Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Analisis Biaya Satuan (Unit Cost) dengan Metode Activity Based Costing (ABC) di Poliklinik Jantung RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso
AbstrakPenetapan tarif dihitung berdasarkan biaya satuan, berdasarkan Peraturan Bupati Bondowoso Nomor 62 Tahun 2017, RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso menghitung biaya satuan dengan metode Double Distribution (DD). Metode Double Distribution (DD) tidak tepat untuk diterapkan karena tidak mencerminkan aktivitas, metode yang berdasarkan aktivitas, tepat dan akurat sehingga dapat memberikan informasi yang tepat adalah metode Activity Based Costing (ABC). RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso belum melakukan perhitungan unit cost dengan metode Activity Based Costing (ABC) terutama untuk instalasi rawat jalan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis biaya satuan dengan metode Activity Based Costing di poliklinik jantung RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso. Metode penelitian dilakukan berdasarkan metode perhitungan Activity Based Costing (ABC). Unit analisis dalam penelitian ini adalah poliklinik jantung RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso. Berdasarkan hasil perhitungan dengan data tahun 2017 maka diperoleh biaya satuan electrocardiogram yaitu Rp. 47.689, echocardiography Rp. 113.212 dan treadmill adalah Rp. 221.547. Kesimpulan menunjukkan bahwa unit cost lebih rendah dari tarif yang ditetapkan. AbstractDetermination of rate calculated based on unit cost, based on Bondowoso Regent Regulation Number 62 of 2017, RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso unit cost calculates using the Double Distribution method. Double Distribution (DD) method is not appropriate to be applied because it does not reflect activity, method based on activity, precise and accurate so that it can providethe right information is Activity Based Costing (ABC) method. RSU Dr. H. Koesnadi Bondowoso has not made unit cost calculation using Activity Based Costing (ABC) method, especially for outpatient installation. The purpose of this research is unit cost analysis with Activity Based Costing method in the heart polyclinic of RSU Dr. H. Koesnadi Bondowoso. The research methodbased on Activity Based Costing (ABC) calculation method. The unit of analysis was heart poyclinic at RSU Dr. H. Koesnadi Bondowoso. Unitcost calculated with Activity Based Costing (ABC) method.Based on the calculation resultwith 2017 data a unit costobtained, electrocardiogram is Rp. 47,689, echocardiography Rp. 113,212 and treadmill is Rp. 221,547. The conclusion shown that the unit cost is lower than the specified rate
Gambaran Higiene Sanitasi Makanan dan Penerapan Prinsip Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) di Unit Instalasi Gizi Rumah Sakit X Tahun 2018
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan higiene dan sanitasi pengelolaan makanan di Unit Instalasi Gizi Rumah Sakit X tahun 2018. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan pemeriksaan laboratorium. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu diketahui bahwa higiene sanitasi di unit instalasi gizi rumah sakit X sudah cukup memenuhi syarat menurut checklist yang mengacu kepada Permenkes Nomor 1096 Tahun 2011. Namun ada beberapa aspek yang harus diperbaiki seperti aspek fasilitas sanitasi, bangunan dan tempat penyimpanan alat masak. Berdasarkan hasil pengecekan kualitas bakteriologis pada sampel makanan, usap tangan penjamah dan alat makan di rumah sakit X, hasilnya menunjukkan negatif atau tidak ditemukan bakteri E.coli pada sampel yang diambil. Selain itu, terkait perlindungan makanan dalam hal ini penerapan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), ditemukannya beberapa titik kendali kritis pada proses pengolahan makanan. Setiap menu makanan tentunya memiliki titik kendali kritisnya masing-masing yang perlu diperhatikan cara pengendaliannya. Diketahui pula bahwa kegiatan pemantauan, pengecekan serta pencatatan terkait HACCP belum dilakukan secara rutin di rumah sakit X.Kata Kunci: Higiene sanitasi makanan, Unit Instalasi Gizi, HACC
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Kejadian Gangguan Pernapasan pada Balita di Kawasan Pesisir Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Karawang, Jawa Barat Tahun 2018
Latar Belakang. Permasalahan kebersihan menjadi salah satu masalah yang sulit untuk diatasi di Desa Sedari, khususnya sanitasi pada rumah tangga. Karena sanitasi rumah yang buruk adalah mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang buruk juga. Jika kualitas sanitasi buruk maka akan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit, salah satunya adalah gangguan pernapasan. Metode. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross-sectional dengan system proportionate stratified random sampling pada 90 sampel di 6 dusun. Hasil dan pembahasan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa 5 poin PHBS yang diteliti (perilaku merokok orang tua, status gizi dan imunisasi dasar, ASI eksklusif, mencuci tangan, mengonsumsi sayur dan buah), didapatkan bahwa hanya imunisasi dasar yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian gangguan pernapasan pada balita di Desa Sedari (p = 0,013), sedangkan dari faktor lingkungannya (kepadatan hunian, pencahayaan dan ventilasi rumah), yang memiliki hubungan bermakna adalah kepadatan hunian (p = 0,002). Dari hasil uji regresi logistik, didapatkan bahwa kepadatan hunian (OR = 7,858) dan Imunisasi dasar (OR = 2,685) adalah faktor risiko yang paling dominan terhadap gangguan pernapasan pada balita di Desa Sedari. Simpulan. Sebaiknya dilakukan intervensi mengenai pentingnya pemberian imunisasi dasar dan sosialisasi mengenai kegiatan pemberian imunisasi, serta melakukan perluasan ventilasi rumah dan mengurangi penumpukan orang pada satu ruangan.Kata Kunci: balita, gangguan pernapasan, PHB
Association of Obesity and Negative Acid-Fast Bacilli Finding Among Pulmonary Tuberculosis Patients with Type 2 Diabetes Mellitus
Obesity is known as protective factors of pulmonary tuberculosis (PTB) innon-diabetes mellitus population. However, it’s effect on PTB in type 2diabetes mellitus (T2DM) patient is unclear. The study aims to determinethe association between obesity and PTB in patient with T2DM. A crosssectional study was held in in-patient, The Department of Internal Medicine, Fatmawati General Hospital from January 2015 to December 2017.This study includes patient with T2DM who had been diagnosed with PTBand age > 18 years old. In this study negative Acid-fast-bacilli (AFB)founding defined as patient’s sputum is negative by smear microscopy,while obesity define as body mass index > 24.9 kg/m2. From 363 PTBpatient with T2DM, 22.59% were obese. Results showed that prevalenceof negative AFB founding in PTB patients with T2DM was 81.82% and itwas solely associated with obesity (p:0.002, OR=6.36, 95%CI 1.9-21). Obesepatients were likely to have negative AFB founding. It suggested thatdiagnosing PTB in patient with T2DM and obese can’t be solely based onbacteriological confirmatio
Pemberantasan Sarang Nyamuk 3M Plus terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru; Studi Kasus Kontrol
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yangdisebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamukAedes aegypti. Dinas Kesehatan Provinsi Riau melaporkan jumlah kasusDBD sebanyak 277 dan Case Fatality Rate (CFR) DBD sebesar 1,4% padatahun 2016, di mana kasus terbanyak berasal dari Kota Pekanbaru yaitu58 kasus dengan CFR sebesar 0%. Adapun, CFR DBD di wilayah kerjaPuskesmas Payung Sekaki meningkat dari 0% pada tahun 2015 menjadi0,7% pada tahun 2016. DBD merupakan penyakit berbasis lingkunganyang dapat dicegah dengan melakukan tindakan pengendalian vektor,antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan tindakanpencegahan lainnya. Akan tetapi, partisipasi aktif masyarakat dalam PSNmasih rendah dan kurang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahuihubungan PSN 3M Plus dengan kejadian DBD di wilayah kerja PuskesmasPayung Sekaki Kota Pekanbaru tahun 2017. Penelitian ini dilakukan padabulan Agustus tahun 2017. Desain studi penelitian ini adalah observasionaldengan pendekatan kasus kontrol. Jumlah sampel kasus dipilih denganteknik total sampling yaitu 40 kasus, sedangkan sampel kontrol dipilihdengan teknik purposive sampling yaitu 80 kontrol. Analisis datamenggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis multivariatmenunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan obat nyamuk palingdominan menjelaskan perubahan variabel kejadian DBD (p-value = 0,092;OR = 2,76; 95% CI = 0,85-8,87). Variabel praktik M1 (menguras TPA),keberadaan kawat kassa nyamuk dalam ventilasi rumah, kebiasaanmenggantung pakaian, dan kebiasaan menggunakan obat nyamukberhubungan dan merupakan faktor risiko kejadian DBD di wilayah kerjaPuskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbar
Effects of Climbing Choice, Demographic, and Climate on Walking Behavior
Walking is a public health recommendation to increase physical activity. Although walking for transport is associated with health benefits, it is frequently avoided when a mechanized alternative is available and when the weather or individuals’ available resources are unfavorable. The present quasi-experimental study used chosen walking speed to estimate the use of resources by pedestrians and investigated 730 pedestrians’ behavior when approaching a choice point between a short stair and a ramp at an exit from a university campus toward the local train station on six separate days. Results revealed that individuals who climbed the stairs walked faster than those who chose the ramp. In addition, females and those who were overweight walked slower than their comparator groups. Temperature was associated with walking behavior; as temperature increased, the walking speed of pedestrians decreased. Moreover, the purpose of walking is an important determinant of walking speed. Minimization of time to arrive at the train station as quickly as possible is a plausible alternative explanation for the effects of resource allocation on walking speed
Perilaku Physical Distancing Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Masa Pandemi COVID-19
AbstrakLatar belakang. Penyebaran virus COVID-19 telah mengakibatkan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti membatasi perjalanan dan aktivitas sosial di banyak negara. Physical distancing sangat penting untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan diperkirakan akan berlanjut untuk beberapa waktu.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui determinan perilaku physical distancing pada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakartadi awal masa pandemi COVID-19.Metode. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif desain studi cross sectional. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 417 sampel dengan menggunakan metode voluntary sampling. Informasi dikumpulkan secara online melalui google form pada bulan April 2020. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik ganda.Hasil. Perilaku physical distancing yang baik dilaksanakan oleh 55,9% mahasiswa. Hasil analisis multivariat menunjukkan determinan perilaku physical distancing adalah jenis kelamin perempuan (OR=3,438, 95% CI: 2,037-5,804); pengetahuan yang baik terkait physical distancing (OR=1,757, 95% CI: 1,057-2,919); serta adanya dukungan keluarga (OR=1,854, 95% CI:1,219-2,819). Dukungan TOMA tidak berhubungan signifikan dengan perilaku physical distancing (OR=1,469, 95% CI: 0,961-2,246).Kesimpulan. Perilaku physical distancing masih perlu ditingkatkan. Mahasiswa perempuan lebih baik dalam menerapkan perilaku physical distancing. Dukungan keluarga dan pengetahuan terkait physical distancing mempengaruhi perilaku physical distancing. AbstractBackground. The spread of the COVID-19 virus has resulted in unprecedented measures such as restricting travel and social activity in many countries. Physical distancing is critical to fighting COVID-19 and is expected to continue for some time.Objective.The aim of the study was to assess the determinants of physical distancing behavior of university students of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta at the beginning of the COVID-19 pandemic. Method. This study used an observational analytic method with cross-sectional study design. A total of 417 respondents was selected by using voluntary sampling method. Information was collected online using google form in April 2020. Data were analysed using a multiple logistic regression test. Results. Good physical distancing behavior carried out by 55.9% of students. The results of multivariate analysis showed that factors associated with physical distancing behavior were female gender (OR=3.438, 95% CI: 2.037-5.804), good knowledge of physical distancing (OR=1.757, 95% CI: 1.057-2.919), and family support (OR=1.854, 95% CI: 1.219-2.819). Meanwhile, support from community leaders was not significantly related to physical distancing behavior (OR=1.469, 95% CI: 0.961-2.246). Conclusion. Uptake of physical distancing behavior needs to increase. Female university students were better at uptaking physical distancing behavior. Family support and knowledge about physical distancing effect the uptake of physical distancing behavior.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Turnover Perawat di Rumah Sakit Awal Bros Batam Tahun 2017
ABSTRAK Rumah sakit sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan yang paripurna mempunyai kewajiban untuk menjaga mutu layanan yang diberikan. Perawat adalah salah satu ujung tombak pelayanan dan merupakan bagian sumber daya terbesar di rumah sakit. Mutu layanan keperawatan dengan tujuan utama adalah untuk patient safety dapat dipertahankan salah satunya dengan mengendalikan angka turnover. Selama tahun 2015 sampai 2017 didapatkan angka turnover perawat di Rumah Sakit Awal Bros Batam sebesar 15,4%, 14,3%, dan 18,9%. Metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan turnover perawat. Penelitian kuantitatif terhadap seluruh perawat yang sudah keluar sebanyak 79 orang. Penelitian kualitatif terhadap perawat di bagian rawat inap dan critical care dengan informan sebanyak 7 orang. Hasil kuantitif univariat menunjukkan perawat yang keluar 77,2% perempuan dan 22,8% laki-laki, 82,3%; berusia sampai dengan 30 tahun dan 17,7% berusia lebih dari 30 tahun; tingkat pendidikan diploma III 89,9% dan strata I sebanyak 10,0;, menikah 55,7% dan tidak menikah 44,3 %; asal rekrut 62% berasal dari luar batam dan 38% berasal dari batam; serta masa kerja sampai 5 tahun 81% dan masa kerja diatas 5 tahun 19%. Uji bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan turnover adalah status pernikahan (Asymp. Sig 0.003) dan daerah asal rekrut (Asymp. Sig 0.000). Analisis kualitatif dengan wawancara mendalam dan focus group discussion didapatkan faktor lingkungan non-fisik terutama masalah kepemimpinan yang memunculkan dorongan untuk memutuskan keluar dari rumah sakit. Tingkat turnover di Rumah Sakit Awal Bros Batam masih tinggi sampai dengan tahun 2017 dengan faktor status pernikahan, daerah asal rekrut, lingkungan non fisik, dan kepemimpinan yang berhubungan dengan turnover. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan Rumah Sakit Awal Bros Batam sebagai salah satu faktor untuk dapat mengendalikan turnover perawat. ABSTRACT Hospitals as plenary health service providers have an obligation to maintain the quality of services provided. The nurse is one of the spearheads of service and is the largest part of the hospital's resources. The quality of nursing services with the main goal is to maintain patient safety by controlling the turnover rate. During 2015 to 2017 there were 15.4%, 14.3%, and 18.9% turnover rates for nurses at awal bros hospital batam. The method of research are quantitative and qualitative approach to determine factors related to nurse turnover. Quantitative research for all nurses who had left was 79 people. Qualitative research on nurses in the inpatient and critical care section with informants 7 people.Quantitative results with univariate statistical show nurses who had been turnover were 77.2% women and 22.8% men; 82.3% aged up to 30 years and 17.7% aged over 30 years; diploma level III 89.9 % and strata I 10.1%; married 55.7% and not married 44.3%; 62% of recruits came from outside Batam and 38% came from Batam; and working period up to 5 years 81% and working period above 5 years 19%. The bivariate statistical test showed that the factors associated with turnover were marital status (Asymp. Sig 0.003) and the area of recruitment (Asymp. Sig 0.000). Qualitative analysis with in-depth interviews and focus group discussions found non-physical environmental factors, especially leadership problems lead to turnover. The turnover rate in Awal Bros Hospital Batam is still high with factors of marital status and area of recruitment, non-physical working environment that are associated with turnover. This can be taken into consideration as the Awal Bros Hospital Batam as a factor to be able to control nurse turnover
Improving Patient Safety and Hospital Service Quality Through Electronic Medical Record: A Systematic Review
ABSTRACT To understand the Electronic medical records (EMR) role in improving patient safety and hospital’s service quality. Articles that included and assessed for the eligibility in this review was an article that show an effect of patient’ safety, and product quality in hospital in correlation on using EMR. The most important function of EMR implementation is to improve patient safety in hospital, in addition to reducing cost. EMR reduce excess cost of Hospital Acquired Condition (HAC) by 16%, reduce death due to HAC by 34%. Doctor and nurse’s belief that the quality of patient data is better when EMR are easier to use and suit with their dialy routine. EMR can improve patient safety, but its use require some skills in technology so it won’t turn to harm patients’ safety. The implementation EMR requires the ability of skilled human resources in using technologies, computer and programs
Faktor yang Memengaruhi Kontaminasi Bakteri Eschercia coli pada Makanan Jajanan di Sekolah Dasar Kecamatan Beji, Kota Depok Tahun 2018
Latar belakang. Makanan jajanan yang seharusnya berperan sebagai sumber energi siswa sekolah dasar, jika terkontaminasi dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kontaminasi bakteri Escherichia coli pada makanan jajanan di Sekolah Dasar Kecamatan Beji, Kota Depok. Metode. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional. Data yang digunakan merupakan data primer, yang terdiri dari hasil uji laboratorium pada 37 sampel makanan dan hasil wawancara 37 pedagang makanan jajanan menggunakan kuesioner. Hasil. Penelitian menunjukan 29,7% sampel makanan yang diuji terkontaminasi Escherichia coli. Berdasarkan uji chi-square, terdapat hubungan yang signifikan antara kontaminasi bakteri Escherichia coli dengan pemilihan bahan makanan (p=0,042) (OR=5,040 [CI 95% 1,085-23,419]) dan pengolahan makanan (p=0,003) (OR=12,214 [CI 95% 2,101-71,013]). Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukan faktor yang paling berpengaruh terhadap kontaminasi bakteri Escherichia coli yaitu faktor pengolahan bahan makanan (p=0,005) (OR=12,214). Simpulan. Pengolahan makanan merupakan faktor yang paling mempengaruhi kontaminasi Escherichia coli pada makanan jajanan di sekolah dasar Kecamatan Beji. Oleh karena itu, penjamah makanan di sekolah dasar Kecamatan Beji perlu diberikan pembinaan terkait personal hygiene dan higiene sanitasi makanan untuk mengurangi kontaminasi bakteri Escherichia coli pada makanan jajanan.Kata Kunci: Escherichia coli, kontaminasi makanan, kantin, sekolah dasa