27468 research outputs found
Sort by
Analisis Tingkat Kepentingan dan Kepuasan Konsumen Terhadap Produk Serabi Mix Max Spesial Varian Oncom Ayam Purwokerto
Serabi Mix Max Spesial merupakan usaha kuliner khas Bandung yang berdiri sejak tahun 2012 di Purwokerto. Varian serabi asin dengan topping oncom ayam dan tambahan mayones merupakan menu andalan Serabi Mix Max Spesial yang populer di kalangan konsumen. Varian ini menjadi favorit karena perpaduan rasa gurih dari oncom ayam dan creamy dari mayones, menjadikan serabi ini berbeda dari serabi manis pada umumnya, serta masih jarang ditemukan di wilayah Purwokerto. Pandemi COVID-19 menyebabkan Serabi Mix Max Spesial mengalami penurunan penjualan yang signifikan hingga saat ini dan pelaku usaha belum pernah melakukan perbaikan terhadap produknya. Evaluasi terhadap persepsi konsumen mengenai tingkat kepuasan dan kepentingan konsumen perlu dilakukan untuk mengetahui atribut apa yang perlu diperbaiki serta merancang strategi pengembangan usaha.
Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan kepentingan konsumen serta perbaikan produk dengan melakukan survei menggunakan instrumen survei berupa kuesioner, observasi, serta studi pustaka. Data yang didapat kemudian akan dianalisis menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI), Importance Performance Analysis (IPA) dan diagram fishbone.
Berdasarkan hasil analisis CSI, diketahui bahwa tingkat kepuasan konsumen berada pada kategori “sangat puas” dengan skor indeks sebesar 83,85%. Selanjutnya hasil analisis IPA terdapat 6 atribut yang perlu diperbaiki yaitu rasa asin pada serabi, tekstur lembut pada oncom, tekstur lembut pada suwiran ayam, kecukupan jumlah suwiran ayam pada topping, pemberian saus sambal dalam kemasan sachet dan adanya promosi melalui media online. Kemudian dirumuskan strategi perbaikan untuk atribut tersebut dengan penerapan SOP modifikasi adonan parsial yaitu dengan tetap menggunakan satu adonan dasar namun perlu penambahan bahan perasa asin kaldu bubuk non-MSG hanya pada porsi yang digunakan untuk varian asin agar menghasilkan rasa yang lebih kaya dan gurih, penyusunan SOP untuk memastikan waktu dan teknik memasak standar sehingga menghasilkan tekstur oncom dan suwiran ayam yang lembut, penyusunan SOP takaran suwiran yang jelas serta penerapan ukuran standar untuk menjaga konsistensi, penyusunan SOP pelayanan penyajian dengen ketentuan pemberian saus hanya jika diminta oleh konsumen untuk meningkatkan kenyamanan konsumen dan penetapan penanggung jawab khusus yang bertugas memantau dan menjalankan kegiatan promosi secara konsisten serta menjadi penghubung antara digital marketer dan tim internar agar promosi terus berjalan
Kandungan Mikroplastik Pada Kerang Totok (Geloina expansa) di Ekosistem Mangrove Desa Tritih Kulon, Cilacap
Pencemaran mikroplastik di ekosistem mangrove Indonesia, yang berfungsi
sebagai penyangga biodiversitas pesisir, telah menjadi ancaman kritis bagi biota
laut khususnya organisme filter feeder seperti kerang totok (Geloina expansa).
Konsumsi kerang terkontaminasi berpotensi memicu risiko kesehatan manusia
melalui transfer toksin dan patogen. Penelitian ini menganalisis secara
komprehensif kelimpahan, karakteristik fisik (bentuk, ukuran, warna),
komposisi polimer, serta sumber kontaminasi mikroplastik pada jaringan Geloina
expansa di ekosistem mangrove Desa Tritih Kulon, Cilacap. Sebanyak 34 sampel
kerang dari tiga stasiun diproses melalui digesti alkali (KOH 10%, 24 jam pada
suhu 60°C), dilanjutkan proses filtrasi menggunakan Whatman 0,45 µm,
identifikasi visual dengan mikroskop stereo 40× (berdasarkan protokol NOAA),
dan karakterisasi polimer menggunakan FTIR-ATR. Hasil menunjukan
kelimpahan mikroplastik pada Geloina expansa sebesar 0,41 partikel/g, di
dominasi fiber (72%) dan film (28%) berukuran 487,69–10.376,96 µm dengan
variasi warna: hitam (72%), biru (8%), hijau (6%), dan transparan (14%). Analisis
FTIR mengidentifikasi empat polimer utama: polyphenylene oxide
(PPO), campuran PPO/PA (NORYL), poly ethyl methacrylate (PEMA),
dan polyvinyl butyral (PVB) jenis material yang ditemukan bersumber dari
industri otomotif, kemasan, dan pelapis. Konsentrasi tertinggi terdeteksi
di Stasiun 3 (muara sungai), menunjukkan kontribusi signifikan dari aktivitas
antropogenik daratan
Kemampuan Bakteri Termofilik Asal Sumber Air Panas Pancuran Pitu, Baturraden sebagai Penghasil Senyawa Antibakteri
Bakteri termofilik merupakan mikroorganisme yang mampu hidup pada suhu 45-80℃, dan dapat menjadi sumber senyawa bioaktif alami salah satunya antibiotik. Namun seiringnya pemakaian antibiotik secara masif menimbulkan resistensi antibiotik. Untuk menangani masalah resistensi antibiotik, salah satunya dengan melakukan pencarian senyawa antibakteri dari lingkungan ekstrem. Salah satu lingkungan ekstrem yang dapat menjadi sumber pencarian antibakteri adalah sumber air panas. Sumber air panas Pancuran Pitu memiliki kandungan belerang yang menjadi pemicu dihasilkannya senyawa bioaktif baru. Tujuan penelitian ini untuk mengisolasi bakteri termofilik yang berasal dari sumber air panas Pancuran Pitu, Baturraden yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan mengisolasi bakteri termofilik dari air, dan sedimen sumber air panas Pancuran Pitu. Bakteri yang diperoleh dimurnikan dan diuji tantang dengan bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Pseudomonas aeruginosa untuk mengetahui kemampuan penghambatannya. Isolat yang menunjukkan aktivitas antibakteri kemudian diidentifikasi secara morfologi, biokimiawi, fisiologi, dan molekuler. Deteksi senyawa antibakteri dari isolat terpilih dilakukan uji bioautografi dan KLT. Spot yang menunjukkan penghambatan terhadap bakteri uji dikumpulkan dan dianalisis menggunakan GC-MS untuk memprediksi struktur molekul. Variabel bebas penelitian adalah isolat bakteri termofilik dan variabel terikat penelitian berupa kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Parameter utama yang diukur adalah diameter zona hambat, golongan senyawa bioaktif, dan identitas bakteri. Parameter pendukung terdiri atas faktor lingkungan asal sampel, nilai retadantion factor (Rf) bercak pada plat KLT dan nilai Rf pada bioautografi. Sebanyak lima isolat bakteri termofilik berhasil diisolasi, yaitu isolat PPA1, PPA2, PPA2M, PPS1 dan PPS2 dengan morfologi koloni yang berbeda. Hasil skrining antibakteri, diperoleh tiga isolat yang bersifat antibakteri yaitu isolat PPA2, PPA2M, dan PPS2. Ekstrak etil asetat dari isolat PPA2, PPA2M, dan PPS2 menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S.aureus, S.epidermidis, dan P.aeruginosa. Zona hambat yang dihasilkan oleh PPA2, PPA2M, dan PPS2 terhadap P.aeruginosa sebesar 13,79-14,6mm, S.aureus sebesar 11,68-12,63mm sedangkan terhadap S.epidermidis cenderung lebih rendah yaitu 7,6-9,33mm. Hasil KLT isolat PPA2, PPA2M, dan PPS2 menunjukkan keberadaan senyawa utama dengan nilai Rf berkisar antara 0,15–0,84 dan diprediksi merupakan senyawa flavonoid polar dan non polar. Hasil bioautografi memperkuat aktivitas antibakteri pada fraksi-fraksi tertentu. Analisis GC-MS menunjukkan senyawa dominan berupa asam lemak yang berpotensi sebagai antibakteri. Hasil identifikasi secara fenetik menunjukkan ketiga isolat bersifat Gram positif, dan bentuk sel berupa batang. Hasil identifikasi secara molekuler terhadap menunjukkan bahwa ketiga isolat memiliki kekerabatan tinggi terhadap Bacillus licheniformis strain BRCR 11702 dengan persentase berbeda. Isolat PPA2 memiliki persentase sebesar 99,08%, isolat PPA2M memiliki kemiripan sebesar 98,54% dan isolat PPS2 menunjukkan kesamaan 99,30%
Pengaruh Padat Tebar Berbeda Terhadap Indeks Morfoanatomi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Yang Dibudidayakan Dengan Sistem Akuaponik
Dalam budidaya dengan sistem akuaponik, padat tebar menjadi penentu kelulusanhidup ikan nila. Selain itu padat tebar sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai indeks morfoanatomi berupa indeks visceralsomatik (IVS) dan indeks hepatosomatik (HIS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap indeks morfoanatomi ikan nila (Oreochromis niloticus) berupa indeks visceralsomatik (IVS) dan indeks hepatosomatik (IHS) pada kolam budidaya sistem akuaponik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap indeks morfoanatomi ikan nila (Oreochromis niloticus) berupa indeks visceralsomatik (IVS) dan indeks hepatosomatik (IHS) pada kolam budidaya sistem akuaponik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan oktober-september 2024 di Desa Serayu Larangan Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Parameter yang diteliti meliputi indeks visceralsomatik (IVS) dan indeks hepatosomatik (HIS). Penelitian dilakukan dengan 10 kali ulangan pada ikan nila (Oreochromis niloticus) berukuran 5 - 7 cm dan bobot rata-rata pada kisaran 4,452 g – 5,103 g dengan 2 perlakuan berbeda yaitu kolam 1: 30 ekor/m3 kolam 2: 50 ekor/m3. Dari penelitian yang didapat pada Uji T untuk parameter indeks visceralsomatik (IVS) menunjukan hasil signifikan atau berbeda nyata dan nilai IHS menunjukan non signifikan atau tidak berbeda nyata. Sedangkan pada pertumbuhan berat mutlak menghasilkan nilai non signifikan. Kualitas air pemeliharaan masih terbilang pada kategori normal untuk budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus)
Pengaruh Pupuk NPK-Zeo-SR pada Berbagai Diameter dan Perbedaan Ukuran Zeolit Alam terhadap Serapan N serta Karakter Fisiologi Bawang Merah pada Inceptisol
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura strategis nasional karena perannya dalam ekonomi dan ketahanan pangan. Salah satu tantangan dalam budidaya bawang merah adalah efisiensi pemupukan nitrogen pada jenis tanah marginal seperti Inceptisol. Inovasi berupa pupuk majemuk NPK-Zeo-SR berbasis zeolit dengan karakteristik slow-release berpotensi meningkatkan serapan nitrogen dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh diameter pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dan ukuran zeolit alam terhadap serapan N dan karakter fisiologi tanaman bawang merah di tanah Inceptiso, (2) menentukan diameter pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dan ukuran zeolit alam yang paling baik pengaruhnya terhadap serapan N dan karakter fisiologi tanaman bawang merah di tanah Inceptisol.
Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah dan Sreen House Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Desember 2021 sampai dengan bulan Juni 2022. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dua faktor, yaitu diameter pupuk (0–5 mm) dan ukuran zeolit (60 mesh dan 100 mesh), dengan 12 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Diameter pupuk majemuk NPK-ZEO-SR dengan 6 aras diameter, yaitu: P0 (tanpa pemberian pupuk majemuk NPK- Zeo-SR), P1 (pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dengan diameter 1 mm) P2 (Pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dengan diameter 2 mm), P3 (pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dengan diameter 3 mm), P4 (pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dengan diameter 4 mm), P5 = (pupuk majemuk NPK-Zeo-SR dengan diameter 5 mm). Ukuran zeolit alam terdiri atas 2 aras, yaitu: Z1 (zeolit alam dengan diameter 60 mesh) dan Z2 (zeolit alam dengan diameter 100 mesh). Variabel pengamatan pada penelitian ini meliputi: serapan N, kehijauan daun, klorofil, jumlah daun, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot tajuk segar, bobot tajuk kering, bobot umbi segar, dan bobot umbi kering.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap serapan nitrogen, dengan diameter 4 mm menghasilkan serapan N tertinggi. Ukuran zeolit 100 mesh memberikan pengaruh positif terhadap kehijauan daun dan kandungan klorofil, sedangkan zeolit 60 mesh lebih baik dalam meningkatkan bobot segar dan kering tajuk tanaman. Interaksi antara diameter pupuk dan ukuran zeolit menunjukkan pengaruh nyata pada bobot segar dan kering umbi, dengan kombinasi terbaik adalah P4Z1 (diameter 4 mm, zeolit 60 mesh). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi diameter pupuk dan ukuran zeolit memengaruhi efisiensi pemupukan dan fisiologi tanaman, serta dapat menjadi acuan pengembangan pupuk berbasis zeolit untuk tanah marginal seperti Inceptisol
Kajian Etnobotani Tumbuhan Obat untuk Pemulihan Pasca Melahirkan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas
Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat sudah dikenal sejak zaman dahulu dan menjadi sebuah kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tumbuhan obat mencakup semua spesies tumbuhan yang diketahui memiliki kandungan senyawa yang berkhasiat untuk mencegah, meringankan atau menyembuhkan suatu penyakit. Salah satu penggunaan tumbuhan obat yaitu untuk membantu memulihkan kondisi ibu pada saat pasca melahirkan. Penggunaan tumbuhan obat untuk pasca melahirkan merupakan tradisi yang masih lestari dan menjadi bagian dari sebuah kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan obat dan cara pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk membantu pemulihan pasca melahirkan.
Penelitian dilaksanakan di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas dengan metode survei serta pengambilan sampel dengan teknik snowball sampling dan wawancara terbuka semi terstruktur. Variabel dalam penelitian ini adalah spesies tumbuhan obat yang digunakan untuk pemulihan pasca melahirkan dengan aspek yang diamati meliputi karakter morfologi tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan, jenis ramuan, cara pengolahan, cara penggunaan, cara perolehan dan upaya pelestarian kearifan lokal yang dilakukan oleh masyarakat. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif sedangkan data kuantitatif didasarkan atas perhitungan dengan menggunakan rumus Species Use Value (SUV), Plant Part Value (PPV), dan Fidelity Level (FL).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 39 spesies dari 21 famili yang dimanfaatkan dalam pemulihan pasca melahirkan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu daun (39,5%) dengan sebagian besar tumbuhan diperoleh melalui cara budidaya (60,4%). Metode pengolahan dominan adalah direbus (33,3%) dengan pemanfaatan utama melalui diminum (46,9%). Jenis ramuan meliputi jamu uyup-uyup, jamu beras kencur, jamu kunir asem, sambetan, pilis, pupuk, lulur, pupuh, banyu suruh, dan makanan pelancar ASI. Nilai SUV tertinggi yaitu pada kunyit (Curcuma longa L.) (3,63), FL tertinggi yaitu 100% dan ICS tertinggi pada padi (Oryza sativa L.) (62)
Pengaruh Slack Resources dan Media Exposure terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Ukuran Perusahaan dan Umur Perusahaan sebagai Variabel Kontrol (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur 2020-2024)
Penelitian ini merupakan penelitian Pengaruh Slack Resources dan Media exposure Terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Ukuran Perusahaan dan Umur Perusahaan sebagai Variabel Kontrol (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur 2020-2024). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Slack Resources dan Media exposure Terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Ukuran Perusahaan dan Umur Perusahaan sebagai Variabel Kontrol
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori legitimasi dan teori stakeholder. Slack resources juga merupakan sumber daya berlebih aktual dan potensial perusahaan yang dapat digunakan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi karena tekanan internal atau eksternal. Sumber daya ini melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk menjaga operasi dan integritas perusahaan. Exposure adalah pemaparan tentang suatu informasi di berberapa media. Dalam mengungkapkan CSR nya, ada tiga media yang sering dipakai yakni internet /website perusahaan, koran, dan TV. Media exposure tidak hanya merupakan sekadar keberadaan dalam berbagai platform media, tetapi juga strategi yang terencana untuk memaksimalkan pengaruh perusahaan pada masyarakat. Di dalam konteks ini, media exposure dianggap sebagai elemen kunci untuk meningkatkan visibilitas dan reputasi perusahaan di mata publik. ukuran perusahaan dapat didefinisikan sebagai perbandingan seberapa besar atau kecilnya suatu entitas. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin baik sistem dan teknologi yang dimilikinya, dan semakin mudah bagi manajemen untuk menggunakan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin baik sistem kinerjanya.Umur perusahaan adalah faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan dalam mengungkapkan tanggung jawab sosialnya. Umur perusahaan menggambarkan lamanya perusahaan tersebut berdiri dan berlangsungnya aktivitas usahanya
Metode penelitian ini adalah kuantitatif. Variabel dependen adalah Corporate Social Responsibility. Variabel independen penelitian ini adalah slack resources dan media exposure dengan variabel kontrol yaitu ukuran perusahaan dan umur peusahaan. Teknik penelitian ini adalah purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder atau data keuangan perusahaan manufaktuur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik analisis menggunakan uji statistik yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, uji autokorelasi, dan model regresi data panel(common effect, fixed effect dan random effect). Pendekatan estimasi dalam refresi data panel menggunakan uji chow dan uji hausman. Penelitian ini menggunakan alat statistic evies 12. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 35 sampel. Purposive sampling method digunakan dalam penentuan sampel
Hipotesis penelitian ini adalah: H1 :Pengaruh slack resources terhadap corporate social responsibility. H2: Pengaruh media exposure terhadap corporate social responsibility. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis menunjukkan bahwa: (1) Slack resources tidak berpengaruh positif terhadap Coorporate Social Responsibility (CSR) (2) Media exposure tidak berpengaruh positif terhadap Coorporate Social Responsibility (CSR) (3) Ukuran perusahaan tidak berpengaruh positif terhadap Coorporate Social Responsibility (CSR) (4) Umur perusahaan berpengaruh positif terhadap Coorporate Social Responsibility (CSR)
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu Manajemen perusahaan disarankan lebih fokus pada pengungkapan CSR yang terperinci dan transparan agar dapat meningkatkan kepercayaan investor dan pemangku kepentingan lainnya. Secara akademis, penelitian CSR memperkaya kajian dalam bidang akuntansi , komunikasi dan manajemen serta dapat dijadikan dasar pengembangan penelitian lebih lanjut terkait factor-faktor yang mempengaruhi dan efektivitas CSR. Pengungkapan CSR lebih relevan sebagai strategi jangka panjang, karena perusahaan yang aktif melakukan CSR berpotensi memiliki reputasi yang lebih baik, meningkatkan kepercayaan, dan memberikan jaminan keamanan lebih kepada investor. Namun, reaksi investor terhadap pengungkapan beban CSR cenderung negatif jika dipandang sebagai pemborosan sumber daya yang berdampak pada laba perusahaan dan pengembalian investasi. Penelitian juga menyarankan agar investor meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya aspek sosial dan tata kelola perusahaan (good corporate governance/CG) yang terkait dengan CSR. Ke depan, diharapkan CSR bisa menjadi salah satu faktor pertimbangan utama dalam menilai risiko dan prospek perusahaan, tidak hanya berdasarkan indikator keuangan saja. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas sampel, menggunakan populasi atau indeks lain di BEI, serta memperpanjang periode pengamatan. Tujuannya adalah agar hasil penelitian lebih akurat dan dapat memprediksi secara lebih komprehensif pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan. Penting untuk menambah variabel lain seperti leverage, manajemen laba, ukuran perusahaan, dan profitabilitas, agar dapat memberikan gambaran lebih utuh mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan CSR. Penelitian dapat diarahkan untuk meningkatkan motivasi perusahaan dan investor dalam memperhatikan dan mengungkapkan CSR, mendorong perubahan paradigma bahwa aktivitas sosial perusahaan juga penting bagi keberlanjutan dan daya tarik investasi di masa depa
Bilingual Digital Content Creation to Promote Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas on Instagram
This final project report is compiled based on job training carried out during the period of August 26–December 27, 2024 at Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas or The Archives and Regional Library Service of Banyumas Regency (Dinarpusda Banyumas). The main objective of this to create digital content in Indonesian and English to make it easier for foreigners to understand the contents of the digital content on Instagram social media. When conducting the internship, the writer used three methods: observation, interviews, and documentation. The observation method involved examining the conditions and location of the internship site and identifying its shortcomings in order to assist in promoting Dinarpusda Banyumas. Interviews were conducted at Dinarpusda Banyumas to gather direct information from the management regarding archive services, libraries, and reference rooms as supporting material for the creation of promotional content. Documentation was carried out by taking photographs and videos required for the creation of the author's digital content to complement other data. The results of job training that have been carried out are in the form of bilingual digital content as promotional media uploaded on the Instagram social media of Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas. There are several obstacles, namely determining the product from digital posters to bilingual digital content and adding one promotional content video. However, this can be overcome after coordinating with the supervisor so that the making of the product can run well
Faktor yang Mempengaruhi Willingness To Pay Konsumen terhadap Kantong Belanja Berbayar Di Purwokerto
Pertumbuhan jumlah ritel modern di Indonesia mengakibatkan lonjakan yang signifikan dalam produksi sampah plastik. Perkembangan sektor ritel ini tidak hanya memperluas akses konsumen terhadap beragam produk, tetapi juga mendorong konsumsi plastik yang tinggi. Akibatnya, masalah penumpukan limbah plastik di lingkungan semakin mendesak. Semakin banyak ritel modern yang hadir, tantangan dalam pengelolaan limbah plastik pun menjadi semakin rumit. Penelitian ini merupakan studi survei yang dilakukan pada konsumen Supermarket Rita Supermal Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menghitung nilai WTP konsumen terhadap kantong belanja berbayar di Purwokerto, (2) Menganalisis pengaruh variabel pendapatan, usia, tingkat pendidikan, dan kesadaran lingkungan terhadap WTP kantong belanja berbayar di Purwokerto, (3) Menganalisis variabel yang paling berpengaruh terhadap WTP kantong belanja berbayar di Purwokerto. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan CVM dan regresi linear berganda menunjukkan bahwa: (1) Nilai WTP konsumen terhadap kantong belanja berbayar di Purwokerto sebesar Rp4.954, (2) Variabel pendapatan dan kesadaran lingkungan berpengaruh terhadap WTP, sedangkan usia dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap WTP kantong belanja berbayar di Purwokerto, (3) Variabel yang paling berpengaruh terhadap WTP kantong belanja berbayar di Purwokerto adalah pendapatan. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan konsumen dan kesadaran lingkungan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam penerapan kebijakan kantong belanja berbayar. Mayoritas responden, yakni 65 dari 155 orang (41,94%), memiliki pendapatan di bawah Rp1.500.000 perbulan, sehingga penetapan harga kantong belanja ramah lingkungan perlu mempertimbangkan keterjangkauan agar tidak menimbulkan penolakan. Selain itu, tingkat kesadaran lingkungan yang relatif tinggi pada konsumen menjadi peluang bagi pihak supermarket dan instansi terkait untuk mendorong perilaku ramah lingkungan melalui pendekatan non-ekonomi, seperti penyediaan kantong belanja yang dapat dipakai berulang kali, nyaman digunakan, serta memperbanyak fasilitas tempat sampah terpilah. Upaya ini dapat diperkuat melalui kampanye edukasi yang berkesinambungan, baik melalui media sosial, poster, maupun kegiatan langsung di area belanja, guna meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap pengurangan plastik sekali pakai
Evaluasi Program Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Mandiraja 1 Kabupaten Banjarnegara
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan endemis di Indonesia, khususnya di Kabupaten Banjarnegara dengan total 887 kasus dan 1 angka kematian pada tahun 2024. Total kasus DBD di wilayah Puskesmas Mandiraja 1 yaitu 146 dengan 1 kematian menjadikannya salah satu wilayah dengan angka tertinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi program penanggulangan DBD pada Puskesmas Mandiraja I tahun 2024 dengan pendekatan model Context, Input, Process, Product (CIPP). Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan metode CIPP. Subjek penelitian melibatkan 11 informan. Analisis data yang digunakan yaitu content analysis. Hasil Penelitian : 1) Evaluasi Context yaitu program dilatarbelakangi oleh tingginya angka kasus di wilayah kerja puskesmas. Tujuan dan sasaran program sudah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayah. 2) Evaluasi Input yaitu SDM yang terlibat masih kurang. Dana untuk tahun 2024 kurang. SOP kegiatan sudah tersedia, namun pelaksanaannya masih menyesuaikan dengan keadaan di lapangan. Bahan dan alat yang digunakan sudah cukup. 3) Aspek Process yaitu PSN cenderung dimasifkan ketika terjadi lonjakan kasus. PE dilakukan setiap ada kasus yang dilaporkan. Penyuluhan DBD dilakukan sebulan sekali. Fogging dilakukan jika memenuhi syarat. Koordinasi lintas sektor dilakukan dengan berbagai pihak. Keterlibatan masyarakat masih kurang. 4) Aspek Product yaitu ABJ pada tahun 2024 <95%. Kasus naik dari 27 menjadi 146 tahun 2024. Partisipasi masyarakat kurang. Kesimpulan : Program Penanggulangan Penyakit DBD di Puskesmas Mandiraja 1 belum berjalan secara optimal karena masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya