Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
    1218 research outputs found

    Medical Toursm Sebagai Stategi Pemasaran Rumah Sakit: Narrative Review

    Get PDF
    ABSTRAK Untuk memahami tentang Medical Tourism sebagai bagian dari Strategi Pemasaran Rumah Sakit di Area Pariwisata. Artikel yang termasuk dan dinilai untuk kelayakan dalam ulasan ini adalah artikel yang menjelaskan tentang Medical Tourism dan strategi pemasaran rumah sakit di Indonesia. Rumah sakit sebagai bisnis swasta menggunakan berbagai strategi untuk menarik lebih banyak pasien atau pelanggan, seperti menciptakan ruang terapi dalam hibrida hotel (rumah sakit yang dirancang untuk kenyamanan pasien internasional). Rumah sakit juga menyusun strategi pemasaran untuk mengarahkan pasien dan pelanggan serta mengidentifikasi tiga strategi tersebut ialah dengan menghubungkan ke pasien potensial melalui kunjungan ke negara asal, mempekerjakan perantara perjalanan medis dan menyusun paket 'medical check-up' untuk orang sehat. Medical Tourism didefinisikan sebagai upaya pihak fasilitas atau tujuan wisata untuk menarik wisatawan dengan secara mempromosikan layanan dan fasilitas layanan kesehatannya, di samping fasilitas wisata regulernya, sehingga menekankan pada penyedia layanan. Jurnal tentang Medical Tourism, Indonesia masih merupakan bagian dari penyumbang wisatawan medis di negara Malaysia yaitu sebesar 47,8. Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kesehatan yang masih belum terselesaikan sehingga masih fokus terhadap segmentasi pemasaran dalam negeri sehingga belum menjangkau atau mengembalikan segmen pasar dari konsumen atau pasien yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di luar negeri. Studi terhadap model sistem Medical Tourism masih terus berkembang dan banyak potensi dengan menggunakan model ini. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk topik Medical Tourism dan hal penerapan maupun pengembangan sistem yang ada disesuaikan dengan kondisi yang berlaku sebagai salah satu strategi pemasaran rumah sakit, khususnya rumah sakit yang berada di daerah.  ABSTRACT To understand about the Medical Tourism as a part of Hospital Marketing Strategies in Tourism Area. Articles that included and assessed for the eligibility in this review was an article shown a Medical Tourism related to hospital marketing strategies in Indonesia. Medical Tourism is defined as the effort of the facility or tourist destination to attract tourists by promoting its health services and facilities, in addition to its regular tourist facilities, so that it emphasizes service providers. Hospitals as private businesses use various strategies to attract more patients / customers, such as creating therapeutic spaces in hybrid hotels (hospitals designed for the convenience of international patients). The hospital also develops a marketing strategy to direct patients and customers and identifies these three strategies - linking to potential patients through visits to home countries, employing medical travel intermediaries and developing 'medical check-up' packages for healthy people. Journal of Medical Tourism, Indonesia is still a part of contributors to medical tourists in Malaysia, amounting to 47.8 percent. Indonesia is still facing various health problems that remain unresolved so that it is still focused on the domestic marketing segmentation so that it has not reached or returned market segments from consumers or patients who utilize health services abroad. The study of the Medical Tourism system model is still growing and has a lot of potential using this model.The implementation Medical Tourism as hospital marketing strategis should be improved with future in Indonesia as a Tourism country

    Kajian Kebutuhan Pengembangan Rumah Sakit Pemerintah Daerah Kelas B di Provinsi Sulawesi Utara

    Get PDF
    ABSTRAK Adanya peraturan mengenai rujukan regional yang ditetapkan oleh pemerintah Pusat, mendorong pemerintah daerah Sulawesi Utara untuk menyediakan rumah sakit rujukan regional yang memiliki kemampuan pelayanan sebagai RS kelas B.Untuk pengembangan RSUD Provinsi Sulawesi Utara pada masa depan, dibutuhkan informasi dasar pelayanan, fasilitas, sarana dan prasarana, serta cakupan pasar yang bergantung pada tata kelola sistem, kapabilitas SDM, bangunan fisik dan peralatan serta sumber daya. Tujuan dalam studi ini adalah mengkaji kebutuhan pelayanan RSUD Provinsi Sulawesi Utara yang mencakup kajian demografi, kajian sosio-ekonomi, kajian morbiditas dan mortalitas, kajian kebijakan dan regulasi, kajian lingkungan serta kajian kebutuhan lahan, bangunan dan sumber daya. Metode pengumpulan data primer dilakukan dengan melalui wawancara mendalam dan pengukuran lahan serta telaah dokumen dalam terhadap dokumen laporan kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Laporan Riskesdas Tahun 2013, Sulawesi Dalam Angka, data kepegawaian dan data perlengkapan dan peralatan kesehatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembangunan RSUD Provinsi Sulawesi Utara sebagai rumah sakit rujukan provinsi dengan rumah sakit setara kelas B dan 400 TT adalah layak dilakukan. Layanan unggulan yang dapat dikembangkan antara lain Pusat Pelayanan Stroke Terpadu dan pelayanan jantung serta pembuluh darah. Untuk pemenuhan pengembangan RSUD tersebut maka perlu ada strategi pemenuhan tenaga SDM kesehatan dan berbagai fasilitas kesehatan pendukung penyelenggaraan RSUD sebagai rumah sakit kelas B. ABSTRACT The existence of regulations regarding regional referrals established by the central government, encourages the North Sulawesi regional government to provide regional referral hospitals that have service capabilities as class B hospitals. For the development of North Sulawesi Provincial Hospital in the future, basic information on services, facilities, facilities and infrastructure, as well as market coverage that depends on system governance, HR capabilities, physical buildings and equipment and resources. The purpose of this study is to examine the service needs of North Sulawesi Provincial Hospital which includes demographic studies, socio-economic studies, studies of morbidity and mortality, study of policies and regulations, environmental studies and studies of land, building and resource needs. The primary data collection method was carried out through in-depth interviews and land measurements and document review on North Sulawesi Province health report documents, 2013 Riskesdas Report, Sulawesi Dalam Angka, staffing data and health equipment and equipment data. The results of the study indicate that the construction of the North Sulawesi provincial hospital as a provincial referral hospital with hospitals equivalent to class B and 400 TT is feasible. Excellent services that can be developed include the Integrated Stroke Service Center and the services of the heart and blood vessels. To fulfill the development of the RSUD, it is necessary to have a strategy to fulfill health human resources and various health facilities to support the implementation of the RSUD as a class B hospital

    Determinan yang Meningkatkan Risiko Terinfeksi HIV pada Wargabinaan Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan di Indonesia: Studi Tinjauan Pustaka 2007-2017

    Get PDF
    Wargabinaan pemasyarakatan (WBP) diduga berisiko terinfeksi HIV selama tinggal di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) akibat menyuntik narkotika dan perilaku berisiko lainnya. Studi ini bertujuan mengetahui determinan yang meningkatkan faktor risiko terinfeksi HIV di kalangan WBP di lapas/rutan di Indonesia. Rancangan studi adalah tinjauan pustaka sistematik (systematic literature review) yang merangkum dan membandingkan hasil studi dari 12 artikel yang diterbitkan sejak 2007- 2017 di jurnal nasional/internasional berbahasa Inggris/Indonesia mengenai karakteristik dan determinan infeksi HIV pada populasi WBP yang tinggal di lapas/rutan di Indonesia. Karakteristik demografis WBP: umumnya lakilaki; usia rata-rata 30 tahun (rentang: 21-51 tahun); sebagian besar <=SMU; setengahnya menikah. Prevalensi HIV di kalangan WBP di beberapa lapas: 10%-56%. T iga survei nasional tahun 2011, 2013, 2015 menunjukkan prevalence rate antara 1,2% – 3%. Proporsi perilaku berisiko: menyuntik narkotika (antara 5% - 66%), berbagi jarum suntik (28%-47%), kontak seksual tidak aman dengan sesama WBP (2%-13%), atau dengan WPS (96%), pakai tattoo (2%-56%), atau tindik (5%-13%), minum alkohol (47%). Dari 3 survey yang sama tingkat prevalensi Sifilis antara 2,1%– 5%. Determinan/faktor risiko terinfeksi HIV: menggunakan narkotika suntik (OR antara 11,4 - 104,8), pakai tatoo (OR: 1,7 -2,4), pakai tindik (OR = 4,4), seks tidak aman (OR=1,9), terinfeksi Sifilis (OR=4,2). Faktor-faktor penting yang meningkatkan risiko terinfeksi HIV di kalangan WBP di lapas/rutan adalah penggunaan narkotika suntik, berbagi jarum suntik tidak steril, kontak seksual dengan sesama WBP &/ WPS, terinfeksi Sifilis dan memakai tato/tindik

    THE IMPLEMENTATION ANALYSIS OF THE INCLUSION OF HEALTH WARNINGS AND HEALTH INFORMATION POLICY ON CIGARETTE PACKAGING

    Get PDF
    ABSTRACTPictorial health warnings already implemented for more than two years since June 24, 2014, however, there are no changes made following the Minister of Health Regulation No. 28 of 2013 until now. According to the results of the National Survey of Assessment of the Implementation of Pictorial Health Warning (PHW) in Indonesia in 2015 towards the compliance of the tobacco industry, it is known that the cigarette industry has not yet adhered to pictorial health warnings. The Government hopesthat the existence of the Minister of Health Regulation No. 28 can reduce the prevalence of smokers, but data from 2016 SIRKERNAS shows that the prevalence of smoking is increasing. The purpose is to dig deeper towards the implementation of the inclusion of health warnings and health information policy on cigarette packaging, henceforth it can be input into the formulation of tobacco control strategies. This study uses descriptive studies with qualitative analysis through in-depth interviews and document review. Aspects of the process (communication, bureaucratic structure and disposition), aspects of the actor (commitments and relationships) aspects of the content (level, benefits and policy objectives) as well as aspects of the context (political culture and socio-economic) are interrelated and influence each other in the implementation of the inclusion of warnings and health information on the cigarette packs. The implementation of the inclusion of warnings and health information on cigarette packaging has been carried out, and the level of industry compliance in including the PHW at the retail level has reached 99.91%. However, the cigarette industry is not compliant in fulfilling the provisions because the size is not appropriate, PHW images covered by excise tapes, and some terms indicate quality, superiority, security, and imaging. ABSTRAKPeringatan kesehatan bergambar sudah diterapkan lebih dari dua tahun sejak 24 Juni 2014, akan tetapi sampai saat ini belum dilakukan pergantian sesuai dengan Permenkes No 28 Tahun 2013. Hasil Survei Nasional Penilaian Implementasi Peringatan Kesehatan Bergambar di Indonesia tahun 2015 terhadap kepatuhan industry rokok, diketahui bahwa industry rokok belum patuh terhadap peringatan kesehatan bergambar. Harapan Pemerintah dengan adanya Permenkes 28 dapat menurunkan prevalensi perokok akan tetapi data Sirkernas 2016 menunjukan prevalensi merokok semakin menningkat. Tujuan dari artikel ini adalah ntuk menggali lebih dalam terhadap implementasi kebijakan pencantuman peringatan kesehatan dan informasi kesehatan pada kemasan rokok untuk selanjutnya dapat menjadi masukan dalam perumusan strategi pengendalian tembakau. Metode yang digunakan merupakan studi deskriptif dengan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Aspek proses (komunikasi, struktur birokrasi dan disposisi), aspek aktor (komitmen dan hubungan), aspek konten (level, manfaat dan tujuan kebijakan) serta aspek konteks (budaya politik dan social ekonomi) memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi dalam pelaksanaan pencantuman peringatan kesehatan dan informasi kesehatan pada kemasan rokok. Kesimpulannya bahwa pelaksanaan pencantuman peringatan kesehatan dan informasi kesehatan pada kemasan rokok sudah terlaksana dan tingkat kepatuhan industri dalam mencantumkan PHW ditingkat ritel telah mencapai 99.91%.

    Evaluasi MetodeGeneXpert MTB/RIF dengan SampelRaw Sputum untuk Mendeteksi Tuberkulosis Paru

    Get PDF
    Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah utama di Indonesia dan dunia. Tantangan utama dalam mendiagnosis TB secara konvensional yaitu rendahnya sensitivitas deteksi pada pemeriksaan mikroskopis dan lamanya waktu yang diperlukan untuk kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi metode GeneXpert MTB/RIF untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dengan sampel dahak langsung di RSUD Dr. Moewardi (RSDM), Surakarta. Analisis observasional dengan pendekatan kohort retrospektif menggunakan data sekunder hasil pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF pada sampel dahak langsung di Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSDM pada tahun 2012-2015. Sampel didapatkan dari pasien yang memenuhi kriteria suspek multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) dan sampel tersebut telah dikultur di Balai Laboratorium Kesehatan (BLK), Jawa Tengah. Data dianalisis dengan OpenEpi versi 3, Epi Info 7, dan MedCalc. Pada penelitian ini didapatkan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan negatif (NDP dan NDN) serta akurasi metode GeneXpert MTB/RIF sebesar 93,62%, 27,17%, 68,89%, 71,21%, dan 69,21%. Prevalensi TB paru pada sampel yang diperiksa sebesar 63,27%. Rendahnya spesifisitas GeneXpert MTB/RIF mengindikasikan perlunya kultur sebagai baku emas. Namun demikian, perlu standarisasi pemrosesan sampel dahak dalam segi teknik dan waktu pengambilan sampel disertai data klinis yang memadai untuk melihat riwayat terapi yang telah diberikan pada pasien

    Determinan Kejadian Kejang Demam pada Balita di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Mulia Pekanbaru

    Get PDF
    Kejang demam adalah bangkitan kejang yang dapat terjadi pada anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu diatas 380C) yang tidak disebabkan oleh proses intracranial. Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Mulia angka kejadian kejang demam pada balita tahun 2017 berjumlah 98 kasus dengan proporsi kasus yaitu 34,03%. Tujuan penelitianini untuk menggambarkan dan mengetahui determinan kejadian kejang demam pada balita di RSIA Budhi Mulia Pekanbaru tahun 2015-2017.Desain Penelitian adalah case control. Populasi sebanyak 1.119 orang dengan besar sampel sebanyak 144 dengan perbandingan 1:1 dimana 72 untuk kasus dan 72 untuk kontrol. Teknik pengambilan sampel secara quota sampling dengan metode penelusuran dokumen.Alat penelitiankuesioner.Jenis data yang digunakan adalah data sekunder.Pengolahan data dengan aplikasi SPSS.Analisis data secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian diperoleh kadar hemoglobin (p value= 0,000 dan OR=9,23; CI: 4,30-19,79), kadar leukosit (p value= 0,000 dan OR=9,71; CI: 4,53-20,79), usia (p value= 0,012 dan OR=2,95; CI:1,32-6,59), dan suhu tubuh (p value=0,000 dan OR=7,80; CI:3,71-16,38). DiharapkanRumah  SakitIbu dan Anak Budhi Mulia berkoordinasi dengan tim promosi dalam penatalaksanaan kasus kejang demam pada balita sehingga angka kematian pada balita dapat diminimalisir

    Pengaruh Penerapan Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Kemih Terkait Penggunaan Kateter

    Get PDF
    ABSTRAK Insidensi infeksi saluran kemih terkait penggunaan kateter (Catheter-associated Urinary Tract Infection (CAUTI)) diestimasikan sekitar 0,2-4,8 per 1.000 kateter-hari. Kejadian CAUTI tidak hanya berdampak kepada pasien namun juga menjadi beban bagi rumah sakit. Oleh karena itu, berbagai macam panduan/strategi pencegahan telah banyak dikembangkan, salah satunya dikeluarkan oleh Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC). Studi ini bertujuan mengevaluasi keberhasilan penerapan panduan HICPAC untuk menurunkan angka kejadian CAUTI. Studi ini menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pendekatan two group pretest-posttest pasien yang menggunakan kateter sebelum dan sesudah penerapan panduan HICPAC masing-masing 150 sampel. Sebelum dilakukan penerapan, dilaksanakan sosialisasi dan pelatihan tentang panduan tersebut kepada seluruh tenaga medis. Dari 300 sampel, terdapat 13 kejadian CAUTI, dengan rincian 11 kasus (84,6%) terjadi sebelum penerapan 2 kasus (15,4%) terjadi setelah penerapan (p-value: 0,02). Pengetahuan, sikap, dan tindakan tenaga medis meningkat setelah penerapan masing-masing sebesar 5,6 poin, 2,4 poin, dan 10,4 poin (p-value < 0,05). Dari hasil tersebut menunjukan penerapan panduan HICPAC efektif menurunkan kejadian CAUTI. Sosialisasi dan penerapan panduan HICPAC meningkatkan secara signifikan pengetahuan, sikap, dan tindakan tenaga medis. Panduan HICPAC dapat digunakan terintegrasi dengan rekam medis sehingga dengan mudah dilaksanakan. Komitmen dalam melaksanakan seluruh panduan tersebut juga diperlukan untuk menurunkan kejadian CAUTI.  ABSTRACT An estimated 0,2-4,8 Catheter-associated Urinary Tract Infection (CAUTI) cases 1.000 catheter-days affected around the world. CAUTI not only has affected the patient but also has became a burden on hospital. Many prevented CAUTI guidelines has developed, one of them is issued by Healthcare Infection Control Practices Advisory Committe (HICPAC). The study aimed to evaluate HICPAC guideline decreasing CAUTI rate. A quasi-experimental study was performed to ass’s effectiveness HICPAC guidelines with two group pretest-posttest approach patients with catheter 150 samples each. Before implementation, all medic staff was explained and trained about the guideline. All medical staff was assessed their knowledge, attitudes, and behavior before and after implementation. Chi-square and Wilcoxon tests were performed. There were 13 CAUTI cases, with 11 cases before implementation and the other cases after implementation (p-value: 0,02). After implementation, knowledge, attitude, and behavior medical staff increased (p-value <0,05). From the result, implementation HICPAC guideline decreases CAUTI rate and increase knowledge, attitude, and behavior significantly. Implementation HICPAC guidelines could be used easily by all medical staff integrated with the medical record. Commitment implementation the guideline becomes important to decreased CAUTI rates

    Hubungan Diabetes Melitus Dengan Hipertensi Pada Populasi Obes Di Indonesia (Analisis Data IFLS-5 Tahun 2014) (Relationship Between Diabetes Mellitus And Hypertension In Obesity Populations In Indonesia (Data Analysis Of IFLS-5 In 2014))

    Get PDF
    Prevalensi obes di dunia tinggi. Data 2016 menunjukkan bahwa prevalensi obes meningkat 3 kali lipat yakni lebih dari 650 juta orang. Penderita diabetes melitus (DM) dan hipertensi banyak ditemukan pada populasi obes dan hal ini kemungkinan menunjukkan bahwa ada hubungan antara DM dengan hipertensi pada populasi obes. Di Indonesia prevalensi obes adalah 15.4%, DM 6.9% dan hipertensi 26.5%. Penelitian ini bertujuan melihat apakah ada hubungan DM dengan hipertensi pada populasi obes di Indonesia dengan menggunakan data The Indonesian Family Life Survey kelima (IFLS-5) Tahun 2014. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan jumlah sampel 712 orang dan analisis data menggunakan Cox regression. Dari 712 orang obes, 12.1% menderita DM. Pada kelompok obes dengan DM terdapat 84.9% hipertensi. Pada kelompok obes tidak DM terdapat 61.7% hipertensi. Nilai Prevalensi Rasio (PR) 1.3 (95% CI; 1.007-1.684), artinya pada populasi obes dengan DM berisiko terjadi hipertensi sebesar 1.3 kali lipat jika dibandingkan dengan terjadinya hipertensi pada populasi obes tanpa DM setelah di kontrol oleh variabel umur dan jenis kelamin. Proporsi hipertensi pada populasi obes di Indonesia adalah 64.5%, DM 12.1% dan hubungan DM dengan hipertensi bermakna. Berdasarkan hasil penelitian perlu peningkatan kualitas kelengkapan data penelitian, program skrining berat badan, tekanan darah dan gula darah secara rutin di masyarakat melalui posbindu PTM untuk mengurangi risiko terjadinya hipertensi, DM dan obes di masyarakat, penelitian lebih lanjut mengenai hubungan DM dengan hipertensi pada populasi obesitas di Indonesia

    Association between knowledge of condom functions and condom use among sexually-active unmarried male adolescents in Indonesia

    Get PDF
    Background: Premarital sex is culturally unacceptable in Indonesia and education on safe sex practice remains controversial. Meanwhile, Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) show gradual increase in the prevalence of sexually-active adolescents nationwide, particularly among unmarried males. Unfortunately, condom use is low among this population and it is unclear whether it relates to inadequate knowledge on safe sex practice including condoms. Objective: to see whether there is an association between knowledge on condom functions and condom use among adolescents. Method: cross-sectional study of 913 Indonesian unmarried males aged 15 – 24 who have had sex (IDHS Adolescent Reproductive Health 2012 dataset). The independent variable is knowledge on condom functions while the dependent variable is the use of condoms. Statistical analysis is performed using Chi Square and Cox regression. Result: The prevalence of condom use is about twice higher in respondents with sufficient knowledge on condom functions (31%), than in respondents without (15.1%); adjusted PR 2.38 (95%CI 1.47 – 3.85). Conclusion: Having knowledge about condoms is positively associated with safer sex practice among sexually active adolescents. Banning information on condoms may place sexually-active adolescents into unprotected sex. Education on safe sex practice is needed but should be cautiously tailored to meet cultural values

    Midwife’s Role in the Mother-to-Child Transmission Prevention Program in Primary Health Care in Yogyakarta

    Get PDF
    Curing and eradicating Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) are to the core principles of the United Nations’ Sustainable Development Goals (SDGs). The incidence of HIV in the world remains high. Although midwives play a pivotal role in PMTCT implementation, the factors associated with midwives’ role in its implementation are not well understood. The aim of this study was to determine factors associated with midwives’ role in implementation of PMTCT. This study used a cross-sectional design. The subjects were 80 midwives at 14 primary health care in Yogyakarta City, Indonesia. The study was conducted from April to August 2017. Data were analyzed through univariate, bivariate with chi-square and Fisher’s exact test, multivariate with logistic regression. The results showed that 47.5% of midwives were in the poor category regarding implementation of PMTCT. Information availability through socialization (p-value = 0.047) and knowledge level (p-value = 0.016) were found to be related to PMTCT implementation. There was no relationship between age, length of work, education level, marital status, availability of information, midwife’s attitude, perception of the availability of facilities and institutional support with midwife behavior in PMTCT implementation. Multivariate analysis showed that level of knowledge was the most dominant factor affecting PMTCT implementation (OR:6.2; CI 95% = 1.8-21.4). We recommend that efforts should be made to continuously improve the knowledge of midwives on PMTCT implementation through peer support and training in order to achieve sustainable development goals

    1,119

    full texts

    1,218

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇