27468 research outputs found
Sort by
Exploring The Dynamics of Human-Nature Relationships Across Time in Daniel Mason's North Woods (2023)
Penelitian ini membahas hubungan antara manusia dan alam yang digambarkan dalam
novel North Woods karya Daniel Mason yang mengangkat tema ekologis dan historis,
tentang bagaimana berbagai karakter dalam novel berinteraksi dengan alam dari waktu
ke waktu. Penelitian ini menerapkan kerangka kerja ekokritik Garrard yang juga
dibantu dengan teori-teori lain, seperti konsep simbiosis hubungan manusia dengan
alam dari Cheam and Nishiguchi serta unsur intrinsik menurut Kennedy dan Gioia.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang dinamis antara manusia
dan alam pada masing-masing karakter yang dipilih dalam novel. Hubungan tersebut
terbagi dalam tiga waktu dan perubahan era dari era kolonial, abad ke-19, dan masa
kini yang ditunjukkan dalam tiga aspek, yaitu: pemanfaatan alam sebagai sarana
keberlangsungan hidup manusia, alam sebagai sumber inspirasi dan tempat
menyendiri, serta alam sebagai medium yang menyimpan kenangan masa lalu dan
memberikan tuntunan
Inventarisasi Ektoparasit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara dengan Padat Tebar Berbeda pada Kolam Akuaponik
Padat tebar memengaruhi tingkat infeksi ektoparasit ikan. Akuaponik dapat menjaga kualitas air dan memanfaatkan limbah pakan secara efisien sehingga menekan perkembangan ektoparasit. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis ektoparasit serta nilai prevalensi, intensitas, dan dominansi pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara dengan padat tebar berbeda dalam sistem akuaponik. Metode penelitian ini menerapkan metode eksperimental menggunakan dua perlakuan padat tebar yaitu 30 dan 50 ekor/m3 dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Jenis ektoparasit yang ditemukan adalah Trichodina sp. dan Monogenea. Nilai prevalensi ektoparasit Trichodina sp. dan Monogenea pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 50 ekor/m3 berturut-turut berkisar antara 5-50% dan 20-70%. Nilai intensitas ektoparasit Trichodina sp. dan Monogenea pada pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 50 ekor/m3 berturut-turut berkisar antara 1-1,5 ind/ekor dan 1,4-1,8 ind/ekor, yang termasuk dalam kategori low. Hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan bahwa perbedaan padat tebar ikan tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas ektoparasit. Trichodina sp. merupakan ektoparasit paling dominan dengan nilai 100% pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 76,92% pada 50 ekor/m3. Kualitas air pada kolam penelitian masih dalam kisaran standar baku mutu yaitu suhu 25,4-25,7°C, pH 7,1-7,3, dan DO 5,1-5,4 mg/L. Padat tebar 50 ekor/m³ aman diterapkan dalam budidaya ikan nila akuaponik
Analisis Morfometrik, Truss Morfometrik, dan Meristik Ikan Chub Makarel (Scomber japonicus) dari Perairan Amakusa, Kumamoto, Jepang
Penelitian ini berjudul analisis karakter morfometrik, truss morfometrik, dan meristik ikan Chub Makarel (Scomber japonicus) yang berasal dari perairan Amakusa, Kumamoto, Jepang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui variasi bentuk tubuh dan karakter biologis yang dapat menjadi dasar identifikasi populasi serta pengelolaan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling) terhadap 10 ekor ikan yang diperoleh dari kolam keramba jaring apung di perairan Amakusa. Pengukuran morfometrik dan truss morfometrik dilakukan menggunakan aplikasi Image-J, sedangkan karakter meristik diamati secara visual. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif menggunakan parameter rata-rata, standar deviasi, dan koefisien variasi (CV). Hasil menunjukkan nilai koefisien variasi morfometrik rendah (<5%), menandakan populasi yang homogen dengan pertumbuhan tubuh proporsional (r² = 0,9552). Analisis truss morfometrik juga memperlihatkan bentuk tubuh seragam dengan variasi kecil pada segmen D14 dan D17. Karakter meristik (DF1: IX–X; DF2: XI–XII; PD: 5; PV: 5; AF: 12) sesuai dengan karakter diagnostik S. japonicus global. Secara keseluruhan, populasi S. japonicus di Amakusa bersifat stabil dan homogen secara morfologi, mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan perairan yang relatif konstan
Governmentality dan Rezim Pengawasan Melalui IDM di Kabupaten Kebumen
Penelitian ini mengevaluasi penerapan Indeks Desa Membangun (IDM) sebagai alat
ukur pembangunan desa di Kabupaten Kebumen berdasarkan Permendesa PDTT Nomor 2
Tahun 2016. Temuan menunjukkan adanya kontradiksi antara standar nasional IDM yang
seragam dengan kebutuhan dan prioritas beragam desa mandiri di daerah tersebut. IDM
cenderung mengabaikan keragaman sosial budaya dan kebutuhan layanan publik yang tidak
selalu dalam kewenangan desa, sehingga menghambat perencanaan dan alokasi sumber
daya. Selain itu, implementasi IDM sebagai mekanisme governmentality membatasi
otonomi desa dan memaksa desa mengikuti agenda pembangunan yang sentralistik,
akibatnya, kapasitas desa dalam pembuatan kebijakan lokal menurun, partisipasi masyarakat
melemah, dan terjadi ketimpangan antara skor IDM dan kesejahteraan masyarakat
sebenarnya. Rekomendasi penelitian ini adalah evaluasi dan penyesuaian kebijakan IDM
agar lebih responsif, adaptif, dan memberdayakan desa secara berkelanjutan sesuai
kebutuhan masyarakat Kabupaten Kebumen
Deteksi Bakteri Salmonella spp. Pada Daging Ikan Nila Yang Dibudidayakan di Sistem Budidaya Kolam Tanah
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Kemampuan beradaptasi yang tinggi membuat ikan nila menjadi salah satu pilihan utama bagi banyak pembudidaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Salmonella spp. pada daging ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dibudidayakan di kolam tanah di Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Sampel berupa 25 gram daging ikan diidentifikasi melalui tahapan preenrichment (BPW), enrichment selektif (RVS dan MKTTn), isolasi pada media selektif (XLD dan BSA), serta uji biokimia (TSIA, LDB, Urea, Indole, dan ONPG). Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pertumbuhan koloni khas Salmonella spp. pada semua media dan uji biokimia, sehingga dinyatakan negatif. Nilai Angka Lempeng Total (ALT) sebesar 1,6 × 10⁴ CFU/g masih di bawah ambang batas ISO 4883-1: 2013/Amd 1 : 2022 (5×10⁵ CFU/g), yang menunjukkan mutu mikrobiologis ikan tergolong baik. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas air kolam tanah yang bersumber dari Kali Ciwaringin masih aman untuk kegiatan
budidaya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa daging ikan nila dari Kecamatan Kapetakan bebas Salmonella spp. dan aman dikonsumsi masyarakat
Studi Komparasi: Pengaruh Alokasi Dana Otonomi Khusus terhadap Kemiskinan di Provinsi Papua dan Papua Barat Tahun 2016-2023
Kemiskinan di Indonesia bagian timur, khususnya di Provinsi Papua dan Papua Barat, masih menjadi tantangan pembangunan yang signifikan. Meskipun pemerintah telah mengalokasikan Dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk mendorong peningkatan layanan publik dan pembangunan ekonomi, tingkat kemiskinan di kedua provinsi tersebut masih berada pada level tertinggi secara nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan pengaruh Dana Otsus, pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terhadap kemiskinan di Papua dan Papua Barat pada periode 2016–2023. Penelitian menggunakan data sekunder dari BPS dan Kementerian Keuangan, serta dianalisis menggunakan regresi data panel dengan pendekatan fixed effect model dan random effect model. Variabel yang digunakan meliputi kemiskinan sebagai variabel dependen, serta Dana Otsus, PDRB, rata-rata lama sekolah (RLS), dan angka harapan hidup (AHH) sebagai variabel independen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dana Otsus tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di kedua provinsi, yang berarti peningkatan Dana Otsus tidak berpotensi menurunkan angka kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi juga tidak berpengaruh signifikan. Sementara itu, variabel pendidikan menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap kemiskinan di Provinsi Papua Barat, sedangkan di Provinsi Papua tidak bepengaruh terhadap kemiskinan. Dan kesehatan menunjukkan hubungan negatif terhadap kemiskinan di kedua Provinsi.
Secara praktis, penelitian ini menekankan perlunya optimalisasi Dana Otsus untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan UMKM, serta pembangunan karakter dan kapasitas SDM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat sektor ekonomi lokal seperti pertanian, perikanan, dan industri kecil. Dalam bidang kesehatan dan pendidikan, peningkatan fasilitas layanan dasar, distribusi tenaga pendidik dan tenaga medis, serta penyediaan layanan kesehatan bergerak dan ambulan udara di wilayah sulit dijangkau menjadi strategi yang relevan. Pendekatan terpadu lintas sektor diperlukan agar kebijakan pengurangan kemiskinan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan di Papua dan Papua Barat
Pengembangan Keju Rempah sebagai Pangan Fungsional
Penelitian berjudul “Pengembangan Keju Rempah sebagai Pangan Fungsional” dilakukan dengan tujuan menganalisa kualitas fisik, kimia, fungsional, dan sensori keju dengan penambahan rempah-rempah (kayu manis, serai, dan kunyit) secara tunggal atau kombinasi dengan lama penyimpanan yang berbeda. Materi penelitian adalah susu sapi dari Exfarm Unsoed, bubuk rempah, rennet, dan starter mesofilik. Peralatan seperangkat alat produksi keju, colorimeter, gas chromatography, texture profile analyzer, dan spektrofotometer. Variabel yang dianalisa adalah karakteristik fisik, kimia, profil sensoris, dan sifat fungsional keju. Penelitian terdiri dari 3 tahap yaitu tahap pertama adalah optimasi proses, tahap kedua adalah karakterisasi keju rempah segar, dan tahap ketiga adalah karakterisasi keju rempah selama penyimpanan (0; 7; 14; 21, 28, dan 35 hari). Hasil yang diperoleh adalah keju yang ditambahkan dengan bubuk kayu manis, serai, dan kunyit hingga level 3% pada penelitian tahap pertama meningkatkan karakteristik pH, warna kemerahan, kekuningan, chroma, whiteness index, hue, rendemen. Penambahan 3% bubuk kunyit menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi. Bubuk rempah yang ditambahkan pada keju secara tunggal atau kombinasi pada penelitian tahap kedua meningkatkan kandungan total padatan, warna kemerahan, kekuningan, tekstur profil, aktivitas antioksidan, dan menurunkan profil sensoris keju. Kombinasi bubuk serai dan kunyit yang ditambahkan pada keju menghasilkan total fenolik dan total asam lemak tertinggi. Kombinasi bubuk serai dan kunyit yang ditambahkan pada keju dengan lama penyimpanan selama 35 hari pada penelitian tahap ketiga meningkatkan total asam tertitrasi, total padatan, warna kemerahan, kekuningan, hue, chroma, aktivitas antioksidan, dan total fenolik keju. Keju yang disimpan selama 28 hari penyimpanan menghasilkan total asam lemak tertinggi. Dengan demikian, penambahan rempah pada keju terbukti dapat meningkatkan sifat fungsionalnya, terutama melalui peningkatan aktivitas antioksidan
Comparative Analysis of Poverty in Indonesia: Multidimensional Poverty and Monetary Poverty (IFLS-5 Data Analysis)
Kemiskinan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pendapatan rendah,
tetapi juga melibatkan deprivasi dalam aspek sosial dan ekonomi lainnya. Data
dari Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan angka kemiskinan moneter,
namun tantangan multidimensi seperti rendahnya akses pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur tetap signifikan.
Metode penelitian menggunakan data sekunder dari Indonesia Family Life
Survey (IFLS) gelombang 5 tahun 2014, dengan sampel 390 rumah tangga. Analisis
dilakukan melalui regresi logistik untuk mengidentifikasi determinan kemiskinan,
menggunakan pendekatan Alkire-Foster untuk kemiskinan multidimensi dan garis
kemiskinan BPS untuk kemiskinan moneter.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan multidimensi dipengaruhi
signifikan oleh variabel seperti lama pendidikan, kemampuan literasi, kematian
anak, imunisasi anak, asuransi kesehatan, kebutuhan kalori, peralatan rumah
tangga, kendaraan, kualitas air bersih, kondisi lantai rumah, sanitasi, dan bahan
bakar memasak. Sementara itu, kemiskinan moneter dipengaruhi oleh lama
pendidikan, sektor pekerjaan, aset rumah tangga, dan ukuran keluarga.
Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pendekatan multidimensi lebih
komprehensif daripada moneter semata, karena mencakup aspek non-ekonomi.
Implikasi kebijakan meliputi penguatan akses pendidikan, kesehatan, infrastruktur,
dan program perlindungan sosial untuk mengurangi kemiskinan secara
berkelanjutan. Keterbatasan penelitian meliputi penggunaan data cross-section
dan indikator proksi yang mungkin belum sepenuhnya akurat
Analisis Determinan Revisit Intention Pasien dan Word of Mouth di RS JIH Purwokerto
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena tingginya jumlah warga
Indonesia yang berobat ke luar negeri, yang mengindikasikan adanya tantangan dalam mempertahankan pasien di fasilitas kesehatan lokal. RS JIH Purwokerto sendiri menunjukkan tren positif dengan peningkatan signifikan kunjungan pasien dari 10.089 (2022) menjadi 54.106 (2024), dimana persentase kunjungan lama (revisit) juga meningkat dari 59,7% menjadi 81,4%. Dominasi pasien pembayaranm pribadi dan belum adanya penelitian sebelumnya mengenai faktor penentu loyalitas di rumah sakit ini mendorong dilakukannya penelitian untuk menganalisis determinan revisit intention dan word of mouth
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei
terhadap 372 pasien rawat jalan di RS JIH Purwokerto yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dianalisis dengan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji pengaruh variabel independen yang meliputi perceived value, kualitas layanan, kepuasan pasien, brand experience, dan citra rumah sakit terhadap variabel dependen yaitu revisit intention dan word of mouth. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian berada pada kategori penilaian tinggi hingga sangat tinggi oleh pasien.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa seluruh hipotesis yang diajukan
terbukti signifikan. Kelima variabel independen—nilai yang dirasakan, kualitas layanan, kepuasan pasien, pengalaman merek, dan citra rumah sakit—berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat kunjungan ulang (revisit intention). Sementara itu, nilai yang dirasakan dan kualitas layanan juga terbukti secara signifikan memengaruhi word of mouth positif dari pasien. Kualitas layanan emerged sebagai faktor yang paling kuat dalam membentuk word of mouth, sementara perceived value menjadi pendorong utama bagi revisit intention.
Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa loyalitas pasien di RS
JIH Purwokerto dapat dibangun melalui peningkatan persepsi nilai, kualitas
layanan, kepuasan, pengalaman pasien, dan citra institusi. Implikasi praktisnya, manajemen rumah sakit disarankan untuk mempertahankan layanan bernilai tambah, meningkatkan pelatihan tenaga medis, melakukan survei kepuasan rutin, mengelola pengalaman merek secara holistik, dan memperkuat citra melalui strategi komunikasi yang efektif. Penelitian ini juga berkontribusi pada pengembangan teori pemasaran jasa kesehatan, khususnya dalam konteks loyalitas pasien di Indonesia.
Kata kunci: customer perceived value, service quality, satisfaction, brand
experience, citra rumah sakit, word of mouth, revisit intentio
Pertanggungjawaban Pidana Pemabuk Dalam Kecelakaan Lalu Lintas (Studi Putusan: Nomor: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap dan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 156K/Pid/2024)
Kecelakaan lalu lintas merupakan peristiwa tidak diduga di jalan raya yang dapat mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. Penyebab utama kecelakaan lalu lintas adalah human error, yang salah satunya adalah pengemudi mabuk. Penelitian ini bertujuan membahas penerapan Pasal 310 dan Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan pertimbangan hukum hakim dalam mengkonstruksikan keadaan mabuk dalam dua perkara kecelakaan lalu lintas, yaitu Putusan Pengadilan Negeri Jayapura Nomor: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap dan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 156K/Pid/2024. Penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam menilai hubungan antara kesadaran pelaku dan akibat perbuatannya, yang berdampak pada perbedaan penerapan pasal dan penjatuhan sanksi pidana. Pada Putusan Nomor: 69/Pid.Sus/2024/PN Jap keadaan mabuk dikualifikasikan sebagai bentuk kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) sehingga diterapkan Pasal 311, sementara dalam Putusan MA Nomor 156K/Pid/2024 dianggap sebagai kelalaian (culpa lata) oleh karena itu diterapkan Pasal 310. Dengan demikian penelitian ini menekankan pentingnya standar yang lebih konsisten dalam mengkonstruksikan keadaan mabuk dalam perkara pidana lalu lintas guna menjamin kepastian dalam menilai pertanggungjawaban pidana oleh pengemudi mabuk