27468 research outputs found
Sort by
Hubungan Antara Pola Pemberian Makan dan Keragaman Makanan dengan Kejadian Wasting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Kembaran 1 Kabupaten Banyumas
Latar Belakang : Menurut hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menyatakan bahwa
prevalensi wasting di Indonesia pada balita usia 24-59 bulan sebesar 7,7% sedangkan di Puskesmas
Kembaran 1 Kabupaten Banyumas mencapai 6,6%. Angka tersebut belum memenuhi target WHO
dalam menurunkan kejadian wasting di bawah 5%. Salah satu faktor penyebab wasting adalah
asupan makan. Asupan makan balita wasting dapat dipengaruhi oleh pola pemberian makan yang
tidak tepat dan keragaman makan yang rendah. Wasting berdampak pada balita seperti adanya
gangguan kognitif bahkan menyebabkan risiko kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara pola pemberian makan dan keragaman makanan dengan kejadian wasting pada
balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Kembaran 1 Kabupaten Banyumas.
Metode : Desain penelitian ini adalah korelasi menggunakan pendekatan case control dengan besar
sampel 72 balita di Puskesmas Kembaran 1 Kabupaten Banyumas. Sampling menggunakan
purposive sampling dengan perbandingan kelompok kasus dan kontrol 1:1 berdasarkan matching
usia ±3 bulan. Teknis pengumpulan data menggunakan kuesioner Child Feeding Questionnaire
untuk mengetahui pola pemberian makan dan formulir Food Recall 24 jam serta kuesioner Minimum
Dietary Diversity Score untuk menegtahui keragaman makanan balita. Analisis bivariat
menggunakan Uji Chi Square 2x2 dengan SPSS versi 25.
Hasil : Hasil analisis menunjukkan pola pemberian makan (p=0,000; OR=30) dan keragaman
makanan (p=0,000, OR=17) berhubungan signifikan dengan kejadian wasting pada balita usia 24-
59 bulan di Puskesmas Kembaran 1 Kabupaten Banyumas.
Kesimpulan : Terdapat hubungan antara pola pemberian makan dan keragaman makanan dengan
kejadian wasting pada balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Kembaran 1 Kabupaten Banyumas
Konsep Cantik Mahaiswi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman
Konstruksi sosial konsep cantik dalam masyarakat mengalami perkembangan seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan kemajuan teknologi, terutama media sosial. Mahasiswi sebagai bagian dari generasi muda sangat rentan terhadap arus simbolik tentang kecantikan yang dibentuk oleh lingkungan sekitar, termasuk media digital, komunitas sosial, dan institusi pendidikan. Dalam konteks ini, tubuh perempuan tidak lagi hanya dianggap sebagai bentuk fisik semata, tetapi juga sebagai simbol sosial yang memuat nilai, identitas, dan ekspektasi. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan lebih jauh bagaimana tubuh dimaknai sebagai representasi kecantikan oleh mahasiswi, serta bagaimana mereka merespons, menegosiasikan, dan membentuk konsep cantik berdasarkan pengalaman pribadi dan sosial mereka. Penelitian ini berfokus pada bagaimana mahasiswi Sosiologi angkatan 2021 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman memaknai konsep cantik dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna cantik menurut mereka serta bagaimana proses interaksi sosial membentuk cara pandang mereka terhadap kecantikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi fenomenologi. Informan dipilih secara purposive berdasarkan keberagaman fisik dan latar belakang, yaitu enam mahasiswi angkatan 2021 jurusan Sosiologi sebagai informan utama dan dua mahasiswi angkatan 2022 dari jurusan Sosiologi sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman (1994), yang meliputi tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi dilakukan untuk memilah data relevan seperti pandangan tentang makna cantik dan pengaruh lingkungan sosial. Penyajian data dilakukan melalui narasi tematik dan tabel karakteristik informan, sementara verifikasi dilakukan melalui triangulasi data dan perbandingan antar sumber. lalu mengaitkannya dengan teori Interaksionalisme Simbolik dari George Herbert Mead yang menekankan proses pembentukan makna melalui mind, self, dan society. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep cantik di kalangan mahasiswi sangat dipengaruhi oleh simbol-simbol sosial yang berkembang, seperti tubuh langsing, kulit cerah, wajah bersih, dan penampilan modis. Meskipun demikian, para informan tidak secara pasif menerima simbol tersebut, melainkan terlibat dalam proses negosiasi dan reinterpretasi makna. Mahasiswi berhijab cenderung memaknai kecantikan sebagai kesopanan, kesadaran diri, dan bentuk perlindungan dari tekanan visual, sedangkan mahasiswi non-hijab melihat kecantikan sebagai ruang ekspresi, kenyamanan, dan penerimaan terhadap tubuh sendiri. Perbedaan persepsi ini memperlihatkan bahwa makna cantik sangat kontekstual, dipengaruhi oleh nilai, pengalaman hidup, dan identitas personal.
Lebih jauh, ditemukan bahwa kecantikan tidak hanya mencerminkan dimensi fisik, tetapi juga melibatkan aspek non-fisik seperti sikap, kepribadian, rasa percaya diri, hingga kharisma. Sebagian informan memadukan keduanya dalam membentuk citra diri. Selain itu, kecantikan juga berfungsi sebagai privilege yang nyata di lingkungan kampus, di mana mahasiswi yang dianggap memenuhi standar visual ideal lebih mudah diterima secara sosial dan mendapat perlakuan istimewa. Namun, hal ini juga melahirkan ketimpangan bagi mereka yang tidak sesuai dengan standar tersebut, baik dalam bentuk eksklusi sosial maupun komentar negatif terhadap tubuh mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep cantik adalah hasil dari proses simbolik yang dinamis dan tidak tunggal. Mahasiswi secara aktif membentuk makna cantik melalui refleksi atas simbol sosial, pengalaman pribadi, serta nilai-nilai yang mereka yakini. Cantik dipahami bukan sekadar memenuhi standar visual yang sempit, tetapi juga mencerminkan kenyamanan, kepercayaan diri, dan penerimaan diri. Oleh karena itu, penting bagi kampus dan lingkungan sosial untuk membangun ruang yang mendukung pemaknaan cantik yang lebih inklusif melalui edukasi, dialog, serta penghargaan terhadap keberagaman tubuh dan ekspresi diri
Percampuran Turbulen Vertikal di Laut Banda Bagian Barat Hingga Celah Lifamatola Pada Bulan November 2014
Laut Banda memiliki dinamika oseanografi kompleks karena keterhubungannya dengan Celah Lifamatola, jalur utama masuknya massa air dalam dari Samudra Pasifik ke perairan Indonesia timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil hidrografi serta mengestimasi tingkat kestabilan dan tingkat percampuran vertikal turbulen massa air di Laut Banda bagian barat hingga Celah Lifamatola pada November 2014. Data observasi Conductivity, Temperature, and Depth (CTD) dari ekspedisi Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) diproses menggunakan SBE Data Processing. Analisis dilakukan dengan menentukan kolam lapisan massa air berdasarkan stratifikasi yang kemudian dilanjutkan dengan menentukan struktur massa airnya melalui diagram T-S. Perubahan karakteristik massa air dijelaskan menggunakan penampang vertikal, kemudian diperkuat dengan interpretasi terhadap pola sirkulasi arus. Estimasi pencampuran vertikal didasarkan pada laju disipasi energi turbulen dan difusivitas eddy. Di wilayah ini terdeteksi dua sumber massa air utama dari Pasifik Selatan dan Utara, yakni North Pacific Subtropical Water (NPSW) dan South Pacific Subtropical Water (SPSW) dengan Smax 34,65 dan 34,97 PSU, serta North Pacific Intermediate Water (NPIW) dengan Smin 34,55 PSU. Umumnya, laju disipasi energi kinetik turbulen tinggi beriringan dengan peningkatan difusivitas eddy vertikal, menandakan proses pencampuran massa air. Nilai tertinggi kedua parameter ini ditemukan di lapisan termoklin Stasiun 14, Celah Lifamatola, dengan laju disipasi energi 10⁻6 W/kg dan difusivitas eddy 10⁻3 m²/s. Tingginya nilai ini mengindikasikan adanya proses pencampuran turbulen yang intens, yang didorong oleh pertemuan dua massa air berbeda serta pengaruh arus kuat yang melintas melalui celah sempit tersebut
Faktor Determinan Calon Pengantin Wanita Melahirkan Anak Stunting di Kabupaten Banyumas
Latar Belakang: Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah dengan prevalensi stunting yang masih tinggi, yakni sebesar 19,6% pada tahun 2024. Angka ini hanya mengalami penurunan sebesar 1,3% dari tahun sebelumnya dan belum mencapai target nasional sebesar 14%. Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa prakonsepsi, terutama melalui penyiapan calon pengantin wanita yang sehat dan siap memasuki masa kehamilan.
Metode: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang berhubungan dengan status calon pengantin wanita berisiko melahirkan anak stunting di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sebanyak 425 calon pengantin wanita yang mendaftarkan pernikahan pada Desember 2024–Januari 2025 dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Variabel terikat adalah status risiko calon pengantin wanita melahirkan anak stunting. Variabel bebas meliputi tingkat pendidikan, status bekerja, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, kategori wilayah, peran keluarga, peran teman sebaya, tingkat pengetahuan, paparan informasi, dan kesiapan menikah. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan aplikasi Elsimil BKKBN. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 84,9% responden termasuk dalam kategori berisiko melahirkan anak stunting. Faktor yang berhubungan secara signifikan adalah tingkat pendidikan calon pengantin wanita dan orang tuanya, tingkat pendapatan keluarga, peran keluarga dan teman sebaya, tingkat pengetahuan, paparan informasi, serta kesiapan menikah. Pengetahuan tentang stunting dan paparan informasi menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi status risiko tersebut.
Kesimpulan: Diperlukan peningkatan edukasi dan akses informasi bagi calon pengantin wanita, serta keterlibatan keluarga dan teman sebaya, untuk mendukung kesiapan menyeluruh sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini
Hubungan antara Asupan Lemak, Vitamin D, dan Sedentary Lifestyle terhadap Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMA Negeri 3 Purwokerto
Latar Belakang: Dismenore primer merupakan nyeri saat menstruasi tanpa adanya kelainan pada organ reproduksi dan berkaitan dengan kontraksi otot rahim. Di Indonesia, prevalensinya mencapai 54,89%, dengan 60-75% kasus dialami oleh remaja putri. Pada remaja dapat terjadi perubahan asupan makan serta pola hidup yang dapat menjadi faktor terjadinya dismenore primer. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan lemak, vitamin D, dan sedentary lifestyle dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMA Negeri 3 Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan 81 siswi SMA Negeri 3 Purwokerto sebagai sampel, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data asupan lemak dan vitamin D dikumpulkan melalui wawancara menggunakan SQ-FFQ, sedentary lifestyle dikumpulkan mengunakan kuesioner ASAQ, dan tingkat nyeri dismenore primer melalui kuesioner NRS. Analisis data dilakukan dengan Uji Korelasi Rank Spearman. Hasil Penelitian: Sebanyak 46,9% responden mengalami dismenore sedang, 60,5% responden memiliki asupan lemak cukup, 86,4% responden memiliki asupan vitamin D kurang, dan 60,5% responden tergolong sedentari berat. Terdapat hubungan pada variabel asupan lemak (p = 0,003) dan sendentary lifestyle (p = 0,035). Tidak terdapat hubungan pada variabel asupan vitamin D (p = 0,605).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara asupan lemak dan sedentary lifestyle dengan kejadian dismenore primer, namun tidak terdapat hubungan antara asupan vitamin D dengan kejadian dismenore primer
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan dan Loyalitas Perajin Gula Semut terhadap Model Social Enterpreneurship di CV Agro Berdikari
CV Agro Berdikari merupakan perusahaan gula semut pertama di Kabupaten Kebumen. Perusahaan ini bekerja sama dengan perajin gula, pengepul dan lembaga pemerintah melalui model social enterpreneuship. Tingginya potensi gula semut di pasar ekspor menyebabkan banyaknya perusahaan baru. Mereka menawarkan harga jual yang lebih tinggi dengan standar kualitas rendah, sehingga banyak perajin binaan CV Agro Berdikari yang tertarik dengan perusahaan lain. Rendahnya kemampuan perajin dalam melakukan produksi gula semut, harga jual di tingkat perajin belum setara, banyaknya pohon kelapa yang ditebang, dan adanya perajin gula yang memasok ke perusahaan lain menjadi permasalahan yang perlu di evaluasi dari sisi kepuasan dan loyalitasnya. Tujuan penelitian ini yaitu 1) Mengidentifikasi model kerja sama social enterpreneurship dari CV Agro Berdikari yang diterapkan kepada perajin gula semut. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan perajin gula semut terhadap model kerja sama social enterpreneurship di CV Agro Berdikari. 3) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas perajin gula semut terhadap model kerja sama social enterpreneurship di CV Agro Berdikari. 4) Menganalisis pengaruh kepuasan perajin gula semut terhadap loyalitas ke CV Agro Berdikari.
Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dan kuantitatif dengan metode survei. Penelitian dilaksanakan pada enam desa di Kabupaten Kebumen dengan sasaran perajin gula semut yang menjadi binaan CV Agro Berdikari. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2025. Perhitungan sampel menggunakan metode proporsionate stratified random sampling sebanyak 60 responden. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan PLS-SEM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Model social enterpreneurship yang diterapkan CV Agro Berdikari kepada perajin binaanya yaitu adanya akses pasar, perubahan mindset, pembentukan koperasi, pembentukan kelompok binaan, konsultan manajemen tentang pertanian, pendampingan tim ICS, bantuan sarana dan prasarana, jaminan kesehatan dan keselamatan kerja, serta kegiatan masyarakat. Program tersebut masih diperlukan evaluasi untuk menangani keluhan dari perajin gula terkait pendampingan tim ICS yang belum rutin, bantuan sarana dan prasarana produksi belum merata, dan jaminan kesehatan belum dibayarkan sepenuhnya dari perusahaan. 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan perajin gula semut terhadap model social enterpreneurship di CV Agro Berdikari yaitu kualitas pelayanan, kemudahan, harga jual, dukungan sosial, dan pendampingan sosial usaha. 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas perajin gula semut terhadap model social enterpreneurship di CV Agro Berdikari yaitu kualitas pelayanan, dukungan sosial, dan pendampingan sosial usaha, sedangkan kemudahan dan harga jual tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas. 4) Pengaruh kepuasan perajin gula semut terhadap loyalitas ke CV Agro Berdikari yaitu tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan
Penggunaan Kolokial Pada Generasi Z Di Purwokerto (Kajian Sosiolinguistik)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kolokial dan faktor yang melatarbelakangi penggunaan variasi kolokial pada generasi Z Purwokerto. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diperoleh dengan metode simak bebas libat cakap, teknik rekam dan catat, serta wawancara semi terstruktur. Tahap analisis data menggunakan metode padan yang diikuti dengan teknik daya pilah unsur penentu dengan teknik lanjutan hubung banding menyamakan. Penyajian hasil analisis menggunakan metode informal. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 26 peristiwa tutur yang diklasifikasikan menjadi 98 kosakata bentuk kolokial. Bentuk tersebut meliputi single words (bentuk tunggal), short picturesque words of technical terms (polisemi), contraction (kontraksi), verb adverb combination (komposisi). Faktor penggunaan kolokial dilatarbelakangi oleh faktor sosial dan situasional penutur. Faktor sosial mencakup usia dan pendidikan, sedangkan faktor situasional mencakup mitra tutur dan untuk lebih bergengsi, hubungan antarpenutur dan konteks informal melatarbelakangi penggunaan kolokial.Tuturan kolokial ini menjadi bentuk bahasa sehari-hari yang unik dan kreatif sebagai identitas generasi Z Purwokerto
Evaluasi Kinerja Supplier Kayu Mindi menggunakan Metode Analytic Network Process (ANP) (Studi Kasus : PT. Kayu Lima Utama)
PT. Kayu Lima Utama, perusahaan manufaktur furnitur di Indonesia, menghadapi gangguan rantai pasok akibat tidak konsisten pengiriman dan kualitas kayu mindi dari pemasok. Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi kinerja pemasok secara sistematis untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pemasok kayu mindi dan memberikan rekomendasi perbaikan berbasis benchmarking pada PT. Kayu Lima Utama. Analisis dilakukan dengan metode ANP untuk menghitung bobot prioritas setiap pemasok, kemudian benchmarking diterapkan dengan membandingkan kelemahan masing-masing pemasok terhadap pemasok terbaik pada aspek serupa, sehingga diperoleh rekomendasi perbaikan yang spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Supplier B menempati peringkat tertinggi dengan bobot (0.022389) karena unggul pada aspek finansial, sementara Supplier E berada di posisi terendah dengan bobot (0.006504) akibat rendahnya responsivitas dan harga yang tidak kompetitif. Penerapan metode ANP memungkinkan evaluasi yang mempertimbangkan keterkaitan antar kriteria, sedangkan benchmarking memberikan arah perbaikan yang lebih terfokus terhadap Supplier C dan Supplier E sebagai Supplier yang memiliki nilai terendah. Temuan ini menghasilkan kerangka evaluasi yang komprehensif dan terstruktur, yang diharapkan dapat membantu PT. Kayu Lima Utama dalam pengambilan keputusan strategis serta pengembangan hubungan yang lebih baik dengan pemasok
Geologi dan Analisis Bahaya Kegempaan Menggunakan Metode DSHA (Deterministic Seismic Hazard Analysis) dan PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis) Pada Zona Baribis-Kendeng Thrust-Belt, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
Brebes merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah dengan populasi penduduk yang paling tinggi dan lokasinya yang strategis untuk pembangunan infrastruktur dan industri. Karena posisinya yang berada pada zona Baribis-Kendeng Thrust-Belt, sehingga menimbulkan ancaman bencana gempa bumi. Untuk itu, diperlukan pemetaan bahaya kegempaan pada daerah Banjarharjo dan sekitarnya, untuk mengetahui nilai Peak Ground Acceleration (PGA) dan percepatan spektral (SA) pada batuan dasar dan permukaan guna mengurangi dampak dari bencana gempa bumi yang ditimbulkan di masa mendatang. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui ketahanan bangunan terhadap guncangan akibat bencana gempa bumi. Analisis bahaya kegempaan menggunakan program OpenQuake dilakukan dengan metode deterministik (Deterministic Seismic Hazard Analysis/DSHA) dan Probabilistik (Probabilistic Seismic Hazard Analysis/PSHA) sebagai pembanding dengan probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun atau kala ulang 2500 tahun. Fungsi atenuasi/Ground Motion Prediction Equation (GMPE) yang digunakan berfokus pada sumber gempa sesar. Hasil analisis pada batuan dasar dengan metode deterministik berurut dari PGA, SA 0,2s dan SA 1s yaitu 0.09 - 0.43 g, 0.22 - 1.06 g, dan 0.06 - 0.30 g. Untuk metode probabilistik di dapatkan PGA, SA 0.2s, dan SA 1s yaitu 0.13 - 0.20 g, 0,21 - 0,35 g, dan 0.14 - 0.22 g. Dilakukan analisis bahaya gempa di permukaan berdasarkan perhitungan perkalian amplifikasi menggunakan data Vs30 dengan analisis bahaya kegempaan di batuan dasar. Sehingga menghasilkan nilai berurut dari PGA, SA 0,2s dan SA 1s menggunakan metode deterministik yaitu 0.40 - 0.46 g, 1.01 - 1.14 g, dan 0.48 - 0.54 g dan metode probabilistik menghasilkan nilai berurut dari PGA, SA 0.2s, dan SA 1s yaitu 0.21 - 0.26 g, 0,42 - 0,54 g, dan 0.34 - 0.43 g
Pengaruh Alat Maksila (Media Edukasi Ulartangga) terhadap Perilaku Jajan Sehat pada Anak Usia Sekolah di MI Tamrinusibyan 1 Brebes
Latar belakang: Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap perilaku konsumsi jajanan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang, seperti obesitas dan penyakit tidak menular. Media edukasi inovatif diperlukan untuk mengubah perilaku jajan sehat pada anak. Maksila, sebuah media edukasi berbasis permainan ular tangga, dikembangkan sebagai sarana interaktif untuk mendukung edukasi perilaku jajan sehat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan Media Edukasi Ulartangga (Maksila) terhadap perilaku jajan sehat pada anak usia sekolah di MI Tamrinusibyan 1 Brebes.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain Research and Development (R&D) dan Quasi Experimental pre-post test design dengan kelompok kontrol. Tahap I meliputi pengembangan alat Maksila melalui metode prototype, uji validitas, reliabilitas, dan kegunaan. Tahap II adalah uji keefektifan alat Maksila yang melibatkan 56 siswa kelas 3 MI Tamrinusibyan 1 Brebes dengan pengambilan data pretest dan posttest pada kelompok intervensi dan kontrol dan uji repeated measurement ANOVA pada kelompok intervensi
Hasil: Analisis data menunjukkan perbedaan yang signifikan pada selisih skor perilaku jajan sehat antara kelompok intervensi dan kontrol (p = 0,016), dengan peningkatan perilaku jajan sehat yang lebih tinggi pada kelompok intervensi yang menggunakan alat Maksila. Temuan ini membuktikan bahwa media edukasi ulartangga efektif dalam meningkatkan perilaku jajan sehat pada anak usia sekolah.
Kesimpulan: Media edukasi Maksila dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran yang efektif untuk mengubah perilaku jajan sehat pada anak usia sekolah di MI Tamrinusibyan 1 Brebes