Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar
Not a member yet
385 research outputs found
Sort by
Pengembangan Modul Ajar IPAS Terintegrasi Numerasi untuk Meningkatkan Kemampuan Bernalar Kritis Siswa Fase C
This study aims to develop and evaluate the effectiveness of an integrated numeracy IPAS teaching module to enhance students'critical reasoning abilities. The research employed a Research and Development (R&D) approach with the Define, Design, and Development model, utilizing a One Group Pretest-Posttest Experimental Design scheme on 10 fifth-grade students of SDN 2 Cimanggu. Data collection methods included interviews, observations, teacher and student response questionnaires, and learning outcome tests. The developed teaching module achieved validity rates of 70.56% for media and 74.67% for content, categorized as "valid". The practicality of the module was highly rated based on teacher 81.00% and student 78.80% response questionnaires. Students' average critical reasoning ability was recorded at 52.5 in the pretest. After utilizing the integrated numeracy IPAS teaching module, there was a significant improvement, with average critical reasoning ability reaching 81.25. The N-Gain test results showed improvements in cognitive learning achievement 0.425 and critical reasoning ability reaching 0.6417, confirming that the integrated numeracy IPAS module has a significant positive impact. In conclusion, the integrated numeracy IPAS teaching module effectively enhances students' critical reasoning abilities, indicating potential for improving critical reasoning skills in the learning process.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas modul ajar IPAS terintegrasi numerasi untuk meningkatkan kemampuan bernalar kritis siswa. Metode research and development (R&D) dengan pendekatan Define, Design, and Development digunakan dalam penelitian ini, dan skema Desain Eksperimen One Group Pretest-Posttest pada 10 siswa kelas V SDN 2 Cimanggu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, angket respon guru dan siswa, serta tes hasil belajar. Modul ajar yang dikembangkan memperoleh tingkat kevalidan media dan materi sebesar 70,56% dan 74,67% dengan kategori “valid”. Kepraktisan modul dinilai tinggi berdasarkan angket respon guru 81,00% dan siswa 78,80%. Rata-rata kemampuan bernalar kritis siswa tercatat sebesar 52,5 pada pretest. Setelah menggunakan modul ajar IPAS terintegrasi numerasi, terjadi peningkatan yang signifikan dengan rata-rata kemampuan bernalar kritis mencapai 81,25. Hasil uji N-Gain menunjukkan peningkatan prestasi belajar kognitif 0,425 dan kemampuan bernalar kritis siswa sebesar 0,6417, menyatakan bahwa modul IPAS terintegrasi numerasi memberikan dampak positif yang signifikan. Kesimpulannya, modul ajar IPAS terintegrasi numerasi efektif dalam meningkatkan kemampuan bernalar kritis siswa, mengindikasikan potensi untuk digunakan dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis siswa
Dampak Pembelajaran Diferensiasi dan PBL Terhadap Keterampilan Literasi Sains Peserta Didik di Sekolah Terpencil
The science literacy skills of students in remote schools lag significantly behind those in urban schools due to substantial differences in school conditions. This study aims to evaluate the impact of differentiated instruction combined with Problem-Based Learning (PBL) on the science literacy skills of students at SMP Negeri 43 Rejang Lebong. The research method used is descriptive quantitative. Data collection was carried out through observation and tests. The implementation of differentiated instruction with a learning style approach divides students into three categories (visual, audiotory, and kinesthetic) using the PBL method guided by worksheets (LKPD) tailored to the five aspects of science literacy skills on the topic of heat transfer. The results showed high student enthusiasm in learning activities across all three learning styles. However, two out of the five aspects of science literacy skills had average achievement levels below 50%. These aspects are understanding the components of research and their implications for scientific findings, and interpreting scientific data. The low achievement was observed across all three learning styles. Nonetheless, the other three aspects achieved between 50-76%, indicating that differentiated instruction combined with PBL has a positive impact on science literacy skills, particularly in remote schools.Kemampuan literasi sains peserta didik di sekolah terpencil sangat tertinggal dibandingkan dengan sekolah perkotaan karena perbedaan signifikan dalam kondisi sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pembelajaran diferensiasi yang dikombinasikan dengan Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan literasi sains peserta didik di SMP N 43 Rejang Lebong. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan pengujian tes. Penerapan pembelajaran diferensiasi dengan pendekatan gaya belajar membagi siswa menjadi tiga kategori (visual, auditori, dan kinestetik) dengan metode PBL yang dipandu LKPD disusun sesuai lima aspek kemampuan literasi sains pada materi perpindahan panas. Hasil penelitian menunjukkan tingginya antusias peserta didik dalam aktivitas belajar dengan ketiga gaya belajar. Namun, dua dari lima aspek kemampuan literasi sains menunjukkan tingkat ketercapaian rata-rata di bawah 50%. Aspek tersebut yaitu memahami bagian-bagian dari penelitian dan implikasinya terhadap temuan ilmiah, serta menginterpretasi data ilmiah. Rendahnya ketercapaian tersebut ada pada ketiga gaya belajar. Meskipun demikian, tiga aspek lainnya mencapai ketercapaian antara 50-76% yang menunjukkan bahwa pembelajaran diferensiasi yang dikombinasikan dengan PBL memberikan dampak positif terhadap kemampuan literasi sains terutama di sekolah terpencil
Pengembangan Media Gamifikasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar
The development of gamification media is currently still not widely developed by teachers, especially in elementary school learning. The purpose of this study is to describe the results of the development of gamification media products to improve the mathematics learning outcomes of elementary school students. The research and development method used is the Borg and Gall research method with 5 stages, namely needs analysis, data collection, product development, product validation, and product revision. This research resulted in a product for the development of gamification media for mathematics learning in grade 5 elementary school. The validation results of 3 validators showed that the results of the validation percentage of media experts were 94%, the results of the validation percentage of material experts were 94%, and the results of the validation percentage of linguists were 90%. From the validation results of the three validators, it was concluded that the gamification media development product was feasible to use, because it was in accordance with the criteria was very feasible. So it can be concluded that gamification media is worthy of being tested in learning to improve the mathematics learning outcomes of elementary school students.Pengembangan media gamifikasi saat ini masih belum banyak dikembangkan oleh guru utamanya pada pembelajaran di sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil pengembangan produk media gamifikasi untuk meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik sekolah dasar. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah metode penelitian Borg and Gall dengan 5 tahap yaitu analisis kebutuhan, pengumpulan data, pengembangan produk, validasi produk, dan revisi produk. Penelitian ini menghasilkan sebuah produk pengembangan media gamifikasi untuk pembelajaran matematika kelas 5 SD. Hasil validasi dari 3 validator menunjukkan bahwa hasil persentase validasi ahli media 94%, hasil persentase validasi ahli materi 94% dan hasil persentase validasi ahli bahasa 90%. Dari hasil validasi ketiga validator tersebut disimpulkan bahwa produk pengembangan media gamifikasi layak untuk digunakan, karena sudah sesuai kriteria sangat layak. Sehingga dapat dimpulkan bahwa media gamifikasi layak untuk diuji cobakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik sekolah dasar
Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model PBL dengan Metode Demonstrasi pada Siswa Sekolah Dasar
Based on the results of observations at Bandung 2 Public Elementary School, Jombang district, it showed that there were low student learning outcomes, especially in folding and rotating symmetry material. This research is a collaborative class action (PTKK) to improve mathematics learning outcomes in folding symmetry and rotational symmetry material using the PBL model through the demonstration method in class III SD Negeri Bandung 2 Jombang Regency in the 2022/2023 academic year. Data collection techniques used in this study are observation and tests. The research data were analyzed using descriptive-qualitative and descriptive-quantitative methods. The results of the study using the PBL model through the demonstration method in cycle I obtained a complete percentage of learning outcomes of 64%. Whereas in cycle II, the completeness of learning outcomes increased to 88%. In conclusion, the application of the PBL model through the demonstration method can improve the learning outcomes of class III students at SD Negeri Bandung 2, Jombang Regency.Berdasarkan hasil observasi di Sekolah Dasar Negeri Bandung 2 kabupaten Jombang menunjukkan adanya hasil belajar siswa yang rendah terutama pada materi simetri lipat dan simetri putar. Penelitian ini merupakan suatu tindakan kelas kolaboratif (PTKK) untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi simetri lipat dan simetri putar dengan menggunakan model PBL melalui metode demonstrasi pada siswa kelas III SD Negeri Bandung 2 Kabupaten Jombang tahun pelajaran 2022/2023. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan tes. Data penelitian ini dianalisis dengan metode deskriptif-kualitatif dan deskriptif-kuantitatif. Hasil penelitian menggunakan model PBL melalui metode demonstrasi pada siklus I diperoleh persentase ketuntasan hasil belajar sebesar 64 %. Pada siklus II, ketuntasan hasil belajar meningkat menjadi 88 %. Kesimpulannya penerapan model PBL melalui metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas III SD Negeri Bandung 2 Kabupaten Jombang
Pengembangan Media Film Edukasi Model PjBL Berbasis Mohuyula untuk Membentuk Literasi Dasar Siswa Sekolah Dasar
PanjangKemampuan literasi dasar siswa sekolah dasar, terutama dalam memahami teks bacaan yang berhubungan dengan pelaksanaan Pancasila, menunjukkan adanya keterbatasan. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami teks, baik yang terkait dengan prinsip-prinsip Pancasila maupun teks sastra yang mencerminkan praktik pelaksanaan Pancasila di lingkungan sekolah dan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media film edukasi menggunakan model Project-based Learning berbasis Mohuyula dengan fokus pada pembentukan literasi dasar siswa di Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan metode R&D dengan model ADDIE dalam merancang dan mengimplementasikan media film edukasi berbasis model Project-based Learning melalui pendekatan kearifan lokal Gorontalo Mohuyula. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, angket, dokumentasi dan tes uraian dalam ranah kognitif (C4, C5, C6). Subjek penelitian uji terbatas dilakukan pada 14 siswa dan uji menyeluruh pada 26 siswa. Populasi yang diambil pada penelitian ini siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri No. 99 Kota Utara Kota Gorontalo yang ada di provinsi Gorontalo. Sampel yang digunakan sebanyak 26 siswa. Hasil Validasi dan respon siswa menegaskan kualitasnya, menjadikannya pilihan yang baik untuk pembelajaran. Efektivitas media flm edukasi terbukti dari peningkatan skor post-test sebesar 13,02% pada literasi baca tulis, sains, finansial, dan digital mencapai tingkat baik hingga sangat baik, sementara literasi budaya kewargaan mencapai tingkat baik dalam implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media ini, masuk kategori layak, efektif dan praktis
Keefektifan Pembelajaran Berdiferensiasi Menggunakan “Kaktarsi” dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
The research aims to describe the effectiveness of implementing differentiated learning using the Creative Word Cards (Kaktarsi) media to increase the activeness of learning Indonesian in class IX students at SMPN 1 Indralaya Utara. This research aims to describe how differentiated learning is implemented using KaK TarSi media to increase the activeness of learning Indonesian in class IX students at SMPN 1 Indralaya Utara. This type of research is pre-experimental research with a population sample of 30 students. The research design used was one group pretest-posttest design. From the research results, it is known that there is an increase in student activity in learning activities, namely students listen to the teacher's explanation (13%), submit assignments on time (24%), actively discuss with colleagues (30%), and ask questions to the teacher or colleagues ( 33%). From the results of the gain, it is known that there is an increase in activity before and after learning by 25%. Thus, it can be concluded that differentiated learning using KaK TarSi media can increase student learning activity.Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan penerapan pembelajaran berdiferensiasi menggunakan media Kartu Kata Pintar Kreasi (Kaktarsi) untuk meningkatkan keaktifan belajar bahasa Indonesia pada peserta didik kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Indralaya Utara. Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen dengan sampel populasi sebanyak 30 orang peserta didik. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat peningkatan keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, yakni peserta didik mendengarkan penjelasan guru (13%), mengumpulkan tugas tepat waktu (24%), aktif berdiskusi dengan teman sejawat (30%), dan bertanya kepada guru atau rekan sejawat (33%). Dari hasil gain perolehan diketahui bahwa terdapat peningkatan keaktifan sebelum dan sesudah pembelajaran sebesar 25%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi menggunakan media Kaktarsi dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik
Pembelajaran Terdeferensiasi Berbasis Lingkungan Sekitar pada Materi Pesawat Sederhana di Sekolah Menengah Pertama
Online learning during the COVID-19 pandemic which lasted for almost two years had an impact on reducing student motivation and learning outcomes. This research aims to determine the extent to which the motivation and learning outcomes of class VIIIA students at SMPN 2 Tanjungsari have increased in the 2022/2023 academic year in environmentally based differentiated learning about simple airplanes. The method used is the Classroom Action Research (PTK) Kemmis and Targart model with two cycles where one cycle consists of four activities, namely planning - action and observation - reflection. One cycle consists of two face-to-face meetings. The instrument to determine the increase in learning motivation is in the form of an observation sheet on students' activeness in participating in learning and students' seriousness in carrying out assignments. Instruments to determine improvements in learning outcomes are student worksheets and summative tests. The results of this research are an increase in students' learning motivation which is marked by an increase in the number of groups of students working on and collecting assignments by 30% from 50% before learning to 87.5% during learning and an increase in learning outcomes as indicated by an increase in the average test score. summative as much as 16.59% from 44.6 before learning to 52 after learning. The number of students who scored above the KKM increased from 1 student before learning to 7 students after learning.Pembelajaran daring pada masa pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir selama dua tahun berdampak pada penurunan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIIIA Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Tanjungsari Tahun Pelajaran 2022/2023 pada pembelajaran terdeferensiasi berbasis lingkungan sekitar tentang pesawat sederhana. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Targart dengan dua siklus, yakni dalam satu siklus terdiri dari empat kegiatan yaitu perencanaan – tindakan dan observasi - refleksi. Satu siklus terdiri dari dua pertemuan tatap muka. Instrumen untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar berupa lembar observasi keaktifan siswa mengikuti pembelajaran dan kesungguhan siswa di dalam mengerjakan tugas. Instrumen untuk mengetahui peningkatan hasil belajar berupa lembar kerja siswa dan tes sumatif. Hasil penelitian ini adalah terjadinya peningkatan motivasi belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya jumlah kelompok siswa yang mengerjakan dan mengumpulkan tugas sebanyak 30% dari 50% sebelum pembelajaran menjadi 87,5% pada saat pembelajaran dan meningkatnya hasil belajar yang ditandai dengan naiknya rata-rata nilai tes sumatif sebanyak 16,59% dari 44,6 sebelum pembelajaran menjadi 52 setelah pembelajaran. Jumlah siswa yang mendapat nilai di atas KKM mengalami kenaikan dari 1 siswa sebelum pembelajaran menjadi 7 siswa setelah pembelajaran
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Pembelajaran IPAS Fase B Kelas IV Sekolah Dasar
This research aims to describe (1) planning, (2) implementation, (3) evaluation, (4) (obstacles and (5) learning solutions for differentiating material on plant body parts in science learning stage B grade IV Elementary School. The research uses qualitative descriptive type with a case study approach. The sampling technique uses a purposive sampling technique. The data collection technique in this research is interviews, direct observation and document testing. Test the validity of the data by triangulating data sources and methods. The data analysis technique uses the Miles & flow analysis technique Huberman with an interactive model. The results of this research are that at the planning stage, teachers map student needs, create teaching modules along with Learning Objective Flow (ATP) and determine Criteria for Completion of Learning Objectives (KKTP). Teachers carry out learning with models that are differentiated based on content, process and product according to the results of the student's diagnosis, namely visual, auditory and kinesthetic. At the evaluation stage, this research used diagnostic, formative and summative assessments. It can be concluded that the implementation of differentiated learning is optimal and effective.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) evaluasi, (4) (kendala dan (5) solusi pembelajaran pembeda materi bagian-bagian tubuh tumbuhan pada pembelajaran IPA tahap B kelas IV Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan tipe deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung dan uji dokumen. Uji keabsahan data dengan triangulasi sumber data dan metode. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis aliran Miles & Huberman dengan model interaktif. Hasil penelitian ini pada tahap perencanaan, guru memetakan kebutuhan siswa, membuat modul pengajaran beserta Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan menentukan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Guru melaksanakan pembelajaran dengan model yang dibedakan berdasarkan isi, proses dan produk sesuai dengan hasil diagnosa siswa yaitu viasual, auditori dan juga kinestetik. Pada tahap evaluasi, penelitian ini menggunakan penilaian diagnostik, formatif, dan sumatif. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran diferensiasi sudah optimal dan efektif
Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Keterpaduan Tipe Connected untuk Menentukan Tingkat Kemampuan Berpikir Siswa
Differentiated learning is learning that focuses on the individual differences of learners. Differentiated learning is designed to be effective and learner-centered. The connected model is a learning model to determine the level of thinking ability of students in implementing differentiated learning. This research aims to describe the effectiveness of the connected model so that it can be used in the learning process to determine the tingkat of thinking ability of students. Based on the results of the test of the effectiveness of the tingkat of thinking ability on a limited scale trial through the analysis of posttest scores, students experienced changes to reach the prestructural category 4.3%; unistructural 37.2%; multistructural 42.8%; while for relational 14.3%, and extended abstract by 1.4%. The data from the results of the broad-scale trial also showed an increase in the tingkat of thinking of students through the analysis of the posttest scores of students experiencing changes reaching the prestructural category by 10%; unistructural 47.5%; multistructural 35.8%; relational by 6.7%, while in the extended abstract category students did not reach the level of thinking. Based on the results of the study, the connected model can determine the level of thinking ability of junior high school students so that it is effectively used in differentiated learning.Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang menitikberatkan pada perbedaan-perbedaan individual siswa. Pembelajaran berdiferensiasi dirancang agar berjalan praktis, dan berpusat pada siswa. Model keterpaduan tipe connected merupakan model pembelajaran untuk menentukan tingkat kemampuan berpikir siswa dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepraktisan model keterpaduan tipe connected sehingga dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk menentukan tingkat kemampuan berpikir siswa. Berdasarkan hasil uji kepraktisan tingkat kemampuan berpikir pada uji coba skala terbatas melalui analisis nilai posttest siswa mengalami perubahan mencapai kategori prestructural 4,3%; unistructural 37,2%; multistructural 42,8% ; sedangkan untuk relational 14,3%, dan extended abstract sebesar 1,4%. Data hasil uji coba skala luas menunjukkan juga peningkatan tingkat berpikir siswa melalui analisis nilai posttest siswa mengalami perubahan mencapai kategori prestructural sebesar 10%; unistructural 47,5%; multistructural 35,8 %; relational sebesar 6,7%, sedangkan pada kategori extended abstract siswa tidak mencapai tingkat berpikir tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, model keterpaduan tipe connected dapat menentukan tingkat kemampuan berpikir siswa sekolah menengah pertama sehingga praktis digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi
Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Seni Tari Terhadap Motivasi dan Keterlibatan Siswa di Sekolah Menengah Pertama
This research aims to investigate the effect of differentiated learning methods involving the use of interactive multimedia on dance learning. The research was conducted on seventh grade students at SMP Negeri 4 Binjai, namely the experimental group who received differentiated learning with interactive multimedia and the control group who received conventional learning. The differentiated approach is designed to accommodate individual differences in students’ understanding and skills regarding the art of dance. The research results show that differentiated learning with interactive multimedia significantly increases understanding of dance concepts, active student participation, and creative application of skills. These findings support innovative approaches to dance learning that can increase learning effectiveness and stimulate students’ interest in the arts. The implications of the results of this research can contribute to the development of a dance curriculum that is more responsive to students’ needs and interests in the information technology era. The use of technology in dance learning not only enriches the visual experience but also encourages active student participation through its interactive aspects. Conclusion, implementing differentiated strategies helps teachers accommodate variations in student learning styles, resulting in learning that is more inclusive and responsive to individual needs. As well as the importance of integrating technology in the context of dance while emphasizing the benefits of a differentiated approach in the classroom.Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh metode pembelajaran berdiferensiasi yang melibatkan penggunaan multimedia interaktif terhadap pembelajaran seni tari. Subjek penelitian ini siswa kelas tujuh di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Binjai, yaitu kelompok eksperimen yang menerima pembelajaran berdiferensiasi dengan multimedia interaktif dan kelompok kontrol yang menerima pembelajaran konvensional. Pendekatan berdiferensiasi dirancang untuk mengakomodasi perbedaan individual dalam pemahaman dan keterampilan siswa terkait seni tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dengan multimedia interaktif signifikan berpengaruh terhadap pemahaman konsep seni tari, partisipasi aktif siswa, dan penerapan keterampilan secara kreatif. Temuan ini mendukung pendekatan inovatif dalam pembelajaran seni tari yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan merangsang minat siswa terhadap seni. Implikasi hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi kepada pengembangan kurikulum seni tari yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan minat siswa dalam era teknologi informasi. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran seni tari tidak hanya memperkaya pengalaman visual, tetapi juga mendorong partisipasi aktif siswa melalui aspek interaktifnya. Kesimpulan penerapan strategi berdiferensiasi membantu guru mengakomodasi variasi gaya belajar siswa, menghasilkan pembelajaran yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan individual, serta pentingnya integrasi teknologi dalam konteks seni tari, sambil menekankan manfaat pendekatan berdiferensiasi di kelas