Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Efektivitas Audio-Visual Dangers of Smoking dalam Meningkatkan Pengetahuan, Efikasi Diri dan Sikap Remaja di SMP Negeri 32 Kota Samarinda
ABSTRAKLatar Belakang. Berdasarkan Riskesdas (2018), prevalensi perokok usia ≥10 tahun di Indonesia yaitu sebesar 28,8% dan usia perokok 10-18 tahun mengalami peningkatan dari 7,2% menjadi 9,1%.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas video ceramah dengan alat peraga Dangers of Smoking dalam meningkatkan pengetahuan, efikasi diri dan sikap bahaya merokok.Metode. Penelitian ini menggunakan pra-eksperimental dengan desain one group pre-test-post-test. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling. Uji statistik pada variabel pengetahuan menggunakan Wilcoxon Signed Rank dan variabel efikasi diri dan sikap menggunakan paired t-test.Hasil. Pengetahuan menunjukkan bahwa nilai p-value (0,000) < 0,05 terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi video ceramah bahaya merokok, efikasi diri dan sikap menunjukkan nilai p-value (0,023) dan (0,019) < 0,05 terdapat perbedaan efikasi diri dan sikap sebelum dan sesudah dilakukan intervensi video ceramah bahaya merokok.Kesimpulan. Terdapat pengaruh metode video ceramah terhadap peningkatan pengetahuan, efikasi diri dan sikap bahaya merokok pada siswa.Kata Kunci: audio-visual, merokok, pengetahuan, efikasi diri, sikapABSTRACT Background. Indonesian Basic Health Research (2018) shown that the prevalence smoker aged ≥10 years old it was 28.8% and smoker between 10-18 years old increased from 7.2% to 9.1%.Objective. The objective of this study is to analyze the effectiveness of lecture videos with teaching aids the dangers of smoking to increase knowledge, self-efficacy and negative attitude towards smoking to adolescent. Method. This study used pre-experimental research with one group pre-test-post-test design. Statistical result of knowledge by Wilcoxon signed-rank test and Statistical result of self-efficacy and attitude by paired t-test.Result. Knowledge variables shown that p-value (0.000) < 0.05. There was a difference in the result of adolescent knowledge before and after intervention lecture videos on the dangers of smoking. Self-efficacy and attitude variable showed that p-value (0,023) and (0,019) < 0,05. There was a difference between the result of adolescent self-efficacy and attitude before and after intervention lecture videos the dangers of smoking.Conclusion. Lecture videos with teaching aid "dangers of smoking" are effective in improving student knowledge, self-efficacy, and attitude towards the dangers of smoking
Analisis Kebutuhan Tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik Berdasarkan Beban Kerja di Unit Laboratorium Klinik Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru
ABSTRAK Tantangan utama unit laboratorium klinik di rumah sakit saat ini adalah melakukan efisiensi biaya terutama biaya sumber daya manusia. Di sisi lain pasien dan dokter menginginkan hasil pemeriksaan laboratorium yang lebih cepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kebutuhan ahli teknologi laboratorium medik berdasarkan beban kerja di Unit Laboratorium Klinik Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru. Metode penelitian yang digunakan adalah operational research dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis beban kerja dilakukan terhadap seluruh tenaga ahli teknologi laboratorium medik yang berjumlah 15 orang dengan metode kombinasi work sampling dan daily log. Perhitungan kebutuhan tenaga dilakukan dengan 3 metode yaitu Metode Ilyas, Metode WISN, dan Metode Full Time Equivalent. Hasil penelitian adalah dibutuhkan 18 orang tenaga ahli teknologi laboratorium medik menurut Metode Ilyas, 21 orang menurut Metode WISN, dan 17 orang menurut Metode Full Time Equivalent. Disarankan kepada Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru agar menambah 3 orang tenaga ahli teknologi laboratorium medik. ABSTRACT The main challenge of the clinical laboratory unit in hospitals nowdays is making expenditures efficiency, especially human resources expenditures. On the other hand, patients and doctors normally request faster and more accurate laboratory checking results. The purpose of this study is to get proper number of medical laboratory technology experts needed based on workload in Santa Maria Pekanbaru Hospital Clinical Laboratory Unit. Research method applied is operational research with quantitative and qualitative analysis. Workload analysis was done toward the whole medical laboratory technology experts, which were 15 person, with the combination method of work sampling and daily log. The calculation of expert need was done with 3 methods: Ilyas, WISN, and the Full Time Equivalent Method. The study result is there are 18 medical laboratory technology experts needed according to Ilyas Method, 21 experts according to WISN Method, and 17 experts according to Full Time Equivalent Method. It is suggested to Santa Maria Pekanbaru Hospital to add 3 more medical laboratory technology experts
Effect of Febrile Neutropenia Guideline’s Implementation on Death Rate in Dharmais Cancer Center Hospital
ABSTRACT Febrile neutropenia may have a high morbidity and mortality impact for the patient. The death rate of febrile neutropenia in 2002 was 38.8%, while in 2009 was 27.3%. The difference in mortality rates could caused by several factors such as availability of the Neutropenic Fever Management Guidelines in 2006, in addition to infrastructure, human resources and equipment. This study aims to determine the effect of the availability of the guideline and other factors to cancer mortality rate in the compromised immune isolation room of Dharmais Hospital. This study is a cross-sectional retrospective study which investigate mortality rates and compare with adherence to febrile neutropenia guidelines for the period 2008-2012. Data were taken from the patient's medical record file, then analyzed using univariate and bivariate analysis. The mortality rate in the period 2008-2012 was 20,7%. The effect of age, sex, and degree of risk factor on mortality was not significantly different (p=0,409, p=0,404, and p=0,324). The proportion of deaths was higher in patients borne by third parties (26.8%) than in the case of personal (10%) although not statistically significant (p=0,065). Of the three types of adherence, only one had a significant effect of adherence to treatment flow (p=0,033)
Determinan Pengeluaran Rokok Elektrik di Kota Bandung
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi pengeluaran rokok elektrik di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan Convenience Sampling dan formula Slovin, melakukan wawancara terhadap 200 pengguna rokok elektrik di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode Regresi Linear Berganda dengan STATA 12. Variabel yang digunakan adalah total pengeluaran rokok elektrik per bulan, harga alat mesin isap rokok elektrik, motivasi penggunaan rokok elektrik, jumlah rasa cairan rokok elektrik, pengetahuan mengenai resiko penggunaan rokok elektrik, dan status penggunaan ganda rokok konvensional dan rokok elektrik. Hasil regresi menunjukkan bahwa harga alat mesin isap rokok elektrik, motivasi penggunaan rokok elektrik, jumlah rasa cairan rokok elektrik berpengaruh positif dan signifikan pada peningkatan pengeluaran rokok elektrik di Kota Bandung. Sedangkan pengetahuan mengenai resiko penggunaan rokok elektrik tidak signifikan mengurangi tingkat pengeluaran rokok elektrik di kota Bandung. Penelitian ini juga menemukan bahwa status pengguna ganda rokok elektrik dan rokok konvensional berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan pada pengeluaran rokok elektrik. Untuk mengurangi penggunaan rokok elektrik di Kota Bandung, pemerintah perlu meningkatkan kampanye kesehatan mengenai bahaya penggunaan rokok elektrik. Bahkan pemerintah seharusnya melarang penggunaan rokok elektrik karena pengaruh pengetahuan rokok elektrik yang tidak signifikan mengurangi konsumsi rokok elektrik.AbstractThis research aims to analyze the factors that affect expenditure decision on electronic cigarettes in Bandung. This research uses the Convenience Sampling and Slovin formula, interviews 200 users of e-cigarettes in Bandung. This paper uses Multiple Linear Regression (MLR) with STATA 12. Total expenditure per month in electronic cigarettes, the price of electronic cigarette suction machine tools, motivation in using electronic cigarettes, the amount of electronic cigarettes liquid taste, knowledge about the risk of using electronic cigarettes, and the status dual user of conventional cigarettes and electronic cigarettes are has been used as variables in this research. The regression result shows that the price of electronic cigarettes, motivation to use electronic cigarettes, the amount of electronic cigarettes liquid taste are positively and significantly correlated with the total expenditure per month for electronic cigarettes in Bandung. In the other hand, knowledge about the risk of using electronic cigarettes not significantly reduces electronic cigarette expenditure. This study also finds that the status of dual users of electronic cigarettes and conventional cigarettes has a negative but not significant effect on electronic cigarette expenditure. To reduce the use of electronic cigarettes, the government needs to increase health campaigns regarding the dangers of electronic cigarettes.Even the government must bans the use of electronic cigarettes because knowledge about electronic cigarettes risk has insignificant effect to reduce consumption of electronic cigarettes
Penggunaan mHealth Mampu Memperbaiki Perilaku Kesehatan Pasien Penyakit Tidak Menular
Penggunaan internet dan aplikasi kesehatan seluler semakin meningkat. Banyak aplikasi kesehatan seluler sekarang menargetkan penderita penyakit kronis dan penyakit tidak menular sebagai sarana yang efektif untuk perubahan perilaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan mHealth terhadap perubahan perilaku kesehatan pada penderita penyakit kronis dan penyakit tidak menular. Metode telaah sistematis terhadap jurnal yang terbit dalam 10 tahun terakhir di database IEEE Explorer, Elsevier, dan ScienceDirect, dengan kriteri disain eksperimen randomise control design (RCT). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 4 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi, 3 jurnal menyimpulkan bahwa penggunaan mHealth yang mengimplementasikan teori perubahan perilaku kesehatan, secara signifikan mempengaruhi perubahan positif perilaku kesehatan pada penderita penyakit tidak menular, sedangkan 1 jurnal menyatakan bahwa mhealth tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan perilaku kesehatan penderita HIV. Kesimpulannya adalah penggunaan mHealth secara konsisten dan dalam jangka panjang (minimal dalam 1 tahun), serta pesan teks yang dipersonalisasikan dapat mengubah perilaku kesehatan individu penderita penyakit tidak menular secara signifikan. Disarankan penelitian mHealth yang berdasarkan teori perubahan perilaku kesehatan dapat menjadi pendekatan yang baik untuk intervensi perilaku dan dapat diterapkan pada promosi kesehatan masyarakat. Agar intervensi mHealth berhasil, perlu mempertimbangkan teori perilaku yang sesuai dan metode penyampaian informasi yang relevan dengan kondisi pasien dan jenis penyakitnya
Ability to Identify Occupational Health and Safety (OHS) Hazards in Small Sized Enterprises Workers in Cimanggis District, Depok City, West Java
Background: The high number of SMEs players in Depok has an impact on high employment. A large number of workers in SMEs that have not been maximized in applying safety and health aspects in the workplace has the risk of causing several problems such as minor injuries, ergonomic problems, old and insecure equipment, lack of workers' knowledge and poor work environment conditions. Objective: This study aims to assess the ability of workers to recognize OHS hazards in SMEs assisted by Cimanggis District Health Center, Depok City, West Java. Methods: This study used a cross-sectional design carried out on 36 SMEs assisted by Cimanggis Health Center, Depok City, West Java. In each of the selected SMEs, one worker was then interviewed using the ODK Collect application to assess characteristics, knowledge, attitudes, behavior, and assessment of the ability to recognize OHS hazards in SMEs. Results: The results of the study showed that only 41.7% of SMEs were able to recognize OHS hazards properly. In addition, the results show that there are more who have good knowledge (53%), poor attitudes (64%) and bad behavior (61%). Female workers, workers who have working hours of more than 8 hours per day, and SMEs workers with low occupational risks are found to be better in their ability to recognize OHS hazards. Conclusion: The ability to recognize OHS hazards for SMEs workers assisted by Cimanggis District, Depok, West Java is still very slight (under 50%). For this reason, it is necessary to intervene in OHS aspects in SMEs so that these hazards can be minimize
THE IMPLEMENTATION OF NAVY TNI VICTIM IDENTIFICATION POLICY IN LADOKGI R.E. MARTADINATA
AbstractSoldier is a death-risk profession; thus, identification to have their exact identity is a fundamental right. The Presidential Regulation Number 107 of 2013 mandates Ladokgi RE. Martadinata as the investigator of victim identification activities for TNI Navy Soldiers. This study analyzes the implementation of the policy with a qualitative descriptive approach using the Edward III model analysis. Retrieval of primary informant data through in-depth interviews and secondary data, including observation and review of the literature, documents, and related laws and regulations. Data validation is done by triangulating data sources, theories, and methodologies. The results of the study indicate that there are several supporting factors. First, the Ladokgi bureaucratic structure factor has a Military Dentistry Department in charge of managing dental antemortem data and had gathered 9000 soldiers data by 2019. The second is the resource factor. Ladokgi has regular budget sources from the state budget, personnel, health materials, and routine training programs. Third, the Ladokgi leadership's disposition factor has made the Navy Forensic Odontology into a functional organization under the control of the Ladokgi Chief. The fourth is communication factors, the existence of a tiered reporting system to the top command.However, there are several inhibiting factors. From the bureaucratic structure and resource factor is the absence of a root organization with various supporting professions for the identification. There is still the absence of standard information flow procedures in the reconciliation phase in the communication factor. In the disposition factor, the micro policy is absent in the form of guidelines for identifying victims in the Indonesian Navy. Conclusion. The implementation of the policy of identifying TNI AL casualties in Ladokgi RE. Martadinata has been implemented but is still partial, such as dental-based antemortem data management. We recommend that the commitment from the leader is needed in this case the Head of the Navy's Health Service regarding the involvement of required cross-professional personnel in the organization of victim identification, through the revision of Presidential Regulation 107 of 2013 and the preparation of several technical policies needed in victim identification activities within the Navy.AbstrakTugas prajurit memiliki resiko tinggi termasuk kematian sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk menetapkan identitasnya sebagai hak dasar. Kebijakan Peraturan Presiden Nomor 107 tahun 2013 mengamanatkan bahwa penyelenggara kegiatan identifikasi korban bagi Prajurit TNI Angkatan Laut adalah Ladokgi RE. Martadinata. Penelitian ini menganalisis implementasi kebijakan tersebut dengan pendekatan deskriptif kualitatif menggunakan analisis model Edward III. Pengambilan data primer informan melalui wawancara mendalam dan data sekunder meliputi telaah pustaka, dokumen, observasi dan peraturan perundangan terkait.Validasi data dilakukan dengan triangulasi terhadap sumber data, teori dan metodologi. Hasil studi menunjukkan adanya faktor pendukung keberhasilan yaitu; pertama, faktor struktur birokrasi Ladokgi memiliki Departemen Kedokteran Gigi Militer yang bertugas dalam pengelolaan data antemortem gigi, dan tahun 2019 sudah terkumpul 9000 prajurit. Kedua, faktor sumber daya, ladokgi memiliki sumber anggaran rutin dari APBN, personel, material kesehatan dan program latihan rutin. Ketiga, faktor disposisi Pimpinan Ladokgi telah mengupayakan terbentuknya Odontologi Forensik TNI AL menjadi organisasi fungsional di bawah kendali Kepala Ladokgi. Keempat, faktor komunikasi, adanya sistem pelaporan secara berjenjang ke komando atas. Faktor penghambat dari struktur birokrasi dan sumber daya adalah belum adanya induk organisasi dengan berbagai profesi pendukung identifikasi. Faktor komunikasi, belum adanya standar prosedur alur informasi pada fase rekonsiliasi, serta faktor disposisi belum adanya kebijakan mikro berupa pedoman identifikasi korban di TNI AL. Kesimpulan, implementasi kebijakan identifikasi korban prajurit TNI AL di Ladokgi RE. Martadinata sudah terlaksana namun bersifat parsial, yaitu pengelolaan data antemortem berbasis gigi. Direkomendasikan perlunya dukungan Komitmen dari Pimpinan dalam hal ini Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Laut terkait pelibatan personel lintas profesi yang diperlukan dalam penyelenggaraan identifikasi korban, melalui upaya revisi Perpres 107 tahun 2013 serta penyusunan beberapa kebijakan teknis yang dibutuhkan dalam kegiatan identifikasi korban di lingkungan TNI AL
Efektivitas Media Edukasi Audio-visual dan Booklet terhadap Pengetahuan Premenopause, Efikasi Diri dan Stres pada Wanita Premenopause di Kota Bandung
ABSTRAKLatar Belakang. Jumlah wanita menopause di Indonesia saat ini sebanyak 7,4% dari total populasi, dan tahun 2020 jumlahnya diperkirakan mencapai 11,54%. Menopause diawali dengan premenopause, dimana pada masa ini terjadi penurunan hormon estrogen yang memunculkan sindrom premenopause yang dapat mengakibatkan stres pada wanita.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas media edukasi audio-visual dan booklet terhadap pengetahuan premenopause, efikasi diri dan tingkat stres pada wanita premenopause di Kota Bandung.Metode. Jenis penelitian adalah quasi experiment dengan pre-post test with control group design. Jumlah partisipan sebanyak 76 orang, terdiri dari 38 orang kelompok intervensi dan 38 orang kontrol.Hasil. Penelitian ini menemukan bahwa pada kelompok intervensi rerata pengetahuan 6,09 poin lebih tinggi, rerata efikasi diri 3,05 poin lebih tinggi, dan rerata stres terjadi penurunan 1,23 poin dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penggunaan audio-visual dan booklet sebagai media edukasi berhubungan dengan meningkatnya pengetahuan mengenai premenopause dan efikasi diri, serta efektif menurunkan stres wanita premenopause di Kota Bandung (p<0,05).Kesimpulan. Pemberian edukasi menggunakan media audio-visual dan booklet efektif dapat meningkatkan pengetahuan wanita premenopause tentang premenopause.ABSTRACTBackground. The number of menopausal women in Indonesia is currently 7.4% of the total population, and its number is estimated up to 11.54 % in 2020. The menopausal period is preceded by premenopausal phase in which the estrogen hormone is decreased, causing premenopausal syndromes that may lead to stres in women. Objective. This study was to assses the effectiveness of audio-visuals and booklets as educational medium on the knowledge about premenopause, self-efficacy and stres level of premenopausal women in Bandung.Method. Design of the study was quasi experiment using pre-post test with control group design. There were 76 participants, consisting of 38 participants in intervention group and 38 participants in control group.Results. This study found that the scores of knowledge was higher 6.09 points, self-efficacy was higher 3.05 point, and stres level was decrased by 1.23 point in the intervention group than in the control group. The use of audio-visual and booklet as educational medium was associated with increasing knowledge and self-efficacy as well as effective in reducing stres level in premenopausal women in Bandung City. Conclusion. Providing education through audiovisuals and booklets was effective in increasing knowledge of premenopausal women concerning premenopause
Analisis Ketidaklengkapan Rekam Medis Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Dharma Kerti Tabanan
ABSTRAK Salah satu parameter untuk menentukkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah data atau informasi dari rekam medis yang baik dan lengkap. Berdasarkan observasi, terdapat beberapa lembar bagian rekam medis yang hilang dan juga masih ada beberapa rekam medis yang belum lengkap. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kelengkapan rekam medis pasien rawat inap di Rumah Sakit Dharma Kerti Tabanan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan di Rumah Sakit Dharma Kerti Tabanan. Besar sampel adalah 232 rekam medis pasien rawat inap. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sistematik random sampling. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa dari segi kelengkapan identifikasi, tergolong tidak lengkap yaitu 99.14%. Dari segi kelengkapan pencatatan, tergolong tidak lengkap yaitu 59.48%. Dari segi kelengkapan pelaporan, tergolong lengkap yaitu 61.64% dan kelengkapan autentifikasi, tergolong lengkap yaitu 74.14%. Secara keseluruhan mulai dari kelengkapan identifikasi, kelengkapan pencatatan, kelengkapan pelaporan dan autentifikasi, rekam medis pasien rawat inap tergolong tidak lengkap sebesar 85.78%. Rumah Sakit Dharma Kerti Tabanan perlu memperhatikan lebih teliti isi rekam medis dan berkoordinasi dengan dokter atau pun perawat untuk tetap mengisi dengan lengkap rekam medis pasien rawat inap. Selain itu juga tempat penyimpanan rekam medis perlu disediakan lebih baik agar bisa mencegah kehilangan beberapa lembar penting dalam dokumen rekam medis. ABSTRACT One parameter to determine the quality of health services in hospitals are information from medical records that is good and complete. Based on observations, there are some pieces of missing medical records and there are still some incomplete medical records. This study aim to analysis the complete inpatients medical records at Dharma Kerti Tabanan Hospital. This study was descriptive study conducted at the Dharma Kerti Tabanan Hospital. This study use 232 inpatients medical records and use systematic random sampling. Based on the results of the analysis found that in terms of completeness of identification, classified as incomplete (99.14%). In terms of the completeness of recording, it is classified as incomplete (59.48%). In terms of completeness of reporting, it is classified as complete (61.64%) and completeness of authentication, classified as complete, (74.14%). Overall, the medical records of inpatients are classified as incomplete at 85.78%. Dharma Kerti Tabanan Hospital needs to pay closer attention to the contents of the medical record and coordinate with doctors or nurses to keep filling in complete medical records of inpatients. In addition, medical record storage should be provided better in order to prevent the loss of important sheets in medical record documents
Kondisi Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare di Kawasan Pesisir Pantai Desa Sedari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat Tahun 2018
Latar belakang. Kondisi sanitasi dasar yang buruk akan meningkatkan risiko terjangkitnya penyakit menular seperti diare. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh diare terutama oleh bayi dan balita. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah ada hubungan antara kondisi sanitasi dasar dengan kejadian diare di Desa Sedari. Metode. Penelitian ini menggunakan data primer yang diambil dengan wawancara langsung terhadap sampel penelitian. Dari 1514 KK dapat diambil sampel sebanyak 104 KK. Desain studi penelitian ini adalah desain cross sectional dan data dianalsis secara univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat dengan chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil. Penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kondisi sanitasi dasar dengan kejadian diare di Desa Sedari. Dari hasil uji regresi logistik dapat dilihat bahwa variabel kondisi jamban yang buruk merupakan variabel yang dominan terhadap kejadian diare karena memiliki nilai OR = 0,315 dan p-value 0,122 yang lebih tinggi dari variabel lainnya. Simpulan. Langkah yang perlu dilakukan diantaranya adalah dengan mengadakan sosilisasi terhadap masyarakat Desa Sedari terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah disembarang tempat dan memberikan edukasi terkait kondisi sanitasi yang baik agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Desa Sedari agar memperbaiki kondisi sanitasi yang sudah tidak layak. Sedangkan untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variabel penelitian dan melakukan uji laboratorium terhadap sumber air dan air minum yang di konsumsi oleh masyarakat Desa Sedari.Kata Kunci: Air Minum,Diare,Sanitasi Dasa