JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
Not a member yet
115 research outputs found
Sort by
DARI PADI KE KARET : STUDI KASUS KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI TRANSMIGRAN ASAL JAWA DI DESA NUSATUNGGAL KECAMATAN OGAN KOMERING ULU (OKU) TIMUR PROVINSI SUMATERA SELATAN
Pada awalnya Desa Nusa Tunggal adalah desa transmigran asal Jawa, terutama dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ketika dibuka pertama tahun 1970-an, para petani bekerja sebagai petani padi tadah hujan. Hal ini dilakukan karena sampai sekarang daerah ini tidak ada saluran irigasi, sehingga tanaman padi yang cocok adalah padi gaga (tanaman padi tahan kering). Mengingat padi gaga hanya dapat ditanam satu tahun satu kali, yaitu pada musim hujan, maka lambat laun petani banyak yang beralih menanam karet. Beralihnya petani menanam karet dimulai tahun 1980-an. Mereka yang menanam karet tingkat ekonominya nampak lebih baik dibandingkan dengan petani yang masihbertahan menaman padi kering (gaga). Sampai tahun 1990-an petani karet terus bertambah seiring dengan berkurangnya petani padi tadah hujan. Pergeseran penanaman padi tadah hujan ke tanaman karet terus berlangsung semakin intensif, sehingga sampai tahun 2012 seluruh petani di Desa Nusa Tunggal sudah bertanam karet, sehingga tidak ada lagi yang menanam padi tadah hujan. Adapun alasan mereka beralih menjadi petani karet, secara ekonomi lebih menguntungkan dibandingkan menanampadi tadah hujan yang hanya ditanam setahun sekali. Jika padi gaga hanya panen sekali dalam setahun, maka tanaman karet dapat menghasilkan getah yang siap jual dalam waktu dua minggu sekali, sehingga tiap dua minggu sekali mereka dapat uang hasil penyadapan karet. Selama masa enam tahun itu petani karet dapat menanam sayur mayur di sela-sela tanaman karet dan beternak sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-har
UPACARA TABUIK ; RITUAL KEAGAMAAN PADA MASYARAKAT PARIAMAN
Upacara tabuik dilaksanakan oleh masyarakat di Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat, setiap tahun pada tanggal 1-10 Muharam dalam rangka memperingati syahidnya Husein bin Abi Thalib (cucu nabi Muhammad) di Padang Karbela yang ditandai dengan usungan keranda tabuik sebagai simbol jasad Husein. Upacara ini bersifat klosal kerena melibatkan ribuan personil mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan penyelenggaraanya, mengandung unsur kepercayaan (religi) dan nilai budaya masyarakat pengembannya. Tulisan ini bertujuan mengungkapan tentang upacara tabuik pada masyarakat Pariaman dengan memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan upacara mencakup latar dan tujuan penyelenggaraan upacara (sejarah/asal usul), pelaksana teknis, peserta, waktu, tempat, perlengkapan dan persiapan, serta jalannya upacara. Penjaringan data dan informasi bertitik tolak dari metode kualitatif yang merupakan pendekatan yang lazim digunakan dalam penelitian kebudayaan. Dari sifatnya, penelitian ini berbentuk eksploratif-deskriptif yang dimaksudkan berusaha menggambarkan dan mengungkapkan sebuah realitas sosial dalam kehidupan masyarakat. Dari penyelenggaraan upacara tabuik, diketahui bahwa upacara tabuik termasuk ritual keagamaan yang mengandung kearifan lokal dan nilai budaya dari masyarakat Pariaman
UPACARA MEMBATUR: SARANA PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER PADA MASYARAKAT DAYAK HALONG
Kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan upacara tradisional pada masyarakat Dayak Halong yang masih dilaksanakan sampai saat ini. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan,Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam tulisan ini dideskripsikan bagaimana jalannya upacara, bahan yang dipakai untuk upacara dan beberapa manfaat upacara dalam pembentukan karakter pada masyarakat Dayak Halong. Hal penting dalam pelaksanaan upacara ini adalah kepatuhan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut maupun masyarakat luar yang tinggal di sekitar komunitas yang bersangkutan dalam mematuhi segala larangan dan pantangan yang diakibatkan dalam pelaksanaan upacara tersebut. Upacara Membatur ini adalah upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat untuk membuatkan rumah bagi arwah leluhur yang telah meninggal. Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik pengamatan dan wawancara mendalam. Informan dipilih berdasarkan metode snowball sampling sesuai dengan tujuan penelitian
SENI DENDANG BENGKULU SELATAN
Tulisan ini mengetengahkan pembahasan tentang sastra lisan Seni Dendang masyarakat Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu. Tulisan ini diramu ulang berdasarkan laporan penelitian yang bersifat kualitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui studi kepustakaan, wawancara dan observasi lapangan serta dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis konten (kontent analiysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek sejarah dan sosial budayaSeni Dendang serta beberapa aspek pertunjukan Seni Dendang, seperti alat pertunjukan, waktu dan suasana pertunjukan, interaksi antara penampil dengan khalayak, teks, dan tari, merefleksikan nilai budaya masyarakat Bengkulu Selatan. Sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Bengkulu Selatan, beberapa nilai budaya yang berhasil dijelaskan adalah, nilai seni, nilai pendidikan, nilai pengorbanan, serta nilai agama dan kepercayaan
JEJAK TUANTA SALAMAKA DAN TRADISI ZIARAH KUBUR SEBAGAI BENTUK BUDAYA SPRITUAL
Penelitian ini membahas tentang keberadaan Makam Syekh Yusuf atau di kenal juga dengan Tuanta Salamaka di Lakiung Kelurahan Katangka Kabupaten Gowa yang sampai saat ini masih dapat dijumpai dan dikaitkan dengan kegiatan pariwisata, tanggapan-tanggapan dari kalangan masyarakat tentang keberadaan Makam Syekh Yusuf manakala dijadikan sebagai objek wisata budaya, serta apa pengaruhnya bagi masyarakat sekitar makam. Dimana penelitian ini di lakukan pada salah satu daerah yaitu di Kelurahan Katangka Kecamatan Sombaopu Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara, Adapun teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Kata Kunci : Makam, Syekh Yusuf, Budaya dan Pariwisat
LOKALITAS RAGAM HIAS MINANGKABAU (Studi Terhadap Tata Letak Ragam Hias Mesjid Asasi Padangpanjang)
Perpaduan syara’ dan adat di Minangkabau tidak hanya dapat dilihat kata-kata filosofisnya (syara’ mengato adat mamakai), tapi perpaduan itu bisa di saksikan secara kongkrit dari budaya materi yang masih tegak berdiri di ranah Minangkabau. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bentuk dan tataletak ragam hias yang ada pada bangunan sakral (mesjid Asasi Padangpanjang). Penelitian ini mempergunakan metode arkeologi Sejarah. Data-data yang bersifat tertulis maka dipergunakan tahapan-tahapan penelitian sejarah berupa heuristik,kritik, interpretasi dan historiografi. Sedangkan data-data yang bersifat artefaktual berupa ragam hias maka dipergunakan teknik penelitian arkeologi yaitu: 1). Observasi yaitu mengumpulkan data berupa penjajakan serta mengadakan survey. 2), Analisis yaitu pengolahan data yang ditemukan di lapangan 3). Eksplanasi Yaitu, penafsiran terhadap data-data arkeologi. Mamfaat penelitian ini untuk mengembangkan keilmuan terutama keilmuan arkeologi religi, bagi pemerintah bermamfaat untuk pengembangan wisata relegiu
KONTRUKSI PEREMPUAN DALAM FILM HANTU SUNDEL BOLONG
Abstrak Penelitian ini mengkaji film-film horor yang mengangkat mitos mengenai hantu Sundel Bolong sebagai tema cerita. Empat film yang menjadi objek penelitian ini yaitu: Sundel Bolong (1981), Malam Jumat Kliwon (1986), Legenda Sundel Bolong (2007), dan Sundel Bolong 2 (2008). Keempat film tersebut mengisahkan tentang perempuan yang menjadi sundel bolong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengafirmasi kekerasan seksual yang dialami perempuan. Penelitian ini menggunakan sudut pandang feminisme yang mencakup pembahasan mengenai hubungan seksual, femme fatale, dan teori film feminis. Kajian ini menggunakan metodologi interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perempuan dalam film sundel bolong merupakan objek dalam hubungan seksual dan kematiannya merupakan kebangkitannya dalam wujud hantu. Sundel Bolong yang kecewa terhadap laki-laki dan frustrasi muncul sebagai sosok femme fatale dan membalas dendam dengan menggunakan tipu muslihat feminin seperti kecantikan, pesona, dan daya tarik seksual. Penindasan seksualitas perempuan adalah subteks penting dari film horor bertema Sundel Bolong.Kata Kunci
JEJAK AUSTRONESIA PADA MASYARAKAT DAYAK MERATUS DI KECAMATAN HAMPANG
AbstrakAbstrak. Semua masyarakat Dayak merupakan rumpun Austronesia. Perlu dibuktikan adanya pewarisan yang ditinggalkan oleh Proto Austronesia ini. Tujuan penelitian mendeskripsikan wujud jejak budaya penutur Austronesia pada masyarakat Dayak Meratus, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitianmembuktikan akan adanya pewarisan kehidupan sosial budaya dan bahasa. Kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak Meratus Kecamatan Hampang memiliki kemiripan bentuk maupun konsep dengan Austronesia, meliputi peralatan hidup, hunian, pemenuhan kebutuhan hidup, pakaian asesoris, dan kepercayaan. Sementara itu, dari perbandingan kosakata kedua penutur menggambarkan adanya hubungan kekerabatan yang diwariskan sebesar 48%. Atau dengan kata lain bahasa Dayak Meratus Kecamatan Hampang, Provinsi Kalimantan Selatan berada dalam kategori keluarga bahasa dengan Proto Austronesia. Kesimpulan wujud jejak penutur Autronesia masa silam pada masyarakat Dayak Meratus Kecamatan Hampang ini dibuktikan dengan unsur nonlinguistik dan linguistik.
AJARAN-AJARAN HUKUM PADA PERMAINAN TRADISIONAL (Studi Kasus di Desa Lubuk Tua Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas)
Lubuk Tua adalah sebuah desa yang terletak di jalur lalu lintas Lubuk Linggau-Palembang. Kehidupan masyarakatnya terdiri dari petani karet, petani sawah dan berkebun. Masyarakat pendatang di desa ini sangat sedikit sekali karena peluang kerja sangat kecil. Hal ini pula yang membuat budaya di desa inilebih murni dari daerah lain di Kabupaten Musi Rawas. Permainan tradisional masih bisa dilihat di lapangan terbuka dan di sungai-sungai yang dimainkan oleh anak-anak pada waktu luang, terutama pulang sekolah. Tanpa disadari ternyata permainan tradisional tersebut telah mengajarkan anak untukbelajar taat hukum dari aturan-aturan yang ada pada permainan tradisional tersebu
ISLAMISASI DI KAWASAN LAUT SULAWESI PADA ABAD KE-19
Islamisasi yang terjadi di Nusantara pada abad ke-19 tidak terlepas dari peran dan pengaruh para pedagang sekaligus ulama dari Timur Tengah yang membawa ajaran Islam. Proses Islamisasi dan konversi agama membutuhkan waktu dan proses panjang, hingga sampai diterima oleh masyarakat setempat. Penerimaan ajaran Islam dilakukan melalui beberapa saluran, terutama dalam jaringan perdagangan. Kawasan Laut Sulawesi, sebagai entrepot, merupakan salah satu jalur Islamisasi karena perkembangan perdagangan rempah-rempah di Maluku sebagai wilayah penghasil rempah-rempah.Tulisan ini bertujuan mengungkap proses Islamisasi di sekitar Kawasan Laut Sulawesi pada abad XIX.Tulisan ini merupakan tulisan sejarah, dengan menggunakan metode sejarah; heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi yang bersifat analisis-kualitatif dan mampu menunjukkan satu rangkaian proses Islamisasi yang terjadi di Nusantara sekitar abad XIX. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pengaruh Islam diawali dari proses perdagangan, di kawasan Laut Sulawesi, bagi pedagang yang menghubungkan ke Maluku sebagai satu pola Islamisasi, sehingga di masa berikutnya komunitas Muslim mampu menciptakan Moslemen clave di Semenanjung Laut Sulawesi