Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Perilaku Pencegahan COVID-19 Pada Tenaga Kesehatan Puskesmas Dalam Masa Pandemi di Indonesia Tahun 2020
Latar Belakang. COVID-19 merupakan jenis penyakit menular baru yang ditemukan pada Desember 2019 dan menjadi pandemi di tahun 2020. Tenaga kesehatan (nakes) merupakan garda terdepan melawan COVID-19. Tingkat kematian nakes di Indonesia tertinggi ketiga di dunia (per 27 Januari 2021) maka perlu menganalisis faktor penyebab dari aspek perilaku.Tujuan. menganalisis perilaku pencegahan COVID-19 pada tenaga kesehatan puskesmas, dalam masa pandemi di Indonesia tahun 2020 menggunakan teori Health Belief Model.Metode. menggunakan metode kuantitatif cross sectional. Sumber data sekunder dari hasil survei kerjasama PPPKMI dan PPK FKM UI bulan Juni 2020. Data dianalisis dengan uji regresi logistik ganda. Variabel independen faktor modifikasi, persepsi kerawanan, persepsi keseriusan, persepsi hambatan, dan isyarat bertindak.Hasil. Proporsi perilaku responden yang selalu memakai masker saat keluar rumah sebanyak 93,7%, ditempat kerja sebanyak 96,2%, selalu mencuci tangan sebesar 90%, dan selalu menjaga jarak sebesar 86,7%. Rata-rata skor perilaku pencegahan sebesar 97,75 (skala 100). Variabel yang signifikan adalah jenis kelamin (p-value =0,003;OR=2,056), pengetahuan (p-value =0,032;OR=0,603), dan persepsi hambatan (p-value=0,000; OR.2,080).Kesimpulan. Persepsi hambatan menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan COVID-19 pada tenaga kesehatan di Puskesmas. ABSTRACTBackground. COVID-19 is a new contagious disease emerging in December 2019 and turned into a pandemic in 2020. Health workers are on the front line against COVID-19. The death rate for health workers in Indonesia is the third-highest globally (as of 27 January 2021); therefore, it is necessary to analyze the factors from a behavioral aspect. Objective. to analyze the prevention behavior of COVID-19 among health workers at health centers (puskesmas) during the pandemic in Indonesia in 2020 using the Health Belief Model.Method. used a cross-sectional approach on secondary data of collaboration PPPKMI PPKFKM UI in the June 2020 survey. Selected variables consist of modification factors, perceived threats, perceived barriers, and cues to action. Results. The proportion of respondents that always wear a mask when leaving the house was 93,7%, at work 96.2%, always wash hands 90%, and always keep a distance 86.7%. The average of practicing preventive behavior was 97,75 points (scale 100). Independent variables that have a significant relationship with COVID-19 prevention behavior are gender (p-value=0,003;OR.2,056), knowledge (p-value=0,032;OR.0,603) and perceived barriers (p-value=0,0001 OR.2,080).Conclusion. This study found that perceived barriers were the most influencing factor on COVID-19 prevention behavior among health workers at Puskesmas.
Risiko Penyebab Kejadian Stunting pada Anak
Pendahuluan: Stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Beberapa faktor penyebab stunting yaitu praktik pemberian kolostrum dan ASI eksklusif, pola konsumsi anak, dan penyakit infeksi, akses dan ketersediaan bahan makanan serta sanitasi dan kesehatan lingkungan. Metode: Penelitian ini menggunakan univariat, bivariat dan metode USG dalam melakukan analisis masalah. Hasil: Hasil analisis faktor risiko dengan kejadian stunting diperoleh 5 faktor penyebab dengan tiga faktor utama di Kelurahan Muarasari yaitu ASI Eksklusif, pola makan dan pengetahuan ibu. Kesimpulan: Sebagian besar anak dari responden tidak pernah menderita stunting (76,7%) dan sisanya sebanyak 7 anak (23,3%) mengalami stunting. Secara analisis bivariat tidak ada variabel yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting karena jumlah responden yang sedikit. Namun, berdasarkan kajian metode USG diperoleh tiga masalah utama yaitu ASI Eksklusif, pola makan dan pengetahuan ibu. Kata kunci: Faktor risiko stunting, Muarasari, stuntin
Upaya Penurunan Stunting Melalui Peningkatan Pola Asuh Ibu
Tumbuh kembang anak menjadi hal penting yang harus diperhatikan sejak dini agar anak mencapai perkembangan yang optimal dengan kualitas terbaik demi masa depan bangsa yang lebih baik. Stunting, KVA, BBLR, imunisasi, gizi buruk, gizi kurang, dan ASI eksklusif merupakan permasalahan tumbuh kembang di kota Depok. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas masalah dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan prioritas masalah tumbuh kembang anak di wilayah kerja Puskesmas Duren Seribu, Kec. Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional menggunakan analisis data sekunder yang diperoleh dari Profil Puskesmas Duren Seribu dan data primer menggunakan kuesioner. Hasil dari penentuan masalah menggunakan metode USG didapatkan stunting sebagai prioritas masalah. Sedangkan hasil analisis data primer didapatkan pengetahuan, sikap, perilaku, dan pola asuh tidak berhubungan terhadap kejadian stunting dengan p value masing-masing sebesar 1, 0.81, 0.19, dan 0.37.Keywords : Tumbuh Kembang, Stuntin
Pemberian Layanan Keluarga Berencana Berpengaruh Penting Terhadap Kejadian Unmet Need: Analisis Lanjut Data SDKI 2017
Penelitian ini dilakukan untuk menilai sejauh mana pengaruh pemberian layanan KB terhadap unmet need pada wanita menikah usia 15-49 tahun. Unmet need merupakan fenomena dalam bidang kependudukan yang memerlukan penanganan serius dan segera karena dapat menghambat peningkatan CPR dan penurunan TFR. Pemberian layanan KB merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan seseorang untuk memilih dan menggunakan alat KB yang tepat sesuai dengan kebutuhannya (tidak terjadi unmet need). Penelitian ini merupakan analisis lanjut data SDKI 2017, yang merupakan penelitian potong lintang pada wanita menikah usia 15-49 tahun. Jumlah sampel tersedia sebanyak 35.681 wanita. Analisis hubungan antara varaibel dependen dengan independen menggunakan uji chi square, dan pengaruh pemberian layanan KB terhadap unmet need diuji dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian layanan KB yang kurang terakses oleh wanita berpeluang 2,27 untuk mengalami kejadian unmet need dibandingkan dengan mereka yang mempunyai akses (95% CI: 1,95-2,64). Penelitian ini merekomendasikan, peningkatan akses ke pemberian layanan KB bagi wanita untuk memperoleh informasi KB dan layanan alat KB, terutama bagi mereka yang tidak bekerja, tinggal di perkotaan dan memiliki banyak anak.
Advokasi Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah
Latar Belakang. Jumlah perokok pasif di Indonesia mencapai 75% atau 96,9 juta orang. Sebanyak 66,2% pelajar terpapar rokok di ruang publik tertutup. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Permendikbud 64/2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah. Masih perlu optimalisasi pelaksanaan KTR di sekolah.Tujuan. untuk melihat bagaimana peran siswa dalam proses advokasi dalam mengimplementasikan KTR di sekolahMetode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di suatu SMP di Kabupaten Bogor. Terdapat 7 informan yang terlibat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan melihat proses advokasi menggunakan Kerangka Advokasi “A”.Hasil. Siswa berperan sebagai pelaksana KTR di sekolah dengan mengadvokasi guru untuk menjadi fasilitator siswa, pimpinan sekolah sebagai pembuat kebijakan, dan pedagang toko di sekitar sekolah. Siswa mengidentifikasi permasalahan yang dirasakan, merumuskan strategi, menganalisis target dan melakukan advokasi. Kesepakatan yang terbentuk diantaranya pelaksanaan KTR sesuai kemampuan dan kondisi sekolah, pemasangan plang KTR, menjalankan satgas KTR, sosialisasi bahaya merokok dan advokasi kepada warung di sekitar sekolah untuk menurunkan spanduk iklan rokok.Kesimpulan. Siswa bisa menjadi agen perubahan untuk implementasi KTR di sekolah dengan adanya fasilitasi dan dukungan dari guru dan kepala sekolah. ABSTRACTBackground. Passive smokers in Indonesia reaches 75% or 96.9 million people. 66.2% students are exposed to cigarette in closed public spaces. Ministry of Education and Culture issued Permendikbud 64/2015 concerning KTR in the School Environment. implementation of KTR in schools still need optimization.Objective to see how the role of students in the advocacy process in implementing schools as smoke-free areas.Method. This research is a qualitative descriptive research with case study design conducted in a Junior High School of Bogor Regency. There were 7 informants. The data collection technique used Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interviews by looking at the advocacy process using the "A" Advocacy Framework. Results. Students act as implementers of KTR in schools by advocating teachers to become student facilitators, school leaders as policy makers, and shop traders around the school. Students identify perceived problems, formulate strategies, analyze targets and conduct advocacy. The agreement formed include implementation of KTR according to the school’s ability and condition, installing KTR signs, applying KTR task-force and advocating stalls around schools to put down cigarette advertising bannersConclusion. Students can become agents of change for the implementation of KTR in schools with facilitation and support from teachers and principals
Persepsi Lansia terhadap Pelayanan Telemedis
Pendahuluan: Ageing population yakni suatu keadaan dimana penduduk menjadi hidup lebih lama sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan proporsi orang tua atau lanjut usia. Proporsi penduduk lanjut usia di Kecamatan Babakan Madang, yaitu sebesar 6% sudah mendekati status wilayah dengan struktur penduduk usia tua menurut BPS yaitu 10%. Diperlukannya pelayanan kesehatan yang dapat mendukung kehidupan penduduk lanjut usia, namun beberapa pelayanan kesehatan bagi lansia harus ditutup sementara dan dialihkan menjadi daring dikarenakan pandemi COVID-19. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran persepsi lansia di Kecamatan Babakan Madang terhadap pelayanan kesehatan jarak jauh atau dikenal sebagai telemedis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua warga lansia yang berada di RW 002 Desa Karang Tengah Kecamatan Babakan Madang dengan sampel sebanyak 45 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Data dianalisis dengan univariat. Hasil dan Pembahasan: Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75,6% responden membutuhkan pelayanan telemedis, sedangkan yang bersedia memanfaatkan pelayanan telemedis sebesar 91,9%. Mayoritas responden berkeinginan untuk menggunakan telemedis dengan 97,87% menyatakan bahwa telemedis sangat membantu responden untuk berobat di masa pandemi. Selain itu, mayoritas responden (80%) familiar dengan aplikasi WhatsApp dan menginginkan layanan telemedis melalui aplikasi tersebut. Kesimpulan: Tingkat penerimaan lansia terhadap layanan telemedis sudah cukup tinggi. Lansia bersedia dan merasa membutuhkan layanan telemedis berupa konsultasi melalui WhatsApp. Saran bagi Puskesmas setempat agar segera menyediakan layanan telemedis berbasis aplikasi WhatsApp yang mudah diakses dan alur pelayanan yang mudah dipahami oleh lansia.Kata kunci: lansia; lanjut usia; pelayanan; telemedis, WhatsAp
COVID-19 and the City: A Healthy City Strategy for Pandemic Challenges, from Planning to Action
COVID-19 is a respiratory disease caused by SARS-CoV-2, a new coronavirus discovered in 2019. WHO declared COVID-19 is a respiratory disease caused by SARS-CoV-2 as a pandemic that the detection level of cases changed daily, and it can track almost in real-time. This paper used a narrative literature review to address issues of urban quality and lack of exercise. The specific aim was to discuss the concept of a healthy city, indicate a new urban model, and advocate for the increased use of bicycles, outdoor gym/outdoor exercise, walking to reducing pollution, and improving physical, psychological, and social fitness. A healthy city can improve residents’ health by improving conditions of life to face COVID-19 pandemics. It needs the local capacity to prevent the spread of the diseases and design public health concepts concerning the built environment and contemporary towns in a new urban model. Dialogue opportunities in public health can provide essential guidance for designers (architects and town planners), decision-makers, public health experts, and health agencies locally, promoting the actions and policies to transform the city into a healthier neighborhood and salutogenesis
Impact of Climate Variables on COVID-19 Pandemic in Asia: A Systematic Review
COVID-19 has become a global pandemic and threatens public health systems worldwide. Virus transmission can be influenced by several factors, one of which is climatic conditions. Temperature, humidity, precipitation, wind speed, and solar radiation play an important role in the transmission of infectious diseases and are variables that can determine the resistance of the SARS virus. This paper aimed to critically assess and provide evidence-based on the impact of climate variables on COVID-19 cases in Asia based on current knowledge to form the basis of guidelines for health care and prevention efforts. This systematic review used Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). The articles were searched from ProQuest, Scopus, PubMed, and Springerlink databases. It has been screened 2.784 abstracts, 103 full-text publications, and ultimately included 11 systematic reviews. The review found a consistently positive relationship between climate variables and COVID-19. Average temperature, maximum temperature, minimum temperature, and humidity (r = 0.83, 0.94, 0.93, 0.30) were significantly correlated with COVID-19 cases. Temperature, maximum humidity, and population density (adjusted R2 = 0.53, p < 0.05), can be used as references in planning interventions during potential future pandemics. Linear regression framework, high humidity, and high temperature (p < 0.05) significantly reduce the transmission of COVID-19. This systematic review shows that climate plays a role in the spread of the COVID-19 pandemic in Asia
The Indonesian Strategy to Achieve Universal Health Coverage through National Health Insurance System: Challenges in Human Resources
Many countries are currently trying to achieve universal health insurance coverage in order to provide health protection for their population. Indonesia has received a strong political commitment to implement national health insurance including government support to finance the poor. The implementation of comprehensive national health insurance requires human resources, each of which has a role in fighting for noble goals for the welfare of all people. This paper is taken from the experience of Indonesia and several other countries as well as guidelines that can be used in exploring the role of human resources for the success of the implementation of national health insurance
The COVID-19 Pandemic: Role of Coping Humor and Internal Health Locus of Control on Social Dysfunction and Anxiety & Depression
The concerns about the impact of social distancing on mental health have been widely discussed. This study aimed to know the predictive effect of coping humor and Internal Health Locus of Control (Internal HLoC) on social dysfunction and anxiety & depression during the implementation of the COVID-19 social distancing agenda. This study was also intended to assess the effect of humor content on coping humor. A quantitative approach was used as the method ofthe study with 243 online-recruited participants, and a PLS-SEM analysis was applied to find out the predictive effect in this study. The results and conclusions showed that anxiety & depression predict social dysfunction (β = 0.584, t-value = 11.93, f2 = 0.563). It was found that coping humor was able to directly increase the Internal HLoC (β = 0.187, t-value = 2.60, f2 = 0.036) and indirectly decrease social dysfunction (β = -0.144, t-value = 2.85) and anxiety & depression (β = -0.070, t-value = 2.42). Humor content unrelated to the issue of COVID-19 directly increase the coping-humor level (β = 0.266, t-value = 4.13,f2= 0.076), and indirectly increase Internal HLoC (β = 0.050, t-value = 2.07), and decrease anxiety & depression level (β = -0.046, t-value = 2.20). On theother hand, Internal HLoC directly decrease levels of social dysfunction (β = -0.233, t-value = 4.126, f2 = 0.089) and anxiety & depression (β = -0.373, t-value= 7.84, f2 = 0.161)