Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
    1218 research outputs found

    Analisis Stres Kerja pada Pengemudi Truk Pengantar Produk PT XYZ Tahun 2022

    Get PDF
    Pengemudi merupakan salah satu kelompok pekerjaan dengan tingkat risiko tertinggi yang dapat mengalami stres di tempat kerja. Hal ini dapat terjadi salah satunya pada pengemudi truk yang memegang peranan penting dalam proses pengantaran produk PT XYZ. Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan gambaran tingkat stres kerja pada pengemudi truk pengantar produk PT XYZ serta faktor risiko yang berhubungan dengan stres kerja tersebut. Adapun faktor-faktor yang diteliti meliputi faktor individu (usia, status pernikahan, tempat tinggal, jumlah anak, dan masa kerja), faktor psikososial terkait konteks pekerjaan (kontrol pekerjaan, dukungan sosial, dan home-work interface) dan konten pekerjaan (lingkungan fisik kabin, beban kerja, dan jam kerja). Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dan pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online. Adapun kuesioner yang digunakan pada penelitian ini diadaptasi dari beberapa kuesioner yang telah ada yaitu kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III. Sejumlah 76 pengemudi truk berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,53% responden mengalami stres sedang-berat. Ditemukan pula hubungan antara dukungan sosial, home-work interface, lingkungan fisik kabin, beban kerja, dan jam kerja dengan stres kerja. Dari kelima faktor tersebut, faktor yang paling dominan berhubungan dengan stres kerja adalah faktor jam kerja dengan nilai OR yaitu 11. Disimpulkan bahwa dukungan sosial, home-work interface, lingkungan fisik kabin, beban kerja, dan jam kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja. Beberapa upaya penanganan yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi kejadian stres kerja pada pekerja, mengembangkan program pengawasan dan pendampingan terkait stres kerja, meninjau ulang prosedur dan kebijakan mengenai jadwal kerja, menciptakan tempat kerja yang sehat dan selamat secara fisik, mengidentifikasi dan mengkaji ulang beban kerja, serta melaksanakan berbagai program intervensi untuk meningkatkan kemampuan mengatasi stres pekerja

    Pengembangan Video Singkat Screen Dependency Disorder Pada Anak Berbasis Perspektif Ibu

    Get PDF
    Latar Belakang. Masa anak merupakan masa emas tumbuh kembang, sekaligus rentan pengaruh negatif. Penggunaan perangkat digital memberikan dampak positif maupun negatif. Screen Dependency Disorder (SDD) adalah masalah tumbuh kembang anak yang perlu dicegah.  Tujuan. Mengetahui perspektif ibu tentang lama penggunaan perangkat digital dan SDD pada anak serta mengembangkan video singkat SDD berbasis perspektif ibu.Metode. Disain adalah penelitian pengembangan. Populasi adalah ibu dari anak usia 1-13 tahun sejumlah 68 orang, sampel total. Penelitian awal menggali karakteristik responden, perspektif responden tentang lama pemakaian perangkat digital dan SDD pada anak, dengan kuesioner dalam Google-form disebar via WhatsApp. Data dianalisis dengan distribusi frekuensi, serta uji hubungan Sommers’d. Hasilnya menjadi dasar pengembangan dan merancang video singkat.Hasil. Sebanyak 63,2% anak memakai perangkat digital lebih dua jam per hari. Sebanyak 50% ibu memiliki perspektif baik tentang SDD pada anak. Ada hubungan signifikan usia - pekerjaan ibu, usia - pendidikan anak, pendapatan keluarga dengan lama pemakaian perangkat digital. Tidak ada hubungan signifikan semua karakteristik responden dengan perspektif SDD. Video singkat yang dikembangkan berisi pengertian dan pencegahan SDD.Kesimpulan. Video singkat bisa digunakan dengan diujicoba dulu. Advokasi diperlukan untuk memperoleh dukungan upaya pencegahan SDD.      ABSTRACT     Background. Childhood is a golden period of growth and development, as well as being vulnerable to negative influences. The use of digital devices has both positive and negative impacts. Screen Dependency Disorder (SDD) is a child development problem that needs to be prevented.Objectives. Knowing the mother's perspective on the duration of digital device use, and SDD in children, and developing an SDD short video based on the mother's perspective.Method. Design is development research. The population is mothers of children aged 1-13 years with a total of 68 people, the total sample. Preliminary research explored the characteristics of the respondents, the perspectives of respondents about the length of use of digital devices and SDD in children, by using a questionnaire in the Google form distributed via WhatsApp. Data were analyzed by frequency distribution, as well as the Sommers'd relationship test. The results form the basis for developing and designing short videos.Results. As many as 63.2% of children use digital devices for more than two hours per day. As many as 50% of mothers have a good perspective on SDD in children. There is a significant relationship between age-mother's occupation, age-education of children, family income with the duration of use of digital devices. There is no significant relationship between all the characteristics of the respondents with the SDD perspective. The short video developed contains understanding and prevention of SDD.Conclusion. Short videos can be used by testing it first. Advocacy is needed to gain support for SDD prevention efforts

    Evaluation of Vitamin D and Anti-Müllerian Hormone Levels in Iraqi Infertile Women

    Get PDF
    Although the mechanism underlying the relationship between vitamin D insufficiency and reproduction is unknown, research suggests that it may have a direct deleterious impact on ovarian function. This is primarily because vitamin D insufficiency can affect gonadal function. The anti müllerian hormone (AMH) is one of the most important biomarkers produced by granulosa cells and plays a key role in folliculogenesis. This study wanted to look at and compare vitamin D and AMH levels in infertile and fertile women, as well as the relationship between them in both groups. A hundred infertile and fertile women participated in the study. Anti-müllerian, prolactin, follicle-stimulating, and luteinizing hormones, as well as 25 hydroxyvitamin D, were estimated. Vitamin D deficiency was found in 72% of infertile women (n = 36), compared to 48% (n = 24) of the fertile group. There was no significant link between 25-hydroxyvitamin D and AMH in both groups. Infertile women exhibited a significantly lower serum AMH and higher body mass index. This study's findings suggested that the correlation between vitamin D and ovarian reserve markers was unlikely to present. However, the infertile group has a more significant vitamin D deficiency and insufficiency rate

    THE EFFECT OF SMOKING BEHAVIOR ON HEALTH EXPENDITURE IN INDONESIA’S RURAL AREAS

    Get PDF
    Smoking is one of the biggest causes of death in the world. The WHO reported that smoking kills 8 million people each year. Besides threatening global health, smoking by rural people tends to detain poverty alleviation efforts due to several factors, including cigarette expenditures and health expenditures. Indonesia has one of the most significant worldwide smoking prevalence and has become one of the countries that most suffer from smoking. The MoH Indonesia reported that health costs due to smoking reached Rp596.61 trillion in 2015. Previous studies found that smoking caused an increase in health expenditure due to smoking-related diseases in Indonesia. However, there is a lack of evidence found in rural areas. This research aims to answer whether smoking affects health expenditure in rural areas. Robust regression analysis is used in this model and processed by STATA 14 application. Using IFLS 5 data, the analysis shows that cigarettes consumed in rural areas have a positive and significant effect on outpatient costs. Increased outpatient costs in rural areas due to smoking will make the rural economy suffer and escalate poverty. The government should intensify the tobacco control policy in rural areas to avoid an increase of poverty rate in Indonesia

    A Study on the Impact of Occupational Fatigue on Human Performance among Oil and Gas Workers in Indonesia

    No full text
    Occupational fatigue is a serious problem since it may cause several issues, including deteriorating human performance. Some major accidents in the oil and gas industries were associated with the lack of human performance due to occupational fatigue. This study aimed to analyze the impact of occupational fatigue on human performance among oil and gas workers in Indonesia. This study used a cross-sectional design using a self-administered validated questionnaire to gather information on demographic (gender and age), work characteristics (work rotation, work duration, shift work model, day/night shift, job position), sleep debt, sleep quality, occupational (acute and chronic) fatigue, and at-risk behavior as the indicator of human performance. In this study, a total of 1,650 workers from different fields (production, drilling, well service, construction, and administration/office) participated. This study showed that occupational fatigue (both chronic and acute) significantly impacted human performance, and occupational fatigue conditions decreased human performance. This implied that managing occupational fatigue may prevent deteriorating human performance

    Kajian Tingkat Keparahan Postur Janggal yang Berkontribusi kepada Gangguan Sistem Muskuloskeletal (Studi Pustaka Naratif)

    Get PDF
    Latar Belakang: Tidak semua postur janggal yang ada di industri harus dihilangkan. Karena faktanya, postur janggal tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kerja sehari-hari. Setiap ada pergerakan yang membuat sudut tubuh menjauhi posisi normal, dapat dikatakan sebagai postur janggal. Kesalahpahaman terkait konsep dari postur janggal terlebih diikuti dengan fakta bahwa konsep penilaian metode observasi yang sering digunakan untuk menilai postur janggal (REBA, RULA, dan OWAS) kurang sesuai dengan teori yang seharusnya, dapat menurunkan keefektifan pencegahan dan pengendalian gangguan sistem muskuloskeletal. Untuk mengatasi hal itu, maka diperlukan kajian literatur yang menjelaskan variabel apa saja yang dapat mempengaruhi tingkat keparahan postur janggal. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka naratif dengan tujuan untuk menggambarkan bagaimana hubungan antara durasi, frekuensi, dan sudut kemiringan postur dengan tingkat keparahan postur janggal. Hasil: Didapatkan 15 literatur yang berasal dari pangkalan data online Science Direct, ProQuest, dan Google Cendekia, dengan rincian 9 literatur menggunakan metode semi-eksperimental, 5 literatur menggunakan metode cross sectional, dan 1 literatur menggunakan metode studi pustaka sistematik. Kesimpulan: Berdasarkan hasil literatur tersebut, didapatkan bukti adanya hubungan yang linear antara durasi, frekuensi, dan sudut kemiringan postur dengan tingkat keparahan postur janggal

    Analisis Insiden Alat Angkut Material pada Area Hauling dengan Menggunakan Metode Bowtie di PT. XYZ Periode 2018-2020

    Get PDF
    Skripsi ini menganalisis insiden alat angkut material yang terjadi pada area hauling PT. XYZ periode 2018-2020 dengan menggunakan metode bowtie. Insiden kemudian dianalisis dengan bowtie untuk mengidentifikasi faktor risiko atau ancaman, pengendalian, konsekuensi, serta faktor dan kontrol eskalasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis insiden yang terjadi dengan metode bowtie agar dapat mengidentifikasi lebih lanjut kegagalan barrier yang menyebabkan insiden. Penelitian ini berbentuk kualitatif dengan desain case series dan data investigasi insiden sebagai unit analisis. Hasil dari penelitian menyarankan perusahaan untuk melakukan pengkajian ulang prosedur, standar, serta metode pengendalian pencegahan dan dokumen HIRA, melakukan workload analysis terhadap pengawas, meningkatkan pengawasan terhadap faktor manusia serta peningkatan performa teknologi pengendalia

    Karakteristik Epidemiologi COVID-19 Tahun 2020 – 2021: Studi Potong Lintang di Provinsi Riau

    Get PDF
    Data terkait karakteristik epidemiologi COVID-19 di Indonesia masih langka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan epidemiologi COVID-19 berdasarkan dimensi orang, tempat dan waktu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar upaya intervensi yang lebih optimal dan tepat sasaran. Penelitian cross sectional ini memasukkan seluruh kasus konfirmasi COVID-19 dari sepuluh Kabupaten dan dua Kotamadya di Provinsi Riau dari tanggal 18 Maret 2020 hingga 9 Oktober 2021. Kami menggunakan analisis univariat dan bivariat untuk mendeskripsikan karakteristik epidemiologi COVID-19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 122.497 kasus COVID-19, 51,3% kasus adalah perempuan. Median umur 35 tahun (IQR: 24 - 49 tahun), 52,1% kasus kelompok umur 26 hingga 51 tahun, 0,4% kasus re-infeksi COVID-19, 3,3% kasus meninggal, 87,3% kasus dengan isolasi mandiri/ fasilitas khusus, dan 70,5% tempat tinggal kasus di wilayah daratan. Waktu sakit tertinggi atau puncak gelombang COVID-19 pada tanggal 18 – 24 Oktober 2020 (1.891 kasus), tanggal 23 – 29 Mei 2021 (4.444 kasus), dan tanggal 25 – 31 Juli 2021 (9.536 kasus). Kelompok umur, status kasus, dan tempat tinggal memiliki hubungan signifikan dengan kejadian COVID-19 berdasarkan jenis kelamin. Tingginya kasus pada umur produktif berkontribusi terhadap tingginya kesembuhan kasus COVID-19. Perlu dilakukan upaya preventif seperti bekerja dari rumah pada kelompok usia produktif serta meningkatkan perawatan dan pengobatan pada laki-laki risiko tinggi dengan pertimbangan bertambahnya usia dan faktor komorbiditas

    Perbandingan Kadar Hemoglobin Santriwati Sesudah Konsumsi Tablet Tambah Darah Ditambah Edukasi Video Singkat Dengan Hanya Konsumsi Tablet Tambah Darah

    Get PDF
    Latar Belakang. Anemia adalah keadaan kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 12 mg/dL. Sebanyak 48,9% remaja putri di Indonesia mengalami anemia. Penyebab utama anemia adalah kekurangan zat besi. Dilakukan upaya promosi dan pencegahan yaitu peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi, serta pemberian Tablet Tambah Darah (TTD).Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar Hb santriwati sesudah mengonsumsi TTD disertai edukasi video singkat dengan santriwati yang hanya mengkonsumsi TTD.Metode. Rancangan penelitian berupa kuasi eksperimen disain pra-postes dengan kontrol. Populasi adalah santriwati dengan sampel 37 orang secara purposive. Variabel eksperimen adalah pemberian TTD selama empat minggu disertai edukasi video singkat bagi kelompok intervensi, dan hanya pemberian TTD selama empat minggu bagi kelompok kontrol. Variabel terpengaruh adalah kadar Hb. Hasil. Sesudah intervensi, kadar Hb kelompok intervensi naik 0,3 mg/dL sedangkan kelompok kontrol naik 0,8 mg/dL namun tidak ada perbedaan secara statistik (p>0,05). Tidak ada perbedaan secara statistik (p = 0,588) perubahan kadar Hb antara kelompok intervensi dan kontrol.Kesimpulan. Tidak ada perbedaan secara statistik mengenai perubahan kadar Hb antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol ABSTRACTBackground. Anemia is a condition where the hemoglobin (Hb) level is less than 12 mg/dL. 48.9% of female adolescent in Indonesia was anemic. The main cause is iron deficiency. The efforts are promoting, preventing, and increasing consumption of iron-rich foods and giving iron tablets.Objectives. Knowing the Hb level difference of female students after consuming iron tablets accompanied by short video education with female students who only consumed iron tablets.Method. Quasi-experimental, pre-posttest with control design. The population is female students, with a sample of 37 people taken purposively. The experimental variable gave iron tablets for four weeks accompanied by a short video for the intervention group and only gave iron tablets for four weeks for the control group. The affected variable was Hb levels.Results. After the intervention, the Hb level in the intervention group increased by 0.3 mg/dL while the control group increased by 0.8 mg/dL but didn’t show a statistical difference (p>0.05). There was no statistical difference (p 0.588) in Hb level change between the intervention and control groupsConclusion. There was no statistical difference in Hb level change between the intervention and control groups

    SOCIAL DISTANCING POLICY AS A MEANS OF IMPROVING PUBLIC AWARENESS DURING COVID-19 PANDEMIC: A LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    To reduce COVID-19 transmission during the epidemic, most countries implemented a social distancing policy. However, without the people's compliance, this implementation will be useless. The combination of individual and environmental variables is critical to the success of initiating and maintaining health behaviors. The purpose of this study is to assess public participation toward obedience social distancing policy as a means of improving public awareness during COVID-19 pandemic. A literature review was used in this research. PubMed, Google Scholar, and ProQuest, with a cut-off date of 29 June 2021, were used to do an electronic search with no language constraints. There were ten included studies. Several research looked at the impact of combining social distancing strategies with other interventions such as school closure, reduced contact with the community, antiviral treatment and prophylaxis, and immunization. This study proves that social distancing has a good effect if the general public implements it well. More research is needed to determine the factors that influence the efficacy of social distancing strategies. In order for the community to comply with social distancing policies during the epidemic, the government must also be more aggressive in pursuing policy violators

    1,119

    full texts

    1,218

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇