Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
King Bhumibol Adulyadej’s Sufficiency Economy Philosophy and Post-Traumatic Stress Disorder among Higher-Education Students from the Armed Conflict Region of Thailand
This cross-sectional survey assessed the association between post-traumatic stress disorder symptoms and perceived self-sufficiency, reflecting the Sufficiency Economy Philosophy (SEP), conceived by H.M. King Bhumibol Adulyadej (King Rama IX). It was conducted among university students on one campus located within the area affected by the Southern Thailand insurgency and another campus located in a nearby province outside of the restive area. All self-administered questionnaires consisted of questions related to personal information, the Thai version of the PTSD checklist, and a questionnaire aimed at measuring the perceived self-sufficiency according to H.M. King Bhumibol Adulyadej’s SEP. The study found that most university students in the restive area affected by the Southern Thailand insurgency perceived to live sufficiently according to H.M. King Bhumibol Adulyadej’s SEP. The rate of perceived self-sufficiency was also higher than reported by the students from the other campus in a nearby province. Moreover, self-sufficiency exhibited a significant inverse association with PTSD symptoms
Hubungan Kebutuhan Pelayanan Keluarga Berencana pada Remaja Belum Kawin dengan Niat Menggunakan Kontrasepsi di Masa Dewasa (Analisis SDKI 2017)
Latar Belakang. Indonesia adalah negara dengan populasi terbanyak di Asia Tenggara. Dalam mengantisipasi masalah laju pertumbuhan penduduk, Pemerintah mempersiapkan program Keluarga Berencana dan salah satu sasarannya adalah remaja.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada remaja belum kawin dengan niat menggunakan kontrasepsi di masa dewasaMetode. Penelitian menggunakan kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Kuesioner yang digunakan Remaja Pria (RP) dan Wanita Usia Subur (WUS). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja belum kawin di Indonesia dengan sampel berjumlah 18.464 responden.Hasil. 82,6% remaja yang berniat menggunakan kontrasepsi di masa dewasa. Hasil uji chi-square terdapat hubungan antara kebutuhan pelayanan KB pada remaja belum kawin dengan niat menggunakan kontrasepsi di masa dewasa. Hasil analisis multivariat, ada hubungan antara kebutuhan pelayanan KB pada remaja belum kawin dengan niat menggunakan kontrasepsi di masa dewasa setelah di kontrol variabel perancu.Kesimpulan. Remaja pria belum kawin yang tidak butuh pelayanan KB, terpapar media massa, memiliki pengetahuan <4 alat/cara KB lebih tidak berniat menggunakan kontrasepsi di masa dewasa. ABSTRACTBackground. Indonesia is the country with the most population in Southeast Asia. In anticipating a Population Growth Rate problem, the government is preparing a family planning program with youth as one of the targets. Objective. This study aimed to determine the relationship between the need for family planning services in unmarried adolescents and the intention to use contraception in adulthood.Method. The study is quantitative analytic with a cross-sectional approach. The questionnaire used by Adolescent Men (RP) and Women of Fertile Age (WUS). The population in this study were all unmarried adolescents in Indonesia, with sample amount 18,464 respondents. Results. 82.6% of adolescents intend to use contraception in the future. Chi-square test results show a relationship between the need for family planning services for unmarried adolescents with the intention to use contraception in adulthood. The result of the multivariate analysis shows a relationship between the need for family planning services for unmarried adolescents with the intention to use contraception in adulthood after being controlled for confounding variables.Conclusion: Unmarried male adolescents who do not need family planning services, are exposed to mass media, have knowledge of <4 methods/methods of contraception and do not intend to use contraception in adulthood
Behavioral Changes in Accessing Outpatient Care During the Covid-19 Pandemic
Unwillingness to seek healthcare has been observed in citizens from many countries during the Covid-19 pandemic. Previous studies show that the changes in behavior are due to various reasons such as economic slowdown, loss of health insurance due to termination of employment, and fear of contracting the virus. This behavior may result in worsened health conditions, making a individual more susceptible to the virus. The supply side of health care is one of the things that should be considered in the discussion about access to health care in developing countries. This paper investigates access to the healthcare problem of Indonesians, discusses both the supply side and demand side by looking at the change of behavior due to the patients’ fear of getting treatment during pandemic covid-19. We will serve this purpose through a small-scale survey and offer some insights from a statistical analysis perspective as well. Based on a survey from 588 respondents from the west Indonesia region, this study observes that the respondents’ health condition shows no significant change before and during the Covid-19 pandemic era. On the other hand, the respondents’ frequency of accessing outpatient healthcare proves to be significantly decreasing during the Covid-19 pandemic era, with 23,4% of the respondents stating that they avoid utilizing outpatient healthcare as an effort to avoid the Coronavirus. The frequency of using Kartu Indonesia Sehat to access outpatient healthcare also shows a significant decrease during this pandemic era.
The Effect of the Provision of Bagea Enriched with Sea Urchin Gonads on Weight Gain in Toddlers of the Bajo Ethnic
Cassava starch extract and sea urchin gonads can be used as ingredients for making various kinds of food formulas. This study is expected to be able to develop cassava starch extract as a formula for making bagea added with sea urchin gonads which are rich in nutrients to make it good for pregnant women. This study was aimed at analyzing the effect of the provision of bagea enriched by sea urchin gonads on weight gain in toddlers of the Bajo community. In making the formula of bagea, the researchers used a quasi-experimental design. After the data were collected, they were then checked for feasibility, coded, and reduced. Furthermore, data were presented in tabular form, showing percentage and frequency, and analyzed using statistical tests. Consuming bagea enriched with sea urchin gonads has an effective effect on weight gain in toddlers of the Bajo tribe (p = 0.000). Furthermore, the provision of additional food from a government program (in form of biscuits) has also an effect on weight gain in toddlers of the Bajo tribe (p = 0.000). Apart from that, the researcher also found a difference between the consumption of bagea enriched with sea urchin gonads and the provision of additional food (biscuits) from the government program on weight gain in toddlers of the Bajo tribe (p = 0.000). Therefore, the proposed suggestion for health workers (nutrition improvement programmers) is that they should use bagea as one of the additional feeding interventions to improve nutritional status (weight gain) in toddlers
Penyakit Berbasis Lingkungan, PHBS dan Kondisi Lingkungan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta
Latar Belakang. Penyakit berbasis lingkungan adalah fenomena penyakit yang dikarenakan keterkaitan manusia dengan faktor lingkungan. 3 penyakit berbasis lingkungan yang diamati pada penelitian ini yaitu ISPA, diare dan penyakit kulit infeksi jamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan masalah kesehatan yang dialami oleh narapidana, kondisi lingkungan serta penerapan perilaku bersih dan sehat serta keterkaitan antar variabel di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta. Metode. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang dengan jumlah responden 96 orang. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara kuesioner. Hasil. Hasil uji statistik diperoleh hasil,terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian ISPA dengan lama menjalani masa tahanan (OR = 2.51 95% CI: 1.10 – 5.72) dan terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian penyakit kulit infeksi jamur dengan kepadatan hunian (OR = 4.33 95% CI: 1.73 – 10.87). Simpulan. Peningkatan akan kesadaran PHBS dan kualitas lingkungan perlu dilakukan. Kata Kunci: Diare, ISPA, dermatofitosis, air bersih, lapas
Kajian Pustaka: Kurangnya Kualitas Tidur Dapat Meningkatkan Risiko Kejadian Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat. Penderita diabetes sering kita jumpai dan tingkat insiden terus meningkat tahun demi tahun. Tidur memiliki fungsi metabolik, dan beberapa penelitian menunjukkan korelasi antara kurangnya kualitas tidur dan peningkatan risiko diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa kurangnya kualitas tidur dapat meningkatkan risiko kejadian diabetes mellitus pada orang dewasa. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka. Ada 5 jurnal yang membahas kualitas tidur dan diabetes melitus serta memenuhi kriteria inklusi yaitu kurangnya kualitas tidur meningkatkan risiko kejadian diabetes melitus yang dipublikasikan 10 tahun terakhir, serta berbahasa Indonesia dan Inggris. Sedangkan kriteria eksklusi adalah tersedianya jurnal full text. Hasil telaah dari 5 jurnal yang memenuhi kriteria didapatkan bahwa kurangnya kualitas tidur meningkatkan risiko kejadian diabetes melitus 1,6 sampai 5,24 kali lebih tinggi daripada orang yang tidurnya cukup (7-8 jam/hari) dan berkualitas. Kurangnya durasi tidur malam memicu penurunan toleransi glukosa. Para ahli yakin bahwa tidur jangka pendek dan kualitas tidur yang buruk akan memicu perubahan metabolisme tubuh. Penting bagi kita untuk menjaga pola tidur, memperhatikan durasi tidur, serta kualitas tidur.
Hubungan Antara Iklim Keselamatan dengan Perilaku Keselamatan pada Pekerja Proyek PLN PUSMAPRO PST JATENG I
Latar Belakang: Sistem manajemen keselamatan sangat diperlukan untuk penerapan di industri konstruksi dalam mengelola keselamatan di site project. Keberlangsungan sistem yang berjalan dapat dinilai dengan menganalisis hubungan iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan tanpa harus menunggu terjadinya kecelakaan. Tujuan: Menganalisis iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PLN PUSMANPRO di project pembangunan kelistrikan PST JATENG I. Metode: Penelitian cross-sectional ini melibatkan 120 orang pekerja pada Project PLN PUSMANPRO PST JATENG I. Data primer diperoleh menggunakan kuesioner skala likert yang mengacu pada kuesioner dari beberapa penelitian sebelumnya pada variabel yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil: Pada dimensi iklim keselamatan hasil analisis univariat mayoritas berkategori rendah dan analisis bivariat dengan P value = 0,000 dan nilai correlation 0,402 yang merupakan hubungan positif dan cukup kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang cukup kuat antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan sehingga penerapan keselamatan kerja pada PLN PUSMANPRO PST JATENG I untuk membentuk perilaku keselamatan pada pekerja dapat melalui peningkatan iklim keselamatan serta fasilitas yang mendukung program keselamatan yang dapat mengurangi terjadinya kecelakaan pada proyek
Upaya Penurunan Kasus Diare dengan Meningkatkan Keterlibatan Ibu dalam Gerakan PHBS
Latar belakang: Diare merupakan penyebab kematian tertinggi pada anak balita dan menempati posisi tertinggi kedua setelah TBC untuk kelompok usia bayi. Selain kondisi lingkungan, kondisi individu juga berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini.Tujuan: Untuk menurunkan kasus diare serta meningkatkan pengetahuan warga, terutama para Ibu, mengenai pencegahan kasus diare serta kaitannya dengan perilaku PHBSMetode: Metode pada pengabdian diawali dengan analisis situasi, identifikasi masalah, dan penentuan prioritas masalah. Rancangan kegiatan intervensi berupa pemaparan materi diare yang terdiri dari intervensi upaya peningkatan pengetahuan Diare dan Pencegahannya, serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang dilaksanakan melalui Whatsapp Group (WAG). Kegiatan intervensi ditujukan untuk warga RT 2/RW 3, RT 4/RW3, RT 3/RW 3, dan RT 2/RW 5 di Desa Sentul.Hasil: Hasil dari kegiatan terdapat peningkatan nilai rata-rata pengetahuan mengenai Diare dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.Simpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan pada 31 responden yang mengikuti penyuluhan
Upgrading Kader dan Revitalisasi Posbindu Sebagai Upaya Menekan Angka Kejadian Hipertensi
Latar belakang: Angka kasus hipertensi di Indonesia diestimasikan meningkat menjadi 37 % pada tahun 2015 dan diestimasikan meningkat menjadi 42 % pada tahun 2025. Penyebab hipertensi tidak diketahui pada sekitar 95 % kasus.Tujuan: Untuk melakukan intervensi berupa upgrading kader dan revitalisasi posbindu untuk menekan angka kejadian hipertensi di Kabupaten BogorMetode: Intervensi yang dilakukan adalah upgrading kader dan revitaliasasi Posbindu karisma oleh seluruh masyarakat RT 03 dan RW 03 Desa Kadumanggu yang berusia ≥ 15 tahun. Media yang digunakan meliputi fotocopy power point yang berisi materi pelatihan, serta lembar pre-test dan post-test dan pengisian KMS Posbindu, serta keberadaan petugas kesehatan, mahasiswa, dan kader.Hasil: hasil dari kegiatan intervensi adalah peningkatan pengetahuan pada kader kesehatan dan penghidupan kembali kegiatan posbindu karisma guna meningkatkan peran serta masyarakat dalam melakukan dan pemantauan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTMSimpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan pada 11 kader kesehatan yang mengikiuti kegiatan. Sedangkan pada revitalisasi posbindu, harapannya masyarakat dapat terus menjalankan di setiap bulan tanpa ada kekurangan yang berarti. Kegiatan revitalisasi Posbindu ini diikuti oleh 77 peserta yang didominasi oleh ibu rumah tangga
Analysis of Measles Vaccination Refusal on Social Media (Facebook) among Anti-Vaccine Communities in Indonesia
Measles is one of the main causes of global mortality in the under-fives. The existence of groups that reject immunization caused a decrease in immunization coverage. Anti-vaccine messages are widely delivered on social media. Identification of vaccine rejection behavior can be used as the basis to formulate effective program strategies. The design of this study used rapid assessment procedures (RAP). The informants were from two anti-vaccine communities in the Facebook group. In-depth interviews and observations were done for data collection, and data analysis was performed using the Framework Method. The results found that determinants, such as knowledge, beliefs in health behavior and disease prevention, religion, culture, and government policies play a role in shaping informants’ perceptions of vaccines and disease risks. The design factors of vaccination programs and the reliability of vaccine producing sources were found to be inhibiting factors for informants to receive vaccines. Also, experience with vaccines, health workers' role, and lobbying by anti vaccine groups strengthened informants' attitude who initially doubted vaccines, causing them to reject vaccines ultimately. It is suggested to the Ministry of Health to improve vaccination campaigns through social media, conduct vaccine development study, and increase health workers' knowledge related to vaccines and make their communication techniques more effective