27468 research outputs found
Sort by
Hubungan Antara Metode Persalinan Pervaginam, Paritas, Dan Biaya Perawatan Pada Pasien Retensi Urin Pasca Persalinan Rsud Margono Soekarjo Tahun 2018-2023
Latar Belakang: Retensi urin pasca persalinan (RUPP) merupakan kondisi ketidakmampuan berkemih yang sering terjadi setelah melahirkan, dengan prevalensi berkisar antara 1,7–17,9%. Faktor risiko seperti metode persalinan dan paritas diketahui berkontribusi signifikan terhadap kejadian RUPP, yang dapat meningkatkan biaya perawatan rumah sakit. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara metode persalinan, paritas, dan biaya perawatan pada pasien RUPP di RSUD Margono Soekarjo. Tujuan: Untuk mengidentifikasi hubungan antara metode persalinan pervaginam dan paritas terhadap kejadian RUPP serta pengaruhnya terhadap biaya perawatan pasien di RSUD Margono Soekarjo pada tahun 2018-2023. Metodologi : Penelitian menggunakan desain case-control retrospektif dengan 62 kasus dan 62 kontrol yang disesuaikan berdasarkan usia dan metode persalinan. Data diambil dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dilakukan menggunakan uji univariat dan bivariat dengan perangkat lunak SPSS versi 27. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa metode persalinan instrumen meningkatkan risiko RUPP hingga 6,391 kali dibandingkan persalinan spontan (p < 0,001; OR = 6,391; 95% CI: 2,873–14,219). Primipara juga memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan multipara (p < 0,001; OR = 5,168; 95% CI: 2,401-11,126). Rata-rata biaya perawatan pada pasien RUPP adalah Rp3.894.380,24, lebih tinggi dibandingkan kontrol(Rp3.789.959,68). Kesimpulan: Metode persalinan instrumen dan paritas primipara merupakan faktor risiko signifikan untuk kejadian RUPP, yang berdampak pada peningkatan biaya perawatan. Penelitian ini memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan pencegahan dan pengelolaan RUPP untuk menurunkan morbiditas serta biaya perawatan.
Kata Kunci: retensi urin pasca persalinan, metode persalinan, paritas, biaya perawata
Hubungan Posisi Kerja Membungkuk Terhadap Skrining Nyeri Punggung Bawah Pada Petani Padi di Desa Linggasari.
Latar Belakang: Posisi kerja membungkuk sering berkaitan dengan risiko nyeri punggung bawah (NPB), terutama pada pekerja dengan aktivitas fisik berulang seperti petani. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara posisi kerja membungkuk dan kejadian NPB pada petani padi di Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, Purwokerto Timur. Tujuan: Menganalisis hubungan posisi kerja membungkuk dengan hasil skrining NPB menggunakan Nordic Body Map. Metodologi: Desain cross-sectional dengan melibatkan 72 petani padi sebagai sampel yang dipilih dari metode Slovin. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan mengisi kuesioner Nordic Body Map dan posisi kerja. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa mayoritas petani bekerja dalam posisi membungkuk 90,3% dan prevalensi NPB sebesar 76,4%. Analisis bivariat menggunakan fisher exact test menunjukkan adanya hubungan signifikan antara posisi kerja membungkuk dengan kejadian NPB (p-value < 0,05). Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik menunjukkan hasil posisi kerja membungkuk sebagai faktor risiko paling berpengaruh dengan nilai p-value 0,003 dan OR 29,445, berarti bahwa pekerja yang memiliki posisi kerja membungkuk memiliki kemungkinan 29,445 kali lebih besar untuk mengalami keluhan muskuloskeletal dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki posisi kerja membungkuk secara signifikan Kesimpulan: Posisi kerja membungkuk secara signifikan berkaitan dengan kejadian NPB pada petani padi. Hasil ini mendukung perlunya intervensi ergonomi untuk mencegah NPB pada petani
Tanggung Gugat Perusahaan Atas Perbuatan Melawan Hukum yang Dilakukan oleh Karyawannya (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor 156/PDT/2023/PT.PLG)
Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya kelalaian dari karyawan sebagai supir yang memutar balik di jalan tol secara tiba sehingga menyebabkan kecelakaan yang lalu lintas dan menimbulkan kerugian bagi korban yang mengalami cacat permanen dan kehilangan istrinya yang meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pertimbangan hakim dalam mengkualifisir perbuatan melawan hukum dan pembebanan tanggung gugat kepada perusahaan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan melakukan pengkajian terhadap data sekunder dengan spesifikasi penelitian preskriptif analitis. Data yang diperoleh disajikan dengan teks naratif dan metode analisis yang digunakan adalah normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, hakim menyatakan tindakan karyawan dan perusahaan sebagai perbuatan melawan hukum. Namun, majelis hakim tidak menjelaskan kriteria perbuatan melawan hukum yang dilakukan. Penulis berpendapat bahwa perbuatan melawan hukum yang dilakukan karyawan memenuhi kriteria melanggar hak orang lain yaitu 2 korban yang kehilangan nyawanya , bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku berdasarkan Pasal 310 ayat (4) UU LLAJ dan Pasal 1370-1371 KUHPerdata. Majelis Hakim juga dalam membebankan tanggung gugat ganti kerugian kepada perusahaan tidak mengkualifisir unsur-unsur dari Pasal 1367 ayat (3). Penulis berpendapat unsur-unsur dari Pasal 1367 ayat (3) adalah pelayan/bawahan harus melakukan perbuatan melawan hukum yang dapat dituntut berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, adanya hubungan kerja yang merupakan hubungan subordinasi, ada hubungan antara perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh bawahan dengan pekerjaan yang diberikan oleh majikan. Penulis juga berpendapat jika pembebanan tanggung gugat ganti kerugian kepada perusahaan didasari oleh teori tanggung jawab keuntungan, karena perusahaan sebagai pemberi perintah telah mendapatkan keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan oleh karyawannya, sehingga sudah seharusnya kerugian dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh karyawan dapat dibebankan kepada perusahaan
Indeks Glikemik, Beban Glikemik, Tingkat Kekenyangan Susu Kecambah Koro Pedang Putih dengan Pemanis Stevia dan Gula Aren
Latar Belakang: Penderita diabetes melitus (DM) perlu mengendalikan kadar glukosa darah, salah satunya dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah. Koro merupakan bahan pangan yang berpotensi memiliki nilai IG rendah karena mengandung tinggi serat. Rebusan serai dan jahe mampu membantu menurunkan kadar glukosa darah dan meningkatkan kadar antioksidan serum. Kecambah koro pedang putih, serai, dan jahe potensial untuk dibuat menjadi susu nabati sebagai alternatif pangan antidiabetes. Minuman ini menggunakan pemanis gula aren dan stevia karena kedua pemanis tersebut merupakan pemanis yang dianjurkan untuk penderita diabetes dan memiliki nilai IG yang rendah.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan nilai IG, BG, dan Tingkat Kekenyangan (TK) susu kecambah koro pedang putih dengan gula aren (SKKPP-A) dan susu kecambah koro pedang putih dengan stevia (SKKPP-S).
Metode: Perhitungan IG menggunakan perhitungan luas Area Under Curve (AUC); perhitungan BG menggunakan rumus beban glikemik; sedangkan pengukuran TK menggunakan Visual Analogue Scale kemudian dihitung luas AUC. Data diuji normalitasnya menggunakan Saphiro Wilk, dilanjutkan dengan uji paired t-test.
Hasil Penelitian: IG SKKPP-S adalah 38,21±32,20 (p = 0,000) dan nilai IG SKKPP-A adalah 53,05±46,47 (p = 0,011). BG SKKPP-S adalah 11,46±9,67 (p = 0,000) dan nilai BG SKKPP-A adalah 15,91±13,94 (p = 0,011). Nilai TK SKKPP-S adalah 170,16±91,40 (p = 0,038) dan nilai TK SKKPP-A adalah 105,24±62,93 (p = 0,799).
Kesimpulan: Nilai IG dan BG SKKPP-S maupun SKKPP-A termasuk kategori rendah, dan nilai TK termasuk kategori tinggi
Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Leverage, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba (Studi Kasus Perusahaan Consumer Goods yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Bei) Pada Tahun 2022-2023)
Penelitian ini mengeksplorasi Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Leverage, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba (Studi pada Perusahaan Consumer Goods yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2022 – 2023). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor consumer goods yang terdaftar di BEI pada kurun waktu tahun 2022-2023. Selama periode tersebut, total populasi penelitian ini mencapai 128 perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling sebagai pendekatan dalam pemilihan sampel. Penelitian ini didasarkan pada teori keagenan yang menjelaskan hubungan antara kepemilikan manajerial, leverage, ukuran perusahaan, dan manajemen laba. Konsep manajemen laba dalam konteks teori keagenan menjelaskan bahwa praktik ini dipengaruhi oleh adanya konflik kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal). Konflik ini muncul ketika kedua pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kekayaan yang mereka inginkan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kepemilikan manajerial, leverage, dan ukuran perusahaan, sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah manajemen laba. Hipotesi s pada penelitian ini adalah: (1) Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba, (2) Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba, dan (3) Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Data sekunder yang digunakan mencakup laporan keuangan, dan laporan tahunan yang diperoleh dari website BEI dan website resmi perusahaan consumer goods, dari 64 perusahaan yang dipilih melalui metode purposive sampling. Teknik analisis data meliputi analisis statistik deskriptif, analisis regresi linear berganda, uji asumsi klasik, uji goodness of fit, uji koefisien determinasi, serta pengujian hipotesis. Dalam mengolah data, peneliti menerapkan analisis data secara kuantitatif kausal dengan memanfaatkan software IBM SPSS versi 30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan saham oleh manajemen tidak mampu menyatukan kepentingan manajemen dengan investor, karena manajemen yang juga bertindak sebagai investor belum dapat mengendalikan perusahaan sepenuhnya. Saham yang dimiliki manajer memiliki pengaruh yang terbatas dalam pengambilan keputusan, terutama karena persentase kepemilikan saham manajerial pada perusahaan yang kecil di perusahaan. Akibatnya, manajer cenderung mengelola laba berdasarkan sudut pandang investor, bukan sebagai pemilik saham.
Hasil penelitian juga menunjukan bahwa leverage perusahaan tidak memengaruhi manajemen laba secara. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak mengandalkan utang untuk membiayai aset, sehingga manajemen laba tidak diperlukan sebagai strategi untuk menghindari risiko pembayaran kewajiban. Meskipun ada risiko terkait dengan tingkat utang yang tinggi, dimana perusahaan mungkin menghadapi ancaman ketidakmampuan membayar kewajiban, manajemen laba tidak digunakan sebagai strategi untuk menghindari risiko tersebut. Hasil yang berbeda ditunjukan ukuran perusahaan yang memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Perusahaan besar biasanya memiliki sistem pengendalian internal yang lebih baik dan pengawasan lebih ketat dari pemangku kepentingan eksternal, seperti investor dan regulator. Hal ini membatasi ruang gerak manajemen untuk melakukan praktik manajemen laba. Sistem pengendalian internal yang kuat pada perusahaan besar memastikan kepatuhan terhadap kebijakan operasional dan keuangan, sementara perhatian dari investor dan regulator membantu mengawasi praktik akuntansi. Dengan demikian, perusahaan besar cenderung lebih transparan dan akuntabel dibandingkan perusahaan kecil. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya meningkatkan transparansi pelaporan keuangan, terutama bagi perusahaan besar yang memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap pemangku kepentingan. Pengawasan eksternal, seperti audit independen, juga perlu diperkuat untuk menjaga integritas laporan keuangan. Selain itu, perusahaan kecil dan menengah dapat belajar dari praktik tata kelola perusahaan besar untuk meningkatkan akuntabilitas dan mencegah manipulasi laporan keuangan.
Hasil penelitian ini juga menyoroti pentingnya tata kelola perusahaan yang efektif, terutama dalam mengelola struktur kepemilikan manajerial dan leverage. Manajemen harus menjaga struktur keuangan yang sehat untuk memastikan stabilitas tanpa menciptakan insentif manipulasi. Temuan ini juga menggarisbawahi pentingnya tata kelola yang ketat seiring dengan pertumbuhan perusahaan, guna menciptakan lingkungan bisnis yang transparan dan terpercaya
Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Menderita Skizofrenia (Studi Perbandingan Putusan Nomor 8/Pid.Sus/2021/Pn Pulang Pisau dengan Putusan Nomor 59/Pid.Sus/2021/Pn Tanjung Balai Karimun)
Pertanggungjawaban pidana dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang dapat mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukannya atau tidak. Dalam perkembangannya, suatu perbuatan pidana tidak hanya dilakukan oleh orang yang jiwanya normal tetapi juga muncul beberapa kasus pidana yang dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa seperti skizofrenia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana yang menderita skizofrenia berdasarkan hukum pidana dan bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam menentukan hukuman pidananya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, spesifikasi penelitian adalah preskriptif, sumber data yang digunakan adalah data sekunder, metode penyajian data dalam bentuk teks naratif, metode pengumpulan data adalah studi kepustakaan dan metode analisis data menggunakan normatif kualitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pertanggungjawaban pidana pada pelaku tindak pidana yang menderita skizofrenia telah diatur dalam ketentuan Pasal 44 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di mana skizofrenia diklasifikasikan sebagai alasan pemaaf sebab terganggu karena penyakit. Majelis Hakim dalam Putusan Nomor 8/Pid.Sus/2021/PN Pps telah tepat menjatuhkan pidana terhadap pelaku, namun dalam Putusan Nomor 59/Pid.Sus/2021/PN Tbk Majelis Hakim selain melepaskan terdakwa dari tuntutan hukum seharusnya juga memerintahkan supaya terdakwa ditempatkan di Rumah Sakit Jiwa sebagaimana Pasal 44 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pengaruh Latihan Fisik Aerobik Berbagai Intensitas terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Model Obesitas
Latar Belakang: Obesitas menyebabkan terjadinya resistensi insulin yang berimbas pada peningkatan kadar glukosa darah puasa. Latihan fisik aerobik intensitas ringan, sedang, dan berat dapat menurunkan berat badan sehingga mengurangi kadar glukosa darah puasa. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan fisik aerobik berbagai intensitas terhadap kadar glukosa darah puasa pada tikus (Rattus norvegicus) model obesitas dan mengetahui perlakuan paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah puasa. Metodologi: Penelitian ini menggunakan true experimental dengan desain pretest-posttest control group design. Jumlah sampel 30 ekor tikus (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan yang terbagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok kontrol sehat (K1), kontrol obesitas (K2), kelompok obesitas dengan perlakuan latihan fisik aerobik intensitas ringan (P1), sedang (P2), dan berat (P3) selama 28 hari. Obesitas diinduksi pakan tinggi lemak diberikan selama 28 hari. Pengukuran kadar glukosa darah puasa menggunakan sampel darah yang diambil setelah perlakuan melalui metode reaksi enzimatik menggunakan reagen GOD-PAP. Analisis data menggunakan uji One-way ANOVA dengan data delta. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan latihan fisik aerobik berbagai intensitas dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa tikus (Rattus norvegicus) model obesitas secara signifikan dengan nilai p<0,001 (p<0,05). Kadar glukosa darah puasa pada kelompok K1 (68,44±1,55) dan K2 (138±1,27) meningkat, sedangkan kadar glukosa darah puasa pada kelompok P1 (106,02±3,21), P2 (94,56±2,12), dan P3 (85,99±2,33) menurun. Kesimpulan: Latihan fisik aerobik berbagai intensitas berpengaruh terhadap kadar glukosa darah puasa pada tikus (Rattus norvegicus) model obesitas. Latihan fisik aerobik intensitas berat merupakan perlakuan paling efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah puasa tikus
Geologi dan Analisis Kestabilan Lereng dengan Menggunakan Metode Spencer di Tebing Sungai Klawing, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah
Daerah penelitian berada di Daerah Sungai Klawing dan Sekitarnya, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi geologi dan kestabilan lereng pada longsor yang ada pada daerah penelitian. Metode penelitian berupa pemetaan geologi dan analisa kestabilan lereng menggunakan metode spencer. Satuan geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi dua satuan berdasarkan klasifikasi bentuk muka bumi Budi Brahmantyo dan Bandono (2006), yaitu Satuan Dataran Aluvial Kembaran Wetan dan Satuan Dataran Teras Sungai Klawing. Urutan stratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi 3 satuan dari tua ke muda, yaitu Satuan Batupasir Halus (Anggota Lempung Formasi Ligung), Satuan Batupasir Kasar (Anggota Lempung Formasi Ligung), dan Satuan Breksi Andesit (Endapan Lahar Gunung Slamet) dengan lingkungan pengendapan di darat. Berdasarkan hasil analisis kestabilan lereng, kondisi lereng yang ada pada daerah penelitian memiliki nilai faktor keamanan yang termasuk ke dalam lereng labil atau longsoran sering atau biasa terjadi karena memiliki nilai faktor keamanan kurang dari 1,07 (FK < 1,07). Penyebab utama longsor yang terjadi pada daerah penelitian yaitu disebabkan karena adanya erosi yang terjadi pada tebing sungai yang terjal yang menyebabkan lereng pada tepi sungai tidak mampu menahan air sungai yang menyebabkan sungai menjadi berkelok dan menyebabkan pengikisan pada bagian lereng, sehingga terjadi longsor pada daerah penelitian
Analisis Yuridis terhadap Gugatan Ganti Rugi Akibat Perbuatan Melawan Hukum atas Penolakan Pendaftaran Tanah oleh Badan Pertanahan (Studi Putusan Pengadilan Nomor 7/Pdt.G/2024/Pn.Pwt)
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya tindakan penolakan pendaftaran tanah yang dilakukan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Banyumas selaku Tergugat yang dinyatakan telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum atas permohonan pendaftaran tanah yang diajukan Penggugat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir kriterium perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tergugat dan menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan ganti rugi dan bentuk ganti kerugian yang harus dipenuhi terhadap penggugat oleh perbuatan tergugat tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif analitis. Data bersumber dari data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, dengan menggunakan metode analisis normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa majelis hakim belum secara jelas mempertimbangkan kriterium perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tergugat. Penulis berpendapat bahwa tergugat melakukan perbuatan melawan hukum dan memenuhi kriterium melanggar hak subyektif orang lain yakni BPN telah melanggar hak milik penggugat atas tanahnya dan bertentangan dengan kewajiban hukum sipelaku berlandaskan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria Pasal 19 ayat (1) dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah Pasal 37 ayat (1). Pertimbangan hakim juga tidak menyebutkan dan menjelaskan dalam mengabulkan ganti rugi dan bentuk ganti rugi akibat perbuatan melawan hukum dapat meliputi apa saja, mengingat kerugian materiil sebesar 1 milyar dan immateriil yang didalilkan penggugat akibat kesalahan tergugat tidak dikabulkan
Komposisi Substrat pada Sarang Penetasan Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap
Sarang inkubasi merupakan salah satu faktor yang penting menentukan keberhasilan penetasan telur penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Jenis substrat saranng yang tepat
dapat mendukung dan mengoptimalkan penetasan telur penyu. Persentase
komposisi substrat sarang yang tepat untuk media pengeraman telur penyu dapat
mempengaruhi tingkat persentase penetasan telur penyu. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk bobot dan diameter telur, tingkat penetasan telur pada komposisi
substrat yang berbeda, dan mengetahui pengaruh komposisi substrat yang berbeda
terhadap tingkat penetasan telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Konservasi
Penyu Nagaraja Cilacap. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan 3
perlakuan komposisi substrat yaitu pasir 70%, pasir 75%, dan pasir 100%. Hasil
penelitian menunjukan Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) mempunyai rata-rata
ukuran telur dengan rata – rata bobot 31gram dan diameter 4,45 cm. Tingkat
penetasan telur penyu lekang (Lepidochelys olivacea) rata-rata 100% dengan waktu
inkubasi paling cepat yaitu 48 hari (1,169 jam) pada komposisi substrat pasir 75% pasir
(20% butiran dan 5% lanau). Komposisi substrat yang berbeda tidak berpengaruh
nyata terhadap tingkat penetasan telur penyu lekang (Lepidochelys olivacea