Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
    1218 research outputs found

    Kesesuaian Risiko Pencemaran Antara Inspeksi Sanitasi dan Pemeriksaan Bakteriologi pada Air Kolam Renang di DKI Jakarta, 2005

    Full text link
    Di Jakarta, setiap hari diperkirakan 8000 orang melakukan aktifitas berenang yang membutuhkan air bersih dalam jumlah yang besar. Air bersih yang digu-nakan berasal dari air tanah dan Perusahaan Air Minum DKI Jakarta. Jumlah orang yang berenang sangat mempengaruhi kualitas air kolam renang yang harus terus dipertahankan agar terhindar dari risiko pencemaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian hasil pengukuran risiko pencemaran de-ngan inspeksi sanitasi dan pemeriksaan bakteriologik pada air kolam renang di DKI jakarta tahun 2005 Penelitian yang menggunakan disain studi cross sec-tional mengamati mengamati 30 kolam renang. Variabel yang didiamati adalah 13 variabel inspeksi sanitasi dengan menggunakan adalah univariat dan bi-variat. Hitemukan bahwa 13 (44 %) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran rendah dan 17 (56%) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran tinggi. Sedangkan untuk kualitas bakteriologik diketahui 11 (36,7%) air kolam renang berkualitas baik dan 19 (63,3%) air kolam renang berkualitas buruk. Kesesuaian yang diperoleh adalah 0,733 yang berarti nilai kesesuaian yang baik. Variabel isi air memiliki tingkat risiko pencemaran pa-ling tinggi. Berdasarkan aspek inspeksi sanitasi didapat 8 aspek prediktif dan 5 aspek non–prediktif. Perlu dilakukan pemeriksaan air kolam renang secara berkala serta penyuluhan dan bimbingan pada pengelola kolam renang dan masyarakat tentang kualitas air kolam renang yang baik terhadap kesehatan.Kata Kunci : Kesesuaian, risiko pencemaran, Inspeksi Sanitasi, Kualitas Bakteriologik, Air Kolam Renang, DKI Jakarta.AbstractIt was estimated in Jakarta, more then 8000 people swim everyday, so it requires height volume of clean water that comes from ground water as well as DKI Jakarta Municipal Water Corporation. The quality of the swimming pool water will affect the people health. By conducting surveillance, we are able to know the quality of the water and recommending intervention when needed. The objective of this research is to obtain information about compatibility pollution risk level between measurement results of sanitary inspection and bacteriological assessment of the swimming pool water in Jakarta 2005. The research used a sectional cross design with total sample of 30 swimming pools. Variable used in this research are 13 sanitation inspection variables and analized using bivariate method of analyses. About 17 (56%) of swimming pool water shows the hight risk level of pollolutan . The study also shown that the quality of bacte-riology is bed, (19; 63,3%) is in bad quality. The total compatibility of the swimming fool water is in a good value 73. Based on sanitation inspection aspect, there are 8 predictive aspects and 5 non predictive aspects. It is important to inspect the swimming pools water periodically, to explain and to guide the swim-ming pools organizers as well as the society about the importance of swimming pools water quality for health.Keywords: Compatibility, Pollution risk level, Sanitary Inspection, Bacteriological assessment, Swimming pool water, DKI Jakarta

    Perilaku Menyusui Bayi pada Etnik Bugis di Pekkae, 2003

    Full text link
    Studi penilaian ASI di Kabupaten Barru tahun 1998, menemukan 99,0% bayi dan balita masih mendapat ASI. Namun, bayi baru lahir tidak diberi ASI pada jam pertama, Pemberian ASI pada hari I (40,6%) masih rendah, masih banyak yang memberikan hari II (18,4%), dan hari III (41,0%). Umumnya bayi mendapat kolostrom (83,2%) dan ASI (99,0%), tetapi sekitar 75% bayi mendapat makanan prelakteal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku menyusui bayi pada etnik Bugis Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan paradigma etnometodologi dan interaksi simbolik. Pradigma etnometodologi digunakan untuk mengetahui makna perilaku ibu dalam menyusui bayi menurut etnik Bugis. Pradigma interaksi simbolik digunakan untuk mengetahui simbol terpola berdasar Significant Others Dan Generalized Others. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku menyusui orang Bugis tidak terlepas dari Siri’, dari sudut pandang antropologi politik orang Bugis dimasa lalu. Siri’ tidak lain dari inti kebudayaan Bugis yang mendominasi serta menjadi kekuatan pendorong terhadap Pangngadereng selaku wujud totalitas kebudayaan Bugis. Perilaku perempuan Bugis mulai dari hamil sampai melahirkan serta menyusui berdasarkan Significant Others dan Generalized Others. Perilaku tersebut tidak terlepas dari ininnawa madeceng (harapan yang baik) kepada anak yang terkait nilai normatif masyarakat Bugis.Kata kunci: Perilaku menyusui, etnik bugisBreast feeding evaluation study in District of Barru in 1998, showed that about 99, 0% infants and under five years old children is still breastfed. However, the newborn babies were not breastfed during the first hour but instead were breastfed in the first day (40, 6%), second day (18, 4%), and the third day (41, 0%). Generally the colostrum is given to newborn infant (83,2%) and most of the infant are breastfed (99,0%), but about 75% of the infant are given the prelacteal feeding. This research aimed to understand breastfeeding behavior in Pekkae community, at Tenete Rilau district, Barru regency. This study was conducted in a qualitative approach setting using ethnological and symbolic interactions approaches. Ethnological paradigm was used to understand mother’s behavior based on significant others and generalized other. There were 13 respondents involved in this study consisting of breastfeeding mothers liv- ing in Pekkae village, Barru regency. The result of this study showed that the behavior on breastfeeding closely associated with a cultural belief so – called ‘siri’, which is one of the important buginese cultures inspiring the buginese social livelihood. The behavior of buginese mothers from pregnancy until birth and breastfeeding can be considered as ‘significant others’ and ‘generalized others. This behavior is also attributed to ‘ininnawa madeceng’ (good hope) from the parents so that their children may become good people based on buginese normative culture.Key words: Breast feeding behavior, buginese ethnicAbstrac

    Penggunaan Obat yang Tidak Rasional pada Balita dengan Diare di Kalangan Bidan, di Kabupaten Sumedang Tahun 2006

    Full text link
    Pengobatan diare pada balita di Puskesmas Kabupaten Sumedang dilaksanakan di Poli KIA yang sehari-harinya ditangani oleh bidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan bidan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan bidan dalam penggunaan obat secara rasional pa-da balita diare akut non spesifik. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah sampel 109 bidan yang berasal dari 18 puskesmas yang dipilih secara random. Pengukuran kepatuhan dilakukan dengan pengamatan terhadap resep yang ditulis oleh bidan untuk balita penderita diare akut non spesifik. Hasil penelitian memperlihatkan tingkat kepatuhan bidan adalah 69,7%. Hasil analisis regresi logistik ganda memperlihatkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kepatuhan adalah adalah pengetahuan dan sikap bidan terhadap obat rasional dan supervisi dari atasan. Penelitian ini juga menda-patkan hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan persepsi orang tua balita terhadap obat rasional dengan kepatuhan bidan dalam penggunaan obat rasional. Dalam rangka mengatasi ketidakrasionalan pengobatan diare akut non spesifik, maka Puskesmas harus berupaya meningkatkan pengetahuanbidan terhadap penggunaan obat rasional, melakukan supervisi, dan meningkatkan penyuluhan kepada pasien tentang penggunaan obat rasional. Kata kunci: Obat rasional, diare, bidanAbstractDiarrhea medication among children under five years old at primary health care, sub-province of Sumedang is performed at Mother and Child Polyclinic which is handled by a midwife everyday. This research purpose to obtain the description of compliance level of midwives and its factors related of midwives compliance in the usage of rational drugs among children with non specific acute diarrhea. Research used cross-sectional design with samples size were 109 midwives which were come from 18 primary health care , which were selected randomly.To measure the compliance, the observation was performed of prescriptions that written by midwives to children with non specific acute diarrhea. This research result showed that compliance level was 69,7%. Result analysis of multiple logistic regression showed that related factors were knowledge and midwives attitude of usage of rational drugs and supervision. This research also showed the association between knowledge and parent’s perception of children under five years old of rational drugs and compliance level of midwives in the usage of rational drugs. It is suggested that primary health care should increase midwives knowledge in usage of rational drugs, doing supervision and improve socialization the usage of rational drugs to patient.Keywords: Rational drugs, diarrhea, midwiv

    Epidemiologi Diskriptif Penyakit Avian Flu di Lima Provinsi di Indonesia, 2005-2006

    Full text link
    Jumlah kasus flu burung pada manusia meningkat sangat pesat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit flu burung (Avian Influenza / AI) pada kejadian luar biasa di 5 provinsi Indonesia in 2005-2006. Studi ini mengunakan sumber data sekunder data surveilens, sub direktorat Surveilens, Depkes RI, pada periode Juli 2005-2006. Dari 28 kasus konfirmasi ditemukan banyak pada pria (57.1%). Sekitar 89.3% kasus memperlihatkan gejala demam tinggi (≥ 38°C), batuk dan masalah pernapasan dan sekitar 80% diantaranya meninggal dunia. Gejala tersebut mengindikasikan kerusakan jaringan paru-paru pada tubuh penderi- ta. Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan laboratorium, terlihat bahwa 60.7% penderita mengalami penurunan kadar leukosit (leucopenia) dan 46.4% penurunan kadar trombosit (thrombocytopenia). Laju fatalitas kasus yang telah mendapat pengobatan Tamiflu mencapai 66.7%. Sekitar 53.6% mempunyai riwayat kontak den- gan ayam dan bebek. Banyak kasus terjadi pada kelompok dewasa (> 18 years) dengan frekuensi 57.1%. Sebaliknya, laju respon untuk kasus, terlihat sekitar 64, 3 % mengalami pengobatan yg terlambat. Rata-rata semua kasus konfirmasi di Indonesia pada July 2005 - February 2006 adalah 3.5 kasus /bulan. Kasus-kasus tersebut terjadi dalam wilayah yang mengalami KLB pada binatang ternak. Sampai 28 Februari, 2006, KLB telah ditemukan di lima provinsi yang meliputi: Lampung (10.72%), DKI Jakarta (32.14), Jawa Barat (39.29%), Banten (14.28%) and Jawa Tengah (3.57%). Dapat disimpulkan bahwa kasus lebih sering ditemukan pada pria dewasa dan pada orang yang lebih terpapar dengan faktor risiko. Kasus-kasus tersebut menampilkan gejala demam tinggi, batuk, masalah-masalah pernapasan leukopenia and trombositopenia. Selain itu, angka dan keefektifan ditemukan rendah. Kasus-kasus tersebut terjadi terutama pada musim hujan dan pada wilayah yang sebelumnya mengalami KLB pada binatang seperti ayam dan bebek.Kata kunci: Avian flu, epidemiologi diskriptif , kejadian luar biasa, IndonesiaAbstractThe number of Human Avian Influenza in Indonesia increasing tremendously. The research is intended to identify the epidemiological description of Avian Influenza’s (AI) outbreaks within five provinces in Indonesia in 2005-2006. The research conducted descriptively using AI surveillance data from July 2005 up until February 2006. The data gained from the Surveillance sub-directorate Ministry of Health of Indonesia. From 28 confirmed AI cases, many occurred to male (57.14%) since Approximately 89.29% of the cases showed symptom of high fever (≥ 38° C), cough and respiratory problems and 80 % of such cases resulted to deceased for the victim. The symptoms indicated that severe destruction of tissue (pneumonia) occurred in the victim body. Based on laboratory’s report, it shows 60.71% of leucope- nia and 46.43% of thrombocytopenia cases. The death rate for the cases that have Tamiflu treatment reached 66.67%. 53.57% of the case reveals the victims’ high interactions with chicken and duck as the risk factor (avian). Many cases occurred to adult (> 18 years) with a hit rate of 57.14%. On the other hand, the response rate for the cases shows that 64.29 show late treatment of the cases. The average of confirmed AI cases in Indonesia from July 2005 to February 2006 is 3.5 cases/months. The cases occurred within the area that has AI outbreak to the animal. Up until February 28, 2006, the AI outbreaks have been found within five provinces, they are: Lampung (10.72%), DKI Jakarta (32.14), West Java (39.29%), Banten (14.28%) and Central Java (3.57%). It can be concluded that the cases inflicted more to adult male and to those people who interact more with the risk factor. The cases reveal symptoms such as high fever, cough, respiratory problems, leucopenia and thrombocytopenia. Furthermore the cases response rates and Tamiflu effectively were low. The cases occurred mainly in rainy seasons and to the areas those priories have AI outbreaks to the animals such as chickens or ducks.Key words: Avian flu, descriptive epidemiology , outbreak, Indonesi

    Pengembangan Sistem Informasi Program Kusta Berbasis Geografis di Kabupaten Cirebon Tahun 2005

    Full text link
    Kusta yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae merupakan penyakit menular dengan masalah yang sangat kompleks. Tiga tahun terakhir, Kabupaten Cirebon yang melaporkan 1.207 penderita kusta (Prevalence 1,69/10.000 penduduk), belum mencapai tahap eliminas sehinga penularan masuh berlansung. Tujuan penelitian mengembangan sistem informasi kusta berbasis geografis yang dapat dijadikan solusi percepatan eliminasi kusta di Kabupaten Cirebon. Metoda yang digunakan adalah System Development Life Cycle, yaitu planning, analysis, design, implementation, maintenance dan evaluation system. Hai tersebut dilakukan dengan memadukan konsep Data Base Management System dan data spasial. Hasil analisis sistem dapat mengidentifikasi masalah manajemen penanggulangan kusta serta alternatif solusi pada level input, proses dan output. Data dan informasi dikumpulkan melalui wawancara, dan telaah dokumen. Sistem ini didesain untuk kemudahan input data dan otomasi proses pengolahan menjadi informasi. Interpretasi epidemiologis kusta pada visual peta dapat mengetahui model difusi transmisi kasus dan jangkauan pelayanan kesehatan (Puskesmas) dalam penanggulangan kusta.Kata Kunci: Sistem informasi geografis, eliminasi, kustaLeprosy caused by Mycobacterium leprae is a contagious disease that generates complex problems. Over the last three years, the District of Cirebon reported 1,207 leprosy cases (prevalence rate 1.69/10,000 population) and had not yet reach leprosy elimination situation, thus the disease was keep spreading. The purpose of this system development was to develop an application of Leprosy System Information Program Based on geographical information system for leprosy elimination acceleration program in Cirebon. The method used in this study was System Development Life Cycle method (planning, analysis, design, implementation, maintenance, and evaluation), by combining Data Base Management System concept and spatial data. Data and information needed were collected by interview and document observation. The system was designed for facilitating data input and automation of its process mechanism to produce information. Output were in form of regular report, tabulation, graphic, and area endemic mapping information with urban smallest observation unit. Epidemiologic interpretation on leprosy case from visual map can identify case transmission diffusion model and health service (Puskesmas) range capac- ity in leprosy elimination.Keywords: Geographical information system, elimination, lepros

    Hubungan Akreditasi dengan Mutu Lulusan

    Full text link
    Era globalisasi menimbulkan persaingan yang menuntut ketersediaan SDM yang bermutu dan profesional. Salah satu penentu mutu pelayanan kesehatan adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang cukup dan profesional, yang tidak bisa terlepas dari sistem pendidikan tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai akreditasi sub-sub komponen Borang Akreditasi 2000 dengan Mutu Lulusan institusi Diknakes. Sumber data adalah data sekunder hasil akreditasi sampai Maret 2005 dan Laporan Sistim Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan dari Bidang Diknakes Khusus dan Akreditasi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. Desain penelitian ini adalah potong lintang dan analisis data dengan regresi logistik berganda dan analisis faktor. Proporsi institusi yang mutu lulusan baik adalah 44.1%. Institusi dengan nilai perencanaan sangat baik pada kondisi nilai dosen tetap cukup, berpeluang 0.16 kali (95% CI 0.03–0.87), untuk menghasilkan mutu lulusan baik daripada institusi yang nilai perencanaannya cukup setelah dikontrol oleh variabel pelaksanaan program pengajaran, laporan periodik, evaluasi proses pengajaran, alat bantu pandang dengar dan prasarana. Dari hasil analisis faktor, diperoleh 5 faktor dengan total varians 60,28% yaitu faktor kurikulum, sarana, pendidik, laboratorium dan penunjang pendidikan. Faktor yang signifikan berhubungan dengan mutu lulusan baik adalah nilai akreditasi sub komponen dosen tetap yang berinteraksi dengan nilai akreditasi sub komponen perencanaan program pengajaran, dimana dosen tetap merupakan faktor yang paling dominan. Dari analisis faktor, sub komponen tenaga tata usaha dan perpustakaan membentuk faktor baru, begitu juga sub komponen laboratorium ternyata tidak berkorelasi dengan faktor lain dan membentuk faktor sendiri.Kata kunci : Akreditasi, pusat diknakes, mutu lulusan, institusi diknakes.Competitiveness in the globalization era has raised the needs for qualified and professional human resources. One of the key indicators of a high quality health service is the availability of professional medics, which obviously cannot be separated from the health education system. The objectives of this study is to investigate the correlation between the accreditation rates of Borang Akreditasi 2000’s sub-components and the quality of the health institution graduates. The data used is from the accreditation results to March 2005 and the report of Information System of Health Manpower Education from Specialist of Health Education and Accreditation Division, Centre of Health Manpower Education, Department of Public Health. The studi design used this research is cross sectional. The data is analyzed by using multiple logistic regression and factor analysis. Proportion of the institution with good quality graduates is 44.1%. Institutions with very good marks on education planning with an adequate on the full time lecturer’s state, possess 0.16 times risk (95% CI :0.03 – 0.87), to produce a good graduates compared to the institution with adequate marks on education planning after being controlled by the variables: application of teaching assistance program, periodic report, teaching evaluation, audio visual aids, and infrastructures. Based on the factor analysis, the author acquired 5 factors with a variance of 60.28%, they were curriculum, infrastructure, lecturer, Laboratorium and educational support. The research has shown that the most significant factors for highly qualified health education graduates are the accreditation rates for the full-time lecturer involvement sub-component and the planning of the teaching program sub-component. Between these two, the full-time lecturer involvement is a more dominant factor. From the factor analysis, the administration staff and librarians sub-component has raised a new factor. Also, the laboratory sub- component does not correlate with other factors. In fact, it has emerged as an independent factor.Key words : Accreditation, centre of health manpower education, quality of graduates, the health institutions

    Kelangsungan Hidup Bayi di Perkotaan dan Pedesaan Indonesia

    Full text link
    Kelangsungan hidup bayi di Indonesia yang masih rendah terlihat pada angka kematian bayi (AKB) yang menempati posisi tertinggi di Asean, kondisi intermediate rock dan sangat bervariasi. Penelitian yang menggunakan sumber data sekunder SDKI 2002-2003 ini bertujuan mengetahui gambaran kelangsungan hidup bayi di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia serta berbagai faktor yang berpengaruh. Besar sampel yang digunakan adalah 11.588 terdiri dari 4.769 bayi di perko- taan dan 6.819 bayi di pedesaan. Metoda analisis yang digunakan meliputi metode life table dan regresi cox. Hasil penelitian memperlihatkan probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan (98,59%) lebih tinggi daripada bayi di pedesaan (97,54%) dan proporsi kematian bayi di pedesaan dua kali lebih besar daripada di perkotaan. Pada masa neonatal, kurva kelangsungan hidup bayi memperlihatkan kecenderungan yang menurun tajam dan post neonatal terlihat lebih landai. Penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi di wilayah perkotaan terlihat lebih landai daripada di wilayah pedesaan. Terdapat perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Di perkotaan, faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi meliputi berat badan lahir, waktu pemberian ASI dan penolong persalinan. Sedangkan di pedesaan, faktor tersebut adalah frekuensi pemeriksaan antenatal, berat badan lahir, penolong persalinan, nomor urut lahir, waktu pemberian ASI dan tempat persalinan. Keadaan saat lahir merupakan faktor penting yang berhubungan signifikan dengan kelangsungan hidup bayi, faktor waktu pemberian ASI pertama kali merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi.Kata kunci : Kelangsungan hidup bayi, perkotaan dan pedesaan, analisis kesintasan.AbstractInfant’s survival in Indonesia is still low, as showed by the highest IMR level in ASEAN, intermediate rock condition and highly varied. This research’s aim is to des- cribe infant’s survival in Indonesia’s urban and rural area, also various factors related. This research is using SDKI 2002-2003 data. Sample’s amount 11.588 infant, consist of 4.769 infant in urban and 6.819 infant in rural. Method of analysis used in this study is life table and cox regression. This research found probability infant’s survival in urban (98, 59%) higher than in rural (97, 54%) and infant’s mortality proportion in rural is twice higher than in urban. On first month age (neonatal mortali- ty) infant’s survival time probability was decline, and for higher age infant’s survival time probability is still low, but not as low as the first month age. In urban area, infant’s survival time probability is even lower than in rural. There are determinant factors which are related to infant’s survival in rural and urban. In urban, factors which are related to infant’s survival are birth weight, breast feeding period and birth assistance. Meanwhile in rural area, the factors of are antenatal care, birth weight, birth assistance, birth queue number, breast feeding period and bearing place. Infant condition when the baby born is determinant factors which is related significantly with infant’s survival, first breast feeding period is dominant factor which is related with infant’s survival.Key words : Infant survival, rural and urban, survival analysi

    Hubungan Pertambahan Berat Badan Selama Kehamilan dengan Berat Lahir Bayi di Sukaraja Bogor Tahun 2001- 2003

    Full text link
    Di Indonesia, pertambahan berat badan selama kehamilan umumnya rendah (37 minggu), mengunakan metoda Regresi Logistik. Ditemukan proporsi bayi lahir dengan berat 2500-2999 gram adalah 47.8%. Rata-rata berat lahir adalah 3015 gram. Proporsi ibu dengan pertambahan berat badan selama kehamilan < 9 kg adalah 48.9 %. Rata-rata pertambahan berat badan selama kehamilan sebesar 9.1 kg. Variabel yang berhubungan secara bermakna bermakna dengan be-rat lahir adalah pertambahan berat badan selama kehamilan (p=0.000, OR 7.28, 95% CI OR; 4.25-12.46), dan asupan energi (p=0.000, OR 5.15, 95% CI; 2.976-8.913). Juga ditemukan interaksi antara asupan energi dengan pertambahan berat badan selama kehamilan. Kata kunci : Pertambahan berat badan selama kehamilan, berat badan bayi.AbstractIn indonesia, body weight gain among pregnant mother is low (<10 kg), even the body weight gain is an inportent indicator for embryo grouth. In district of Bogor, the pervalen of pregnen mother who safer from chronical energy deficiency (27.6%) is height The objective of this syudy is to know the mean of body weight gain among pregnant mother during the pregnancy and it relationship with her new born baby weight. The studi design used is crosssectional study design with sample size of 270 pregnent mother who deliverd during gestation period more than 37weeks, Analysis method used in this study is multiple regression method. The study result shows the proportion of 2500-2999 gram baby weight is 47.8%; The mean newborn beby weight is 3015 gram; the pro-portion of mother with body weight gain during pregnancy < 9 kg is 48.9 %. The mean of mother body weight gain during pregnancy is 9.1 kg. The variables related to newborn body weight statisticaly significance are mother body weight gain during pregnancy period, (OR 7.28, 95% CI OR; 4.25-12.46) and ener-gy intake (OR 5.15, 95% CI; 2.976-8.913). It also pointed out the interaction between energy intake and mother body weight gain during pregnecy. Keywords: Pregnant mother body weight gain, newborn baby weight

    1,119

    full texts

    1,218

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇