Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
    1218 research outputs found

    Risiko Terkait Perilaku Merokok di Dalam Rumah Selama Masa Pandemi

    Get PDF
    Latar Belakang: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan hal yang harus diterapkan untuk mencegah permasalahan kesehatan khususnya untuk mencegah penularan virus COVID-19.  Kota Bogor merupakan salah satu kota di Indonesia  yang menerapkan kebijakan yang mengatur tentang PHBS. Berdasarkan survey oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor pada tahun 2019 ditemukan bahwa indikator tidak merokok di dalam rumah (62,6%) merupakan indikator PHBS dengan capaian terendah. Hal ini juga dipicu oleh frekuensi untuk tinggal di dalam rumah yang semakin meningkat selama pandemi COVID-19 sehingga masalah kebiasaan merokok di dalam rumah perlu mendapatkan perhatian lebih. Berdasarkan fenomena peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok di dalam rumah selama masa pandemi COVID-19 di salah satu daerah di Bogor yaitu RW.09 Kelurahan Pamoyanan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok di dalam rumah selama masa pandemi COVID-19 serta melakukan intervensi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku warga RW 09 Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor tahun 2021 Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi Cross Sectional. Populasi penelitian ini merupakan seluruh kepala keluarga di RW 09 Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor yang berjumlah 296 kepala dengan sampel sebagian kepala keluarga di RW 09. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan univariat dan bivariat. Hasil: Berdasarkan analisis bivariat, ditemukan bahwa hanya variabel pengetahuan yang memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok di dalam rumah dengan p value 0,011 dengan nilai OR sebesar 10,5 yang menunjukan bahwa responden yang berpengetahuan rendah memiliki risiko 10,5 kali lebih besar untuk merokok didalam rumah dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi. Berdasarkan hasil pretest dan posttest ditemukan p value sebesar 0,006 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan terhadap pengetahuan warga sebelum dan setelah intervensi.  Kesimpulan: Dari ketujuh variabel yang diteliti, variabel pengetahuan merupakan satu-satunya variabel yang memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku merokok. Sedangkan variabel lain tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku merokok di dalam rumah. Selain itu hasil pretest dan posttest menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan warga meningkat setelah dilakukan intervensi. Kata Kunci: merokok, COVID-19, PHBS, intervensi

    Correlation between Care Burden and Mental Health with the Perceived Social Support of Patients Relatives in Turkey

    Get PDF
    The people providing care for relatives always need support and accompaniment from their families and friends. This study aimed to evaluate the correlation among the care burden, mental health and social support perceptions of the patients’ relatives that provide long-term care for patients receiving service from the home care service (HCS) unit in one city. This descriptive study was carried out with the relatives of patients receiving service from home health units. Among the relatives providing care for a total of 859 patients, those that did not comply with the inclusion criteria were excluded, which made a total population of 309 people. Individual information form, burden interview, brief symptom inventory and multidimensional scale of perceived social support were used for the assessment of the data. Descriptive statistics and Spearman’s correlation coefficient were used for data analysis. The result showed a positive moderate significant correlation among the burden score, brief symptom inventory subscale and global index scores while, a negative moderate significant correlation was discovered between the family, significant other and multidimensional scale of perceived social support scores. Consequently, as the perceived social support level in the patients’ relatives providing care increased, their care burden and mental health problems decreased

    Knowledge, Attitude, and Practice Regarding COVID-19 among Residents of Pesantren

    Get PDF
    Islamic boarding schools (pesantren) have a risk of COVID-19 transmission. The pesantren learning system is generally carried out collectively and the interaction between teachers and students is almost 24 hours. This community service aims to empower pesantren in efforts to prevent and control COVID-19 so that they become a safe learning place from the spread of COVID-19. The design of this study was a case study on the empowerment of pesantren in the prevention and control of COVID-19.  Study located at a traditional Islamic boarding school (salafiah) in Lebak Regency, Banten. The target of the study consists of pesantren leader, teachers (ustadz/ustadzah) and students (97 people), and community service partners consist of the sub-district Public Health Center and the sub district COVID-19 Task Force. The results of this study showed that controlling COVID-19 in pesantren requires the commitment of pesantren leaders through the establishment of pesantren COVID-19 task force and requires partnerships with relevant stakeholders. Health literacy needs to be improved especially the implementation of health protocols and information on clean and healthy living behavior. There were obstacles in handling COVID-19, especially: social distancing, infrastructure, and funding. This study recommended that the empowerment of pesantren residents (teachers and students) related to health literacy, and it is necessary to make people aware that COVID-19 is everyone's responsibility. The Government should pay serious attention to pesantren as boarding educational institutions where interaction between students is almost 24 hours, to prevent pesantren from becoming clusters of the spread of COVID-19

    Determinan Konsistensi Penggunaan Kondom pada Laki-Laki Seks dengan Laki-Laki (LSL) Non-Pekerja Seks: Studi Potong Lintang

    Get PDF
    Kasus baru HIV di Indonesia cenderung terus mengalami peningkatan. Sedangkan, tren kasus baru di dunia sudah mengalami penurunan. Laki-laki Seks dengan laki-laki (LSL) merupakan kelompok risiko tinggi HIV. Upaya pencegahan penularan HIV erat kaitannya dengan perilaku seks. Studi ini menggunakan 1.161 sampel Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) 2015 pada kelompok LSL yang termasuk bukan pekerja seks. Studi cross sectional ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku seks konsistensi penggunaan kondom dengan analisis hingga bivariat dengan menggunakan chi-square dan prevalence ratio. Data didapatkan dengan metode respondent driven sampling (RDS) yang kemudian mengeksklusi LSL pekerja seks. Hasil menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan kondom yang tidak konsisten yaitu pengetahuan status HIV dengan prevalence ratio (PR) 1,14 (95% CI 1,02-1,28), pelayanan pencegahan dan penularan HIV dengan PR 1,18 (95% CI 1,06-1,33), serta akses terhadap internet tentang pencegahan dan penularan HIV dengan PR 1,16 (95 % CI 1,02-1,31). Sehingga, LSL yang tidak mengetahui status HIV diri sendiri, tidak mendapatkan pelayanan pencegahan dan penularan HIV, dan tidak mengakses internet mengenai pencegahan dan penularan HIV berisiko lebih tinggi untuk berperilaku tidak konsisten dalam menggunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seks. Maka dari itu, perlu program-program yang berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan LSL tentang status HIV dirinya sendiri, dan informasi mengenai pencegahan penularan HIV baik melalui program pelayanan maupun internet untuk meningkatkan konsistensi penggunaan kondom pada LSL non-pekerja seks.

    Mandatory Social Distancing for Covid-19 Outbreak and Its Economic Consequences in West Sumatera - Indonesia

    Get PDF
    The Governor of West Sumatra Province of Indonesia imposed a mandatory social distancing (PSBB) to slow down the Covid-19 outbreak from 22 April to 7 June 2020. The cons argued that PSBB was ineffective because of the impossibility to limit people’s movements. The pros, on the other hand, viewed PSBB as a training facility to increase people’s awareness about the pandemic. Our research aims at evaluating the effectiveness of PSBB by using the Kermack-McKendrick SIR pandemic model and the NLSUR non-linear least square estimation. Using daily data published by the Covid-19 task force, we found that PSBB had a positive impact on flattening the curve. Assuming that vulnerable people were around 30% of the population, PSBB has reduced the rate of spread of Covid-19 from around 2 persons to less than 1 person for every infected. We also found that the economic consequences of PSBB on commodities varied by their demand and supply characteristics. We, therefore, suggest that policy interventions related to price control and subsidy should consider these characteristics. For future research, as data more available, the effect of PSBB on broader economic variables such as poverty and growth in the province needs to be examined

    Assessment of Characteristics and Conditions before the End of Lockdown

    Get PDF
    After months of blockades and restriction, the decision of the best time to end the lockdown after the first wave of the COVID-19 pandemic is the big question for health rectors. This study aimed to evaluate the characteristics and conditions for ending the blockade after the first wave of COVID-19. Data on the variables of interest were subjected to linear and non-linear regression studies to determine the curve that best explains the data. The coefficient of determination, the standard deviation of y in x, and the observed curve of the confidence interval were estimated. Regression which was estimated subsequently revealed the trend curve. The study found that all dependent variables tend to decrease over time in a quadratic fashion, except for the variable for new cases. In general, the R2 and mean absolute percentage error (MAPE) estimates were satisfactory: gradual and cautious steps should be taken before ending the lockdown. The results suggested that a surveillance of crucial indicators (e.g., incidence, prevalence, and PCR test positivity) should be maintained before lockdown is terminated. Moreover, the findings indicated that long-term preparations should be made to contain future waves of new cases

    Analisis Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit Harapan Depok Tahun 2018

    No full text
    Latar Belakang. Pelayanan rumah sakit menghasilkan limbah medis padat yang harus dikelola dengan baik dan komprehensif sejak limbah dihasilkan hingga dikelola di tempat pembuangan akhir. Berdasarkan pengamatan, masih ada petugas kebersihan di Rumah Sakit Harapan Depok yang masih ditemukan belum mengenakan APD lengkap dan masih ditemukan ceceran di sekitar jalur pengangkutan yang berarti pengelolaan  limbah  masih belum optimal dan berpotensi menimbulkan dampak  kesehatan bagi petugas  dan  lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pengelolaan limbah medis padat sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan 1204 tahun 2014. Metode. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus.  Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menganalisis sistem pengelolaan limbah  medis di  Rumah Sakit Harapan Depok   yang terdiri dari Input,  Proses, dan Rekomendasi. Hasil. Hasil  penelitian menunjukan bahwa pada  faktor input produksi limbah tergolong besar yaitu  15 kg/hari . Pada faktor proses  mulai dari pewadahan, tercampur antara limbah medis dan non medis, rumah sakit juga belum memiliki troli yang layak untuk mengangkut  limbah medis sehingga masih ada yang tercampur .  Simpulan. Oleh karena itu  pemilahan (pewadahan) limbah medis yang dimulai dari sumbernya, perilaku petugas dan penyediaan sarana  limbah medis menjadi faktor penentu  di dalam pengelolaan limbah medis.  Kata Kunci:Limbah Medis Padat, Rumah Sakit Harapa

    Analisis Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Penanggulangan dan Pencegahan COVID-19 di Kota Depok

    Get PDF
    Latar Belakang. COVID-19 masuk di Indonesia pertama kali di Kota Depok, pada tanggal 2 Maret 2020. Penyebaran masif mengharuskan negara-negara terindikasi memberlakukan kebijakan ketat. Kebijakan yang diberlakukan Indonesia adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dinyatakan sebagai zona merah, Kota Depok melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat No.443/Kep.221-Hukham/2020 menetapkan pemberlakuan PSBB dimulai tanggal 15 April 2020.Tujuan. untuk mengindentifikasi dan menganalisa pelaksanaan kebijakan PSBB di Kota Depok serta merumuskan rekomendasi strategis kebijakan pelaksanaan PSBB Metode.Menggunakan media content analysis sebagai metode pengumpulan data kebijakan PSBB di Kota Depok, kemudianmenganalisisnya menggunakan pendekatan segitiga kebijakan dan teknik analisis SWOTHasil. Terdapat 23 Kebijakan Pemerintah Kota dalam menanggulangi COVID-19 di Kota Depok. enam Diantaranya terkait pelaksanaan PSBB dan duaperaturan terkait sanksi bagi pelanggar PSBB. PSBB diaplikasikan dalam empat tahapan perpanjangan dan satu tahap lanjutan menuju PSBB Proporsional.Kesimpulan. Tahap perpanjangan Kebijakan PSBB berhasil mengubah status Kota Depok menjadi zona kuning dengan nilai Rt = 0,54 pada tanggal 8 Juni 2020 sehingga siap melaksanakan PSBB Proporsional.ABSTRACTBackground. COVID-19 entered Indonesia first in Depok City on 2ndMarch 2020. Massive spread requires infected countries to enact strict policies. The policy chosen by Indonesia is a Large-Scale Social Restrictions Policy (PSBB). Declared as a red zone, Depok City, through the West Java Governor Decree No.443/2020, stipulates the implementation of PSBB on 15th April 2020. Objective. to identify and analyze the implementation of PSBB policies in Depok City and formulate strategic recommendations for PSBB implementation policiesMethod.The method used media content analysis to collect PSBB policy data in Depok City, then analyzing it using a policy triangle approach and SWOT analysis techniques.Results.There are 23 Local Government Policies to tackle COVID-19 in Depok City. Six of them implemented the PSBB and two regulations relating to the sanction for PSBB violators. The PSBB was applied in 4 stages of extension and 1 stage to continue the Proportional PSBB.Conclusion.The extension stages of PSBB policy have successfully changed to be the yellow zone with Rt = 0,54 on 8th June 2020. Therefore, Depok City is ready to implement Proportional PSBB

    Sikap Orang Tua dan Siswa Terhadap Penerapan Protokol Kesehatan 5M pada Pembukaan Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi COVID-19

    Get PDF
    Latar Belakang.COVID-19 menjadi pandemi global, kasus baru COVID-19 masih terus bertambah dan memengaruhi segala bidang kehidupan termasuk sekolah harus dilakukan secara daring. Ada keinginan membuka sekolah tatap muka langsung, untuk itu perlu diketahui sikap siswa dan orang tua terkait penerapan protokol kesehatan sebagai masukan untuk kebijakan. Tujuan.identifikasi sikap orang tua dan siswa terhadap penerapan protokol kesehatan 5M pada pembukaan sekolah tatap muka dimasa pandemi COVID-19.Metode.Menggunakan disain penelitian deskriptif komparatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi siswa dan orang tua siswa Madrasah Aliyah 384 orang dengan sampel purposif 160 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang dikemas menggunakan Google form.Hasil. Sebanyak 86,3% orang tua dan 82,5% siswa bersikap positif (mendukung) penerapan protokol kesehatan 5M.  Tidak adanya signifikan (p-value=0,469) antara sikap orang tua dan siswa. Sebagian besar orang tua (88,8%) dan siswa (90%) menyatakan tidak ada hambatan dalam penerapan protokol kesehatan 5M.Kesimpulan. Orang tua dan siswa sama-sama bersikap positif (mendukung) penerapan protokol kesehatan 5M pada pembukaan sekolah tatap muka di masa pandemic COVID-19. Orang tua diharapkan mendorong dan memfasilitasi siswa menerapkan 5M secara konsisten, sekolah mempersiapkan pengaturan pelaksanaan dan penyediaan sarana pendukung penerapan 5M.  ABSTRACTBackground.COVID-19 is a global pandemic. New cases of COVID-19 continue to grow and affect all areas of life, including schools thatmust be conducted online. There is a desire to open a face-to-face school; therefore, it is necessary to know the attitudes of students and parents regarding the implementation of health protocols as input for the policy. Objective.identify parents' and students' attitudes towards applying the 5M health protocol at the opening of face-to-face schools during the COVID-19 pandemic.Method.used comparative descriptive research design with a cross-sectional approach. The population of parents and students are 384 people, with a purposive sample of 160 people. The data was collected using questionnaires packaged in Google forms. Results.86.3% of parents and 82.5% of students supported the implementation of the 5M. There was no significant difference (p-value=0.469) between parents' and students' attitudes. Most parents (88.8%) and students (90%) stated no obstacles in implementing the 5M health protocol.Conclusion: Parents and students positively support implementing the 5M health protocol at the opening of face-to-face schools during the COVID-19 pandemic. Parents should encourage and facilitate students to apply 5M consistently, schools prepare implementation arrangements and provide supporting facilities for implementing 5

    Faktor Risiko Kejadian HIV Pada Kelompok Usia Produktif di Indonesia

    Get PDF
    HIV merupakan salah satu masalah kesehatan global, di Indonesia jumlah kasus HIV positif dari tahun ke tahun semakin meningkat dan paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif yaitu usia 25-49 tahun. HIV merupakan virus yang melemahkan kekebalan tubuh manusia. Kejadian HIV dipengaruhi oleh banyak faktor yang mendukung penyebaran kasus ini. Tujuan untuk mengetahui faktor yang berisiko terhadap kejadian HIV di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelusuran pustaka dengan menelaah faktor risiko kejadian HIV berdasarkan 10 jurnal kesehatan yang dipublikasikan 10 tahun terakhir sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil jurnal yang telah direview, faktor yang berisiko terhadap kejadian HIV yaitu  jenis kelamin laki-laki OR=1,77, usia 1 OR=23,32, hubungan seksual tanpa kondom OR=5,34, penggunaan narkoba suntik yang bergantian OR=9,3. Untuk ke depannya, Dinas Kesehatan perlu mengoptimalkan metode promosi kesehatan kepada pekerja seksual terkait penggunaan kondom, penyuluhan mengenai HIV pada semua usia, kerjasama antara aktivis peduli HIV, lembaga swadaya masyarakat (LSM), tenaga medis, dan instansi terkait

    1,119

    full texts

    1,218

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇