Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
Pengembangan Media Beberan Jual Beli untuk Melatih Kecakapan Literasi Numerasi Siswa Tunarungu
This study aims to determine the characteristics of the sale and purchase disclosure media to be developed, to test the feasibility of the buying and selling disclosure media, and to test the effectiveness of the use of buying and selling disclosure media on the results of students' numeracy literacy skills. This type of research is Research and development (R & D). The product of development in this research is the media of buying and selling information, namely the development of buying and selling statements to train numeracy literacy skills. The research design using the ADDIE approach was developed by Dick and Carry. To design a learning system with 5 development phases including: Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery and Evaluations with qualitative and quantitative data analysis. The development of buying and selling information media was carried out at SLBN Seduri Mojokerto in August-September in the odd semester of the 2021/2022 academic year. The data sources for this research were 4th grade deaf students. The results of expert validation in this development research obtained a validity percentage of 82, 3, the development of the media for selling and selling, the student response value was obtained at 78, the results of the analysis obtained good results. So it can be concluded that the results of the media disclosure of buying and selling are effectively used.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik media beberan jual beli yang akan di kembangkan, menguji kelayakan dari media beberan jual beli, serta menguji efektifitas penggunaan media beberan jual beli terhadap hasil kemampuan literasi numerasi siswa. Jenis penelitian ini adalah Research and development (R & D). Produk pengembangan dalam penelitian ini adalah media beberan jual beli yaitu pengembangan dari beberan jual beli untuk melatih kecakapan literasi numerasi. Rancangan penelitian menggunakan pedekatan ADDIE dikembangkan oleh Dick and Carry. Untuk merancang sistem pembelajaran dengan 5 fase pengembangan meliputi: Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery dan Evaluations dengan analisis data kualitatif dan kuatitatif. Pengembangan media beberan jual beli dilakukan di SLBN Seduri Mojokerto pada bulan Agustus-September semester ganjil tahun ajaran 2021/2022, Sumber data penelitan ini adalah siswa tunarungu kelas 5 berjumlah 4. Hasil validasi ahli yang pada penelitian pengembangan ini diperoleh persentasi validitas nya sebesar 82,3, pengembangan media beberan jual beli diperoleh nilai respon siswa sebesar 78, hasil analisis diperoleh hasil yang baik. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil media beberan jual beli efektif digunakan
Pemanfaatan Literacy Cloud Berbasis Google Clasroom untuk Meningkatkan Literasi Membaca Murid di Masa Pandemi
The aim of this research is to find out whether cloud literacy based on Google Classroom can improve the reading literacy of students at SDN Pejaten Timur 01. This research uses the Classroom Action Research (PTK) method which is carried out in two cycles. Data collection was carried out using questionnaires, written test techniques and documentation. The collected data was processed descriptively qualitatively and quantitatively. The results of research at cognitive level 1, 29 students in class 5D (93.55%) were able to find and retrieve explicit information in the text and make simple interpretations and 6.45% (2 people) were not able. At cognitive level 2, as many as 28 people (90.32%) were able to make interpretations of the implicit information in the text; make conclusions from the results of integrating several pieces of information in a text, and as many as 3 people (9.68%) were not able to. At level 3, only 13 (41.94%) class 5D students were able to integrate some information across texts; evaluate the content, quality, method of writing a text, and be reflective about the content of the text; the remaining 58.06% (18 students) are not yet capable. The results of the student questionnaire showed that the use of literacy cloud as a reading literacy medium during the pandemic was acceptable.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah literacy cloud berbasis Google Clasroom dapat meningkatkan literasi membaca murid SDN Pejaten Timur 01. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, teknik tes tulis dan dokumentasi. Data yang terkumpul diolah secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian di level kognitif 1, murid kelas 5D sebanyak 29 orang (93,55%) sudah mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks serta membuat interpretasi sederhana dan 6,45 % (2 orang) belum mampu. Di level kognitif 2, sebanyak 28 orang (90,32%) sudah mampu membuat interpretasi dari informasi implisit yang ada dalam teks; membuat simpulan dari hasil integrasi beberapa informasi dalam suatu teks, serta sebanyak 3 orang (9,68%) belum mampu. Pada level 3, baru 13 orang (41,94%) murid kelas 5D yang sudah mampu mengintegrasikan beberapa informasi lintas teks; mengevaluasi isi, kualitas, cara penulisan suatu teks, serta bersikap reflektif terhadap isi teks; sisanya 58,06 % (18 murid) belum mampu. Hasil angket pada murid menunjukkan pemanfaatan literacy cloud sebagai media literasi membaca di masa pandemik dapat diterima
Analisis Kualitas Butir Soal dan Abilitas Siswa pada Asesmen Madrasah Ibtidaiyah dengan Rasch Model
Item analysis is very important because it can help teachers to find out whether the measurement tools given to students can measure students' abilities. Some things that need to be analyzed from the questions and student learning outcomes are the suitability of the items, the level of difficulty, and also the abilities of students. So this article will discuss it. This research is a quantitative descriptive evaluative research. The research subjects were students' answers to questions on Madrasah Assessment in Social Sciences. Data analysis of student learning outcomes was carried out using the Winstep 3.73 application. The results of this study note that the IPS Assessment questions have compatibility with the fit characteristics because they can meet at least one of the three criteria that have been set. Then the questions have varying levels of difficulty because three questions fall into the category of too difficult and too easy. Furthermore, if seen from the student's ability to answer the questions, abnormal patterns were found, so the teacher needs to review the student's learning outcomes.Analisis soal merupakan hal yang sangat penting karena membantu guru untuk mengetahui apakah alat pengukuran yang diberikan kepada siswa benar mampu mengukur kemampuan siswa. Beberapa hal yang perlu dianalisis dari soal dan hasil belajar siswa adalah kesesuaian butir soal, tingkat kesukaran, dan abilitas siswa. Penelitian ini adalah penelitian evaluatif deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah jawaban siswa terhadap soal Asesmen Madrasah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Analisis data hasil belajar siswa tersebut dilakukan dengan menggunakan aplikasi Winstep 3.73. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa soal asesmen Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki kesesuaian dengan karakteristik fit karena mampu memenuhi minimal satu dari tiga kriteria yang sudah ditetapkan. Soal memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi yaitu tiga soal masuk pada kategori terlalu sulit, dan tiga soal masuk kategori terlalu mudah. Dilihat dari abilitas siswa dalam menjawab soal ditemukan adanya pola-pola yang tidak normal sehingga guru perlu melakukan peninjauan kembali terhadap hasil belajar siswa
Read Aloud pada Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Literasi Siswa Lambat Belajar
The research was conducted to test of the read-aloud method in increasing the literacy of slow-learning students in elementary schools through differentiated learning. This type of research uses experimental methods. The research method used is pre-experimental design. The research was designed using a one-group pre-test post-test design. In the research, a diagnostic test was carried out at the beginning of learning, and then treatment was carried out using the read-aloud method during learning. At the end of the research, a final test was given to determine the learning outcomes. Data collection techniques use observation, tests, and documentation. The research subjects were slow-learning students in class II of Tunjung 1 State Elementary School, Bangkalan Regency. Using a two-sample F-test for variances, three students with special needs were identified as still very low in reading comprehension, with an average diagnostic score of 11.11%. The initial hypothesis is that there will be an increase in the literacy of slow-learning students through the read-aloud method. The research results show that the significance level value of the data is smaller than the significance level value (0.050), namely 0.003. It is known that the significance level value (α) = 0.003 < 0.050, meaning that the hypothesis of this research can be proven and accepted. The read aloud method is believed to be able to improve the literacy skills of slow learning students and can be used as a differentiated learning method in the elementary schools studied.Penelitian dilakukan untuk menguji metode read aloud dalam peningkatan literasi siswa lambat belajar di sekolah dasar pada pembelajaran berdiferensiasi. Jenis penelitian menggunakan penelitian experimen. Metode penelitian yang digunakan adalah Pre-eksperimental Design. penelitian dirancang menggunakan one-group pre-test post-test design. Dalam penelitian dilakukan tes diagnostik pada awal pembelajaran, kemudian dilakukan treatment dengan menerapkan metode read aloud dalam pembelajaran. Pada akhir penelitian diberi tes akhir untuk mengetahui hasil pembelajaran. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Subyek penelitian siswa lambat belajar kelas II Sekolah Dasar Negeri Tunjung 1 Kabupaten Bangkalan. Dengan menggunakan F-test two-sample for variances, 3 orang siswa berkebutuhan khusus teridentifikasi masih sangat rendah dalam memahami bacaan, dengan rata-rata nilai diagnostik sebesar 11,11%. Hipotesa penelitian ini adalah bahwa read aloud dapat meningkatkan literasi siswa yang mengalami lambat belajar. Hasil penelitian menunjukkan nilai taraf signifikansi data lebih kecil dari nilai taraf signifikansi (0,050) yaitu 0,003. Diketahui bahwa nilai taraf signifikansi (α) = 0,003 < 0,050, artinya bahwa hipotesa penelitian ini dapat dibuktikan dan diterima. Metode read aloud diyakini dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa lambat belajar dan dapat digunakan sebagai metode pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar yang diteliti
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Berbasis Digital dalam Menganalisis Struktur dan Kebahasaan Teks Prosedur
The implementation of differentiated learning is a new insight into realizing learning that is centered on student needs. However, teachers are still confused about implementing it in learning. This research aims to describe the implementation of digital-based differentiated learning in analyzing the structure and language of procedural texts. This research attempts to describe in detail the forms and responses of students to the implementation of digital-based differentiated learning. The method used in this research is the descriptive method. The data in this research were obtained from observations of the learning process, initial learning test, questionnaires filled out by students via google form, and interviews with class VII.3 students at State Middle School 1 Parepare after participating in the lesson. The results of the data analysis show that the implementation of digital-based differentiated learning can be applied to learning to analyze the structure and language of procedural texts. One way that can be done is to integrate digital-based differentiated learning with the quantum learning learning model. Through this implementation, students assess that learning to analyze the structure and language of procedural texts is fun, so they are more enthusiastic about learning. Apart from that, students consider that the implementation of digital-based differentiated learning is worth continuing.Implementasi pembelajaran berdiferensiasi merupakan wawasan baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan murid. Dalam pelaksanaannya, guru masih bingung mengimplementasikan dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implementasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital dalam menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur. Penelitian ini berupaya menggambarkan secara detail bentuk dan respons murid terhadap implementasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi proses pembelajaran, tes awal pembelajaran, kuesioner yang diisi oleh murid melalui google form, dan wawancara kepada rekan guru dan murid kelas VII.3 Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Parepare setelah mengikuti pembelajaran. Hasil analisis data menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital dapat diterapkan dalam pembelajaran menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital dengan model pembelajaran Quantum Learning. Melalui implementasi pembelajaran tersebut, murid menilai pembelajaran menganalisis struktur dan kebahasaan teks prosedur menyenangkan sehingga mereka lebih antusias belajar. Selain itu, murid menilai bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis digital layak dilanjutkan penerapannya
Pengembangan Media “Wayang Si Dupan” untuk Pembelajaran Siklus Hidup Hewan di Sekolah Dasar
Each student has a different character. Therefore, teachers are required to be able to create learning that can meet students' diverse learning needs. When studying Animal Life Cycles, the teacher used video learning media, but at that time only children with visual and auditory learning styles were able to follow the lesson well, while children with kinesthetic learning styles felt bored and ended up making noise and disturbing other friends. Based on this problem, the teacher finally developed his learning media by creating Wayang Si Dupan media. This development research aims to test the validity and effectiveness of the Wayang Si Dupan media in learning animal life cycles in class 4 at SDN Mangunharjo 7, Probolinggo City. This research uses a 4D model, namely define, design, development, and dissemination. Material expert validation results for Wayang Si Dupan media obtained an average of 87% and validation results from design experts obtained an average of 91%. Students' learning outcomes in the Animal Life Cycle material increased by 78% after they used the Wayang Si Dupan media. This shows that Si Dupan Wayang Media is effective in improving student learning outcomes.Setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat menciptakan pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang juga beragam. Pada saat pembelajaran Siklus Hidup Hewan, guru menggunakan media pembelajaran video, namun pada saat itu hanya anak dengan gaya belajar visual dan auditori yang mampu mengikuti pembelajaran dengan baik, sedangkan anak dengan gaya belajar kinestetik merasa bosan dan akhirnya membuat gaduh dan mengganggu teman lainnya. Berdasarkan masalah tersebut guru akhirnya melakukan pengembangan media pembelajarannya dengan membuat media Wayang Si Dupan. Penelitian pengembangan ini memiliki tujuan untuk menguji kevalidan dan keevektifan media Wayang Si Dupan dalam pembelajaran siklus hidup hewan pada kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Mangunharjo 7 Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan model 4D, yaitu define, design, development, dan disemination. Hasil validasi ahli materi terhadap media Wayang Si Dupan memperoleh rata-rata sebesar 87% dan hasil validasi dari ahli desain dieroleh rata-rata sebesar 91%. Hasil belajar peserta didik dalam materi Siklus Hidup Hewan mengalami peninggkatan 78% setelah mereka menggunakan media Wayang Si Dupan. Hal ini menunjukkan bahwa Media Wayang Si Dupan efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik
Pengaruh Kegiatan Plugged dan Unplugged Terhadap Berpikir Komputasional Murid SMP
Computational thinking has become a major focus in education in many countries, including Indonesia. As a foundation for developing students’ computational thinking, informatics learning can be done using unplugged and plugged methods. Students are still at the basic stage of Computational Thinking in Informatics learning. Based on several previous studies obtained conflicting results regarding the influence of plugged and unplugged methods on students’ computational thinking. The present study endeavors to assess the impact of both plugged and unplugged activities on the computational thinking proficiencies of junior high school students. This quasi-experimental research enlisted two 7th-grade cohorts comprising a cumulative total of 64 students. Each cohort, comprising 32 students, was assigned to a control group (unplugged activities) and an experimental group (plugged activities). Based on pretest and posttest tests in groups, this research reveals that both unplugged and plugged activities have a big influence on improving junior high school students' computational thinking skills. Meanwhile, the results of the Mann-Whitney test show that there is no difference between the effect of the plugged method and the unplugged method on computational thinking skills. This research indicates that teachers can choose one of the Informatics learning methods, either plugged or unplugged, or combine the two methods.Berpikir komputasional menjadi fokus utama dalam pendidikan di banyak negara, termasuk di Indonesia. Pembelajaran Informatika sebagai fondasi pengembangan berpikir komputasional murid dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode unplugged dan plugged. Dimana murid masih pada tahap dasar terhadap Berpikir Komputasional dalam pembelajaran Informatika. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu memperoleh hasil yang bertentangan terkait pengaruh metode plugged dan unplugged terhadap keterampilan komputasional murid. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kegiatan plugged dan unplugged terhadap berpikir komputasional murid SMP. Penelitian kuasi eksperimen ini melibatkan dua kelas 7 dengan total 64 murid sebagai sampel. Selanjutnya, masing-masing kelas terdiri dari 32 murid yang disebut sebagai kelas kontrol (unplugged) dan kelas eksperimen (plugged). Berdasarkan uji pretest dan posttest dalam kelompok, penelitian ini mengungkapkan bahwa baik kegiatan unplugged maupun plugged berpengaruh besar dalam peningkatan keterampilan berpikir komputasional murid SMP. Sementara itu, hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara pengaruh metode unplugged dan metode plugged terhadap keterampilan berpikir komputasional. Hasil penelitian in mengindikasikan bahwa guru dapat memilih salah satu metode pembelajaran Informatika baik unplugged maupun plugged atau mengombinasikan kedua metode tersebut
Media Bola Pancasila dengan Team Games Tournament dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila
Research problems include learning outcomes that are less than the minimum completion criteria (KKM), strengthening the concept of Pancasila values which is still low, and learning that is less active, interactive and enjoyable. The aim of the research is to create active, interactive and fun learning and improve the learning outcomes of class VI students so that they achieve the KKM. Pancasila Ball (BOCA) is a learning prop that contains the values of Pancasila Principles. The learning model uses Team Games Tournament (TGT). The research method is Classroom Action Research (PTK) with 3 cycles, pre-cycle, cycle-1 and cycle-2. Research techniques use observation, written tests, surveys, and reflection sheets. The research was carried out in class 6B with a total of 29 students (15 boys and 14 girls). Student completion results increased in each cycle, namely, Pre-cycle 1 child (3%), Cycle-1: 8 children (28%), and Cycle-2: 21 children (72%). The results of the research state that the use of BOCA in learning Pancasila Values material for class VI SDN Panjang 2 can create active, interactive and fun learning and improve student learning outcomes by using Bola Pancasila Media (BOCA) with the Team Games Tournament (TGT) model.Masalah penelitian meliputi ketuntasan hasil belajar kurang dari kriteria ketuntasan minimal (KKM), penguatan konsep nilai-nilai Pancasila masih rendah, dan pembelajaran yang kurang aktif, interaktif, dan menyenangkan. Tujuan penelitian adalah menciptakan pembelajaran yang aktif, interaktif dan menyenangkan serta meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VI sehingga mencapai KKM. Bola Pancasila (BOCA) merupakan alat peraga pembelajaran yang berisi nilai-nilai Sila Pancasila. Model pembelajaran menggunakan Team Games Tournament (TGT). Metode penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 3 siklus, prasiklus, siklus-1 dan siklus-2. Teknik penelitian menggunakan observasi, tes tulis, survei, dan Refleksi. Penelitian dilaksanakan di kelas 6B dengan jumlah 29 siswa (15 laki-laki dan 14 perempuan). Hasilnya, ketuntasan siswa mengalami kenaikan pada setiap siklus yaitu, prasiklus 1 anak (3%), Siklus-1: 8 anak (28%), dan siklus-2: 21 anak (72%). Hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan BOCA dalam pembelajaran materi Nilai-nilai Sila Pancasila kelas VI SDN Sepanjang 2 dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, interaktif, dan menyenangkan serta meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan Media Bola Pancasila (BOCA) dengan model Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran Project Based On Alquran (PBQ) dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Kompetensi Kognitif Pada Materi IPA
The aim of this research is to explain the PBQ learning steps in grade IV science material and determine the effectiveness of the PBQ model on students’ cognitive learning outcomes and P5 profiles. This research is quantitative research with pre-experimental designs. Data in the form of PBQ steps, cognitive learning outcomes, and P5 character. The data analysis technique uses the paired t test and descriptive percentages. The research results show that implementing learning using the PBQ model on science material consists of four steps, namely problem determination, research study, research activities, and reporting. The application of PBQ learning is effective on cognitive competence as an indicator of P5 because t count > t table (3.045 > 2.069), then Ho is rejected. Achieving the character of Strengthening the Pancasila Student Profile in SD/MI science material received a score of 81.44074 (good) which has exceeded the KKTP 75. The indicators for each dimension P5 in the dimension of having faith, being devoted to God Almighty (YME), and having noble morals received a score 82.72%, global diversity (83.95%), mutual cooperation (76.54%), and independence (82.72%).Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan langkah pembelajaran PBQ pada materi IPA kelas IV dan mengetahui efektivitas model PBQ terhadap hasil belajar kognitif dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pre-experimental desain. Data berupa langkah PBQ, hasil belajar kognitif, dan karakter Pancasila. Teknik analisis data menggunakan pair t test dan deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan model PBQ pada materi IPA terdiri dari empat langkah yaitu penentuan masalah, kajian riset, aktivitas riset, dan pelaporan. Penerapan pembelajaran PBQ efektif terhadap kompetensi kognitif sebagai indikator P5 karena t hitung > t tabel (3,045 > 2,069), maka Ho ditolak. Pencapaian karakter Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada materi IPA SD/ MI memperoleh skor 81,44074 (baik) telah melampaui KKTP 75. Indikator masing-masing dimensi P5 pada dimensi Beriman, bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa (YME), dan berakhlak mulia mendapat skor 82,72%, berkebinekaan global (83,95%), gotong royong (76,54%), dan mandiri (82,72%)
Developing Graded English Tasks (GET) for Differentiated English Instruction at Junior High School
Learning that accommodates the needs of all students is necessary in the classroom. However, in schools that provide inclusive education, the needs of special needs students are often overlooked. In this study, differentiated instruction using graded tasks was chosen to overcome the problem. This study aims to develop graded English tasks (GET) to accommodate the different readiness to learn and needs of special needs students in the classroom. This research is a Research and Development (R&D) study conducted using the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Data in this study were collected through questionnaires, performance assessments, reflections, observations, and interviews. Furthermore, quantitative data in this study were analyzed with descriptive statistics. Qualitative data were analyzed using Bogdan & Biklen's approach. From the expert judgment results, Graded English Tasks (GET) received scores ranging from 4.17 to 5.00 which means that the GET developed is good and ready to be used in differentiated instruction in the classroom. The use of GET is proven to accommodate differences in students' readiness to learn, increase students' engagement in learning, and improve students' speaking and presentation skills. GET can be used in differentiated instruction in junior high school English classes.Pembelajaran yang mengakomodasi kebutuhan semua siswa sangat diperlukan di kelas. Namun, di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, kebutuhan siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih sering terabaikan. Dalam penelitian ini, pembelajaran berdiferensiasi dengan menggunakan aktivitas berjenjang dipilih untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan aktivitas bahasa Inggris berjenjang atau disebut Graded English Tasks (GET) untuk mengakomodasi perbedaan kesiapan belajar siswa dan kebutuhan siswa ABK di kelas. Penelitian ini adalah Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) yang dilakukan dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui angket, penilaian kinerja, refleksi, observasi, dan wawancara. Selanjutnya, data kuantitatif dalam penelitian ini dianalisa dengan statistik deskriptif. Data kualitatif dianalisa dengan pendekatan Bogdan & Biklen. Dari hasil penilaian ahli, Graded English Tasks (GET) mendapatkan nilai antara 4.17 sampai 5.00 yang berarti GET yang dikembangkan baik dan siap untuk digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Penggunaan GET terbukti dapat mengakomodasi perbedaan kesiapan belajar siswa, meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, dan meningkatkan keterampilan berbicara dan presentasi siswa. GET dapat digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi di kelas Bahasa Inggris Sekolah Menengah Pertama