Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Not a member yet
96 research outputs found
Sort by
PROFESIONALISME GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN YANG BERKARAKTER KRISTUS
This research is a pedagogical-theological analysis of the principles of PAK teacher professionalism based on character values based on the example of Jesus Christ as the Great Teacher. The central issue of the Christian religious education profession is related to how a teacher or Christian educator reflects the life values and teachings of Jesus Christ the Great Teacher in carrying out his roles and responsibilities. The substance of forming good character is certainly centred on the character of a good teacher. The essence of a good Christian religion teacher cannot be obtained without glorifying the character of Christ as a great teacher in himself. The research method used is a literature study. As a result, PAK teachers who have the character of Christ must: 1) understand their calling properly; 2) have social empathy; 3) have sensitivity to the learning context; 4) put forward their professional duties.Penelitian ini merupakan sebuah analisis pedagogis-teologis terhadap prinsip profesionalisme guru PAK yang didasarkan pada nilai-nilai karakter pada teladan Yesus Kristus sebagai Guru Agung. Isu sentral dari profesi pendidikan agama Kristen sesungguhnya berhubungan dengan bagaimana seorang guru atau pendidik agama Kristen mencerminkan nilai-nilai hidup dan ajaran Yesus Kristus sang Guru Agung dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Substansi dari proses pembentukan karakter yang baik tentu berpusat pada karakter guru yang baik pula, demikian pula karakter guru agama Kristen yang baik tidak bisa didapatkan tanpa mengagungkan karakter Kristus sebagai guru agung dalam dirinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Hasilnya guru PAK yang memiliki karakter Kristus haruslah: 1) memahami benar panggilannya; 2) memiliki empati sosial; 3) memiliki kepekaan terhadap konteks pembelajaran; 4) mengedepankan tugas profesionalnya
PELAYANAN YESUS SEBAGAI TELADAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
This study aims to explore further the importance of transformative leadership in Christian Religious Education in terms of the leadership example of Jesus Christ during his ministry in the world, to bring students to change their lives. The focus of this research is to describe transformative leadership based on the example of Jesus Christ that is relevant to be applied in both church and school. The research method used is descriptive qualitative method through a literature study approach. The results show that the transformative leadership of Christian Religious Education based on the example of Jesus' leadership must be able to lead and guide the people he leads to be able to interpret, enable, empower, and encourage his followers to produce results and influence for God's mission on earth.Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut mengenai pentingnya kepemimpinan transformatif dalam Pendidikan Agama Kristen yang ditinjau dari teladan kepemimpinan Yesus Kristus selama pelayanannya di dunia, untuk membawa peserta didik menuju perubahan hidup. Fokus dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kepemimpinan transformatif berdasarkan teladan Yesus Kristus yang relevan untuk diterapkan baik di gereja maupun sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kepemimpinan Pendidikan Agama Kristen yang transformatif berdasarkan teladan kepemimpinan Yesus harus mampu memimpin dan membimbing orang-orang yang dipimpinnya untuk dapat memaknai, memampukan, memberdayakan, dan mendorong para pengikutnya untuk membuahkan hasil dan pengaruh bagi misi Allah di bumi
MENGAPLIKASIKAN MODEL KETELADANAN HAMBA TUHAN BERDASARKAN 1 TIMOTIUS 4:12
Exemplary cannot be separated from the life of a servant of God. Exemplary for a servant of God is essential because it has a significant influence on others where the servant of God is a figure and role model for the people he leads. The research explores that a servant of God is a Christ model for the ministry call of a good servant of God. The method used is library research with procedures related to literature analysis whose primary source is the Bible, books, literature, and other sources related to the subject matter. The results show that being the exemplary model of Christ in serving God must follow the ideal criteria for believers, in words, behavior, love, faithfulness, and purity.Keteladanan tidak dapat di pisahkan dari kehidupan seorang hamba Tuhan. Keteladanan bagi seorang hamba Tuhan merupakan hal penting sebab memberikan pengaruh yang sangat besar bagi orang lain di mana hamba Tuhan adalah figure, sosok dan panutan bagi orang yang dia pimpin. Tujuan penelitan adalah untuk mengeksplorasi konsep hamba Tuhan sebagai model Kristus dalam pelayanan menurut 1 Timotius 4:12. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan sumber utama Alkitab, buku, literatur dan sumber lainnya yang berhubungan dengan pokok pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan untuk menjadi model teladan Kristus dalam panggilan pelayan yang baik harus mengikuti kriteria keteladanan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu
MENUMBUHKAN KARAKTER KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI
This paper aims to describe the character of servant leadership. Today, the character of servant leadership is less of a focus in everyday life. Therefore, Christians are invited to be aware of Jesus' command to serve, not to be served. But the character of serving cannot just grow, and it takes a continuous process throughout life. This paper provides a new and simple perspective on how to create a servant leader character starting from oneself. Leadership is a skill in organizing and fostering oneself then the people being led. In this way, the people being led will easily follow the will of the leader. The method used in this research is a conceptual approach. Because good ideas about leadership will create reliable leadership, this thesis is offered in this research so that everyone can develop servant leadership.Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan karakter kepemimpinan yang melayani. Dewasa ini karakter kepemimpinan yang melayani kurang menjadi fokus dalam kehidupan bersama. Karena itu, orang kristiani diajak untuk kembali sadar akan perintah Yesus untuk melayani bukan untuk dilayani. Namun karakter melayani tidak dapat tumbuh begitu saja, diperlukan suatu proses terus-menerus sepanjang hidup. Berdasarkan hal tersebut tulisan ini memberikan suatu sudut pandang yang baru dan sederhana bagaimana menciptakan karakter pemimpin pelayan yang dimulai dari diri sendiri. Kepemimpinan pada dasarnya adalah keterampilan dalam mengatur dan membina diri sendiri kemudian orang yang dipimpin. Dengan cara yang demikian orang yang dipimpin akan dengan mudah mengikuti kehendak sang pemimpin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konseptual. Sebab gagasan yang baik mengenai kepemimpinan akan menciptakan kepemimpinan yang handal. Tesis itulah yang ditawarkan dalam penelitian ini agar setiap orang dapat mengembangkan kepemimpinan yang melayani
KONSEP BELAS KASIHAN MENURUT INJIL MATIUS 18:23-35
This article is the result of research on a compassionate life for fellow human beings according to the Gospel of Matthew 18:23-35. The method used is exegesis. The results show that compassion is the key to forgiving others. Everyone who believes in Jesus receives forgiveness from God by God's great mercy through the person of Jesus Christ. Jesus taught every believer to forgive because they have received His mercy. Not forgiving others means that God does not forgive us because what has been sown on earth will be reaped in heaven. Allah's punishment will apply to everyone who does not forgive. Therefore, this attitude needs to be taken and applied by every believer who has received forgiveness from God in Jesus Christ.Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang kehidupan yang penuh belas kasihan kepada sesama manusia menurut Injil Matius 18:23-35. Metode yang digunakan adalah eksegesis. Hasilnya menunjukkan bahwa belas kasihan adalah kunci untuk mampu mengampuni sesama. Setiap orang yang percaya Yesus menerima pengampunan dari Allah oleh belas kasihan Allah yang besar melalui pribadi Yesus Kristus. Yesus mengajarkan setiap orang percaya untuk mengampuni karena telah menerima belas kasihan-Ny. Tidak mengampuni sesama berarti Allah juga tidak mengampuni kita sebab apa yang telah di tabur di dunia akan di tuai di surga. Hukuman Allah akan berlaku kepada setiap orang yang tidak mengampuni. Oleh karena itu, sikap ini perlu diambil dan diaplikasikan oleh setiap orang percaya yang telah menerima pengampunan dari Allah di dalam Yesus Kristus
Tinjauan Buku: Allah Mengizinkan Manusia Mengalami Diri-Nya, Pengalaman dengan Allah dalam Konteks yang Berpancasila
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari Andreas A. Yewangoe terutama di tahun 2017 yang disampaikan oleh Yewangoe dalam berbagai kesempatan. Yewangoe mencakup tema-tema ini dibawah payung besar: “Allah Mengizinkan Manusia Mengalami Diri-Nya. Pada bagian pertama Yewangoe membahas mengenai seputar dogmatika. Sedangkan pada bagian kedua Yewangoe membahas mengenai seputar agama dan masyarakat. Bagi pembaca, buku ini menjadi buku yang penting untuk dibaca bagi mahasiswa teologi maupun warga gereja. Yewangoe dalam buku ini ingin mengajak setiap pembaca memahami prinsip-prinsip Alkitab tentang peran warga gereja dalam pentas politik, pentinya upaya perdamaian di antar pemeluk agama di Indonesia, pentingnya pendidikan literasi agar menumbuhkan kesadaran agar semakin bijak dan betanggungjawab dalam pengunaan media sosial sehingga terhindar dari pengaruh ideologi yang berlawanan dari Pancasila, ajakan untuk melakukan demonstrasi yang anarkis, ataupun akses informasi yang akan membangkitkan sel-sel teroris di Indonesia, pentingnya membaca dan merefleksikan sejarah Indonesia agar kita semakin menghargai perjuangan dari para pendahulu kita. Dan terakhir, pentingnya mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara sebagai rumah bersama bagi Indonesia yang majemuk.This book is a compilation of writings from Andreas A. Yewangoe, especially in 2017 which was delivered by Yewangoe on various occasions. Yewangoe covers these themes under a big umbrella: “God Permits Humans to Experience Himself. In the first part Yewangoe discusses about dogmatics. Meanwhile, in the second part, Yewangoe discusses religion and society. For readers, this book is an important book to read for both theology students and church members. Yewangoe in this book wants to invite every reader to understand the biblical principles regarding the role of church members in the political arena, the importance of peace efforts among religious adherents in Indonesia, the importance of literacy education in order to raise awareness to be wiser and more responsible in using social media so as to avoid influence. ideologies that are opposite to Pancasila, calls for anarchist demonstrations, or access to information that will arouse terrorist cells in Indonesia, the importance of reading and reflecting on Indonesian history so that we appreciate the struggles of our predecessors even more. And finally, the importance of maintaining Pancasila as the basis of the state as a common home for a pluralistic Indonesia
KONSEP MURAH HATI BERDASARKAN LUKAS 6:36
This paper discusses the meaning of generosity in Luke 6:36. The method used is library research, with the primary sources being the Bible, books, literature, and other sources related to the subject matter. The results showed that the meaning of generosity in Luke 6:36 is to love and forgive fellow human beings. Generosity is a command of God. All believers must practice God's order in concrete actions. Generosity also reflects the Father or is a God-like attribute. Therefore, living generous means expressing the presence of God during life with others.Tulisan ini membahas makna murah hati dalam Lukas 6:36. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan sumber utama Alkitab, buku, literatur dan sumber lainnya yang berhubungan dengan pokok pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna murah hati dalam Lukas 6:36 adalah mengasihi dan mengampuni sesama manusia. Murah hati merupakan perintah Tuhan yang harus dinyatakan dalam tindakan konkrit. Murah hati juga mencerminkan Bapa atau merupakan sifat seperti Allah. Sebab itu hidup bermurah hati berarti menyatakan kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan bersama sesama
IMPLEMENTASI MAKNA HOSPITALITAS KRISTEN TERHADAP PELAYAN GEREJA DAN ANGGOTA JEMAAT
This study aims to describe the meaning of Christian hospitality and its implementation to church servants and congregation members. The method used is qualitative with literature study and interviews with twelve informants at the Toraja Church of the Ranteba'tan Klasis Sillanan Congregation. The research results show that Christian hospitality discusses the friendship of Christians with foreigners, about how to respect our neighbors, no matter how difficult it is to respect individuals who are not the same as us, especially outsiders. Such teachings are found in the Bible. The meaning of the act of hospitality can be reflected in the stories of Bible characters, especially "Paul's hospitality." God has also handed down this hospitality through Jesus Christ to receive and redeem humans. The Bible teaching about hospitalism needs to be implemented in the lives of Christians, especially in maintaining harmonious relationships within the congregation, both relationships between congregations and the relationship between the congregation and church servants.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan makna hospitalitas Kristen dan implementasinya kepada pelayan gereja dan anggota jemaat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi pustaka dan wawancara kepada duabelas informan di Gereja Toraja Jemaat Ranteba’tan Klasis Sillanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hospitalistas Kristen pada dasarnya membahas pertemanan umat Kristen dengan orang asing, tentang bagaimana cara menghargai sesama kita, betapapun sulitnya untuk menghargai individu yang tidak sama dengan kita, khususnya orang luar. Ajaran seperti ini terdapat dalam Alkitab. Pemaknaan akan tindakan hospitalitas dapat berkaca dari kisah tokoh-tokoh Alkitab, khususnya “hospitalitas Paulus”. Hospitalitas ini juga telah diwariskan oleh Allah melalui Yesus Kristus dalam hal menerima dan menebus manusia. Ajaran Alkitab tentang hospitalis perlu diimplementasikan dalam kehidupan orang Kristen, khususnya dalam menjaga keharmonisan hubungan dalam jeemaat, baik hubungan antar jemaat maupun hubungan jemaat dengan para pelayan gereja
PEMURIDAN SEBAGAI IMPLEMENTASI AMANAT AGUNG YESUS KRISTUS
Discipleship is an important concept in Christianity, and the Great Commission is an important mandate for Christians throughout the ages. Both of these are the focus of research. The Great Commission is often associated with the Christian missionary movement but rarely with the discipleship movement. In its implementation, the Great Commission is realized by evangelism but ignores the aspect of discipleship. Therefore, the author analyzes Matthew 28:19-20 using a descriptive qualitative method with textual criticism, namely doing exegesis on the verse to understand the concept of discipleship in the Great Commission of the Lord Jesus Christ. Through this research, the writer finds that discipleship is the main aspect that must be targeted in implementing Christians' great mandate. In practice, discipleship goes through stages: reaching souls, baptizing them, and teaching God's commands.Pemuridan adalah konsep penting dalam kekristenan dan Amanat Agung adalah mandat penting bagi orang-orang Kristen sepanjang zaman. Kedua hal ini merupakan fokus penelitian. Amanat Agung seringkali dikaitkan dengan gerakan misi Kristen tetapi sangat jarang dikaitkan dengan gerakan pemuridan. Dalam implementasinya, Amanat Agung diwujudkan dengan penginjilan tetapi kurang memperhatikan aspek pemuridannya. Oleh sebab itu, penulis menganalisis Matius 28:19-20 menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik kritik teks yakni melakukan eksegesis pada ayat tersebut untuk memahami konsep pemuridan dalam Amanat Agung Yesus Kristus. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa pemuridan adalah aspek utama yang harus menjadi target dalam implementasi mandat agung orang Kristen. Dalam pelaksanaannya, pemuridan melalui tahap-tahap yakni: pergi menjangkau jiwa, membaptis mereka dan mengajarkan perintah Tuhan
Tinjauan Buku: Pelayan Tuhan di Gereja dan Masyarakat
Pemaparan penulis dimulai dari gambaran seorang Penatua dan jabatan di Gereja sebagai amanah Allah untuk melayani. Kemudian menelaah Pelayan Tuhan dari penggalian Alkitab dalam keberadaannya di tengah masyarakat. Sebagai seorang pelayan, Hamba Tuhan adalah sosok pekerja yang memberikan tenaga, pikiran, daya-upaya apapun serta harta demi kemajuan penatalayanan untuk kemuliaan Tuhan. Seorang Pelayan Tuhan melakukan banyak hal bukan untuk keperluan kebesaran nama sendiri bahkan bukan untuk kekayaannya. Buku ini memaparkan bahwa menjadi seorang penatua adalah karunia Allah.Pemaparan penulis dimulai dari gambaran seorang Penatua dan jabatan di Gereja sebagai amanah Allah untuk melayani. Kemudian menelaah Pelayan Tuhan dari penggalian Alkitab dalam keberadaannya di tengah masyarakat. Sebagai seorang pelayan, Hamba Tuhan adalah sosok pekerja yang memberikan tenaga, pikiran, daya-upaya apapun serta harta demi kemajuan penatalayanan untuk kemuliaan Tuhan. Seorang Pelayan Tuhan melakukan banyak hal bukan untuk keperluan kebesaran nama sendiri bahkan bukan untuk kekayaannya. Buku ini memaparkan bahwa menjadi seorang penatua adalah karunia Allah