27468 research outputs found
Sort by
Determinan Perilaku Pencegahan Hipertensi pada Remaja di Desa Kalibenda, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas
Latar Belakang : Jumlah penderita hipertensi diperkirakan akan meningkat pada tahun 2025 sebanyak 1,5 miliar dan meninggal setiap tahunnya sebanyak 10,44 juta orang. Namun, pada masa remaja seringkali tidak menyadari bahaya hipertensi yang tidak dikontrol, sehingga pencegahan dan pengobatanya masih banyak yang abai.
Tujuan : Mengetahui determinan perilaku pencegahan hipertensi pada remaja di Desa Kalibenda, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif (cross sectional). Total populasi 537 dan sebanyak 104 remaja dipilih menjadi sampel dengan teknik Simple Random Sampling. Instrumen penelitian menggunakan angket dan alat tulis. Analisis data berupa univariat, bivariat (uji chi square), dan multivariat (uji regresi logistik ganda).
Hasil : Hasil menunjukkan remaja memiliki perilaku pencegahan hipertensi baik (50%), pengetahuan baik (56,7%), sikap baik (56,7%), akses informasi kesehatan baik (50%), dukungan keluarga baik (51,9%), dan dukungan teman sebaya kurang baik (51%). Variabel yang berhubungan dan berpengaruh terhadap perilaku pencegahan hipertensi pada remaja adalah pengetahuan (p-value = 0,003), sikap (p-value = 0,002) dan akses informasi kesehatan (p-value = 0,000). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dan berpengaruh adalah dukungan keluarga (p-value = 0,556) dan dukungan teman sebaya (p-value = 0,695).
Kesimpulan : Determinan perilaku pencegahan hipertensi pada remaja di Desa Kalibenda, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas adalah pengetahuan, sikap, dan akses informasi kesehatan. Perlu dilakukan pendekatan edukasi pengetahuan tentang faktor risiko dan sikap tentang pentingnya membatasi konsumsi garam dan olahraga. Peningkatan akses informasi kesehatan hipertensi dengan menggunakan media sosial TikTok dan Website untuk remaja
Perlindungan Hukum Tertanggung atas Investigasi Pascakematian dalam Wanprestasi Klaim Asuransi Jiwa (Studi Putusan Nomor 38/Pdt.G/2023/PN Tgl)
Asuransi bertujuan untuk mengalihkan risiko dari tertanggung kepada penanggung, sekaligus berperan memberikan perlindungan finansial melalui pembayaran santunan atau sejumlah uang tertentu yang telah disepakati sebelumnya dan tercantum dalam polis asuransi. Sengketa yang timbul dalam asuransi seringkali berkaitan dengan pembayaran klaim asuransi. Perusahaan asuransi melakukan investigasi pascakematian sebagai dasar untuk menilai apakah klaim dapat dibayarkan atau ditolak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hakim atas penolakan pembayaran klaim asuransi jiwa serta mengetahui perlindungan hukum bagi pemegang polis terhadap investigasi pascakematian dalam klaim asuransi jiwa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus, serta dengan spesifikasi penelitian preskriptif. Penelitian ini memanfaatkan data sekunder yang diperoleh melalui pengumpulan data kepustakaan dan disajikan dalam bentuk naratif yang kemudian dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa majelis hakim dalam pertimbangan hukumnya menyatakan penanggung melakukan wanprestasi atas pembayaran klaim asuransi yang diajukan ahli waris. Sedangkan dalam perlindungan hukum, pemegang polis telah mendapatkan perlindungan hukum, namun diperlukan adanya perlindungan hukum bagi pemegang polis yang secara khusus melindungi proses investigasi pascakematian yang dilakukan oleh perusahaan asuransi
Gambaran Histopatologi Jaringan Hepar Tikus (Rattus norvegicus) pada Beberapa Keadaan Tenggelam di Air Tawar
Latar Belakang: Tenggelam merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, yang berkontribusi terhadap mortalitas dan morbiditas yang tinggi setiap tahunnya. Membedakan antara tenggelam ante-mortem dan post-mortem masih menjadi tantangan dalam ilmu forensik. Pemeriksaan histopatologi organ, seperti hati (hepar), dapat memberikan wawasan berharga tentang perubahan fisiologis selama tenggelam. Tujuan: Untuk menyelidiki ciri histopatologi jaringan hati pada tikus putih (Rattus norvegicus) dalam tiga kondisi tenggelam di air tawar: hidup saat tenggelam, tidak sadar saat tenggelam, dan mati sebelum tenggelam.
Metodologi: Penelitian eksperimental ini menggunakan desain kelompok pasca-uji yang melibatkan 21 tikus Sprague-Dawley jantan. Tikus dibagi menjadi tiga kelompok (hidup, tidak sadar, dan mati saat tenggelam). Sampel jaringan hati dianalisis secara histopatologi, dengan fokus pada kongesti dan vakuolisasi menggunakan sistem penilaian Suzuki. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.
Hasil: Analisis menunjukkan perbedaan signifikan dalam vakuolisasi di antara kelompok (p = 0,007). Pengujian post hoc menunjukkan perbedaan vakuolisasi yang signifikan antara kelompok hidup dan mati (p = 0,002). Namun, tidak ada perbedaan signifikan yang diamati dalam skor kongesti di antara kelompok (p = 0,070).
Kesimpulan: Penelitian ini mengidentifikasi perubahan histopatologis yang khas pada hati berdasarkan kondisi tenggelam. Vakuolisasi secara signifikan lebih tinggi pada tikus yang tenggelam saat hidup dibandingkan dengan yang tenggelam setelah kematian. Temuan ini meningkatkan pemahaman tentang perubahan fisiologis selama tenggelam dan membantu investigasi forensik
Analisis Tingkat Pencemaran Logam Berat Kadmium (Cd) dan Timbal (Pb) dalam Air di Perairan Kalipanas, Cilacap
Pencemaran logam berat di perairan laut menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan ekosistem yang hidup didalamnya, terutama dari logam kadmium (Cd) dan timbal (Pb). Penelitian ini dilakukan di Perairan Kaliapanas, Cilacap, yang merupakan wilayah strategis dengan berbagai aktivitas antropogenik seperti industri dan aktivitas domestik. Penelitian ini bertujuan mengkaji distribusi, pengaruh variabel fisika-kimia perairan, dan status pencemaran logam berat di Perairan Kalipanas, Cilacap. Sampel air diambil dari tiga stasiun antara lain outlet Sungai Donan (stasiun 1), Kawasan mangrove (stasiun 2) dan Perairan Kaliapanas (stasiun 3) menggunakan purposive sampling, yang mewakili lokasi dengan intensitas aktivitas industri, domestik, dan transportasi laut yang berbeda. Analisis konsentrasi logam Cd dan Pb dalam kolom air dilakukan menggunakan alat Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Cd berkisar antara 0,002-0,004 mg/L dan Pb sebesar 0,006 mg/L. Distribusi logam berat bervariasi di setiap stasiun, dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di stasiun dekat sumber pembuangan limbah industri. Analisis korelasi menunjukkan bahwa variabel fisika-kimia seperti suhu, TSS, pH, dan arus air memiliki pengaruh signifikan terhadap konsentrasi logam Cd dan Pb dalam kolom air. Status pencemaran perairan berdasarkan metode analisis Indeks Pencemaran (IP) mengindikasikan Perairan Kalipanas berada dalam kategori tercemar ringan
Analisis Faktor Risiko Ibu terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Wilayah Kerja Puskesmas Cilongok I
Tingginya persentase Angka Kematian Bayi (AKB) telah menjadi perhatian dunia, khususnya negara berkembang. Kasus kematian bayi tertinggi disebabkan oleh BBLR. World Health Organization (WHO) memperkirakan 15%-20% dari kelahiran di seluruh dunia mengalami BBLR. Puskesmas Cilongok I memiliki angka kasus BBLR yang tinggi dalam 4 tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko ibu terhadap kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di wilayah kerja Puskesmas Cilongok I. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan case control. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan yaitu teknik purposive sampling sebanyak 144 responden. Instrumen penelitian meggunakan buku KIA. Tahap analisis data meliputi univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas responden hamil pada usia tidak berisiko (20-35 tahun), tidak KEK saat hamil, tidak memiliki status anemia saat hamil, paritas tidak berisiko, dan ANC ≥6 kali. Variabel yang berhubungan dengan kejadian BBLR antara lain adalah usia ibu saat hamil (p-value=0,000), status KEK saat hamil (p-value=0,000), status anemia saat hamil (p-value=0,003), paritas (p-value=0,017) dan ANC (p-value=0,000). Sementara itu, variabel yang berpengaruh adalah status KEK saat hamil (OR=9,566) dan ANC (OR=6,088). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cilongok I adalah status KEK saat hamil dan ANC. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemeriksaan kehamilan dan pemenuhan gizi ibu saat hamil untuk mengurangi risiko BBL
Peran Pengawas dalam Menjamin Kualitas Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2024 (Studi Kasus di Kantor BPS Kabupaten Cilacap)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pengawas dalam menjamin kualitas data Susenas 2024 di Kantor BPS Kabupaten Cilacap menggunakan teori peran Henry Mintzberg. Penelitian ini menjelaskan bagaimana pengawas melaksanakan tiga kategori utama peran mereka: peran interpersonal, peran informasional, dan peran pengambilan keputusan. Fokus utama adalah pada efektivitas pelaksanaan tugas pengawasan dalam menjamin akurasi, konsistensi, dan validitas data yang dikumpulkan selama survei.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengawas lapangan, analisis dokumen resmi, dan observasi langsung. Teknik analisis data menggunakan model interaktif yang dilakukan secara interaktif dan terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah benar. Pemilihan teori Mintzberg sebagai kerangka analisis membantu mengidentifikasi berbagai dimensi peran yang dimainkan pengawas, termasuk interaksi dengan petugas pencacah lapangan dan pemangku kepentingan lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pengawas sangat penting dalam menjaga kualitas data. Dalam peran interpersonal, pengawas membangun hubungan yang baik dengan petugas pencacah lapangan untuk memastikan semangat kerja. Dalam peran informasional, mereka bertindak sebagai penghubung antara enumerator dan pihak manajemen BPS untuk memastikan komunikasi berjalan lancar. Dalam peran pengambilan keputusan, pengawas mampu menyelesaikan masalah yang muncul di lapangan secara efektif
Stigma Masyarakat terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas
Latar Belakang: ODGJ lebih sering mendapat stigma dari masyarakat. Stigma dapat memperparah gangguan jiwa dan menghambat penyembuhan. Oleh karena itu, stigma terhadap ODGJ harus diminimalisir untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stigma masyarakat terhadap ODGJ pada komponen stereotip, labeling, separation, dan diskriminasi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif yang dilakukan di Desa Singasari pada bulan September 2024-Januari 2025. Subyek penelitian terdiri dari 10 informan utama yaitu masyarakat Desa Singasari dan empat informan pendukung yaitu satu tokoh masyarakat, satu tenaga kesehatan, dan dua caregiver ODGJ yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Peneliti merupakan instrumen utama dengan dibantu pedoman wawancara. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Analisis data menggunakan analisis tematik.
Hasil: Masih terdapat stereotip diantaranya masyarakat menganggap bahwa gangguan jiwa dapat disebabkan karena kemasukan setan/jin dan ODGJ merupakan seseorang yang berbahaya, aib, beban, dan tidak dapat disembuhkan. Masyarakat masih memberikan labeling kepada ODGJ dengan sebutan wong edan dan wong gendeng (orang gila), orang stres, serta orang kurang. Selain itu, masih tedapat separation yang dilakukan oleh masyarakat terhadap ODGJ dengan melakukan pemasungan dan pemisahan ruangan bahkan mengikat tangan ODGJ. Masyarakat juga masih memberikan diskriminasi berupa merasa takut, menghindar, dan bersembunyi apabila ada ODGJ yang mendekat. Masyarakat juga tidak menerima ODGJ untuk tinggal di lingkungannya dan tidak mengikutsertakan ODGJ di kegiatan masyarakat.
Kesimpulan: Masih terdapat stigma masyarakat terhadap ODGJ pada komponen stereotip, labeling, separation, dan diskriminasi. Masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan terkait ODGJ dan tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan stigma terhadap ODGJ
Pengaruh Paparan Polutan dan Ventilasi Udara Terhadap Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) di Desa Rawalo Kecamatan Rawalo
Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
merupakan salah satu penyakit tidak menular berupa gangguan pada saluran pernapasan atau penyakit paru-paru kronis dengan angka kematian yang tinggi di dunia. PPOK ditandai dengan keluhan pada masalah respirasi berupa sesak, batuk, mengi, dan penurunan aktivitas fisik. Penyebab dari gejala PPOK yaitu infeksi pada saluran napas yang menuju ke paru-paru. Untuk menghindari terjadinya PPOK, perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian terhadap faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap kejadian PPOK yaitu paparan asap rokok, paparan asap kendaraan bermotor, paparan asap obat nyamuk bakar, dan
ventilasi udara. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan case control study dan metode pengambilan sampel berupa total sampling dan matching sampling. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat untuk mengetahui karakter responden, analisis bivariat untuk mengetahui hubungan, dan analisis multivariat untuk mengetahui variabel paling berpengaruh. Hasil Penelitian: Responden penelitian sebagian besar berusia produktif dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara paparan asap rokok (p=0,000), tidak terdapat hubungan antara paparan asap kendaraan bermotor (p=0,586), tidak terdapat hubungan antara asap obat nyamuk bakar (p=0,053) dan terdapat hubungan antara ventilasi udara (p=0,014) dengan kejadian PPOK. Variabel yang berpengaruh terhadap kejadian PPOK di Desa Rawalo, Kecamatan Rawalo, yaitu paparan asap rokok (p-value 0,003; Exp(B) = 8,505) dan ventilasi udara (p-value 0,042; Exp(B) =3,948). Kesimpulan: Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian PPOK di Desa Rawalo, Kecamatan
Rawalo, yaitu paparan asap rokok (p-value 0,003; Exp(B) = 8,505) dan ventilasi udara (p-value 0,042; Exp(B) =3,948).
Kata Kunci: PPOK, paru-paru kronis, polutan, asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap obat nyamuk bakar, ventilasi udara
Faktor Individu dan Pekerjaan Yang Berhubungan dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja di Rig 11 PT Tiga Musim Mas Jaya Bojonegoro
Latar Belakang : musculoskeletal disorders merupakan keluhan atau gangguan yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang ringan hingga terasa sangat sakit pada bagian muskuloskeletal yang meliputi bagian sendi, syaraf, otot, maupun tulang belakang akibat pekerjaannya yang tidak alamiah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletal disorders pada pekerja di Rig 11 PT Tiga Musim Mas Jaya Bojonegoro.
Metode : Metode penelitian ini adalah kuantitatif berupa survey analitik dengan desain cross sectional. Populasi sebanyak 60 pekerja. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner Nordic Body Map dan wawancara. Analisis data menggunakan uji chi square dan koefisien kontingensi.
Hasil Penelitian : Variabel yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletal disorders adalah umur (Pvalue 0,007), masa kerja (pvalue 0,026), IMT (pvalue 0,024), kebiasaan berolahraga (pvalue 0,002), beban kerja (pvalue 0,000), gerakan berulang (pvalue 0,000), riwayat penyakit (pvalue 0,001), dan postur kerja (pvalue 0,000). Variabel yang tidak berhubungan adalah kebiasaan merokok (pvalue 0,190).
Simpulan : Variabel yang paling berhubungan dengan keluhan MSDs adalah gerakan berulang sedangkan variabel kebiasaan merokok tidak memiliki hubungan yang signifikan.
Saran : Pentingnya istirahat setelah melakukan gerakan berulang sehingga keluhan MSDs bisa berkurang, produktivitas meningkat dan berdampak positif pada diri sendiri
Hubungan antara Efikasi Diri dengan Stres Kerja pada Sopir Ambulans Desa di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas
atar Belakang: Sopir ambulans menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaannya seperti kesiapsiagaan 24 jam, kondisi jalan yang buruk, dan cuaca ekstrem yang dapat memicu stres kerja. Stres kerja yang dialami oleh sopir ambulans tentu saja memerlukan solusi dan strategi yang tepat. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi strategi koping stres adalah efikasi diri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri dengan stres kerja pada sopir ambulans desa di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan partisipan penelitian berjumlah 31 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang menggunakan skala likert. Analisis bivariat menggunakan uji Somers’d. Hasil Penelitian: Karakteristik partisipan mayoritas berusia 18-40 tahun dan keseluruhan berjenis kelamin laki-laki. Mayoritas partisipan memiliki memiliki efikasi diri tinggi yaitu sebanyak 18 (58,1%), efikasi diri sedang yaitu sebanyak 13 (41,9%) serta tidak ada partisipan yang memiliki efikasi diri rendah. Mayoritas partisipan memiliki tingkat stres kerja ringan yaitu sebanyak 20 (64,5%), stres kerja sedang yaitu sebanyak 11 (35,5%) serta tidak ada partisipan yang memiliki tingkat stres kerja yang tinggi. Hasil analisis uji Somers’d diperoleh nilai p=0,000 (p value > 0,05) dan r=-0,736 sehingga Ha diterima. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara efikasi diri dengan stres kerja pada sopir ambulans desa dan didapatkan hubungan yang negatif pada kedua variabe