Pusat Jurnal Kopertais Wilayah V Aceh
Not a member yet
    388 research outputs found

    KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM PERBAIKAN MUTU BERKELANJUTAN PENDIDIKAN

    No full text
    The concern of the government and various educational observers has been and continues to strive to improve the quality of education. So, it is not surprising that the development and innovation of education today is increasingly stretched, starting from technology-based learning models, evaluation systems and supervision innovations through sharing application features and so on. However, the communication factor is something that cannot be ruled out, especially schools that are far from urban areas and have difficulty accessing the network. Various communication techniques, such as interpersonal communication, make it easier for teachers to transfer knowledge, so that in the end education is called quality because the scientific quality of students is in accordance with the expectations of the community as recipients of educational services. The results showed that; 1). Interpersonal communication has the potential to carry out an instrumental function as a tool to influence or persuade others, even to maintain a quality of education, 2). Quality of education is the ability to manage schools with the concept of quality management so as to give birth to regeneration with graduation who are ready to enter the social order of society from various fields and activities equipped with expertise, 3). Interpersonal communication is an effort to improve the quality of education, so in order to be able to implement it first understand and understand the concepts and theories. There are at least three dimensions in the application of interpersonal communication to maintain the quality of education; 1). Communication made by the principal both to school residents (internal) and external to the school, 2), communication between teachers, teachers and staff and teachers with operators, 3) communication between teachers and students and parent.AbstrakKepedulian pemerintah beserta berbagai kalangan pemerhati pendidikan telah dan terus menerus berupaya mewujudkan peningkatan mutu pendidikan. Maka tidak heran pengembangan dan inovasi pendidikan dewasa ini semakin menggeliat, mulai dari pembelajaran model berbasis teknologi, sistem evaluasi dan inovasi pengawasan melalui berbagi fitur aplikasi dan seterusnya. Namun demikian faktor komunikasi adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan, terutama sekolah yang jauh dari perkotaan dan sulit mengakses jaringan. Berbagai teknik komunikasi, seperti komunikasi interpersonal mengantarkan para guru lebih memudahkan transfer keilmuan, sehingga pada akhirnya pendidikan disebut bermutu karena kualitas keilmuan siswa sesuai dengan harapan masyarakat sebagai penerima layanan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1). Komunikasi antar pribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat mempengaruhi atau membujuk orang lain, bahkan menjaga suatu mutu pendidikan, 2). Mutu pendidikan adalah kemampuan mengelola sekolah dengan konsep manajemen mutu sehingga melahirkan regenerasi dengan kelulusan yang siap terjun dalam tatanan sosial masyarakat dari berbagai bidang dan kegiatan yang dibekali keahlian, 3). Komunikasi interpersonal adalah upaya untuk perbaikan mutu pendidikan, maka agar supaya mampu mengimplementasikannya terlebih dahulu mengerti dan memahami konsep maupun teorinya. Setidaknya ada tiga dimensi dalam penerapan komunikasi interpersonal untuk menjaga mutu pendidikan; 1). Komunikasi yang dilakukan kepala sekolah baik kepada warga sekolah (internal) dan eksternal sekolah, 2), komunikasi antar guru, guru dengan staf dan guru dengan operator, 3) komunikasi guru dengan siswa dan orang tua sisw

    Harmonisasi Keluarga dan Tumbuh Kembang Perilaku Psikopat Anak

    No full text
    Lingkungan keluarga sangat berperan dalam membentuk perilaku anak yang baik atau buruk. Latar belakang keluarga yang tidak harmonis dapat mengakibatkan gangguan kepribadian atau gangguan mental. Salah satu gangguan mental adalah Psikopat atau Psycho yang merupakan kelainan perilaku dengan cara melakukan perbuatan buruk tanpa ada rasa bersalah. Artikel ini memaparkan temuan peneliti tentang pentingnya harmonisasi keluarga sehingga tidak terjadi perubahan perilaku menjadi buruk dan berujung kepada gangguan mental anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui  latar belakang penyebab utama terbentuknya perilaku Psikopat anak yang kemudian tumbuh berkembang sampai usia dewasa. Kontrol buruk  dari perilaku Psikopat sulit dideteksi secara visual tetapi dapat ditentukan dan disimpulkan dengan melakukan observasi berulang-ulang terhadap segala tindakan pelaku. Penelitian menggunakan  pendekatan kualitatif. Pengambilan dan pengumpulan data dengan melakukan observasi , wawancara terhadap pelaku dan  studi literatur atau kajian pustaka. Tipe dan strategi penelitian tergolong studi kasus dan fenomenologi. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa salah satu terbentuknya Psikopat karena keadaan buruk  masa lalu anak (traumatis) terutama kurangnya pemenuhan kasih sayang dan komunikasi orang tua, perlakuan sikap keras keluarga  dan ketidak adilan dalam pengasuhan sehingga terjadi akumulasi kekesalan, penyesalan dan kemarahan yang tidak tersalurkan pada anak. Kesimpulan yang dapat diambil adalah  perilaku buruk dan gangguan mental pada anak dapat dihindari dengan menciptakan  suasana harmonis dan bahagia di keluarga yakni melakukan interaksi aktif antara anak, orang tua dan anggota keluarga lain secara lemah lembut serta penuh kasih sayang. Kata Kunci:  Keluarga, Harmonis, Psikopat, Anak

    PENGARUH DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN ACEH TIMUR

    No full text
    This study aims to determine the effect of work discipline on the performance of the education office staff of the East Aceh district. By using descriptive quantitative research methods. Data collection techniques using observation, questionnaires, and documentation. The data analysis technique used inferential statistical analysis. The results showed that work discipline at the East Aceh district education office had a significant influence on employee performance, this was evidenced from the results of data analysis, namely the level of work discipline was in the good category. Supported by 4 variable indicators, namely obeying the rules of time, obeying organizational rules, obeying behavior at work, obeying other organizational rules. The level of employee performance is in the good category. Supported by 5 variable indicators, namely quality of work, punctuality, initiative, ability, communication. The results of the analysis and hypothesis testing indicate that there is a positive and significant influence between work discipline and employee performance

    Tinjauan Etika Bisnis Terhadap Persaingan Antara Produsen Tahu di Kampong Blok VI Aceh

    No full text
    Penelitian ini membahas masalah tinjauan etika bisnis Islam terhadap persaingan antara produsen tahu di desa Blok VI Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan persaingan produsen tahu bagai menganalisis bagaimana tinjauan etika bisnis terhadap hal tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu riset yang bersifat deskriptif, pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelian menunjukkan Keadaan produsen tahu di desa Blok VI Kecamatan adalah kadang-kadang saling menjatuhkan sesama produsen, ada yang bersaing secara sehat terhadap produk dan ada juga yang tidak bersaing secara sehat, serta kadang-kadang ada produsen yang sengaja menjatuhkan harga. Bentuk masalah persaingan usaha antar produsen tahu di desa  Blok VI masalah persaingan produk, masalah persaingan harga, dan masalah persaingan pemasaran. Jika melihat etika bisnis Islam terhadap praktik persaingan antar produsen tahu di desa Blok VI Kecamatan Gunung Meriah  Kabupaten Aceh Singkil adalah sebagian ada yang sudah sesuai dengan etika bisnis Islam dan sebagian ada juga yang tidak sejalan dengan etika bisnis Isla

    Peran Tokoh Agama dalam Kegiatan Keagamaan di Desa Rawang Pasar V Kecamatan Rawang Panca Arga Kabupaten Asahan

    No full text
    Peran tokoh agama di lingkungan masyarakat diharapkan dapat menjadikan masyarakat lebih mengenal agamanya serta dapat menjadikan masyarakat mencintai agamanya dengan ikut serta dalam kegiatan- kegiatan keagamaan yang telah dibuat, karena tokoh agama adalah seseorang yang dianggap cakap, berilmu pengetahuan, berakhlak mulia dan mempunyai keahlian dibidang keagamaan.Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana cara tokoh agama memberikan motivasi kepada masyarakat dalam kegiatan keagamaan di Desa Rawang Pasar V, bagaimana cara tokoh agama memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam kegiatan keagamaan di Desa Rawang Pasar V, bagaimana cara tokoh agama membina masyarakat dalam kegiatan keagamaan di Desa Rawang Pasar V.Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, adapun prosedur pengumpulan data yaitu dengan melakukan observasi dan wawancara, untuk menganalisis data peneliti menggunakan tiga tahapan yaitu, reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan.Adapun hasil dalam penelitian penulis dapat diketahui bahwa : 1. Tokoh agama di Desa Rawang Pasar V berperan sebagai motivator yaitu mengajak masyarakatnya dan memberikan motivasi- motivasi agar mau mengikuti kegiatan keagamaan yang dilaksanakan dengan mengajak masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung . 2.Tokoh Agama Berperan sebagai konsultatif dengan membuat program mengaji untuk kaum bapak- bapak dan ibu- ibu demi membantu memperbaiki bacaan Alquran serta memberikan pelayanan- pelayanan untuk masyarakatnya. 3. Tokoh Agama Berperan sebagai pembimbing dengan membina masyarakatnya khususnya bagi anak- anak remaja untuk aktif ikut serta dalam melaksanakan kegiatan pelaksanaan peringatan hari- hari besar Islam

    Wakaf Sebagai Badan Hukum (Wakaf dalam Perspektif Ilmu Hukum)

    No full text
    Pembahasan wakaf sebagai badan hukum (recthpersoon) belum ditemukan dalam fikih wakaf yang telah ada. Sedangkan badan hukum sebagai subyek hukum kedua setelah manusia (naturlijkpersoon) terbahas dalam fikih dengan istilah “غير العقل” seumpama masjid. Dalam fikih, wakaf dinilai sebagai perkara harta yang berdimensi sosial (filantropi Islam). Namun jika dilihat wakaf dalam optik ilmu hukum tentang badan hukum, kriteria perbuatan hukum yang dapat membentuk badan hukum ditemukan dalam praktik wakaf.Penelitian ini dilakukan untuk menemukan konsep wakaf sebagai badan hukum, satu bentuk dari inovasi fikih wakaf modern yang dilakukan dalam bentuk penelitian kepustakaan (library research) dimana datanya dianalisis dengan pendekatan ilmu hukum. Data yang dikumpulkan berupa data primer yang bukan berbahan primer yakni al-Quran dan Hadis yang berkaitan dengan wakaf. Kemudian data sekunder yang berbahan hukum primer yakni UURI No.41 Tahun 2004 tentang wakaf. Selanjutnya data sekunder yang berbahan hukum sekunder berupa literasi wakaf menurut fukaha empat mazhab dan sejumlah literatur lain yang berisi seputaran wakaf.Hasil dari penelitian ini dapat dirumuskan bahwa wakaf sebagai mahkumbih /perbuatan hukum yang membentuk badan hukum yakni seperti yayasan dan lain-lain. Hukum ini ditemukan dari komposisi perbuatan wakaf yang terdiri dari wakif, mauquf, mauquf ‘alaiyh dan sighat (makruf disebut arkan wakaf).Kata Kunci: wakaf, badan hukum, fiki

    KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SMK FARMASI BANDA ACEH TAHUN PELAJARAN 2019/2020

    No full text
    Based on the results of observations that the authors conducted at the Pharmacy Vocational High School in Banda Aceh, the managerial competence of the principal is a strategy to improve the quality of education in educational institutions (schools). If the managerial competence of the principal is good, it will be able to improve the quality of the school. This study aims to find out an overview of: planning school programs, fostering students, creating fun learning, organizing school administration, and fostering and implementing cooperation with the drug industry. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. Data collection techniques were carried out through interviews, observation and documentation studies. The research subjects were principals and teachers at the Pharmacy Vocational School in Banda Aceh. The results of the study show that: (1) The principal at the Pharmacy Vocational School in Banda Aceh has the managerial ability to mobilize staff, teachers and employees, as well as optimize school resources and support students in a good learning process. (2) The principal in improving the quality has expertise in planning, implementing and evaluating programs that have been made together, as well as creating fun learning for students in the teaching and learning process, as well as receiving suggestions and criticisms from subordinates and communicating about policies and problems together. (3) The principal's conceptual skills in improving the quality of education, especially in the Pharmacy Vocational School of Banda Aceh. The principal clearly plans the program and implements learning and evaluates, in accordance with the vision, mission and objectives of the Banda Aceh Pharmacy Vocational High School. Keywords: Principal Managerial Competence, Education Qualit

    Pandangan Ulama Mazhab Terhadap Zakat Hasil Tambang

    No full text
    Zakat memiliki hubungan yang erat dengan aspek kebaikan, ia berhubungan dengan ekonomi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum zakat hasil tambang selain emas perak menurut ulama mazhab. Untuk menyelesaikan penelitian ini, penulis mendeskripsikan dan menganalisis data yang telah terkumpul, baik data primer maupun data skunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tambang  wajib dikeuarkan zakatnya menurut maliki, hanafi dan hambali. Sedangkan menurut imam Syafi’i hasil tambang wajib zakat jika tambangnya emas dan perak. Sedangkan hasil tambang selain dari itu tidak wajib dikenai zakat hasil tambang. Nisabnya senilai 85 gram emas, dikeluarkan 2,5% persetiap tahunnya

    Tukar Menukar Barang Sejenis Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif

    No full text
    This research is based on the existence of the practice of exchanging similar goods that still exists today, so a clear review of the practice of exchanging similar goods is needed. The exchange of similar goods includes trade practices that are lawful by Allah SWT and are not prohibited, if it takes place without certain conditions which are prohibited in Islam. Islam explains that transactions in exchanging similar goods must fulfill pillars and conditions, one of the conditions that must be carried out in exchange transactions of similar goods must be the same quality, namely the quality and quantity possessed by these goods have the same value and amount. Islam forbids if there is a difference in the quality of similar goods to be exchanged. Exchange of similar goods can be bartered with the same kind and the same illat, namely gold, silver, wheat rice, wheat rice, dates, and salt. The pillars and conditions that must be fulfilled in exchanging similar goods are the same as the pillars and conditions of buying and selling, namely in transactions that must be made there must be an agreement and qabul which shows mutual pleasure between people. Whereas in the law it is explained that the exchange of goods is an agreement with both parties binding themselves to give each other an item reciprocally in exchange for another item. If there is a problem in the exchange of similar goods, the settlement can be carried out through a civil lawsuit which causes losses for him or settlement through arbitration or other alternative dispute resolution institutions in accordance with the provisions of the Laws and Regulations.AbstrakPenelitian ini didasari oleh masih adanya praktik tukar menukar barang sejenis yang masih ada pada zaman sekarang ini, sehingga diperlukan tinjauan yang jelas terhadap praktik tukar menukar barang sejenis tersebut. Tukar menukar barang sejenis termasuk praktik dagang yang dihalalkan oleh Allah SWT dan tidak ada larangan, jika berlangsung tanpa ada persyaratan tertentu yang dilarang dalam Islam. Islam menjelaskan bahwa transaksi dalam tukar menukar barang sejenis yang dilakukan harus memenuhi rukun dan syarat, salah satu syarat yang harus dilakukan dalam transaksi tukar menukar barang sejenis mutunya harus sama, yaitu kualitas dan kuantitas yang dimiliki oleh barang tersebut mempunyai nilai dan jumlah yang sama. Islam melarang apabila terdapat perbedaan kualitas barang sejenis yang akan ditukarkan. Tukar menukar barang sejenis dapat dibarterkan dengan yang sama jenisnya dan sama illatnya, yaitu emas, perak, beras gandum, padi gandum, kurma, dan garam. Rukun dan syarat yang harus dipenuhi dalam tukar menukar barang sejenis adanya sama dengan rukun dan syarat jual beli, yaitu dalam transaksi yang dilakukan harus adanya ijab dan qabul yang menunjukkan saling ridha antara sesama. Sedangkan dalam undang-undang dijelaskan bahwa tukar menukar barang merupakan suatu perjanjian dengan kedua belah pihak mengikatkan diri untuk saling memberikan suatu barang secara timbal balik sebagai ganti suatu barang lain. Jika terjadi permasalahan dalam tukar menukar barang sejenis, maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui gugatan perdata yang menimbulkan kerugian baginya maupun penyelesaian melalui arbitrase atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan

    RISIKO DAN MANAJEMEN RISIKO PADA PERBANKAN SYARIAH

    No full text
    An account officer will definitely face various risks related to disbursed financing. Risk is defined as a deviation from the realization of the plan that has been set as a target that may occur unexpectedly. Therefore, all companies, including Islamic banking, must have management of the risk itself. This study aims to determine the risk and management of risk in Islamic banking. The method used is literature study. The results of the study show that these risks can be classified into 2 groups, namely, first: systematic risk, second: nonsystematic risk. In this case Islamic banks make various efforts in the risk management process by developing written procedures that reflect the overall strategy and ensure its implementation. The procedures made must contain policies to identify, measure, and control risks in all banking activities including. The target of this risk management policy is to monitor and control the course of financing distribution activities with a reasonable level of risk in a directed, integrated and sustainable manner

    0

    full texts

    388

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Pusat Jurnal Kopertais Wilayah V Aceh
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇