Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia
Penyakit diare adalah penyakit endemis yang mempunyai potensi untuk menciptakan kejadian luar biasa (KLB) dalam suatu negara termasuk di Indonesia. Di kabupaten Lebak ditemukan kasus diare tertinggi di Provinsi Banten, dengan angka tertinggi pada kelompok usia anak sekolah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian diare terhadap karakteristik anak, karakteristik perilaku anak, karakteristik ibu/keluarga dan karakteristik lingkungan. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 151 anak sekolah dasar. Dengan variabel dependen yaitu kejadian diare dan variabel independen yaitu frekuensi jajan, frekuensi makan sayuran mentah, kebersihan kuku, panjang kuku, mencuci tangan sebelum makan, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, mencuci tangan setelah BAB/BAK, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, penghasilan orangtua, kebiasaan BAB sembarangan, keberadaan jamban, sumber air minum dan tempat penyimpanan air minum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapart hubungan antara frekuensi makan sayuran mentah, dan mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian diare di pada siswa di SDN 01 Karangkamuyan
Menjaga Keberlangsungan Situ Pladen dengan PESAN JEPAPAH
Latar Belakang. Kota Depok merupakan salah satu kota dengan produksi sampah per hari mencapai 1.307 ton. Dari 1.307 ton sampah yang dihasilkan tersebut hanya 850 ton sampah yang dapat diangkut. Sampah yang tidak tertampung di Tempat Pembuangan Akhir pada akhirnya dibuang di sembarang tempat salah satunya di Situ Pladen yang mengakibatkan kualitas air menjadi buruk karena mengandung limbah beracun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas masalah dalam pengelolaan sampah, mengidentifikasi faktor-faktor determinan dari masalah pengelolaan sampah, dan melakukan intervensi berdasarkan faktor determinan dari masalah pengelolaan sampah di wilayah Situ Pladen. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penentuan prioritas masalah menggunakan PAHO dan pendekatan kuantitatif menggunakan cross-sectional. Hasil. Hasil dari penelitian secara kualitatif menunjukkan bahwa terdapat lima masalah utama dalam pengelolaan sampah di Situ Pladen dan setelah dianalisis melalui metode penentuan masalah PAHO, masalah terbesar disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Sementara itu, penelitian secara kuantitatif membuktikan bahwa faktor ketersediaan sarana dan prasarana (OR = 11,2) serta dukungan tokoh masyarakat (OR = 17,5) menjadi faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Simpulan. Oleh karena itu, kegiatan intervensi melalui edukasi berupa poster dan pemberian tempat sampah kepada masyarakat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.Kata kunci: sampah, pengelolaan sampah, Situ Pladen
Analisis Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Cirebon Tahun 2014-2018
Latar Belakang. Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang bersumber dari virus arbovirus ditransmisikan oleh nyamuk Aedes sp yang menular keseluruh dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini bersifat endemis di beberapa wilayah seperti Jawa Barat salah satu diantaranya adalah kabupaten Cirebon yang kasusnya selalu ada di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara spasial kejadian penyakit demam berdarah dengue di kabupaten Cirebon pada tahun 2014-2018. Metode. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi ekologi yang dimana menganalisis secara populasi antara variabel iklim (suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, dan kecepatan angin), kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan menggunakan data sekunder. Penelitian ini menggunakan analisis hubungan grafik, analisis statistik yaitu uji statistik uji korelasi, dan analisis spasial. Hasil. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan signifikan secara statistik antara kepadatan penduduk dengan kejadian penyakit demam berdarah dengue. Untuk variabel lain dalam penelitian ini tidak menunjukan adanya hubungan secara signifikan. Simpulan. Hasil analisis spasial menunjukan tidak adanya hubungan antara variabel angka bebas jentik dengan kejadian penyakit demam berdarah dengue dan adanya hubungan yang lemah antara variabel kepadatan penduduk dengan kejadian penyakit demam berdarah dengue. Pemerintah Kabupaten Cirebon secara keseluruhan adalah mengadakan kerjasama yang lebih baik antara Dinas Kesehatan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, badan pusat statistik untuk membuat regulasi terkait penanganan demam berdarah dengue dan mengajak masyarakat untuk melakukan program-program pencegahan penyakit demam berdarah dengue. Kata Kunci: Kabupaten Cirebon, Iklim, Demam Berdarah Dengue, Kepadatan Penduduk, Angka Bebas Jentik, Analisis Spasia
Pengaruh Negatif Stunting terhadap Perkembangan Kognitif Anak
Satu dari tiga anak di Indonesia mengalami stunting. Stunting dapat berdampak terhadap perkembangan motorik dan verbal, peningkatan penyakit degeneratif, kejadian kesakitan dan kematian. Selain itu, keadaan stunting akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel neuron terhambat sehingga mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak stunting terhadap kemampuan kognitif pada anak. Metode yang digunakan adalah literature review yang diambil dari jurnal nasional atau internasional maupun website. Penelusuran sumber pustaka dalam artikel ini melalui database Sinta, Google Scholar dan Pubmed dalam 10 tahun terakhir. Berdasarkan hasil telaah didapatkan hasil bahwa stunting memiliki implikasi biologis terhadap perkembangan otak dan neurologis yang diterjemahkan kedalam penurunan nilai kognitif. Anak dengan stunting mengalami 7% penurunan perkembangan kognitif dan nilai matematikanya lebih rendah 2,11 dibanding anak yang tidak stunting. Dalam Tes Kosakata Gambar Peabody dan tes Penilaian Kuantitatif, anak yang stunting mendapat skor 16,1% dan 48,8% lebih rendah dari anak yang tidak stunting. Anak yang mengalami stunting pada 2 tahun pertama kehidupan berpeluang memiliki IQ non verbal < 89 dan IQ lebih rendah 4,57 kali dibandingkan IQ anak yang tidak stunting. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa stunting memiliki pengaruh negatif terhadap kemampuan kognitif anak yang berdampak pada kurangnya prestasi belajar.
Integrated Model of a Family Approach and Local Support in Tuberculosis Case Finding Efforts in People with HIV/AIDS
The human immunodeficiency virus (HIV) remains a major global public health problem. People with HIV/acquired immune deficiency syndrome (AIDS) are more susceptible to opportunistic infections such as tuberculosis (TB). Therefore, families and community leaders need to help monitor people living with HIV/AIDS (PLWHA). This study aimed to analyze an integrated family approach and local support model to detect TB cases in PLWHA. This study used a case-control study in Kupang City, East Nusa Tenggara Province, in July 2020. The sample comprised 100 people (50 PLWHA with TB case and 50 controls) using total sampling and random sampling, respectively. The variables related to TB case finding in PLWHA were family employment status, duration of HIV/AIDS, family knowledge of TB, and family support. The data were analyzed using multiple logistic regression. The families with PLWHA with an extended illness duration (OR = 0.81, 95% CI = 0.69–0.95, p-value = 0.01), families who did not work (OR = 3.31, 95% CI = 1.16 9.41, p-value = 0.025), families who had good knowledge (OR = 4.79, 95% CI = 1.70–13.51, p-value = 0.003), and families who provided good support (OR = 3.03, 95% CI = 1.05–8.76, p-value= 0.04) were better able to detect TB in PLWHA
Hubungan Status Pekerjaan dengan Kadar Merkuri dalam Rambut Masyarakat di Wilayah Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) Desa Mangkualam dan Kramatjaya Kec. Cimanggu Kab. Pandeglang Banten Tahun 2018
Latar Belakang. Merkuri merupakan salah satu bahan berbahaya dan beracun dalam bentuk logam berat yang persisten dan bersifat bioakumulatif dalam ekosistem sehingga menyebabkan ancaman khusus bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu biomarker jangka panjang untuk mengukur merkuri dalam tubuh adalah rambut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status pekerjaan dengan keracunan merkuri di wilayah pertambangan emas skala kecil (PESK) Desa Mangkualam dan Kramatjaya Kec. Cimanggu Kab. Pandeglang tahun 2018. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dengan variabel utama status pekerjaan responden dengan kadar merkuri dalam rambut masyarakat dan variabel lain yaitu umur, jarak tempat tinggal, frekuensi konsumsi ikan, buah, dan sayur. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan quota sampling dengan responden sebanyak 43 orang di masing-masing desa. Data penelitian ini merupakan data sekunder dari institusi Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta melalui wawancara terpimpin dan pemeriksaan kadar merkuri dalam rambut di laboratorium. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square serta uji korelasi Spearman. Hasil. Hasil penelitian menggunakan uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara status pekerjaan dengan kadar merkuri dalam rambut (p=0,001 OR=4,825). Hasil analisis uji korelasi Spearman menyatakan tidak terdapat hubungan antara variabel umur dengan kadar merkuri dalam rambut (p=0,715), frekuensi konsumsi buah dengan kadar merkuri dalam rambut (p=0,201), frekuensi konsumsi sayur kadar merkuri dalam rambut (p=2,07), akan tetapi terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara frekuensi konsumsi ikan dengan kadar merkuri dalam rambut (p=0,000 R=0,720). Simpulan. Hasil analisis uji chi-square menyatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara responden yang bertempat tinggal dengan jarak ≤ 261 meter maupun jarak >261 meter dari pengolahan emas dengan kadar merkuri dalam rambut (p=0,472).Kata Kunci: Merkuri, Rambut, PES
Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Timbal dalam Kangkung Air pada Petani Kangkung di Kelurahan Sukapura Jakarta Utara Tahun 2019
Latar Belakang. Bahan bakar minyak dapat mengemisikan logam berat timbal ke udara dan akan jatuh mengikuti gaya gravitasi dan terakumulasi di tanah atau air. Tanah memiliki kemampuan untuk mempertahankan sebagian besar unsur berbahaya yang dikandungnya dalam waktu lama. Penanaman kangkung di pinggir jalan raya yang padat dilalui kendaraan bermotor akan berpengaruh terhadap kadar timbal di tanaman kangkung akibat penyerapan logam berat timbal dari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan petani kangkung akibat pajanan timbal secara ingesti di kangkung yang ditanam di Kelurahan Sukapura, Jakarta Utara. Metode. Metode penelitian ini adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan terhadap pola konsumsi kangkung pada 25 orang petani. Hasil. Rata-rata konsentrasi timbal dalam kangkung adalah 1,54 mg/kg. Nilai ini telah melebihi standar BPOM No 23/2017 yaitu 0,2 mg/kg. Hasil nilai asupan (intake) realtime adalah sebesar 0,00026 mg/kg/hari dengan rata-rata durasi pajanan selama 21,08 tahun, berat badan 60 kg, dan frekuensi pajanan 53 hari/tahun. Simpulan. Nilai RQ sebesar 0,15 (RQ<1) menunjukkan kangkung masih aman untuk dikonsumsi.Kata Kunci: Timbal, Kangkung, Petani, Analisis Risiko Kesehatan Lingkunga
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelayakan GOR Otista Jakarta Timur Menjadi Hunian Sementara Korban Bencana Banjir Ditinjau dari Aspek Kesehatan Lingkungan Tahun 2019
Latar Belakang. Penelitian ini membahas faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi GOR Otista layak untuk dijadikan hunian sementara korban bencana banjir ditinjau dari aspek kesehatan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ada bentuk hunian sementara selain tenda yang lebih aman dari segi kesehatan lingkungan yang dapat dijadikan lokasi pengungsian korban bencana salah satunya GOR Otista.Metode. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis univariat deskriptif observatif. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara menggunakan daftar tilik. Penelitian ini dilakukan di GOR Otista, Jakarta Timur. Variabel yang diobservasi dalam penelitian ini adalah ketersediaan sarana air bersih, sarana pembuangan tinja, sarana pengelolaan limbah padat, sistem pengendalian vektor dan binatang penular penyakit serta kesiapan lahan hunian sementara.Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa GOR Otista memiliki ketersediaan sarana air bersih, sarana pembuangan tinja, sarana pengelolaan limbah padat, dan kesiapan lahan yang cukup memadai sehingga layak untuk dijadikan hunian sementara, namun belum memiliki sistem pengendalian vektor dan binatang penular penyakit.Simpulan. Berdasarkan perhitungan hasil observasi, GOR Otista layak dijadikan hunian sementara dengan persentase kelayakan sebesar 88,37% Kata Kunci: Pengungsi, Hunian Sementara, Gor Otist
Dimensi Iklim Keselamatan dan Perbandingan Variabel di PT. XYZ Tahun 2021
Pemerintah Indonesia saat ini memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang berdampak pada meningkatnya permintaan semen dan beton siap pakai. PT. XYZ sebagai salah satu produsen beton siap pakai terbesar di Indonesia menekankan pada upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik untuk mencapai zero harm. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil iklim keselamatan dan membandingkan variabelnya antara batch plant dan posisi. Ini adalah studi cross-sectional menggunakan kuesioner online yang diadopsi dari studi Safety Climate Survey sebelumnya. Data ditabulasi dan dianalisis menggunakan metode univariat dan hasilnya disajikan dalam grafik, variabel, dan skoring. Secara umum, iklim keselamatan di perusahaan PT XYZ rata-rata 4,10 dalam skala 1 – 6, cukup memuaskan. Hasil penilaian tingkat manajemen puncak lebih rendah dari hasil penilaian manajemen bawah, yang menarik
Low Knowledge and Unawareness of the Health Promotion as the Determinant Factors in Non-Compliance to the Mass Drug Administration Program
From the total population of the community in Kuningan District, 78.61% were taking filariasis drugs in the Mass Drug Administration (MDA) program in 2017. Cilimus Subdistrict became a filariasis-endemic area in Kuningan with 72.39% of the MDA program coverage in 2017 (government target >86%). The purpose of this study was to analyze the determinant factors of compliance with the MDA program. The study was an analytical study with a cross-sectional design and conducted from May to June 2018. The sample of 106 people was taken from the population living in Cilimus Subdistrict, Kuningan District, using a simple random sampling technique. Independent variables were collected by a constructed questionnaire included age, education level, knowledge, attitude, health promotion, and family support. A questionnaire also measured compliance with MDA as a dependent variable. Data analysis consisted of univariate, bivariate (chi-square and Fisher exact test), and multivariate analyses (multiple logistic regression). The results showed that the variables of knowledge, attitude, MDA health promotion, and family support influence compliance with the MDA (p-value < 0.05). Low knowledge and unawareness of the MDA health promotion proved to be the dominant factors in non-compliance with the MDA program