27468 research outputs found
Sort by
Ekonomi Politik Implementasi Kebijakan Tentang Perparkiran di Kabupaten Banyumas
Sistem perparkiran di Kabupaten Banyumas menghadapi persoalan kompleks seperti maraknya parkir liar, ketidaksesuaian tarif dengan regulasi, serta kebocoran retribusi yang menyebabkan pendapatan daerah tidak mencapai target.Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan perparkiran dalam perspektif ekonomi politik dengan menyoroti distribusi sumber daya, kepentingan aktor, serta kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi dengan pemilihan informan secara purposive sampling. Teori kelembagaan Douglas Cecil North digunakan untuk memahami dinamika institusi formal dan informal dalam penyelenggaraan perparkiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikasi dan pelaksanaan kebijakan belum optimal akibat lemahnya pengawasan, perbedaan kepentingan antar aktor, serta praktik informal seperti ketidakpatuhan juru parkir dalam penyetoran retribusi. Masyarakat juga mengalami beban tarif yang tidak sesuai aturan, sementara pemerintah daerah menghadapi keterbatasan sumber daya dalam pengawasan Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan kebijakan perparkiran di Banyumas sangat dipengaruhi oleh kapasitas kelembagaan, transparansi ekonomi, serta legitimasi politik. Reformasi tata kelola, peningkatan pengawasan, dan perbaikan mekanisme kerja sama diperlukan untuk memaksimalkan potensi PAD dari sektor perparkiran
Faktor yang Memengaruhi Partisipasi Pasar Lelang dan Kesejahteraan Petani Cabai Rawit di Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo
Petani cabai rawit di Kecamatan Ngombol menghadapi tantangan dalam meningkatkan kesejahteraannya, terkait dengan akses pasar yang terbatas dan fluktuasi harga jual. Partisipasi dalam pasar lelang dianggap sebagai salah satu solusi potensial untuk memperoleh harga yang lebih baik dan meningkatkan penerimaan serta kesejahteraan mereka. Meskipun demikian, tidak semua petani aktif mengikuti pasar lelang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh partisipasi petani cabai rawit dalam pasar lelang terhadap tingkat kesejahteraannya di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo. Data dikumpulkan dari 93 petani melalui kuesioner, wawancara, dan studi mendalam. Dengan sejumlah 48 petani yang mengikuti pasar lelang dan 45 yang tidak. Metode penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik responden serta model dua tahap Heckman untuk mengetahui factor-faktor yang memengaruhi partisipasi terhadap kesejahteraan. Pada tahap pertama uji Heckman, dilakukan uji probit untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi petani cabai rawit dalam pasar lelang. Sedangkan pada tahap kedua, regresi OLS digunakan untuk mengetahui faktor partisipasi terhadap kesejahteraan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani cabai rawit yang berpartisipasi dalam pasar lelang memiliki karakteristik rata-rata usia 52 tahun (usia produktif), pendidikan tingkat SMA, luas lahan kurang dari 0,5 hektar, lahan milik pribadi, harga jual cabai antara Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, dengan penerimaan usahatani lebih dari Rp8.000.000 dan pengeluaran antara Rp2.000.000 sampai Rp9.000.000. Mekanisme pasar lelang berlangsung setiap Hari Senin sampai Sabtu malam dengan sistem tertutup. Proses dimulai dengan petani menyetorkan cabainya, kemudian pembeli besar melakukan penawaran melalui WhatsApp, sampai cabai rawit diambil langsung di pasar lelang oleh pembeli. Hasil analisis Heckman artinya H_0 ditolak sedangkan H_1 diterima. Faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi petani adalah usia, tingkat pendidikan, jarak ke pasar, dan harga jual cabai rawit. Usia, pendidikan, dan harga jual berpengaruh positif terhadap partisipasi, sedangkan jarak ke pasar berpengaruh negatif. Selain itu, faktor yang signifikan memengaruhi kesejahteraan petani meliputi tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, status kepemilikan lahan, dan total penerimaan
Model Theory of Planned Behavior dalam Prediksi Niat Konsumen untuk Membeli Buah Segar dengan Moderasi Kesadaran Pola Makan Sehat
Konsumsi buah segar di Indonesia masih rendah, yaitu rata-rata 145,57 gram per kapita per hari, jauh di bawah rekomendasi WHO sebesar 400 gram. Rendahnya konsumsi buah segar perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Meskipun konsumsi buah segar di Purwokerto masih rendah, tingginya angka status gizi normal menunjukkan adanya kesadaran pola makan sehat di masyarakat melalui gaya hidup sehat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat pembelian buah segar, serta menguji peran kesadaran pola makan sehat sebagai variabel moderasi dan mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi niat.
Penelitian ini dilakukan di 16 lokasi, meliputi supermarket dan kios buah di Purwokerto, yang dipilih secara purposive berdasarkan variasi jenis penjual, aksesibilitas tinggi, serta keberlangsungan usaha minimal dua tahun. Sebanyak 168 responden ditentukan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria berusia 18-65 tahun dan telah membeli buah segar minimal dua kali dalam tiga bulan terakhir, sementara pengambilan sampel di lapangan dilakukan secara accidental sampling. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS) menggunakan software SmartPLS 4.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruk Theory of Planned Behavior (sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku) berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian buah segar. Kesadaran pola makan sehat terbukti memoderasi secara positif hubungan antara sikap dan niat pembelian, namun tidak memoderasi hubungan norma subjektif maupun persepsi kontrol perilaku terhadap niat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh kesadaran pola makan sehat bersifat selektif hanya pada aspek evaluatif pribadi, bukan pada faktor sosial atau situasional. Norma subjektif muncul sebagai faktor paling dominan yang membentuk niat pembelian buah segar
Perancangan Konsep Model Bisnis Penyedia Wifi Publik Dengan Pendekatan Blue Ocean Strategy dan Analisis Preferensi Masyarakat Menggunakan Choice-Based Conjoint
Keterjangkauan layanan internet di Indonesia masih menjadi tantangan dengan ketersediaan Wi-Fi publik umumnya terbatas pada area komersial berbayar dengan kualitas yang belum optimal. Penelitian ini merancang model bisnis inovatif penyedia Wi-Fi publik yang inklusif dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan pendekatan Blue Ocean Strategy (BOS) dan Choice-Based Conjoint (CBC). Melalui analisis BOS—meliputi Six Path Framework, Buyer Utility Map, dan ERRC Grid—penelitian ini mengidentifikasi peluang penciptaan pasar baru dengan menghapus biaya akses dan proses transaksi, memperluas cakupan area, serta menambahkan nilai baru berupa platform periklanan digital interaktif sebagai sumber pendapatan. Hasil CBC menunjukkan bahwa model bisnis usulan memiliki preferensi jauh lebih tinggi (71,84%) dibandingkan layanan yang ada (28,16%), dengan akses gratis (39,58%) dan kecepatan jaringan (30,87%) sebagai atribut paling berpengaruh; revisi strategi menegaskan bahwa kecepatan optimal adalah 10 Mbps untuk menghindari biaya operasional yang tidak perlu. Model akhir divisualisasikan melalui Business Model Canvas (BMC), menekankan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pengiklan untuk menyediakan internet gratis, cakupan luas, dan kecepatan stabil, sementara pendapatan berasal dari iklan dan kemitraan bisnis. Integrasi BOS dan CBC terbukti menghasilkan model bisnis Wi-Fi publik yang inovatif sekaligus tervalidasi secara empiris, memberikan dasar strategis kuat untuk implementasi nyata
Identifikasi dan Bioaktivitas Metabolit Sekunder Jamur Entomopatogen Isolat Pabuwaran Kabupaten Banyumas terhadap Spodoptera frugiperda
Spodoptera frugiperda merupakan hama penting pada tanaman jagung yang berasal dari Amerika. Serangan dari hama ini dapat mengakibatkan kerusakan di berbagai fase pertumbuhan tanaman jagung, yang dapat berdampak langsung pada hasil panen. Penurunan hasil panen akibat serangan hama ini dapat mencapai 40%. Salah satu pengendalian yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S. frugiperda yaitu penggunaan metabolit sekunder jamur entomopatogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur entomopatogen yang menginfeksi larva S. frugiperda di Kelurahan Pabuwaran Kabupaten Banyumas, mengetahui pengaruh jamur entomopatogen isolat Pabuwaran dan metabolit sekundernya terhadap mortalitas dan aktivitas makan, serta mengetahui pengaruh jamur entomopatogen isolat Pabuwaran dan metabolit sekundernya terhadap perkembangan larva S. frugiperda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Universitas Jenderal Soedirman. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri dari 6 perlakuan dengan satu metode semprot, dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali dengan masing-masing perlakuan menggunakan 10 larva Spodoptera frugiperda. Variabel pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan terhadap identifikasi jamur isolat Pabuwaran, mortalitas S. frugiperda, aktivitas makan, perkembangan larva, dan uji efikasi. Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dilakukan uji F pada taraf 5% dan dilakukan uji lanjut menggunakan Ducan Multiple Range Test (DMRT) taraf kesalahan 5%, apabila hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil identifikasi jamur isolat Pabuwaran adalah Penicillium sp. yang dapat menyebabkan mortalias S. frugiperda sebesar 47,50%, menurunkan aktivitas makan hingga 66,95%, serta menghambat perkembangan pada fase larva sebesar 61,65%, pupa terbentuk sebesar 50,00%, periode pupa sebesar 58,26%. Selain itu, pada fase imago terbentuk persentase terendah sebesar 48,33%
Karakter Fisiologi dan Hasil Klon Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) dengan Aplikasi Pupuk Organik Kambing dan Sapi
Produksi ubi jalar di Kabupaten Banyumas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan yang tidak stabil. Fluktuasi hasil panen ini menggambarkan adanya berbagai faktor yang memengaruhi produktivitas, seperti kondisi lingkungan, teknik budidaya, serta penggunaan pupuk dan varietas yang berbeda. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik kambing dan sapi terhadap fisiologi dan hasil beberapa klon ubi jalar. Diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pupuk NPK, memanfaatkan limbah ternak, dan mendukung budidaya ubi jalar berkelanjutan.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Laboratorium Agroekologi, Laboratorium riset, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan bulan September 2024 - Agustus 2025 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas dua faktor kombinasi. Faktor pertama adalah klon ubi jalar (U), yaitu U1 = ubi jalar kuning, U2 = Ubi jalar ungu, U3 = ubi jalar putih. Faktor kedua adalah perlakuan pupuk organik (O), yaitu O0 = tanpa pupuk organik, O1 = pupuk organik sapi, O2 = pupuk organik kambing. Perlakuan, masing-masing diulang sebanyak 3 kali, sehingga secara keseluruhan menghasilkan 27 unit percobaan. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Analisis lanjutan dilakukan menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kepercayaan 95%.
Variabel yang diamati meliputi kerapatan stomata, lebar bukaan stomata, kadar klorofil daun, total padatan terlarut, jumlah ubi, bobot per ubi, bobor ubi per tanaman, diameter ubi, panjang ubi, indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk organik terbaik untuk meningkatkan kadar klorofil yaitu pupuk organik sapi. Sementara itu aplikasi pupuk organik menunjukkan hasil yang setara pada variabel total padatan terlarut, kerapatan stomata, jumlah ubi, bobot per ubi, bobot ubi per tanaman, diameter ubi, panjang ubi, dan indeks panen. Klon ubi jalar kuning memberikan hasil paling baik pada variabel jumlah ubi dan panjang ubi. Klon ubi jalar ungu menunjukkan hasil terbaik pada variabel total padatan terlarut, kerapatan stomata, diameter ubi, dan indeks panen. Klon ubi jalar putih memberikan hasil terbaik pada bobot per ubi. Sementara itu, klon ubi jalar menunjukkan hasil yang setara pada variabel kadar klorofil dan bobot ubi per tanaman
Kapasitas Negara dalam Penanganan Narkoba di Tingkat Lokal : Studi Kasus di BNN Kabupaten Purbalingga
Kajian ini dilatarbelakangi oleh serangan multidimensi peredaran gelap narkoba yang menggerus fondasi keamanan manusia (human security) menuntut respons efektif dan aktif dari negara. Studi kasus di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Purbalingga ini menyoroti kesenjangan implementasi kebijakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Menggunakan kerangka teoretis keterbatasan kapasitas negara Francis Fukuyama, penelitian ini menguji disfungsi antara lingkup (scope) dan kekuatan (strength) institusi formal melalui kompilasi data capaian KIE, rehabilitasi, dan penegakan hukum oleh aparat penegak hukum lokal
Penelitian ini menemukan adanya keterbatasan kapasitas negara lokal. Kapasitas reaktif (berupa penindakan, pelaksanaan Tim Asesmen Terpadu, dan valuasi kerugian ekonomi dari tindak pidana narkoba) serta kapasitas intelijen (berupa pemetaan 38 desa rawan narkoba kategori waspada) terbukti efektif. Namun, kapasitas proaktif mengalami disfungsi yang memperihatinkan yang termanifestasi sebagai lubang hitam administrasi publik di sektor rehabilitasi (mencakup gagal berlanjutnya 8 Puskesmas Pilot Project dan 22 Puskesmas capable tidak termobilisasi). Selain itu, muncul kesenjangan implementasi yang terlihat pada minimnya keterpaparan lingkup pencegahan (yaitu 57% siswa belum terjangkau KIE) dan lingkup program unggulan (11 Desa Bersinar) yang hanya mencapai 28,9% dari seluruh desa rawan narkoba kategori waspada. Temuan menariknya adalah keberlanjutan program justru sangat bergantung pada keaktifan institusi non-formal dan alokasi anggaran melalui otonomi positif Pemerintah Desa. Keterbatasan kapasitas negara lokal berpusat pada kegagalan koordinasi horizontal dan diskontinuitas kebijakan yang merusak strength birokrasi. Solusi strategis menuntut pergeseran fokus dari intervensi langsung menjadi transfer kapasitas kepada institusi formal dan non-formal lokal untuk menjamin keberlanjutan program P4GN
Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Tingkat Kecemasan mahasiswa Tahun Pertama Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman
Latar belakang: Kecemasan menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang
paling umum terjadi pada kelompok usia muda, termasuk mahasiswa. Mahasiswa
tahun pertama, khususnya di Program Studi Pendidikan Dokter, rentan mengalami
kecemasan akibat transisi menuju kehidupan perkuliahan yang penuh tuntutan
akademik dan adaptasi ke lingkungan sosial yang baru khususnya di kampus.
Dukungan sosial, terutama dari teman sebaya memiliki peran penting dalam
membantu individu mengelola kecemasan. Belum ada penelitian terkait hubungan
dukungan sosial teman sebaya dengan tingkat kecemasan mahasiswa tahun
pertama di Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman,
padahal kecemasan yang tinggi dapat mengganggu aktivitas harian, menurunkan
performa akademik, mempersulit hubungan sosial, mengurangi motivasi belajar,
dan berpotensi menimbulkan gangguan psikologis jangka panjang seperti depresi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial
teman sebaya dengan tingkat kecemasan mahasiswa tahun pertama Program Studi
Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian berupa analitik
korelasional dengan desain penelitian cross sectional dan teknik purposive
sampling, serta analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan
uji korelasi Spearman.
Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan mahasiswa yang tidak mengalami
kecemasan sebanyak 21,7%, kecemasan ringan 16,7%, kecemasan sedang 20,8%,
kecemasan berat 20,8%, dan kecemasan luar biasa 20,0%. Sebagian besar
mahasiswa (52,5%) juga diketahui memperoleh dukungan sosial dari teman
sebaya dalam kategori tinggi. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya
hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dengan
tingkat kecemasan (p = 0,009; r = -0,236).
Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial
teman sebaya dengan tingkat kecemasan mahasiswa tahun pertama Program Studi
Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman, yang berarti semakin tinggi
dukungan sosial teman sebaya yang diterima maka semakin rendah tingkat
kecemasan yang dirasakan
Pengaruh Pemberian Mulsa Organik terhadap Kepadatan Tanah pada Kedalaman 0 – 50 Cm pada Saat 12 Bulan Setelah Perlintasan Traktor Roda 4
Traktor roda 4 memiliki peran penting dalam kegiatan pengolahan tanah yang berfungsi sebagai sumber tenaga utama untuk menggerakkan peralatan pengolahan tanah. Penggunaan traktor roda 4 memiliki dampak negatif berupa pemadatan tanah yang dapat merusak struktur tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pemadatan adalah dengan pemberian mulsa organik yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai mulsa organik, namun sebagian besar penelitian tersebut hanya meneliti efek pemberian mulsa organik sesaat setelah perlintasan traktor. Penelitian yang membahas pengaruh mulsa organik terhadap pemadatan tanah hingga 12 bulan setelah perlintasan traktor roda 4 masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh mulsa jerami, sekam padi dan serasah daun bambu terhadap tingkat kepadatan tanah pada kedalaman 0 – 50 cm pada saat 12 bulan setelah perlintasan traktor roda 4 dan (2) mempelajari hubungan antar beberapa variabel sifat fisik tanah terkait pengaruh pemberian mulsa organik terhadap tingkat pemadatan tanah pada kedalaman 0 – 50 cm pada saat 12 bulan setelah perlintasan traktor roda 4.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2025 – Desember 2025 di lahan pertanian Unit Penyewaan Jasa Alsintan (UPJA) Sokaraja serta lab Terpadu 1 IAB, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan, yaitu tanpa mulsa (M0), mulsa jerami (MJ), mulsa sekam (MS), dan mulsa serasah daun bambu (Md). Sampel tanah tidak terganggu diambil pada kedalaman 0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40, dan 40 – 50 cm, dengan jumlah ulangan 5 kali pada setiap kedalaman tanah, sehingga total sampel tanah yang diambil adalah 100. Bahan yang digunakan yaitu: mulsa jerami, serasah daun bambu, sekam dan 4 plot lahan berukuran 2 m x 2 m. Sedangkan alat yang digunakan yaitu: traktor roda 4, head core ring sampler, soil ring sampler standar, oven, jangka sorong, falling head meter, timbangan digital, pisau, meteran, palu, dan stopwatch. Variabel yang diukur adalah dry bulk density, konduktivitas hidrolik jenuh, porositas, dan kadar air tanah. Analisis data dilakukan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5%, diikuti dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) serta analisis regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mulsa organik berupa mulsa jerami (Mj), mulsa sekam (Ms), dan mulsa serasah daun bambu (Md) berpengaruh dalam menurunkan nilai dry bulk density dan meningkatkan porositas, kadar air, dan konduktivitas hidrolik jenuh tanah. Dry bulk density menunjukkan korelasi linier negatif terhadap konduktivitas hidrolik jenuh (R² = 0,6915). Sebaliknya porositas dan kadar air memiliki hubungan linier positif dengan konduktivitas hidrolik jenuh (R² = 0,6915 dan R² = 0,4939). Data saat 12 bulan setelah perlintasan traktor menunjukkan nilai dry bulk density yang lebih tinggi, sedangkan nilai porositas, kadar air, dan konduktivitas hidrolik jenuh lebih rendah dibandingkan data saat 6 dan 0 bulan pengamatan
The Social Identity Formation of PUBG’s Mobile Players in PUBG Discord Community
Penelitian ini mengkaji pembentukan identitas sosial pada pemain PUBG Mobile
dalam komunitas Discord PUBG dengan berlandaskan Social Identity Theory dari
Tajfel dan Turner, yang memberikan kerangka komprehensif untuk menelaah
fenomena tersebut. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada
MMORPG, sehingga studi ini berkontribusi pada kesenjangan tersebut dengan
menyoroti permainan battle royale dan ruang digital yang terkait. Dengan
menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi,
penelitian ini membahas bagaimana pemain membangun dinamika identitas mereka
melalui tiga tahapan, yaitu kategorisasi sosial, identifikasi sosial, dan perbandingan
sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perkembangan identitas tidak hanya
dipengaruhi oleh interaksi di dalam gim, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya regional
seperti rasa hormat, kerja sama, dan harmoni, serta gaya bermain yang diadopsi
oleh komunitas. Humor, penggunaan bahasa, dan ekspresi budaya yang khas
berfungsi sebagai batas simbolis yang membedakan kelompok regional dari
kelompok lain dan menjadi penanda identitas kelompok yang memperkuat ikatan
antaranggota. Berdasarkan hasil penelitian, komunitas Discord PUBG dapat
dipandang sebagai “ruang ketiga” di mana interaksi digital sehari-hari memberikan
kebanggaan budaya, saling menghormati, dan identitas bersama. Dengan demikian,
penerapan Social Identity Theory dalam konteks permainan yang multikultural
diperluas melalui studi ini dan memberikan kontribusi pada kajian akademik
mengenai budaya digital dan identitas daring