Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Outdoor Activity: Benefits and Risks to Recreational Runners during the COVID-19 Pandemic
Running has become one of the most popular recreational sports worldwide. It is an easily accessible form of exercise as there are minimal equipment and sport structure requirements. Aerodynamic simulation experiments showed a risk of droplet exposure between runners when two people run in a straight line at a close distance (slipstream). Thus, running activities require a safe physical distance of 10 meters to avoid droplet exposure, which can be a source of transmission of COVID-19 infection. However, running outdoors during the COVID-19 pandemic is still often done in pairs and even in groups without wearing a mask. Open window theory stated that changes in the immune system occur immediately after strenuous physical activity. Many immune system components showed adverse changes after prolonged strenuous activity lasting more than 90 minutes. These changes occurred in several parts of the body, such as the skin, upper respiratory tract, lungs, blood, and muscles. Most of these changes reflected physiological stress and immunosuppression. It is thought that an “open window” of the compromised immune system occurs in the 3–72-hour period after vigorous physical exercise, where viruses and bacteria can gain a foothold, increasing the risk of infection, particularly in the upper respiratory tract. Outdoor physical activity positively affects psychological, physiological, biochemical health parameters, and social relationships. However, this activity requires clear rules so that the obtained benefits can be more significant while simultaneously minimizing the risk of transmission of COVID-19 infection
Predictors of the COVID-19 Social Distancing Practice among Undergraduate Health Students in Samarinda City, Indonesia: A Cross-Sectional Study
Social distancing is a health protocol recommended by the World Health Organization (WHO) for reducing the spread of COVID-19. Undergraduate health students play an important role in the dissemination of accurate information. This study identified predictors that influenced the COVID-19 social distancing practice and examined the sources of social distancing information among undergraduate health students in Samarinda City, Indonesia. This cross-sectionalonline survey study (March-April 2021) involved 422 undergraduate students from medicine, public health, and pharmacy faculties at Mulawarman University. Binary logistic regression was conducted to identify factors associated with the COVID-19 social distancing practice. The results showed that age (AOR =1.47; 95% CI = 1.97–2.22, p-value = 0.045), sex (AOR = 2.26; 95% CI = 1.38–3.69, p-value = 0.001), and attitude (AOR = 2.61; 95% CI = 1.75-3.90; p-va lue<0.001) was significantly associated with social distancing practices. The top three sources of COVID-19 social distancing information used were social media (80.6%), websites (14.0%), and television (3.8%). The study findings encourage the government to disseminate more health information on social media and education programs to this target population
Mental Fatigue and Its Associated Factors among Coal Mining Workers after One Year of the COVID-19 Pandemic in Indonesia
Mental fatigue among coal mining operators was related to driving activities that require high concentration. This study aimed to determine factors that contributed to mental fatigue among coal mine operators in Indonesia, specifically in Kalimantan and Sumatra, after a one-year COVID-19 pandemic. This cross-sectional study was conducted among 480 operators from two companies and seven sites. A self-administrated questionnaire in the Google Form was used to measure mental fatigue, the non-work-related factors (age, education, marital status, residence, and stress level), and work-related factors (working periods, shift pattern, type of shift, and work area in mining). The data analyzed using Chi-square and binomial logistic regression showed that the prevalence of mental fatigue was 32.3%. Operators with moderate stress and working in the pit area demonstrated a significant association with mental fatigue (p-va lue<0.001). Multivariable analysis showed that medium stress (AOR = 2.11; 95% CI = 1.41-3.15) and working in the pit (AOR = 2.27; 95% CI: 1.45-3.57) had a positive association with mental fatigue. Thus, the pit condition and stress levels were the dominant factors influencing mental fatigue and became points to manage mental fatigue in coal mining operators in Kalimantan and Sumatra
Pembiayaan Pasien COVID-19 dan Dampak Keuangan terhadap Rumah Sakit yang Melayani Pasien COVID-19 di Indonesia Analisis Periode Maret 2020 – Desember 2020
Rendahnya kunjungan pasien selama pandemi COVID-19 berakibat turunnya pendapatan rumah sakit secara drastis. Beban rumah sakit yang menangani pasien COVID-19 semakin tinggi dengan adanya keterlambatan pembayaran klaim COVID-19. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan kebijakan pembiayaan COVID-19 di rumah sakit, kendala dari pelaksanaan kebijakan, serta dampaknya pada keuangan rumah sakit di Indonesia. Kajian bersifat deskriptif analitik, pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur dari jurnal ilmiah, BPJS Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Asosiasi Rumah Sakit, maupun seminar ilmiah di media massa daring. Data BPJS per tanggal 28 Januari 2021 menunjukkan total pengajuan klaim COVID-19 oleh rumah sakit sebanyak 433.077, dari hasil verifikasi tercatat sebanyak 266.737 kasus yang sesuai (61,59%) dan dapat diklaim dengan biaya 17,3 triliun, 165.189 kasus dispute (38,14%) dengan biaya 9,7 triliun dan 1.151 kasus tidak sesuai (0,27%). Total klaim yang diajukan sampai Desember 2020 sebesar Rp. 22.9 triliun, jumlah yang sudah dibayarkan Kementerian Kesehatan kepada rumah sakit sebesar Rp. 14.5 triliun (63.3%) dan sisa yang belum dibayarkan sebesar Rp. 8.4 triliun (36,6%). Kendala yang ditemui dalam pembayaran klaim antara lain; pembayaran tidak tepat waktu, tingginya dispute klaim yang disebabkan perbedaan persepsi terhadap regulasi yang berlaku, dokumen klaim rumah sakit yang tidak lengkap, ketidaksiapan perangkat aplikasi dan jumlah verifikator dispute dari Kementerian Kesehatan dalam melakukan proses verifikasi ulang. Penurunan arus kas mengakibatkan terjadinya hambatan operasional rumah sakit, antara lain penurunan kemampuan kewajiban membayar penyedia obat dan alat kesehatan, termasuk pembayaran gaji tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit
Pengaruh Pengadaan Barang dan Jasa pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Terhadap Kondisi Keuangan Rumah Sakit di RSUP Dr. Kariadi Semarang
Mekanisme pengadaan barang dan jasa (PBJ) dalam penanganan keadaan darurat berbeda dengan kondisi normal/biasa. Perbedaan utama adalah pada tahapan pelaksanaan pengadaannya. Masalah yang terjadi saat ini adalah disparitas harga yang sangat besar, ketersediaan dan jumlah kebutuhan yang meningkat terutama pada alat pelindung diri (APD). Disparitas telah mengakibatkan pengeluaran rumah sakit menjadi lebih besar. Kondisi ini memberikan pengaruh terhadap keuangan rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode kualitatif. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Informan terdiri dari informan utama dan informan triangulasi. Instrumen pengumpulan data adalah pedoman wawancara mendalam. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebelum pandemi COVID-19 ada dua metode pelaksanaan PBJ (E-Katalog dan Pengadaan Langsung) sedangkan PBJ pada masa pandemi menggunakan tiga metode (E-Katalog, pengadaan langsung dan penunjukan langsung). Proses PBJ sudah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Proses PBJ yang dilakukan telah mematuhi prinsip - prinsip dan etika PBJ. Terdapat perubahan Rencana Umum Pengadaan Tahun 2020 akibat pandemi. Realisasi penerimaan RSUP Dr. Kariadi Tahun 2020 melampaui target yang telah ditetapkan, sehingga dapat dikatakan kondisi keuangan RSUP Dr. Kariadi selama masa Pandemi COVID-19 dinilai sehat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses PBJ pada kondisi pandemi COVID-19 telah sesuai dengan prinsip – prinsip, etika dan peraturan yang telah ditetapkan serta kondisi keuangan RSUP Dr. Kariadi saat pandemi COVID-19 dinilai sehat
Hubungan Kondisi Psikologis Stress dengan Hipertensi pada Penduduk Usia ≥ 15 tahun di Indonesia
Stress adalah bagian normal dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Tetapi terlalu banyak stress dapat mempengaruhi kesehatan. Bertambahnya tingkat stress akan memungkinkan terjadinya peningkatan prevalensi hipertensi. Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat global dan menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia dan memiliki tren yang selalu meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi psikologis stress dengan hipertensi pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia. Metode penelitian dilakukan dengan analisis data sekunder Indonesian Family Life Survey 5 (IFLS 5) tahun 2014 yang memiliki desain cross sectional. Sampel berjumlah 13.667 responden yang memiliki data lengkap terkait variabel yang diteliti. Analisis univariat dilakukan dengan statistik deskriptif, analisis bivariat dilakukan dengan crosstab dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kondisi psikologis stress dengan kejadi hipertensi pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia (p=0,05) setelah dikontrol oleh variabel IMT dan konsumsi fast food. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan agar dilakukannya tindakan di masyarakat untuk mencegah dan menangani hipertensi dengan penerapan pola hidup sehat, dan juga intervensi mengenai manajemen stress dan prakteknya
Gambaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Era Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) di Indonesia
Untuk mencegah penularan Covid-19 dapat dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kasus Corona Virus Disease (Covid-19) terus mengalami kenaikan dengan cepat. Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Namun, baru setengahnya rumah tangga di Indonesia yang berperilaku cuci tangan dengan benar. Tujuan dari penelitian ini yaitu menjelaskan gambaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam mencegah penularan Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tinjauan kepustakaan (literatur review). Pada penelitian tinjauan kepustakaan ini ditelusuri 8 jurnal nasional baik yang berbahasa Indonesia maupun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan kriteria metode penelitian bersifat kuantitatif. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) diterapkan pada berbagai lapisan masyarakat seperti masyarakat umum, mahasiswa, dan anak-anak. Persentase cuci tangan dengan benar di masyarakat pada masa pandemi Covid-19 sudah mencapai 89%. Persentase mahasiswa yang menerapkan kebersihan diri pada masa pandemi Covid 19 sebanyak 53,41%. Anak-anak yang sudah membiasakan cuci tangan sebelum makan dan sudah beraktivitas sudah cukup banyak. Berdasarkan hasil systematic review dapat dsimpulkan persentase Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masa pandemi Covid-19 di masyarakat yaitu sebanyak 52% – 77,5%. Persentase Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masa pandemi Covid-19 pada mahasiswa yaitu sebanyak 49,2% – 53,1%. Persentase Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada usia anak yaitu sebanyak 50% - 86,49%
Analisis Hubungan Faktor Psikososial Terhadap Stres Kerja dan Perilaku Berisiko Karyawan di PT. X
Angka kematian akibat lift di dunia pada 1999-2009 sebesar 263 orang yang disebabkan 57% terjatuh, 18% terjepit, 17% tertimpa benda, dan 9% penyebab lainnya. Salah satu upaya pencegahan kecelakaan dengan menganalisis faktor psikososial yang mengakibatkan stres kerja dan perilaku berisiko yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor psikososial terhadap stres kerja dan perilaku berisiko karyawan di PT. X. Metode penelitian yaitu deskriptif kuantitatif, desain studi cross-sectional, dengan sampel 200 orang. Faktor psikososial yang berhubungan yaitu beban kerja dan kecepatan kerja, pengendalian, fungsi organisasi, hubungan interpersonal, peran organisasi, pengembangan karir, home-work interface, tuntutan psikologis, partisipasi atau pengawasan, perundungan dan kekerasan. Terdapat hubungan antara stres kerja dan perilaku berisiko. Perilaku yang sering muncul ketika karyawan mengalami stres kerja yaitu terburu-buru saat bekerja. Keluhan stres kerja paling tinggi terkait keluhan fisiologis yaitu konsumsi obat penghilang sakit kepala; keluhan perilaku yaitu menyela dan memotong kalimat orang lain; keluhan emosional yaitu enggan pergi kerja. PT X sebaiknya melakukan risk assesment lebih komprehensif, memperjelas pengembangan karir, dan perhitungan ulang terkait beban kerja, efektifitas dan efisiensi agar tidak berdampak buruk terhadap work-life balance karyawan
Intervensi Karteng Berseni sebagai Pencegahan Tuberkulosis di Kabupaten Bogor
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang berpotensi serius untuk menyerang paru-paru. TB merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian teratas di seluruh dunia. Angka insiden TB pada tahun 2017 di Indonesia sebesar 319 per 100.000 penduduk dan angka kematian sebesar 40 per 100.000 penduduk. Jumlah kasus TB pada tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 566.623 bila dibandingkan dengan kasus pada tahun 2017 yang sebesar 446.723 kasus.Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan mengubah persepsi masyarakat Desa Karang Tengah tentang tuberkulosis.Metode: Melakukan analisis situasi, prioritas masalah, pengembangan instrumen, dan survei determinan penyebab kejadian TB. Pelaksanaan intervensi dilakukan kepada masyarakat di Desa Karang Tengah yang berusia di atas 17 tahun, dengan pemberian poster melalui grup WhatsApp. Kemudian dilakukan penilaian melalui post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat setelah dilakukan intervensi.Hasil: Kejadian TB di Desa Karang Tengah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penyakit tuberkulosis. Setelah dilakukan kegiatan intervensi, diberikan penilaian melalui post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Karang Tengah terhadap TB.Simpulan: Berdasarkan penilaian melalui post-test kepada 502 responden setelah kegiatan intervensi, diperoleh peningkatan skor pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap TB
Pengaruh Dukungan Suami Pada Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks: Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)
Kanker serviks adalah kanker pada wanita dengan jumlah terbesar keempat di dunia dan terbesar kedua di Indonesia setelah kanker payudara. Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada daerah organ reproduksi wanita (leher rahim) yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Kanker serviks dapat dicegah melalui pemeriksaan deteksi dini salah satunya dengan metode IVA. Perilaku pemeriksaan IVA pada Wanita Pasangan Usia Subur (WPUS) dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor pendukung dan faktor penguat. Dukungan suami merupakan salah satu dari faktor penguat tersebut. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dukungan suami terhadap perilaku WPUS dalam melakukan pemeriksaan IVA. Metode yang digunakan adalah penelusuran literatur. Penelusuran literatur ini dilakukan dengan menelaah hubungan antara dukungan suami dengan pemeriksaan IVA berdasarkan 9 jurnal kesehatan yang dipublikasikan 10 tahun terakhir baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sesuai dengan kriteria dan didapat melalui berbagai mesin pencari. Hasil dari 9 jurnal yang telah di review 8 diantaranya menjelaskan dukungan suami dapat meningkatkan perilaku pemeriksaan IVA pada WPUS dengan range nilai Odds Ratio berkisar 3,69 sampai 46,6. Dukungan suami memiliki pengaruh positif terhadap perilaku WPUS dalam melakukan pemeriksaan IVA untuk mencegah kanker serviks