Open Journal Systems of University of Muhammadiyah Gresik
Not a member yet
4732 research outputs found
Sort by
DESKRIPTIF KUANTITATIF DUKUNGAN SOSIAL PADA KEPALA SEKOLAH KELOMPOK BERMAIN (KB) DAN TAMAN KANAK-KANAK (TK) AISYIAH KABUPATEN GRESIK
Background: The many duties, roles and responsibilities of the school principalare in direct contact with teachers, school staff and the community around theschool environment, so there is a need for social support from the partiesconcerned. The existence of this social support can make it easier for schoolprincipals to carry out all activities related to school services. Objective: Thisresearch aims to look at social support for school principals so that they canimprove and maintain physical health and psychological well-being. Thisresearch measures a single variable, namely social support. Method: Theresearch subjects were 71 principals of KB and Aisyiah Kindergarten schools inGresik Regency. Data collection used a questionnaire with a Likert scale tomeasure the level of social support, consisting of 10 items. The data analysistechnique used is descriptive statistics via the SPSS for Windows application.Result: Based on the results of the t test analysis, the difference in t value is37,369 and the significance value between the mean value of the KB and TKlevels in getting social support is p value 0.000 < 0.05. This shows that there isa significant difference between social support for KB and TK. With an empiricalmean value for the KB level of 37.47 and an average empirical mean for the TKof 39.28. Conclusion: Level TK level has a greater empirical mean value thanKB level, which shows that the TK school level has higher social support thanKB school leve
INVARIANSI PENGUKURAN GENDER SOCIAL MEDIA ENGAGEMENT SCALES FOR ADOLESCENT (SMES-A) VERSI INDONESIA
Background: Social Media Engagement Scales for Adolescent (SMES-A) is ameasurement tool that measures adolescents' engagement in using social mediaconsisting of 11 items with three dimensions, namely cognitive engagement,affective engagement, and behavioral engagement. Objective: This study aimsto conduct a confirmatory factor analysis and test the gender measurementinvariance of the Indonesian version of the SMES-A in order to produce a scalethat has good psychometric characteristics. Method: This study was conductedon the criteria of subjects aged 11-21 years totaling 851 using ConfirmatoryFactor Analyses (CFA) statistical procedures first and then continued withmeasurement invariance. Result: Based on the results of Confirmatory FactorAnalyses (CFA) shows that the factor structure of the Indonesian version of theSMES-A with three factors fits the data and there is gender measurementinvariance. Conclusion: The Indonesian version of the SMES-A measurementtool does not have measurement bias based on gender group differences
Evaluation of the Quality of Pharmaceutical Services Based on Minimum Service Standards at Pandanarang Boyolali Regional General Hospital in 2023
Minimum Pharmaceutical Service Standards are very important because they are performance benchmarks that are used as guidelines for pharmaceutical personnel in providing pharmaceutical services. This research aims to determine the suitability of SPM for hospitals in the pharmaceutical sector on the indicators of length of time for prescription service, customer satisfaction, and suitability of prescriptions with the formulary as well as influencing factors at the Pandanarang Boyolali Regional General Hospital in order to help the hospital in improving the quality of better pharmaceutical services. This research uses descriptive analytical research conducted using quantitative research methods. The sample for this research was 300 outpatient patients/prescriptions for indicators of prescription suitability and waiting time, 150 respondents for indicators of customer satisfaction at Pandanarang Boyolali Regional Hospital. The results of the study showed that in the indicator of the length of time for prescription service, the average time for non-concocted prescriptions was 16.33 ± 15,114 minutes and for concocted prescriptions it was 29.85 ± 27,958 minutes, for the patient satisfaction indicator the results were 94.03%, as well as for the indicator The conformity of the prescription with the formulary was 94.72%. Based on the research results obtained, it can be concluded that according to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 129/MENKES/SK/II/2008 concerning Minimum Service Standards for Hospitals in the Pharmaceutical Sector which has been determined by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia that the Pandanarang Boyolali Regional General Hospital is in the indicator The conformity of prescriptions with the formulary does not meet standards, the average waiting time for prescription services meets standards, and the level of customer satisfaction with pharmacy services in pharmaceutical installations meets standard
Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Diare Di Desa Gondang, Kecamatan Tugu Trenggalek
Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja, lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya, bisa tiga kali atau lebih dalam sehari.Menurut data laporan yang dihasilkan dari BPS RI Provinsi Jawa Timur pada tahun 2020 data pemerintah Kabupaten Trenggalek mencatat adanya kasus diare yaitu mencapai 4596 kasus dengan prevalensi 6,01%. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui tingkat pengetahuan dan tingkat perilaku swamedikasi terhadap penyakit diare pada masyarakat Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek dan Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi diare pada masyarakat Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Metode Penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian berupa cross sectional. Kemudian data dianalisis menggunakan SPSS, data yang diambil berjumlah 152 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan yang baik dengan jumlah 134 responden dengan persentase 88,2%, memiliki tingkat pengetahuan yang cukup yaitu 13 responden dengan persentase 8,6% dan tingkat pengetahuan yang kurang/rendah dengan 5 reponden dan persentase 3,3%. Sedangkan untuk hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat perilaku swamedikasi memiliki nilai P value 0,000<0,05 dan kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut menunjukkan nilai 0,526 maka dinyatakan memiliki hubungan kuat
ADSORPTION OF METHYLENE BLUE DYES USING PALM KERNEL SHELLS AS ADSORBENT: Adsorpsi zat warna methylene blue menggunakan cangkang biji kelapa sawit sebagai adsorben
Dalam penelitian ini, dilakukan penurunan zat methylene blue menggunakan limbah dari cangkang biji kelapa sawit. Hasil optimum pada variasi konsentrasi dengan pengadukan 200 rpm terjadi pada menit ke 90 pada konsentrasi 1, 2, dan 3 mg/L. Hasil penurunan adsorpsi sebesar 0,019; 0,022; dan 0,025 mg/L. Pada variasi kecepatan pengadukan dengan konsentrasi methylene blue 1 mg/L, nilai optimum terjadi pada waktu 90 menit. Hasil penurunan adsorpsi pada kecepatan pengadukan 100, 200, 300, 400, dan 500 rpm adalah 0,006; 0,022; 0,053; 0,072; dan 0,083 mg/L. Pada percobaan Pengaruh Konsentrasi terhadap Persen Removal Waktu optimum adsorpsi methylene blue terjadi di menit 90. Persen removal adsorpsi dengan variasi konsentrasi 1, 2, dan 3 mg/L adalah 0,14715; 0,2967; dan 0,44625 mg/g. Efisiensi penyerapan berkisar antara 98,1% hingga 99,17%. Pada percobaan Pengaruh Kecepatan Pengadukan terhadap Persen Removal Waktu optimum adsorsi methylene blue terjadi di menit 90. Persen removal maksimal dengan variasi kecepatan pengadukan 100, 200, 300, 400, dan 500 rpm adalah 0,1491; 0,1467; 0,14205; 0,1392; dan 0,13755 mg/g. Persentase penyisihan adsorpsi berkisar antara 99,4% hingga 91,7%. Berdasarkan kinetika adsorpsi methylene blue bahwa Laju pengadukan yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat mempengaruhi efisiensi proses adsorpsi
Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning
Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan menyelesaikan masalah yang meliputi kemampuan siswa dalam menganalisis pertanyaan, menfokuskan pertanyaan, mengidentifikasi asumsi, menentukan solusi dari permasalahan dalam soal dan menuliskan jawaban atau solusi dari permasalahan soal, serta menentukan kesimpulan dari solusi permasalahan yang telah diperoleh dan menemukan alternatif lain dalam menyelesaikan masalah. Indikator berpikir kritis yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi. Model pendekatan pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa baik aktifitas berfikir, berperilaku dan berketerampilan dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas XI-6 SMAN 1 Gresik pada semester Genap tahun ajaran 2022/2023 yang terdiri dari 33 siswa. Pengumpulan data dengan observasi dan tes. Hasil penelitian ini dari 33 siswa sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditentukan. Berdasarkan observasi dan refleksi yang dilakukan guru dan peneliti, pelaksanaan pembelajaran Matematika dengan menggunakan model Problem Based Learning telah sesuai dengan yang diharapkan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa dapat melaksanakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning dengan baik sehingga berangsur-angsur kemampua
Metode Pembelajaran Pendidikan Kewirausahaan
Entrepreneurship education is an important field to teach in schools/universities because it can develop personality characteristics needed in the world of work. Apart from that, entrepreneurship education can also introduce the world of entrepreneurship, providing opportunities to create jobs for graduates, so that it can support economic growth and community development. In today's ever-evolving world, a person not only needs to have special knowledge in a particular field, but also must have skills such as creativity, innovation, being able to see opportunities, thinking analytically, and the ability to take risks wisely. Entrepreneurship education helps students to develop these personality characteristics through various activities such as learning such as debriefing, entrepreneurship training, simulations, making business plans, internships, and entrepreneurship practices that involve students in generating ideas, identifying opportunities, solving problems, and making informed decisions wise
Kemampuan Siswa Dalam Memecahkan Masalah Soal Cerita Fungsi Ditinjau dari Perbedaan Kemampuan Matematis
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah soal cerita pada materi fungsi komposisi dan fungsi invers. Menurut Polya terdapat beberapa langkah dalam menyelesaikan masalah yakni yaitu memahami masalah, perencanaan pemecahan masalah, melaksanakan perencanaan pemecahan masalah, dan melihat kembali kelengkapan pemecahan masalah. Subjek dalam penelitian ini yakni 3 siswa kelas XI-6 SMAN 1 Gresik yang diambil berdasarkan perbedaan kemampuan matematis yang telah diuji menggunakan tes diagnostik awal, kemudaian diwawancara hasil kerja mereka berdasarkan langkah-langkah Polya. Pengumpulan data adalah tes diagnostik, tes tulis dan wawancara. Teknink analisis data yakni deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian yaitu siswa dalam kategori kemampuan matematis tinggi dapat menyelesaikan soal dengan benar dan melalui tahapan dengan tepat sesuai dengan prosedur Polya; siswa dalam kategori sedang dapat menyelesaikan soal dengan benar, tetapi masih kurang tepat dalam mengikuti tahapan sesuai dengan prosedur Polya; dan siswa dalam kategori kemampuan matematis rendah masih kurang mampu menyelesaikan soal dengan benar dan sesuai dengan prosedur pemecahan masalah polya
Peran Motivasi Belajar Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas 4 Di Sekolah Dasar Muhammadiyah
Individuals learn existence (stimulus) from the outside world and possibly patterns from within because there are dynamic principles within each individual. The following are the dynamic aspects of this person: Goal seeking, mind, and drive: Goal seeking is the process by which an individual's behavior is focused on achieving certain goals; mind is a qualitative substance distinct from physical, and drive is the individual's internal driving force, more generally referred to as "motive." The method used in data collection is descriptive method. While the approach taken is a quantitative approach. Data collection in this study includes literature study and field study. The implementation of this field study involves observation techniques, interviews, and using data collection instruments in the form of questionnaires. Based on the results of correlation analysis obtained 0,538. In order for this number to be meaningful, it needs to be interpreted so as to give an explanation of the correlation between learning motivation and student achievement, that is by consulting through the value of r on the product moment table, either with a significance level of 5% or 1%. For more details will be interpreted r o and r t (table) as follows. At the level of significance of 5% with the number of respondents (N) = 22 obtained r t = 0.423, while r o = 0.538. Thus r o is greater than r t or in other words r o> r t. This means indicating a significant or positive correlation between the two variables. At the level of significance of 1% with the number of respondents (N) = 22 obtained r t = 0.537, while r o = 0.538. Thus r o is greater than r t or in other words r o> r t. This means indicating a significant or positive correlation between the two variables. So the hypothesis examined that "There is a significant correlation between learning motivation and learning achievement subjects grade 4 students in SD Muhammadiyah Gresik.
 
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
Penelitian ini mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter melalui pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Pengumpulan data meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan Pendidikan karakter telah terlaksana dengan baik di SD Negeri 1 Jangraga melalui perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran yang matang. Pada tahapan perencanaan pembelajaran, guru sudah memasukkan nilai-nilai karakter yang diterapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Silabus. Pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan dengan baik melalui model pembelajaran cooperative learning dengan pendekatan Team Assisted Individualization (TAI) yang disesuaikan dengan karakteristik siswa di sekolah dasar. Awal pembelajaran, guru mengajak siswa untuk berdoa sebagai bentuk implementasi spiritualitas, pada saat pembelajaran, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok heterogen untuk melaksanakan diskusi. Model pembelajaran cooperative learning mendorong siswa untuk lebih aktif sekaligus menghargai perbedaan pendapat dalam diskusi. Dalam pembelajaran ini. guru menjadi fasilitator dalam pembelajaran model cooperative learning, selebihnya adalah peran siswa dalam menghidupkan pembelajaran. Akhir pembelajaran, guru memberikan umpan balik untuk membantu siswa dalam memahami konsep yang ada. Pendidikan karakter dilaksanakan dengan bantuan berbagai pihak salah satunya adalah peserta didik itu sendiri. Tanpa adanya bantuan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, pendidikan karakter akan sulit terimplementasi dengan bai