan lingkungan yang dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi. Kanker payudara menempati urutan pertama sebagai jenis kanker yang paling umum diderita oleh perempuan di dunia. Salah satu predisposisi genetik yang berperan pada terjadinya kanker payudara adalah polimorfisme gen mTOR yang terjadi pada 3’-UTR dan regio promoter. Polimorfisme gen mTOR akan menyebabkan aktivasi proses transkripsi gen mTOR secara terus-menerus sehingga terjadi proliferasi dan diferensiasi sel yang abnormal.  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme gen mTOR rs 2536 dan rs 2295080 serta ekspresi ER, PR, HER-2 dan Ki-67 pada penderita kanker payudara di Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini adalah penelitian laboratorium berjenis deskriptif observasional dengan teknik PCR-RFLP menggunakan enzim EcoRI dan FokI terhadap 33 penderita kanker payudara berdasarkan metode purposive sampling. Polimorfisme gen mTOR rs 2536 paling banyak terdapat pada genotip mutan homozigot (CC) yaitu terdapat pada 27 orang (81,8%) dengan frekuensi alel C sebesar 89,4% sementara alel T hanya 10,6%. Genotip yang paling banyak ditemukan pada polimorfisme gen mTOR rs 2295080 adalah wild type (TT) yang  terdapat pada 19 orang (57,6%) dengan frekuensi alel T sebesar 63,6% sementara alel G sebanyak 36,4%. Data dari bagian Patologi Anatomi menunjukkan adanya kecendrungan meningkatnya ekspresi Ki-67, ER, PR dan HER-2 pada polimorfisme gen mTOR rs 2536 dan rs 2295080. Polimorfisme gen mTOR rs 2536 (CC) pada kanker payudara lebih banyak dibanding polimorfisme gen mTOR rs 2295080 (GG)

    Hubungan Kecemasan dengan Nyeri Kepala Tipe Tegang pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Angkatan 2013

    No full text
    Nyeri kepala tipe tegang adalah nyeri kepala bilateral yang bersifat ringan hingga sedang, menekan, mengikat, disertai fotofobia atau fonofobia, tidak berdenyut, tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dan tidak terdapat mual atau muntah. Faktor risiko dari nyeri kepala tipe tegang bervariasi antara lain usia, jenis kelamin dan kecemasan. Mahasiswa kedokteran memiliki beban belajar yang cukup berat disertai kecemasan yang tinggi. Keadaan ini diduga memiliki hubungan dengan kejadian nyeri kepala tipe tegang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecemasan dengan nyeri kepala tipe tegang pada mahasiswa kedokteran. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel adalah semua mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya angkatan 2013 yang memenuhi kriteria inklusi. Hamilton Rating Scale for Anxiety digunakan untuk mendiagnosis kecemasan dan nyeri kepala tipe tegang didapatkan melalui wawancara menggunakan kriteria diagnosis menurut International Headache Society. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Penelitian melibatkan 244 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Terdapat subjek perempuan sebanyak 69,3% dan subjek laki-laki sebanyak 30,7%. 151 (61,9%) mahasiswa mengalami kecemasan dan 104 (42,6%) mahasiswa mengalami nyeri kepala tipe tegang. Subjek yang menderita nyeri kepala tipe tegang sebanyak 48,3% mengalami kecemasan dan 33,3% tidak mengalami gangguan kecemasan. Hasil uji chi square menunjukkan hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan nyeri kepala tipe tegang (p=0,030). Terdapat hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan nyeri kepala tipe tegang pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya angkatan 2013

    Dua Spesies Cacing Soil Transmitted Helminths pada Sayuran Selada (Lactuca sativa) Yang Dijual di Warung Makan pada Kecamatan Seberang Ulu II Palembang

    No full text
    Soil-Transmitted Helminths (STH) is a round intestinal worm whose life cycle requires soil. Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, hookworm sp and the prevalence in Indonesia currently range from 20-86%. Transmission of disease usually food-borne and un-hygienic behaviour. The purpose of this study was to identify the contamination of Soil-Transmitted Helminths (STH) eggs in lettuce (Lactuca sativa). This research has been conducted in Seberang Ulu II Palembang District in 2018. The research method was descriptive cross-sectional with laboratory tests using 0.2% NaOH and then examined under a microscope in June 2018 until January 2019. The sample in this study were 372 lettuce leaves from 31 food stalls, each of the food stalls is taken 12 lettuce leaves. The results were 9 eggs Ascaris lumbricoides (29%), 2 Hookworm sp eggs (6%), but not the Trichuris trichiura eggs. It conclued that there are two species, Ascaris lumbricoides and hookworms sp., of egg worms on lettuce fresh vegetables (Lactuca sativa). The distribution of STH egg positivity is classified as medium in the food stall.Soil Transmitted Helminths (STH) merupakan cacing bulat usus yang siklus hidupnya terutama pada media tanah. Cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Cacing tambang sp prevalensinya di Indonesia saat ini berkisar 20-86%. Penularan kecacingan terutama melalui makanan yang tidak bersih dan perilaku hidup yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi adanya kontaminasi telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH) pada sayuran selada (Lactuca sativa). Penelitian ini telah dilakukan di Kecamatan Seberang Ulu II Palembang tahun 2018. Metode penelitian adalah deskriptif cross sectional dengan uji laboratorium dengan pengendapan memakai NaOH 0,2% lalu diperiksa dibawah mikroskop pada bulan Juni 2018 sampai dengan Januari 2019. Sampel dalam penelitian ini adalah lalapan selada yang didapatkan sebanyak 372 batang daun selada dari 31 warung makan, masing-masing dari warung makan diambil 12 batang daun selada. Hasil penelitian ini ditemukan telur Ascaris lumbricoides sebanyak 9 sampel (29%), telur Cacing tambang sp sebanyak 2 sampel (6%), namun telur cacing Trichuris trichiura tidak ditemukan. Kesimpulan didapatkan dua spesies telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH) yaitu telur Ascaris lumbricoides dan Cacing tambang sp pada sayuran segar selada (Lactuca sativa). Sebaran kepositifan telur STH persentasenya tergolong sedang di warung makan tersebut

    0

    full texts

    242

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇