Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar
Not a member yet
    385 research outputs found

    Pengaruh Penerapan Model Radec dalam Pembelajaran Membaca Buku Fiksi Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa

    Full text link
    Berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam menghadapi tantangan global, tetapi kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan model RADEC dalam pembelajaran membaca buku fiksi terhadap kemampuan berpikir kreatif pada siswa SD, dengan mengintegrasikan model RADEC dalam proses pembelajarannya. Metodologi studi ini melibatkan pendekatan kuantitatif dan desain penelitian eksperimen semu (quasi-eksperimental). Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas III di SDN Sukarasa 01 Kab. Bogor. Pengumpulan data untuk kemampuan berpikir kreatif siswa dilakukan melalui implementasi tes. Analisis statistik melalui uji-t menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam kemampuan berpikir kreatif antara siswa yang belajar menggunakan model RADEC dan pembelajaran langsung. Nilai signifikansi (Sig. two-tailed) < 0,001 dan rata-rata nilai N-gain sebesar 0,60 menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kreatif dalam kategori sedang. Uji regresi linear sederhana mengungkap bahwa model RADEC berkontribusi sebesar 48,9% terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa. Temuan ini sangat penting dalam dunia pendidikan, khususnya dalam menjawab tantangan abad ke-21 yang menuntut pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran model RADEC menjadi strategi efektif untuk memperkuat daya pikir siswa, terutama dalam mendorong ide orisinal, keluwesan berpikir, dan kemampuan memecahkan masalah secara kreatif. Mmbaca buku fiksi non-teks pelajaran dipandang sebagai stimulus potensial dalam memperkaya imajinasi serta mendukung pembentukan pola pikir kreatif siswa, sehingga layak menjadi fokus penelitian berikutnya.Creative thinking is an important skill in facing global challenges, but it receives less attention in learning.This study aims to analyze the extent to which the habit of reading non-textbook fiction influences the development of creative thinking skills in elementary school students by integrating the RADEC learning model into the instructional process. The methodology employed in this research involves a quantitative approach and a quasi-experimental design. The study population consists of all third-grade students at SDN Sukarasa 01, Bogor Regency. Data on students' creative thinking skills were collected using open-ended tests. The t-test statistical analysis showed a significant difference in creative thinking skills between students taught using the RADEC model and those receiving Direct Instruction. The significance value (Sig. two-tailed) was < 0.001. An average N-gain score of 0.60 indicates a moderate improvement in creative thinking. Simple linear regression revealed that the RADEC model contributed 48.9% to students’ creative thinking enhancement. These results have meaningful implications in education, especially in meeting 21st-century demands for higher-order thinking. The RADEC-based approach offers an effective way to boost students’ cognitive skills, particularly in generating original ideas, flexible thinking, and solving problems creatively. The habit of reading non-textbook fiction is viewed as a potential driver in enriching imagination and nurturing creative thought patterns, making it worth exploring in future studies

    Integrasi Nilai Kepemimpinan dan Karakter melalui Pengembangan Olahraga Petanque di Sekolah Menengah Pertama

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sinergisitas dan integritas kepemimpinan dalam membangun semangat olahraga di lingkungan sekolah menengah pertama, dengan fokus pada pengembangan olahraga Petanque di SMP Negeri 3 Labuhanhaji Barat, Aceh Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah serta partisipatif dari guru PJOK menjadi faktor kunci dalam membentuk budaya olahraga berbasis karakter. Olahraga Petanque, yang relatif baru di lingkungan sekolah, mampu menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama. Temuan ini memperluas wacana pendidikan karakter melalui olahraga alternatif yang inklusif dan kontekstual. Penelitian ini merekomendasikan perlunya kebijakan yang mendukung diversifikasi cabang olahraga di sekolah, pelatihan guru PJOK, dan kolaborasi lintas sektor untuk penguatan ekosistem olahraga pendidikan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang tepat dapat menjadi pengungkit strategis dalam reformasi pendidikan karakter melalui olahraga di sekolah.This study aims to examine the synergy and integrity of leadership in fostering a spirit of sports at the junior secondary school level, with a focus on the development of Petanque at SMP Negeri 3 Labuhanhaji Barat, South Aceh. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and documentation. The findings show that transformational leadership by the principal and participative leadership by the physical education teacher are key factors in shaping a character-based sports culture. Petanque, a relatively new sport in the school environment, has proven to be an effective medium for instilling values such as discipline, responsibility, and teamwork. These findings broaden the discourse on character education through inclusive and contextual alternative sports. The study recommends policies that support the diversification of sports disciplines in schools, professional development for physical education teachers, and cross-sector collaboration to strengthen the educational sports ecosystem. The implications of these findings suggest that appropriate leadership styles can serve as a strategic lever for character education reform through sports in schools

    Multimedia Interaktif Berbasis Augmented Reality untuk Meningkatkan Problem Solving Skills dan Literasi Digital Siswa

    Full text link
    The aim of this research is to develop interactive multimedia based on augmented reality to improve problem solving skills and digital literacy of elementary school students. The research method used is Research and Development (R&D) with the ADDIE model. The research sample consisted of 35 fifth grade students at SDN Batok Bali and SDN 1 Pakuncenwho were selected using a purposive sampling technique. The data collection techniques used in this research were tests and questionnaires. The research results show: (1) the analysis stage was carried out with media analysis, curriculum analysis and material analysis; (2) the design stage is carried out by designing prototypes and research instrumens; (3) the development stage is carried out by developing prototypes and research instrumens, validity and reliability of instrumens and improving prototypes; (4) the implementation stage is carried out through interactive multimedia trials based on augmented reality; (5) the evaluation stage is carried out by analyze problem solving skills and digital literacy data using N-gain scores and analysis of student response questionnaires which shows that the level of practicality of the product is categorized as very practical. The conclusion of this research is that interactive multimedia based on AR can improve problem solving skills and digital literacy of elementary school students.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan multimedia interaktif berbasis augmented reality untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan literasi digital siswa sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Subjek penelitian terdiri dari 35 siswa kelas V SDN Batok Bali dan SDN 1 Pakuncen yang diambil melalui teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes dan angket. Adapun hasil penelitian menunjukkan: (1) tahap analisis dilaksanakan dengan analisis media, analisis kurikulum dan analisis materi; (2) tahap design dilaksanakan dengan merancang prototype serta instrumen penelitian; (3) tahap development dilaksanakan dengan pengembangan prototype dan instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas instrumen serta perbaikan prototype; (4) tahap implementation dilaksanakan melalui uji coba multimedia interaktif berbasis augmented reality; (5) tahap evaluation dilaksanakan dengan analisis serta analisis data keterampilan pemecahan masalah dan literasi digital menggunakan N-gain score dan analisis angket respon siswa yang menunjukkan bahwa tingkat kepraktisan produk dikategorikan sangat praktis. Simpulan penelitian ini adalah multimedia interaktif berbasis AR dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan literasi digital siswa sekolah dasar

    Pengembangan E-Modul Interaktif IPA pada Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Berpikir Kreatif dan Mengembangkan Kreativitas Siswa

    Full text link
    This research aims to improve creative thinking skills and develop students' creativity through differentiated learning using the Science Interactive E-Module on Human Respiratory System Disorders and Diseases. This research and development uses ADDIE. The study was conducted at SMPN Unggulan Sindang with grade VIII students, 25 people in the control group and 25 in the experimental class. Data collection techniques include diagnostic assessments, validation sheets, pretest and posttest questions, questionnaires, observation sheets, product assessment sheets, and interviews. The experimental class diagnostic test results showed that the student's learning style was 50% visual, 27% audiovisual, and 9% kinesthetic. Researchers created an interactive e-module of IPA by applying a differentiation strategy of content, processes, and products. The study results in the N-Gain 78.10 experimental class showed that this module was effective, and the paired t-test 0.001 was smaller than 2.01 at the significance level of 0.05, meaning there was a significant difference between the pretest and post-test scores. It can be concluded that using interactive e-modules can improve students' creative thinking. Students' creativity produces various products, namely digital and non-digital posters, tote bags, clothes, pamphlets, banners, and videos. This shows that the use of Interactive E-Modules can develop students' creativity.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan mengembangkan kreativitas siswa melalui pembelajaran berdiferensiasi menggunakan E-Modul Interaktif IPA pada Materi Gangguan dan Penyakit Sistem Pernapasan Manusia. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan ADDIE. Penelitian dilaksanakan di SMPN Unggulan Sindang dengan subjek siswa kelas VIII terdiri 25 orang kelas kontrol dan 25 orang kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data menggunakan asesmen diagnostik, lembar validasi, soal pretest dan postest, angket, lembar observasi, lembar penilaian produk dan wawancara. Hasil tes diagnostik kelas eksperimen menunjukkan gaya belajar siswa 50% visual, 27% audiovisual, 9% kinestetik. Peneliti membuat e-modul interaktif IPA dengan menerapkan strategi diferensiasi konten, proses, dan produk. E-Modul kemudian divalidasi oleh 2 validator (1 guru informatika dan 1 guru IPA) dan hasil validasinya 3,78 termasuk kategori baik dan layak digunakan. Hasil penelitian pada kelas eksperimen N-Gain 78,10 menunjukkan modul ini efektif dan paired t test 0,001 lebih kecil dari 2,01 pada taraf signifikansi 0,05,  berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Dapat disimpulkan penggunaan e-modul interaktif dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa. Kreativitas siswa menghasilkan variasi produk yaitu poster digital dan nondigital, totebag, baju, pamflet, banner, dan video. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan E-Modul Interaktif dapat mengembangkan kreativitas siswa

    Pengembangan Media Scratch Berbasis Active Learning pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

    Full text link
    This research aims to develop Scratch media using active learning strategies as a catalyst for learning, teaching mathematics learning in elementary schools, through the development of Scratch media with active learning strategies students have a lot of active involvement resulting in increased numeracy literacy competency achievement. Scratch media development with active learning strategies provides a stimulus for learning for transfer, to master knowledge and skills not only limited to mastery of learning materials. This study used qualitative methods with a design-based research approach. Data collection techniques with observation, documentation and in-depth interviews to explore information more deeply and thoroughly. The data analysis technique used was Miles and Huberman triangulation. The results showed that the use of Scratch media had a positive impact on students’ understanding of multiplication concepts. Scratch media integrated with active learning strategies in mathematics learning in elementary schools helps students visualize the concept of multiplication, increase learning motivation, encourage active participation in learning, stimulate and have more impact so that it has implications for increased learning outcomes. It can be concluded that the development of scratch media based on active learning in learning mathematics in elementary schools has an impact on increasing learning outcomes and learning motivation.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media Scratch menggunakan strategi pembelajaran active learning sebagai katalisator belajar, mengajar pembelajaran matematika di sekolah dasar, melalui pengembangan media Scratch dengan strategi active learning peserta didik memiliki banyak keterlibatan secara aktif menghasilkan peningkatan capaian kompetensi literasi numerasi. Pengembangan media Scratch dengan strategi active learning memberikan stimulus learning for transfer, untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan tidak hanya sebatas penguasaan materi pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan design based research. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam  untuk menggali informasi lebih mendalam dan menyeluruh dalam menyingkap hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah triangulasi Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media Scratch memiliki dampak positif terhadap pemahaman konsep perkalian peserta didik. Media Scratch yang terintegrasi strategi active learning pada pembelajaran matematika di sekolah dasar membantu peserta didik memvisualisasikan konsep perkalian, meningkatkan motivasi belajar, mendorong partisipasi aktif dalam pembelajaran, menstimulus dan berdampak lebih sehingga berimplikasi pada capaian pembelajaran yang meningkat. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan media scratch berbasis active learning pada pembelajaran matematika di sekolah dasar berdampak terhadap peningkatan capaian belajar dan motivasi belajar siswa

    Pengembangan Interaktif Mobile Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Numerasi Siswa Kelas V SD

    Full text link
    This study aims to develop constructivist-based interactive mobile learning as a learning medium in mathematics in class V on simple fractions. The research method used is research development or R&D (Research and Development) with the 4-D model (Define, Design, Development, and Disseminate) chosen. In this study, using research subjects of class IV students at SDN Sawohan 1 with a total of 19 students. Analysis of the data used in the form of descriptive analysis. Data collection techniques used observation, tests (pretest and posttest), validation questionnaires (validation of media experts, material expert validation, teacher responses, and student responses), and documentation. The results showed that interactive mobile learning was stated to be very feasible or valid, with a score obtained from material experts of 95% and media experts of 85%. In its use, interactive mobile learning gets a very good response from teachers and students with a score on the practicality test of the teacher's response of  95,66% which is stated to be very practical. The results for student responses found a score of 91% which can be said to be interactive mobile learning attractive to students. This certainly has an impact on students' understanding of simple fraction material with an average pretest score of 83.3 and 90.5 posttest. So interactive mobile learning can help students learn mathematics in elementary schools.Penelitian ini memiliki tujuan guna mengembangkan interaktif mobile learning berbasis konstruktivis sebagai media belajar pada mata pelajaran matematika di kelas V materi pecahan sederhana. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian pengembangan atau R&D (Research and Development) dengan model yang dipilih adalah 4-D (Define, Design, Development, dan Disseminate). Pada penelitian ini, menggunakan subjek penelitian siswa kelas V di SDN Sawohan 1 dengan jumlah siswa 19 orang. Analisis data yang digunakan berupa analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes (pretest dan posttest), angket validasi (validasi ahli media, validasi ahli materi, respon guru, dan respon siswa), dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaktif mobile learning dinyatakan sangat layak atau valid, dengan skor yang didapatkan dari ahli materi sebesar 95% dan ahli media sebesar 85%. Dalam penggunaannya, interaktif mobile learning mendapatkan respon yang sangat baik dari guru dan siswa dengan perolehan skor pada uji kepraktisan respon guru sebesar 95,66 % yang dinyatakan sangat praktis. Hasil untuk respon siswa didapati skor sebesar 91% yang dapat dikatakan interaktif mobile learning menarik bagi siswa. Hal ini tentu berdampak pada pemahaman siswa dalam materi pecahan sederhana dengan nilai rata-rata pretest 83,3 dan posttest 90,5. Sehingga interaktif mobile learning dapat membantu siswa dalam belajar matematika di sekolah dasar

    Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas 1 Melalui Model Pembelajaran NHT di Sekolah Dasar

    Full text link
    The implementation of the Numbered Head Together (NHT) learning model was carried out because the observation results showed that the speaking ability of grade 1 students at SDN 11 Indralaya had not yet reached the Minimum Completion Criteria (KKM). The use of the NHT model aims to improve the speaking ability of grade 1 students at SDN 11 Indralaya on the Indonesian Picture Story material. This research is a Classroom Action Research (CAR) model Kemmis and McTaggart, in 2 cycles. Each cycle consists of four stages, namely: planning, action, observation, and reflection. The subjects of this study consisted of 26 students. The results showed an increase in the success target from cycle I by 65.7% to 85.7% in cycle II. It can be concluded that the application of the NHT model can improve students' speaking ability.Penerapan model pembelajaran numbered head together (NHT) dilakukan karena hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan berbicara siswa kelas 1 di SDN 11 Indralaya belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Penggunaan model NHT berujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas 1 di SDN 11 Indralaya pada materi Bahasa Indonesia Cerita Bergambar. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan MC Taggart dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini terdiri dari 26 siswa. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan target keberhasilan dari siklus I sebesar 65,7% menjadi 85,7% pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model NHT dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa

    Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Warisan Budaya di Sekolah Dasar

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi Warisan Budaya di sekolah dasar. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu mengakomodasi gaya belajar yang beragam—visual, auditori, dan kinestetik—sehingga proses pembelajaran menjadi lebih inklusif dan efektif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga membentuk keterlibatan aktif, motivasi, dan kepercayaan diri peserta didik. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan individual dalam konteks Kurikulum Merdeka. Implikasi dari penelitian ini mendorong pengembangan profesional guru, dukungan kebijakan pendidikan, serta perlunya kajian lebih lanjut tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi di berbagai jenjang pendidikan.This study aims to analyze the implementation of differentiated instruction in improving student learning outcomes on Cultural Heritage topics in elementary schools. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that differentiated instruction effectively accommodates diverse learning styles—visual, auditory, and kinesthetic—making the learning process more inclusive and effective. This approach not only enhances academic achievement but also fosters active engagement, motivation, and student confidence. These results affirm the importance of student-centered learning strategies within the framework of the Merdeka Curriculum. The study implies the need for ongoing teacher professional development, supportive educational policies, and further research on the application of differentiated instruction across educational levels

    Internalisasi Nilai Karakter Toleransi Melalui Media Poster Keragaman pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar

    Full text link
    This study aims to develop a method for internalizing tolerance character values through diversity posters in Civic Education learning at the elementary school level. The research utilized the analysis, development, implementation, and evaluation model. The subjects of this study were 80 fifth-grade students from SD Negeri 42 Lubuklinggau, comprising 65 females and 25 males from diverse religious, cultural, and linguistic backgrounds. The instruments used included tolerance character observation sheets, validation questionnaires, practicality questionnaires, and essay test questions. Data were analyzed using Aiken’s V, percentage analysis, and paired sample tests. In the development stage, needs analysis, media selection, and poster design on religious diversity were conducted using Canva. Validity results showed an Aiken’s V score of 0.91, categorized as valid. The practicality of this method received a score of 88.49%, classified as highly practical. The effectiveness test indicated an increase in the average pretest score from 74.4750 to 77.6000 in the posttest, with a significance value (Sig. 2-tailed) of 0.000, less than 0.05. Observations of tolerance character showed an indicator of 79%, classified as high. Thus, this study produced a final product in the form of a valid, practical, and effective method for internalizing tolerance character values through diversity posters in Civic Education learning at the elementary school level.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode internalisasi nilai karakter toleransi melalui media poster keragaman dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah model pengembangan ADDIE (Analysis, Development, Implementation, dan Evaluation). Subjek penelitian ini melibatkan 80 siswa kelas V SD Negeri 42 Lubuklinggau, yang terdiri dari 65 perempuan dan 25 laki-laki dengan latar belakang agama, budaya, dan bahasa yang beragam. Instrumen yang digunakan meliputi lembar pengamatan karakter toleransi, angket validasi, angket kepraktisan, dan soal tes esai. Data dianalisis dengan Aiken’s V, persentase, dan paired sample test. Pada tahap pengembangan, dilakukan analisis kebutuhan, pemilihan media, dan perancangan poster keragaman agama menggunakan Canva. Hasil validitas menunjukkan skor Aiken’s V sebesar 0,91, yang dikategorikan valid. Kepraktisan metode ini mendapat skor 88,49%, yang dikategorikan sangat praktis. Uji efektivitas menunjukkan adanya peningkatan nilai pretest dari rata-rata 74,4750 menjadi 77,6000 pada posttest, dengan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) 0,000 (lebih kecil dari 0,05). Observasi karakter toleransi menunjukkan indikator sebesar 79%, yang termasuk kategori tinggi. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan produk akhir berupa metode internalisasi karakter toleransi melalui media poster keragaman dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang valid, praktis, dan efektif

    Dampak dan Tantangan Pembelajaran Coding Bagi Siswa Sekolah Dasar: A Systematic Literature Review

    Full text link
    Pembelajaran coding di sekolah dasar semakin penting dalam pengembangan keterampilan siswa abad ke-21, termasuk pemikiran logis, pemecahan masalah, dan kreativitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menelaah, dan menganalisis beragam dampak dan tantangan penerapan pembelajaran coding bagi siswa sekolah dasar mengacu pada hasil-hasil riset terdahulu. Metode penelitian menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Data hasil riset diperoleh dari basis data akademis yaitu Google Scholar, Jurnal terakreditasi SINTA, dan Scopus, yang dipubilkasi antara tahun 2020 hingga 2025. Analisis data artikel menggunakan metode prisma dengan 5 kriteria inklusi. Hasil penelitian terdapat 33 artikel yang kemudian dianalisis dan menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran coding disekolah dasar melalui Scratch, Robotic Coding, Unplugged Coding, Code.org, dan Augmented Reality. Dampak pembelajaran coding bagi siswa sekolah dasar meliputi peningkatan kemampuan berpikir komputasional, peningkatan kreativitas, kemampuan sains, perencanaan, peningkatan motivasi belajar, peningkatan keterampilan berpikir kritis, peningkatan pencapaian akademik, peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan literasi digital. Sementara tantangan yang paling banyak disebutkan adalah siswa kesulitan memahami konsep-konsep dasar pemrograman yang bersifat abstrak, seperti logika, algoritma, dan variabel, keterbatasan pelatihan guru dan infrastruktur, serta kurangnya keterlibatan orang tua. Kajian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam bentuk penyusunan kurikulum yang sesuai dengan karakteristik siswa, pelatihan guru secara berkelanjutan, penyediaan infrastruktur yang memadai, serta pelibatan orang tua dan masyarakat dalam mendukung proses pembelajaran.Coding education in elementary schools is increasingly important in developing 21st-century skills in students, including logical thinking, problem solving, and creativity. This study aims to identify, examine, and analyze the various impacts and challenges of implementing coding education for elementary school students based on previous research results. The research method used is Systematic Literature Review (SLR). Research data was obtained from academic databases, namely Google Scholar, SINTA-accredited journals, and Scopus, published between 2020 and 2025. Article data analysis used the PRISMA method with 5 inclusion criteria. The results of the study found 33 articles which were then analyzed and showed that the implementation of coding learning in elementary schools was through Scratch, Robotic Coding, Unplugged Coding, Code.org, and Augmented Reality. The impact of coding education on elementary school students includes improved computational thinking skills, increased creativity, improved science skills, planning skills, increased motivation to learn, improved critical thinking skills, improved academic achievement, improved problem-solving skills, and improved digital literacy. Meanwhile, the most frequently mentioned challenges were students' difficulty in understanding abstract programming concepts, such as logic, algorithms, and variables, limitations in teacher training and infrastructure, and a lack of parental involvement. This study emphasizes the importance of a comprehensive approach in the form of developing a curriculum that is tailored to student characteristics, providing ongoing teacher training, providing adequate infrastructure, and involving parents and the community in supporting the learning process

    372

    full texts

    385

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇