Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Not a member yet
    96 research outputs found

    PENGARUH GADGET TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 SIAU BARAT SELATAN

    No full text
    The use of gadgets among students of SMP Negeri 1 Siau Barat Selatan is a witness to change in student learning behavior and technological advances. This research aims to explore this, focusing on the negative impact of gadget use on students' learning motivation. This research identifies gadget usage patterns, analyzes their impact on learning motivation, and presents recommendations for more effective management in educational environments. The research method used was quantitative, involving students from South West Siau 1 Middle School as samples. The research results show that gadget use tends to be intense, involving many students in various activities. Data analysis shows a negative relationship between the intensity of gadget use and student learning motivation. Factors such as distraction, dependence on social media, and lack of time management are the main causes of low learning motivation. The rationale for this research was built by referring to the theory of learning motivation, the theory of the use of technology in education, and the theory of adolescent development. The proposed hypothesis strengthens the finding that the intensity of gadget use is negatively correlated with the level of student learning motivation. This research contributes to an in-depth understanding and treatment of the impact of gadget use in educational contexts. It is hoped that the findings of this research can guide educational institutions, parents, students, and future researchers in managing the use of gadgets so that they do not hinder students' learning motivation.Penggunaan gadget di kalangan peserta didik SMP Negeri 1 Siau Barat Selatan menjadi saksi perubahan perilaku belajar siswa seiring dengan kemajuan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dampak negatif penggunaan gadget terhadap motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini mengidentifikasi pola penggunaan gadget, menganalisis dampaknya terhadap motivasi belajar, dan menyajikan rekomendasi untuk pengelolaan yang lebih efektif di lingkungan pendidikan. Metode penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif dengan melibatkan siswa SMP Negeri 1 Siau Barat Selatan sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget cenderung intens, melibatkan sejumlah besar siswa dalam berbagai aktivitas. Analisis data menunjukkan adanya hubungan negatif antara intensitas penggunaan gadget dan motivasi belajar siswa. Faktor-faktor seperti distraksi, ketergantungan pada media sosial, dan kurangnya pengelolaan waktu menjadi penyebab utama rendahnya motivasi belajar. Kerangka pemikiran penelitian ini dibangun dengan merujuk pada teori motivasi belajar, teori penggunaan teknologi dalam pendidikan, serta teori perkembangan remaja. Hipotesis yang diajukan memperkuat temuan bahwa intensitas penggunaan gadget berkorelasi negatif dengan tingkat motivasi belajar siswa. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mendalam dan penanganan dampak penggunaan gadget dalam konteks pendidikan. Diharapkan temuan penelitian ini dapat memberikan panduan bagi institusi pendidikan, orang tua, siswa, dan peneliti selanjutnya dalam mengelola penggunaan gadget agar tidak menghambat motivasi belajar peserta didik

    IMPLIKASI PERAN YESUS BAGI GURU PENGGERAK DAN MERDEKA BELAJAR

    No full text
    This study aims to explore teacher mobilization and independent learning as an educational model initiated by Nadiem Makarim as the Minister of Education and Culture to improve the quality of education in Indonesia which is very concerning. Qualitative methods and literature studies are used to inventory various sources such as books and journals. Then, the data obtained and related to the driving teacher, the role of Jesus, independent learning and the industrial era 4.0 are analyzed in depth. In the meantime, it was found that the semantics of the driving and independent learning teacher had been carried out by Jesus. In fact, as a Great Teacher with the title Rabbi, He is a Teacher who liberates physically, psychologically and spiritually. So it was concluded that educational concepts and policies should be actualized through the implications of Jesus' role as initiator, innovator, facilitator, motivator and communicator who are effective and oriented towards driving and independent learning in the industrial era 4.0.Penelitian ini bertujuan mengetengahkan mengenai guru penggerak dan merdeka belajar sebagai model pendidikan yang dicetuskan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk membenahi kualitas pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan. Metode kualitatif dan studi kepustakaan digunakan untuk menginventarisasi berbagai sumber seperti buku dan jurnal. Kemudian, data-data yang diperoleh dan terkait dengan guru penggerak, peran Yesus, merdeka belajar dan era industri 4.0 dianalisis secara mendalam. Dalam pada itu, ditemukan kesan bahwa semantik guru penggerak dan merdeka belajar telah dilakukan Yesus. Bahkan, sebagai Guru Agung dengan sebutan Rabbi, Ia adalah Guru yang membebaskan secara fisik, psikologi maupun spiritual. Maka disimpulkan bahwa konsep dan kebijakan pendidikan sebaiknya teraktualisasi melalui implikasi peran Yesus sebagai inisiator, inovator, fasilitator, motivator dan komunikator yang efektif serta berorientasi pada guru penggerak dan merdeka belajar pada era industri 4.0.    &nbsp

    NILAI EMPATI DALAM LUKAS 10:25-37 DAN SIGNIFIKANSINYA UNTUK ORANG YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL

    No full text
    This research examines the role of empathy in the context of mental health, specifically through the lens of the Parable of the Good Samaritan in Luke 10:25-37. With increasing cases of depression and mental health disorders in Indonesia, including in North Sulawesi, this research highlights the importance of social support and environmental awareness for individuals with mental health disorders. This research uses the literature study method to analyze data from various relevant literature. The research results show that the empathy shown by the Samaritan in the parable is an example of real and universal love, which transcends the boundaries of social differences and identity. This research confirms that churches have a responsibility to be practically involved in the mental health struggles of their congregation, by showing concrete love and empathy. This is in line with church teachings about love which must be manifested in reality in everyday life.Penelitian ini mengkaji peran empati dalam konteks kesehatan mental, khususnya melalui lensa Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati dalam Lukas 10:25-37. Dengan meningkatnya kasus depresi dan gangguan kesehatan mental di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara, penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan sosial dan kepedulian lingkungan terhadap individu dengan gangguan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis data dari berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati yang ditunjukkan oleh orang Samaria dalam perumpamaan tersebut merupakan contoh kasih yang nyata dan universal, yang melampaui batas-batas perbedaan sosial dan identitas. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab untuk terlibat secara praktis dalam pergumulan kesehatan mental jemaatnya, dengan menunjukkan kasih dan empati yang konkret. Hal ini sejalan dengan ajaran gereja tentang kasih yang harus diwujudnyatakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari

    MEMBACA KISAH ZAKHEUS DALAM PERSPEKTIF DISABILITAS

    No full text
    The study objective is to analyze the story of Zacchaeus found in Luke 19:1-10 from the perspective of disability. Publicans, rich people, short bodies, and sinners are images of Zacchaeus' characterization. He is identified with a negative image, disliked by society because of his work and social status, and isolated from many people, including his religious and political social role. A disability-postcolonial interpretation approach will help researchers overcome the negative stigma attached to Zacchaeus' self-identity. This pro-justice approach will guide us to objectively look at the negative self-image, social realism, social, political, and ideological religious forces that construct Zacchaeus in religion's sacred texts. It is a new approach to analyzing the power of the dominant ideology against weak people who are negatively characterized. As a result, the assumption of short body physiognomy as a characteristic and one's low spirituality is not appropriate to measure; the absence of physical healing as the medical model approach indicates that the problem of disability is not only a personal matter but a problem of social relations. Jesus' presence in the house of Zacchaeus was a symbol of accessibility and inclusivity for all.  Penelitian bertujuan untuk menganalisis kisah Zakheus yang terdapat dalam Lukas 19:1-10 dalam perspektif disabilitas. Pemungut cukai, orang kaya, badan pendek dan orang berdosa adalah gambaran karakterisasi pribadi Zakheus. Ia diidentifikasi dalam citra negatif, tidak disukai masyarakat karena pekerjaan dan status sosialnya; diisolasi dari banyak orang, termasuk peran sosial agama dan politiknya. Pendekatan penafsiran disabilitas-poskolonial akan membantu peneliti menguarai stigma negatif yang menempel dalam identitas diri Zakheus. Pendekatan yang pro keadilan ini akan memandu untuk melihat secara objektif citra diri negatif, realisme sosial, kekuatan sosial, politik dan ideologis keagamaan yang mengkonstruksi Zakheus dalam balutan teks-teks suci agama. Ini akan menjadi pendekatan baru untuk menganalisis kekuatan ideologi dominan terhadap orang-orang lemah yang dikarakterisasi negatif. Hasilnya, asumsi fisignomi tubuh pendek sebagai gambaran karakteristik manusia dan rendahnya spiritualitas seseorang tidak patut untuk dijadikan ukuran; ketiadaan kesembuhan fisik sebagaimana pendekatan model medis menandakan bahwa persoalan disabilitas tidak hanya soal personal, melainkan masalah relasi sosial; dan kehadiran Yesus di rumah Zakheus merupakan simbol aksesibilitas dan inklusivitas bagi semua orang. &nbsp

    KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP BUDAYA BELIS DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT SUMBA

    No full text
    This study discusses the theological analysis of giving belis in marriages for the people of Sumba. This culture or custom has been passed down from generation to generation and always intersects with church marriage. There are many different responses to belis in Sumba community marriages, especially from Christians. The research method used is a literature study. The object of study is the giving of dowries in the marriages of Isaac and Rebekah, Jacob and Rachel, David and Michal, and Shechem and Dina. Theological reflections obtained from this study: First, dowry in the Bible is given as a sign of respect for women and their families. Second, dowry is not coercion but rather the ability of a man to prove his love for a woman who wants to be his wife. Therefore, if it is applied to the belis culture in the Sumbanese people, belis does not conflict with the Christian faith, and belis has positive things that aim to help each other. The implications include: First, belis must be given according to the man's ability. Second, belis may not be held to fulfill the personal ambitions of the bride and groom or their family. Purchase payments must be made for the common good. Third, belis is given in an honorable way. There is no need to justify any means to prove the ability to pay belis at high prices.Penelitian ini membahas tentang kajian teologis terhadap praktik pemberian belis dalam perkawinan masyarakat Sumba. Budaya atau kebiasaan ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan selalu bersinggungan dengan pernikahan gereja. Hal ini dilakukan karena terdapat begitu beragam tanggapan terhadap belis dalam perkawinan masyarakat Sumba, terutama dari kalangan orang Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Obyek kajian adalah pemberian mahar dalam pernikahan Ishak dan Ribka, Yakub dan Rahel, Daud dan Mikhal, serta Sikhem dan Dina. Refleksi teologis yang diperoleh dari kajian ini: Pertama, mahar dalam Alkitab diberikan sebagai tanda penghargaan kepada perempuan dan kepada keluarganya. Kedua, mahar sebenarnya bukanlah sebuah paksaan tetapi lebih kepada kemampuan seseorang pria untuk membuktikan rasa cintanya kepada perempuan yang hendak dijadikan istrinya. Sebab itu jika diterapkan terhadap budaya belis pada masyarakat Sumba, belis sebenarnya tidak bertentangan dengan iman Kristen dan belis memiliki hal positif yang bertujuan untuk saling menolong, saling membantu antara satu dengan yang lain. Implikasinya antara lain: Pertama, belis harus diberikan sesuai kemampuan pihak laki-laki. Kedua, belis tidak boleh diadakan untuk memenuhi ambisi pribadi pihak mempelai atau keluarganya. Pembayaran belis harus dilakukan untuk kepentingan bersama. Ketiga, belis diberikan dengan cara yang terhormat. Tidak perlu menghalalkan segala cara hanya demi membuktikan kemampuan membayar belis dengan harga mahal. &nbsp

    KRITIK TERHADAP PENGANUT AGAMA KRISTEN DAN AGAMA SUKU MENURUT PERSPEKTIF IMMANUEL KANT DALAM KONTEKS SUKU BOTI

    No full text
    Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kritik Immanuel Kant terhadap agama dalam konteks kehidupan beragama yang terjadi di desa Boti. Tulisan ini mengacu pada kerangka teoritis Imannuel Kant dan urgensinya bagi kehidupan beragama, khususnya di desa Boti. Seperti yang dijelaskan Kant bahwa keyakinan agama murni bukanlah untuk membangun institusi manusia baru, tetapi untuk melakukan kritik rasional terhadap agama-agama yang ada dan mencoba membimbing agama-agama dalam kemajuan menuju cita-cita komunitas manusia universal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode fenomenologi dan studi kepustakaan. Dalam penelitian, Peneliti menemukan bahwa kritik Immanuel Kant memberikan pemahaman baru kepada orang Kristen dan penganut agama suku (halaika) untuk menempatkan agama dengan benar dan terbuka baik secara logis maupun moral. Ini berarti bahwa moral dan logika tidak berdiri sendiri tetapi berjalan bersama dengan tujuan membuat perubahan yang baik untuk semua orang. Kritik Kant berguna karena memberikan kontribusi konstan terhadap peningkatan moralitas agama dan logika agama pada setiap orang.              Tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan Kritik Imannuel Kant tentang agama dalam konteks kehidupan keagamaan yang terjadi di desa Boti. Tulisan ini mengacu pada kerangka teori Imannuel Kant dan urgensinya bagi kehidupan keagamaan, khususnya di desa Boti. Sebagaimana yang dijelaskan Kant bahwa keyakinan agama yang murni bukanlah untuk membangun institusi manusia yang baru, tetapi melakukan kritik rasional terhadap agama-agama yang ada serta mencoba untuk membimbing agama-agama dalam kemajuan menuju cita-cita komunitas manusia universal. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode fenomenologi dan studi pustaka. Dalam penelitian, peneliti menemukan bahwa kritik Imannuel Kant memberikan pemahaman baru kepada penganut Kristen dan penganut agama suku (halaika) untuk menempatkan agama dengan benar serta terbuka secara logika mau pun secara moral. Artinya moral dan logika tidak berdiri sendiri tetapi berjalan bersama dengan tujuan membuat perubahan yang baik bagi semua orang. Kritik Kant bermanfaat karena memberikan sumbangsih konstan bagi perbaikan moral keagamaan dan logika keagamaan setiap orang.             &nbsp

    ETIKA KOMUNIKASI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

    No full text
    The Communication Ethics of Christian Religious Education teachers in the midst of advances in information and communication technology is an urgent topic for research. Because Christian Religious Education teachers need to know the right way to communicate so that they can have a positive and significant impact on every student they teach. By using qualitative methods, especially analyzing related literature, several research results related to this topic were obtained. There are five principles described as follows: prioritizing communication with God, being able to filter any information found and obtained on the internet, using every information technology tool and service always based on the principles of the true Christian faith, upholding wise communication in teaching, and practicing communication that renews and embraces.  Etika Komunikasi guru Pendidikan Agama Kristen di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan topik yang urgen untuk diteliti. Oleh karena guru Pendidikan Agama Kristen perlu untuk mengetahui cara berkomunikasi yang benar supaya dapat memberikan dampak positif dan signifikan bagi setiap siswa yang diajar. Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya menganalisis literatur-literatur yang terkait, maka diperoleh beberapa hasil penelitian terkait dengan topik ini. Ada lima prinsip yang diuraikan sebagai berikut: utamakan komunikasi dengan Tuhan, dapat memfilter setiap informasi yang dijumpai dan diperoleh di internet, mempergunakan setiap peralatan dan layanan teknologi informasi dengan selalu berdasarkan prinsip iman Kristen yang benar, menegakkan komunikasi yang penuh hikmat dalam mengajar, dan mempraktikkan komunikasi yang memperbarui serta merangkul. &nbsp

    MAKNA TANGGUNG JAWAB GEMBALA JEMAAT BERDASARKAN TEKS II TIMOTIUS 4:1-8 DALAM PERSPEKTIF BIBLIKAL

    No full text
    This article describes the responsibility of the pastor of the church based on the Biblical perspective of the text of II Timothy 4:1-8. In general, the pastor's responsibility is to take care of God's church spiritually with the aim that the congregation experiences good faith growth in Christ. But specifically in this text, the apostle Paul gives a systematic and detailed portrait of the responsibility of the shepherd to Timothy, remembering that before the Triune God who will judge this message is delivered with authority so that Timothy should be ready to preach the Good News (Gospel) even in situations and conditions. If that is not good, Timothy should dare to rebuke and state his faults with full teaching, have self-control, be patient with suffering and carry out these ministry duties with full responsibility. This article aims to contribute ideas about the meaning of the responsibility of the pastor of the church in a Biblical perspective based on the text of II Timothy 4:1-8 which can then have implications for pastors of the church today to be able to apply and realize these responsibilities in ministry. The method used in this study is a qualitative method using an exegetical approach, namely an analysis of the Historical Grammatical. The meaning of the responsibility of the pastor of the church in the text of II Timothy 4:1-8 is to be ready to preach the Good News (Gospel) even in bad situations and conditions, dare to rebuke and state mistakes with full teaching, have self-control, be patient to suffer. And carry out these service duties with full responsibility.   Keywords: Congregation, Pastor, Responsibility  Dalam artikel ini menguraikan tentang tanggung jawab gembala jemaat yang didasarkan pada perspektif Biblikal dari teks surat II Timotius 4:1-8. Secara umum tanggung jawab gembala jemaat adalah memelihara jemaat Tuhan dalam hal kerohanian dengan tujuan agar jemaat tersebut mengalami pertumbuhan iman yang baik kepada Kristus. Namun secara khusus dalam teks ini, rasul Paulus memberikan potret tanggung jawab gembala secara sistematik dan terperinci kepada Timotius mengingat bahwa di hadapan Allah Tritunggal yang akan menghakimi, pesan ini disampaikan dengan otoritas agar Timotius hendaknya siap sedia mengkhotabhkan Kabar Baik (Injil) meski dalam situasi dan kondisi yang tidak baik, Timotius hendaknya berani menegor dan menyatakan kesalahan dengan penuh pengajaran, memiliki penguasaan diri, sabar menderita serta menunaikan tugas pelayanan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Artikel ini bertujuan untuk memberikan sumbangsi pemikiran tentang makna tanggung jawab gembala jemaat dalam perspektif Biblikal yang didasarkan pada teks II Timotius 4:1-8 yang kemudian dapat berimplikasi kepada para gembala jemaat masa sekarang untuk dapat menerapkan  dan merealisasikan tugas tanggung jawab tersebut dalam pelayanan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan Eksegetis yaitu analisis terhadap Historical Gramatical. Adapun makna tanggung jawab gembala jemaat di dalam teks surat II Timotius 4:1-8 adalah siap sedia mengkhotbahkan Kabar Baik (Injil) meski dalam situasi dan kondisi yang tidak baik, berani menegor dan menyatakan kesalahan dengan penuh pengajaran, memiliki penguasaan diri, sabar menderita serta menunaikan tugas pelayanan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Kata kunci: Gembala, Jemaat, Tanggung Jawab &nbsp

    R-20 DAN AMBIVALENSI AGAMA: TANTANGAN DALAM MEREKONSTRUKSI IDENTITAS AGAMA

    No full text
    The G20 forum, which Indonesia is hosting in 2022, was accompanied by the implementation of the R20 forum initiated by PBNU. The forum is a meeting of interfaith leaders from various parts of the world. This meeting between religious leaders is an encouragement for religions to carry out peace and humanitarian actions. As a forum that becomes a bridge between religious leaders, there are challenges and also differences in goals that become bridges. Not to mention the narrative of wounds and the history of violence that occurred between religions, making obstacles in interfaith encounters rigid and mere formality. So this paper wants to examine the role and meaning of the R20 forum, in reconstructing religious identity. The dualistic meaning of religious identity, which can be interpreted as the root of violence, can also be interpreted as the root of peace. This research uses a literature review, using sources that review the results and direction of the R-20 Forum. Equipped with literature analysis related to the meaning of religion, and dualistic religious identity. Through this paper, it is found that the R-20 forum is a new hope for religion to focus on humanitarian, ecological and socio-economic issues. By prioritizing these values, the construction of the ambivalent face of religion will lead every religious community to prioritize the value of peace and humanitarian development.  Forum G20 dimana Indonesia sebagai tuan rumah yang berlangsung pada tahun 2022, ternyata diiringi dengan pelaksanaan forum R20 yang diinisiasi oleh PBNU. Forum yang menjadi perjumpaan tokoh-tokoh antar agama dari berbagai belahan dunia. Perjumpaan antar tokoh agama ini, menjadi dorongan untuk agama dalam melakukan aksi-aksi perdamaian dan kemanusiaan. Sebagai wadah yang menjadi jembatan antar tokoh agama ini, terdapat tantangan dan juga perbedaan tujuan yang menjadi jembatan. Belum juga narasi luka dan sejarah kekerasan yang terjadi antar agama, menjadikan hambatan dalam perjumpaan-perjumpaan antar agama menjadi kaku dan sekedar formalitas belaka. Maka dalam tulisan ini ingin menelisik peran dan makna forum R20, dalam merekonstruksi identitas agama. Identitas agama yang bersifat dualistik makna, bisa dimaknai sebagai akar kekerasan bisa juga dimaknai sebagai akar perdamaian. Penelitian ini menggunakan kajian literatur, dengan menggunakan sumber-sumber yang mengulas tentang hasil dan arah dari Forum R-20. Dilengkapi dengan analisa kepustakaan terkait dengan makna agama, dan identitas agama yang dualistik. Melalui tulisan ini ditemukan bahwa forum R-20, menjadi harapan baru agama, untuk berfokus masalah kemanusiaan, ekologis, dan juga permasalahan sosial-ekonomi. Dengan mengedepankan nilai-nilai tersebut, maka konstruksi wajah agama yang ambivalensi akan mengarahkan setiap umat beragama untuk mengedepankan nilai perdamaian dan pembangunan kemanusiaan. &nbsp

    PSIKO-HOMILETIKA: MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI MAHASISWA TEOLOGI DALAM BERKHOTBAH

    No full text
    This research is based on a psycho-Homiletic review to find a homiletic learning formulation that builds self confidence for students as beginner preachers with a psychological approach. This concept is based on a framework of thinking that the main goal of Homiletic learning includes the theoretical ability of students to understand the principles of compiling sermon material based on God's word and being able to present this material with confidence, and ultimately create an effective and quality sermon. The method used in this study is a qualitative method with a literature review approach, namely the elaboration of some literature related to the subject matter of the study of the concept of homiletics and self-confidence in preaching. The result is the discovery of a psycho-homiletic formulation that includes spiritual, psychological, and physical aspects which simultaneously builds one's self-confidence in preaching.Penelitian ini didasarkan pada tinjauan psiko-Homiletik untuk menghasilkan sebuah formulasi pembelajaran homiletik yang bermuara pada terbangunnya kepercayaan diri bagi mahasiswa sebagai pengkhotbah pemula dengan pendekatan psikologis. Konsep ini didasarkan pada sebuah kerangka berfikir bahwa tujuan utama dari pembelajaran Homiletik mencakup kemampuan teoritis mahasiswa untuk memahami prinsip-prinsip menyusun materi khotbah yang berlandaskan firman Tuhan serta mampu untuk menyajikan materi tersebut dengan penuh kepercayaan diri, yang pada akhirnya mewujudkan sebuah khotbah yang efektif dan berkualitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan Literatur review yakni elaborasi beberapa literatur yang berhubungan dengan pokok kajian tentang konsep Homiletik dan Kepercayaan diri dalam berkhotbah. Hasilnya ialah ditemukannya sebuah rumusan psiko-homiletik yang mencakup aspek spiritual, psikis, dan fisik yang secara simultan membangun kepercayaan diri seseorang dalam berkhotbah

    11

    full texts

    96

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇