Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Food Insecurity Associated with Double-Burden of Malnutrition among Women in Reproductive Age in Ciampea Sub-district, Bogor, West Java
AbstractDouble burdens of malnutrition among women have occurred across most developing countries including Indonesia. This study compared the associated factors among overweight and underweight of women in reproductive age (WRA) in rural Ciampea Sub-district, Bogor, West Java. This cross-sectional study surveyed the nutritional status of 575 mothers (16-49 years old) who have under two-years-old children. Nutritional status was assessed by body-mass-index (BMI) and mid-upper arm circumference (MUAC), food security status by US-Food Security Survey Module (US-FSSM), dietary intake by a single 24-H dietary recall. The prevalence of underweight, overweight, and obese among this group were 10%, 15.8%, and 34.2%. Food security status was the single factor associated with overweight (p=0.026). However, after adjustment with other factors, food insecurity with hunger was found to be the highest risk of being underweight (AdjOR=3.95; 95%CI: 1.46-10.64). Contrarily, it contributed to lower chances of being overweight among WRA (AdjOR=0.40, 95%CI: 0.21-0.77). In conclusion, food security status in this population associated with both under- and over-nutrition, in addition to other factors such as age and education level of WRA. Ensuring the availability and affordability of nutritious food together with proper nutrition education to rural communities might be worthwhile to improve this condition.AbstrakBeban ganda malnutrisi pada wanita terjadi di sebagian besar negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian ini membandingkan faktor-faktor yang berhubungan pada wanita usia subur (WUS) dengan status gizi kurang dan lebih di pedesaan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Studi potong lintang ini mensurvei status gizi pada 575 Ibu (usia 16-49 tahun) yang memiliki baduta. Penilaian status gizi menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar lengan atas (LILA), status ketahanan pangan oleh US-Food Security Survey Module (US-FSSM), asupan makanan dengan food recall 24-jam. Prevalensi gizi kurang, lebih, dan obesitas pada kelompok ini adalah 10%, 15,8%, dan 34,2%. Status ketahanan pangan merupakan faktor tunggal yang terkait dengan kelebihan berat badan (p = 0,026). Namun, setelah disesuaikan dengan faktor lain, kerawanan pangan dengan kelaparan ditemukan sebagai risiko tertinggi terjadinya gizi kurang (AdjOR = 3.95; CI 95%: 1.46-10.64). Sebaliknya, kondisi tersebut berisiko lebih rendah terhadap kejadian gizi lebih pada WUS (AdjOR = 0,40, 95% CI: 0,21-0,77). Kesimpulannya, status ketahanan pangan pada populasi ini berhubungan dengan kejadian ganda malnutrisi, selain faktor lain seperti usia dan tingkat pendidikan. Memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bergizi bersama dengan edukasi gizi yang tepat untuk masyarakat pedesaan mungkin bermanfaat untuk memperbaiki kondisi ini
Determinants of Family Planning Unmet Needs in West Java and Policy Recommendations during the Covid-19 Pandemic (Based on Advanced Analysis of 2019 SKAP Data)
The Unmet Need for Family Planning (KB) in 2019 is still far from the 2015-2019 Strategic Plan target set at 9.91 percent. Seventeen provinces have a percentage of Unmet Need KB above the national figure (14.4 percent). One of them is West Java Province, with a percentage of Unmet Need of 14.8%. Provinces with a high number of Unmet Needs require the attention of policymakers, especially in the COVID-19 pandemic. West Java is the high-risk red zone category of COVID-19. Increased public awareness of the transmission of Covid-19 is an additional constraint to reducing the Unmet Need for family planning in the community. Therefore, it isnecessary to analyze the determinants of Unmet Need as a basis for formulating policies on family planning services appropriate to be applied during the COVID-19 pandemic. This research used mixed methods with SKAP 2019 data as secondary data to identify determinants of Unmet Need for Family Planning in West Java, and primary data in the form of in-depth interviews with family planning service stakeholders to explore the implementation of family planning services in West Java, including the COVID-19 pandemic situation. Furthermore, multinomial logistic regression using in the data analysis. The results showed that the variables that had a statistically significant effect on Unmet Need Spacing were age (OR = 0.485) and never visits health facilities (OR = 1.616). While the variables that have a significant effect on Unmet Need Limiting are the variable age (OR = 7.101), the number of living children more than 3 (OR = 1.466), rural residence (OR = 0.528), and the median wealth index (OR = 1.536)
Kinerja Pelaksana Manajemen Informasi Kesehatan di Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso
Sistem manajemen dan informasi kesehatan merupakan komponen yang berfokus pada terwujudnya sistem kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna secara efektif dan efisien. Pentingnya tujuan tersebut menjadi dasar aturan bahwa setiap fasilitas pelayanan kesehatan berkewajiban dalam menyelenggarakan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) demi membantu tercapainya sasaran pembangunan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kinerja pelaksana manajemen sistem informasi kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso. Merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan sistem menggunakan metode cross sectional. Kuesioner online dengan google form disebarkan melalui whatsapp group terhadap sampel penelitian yaitu seluruh (111 responden) pelaksana manajemen sistem informasi kesehatan di 25 puskesmas. Hasil menunjukkan responden berkinerja baik 55,0%. Menggunakan uji Chi-Square faktor input yang berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap output berupa kinerja adalah usia, pendidikan terakhir, keterampilan, pengetahuan, dan sarana prasarana
Analisis Manajemen Pengelolaan Data Sistem Informasi Puskesmas di Tingkat Dinas Kesehatan di Kabupaten Bondowoso
Ketepatan proses pengelolaan data Sistem Informasi Puskesmas di tingkat Dinas Kesehatan sangat menentukan dalam menghasilkan informasi berkualitas yang digunakan untuk pengambilan keputusan di pusat atau jenjang yang lebih tinggi. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran manajemen pengelolaan data Sistem Informasi Puskesmas di tingkat Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso. Merupakan penelitian kualitatif dengan metode case study. Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam yang berpedoman pada system approach. Subyek penelitian adalah kepala Subbagian PIEP, petugas pengelola program dan laporan serta petugas pengelola sistem informasi. Penelitian menunjukkan manajemen pengelolaan data sudah baik meski belum optimal, ditemukan kendala diantaranya adalah keterlambatan, inkonsistensi data, alur pelaporan yang terfragmentasi, dan kebutuhan penambahan SDM. Penyusunan standar tata kelola tentang Sistem Informasi dapat menjadi rekomendasi aplikatif bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Lansia dengan Riwayat Hipertensi Mengenai Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi
Angka hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan angka prevalensi hipertensi pada penduduk umur >18 tahun mencapai 34,11%. Jawa Barat menempati posisi kedua sebesar 39,6%. Kasus Konfirmasi COVID-19 di Indonesia mencapai 3.194.733 kasus. Provinsi Jawa Barat menempati posisi kedua dengan proporsi 17,9%. Berdasarkan data konfirmasi kasus per kelompok umur, kategori kematian tertinggi dialami oleh lansia sebesar 39.29%. Lansia dengan penyakit hipertensi meningkatkan risiko infeksi, komplikasi, dan gangguan organ. Tujuan studi untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku pada lansia dengan riwayat hipertensi di wilayah Puskesmas Abadijaya mengenai faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan pengendalian hipertensi. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dengan metode pengambilan sampel yaitu non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah seluruh lansia berusia > 45 tahun yang memiliki riwayat penyakit hipertensi di wilayah Puskesmas Abadijaya Kota Depok. Besar sampel dari penelitian ini adalah 30 orang lansia. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan uji pearson chi-square, variabel jenis kelamin, genetik, dan stres memiliki nilai p value < 0.05 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin, genetik, dan juga stress terhadap hipertensi yang terkontrol. Gambaran pengetahuan, perilaku, dan sikap lansia dengan riwayat hipertensi di wilayah Puskesmas Abadijaya mengenai faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan pengendalian hipertensi sudah cukup baik. Setelah dilakukan intervensi, skor rata-rata pengetahuan responden meningkat sebesar 0,33 dan 0,01 skor rata-rata kategori sikap.Kata Kunci: Hipertensi; Pengetahuan; Sikap; Perilaku; Pencegaha
Upaya Pencegahan Kelainan Refraksi Melalui Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Orang Tua tentang Visual Higiene
Latar belakang : Analisis situasi di RW 11 Kelurahan Jatisari Kecamatan Mijen Kota Semarang menunjukkan sebanyak 60% orang tua yang memiliki anak usia sekolah memiliki pengetahuan tentang visual hygiene yang rendah. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua siswa tentang visual hygiene.Metode : Pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan memberikan pelatihan tentang visual hygiene terhadap 22 orang kelompok sasaran. Peserta pelatihan diambil dari perwakilan semua RT di RW 11 Kelurahan Jatisari yang memiliki anak usia sekolah. Metode ceramah dengan alat bantu LCD proyektor serta kombinasi diskusi dan tanya jawab digunakan untuk memberikan pelatihan. Evaluasi dilakukan dengan memberikan pretest dan postest.Hasil : Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan rata-rata skor pengetahuan peserta dari 64,77 menjadi 94,88. Evaluasi terhadap sikap tentang visual hygiene juga menunjukkan adanya peningkatan sikap positif peserta dari dari 3,02 pada pretest menjadi 3,88 pada posttest.Simpulan : Pelatihan kepada kelompok sasaran berhasil meningkatkan skor pengetahuan dan sikap positif kelompok sasaran tentang upaya visual hygiene. Kepada kader Kesehatan dan kelompok sasaran yang telah mengikuti pelatihan disarankan untuk menyebarluaskan pengetahuan yang didapat kepada masyarakat di lingkungannya
CIPAMBUAN sebagai Upaya Preventif Penularan COVID-19 di Kabupaten Bogor
Latar Belakang: Penerapan cuci tangan pakai sabun (CTPS) di RT 01 dan RT 02, RW 02, Desa Cipambuan, Kabupaten Bogor tergolong masih minim. CTPS merupakan salah satu solusi untuk memutus rantai penularan COVID-19. Data terbaru dari UNICEF menyebutkan, hanya 3 dari 5 orang di seluruh dunia yang memiliki fasilitas cuci tangan dasar. Selain itu, perilaku mencuci tangan yang tidak benar menjadi salah satu faktor menurunnya efektivitas pencegahan risiko penyakit.Tujuan: Meningkatkan rumah tangga ber-PHBS khususnya pilar cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan salah satu upaya pencegahan di era pandemi COVID-19.Metode: Melakukan analisis situasi, prioritas masalah, pengembangan instrumen, dan survei determinan penyebab kurangnya cuci tangan dengan sabun (CTPS). Pelaksanaan intervensi dilakukan kepada masyarakat di Desa Cipambuan dengan pemberian poster melalui grup WhatsApp. Kemudian dilakukan penilaian melalui post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat setelah dilakukan intervensi.Hasil: Rendahnya perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) di Desa Cipambuan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pentingnya mencuci tangan dengan sabun. Setelah dilakukan kegiatan intervensi, diberikan penilaian melalui post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Cipambuan.Simpulan: Berdasarkan penilaian melalui post-test kepada 16 responden setelah kegiatan intervensi, diperoleh peningkatan skor pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pentingnya cuci tangan dengan sabun (CTPS) terlebih untuk mencegah penularan COVID-19
Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis di Indonesia
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman Mycobacterium tuberculosis menular melalui udara (airborne disease). dari penderita sakit tuberkulosis ke orang lain disekitarnya. Tujuan dari penelitian ini mengetahui lebih rinci faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap tingginya kejadian di Indonesia. Metode yang dilakukan adalah menggunakan telaah artikel atau jurnal yang penerbitannya kurang dari 10 tahun dan tersedia di database online (Proquest, Sciencedirect, Scopus, Wiley Online dan Google Cendekia). Hasil dari meta analisis didapatkan bahwa faktor sosiodemografi (jenis kelamin laki-laki OR= 4,19, umur yang lebih dari 36 tahun OR = 3,54, status pendidikan yang buta huruf atau tidak sekolah OR = 3,65, status perkawinan yang belum menikah OR = 8,40, pendapatan keluarga yang kurang dari 10.000 rupee OR = 1,32, jenis pekerjaan yang menganggur atau tidak bekerja berisiko OR= 2,69, orang yang memiliki BMI berat badan kurang OR = 13,57), Faktor Lingkungan (sinar matahari yang masuk kerumah OR 3-7, tidak adanya ventilasi buatan OR = 1,57, riwayat kontak orang penderita tuberkulosis OR = 5,42, dan jumlah keluarga yang diatas >5 OR = 4,10), Host-Related Factor (kebiasaan merokok OR = 2,40) dan Faktor Komorbid (orang yang mengidap status HIV positif OR = 11,70, orang yang memiliki Diabetes OR = 1,53 dan riwayat asma OR = 2,53). Kesimpulannya dari penelitian ini adalah terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap kejadian tuberkulosis diantaranya faktor sosiodemografi (jenis kelamin, umur, status pendidikan, status perkawinan, pendapatan keluarga, jenis pekerjaan, BMI), faktor Lingkungan (sinar matahari yang masuk kerumah, adanya ventilasi buatan, riwayat kontak orang penderita tuberkulosis, dan jumlah keluarga), host-related factor (kebiasaan merokok) dan faktor komorbid (HIV, Diabetes dan Asma
Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Masyarakat Terkait COVID-19 Kota Bogor
Latar belakang: Kewaspadaan infeksi COVID-19 Kabupaten Bogor per tanggal 8 September 2020 terdapat 292 kasus suspek yang masih dipantau, 8 kasus probable yang masih dipantau, dan 1012 konfirmasi COVID-19 dengan rincian 362 kasus konfirmasi aktif, 39 kasus konfirmasi meninggal, 605 kasus konfirmasi sembuh, dan 6 kasus pindah alamat ke luar Kabupaten Bogor.Tujuan: Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan yang kemudian akan mempengaruhi sikap dan praktik penduduk RT 02 dan RT 04 RW 01 Desa Babakan Madang dalam menerapkan perilaku pencegahan COVID-19.Metode: Metode yang digunakan adalah dengan identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, dan intervensi sebagai solusi terhadap masalah kesehatan masyarakat. Selain itu juga dilaukan pengembangan instrument menggunakan kuesioner.Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan terkait perilaku pencegahan COVID-19, yaitu gejala COVID-19 dari 78,30% menjadi 94,10%, penularan oleh OTG dari 67,60% menjadi 88,20%, tindakan setelah bepergian ke luar rumah dari 67,60% menjadi 100%, memakai masker dari 94,60% menjadi 100%, menggunakan hand sanitizer dari 73% menjadi 94,10%, dan etika batuk dan bersin dari 59,50% menjadi 100%.Simpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan responden terkait perilaku pencegahan COVID-19 setelah intervensi
Intervensi Rumah Sehat dan Pencegahan Penularan COVID-19 di Kabupaten Bogor
Latar Belakang: Menurut WHO, rumah dengan jumlah penghuni yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko penularan penyakit menular. Kemenkes RI menyebutkan bahwa buruknya sistem sanitasi akan berdampak pada buruk pada banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup, tercemarnya sumber air minum dan meningkatnya jumlah kejadian penyakit seperti diare dan penyakit lainnya. Kondisi rumah yang tidak baik menimbulkan adanya health burden. Beberapa diantaranya disebabkan oleh akses air,sanitasi dan kualitas lingkungan dalam ruangan yang buruk.Tujuan: Meningkatkan pemahaman masyarakat Desa Citaringgul terkait pentingnya rumah sehat dan efek kesehatan yang dapat ditimbulkan dari kondisi rumah yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan.Metode: Melakukan analisis situasi, prioritas masalah, pengembangan instrumen, dan survei determinan terkait rumah sehat. Pelaksanaan intervensi dilakukan kepada masyarakat di Desa Citaringgul dengan pemberian booklet, poster, dan video edukasi melalui grup WhatsApp. Kemudian dilakukan penilaian melalui post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat setelah dilakukan intervensi.Hasil: Rendahnya penerapan rumah sehat di Desa Citaringgul disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan standar kondisi rumah. Setelah dilakukan kegiatan intervensi, diberikan penilaian melalui post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat Desa Citarunggul.Simpulan: Berdasarkan penilaian melalui post-test kepada 26 responden setelah kegiatan intervensi, diperoleh peningkatan skor pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan kondisi rumah yang sesuai standar untuk mencapai rumah sehat