27468 research outputs found
Sort by
Translation Strategies and Accuracy of News Articles on the Cabinet Secretariat of the Republic of Indonesia Website
This study discusses translation strategies for words, phrases, and clauses in sentences and expressions in news articles on the website of the Secretariat of the Cabinet of the Republic of Indonesia. The purpose of this study is to identify categories of translation strategies and translation quality, particularly the accuracy of translations in news articles on the website of the Secretariat of the Cabinet of the Republic of Indonesia. The analysis of translation strategies is based on the theory of Bielsa & Bassnet (2009) and the assessment of translation quality by Nababan et al. (2012). This study uses a descriptive qualitative method. The results of the study show that four categories of strategies were identified: Change in the order of paragraphs (31.11%), Elimination of unnecessary paragraphs (28.89%), Addition of important background information (24.44%), and Summarizing information (15.56%). The quality assessment shows that most translations (62.22%) are considered accurate, 28.89% are less accurate due to missing details or added words, and only 8.89% are inaccurate due to excessive summarization, resulting in unclear meaning. Overall, this study highlights that while some translations are accurate, improvements are needed to enhance the clarity of meaning and news information in the target language
Isolasi dan Karakterisasi Pseudomonas fluorescens Endofit Akar Putri Malu (Mimosa invisa Mart. ex Colla) Dataran Menengah terhadap Antraknosa Buah Cabai Rawit Pascapanen
Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. merupakan salah satu penyakit utama pada buah cabai rawit (Capsicum frutescens L.), baik sebelum maupun setelah panen. Kerugian akibat penyakit ini dapat menurunkan mutu dan daya simpan buah secara nyata. Penggunaan agensia hayati seperti Pseudomonas fluorescens endofit menjadi alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dibandingkan fungisida kimia. Akar tanaman putri malu (Mimosa invisa Mart. ex Colla) diketahui memiliki potensi sebagai sumber isolat P. fluorescens endofit, khususnya di dataran menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakter isolat P. fluorescens endofit dari akar putri malu dataran menengah serta mengevaluasi kemampuannya sebagai agensia hayati dalam mengendalikan antraknosa pada buah cabai rawit pascapanen, serta potensinya sebagai Plant Growth Promoting Endophyte (PGPE).
Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei 2024 hingga Maret 2025 di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Isolasi dilakukan dari akar putri malu sehat di tiga lokasi dataran menengah di Banyumas dan Purbalingga. Isolat yang diperoleh dikarakter secara morfologi, mikroskopis, dan biokimia. Uji antagonis dilakukan terhadap Colletotrichum sp. secara in vitro, dan uji PGPE dilakukan pada benih cabai rawit. Tiga isolat terbaik dari hasil uji dipilih untuk diuji lanjut melalui metode detach fruit guna melihat kemampuannya menekan gejala antraknosa pada buah cabai rawit dengan kontrol dan fungisida yang diulang 5 kali. Variabel yang diamati meliputi panjang akar, bobot segar kecambah, bobot segar akar, masa inkubasi, luas serangan, dan indeks sampah. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) taraf 5%, dan dilanjutkan dengan uji DMRT 5% jika terdapat perbedaan nyata.
Hasil eksplorasi menghasilkan 11 isolat P. fluorescens endofit. Berdasarkan karakterisasi dan uji antagonis, tiga isolat terbaik yang dipilih adalah PFE 15, PFE 21, dan PFE 31. Ketiga isolat ini menunjukkan kemampuan menekan pertumbuhan patogen dengan daya hambat sebesar 16,00–75,00 %. Pada uji PGPE, isolat PFE 15 menunjukkan hasil paling mendekati kontrol dalam hal pertumbuhan benih. Pada uji detach fruit, ketiga isolat menekan luas serangan hingga 13 % dan menurunkan indeks kerusakan buah hingga 15% dibandingkan kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa P. fluorescens endofit dari akar putri malu dataran menengah memiliki potensi sebagai agensia hayati untuk pengendalian antraknosa pada cabai rawit pascapanen. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan biofungisida yang ramah lingkungan dan berkelanjutan
Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Pengungkapan Manajemen Risiko dan Implikasinya terhadap Asimetri Informasi
Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Pengungkapan Manajemen Risiko dan Implikasinya Terhadap Asimetri Informasi”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mendapatkan bukti empiris dua persamaan. Peertama, pengaruh karakteristik perusahaan terhadap pengungkapan manajmeen risiko. Karakteristik perusahaan dijelaskan melalui beberapa variabel yaitu porsi kepemilikan publik, umur perusahaan, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan reputasi auditor. Kedua, pengaruh pengungkapan manajemen risiko terhadap asimetri informasi. Hubungan antar variabel dijelaskan menggunakan teori sinyal dan teori keagenan. Teori sinyal menjelaskan hubungan porsi kepemilikan publik, umur perusahaan, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan reputasi auditor terhadap pengungkapan manajemen risiko. Sedangkan teori keagenan menjelaskan hubungan pengungkapan manajemen risiko terhadap asimetri informasi.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi yang dipilih dalam penelitian yaitu perusahaan manufaktur sektor perindustrian. Terdapat 26 perusahaan di dalam empat sub sektor yang menjadi bagian sektor perindustrian. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu menggunakan kriteria tertentu sesuai tujuan penelitian. Total ada 21 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian dengan rentang periode dari tahun 2022 sampai tahun 2024. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan alat statistik WarpPLS 8.0.
Pengujian antar variabel dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: pengujian inner model & outer model. Keduanya pengujian menghasilkan nilai yang memenuhi kriteria pengujian. Kemudian pengujian model yang merupakan uji hipotesis. Secara empiris, hipotesis 1 ditolak, hipotesis 2 diterima, hipotesis 3 ditolak, hipotesis 4 ditolak, hipotesis 5 diterima, dan hipotesis 6 ditolak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Porsi kepemilikan publik berpengaruh negatif terhadap pengungkapan manajemen risiko. Porsi kepemilikan publik perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel penelitian ini memiliki rata-rata nilai 25%, sehingga 75% porsi saham dimiliki oleh entitas lain. Sehingga investor publik kurang dapat mengontrol kebijakan manajemen yang memiliki tujuan berbeda. Selain itu, investor publik juga cenderung pasif dan tidak terorganisir, sehingga tidak mampu mengintervensi manajemen untuk meningkatkan transparansi. (2) Umur perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan manajemen risiko. Umur yang panjang menunjukkan bahwa suatu institusi mampu bertahan dan menjadi bukti bahwa perusahaan tersebut dapat bertahan serta memanfaatkan peluang yang ada dalam perekonomian. Perusahaan yang telah berdiri lama umumnya telah melalui berbagai siklus bisnis dan krisis ekonomi. Pengalaman ini membentuk kapabilitas perusahaan dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko secara lebih sistematis. (3) Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap pengungkpaan manajemen risiko. Regulasi mengatur semua perusahaan baik besar maupun kecil untuk mengadopsi standar pengungkapan risiko yang sama, sehingga pengungkapan tidak dipengaruhi oleh besar kecil perusahaan. Perusahaan besar maupu kecil memiliki kesempatan yang sama menciptakan standar praktik manajemen risiko melalui pendidikan manajer risiko. (4) Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan manajemen risiko. Keterbukaan informasi perusahaan seperti pengungkapan manajemen risiko merupakan bagian dari legitimasi sosial. Perusahaan yang sangat profitable justru mungkin membatasi pengungkapan risiko karena manajemen ingin mempertahankan fleksibilitas strategis tanpa harus menjelaskan risiko tertentu kepada investor. (5) Reputasi auditor berpengaruh positif terhadap pengungkapan manajemen risiko. Tujuan tekanan auditor kepada perusahaa untuk menyajikan lebih banyak pengungkapan informasi adalah melindungi reputasi perusahaan klien dan reputasi auditor sehingga mengurangi biaya reputasi bagi perusahaan. Auditor eksternal membantu meningkatkan efektivitas manajemen risiko dan evaluasi, sehingga meningkatkan kualitas penilaian dan pengawasan. (6) Pengungkapan manajemen risiko berpengaruh positif terhadap asimetri informasi. Temuan ini sesuai dengan teori agensi dan banyak penelitian. Tujuan pengungkapan informasi yaitu menyamakan kesenjangan informasi antara agen dengan prinsipal, pengungkapan informasi justru menambah beban kerja prinsipal dalam mengelola informasi. Kemajuan teknologi menyebabkan arus informasi bergerak sangat cepat, baik secara natural maupun rekayasa.
Implikasi penelitian ini yaitu perusahaan perlu melakukan evaluasi ulang mekanisme komunikasi dengan pemegang saham publik. Kemudian perusahaan mapan sekalipun harus mempertahankan praktik keterbukaan informasi sebagai bagian dari reputasi korporat. Mengenai ukuran perusahaan, investor perlu pendekatan berbasis kompleksitas bisnis bukan sekadar skala. Perusahaan harus memandang manajemen risiko sebagai investasi jangka panjang. Berkaitan dengan reputasi auditor, mengharuskan perusahaan untuk melakukan pertimbangan lebih hati-hati dalam pemilihan auditor eksternal. Terakhir bagi regulator juga dapat menyederhanaan penyajian informasi risiko yang lebih mudah dicerna.
Penelitian selanjutnya dapat menambah populasi maupun periode penelitian sehingga data yang dihasilkan lebih banyak dan merepresentasikan konstruk lebih baik karena penelitian ini memiliki masalah pada distribusi data yang sedikit. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan variabel lain untuk menjelaskan pengungkapan manajemen risiko dan asimetri informasi
Culture Shock dan Strategi Adaptasi Mahasiswa Asal Papua di Purwokerto
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui culture-shock yang dihadapi dan strategi adaptasi yang dimiliki oleh mahasiswa FISIP Unsoed asal Papua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Hal yang melatar belakangi keputusan merantau mahasiswa asal Papua adalah komunikasi dengan orang sekitar dan kerabat yang sudah pernah merantau serta kualitas sumber daya di daerah yang kurang, dan adanya beasiswa, (2) Komunikasi memiliki peran penting bagi perantau dalam membangun hubungan dan menjalin koneksi dengan lingkungan sekitar, (3) Bentuk culture shock yang dialami oleh mahasiswa FISIP asal Papua antara lain; ketidaktahuan mengenai daerah Purwokerto atau Jawa Tengah, ketidakpastian untuk pulang, konflik dan kesalahpahaman dengan orang di sekitar, rasa malu dan ketidaknyamanan dalam berbicara, kesulitan mempelajari bahasa Jawa Ngapak, keterbatasan akses dalam berkomunikasi kerabat atau keluarga di daerah asal, lingkup pergaulan yang luas, perilaku bullying, stereotipe, dan rasisme. (4) Adapun bentuk strategi komunikasi adaptasi yang diterapkan oleh mahasiswa FISIP asal Papua, antara lain; Tidak menganggap diri berbeda, melepaskan pemikiran inferior, menyesuaikan perilaku dengan norma yang berlaku, menerapkan komunikasi basa-basi, dan membangun relasi lewat perkuliahan serta organisasi baik dalam kampus maupun luar kampus
Respons Morfologi dan Fisiologi Tanaman Kopi (Coffea canephora) Terhadap Pemberian Dosis Biochar dan Ecoenzyme
Kopi robusta memiliki produksi jenis kopi tertinggi di Indonesia dengan produksi kopi robusta sebesar 90% (Hariance et al., 2015). Tanaman kopi robusta memiliki syarat tumbuh adalah tinggi tempat (0-1.000) mdpl dengan ketinggian optimal (400-800) mdpl, suhu 21-240C (Hanafi et al., 2019). Curah hujan optimal untuk tanaman kopi 1.500 – 3.000 mm/tahun (Al Mahbubah et al., 2015). Salah satu permasalahan kopi adalah terlalu banyak penggunaan pupuk anorganik dan kurangnya penggunaan pupuk organik serta pembenah tanah yang dapat membuat tanah menjadi keras. Tanah keras akan membuat mikroorganisme dalam tanah tidak dapat hidup dan tidak dapat menahan air dan udara yang optimal yang membuat tanah tidak subur. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian biochar dan ecoenzyme dengan berbagai dosis terhadap morfologi dan fisiologi tanaman kopi, mengetahui interaksi antara pemberian biochar dan ecoenzyme untuk morfologi dan fisiologi tanaman kopi, mengetahui kombinasi terbaik antara biochar dan ecoenzyme terhadap morfologi dan fisiologi tanaman kopi. Penelitian diharapkan dapat berpengaruh nyata terhadap morfologi dan fisiologi tanaman kopi robusta. Penelitian ini dilakukan di Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas dengan lahan kopi seluas 5.000 m2 dengan menggunakan kopi 5-10 tahun dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m pada ketinggian 700 mdpl. Analisis fisiologi dilakukan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan mulai dari November 2024 sampai Mei 2025. Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan rancangan acak kelompok dua faktorial dengan 3 ulangan. Faktor yang akan dicoba dalam penelitian ini yaitu: faktor satu biochar yang terdiri dari tanpa biochar (B0), 200 g biochar (B1), 300 g biochar (B2). Faktor dua ecoenzyme yang terdiri dari tanpa ecoenzyme (E1), 50 ml/L ecoenzyme (E1), 100 ml/L ecoenzyme (E2). Kombinasi kedua faktor tersebut diperoleh 9 kombinasi dengan 3 ulangan 1 tanaman sehingga didapatkan 27 unit percobaan. Variabel pengamatan pada tanaman kopi meliputi karakter morfologi dan fisiologi tanaman kopi robusta. Variabel morfologi meliputi tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm), jumlah daun (helai). Variabel fisiologi meliputi Indeks luas daun (cm2/m2), kehijauan daun (unit), kerapatan stomata (mm2), lebar bukaan stomata (μm), kandungan klorofil (mg/L), kadar air relatif daun (%), Laju pertumbuhan (cm/hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pemberian biochar berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman (cm), diameter batang (cm) dan laju pertumbuhan (cm/hari). Faktor pemberian ecoenzyme berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah daun (helai), kandungan klorofil (mg/L) dan kadar air relatif daun (%). Terdapat interaksi antara kombinasi perlakuan biochar dengan ecoenzyme pada variabel tinggi tanaman
Pengaruh Substitusi Tepung Ubi Jalar Kuning dan Penambahan Bubuk Daun Pegagan sebagai Sumber Antioksidan terhadap Sifat Kimia dan Sensori Cookies
Perubahan pola hidup masyarakat modern, yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji dan tingginya paparan polusi udara, berkontribusi terhadap akumulasi radikal bebas yang dapat memicu stres oksidatif. Kondisi ini berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes, kanker, alzheimer, dan -arkinson. Pencegahan dapat dilakukan melalui peningkatan asupan antioksidan, salah satunya dengan mengembangkan produk pangan fungsional seperti cookies kaya antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi tepung ubi jalar kuning dan penambahan bubuk daun pegagan (Centella asiatica) terhadap sifat kimia dan sensoris cookies, serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik. Ubi jalar kuning mengandung pati, serat, dan beta-karoten, sedangkan daun pegagan mengandung triterpenoid dan saponin; keduanya memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Variasi konsentrasi kedua bahan tersebut diduga memengaruhi karakteristik akhir cookies secara kimia dan sensoris. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Faktor perlakuan yang diteliti berupa substitusi tepung ubi jalar kuning (T) pada konsentrasi 25% (T1), 50% (T2), dan 75% (T3) serta faktor penambahan bubuk daun pegagan (P) pada konsentrasi 0% (P1), 3,5% (P2), dan 7% (P3). Pada penelitian ini dilakukan pengamatan variabel kimia berupa analisis kadar air, kadar serat kasar, dan aktivitas antioksidan (% inhibisi). Selain itu, pada variabel sensori diamati warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan. Penentuan cookies dengan perlakuan terbaik dilakukan menggunakan metode indeks efektivitas. Selanjutnya, dilakukan analisis proksimat yang meliputi kadar air, protein total, lemak, abu, dan karbohidrat, serta analisis aktivitas antioksidan (IC₅₀). Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar mutu berdasarkan SNI 01-2973-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung ubi jalar kuning berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan, kadar serat kasar, dan kadar air cookies. Terdapat interaksi signifikan antara substitusi tepung ubi jalar kuning dan penambahan bubuk daun pegagan terhadap peningkatan aktivitas antioksidan dan kadar serat kasar. Peningkatan konsentrasi bubuk daun pegagan juga berpengaruh nyata terhadap peningkatan aktivitas antioksidan. Perlakuan terbaik diperoleh pada substitusi tepung ubi jalar kuning 75% dengan penambahan bubuk daun pegagan 3,5%, menghasilkan kadar air 3,24%, kadar abu 2,99%, kadar lemak 31,80%, protein total 4,35%, karbohidrat 57,62%, dan aktivitas antioksidan 75,14 ppm (kategori kuat). Secara sensori cookies tersebut memiliki warna cokelat (4,3), aroma agak khas (3,4), rasa agak pahit (2,9), tekstur agak remah (3,5), dan tingkat kesukaan rendah (2,4)
Diferensiasi Leukosit pada Ikan Nilem (Osteochilus sp.) yang Diberi Pakan dengan Substitusi Tepung Daun Ubi Jalar Terfermentasi
Pakan adalah hal penting dalam budidaya ikan. Substitusi pakan dengan bahan alternatif seperti daun ubi jalar terfermentasi berpotensi menurunkan biaya produksi serta meningkatkan kesehatan ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi terhadap diferensiasi leukosit ikan nilem (Osteochilus sp.). Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang meliputi 4 perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang diberikan yaitu substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi dengan proporsi berbeda: 0% (P1), 25% (P2), 50% (P3), dan 75% (P4). Pemeliharaan ikan nilem dilakukan selama 50 hari. Data yang diamati yaitu diferensiasi leukosit dari preparat apusan darah ikan nilem dan dianalisis dengan ANOVA. Hasil pengamatan persentase limfosit berkisar antara 67±14% hingga 76±8%; monosit berkisar antara 7±3% hingga 13±5% dan polimorfonuklear berkisar antara 16±7% hingga 22±5%. Hasil analisis menunjukan bahwa pemberian pakan substitusi tepung daun ubi jalar terfermentasi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap diferensiasi leukosit ikan nilem. Hasil pengukuran kualitas air antara lain pH berkisar antara 6,4-7,6; amonia berkisar 0-0,25 mg/L; nitrit berkisar antara 0-0,25 mg/L; dan nitrat 5-40 mg/L
Telaah Kelimpahan Total dan Rasio Fitoplankton-Zooplankton pada Tambak Intensif Udang Vaname di Nusawungu, Cilacap
Budidaya udang vaname semakin popular karena kemudahan dalam pemeliharaanya dan ketahanan yang tinggi terhadap penyakit. Sistem intensif yang menerapkan padat tebar dan pakan buatan tinggi diterapkan sebagai upaya memenuhi permintaan yang tinggi terhadap produksi udang vaname. Sistem ini berpotensi menurunkan kualitas air, sehingga perlakuan tambahan seperti mineral dan probiotik diperlukan. Plankton, yang berperan sebagai indikator kesuburan tambak, pakan alami udang, dan penyedia oksigen, akan turut terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan total dan rasio fitoplankton-zooplankton dalam tambak udang vaname. Metode yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil menunjukkan pada petak A9, kelimpahan tertinggi sebesar 18,8 x 105 sel/mL dan terendah sebesar 33,5 x 104 sel/mL, sedangkan pada petak B8, kelimpahan tertinggi sebesar 16,07 x 105 sel/mL, dan terendah sebesar 31,5 x 104 sel/mL, dengan dominansi fitoplankton yang jauh lebih tinggi dibandingkan zooplankton. Pada petak A9, didapatkan rasio sebesar 57:1, sedangkan pada petak B8 ditemukan rasio sebesar 51:1
Aplikasi Multiplexing PCR Berbasis Marka SSR untuk Seleksi Karakter Kandungan Antosianin dan Aromatik pada Tanaman Padi
Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas yang berperan krusial dalam ketahanan pangan nasional. Varietas padi dengan karakteristik aromatik dan kandungan antosianin semakin diminati karena nilai ekonomi dan manfaat kesehatannya yang tinggi. Namun, identifikasi dan seleksi untuk sifat-sifat tersebut masih memerlukan metode yang lebih efisien. Salah satu pendekatan alternatif adalah teknologi multiplexing PCR berbasis penanda SSR, yang mampu mendeteksi simultan dua sifat genetik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan PCR multipleks berbasis penanda SSR sebagai alat seleksi molekuler untuk sifat antosianin dan aromatik, serta untuk menentukan hubungan antara hasil amplifikasi molekuler dan sifat fenotipik tanaman padi yang diamati.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman dan Laboratorium Penelitian Terpadu Universitas Jenderal Soedirman dari Juli 2024 hingga Mei 2025. Sampel yang digunakan terdiri dari 8 genotipe padi dengan kombinasi sifat antosianin dan aromatik, yaitu Jeliteng, Pandan Wangi, Padi Hitam Lokal (PWR), Basmati Pakistan, Logawa, PHMW 482-1-4, PHMW 482-9-134, dan PHMW 487-24-8. Ekstraksi DNA dilakukan menggunakan metode CTAB, dilanjutkan dengan pengujian kualitas dan kuantitas DNA menggunakan spektrofotometri dan elektroforesis gel agarosa. Amplifikasi DNA dilakukan menggunakan metode PCR untai tunggal dan PCR multipleks dengan dua penanda SSR: RM336 untuk antosianin dan RM515 untuk aromatik. Data hasil amplifikasi dianalisis keberadaan, jumlah, dan ukuran pita DNA, kemudian dibandingkan dengan data fenotipe masing-masing genotipe untuk menentukan asosiasinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik multiplexing PCR mampu mendeteksi sifat antosianin dan aromatik secara simultan dalam satu reaksi, dengan sebagian besar genotipe menunjukkan kesesuaian yang baik antara data molekuler dan fenotipiknya. Penanda RM336 efektif dalam mengidentifikasi genotipe berpigmen dan tidak berpigmen, sedangkan RM515 mampu membedakan beras aromatik dan non-aromatik berdasarkan ukuran pita. Data hasil amplifikasi DNA dikonversi menjadi data biner dan dianalisis menggunakan Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) untuk membentuk pohon filogenetik. Dendogram menunjukkan bahwa pengelompokan genotipe yang selaras dengan karakter fenotipik, seperti Pandan Wangi dan Basmati Pakistan yang berada dalam klaster padi aromatik tetapi non-antosianin, serta Galur 1 dan 2 yang menunjukkan kedekatan genetik yang identik yaitu padi berpigmen. Sementara itu, genotipe Jeliteng memiliki posisi unik sebagai satu-satunya genotipe dengan karakter aromatik sekaligus antosianin. Pola pengelompokan ini mencerminkan hubungan kekerabatan berdasarkan kemunculan pita dan fenotipenya, sekaligus memperkuat efektivitas metode PCR multipleks sebagai alat seleksi dan analisis kekerabatan molekuler
Determinan Permintaan Kredit Mobil Konvensional Baru atau Bekas Studi Kasus di Provinsi Daerah Khusus Jakarta; A Bivariate Probit Approach
Indonesia menempati urutan keempat sebagai negara dengan populasi tertinggi di dunia, yang berkontribusi pada tingginya permintaan sarana transportasi. Meskipun sistem transportasi yang memadai sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, akses ke modal tetap menjadi tantangan bagi individu dan sektor bisnis. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan dibagi menjadi kredit konsumtif dan produktif, di mana kredit konsumtif mengalami peningkatan yang signifikan, salah satunya didorong oleh faktor dana pihak ketiga. Namun, tingginya permintaan kredit konsumtif dapat menyebabkan risiko utang rumah tangga dan ketidakstabilan ekonomi. Kredit untuk kepemilikan kendaraan bermotor dapat diberikan untuk kendaraan baru maupun bekas. Mobil konvensional masih menjadi pilihan utama masyarakat, meskipun mobil listrik memiliki potensi pertumbuhan. Daerah Khusus Jakarta, sebagai pusat perekonomian, memiliki proporsi tertinggi dalam penghimpunan Dana Pihak Ketiga, namun juga sekaligus menjadi provinsi dengan nilai kredit kendaraan bermotor bermasalah terbesar nomor satu di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan kredit mobil konvensional, baik baru maupun bekas, di Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Variabel bebas yang diteliti meliputi pendapatan, pengeluaran konsumsi, harga mobil, jumlah tanggungan keluarga, dan tingkat suku bunga. Data diperoleh melalui survei terhadap 100 sampel penelitian dan dianalisis menggunakan analisis probit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan dan harga mobil cenderung meningkatkan peluang permintaan kredit mobil baru. Sebaliknya, peningkatan pengeluaran konsumsi, jumlah tanggungan keluarga, dan tingkat suku bunga cenderung menurunkan peluang permintaan kredit mobil baru.
Implikasi dari hasil penelitian ini mengarah pada pentingnya pengembangan skema pembiayaan yang adaptif terhadap kondisi sosial ekonomi konsumen, seperti penyesuaian tenor, cicilan, dan suku bunga, serta penyusunan strategi pemasaran berbasis segmentasi. Di sisi lain, pemerintah dapat berperan dengan merumuskan kebijakan yang mengintegrasikan perluasan akses pembiayaan kendaraan dengan pengendalian kemacetan dan penguatan transportasi publik, melalui insentif terarah, zonasi kredit, serta regulasi yang mendorong efisiensi mobilitas perkotaan secara berkelanjutan