Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Current Intake and Infection Status were not Good Predictive Factors of Stunting among Children Aged 6-59 Months in Babakan Madang Sub-District, Bogor District, West Java, Indonesia
AbstractThis study aims to discover the prevalence of stunting and determine the associations between the history of pulmonary tuberculosis disease with the prevalence of stunting among children under five years of age (6-59 months) in Babakan Madang Sub-District, Bogor District 2019. This study uses a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample in this research was 194 children under five obtained by cluster sampling. Data collection was conducted through May 2019. The data collection process includes anthropometric measurements using calibrated microtoise and digital length board, dietary assessment using 1 x 24-h food recall, and a self-administered questionnaire. Data analyses were performed using the chi-square test and independent t-test. The result of this study shows that 35.6% of children under five are being stunted (HAZ ≤ -2.00). The risk factor with a significant correlation with stunting is history of pulmonary tuberculosis disease (p-value 0.044), although careful interpretation is needed in this result due to the limited number of observed cases. However, this study recommends pulmonary tuberculosis disease prevention and improve nutritional education. Keywords: stunting, children under-five, pulmonary tuberculosis disease AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran prevalensi stunting dan membuktikan hubungan antara riwayat penyakit TB paru serta faktor lainnya dengan kejadian stunting pada balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 194 balita yang didapat dengan cara cluster sampling. Pengambilan data dilakukan selama bulan Mei 2019. Proses pengambilan data meliputi pengukuran antropometri menggunakan microtoise dan digital length board yang telah divalidasi, wawancara food recall 1x 24 jam, dan pengisian kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan independent-t. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 35,6% balita stunting (Z-score PB/U atau TB/U ≤ -2,00). Faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting adalah riwayat penyakit TB paru, meskipun hasil ini memerlukan kehati-hatian dalam interpretasi mengingat sangat terbatasnya jumlah kasus TB paru yang diobservasi. Meskipun demikian, studi ini merekomendasikan upaya pencegahan terhadap penyakit TB paru dan peningkatan edukasi gizi. Kata kunci: stunting, balita, riwayat TB par
STRATEGI PEMASARAN PROGRAM GREEN LABORATORY MENUJU GREEN HOSPITAL DENGAN METODE SEGMENTING, TARGETING, AND POSITIONING SERTA MARKETING MIX DI RSUP Dr. SARDJITO, YOGYAKARTA
Pelayanan kesehatan memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan masyarakat sebagai sasaran utamanya. Tuntutan kebutuhan pelayanan dari pelanggan rumah sakit telah bergeser ke arahpelayanan paripurna dengan berbasis kenyamanan dan keamanan lingkungan rumah sakit. Kebijakan rumah sakit ramah lingkungan (green hospital) merupakan jawaban pergeseran tuntutan kebutuhan mutu pelayanan rumah sakit bagimasyarakat. Dalam upaya mewujudkan RSUP Dr. Sardjito sebagai rumah sakit ramah lingkungan (green hospital), Instalasi LaboratoriumTerpadu (ILK) memiliki potensi besar dalam berkontribusi melalui perannya sebagai green laboratory. Salah satu upaya yang telah mulai dilakukan oleh ILT RSUP Dr. Sardjito adalah melalui kebijakan paperlesslaboratory. Laboratorium sebagai salah satu unsur dalam sebuah rumah sakit wajib menempatkan aspek keseimbangan ekologi, sosial dan estetika menjadi dasar pada setiap perumusan kebijakan melalui optimalisasi pengelolaan lingkungan hidup dan pemberdayaan, sehingga keberadaan laboratorium dengan kompleksitas kegiatannya tidak menambah beban negatif berupa pencemaran lingkungan, bahkan memberikan manfaat positif bagi kelestarianlingkungan masyarakat sekitar.Rumah sakit harus mempunyai perencanaan strategi pemasaran yang baik, bermutu dan berkualitas, untuk meningkatkan minat pasien menggunakan jasa pelayanannya. Dengan demikian, perlu dilakukan penetapan strategi pemasaran berdasarkan penetapan segmentasi pasar, target pasar, dan posisi pasar untuk program tersebut. Bauran pemasaran atau marketing mix merupakan strategi pemasaran terdiri atas product, price, place, promotion, dan sering perkembangannya berkembang menjadi 7P dengan penambahan people, process dan physical evidence. Strategi bauran pemasaran saling mempengaruhi satu sama lain. Green Laboratory sebagai salah satu konsep unggulan yang dapat dipasarkan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan minat konsumen. Kata kunci: Strategi Pemasaran, Green Hospital, Green Laborator
Pengklasteran Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah Pada Wanita Usia Subur Menggunakan Metode Principal Component Analysis dan K-Means
Anemia pada ibu hamil adalah kondisi di mana kadar Hb < 11 gr/dL. Prevalensi anemia di Indonesia cukup tinggi yaitu sebesar 44%. Target penurunan anemia dapat dicapai melalui program suplementasi zat besi dan asam folat (program IFAS). Indonesia telah sejak 1975 merekomendasikan ibu hamil minum satu tablet IFA selama kehamilan minimal 90 hari hingga 42 hari pasca melahirkan. Hasil Riskesdas 2018, Ibu hamil yang mengonsumsi TTD ≥90 butir adalah sebesar 38,1%, sedangkan <90 butir adalah sebesar 61,9%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat atribut apa yang mempengaruhi konsumsi tablet tambah darah dan mengidentifikasi hambatan konsumsi tablet tambah darah menggunakan pendekatan data mining. Penelitian ini memadukan metode PCA dan K-Means. Peneliti menggunakan data SDKI Wanita Usia Subur 2017. Data terdiri dari 8 atribut dan 12262 record. Hasil penelitian ini yaitu hasil final cluster metode PCA menghasilkan faktor 1 (Pendidikan, Status Ekonomi, dan Tempat Tinggal), faktor 2 (Konsumsi TTD dan Kunjungan ANC), faktor 3 (Pemeriksa Hamil: Non-Nakes). Hasil metode K-Means terbentuk dua klaster dan ketiga atribut baru terdapat signifikansi
Pelaksanaan Program Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS) Selama Pandemi COVID-19 di Wilayah Puskesmas Depok Jaya
Latar Belakang. TBC masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Pemerintah telah menerapkan DOTS untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TBC, namun angka tersebut masih belum mencapai target. Selama pandemi, DOTS tetap diselenggarakan dengan adanya penyesuaian pengelolaan input dan process.Tujuan. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui gambaran pelaksanaan program DOTS selama pandemi di wilayah Puskesmas Depok Jaya.Metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam kepada informan utama, yakni Penanggung Jawab DOTS, Dokter Penanggung Jawab DOTS, Ketua Kader dan 2 Pengawas Menelan Obat, sedangkan informan pendukung, yakni 4 Pasien TBC. Peneliti mengambil data dengan wawancara mendalam secara daring melalui Zoom.Hasil. Beberapa kegiatan utama di Puskesmas selama pandemi mengalami penurunan jumlah kegiatan, diantaranya investigasi kontak, skrining, serta pelatihan. Selain itu terdapat beberapa masalah di pelaksanaan DOTS yang terjadi selama pandemi, yaitu masyarakat yang kurang terbuka, memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga petugas puskesmas dan kader kesehatan seringkali kesulitan dalam melakukan pemantauan terkait dengan investigasi kontak dan pengobatan pasien TBC.Kesimpulan. Gambaran pelaksanaan program DOTS selama pandemi di wilayah Puskesmas Depok Jaya belum maksimal berjalan dikarenakan mengalami penurunan jumlah kegiatan. ABSTRACT Background. TB is a problem in Indonesia. The government has implemented DOTS to reduce morbidity and mortality but hasn’t yet reached the target. During the pandemic, DOTS was being held with adjustments to input and process management.Purpose. Find out the description of the implementation of DOTS during a pandemic in the Puskesmas Depok Jaya area. Methods. This study used a qualitative case study design. Data collection techniques were in-depth interviews with the main informants, the PIC of DOTS, the doctor in charge of DOTS, the head of the cadre and 2 medication supervisors, the supporting informants were 4 tuberculosis patients. Researchers collected data by in-depth interviews online via Zoom. Results. Several main activities at the Puskesmas during the pandemic experienced a decrease in the number of activities, including contact investigations, screening, and training. There were several problems that occurred during the pandemic, the community was less open, had high mobility, so Puskesmas officers and health cadres had difficulties in carrying out monitoring related to contact investigations and treatment of TB patients. Conclusion. DOTS hasn’t run optimally due to a decrease in the number of activities
Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Kematian Pasien COVID-19 Lansia di Ruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Karanganyar
Virus COVID-19 terus menyebabkan lebih banyak orang menjadi sakit dan meninggal dunia setiap harinya. Selain itu, varian virus COVID-19 baru juga terus ditemukan. Lebih dari 80% kematian karena COVID-19 terjadi pada penderita yang memiliki komorbid dan berusia di atas 65 tahun. Perlu diketahui penyakit komorbid apa saja yang berpengaruh terhadap kematian pasien COVID-19 lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kematian COVID-19 pada pasien lansia yang melakukan rawat inap di RSUD Karanganyar mulai Januari 2020 - Mei 2021. Sebanyak 322 pasien COVID-19 lansia yang terdata dalam file database rekam medis pasien rawat inap di RSUD Kabupaten Karanganyar digunakan dalam penelitian kuantitatif ini dengan menggunakan desain cross sectional. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk menguji hubungan jenis kelamin, TBC paru, diabetes mellitus, ginjal kronis, stroke, dan jantung dengan kematian pasien COVID-19 lansia. Dari total sampel yang diteliti, sebanyak 18,9% diantaranya meninggal dunia. Pasien COVID-19 lansia perempuan yang meninggal dunia adalah sebanyak 54,1%. Dari total 61 pasien COVID-19 lansia yang meninggal, penyakit komorbid yang paling banyak diderita adalah DM (21,3%), hipertensi (16,4%), stroke (11,5%), ginjal kronis (8,2%), jantung (8,2%), dan TBC paru (3,3%). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya riwayat hipertensi yang secara statistik terkait dengan peningkatan risiko kematian pada pasien COVID-19 lansia (OR= 2,647; 95% CI: 1,154 – 6,070), sedangkan variabel yang lainnya tidak berhubungan. Pasien lansia dengan komorbid tersebut perlu diprioritaskan untuk diberikan penanganan medis secara optimal karena lebih rentan terhadap kematian.
The Estimation of Excess Mortality during the COVID-19 Pandemic in Jakarta, Indonesia
Indonesia is among the countries affected by the coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic, and DKI Jakarta Province recorded the highest number of deaths. This study aimed to analyze the excess mortality across five administrative cities in Jakarta stratified by gender to assess the pandemic impact on mortality. The monthly mortality data from January 2018 to December 2020 was obtained through government sources. This data helped to measure excess mortality by estimating the baseline mortality had the COVID-19 pandemic not occurred. The analysis used a linear mixed model because of its ease and flexibility in forecasting subject-specific mortality. The results showed 13,507 or 35% excess deaths in Jakarta [95% CI: 11,636 to 15,236] between June and December 2020. The excess numbers were found relatively higher among men than women. Furthermore, Jakarta has underreported the COVID-19 deaths at least seven times higher than the reported number of confirmed deaths
Diabetes Mellitus and Mortality among COVID-19 Patients in Jakarta, March-August 2020
Diabetes mellitus (DM) comorbidity is one of the risk factors for coronavirus disease 2019 (COVID-19) mortality. This study aimed to determine the association of comorbid DM and mortality among COVID-19 confirmed cases in DKI Jakarta Province, controlled with confounding variables from March to August 2020. The study design was a retrospective cohort using cox proportional hazard regression, with a total sample of 1,480. The data consisted of 740 COVID-19 cases with and 740 without comorbid DM. The inclusion criteria were COVID-19 confirmed cases with polymerase chain reaction (PCR) laboratory testing reported to the DKI Jakarta Provincial Department of Health, and the exclusion criteria were pregnant women. The study result indicated that the Crude Hazard Ratio (CHR) of DM and mortality among COVID-19 confirmed cases was 7.4 (95% CI = 4.5-12.3, p-value50 years)
Kajian Penilaian Risiko Kesehatan Terkait Pajanan BTX Mengacu Pada Metode SQRA di Laboratorium Pengujian Migas PT SCI
Laboratorium adalah tempat untuk melakukan percobaan atau eksperimen uji dimana bekerja di tempat tersebut membutuhkan perilaku kehati-hatian dalam menggunakan peralatan dan bahan. Salah satu jenis bahan kimia yang terdapat di laboratorium adalah pelarut organik yang memiliki fungsi sebagai pelarut bahan kimia lainnya. Potensi risiko kanker payudara pada pekerja wanita di laboratorium pada studi kohort ini adalah paparan pelarut organik. Pelarut organik yang sering digunakan di laboratorium adalah benzene, toluene dan xylene (BTX). Dengan adanya pajanan bahan kimia benzene, toluene dan xylene di tempat kerja dan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh bahan kimia tersebut, maka perlu dilakukan penilaian tingkat risiko pajanan bahan kimia terhadap kesehatan pekerja di laboratorium PT. SCI dengan suatu penilaian risiko kesehatan melalui inhalasi dengan menggunakan metode SQRA Singapura. Pengumpulan data terkait dengan keluhan kesehatan pekerja gejala neurotoksik laboratorium menggunakan kuisioner yang mengacu pada The German Q18 Questionnaire. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel inhalasi dan udara di lingkungan kerja. Data hasil sampling diolah untuk mengetahui Tingkat Bahaya (Hazard Rating), Tingkat Pajanan (Exposure Rating), dan Tingkat Risiko (Risk Rating). Nilai tingkat pajanan untuk benzene, toluene dan xylene berturut-turut adalah 1,6;2,0;2,1. Nilai RR benzene adalah 3 (risiko moderat) sedangkan nilai RR toluene dan xylene adalah 2 (risiko rendah). Secara keseluruhan terkait jumlah responden yang memiliki gejala neurotoksik positif atau menjawab “ya” pada 5 pertanyaan atau lebih pada kuisioner sebanyak 25% (1 responden) dan 75% (3 responden) lainnya memiliki gejala neurotoksik negati
Trend of Non-Pharmacological Therapy for First Phase of Active Labor Pain: A Pilot Study
There are several of non-pharmacological therapies to be used as caring practice to mother with labor pain. This study aimed to observe the effectiveness of both single and combination therapy of warm compresses and counter pressure massage (CPM) for the management of labor pain during the first active phase through medical records. This is a pilot study that used a cohort prospective design. The total number of respondents was 90 respondents, divided into 3 groups based on the non-pharmacological therapy that was given by the midwives or nurses. Pain level was measured with NRS 11. The study was conducted at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital from May 2020 to September 2020. A comparative hypothesis analysis was done to compare the Pretest-Posttest of pain level between groups using the Wilcoxon, Kruskal-Wallis, and Post hoc Mann-Whitney tests with a significance of p <0.05. There was a reduction of 1.53 pain level of subject who received CPM, 1.16 by received warm compress and 1.67 for those who received combination therapy. It was found there was a significant difference between three groups with p=0.020. It was found that CPM was compared to Warm compress obtained p=0.017, CPM compared to Combination therapy obtained p=0.019, warm compress compared to combination therapy obtained p = 0.396.Combination therapy showed the highest reduction effect toward pain level of First Phase of Active Labor Pain. However, the CPM therapy showed to achieve effectiveness compared to warm compress and combination therapy
Pengaruh Pembatasan Sosial dan Variabel Ekonomi Terhadap Prevalensi Pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembatasan sosial terhadap penurunan jumlah kasus Covid-19 di 27 Kota dan Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pembatasan sosial dan variabel ekonomi terhadap pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan beberapa data yang bersumber dari Pusat Informasi & Koordinasi Covid-19 Provinsi Jawa Barat, dan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. Variabel terikat pada penelitian ini adalah rata-rata penambahan kasus harian Covid-19. Sedangkan, variabel bebas pada penelitian ini adalah dummy pembatasan sosial, kepadatan penduduk, PDRB per kapita, tingkat pendidikan, tingkat mobilitas, tingkat pengangguran, jumlah tenaga kesehatan, persentase penduduk miskin, dan angka harapan hidup. Semua data tersebut dikumpulkan dalam periode antara 2 Maret 2020 hingga 2 Maret 2021 yang terdiri dari 17 periode berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat. Analisis data panel dengan pendekatan Feasible Generalized Least Square (FGLS) diterapkan dengan menggunakan perangkat lunak Stata MP-64. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan sosial, kepadatan penduduk, tingkat pengangguran, dan jumlah tenaga kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penurunan kasus Covid-19 di Provinsi Jawa Barat. PDRB per kapita berpengaruh positif terhadap penurunan kasus Covid-19, namun tidak signifikan. Tingkat pendidikan, tingkat mobilitas, persentase penduduk miskin, dan angka harapan hidup berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penurunan kasus Covid-19 di Provinsi Jawa Barat. Oleh karena itu, pembatasan sosial merupakan kebijakan yang tepat guna menurunkan pandemi Covid-19 di Provinsi Jawa Barat