Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
Hubungan Tingkat Berat Jenis Urin dengan Keluhan/Gangguan Kesehatan akibat Pajanan Panas pada Pekerja Konstruksi Depo LRT
Latar belakang : Pekerja konstruksi di Indonesia merupakan pekerja yang rentan terhadap dampak negatif dari bahaya pajanan panas yang berasal dari lingkungan. Data penelitian sebelumnya menyatakan ada lebih dari 80% pekerja konstruksi yang mengalami dehidrasi dan 100% pekerja konstruksi mengalami keluhan/gangguan kesehatan akibat pajanan panas. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara dehidrasi (berdasarkan tingkat berat jenis urin) dan keluhan/gangguan kesehatan akibat pajanan panas pada pekerja konstruksi depo Light-Rail Transit (LRT). Metode : Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dari data sekunder pengukuran iklim lingkungan kerja, kuesioner pekerja konstruksi, dan berat jenis urin pekerja konstruksi depo LRT tahun 2021. Hasil : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat berat jenis urin pekerja dengan keluhan/gangguan kesehatan akibat pajanan panas yang dialami pekerja. Kesimpulan : Pekerja dengan tingkat berat jenis urin tidak normal (>1,020) atau mengalami dehidrasi lebih berisiko untuk mengalami lebih banyak keluhan/gangguan kesehatan akibat pajanan panas dibandingkan pekerja dengan tingkat berat jenis urin normal (≤1,020) atau memiliki status hidrasi yang baik
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stres pada Tenaga Bantuan KKP Kelas I Soekarno-Hatta di Era Pandemi Covid-19 Tahun 2021
Pekerja dapat mengalami stres, termasuk Tenaga Bantuan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Selama Pandemi COVID-19, tenaga bantuan KKP melakukan pengawasan terhadap COVID-19. Dengan beban kerja yang dimiliki dan rasa lelah memungkinkan tenaga bantuan mudah merasakan stress. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stres pada Tenaga Bantuan KKP Kelas I Soekarno-hatta. Pada penelitian ini menggunakan desain studi analitik yaitu cross-sectional. 90 Tenaga Bantuan yang bertugas di KKP Kelas I Soekarno-Hatta sejak Januari sampai Oktober 2020 merupakan populasi penelitian. 74 diantaranya merupakan sampel penelitian dengan kriteria telah bertugas lebih dari 4 minggu. Teknik purposive sampling digunakan dalam pengambilan sampel. Variabel bebas penelitian yaitu faktor internal terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan, status pernikahan, lama kerja, motivasi, kelelahan, dan kondisi fisik. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari beban kerja dan penggunaan APD. Variabel terikat yang diteliti adalah kejadian stres diukur menggunakan DASS-21. Data dikumpulkan dengan pengisian kuesioner online melalui Google Form. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian pada 82,22% Tenaga bantuan yang memberikan respon, menunjukkan motivasi kerja (Nilai P = 0,015; OR = 7,32; 95% CI:1,46–3,56), kelelahan (Nilai P = 0,002; OR = 6,68; 95% CI: 1,95–22,88), dan beban kerja (Nilai P = 0,005; OR = 7,33; 95% CI: 1,79 – 29,95) berhubungan secara signifikan dengan kejadian stres. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stres yaitu motivasi kerja, faktor kelelahan, dan faktor beban kerja. Dapat disimpulkan, ketiga faktor tersebut mempengaruhi terjadinya stres pada Tenaga Bantuan KKP Kelas I Soekarno-Hatta
ANALISIS RESUME MEDIS RAWAT INAP TIDAK LENGKAP DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP MASAAKI: SORT, STRAIGHTEN, SCRUB, SYSTEMATIZE, SUSTAIN (5S) DI RSU PARAMA SIDHI SINGARAJA BALI
Pelayanan dan penyelenggaraan resume medis yang berkualitas telah menjadi salah satu dari indikator muru pelayanan rumah sakit saat ini, angka ketidak lengkapan data catatan medis (KLPCM) RSU Parama Sidhi sebesar 17,1%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki kelengkapan pengisian resume medis oleh DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) melalui implementasi konsep Sort, Straigthen, Scrub, Systematize, dan Sustain (5S) dengan melihat adanya hubungan antara penerapan S terhadap kelengkapan pengisian resume medis dan mencari upaya perbaikan berdasarakan pada continues improvement. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan analisa kuantitatif dan kualitatif, dengan dua sumber data yaitu data primer dan data skunder. Pada data sekunder hasil penelitian sebanyak 1362 berkas didapatkan 26,80 % berkas resume medis yang tidak lengkap. Dari analisa univariat didapatkan ketidaklengkapan pengisian resume medis rawat inap data administrasi sebesar 1,8%, dan pada data klinis didapatkan ketidak lengkapan terbanyak pada pengisian diagnosa kerja/ diagnosa awal sebesar 26% dan terkecil pada pengisian diagnosa akhir sebesar 19,2%. Data primer menggunakan instrument kuisioner implementasi 5S, data univariat komponen Scrub (S3) memiliki implemetasi tertinggi sebesar 81%, namun dalam implementasi terendah pada komponen Sytematize (S4) sebesar 19% sehingga saran yang dapat dilakukan adalah kembali melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan SPO serta melakukan sosialisasi, melakukan perbaikan dalam pembentukan formulir dan mekanisme penataan berkas, serta membentuk kebijakan pelayanan yang berupaya dalam mengatasi keterbatasan waktu DPJP dalam pelayana
Sugary Food and Beverages Consumption, Family History, and Primary Dysmenorrhea in Undergraduate Students, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia
Primary dysmenorrhea is the most common gynecological problem experienced by women of reproductive age and can interfere with daily activities. Therefore, the aim of this study was to determine the prevalence and differences in the proportion of primary dysmenorrhea based on individual factors (duration of menstrual bleeding, family history, physical activity, stress) and diet (breakfast habits, frequency of saturated fat consumption, omega-3 consumption, iron consumption, frequency of consumption of dairy products, caffeine consumption, and frequency of consumption of sugary foods and beverages). This study used a cross-sectional design and involved 150 regular undergraduate students in the 2019-2022 batch of Faculty of Public Health Universitas Indonesia who were selected with a systematic random sampling technique. Data were collected by filling out an online questionnaire and analyzed with chi square test and multiple logistic regression. Results showed that 61.3% of female students experienced primary dysmenorrhea. Bivariate analysis showed that there was a significant difference (p value < 0.05) in the proportion of primary dysmenorrhea based on family history, caffeine consumption, and frequency of consumption of sugary foods and beverages. Multivariate analysis showed that the frequency of consumption of sugary foods and drinks (OR = 4.8) and family history (OR = 4.7) were the two most influencing factors associated with the incidence of primary dysmenorrhea. This study shows that the frequency of consumption of sugary foods and beverages and family history increase the risk of primary dysmenorrhea
THE INFLUENCE OF HOSPITAL BRAND IMAGE ON PATIENT'S DECISION TO CHOOSE HOSPITAL: LITERATURE REVIEW
People nowadays with different characteristics are very selective when choosing medical services. Hospitals as service providers are expected to have a good brand image which is the patient's perception of a brand. It is built by trust in care and knowledge about the hospital. The hospital's brand image makes patients recognize and differentiate them from others. Patient selection of health care facilities is a complex process. The brand image expected to had a direct effect on hospital selection. This article explains the influence of hospital brand image on patients' decisions to choose a hospital. The method used is a literature review study and sources from online academic media such as Mendeley. Studies related to the field of health services and searched for using valid keywords. We found 48 articles, and after evaluation, eight selected articles were included in this study. From various studies, we found that brand image positively impacts patients' decisions in choosing a hospital. A hospital's brand image will influence patient perceptions of service quality. The social aspect and marketing communication strategy have proven to be excellent induction processes for establishing a brand image in the minds of consumers
Analisis Hubungan Stres Kerja dengan Kecelakaan Kerja pada Pekerja Konstruksi Proyek Pembangunan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen Paket 1 (Seksi 1) Tahun 2023
Pekerja konstruksi merupakan profesi dengan tingkat risiko yang tinggi. Banyak dijumpai kasus pekerja konstruksi mengalami stres akibat pekerjaannya, bahkan hingga terjadi kecelakaan kerja. Faktor yang berkontribusi pada kejadian stres kerja ini meliputi bahaya fisik dan faktor psikososial, namun tidak menutup adanya kemungkinan pengaruh dari karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan stres kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen Paket 1 (Seksi 1) pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Faktor-faktor yang diteliti di antaranya yaitu tingkat stres kerja, faktor bahaya fisik berupa iklim kerja, faktor psikososial yang meliputi konten pekerjaan (desain tugas, beban kerja, dan jadwal kerja) dan konteks pekerjaan (peran dalam organisasi, hubungan interpersonal, dan kepuasan kerja), serta karakteristik individu yang dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja. Sebanyak 260 pekerja konstruksi berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 234 pekerja konstruksi (90%) mengalami tingkat stres sedang dan 154 pekerja (59.2%) mengalami kecelakaan kerja. Ditemukan hubungan antara stres kerja dan kecelakaan kerja. Berdasarkan hasil yang didapatkan, perlu dilakukan upaya pengendalian terhadap pajanan stres kerja dan faktor-faktornya yang terdapat pada proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen untuk meminimalisasi terjadinya stres pada pekerja hingga kecelakaan kerja
Pemetaan Stunting, Wasting, dan Obesitas Berdasarkan Kondisi Geografis di Kota Palembang
Saat ini Indonesia mengalami masalah “triple burden”, yaitu tingginya kasus stunting dan wasting serta masalah gizi berupa obesitas dan kekurangan zat gizi mikro. Prevalensi stunting di Kota Palembang berada pada angka 14,3%, wasting 7,8%, dan obesitas 5,6%. Secara tidak langsung, kondisi geografis merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemetaan kejadian stunting, wasting, dan obesitas di Kota Palembang berdasarkan kondisi geografisnya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi deskriptif menggunakan data sekunder yang kemudian dianalisis dengan software QGIS. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita yang ada di Kota Palembang dengan sampel balita stunting, wasting, dan obesitas yang ada di Kota Palembang. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kasus stunting banyak ditemukan pada wilayah kecamatan padat penduduk di bantaran sungai dan membetuk pola mengelompok, kasus wasting banyak ditemui pada wilayah kecamatan dengan ketersediaan jumlah pasar yang sedikit, dan kasus obesitas banyak ditemui pada wilayah yang memiliki banyak rumah makan/restoran. Dengan dilakukannya pemetaan ini dapat diidentifikasi wilayah-wilayah yang lebih rentan beserta faktor dan karakteristik wilayah tersebut yang mungkin mempengaruhinya sebagai langkah awal dalam menentukan program dan kebijakan penanggulangan yang tepat dan efisien untuk masing-masing wilayah
FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI PADA KEIKUSERTAAN SEKTOR FORMAL DALAM SKEMA ASURANSI KESEHATAN SOSIAL: NARATIVE REVIEW
Berbagai negara di dunia telah berupaya menuju target Universal health coverage, termasuk negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Meskipun bersifat mandatory, sektor formal tidak secara otomatis ikut menjadi peserta dalam asuransi kesehatan sosial. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan faktor yang berkontribusi keikusertaan sektor formal dalam asuransi kesehatan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif review. Studi ini berfokus pada faktor yang ikut berkontribusi pada keikutsertaan sektor formal dalam skema asuransi kesehatan sosial. Kami mengidentifikasi artikel yang terpilih sesuai dengan kriteria inklusi meliputi sektor formal, bahasa inggris dan bahasa Indonesia, mengadopsi asuransi sosial dan artikel yang terbuka untuk diakses. Kami kemudian mengumpulkan artikel terpilih dan akhirnya, kami mensintesis apa saja faktor yang berkontribusi akan kepesertaan sektor formal dalam skema asuransi kesehatan sosial. Kami menemukan bahwa keikutsertaan sektor formal ke dalam asuransi kesehatan sosial berkaitan dengan faktor: skema wajib, pengetahuan sektor usaha/perusahaan, finansial perusahaan, jenis perusahaan, risiko yang mungkin dialami perusahaan dan persepsi terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Studi ini menemukan beberapa faktor yang berkontribusi pada keikutsertaan sector usaha dalam asuransi kesehatan sosial. Factor yang bersifat struktur/kebijakan, pengetahuan tentang kebijakan asuransi sosial dan kualitas layanan dari supply side perlu menjadi perhatian pemerintah dalam upaya perluasan pada kelompok ini
Rendahnya Skor Methods Information Index (MII) dan Faktor-Faktor Terkait: Analisis Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 dan 2017
Informed choice memastikan bahwa pilihan kontrasepsi modern diputuskan perempuan setelah menerima informasi lengkap tentang metode kontrasepsi yang tersedia. Indeks informasi yang disebut Methods Information Index (MII) mengukur tiga elemen, yaitu efek samping masing-masing metode, kemana harus berobat jika efek samping muncul, dan perlu berganti ke kontrasepsi mana. Pemberian informasi lengkap tentang ketiga elemen MII merupakan pemenuhan etika dan hak-hak reproduksi perempuan. Penelitian ini menyajikan temuan rendahnya skoring MII di Indonesia, cermin dari tinggginya persentase perempuan pengguna kontrasepsi yang tidak menerima informasi lengkap dan faktor-faktor terkait. Sebanyak 45.607 dan 49.627 perempuan usia 15-49 tahun yang tercakup dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017 yang menjadi sampel. Data dianalisis menggunakan statistik regresi logistik yang memperlihatkan korelasi antara skoring MII dengan variabel bebas. Variabel bebas terdiri dari usia perempuan menikah 25 tahun ke atas, tingkat pendidikan menengah ke atas, akses pelayanan KB di bidan dan fasilitas kesehatan, serta pengguna metode IUD terkait dengan peluang lebih besar untuk menerima informasi MII lengkap. Proporsi perempuan penerima informasi MII lengkap adalah 24,60% (2012) dan 28,65% (2017). Lebih dari 70% perempuan pengguna kontrasepsi modern belum mendapatkan informasi MII lengkap. Perlu diupayakan agar program keluarga berencana memonitor peningkatan skoring indeks MII untuk memastikan perempuan pengguna kontrasepsi Indonesia terpenuhi haknya untuk mendapatkan informasi MII lengkap
Efektivitas Vaksinasi terhadap Tingkat Keparahan Covid-19
Vaksin COVID-19 terbilang efektif untuk mengendalikan pandemi, namun pemberian vaksinasi belum tentu dapat 100% menjamin seseorang terhindar dari COVID-19, vaksin COVID-19 bisa mencegah dari tingkat keparahan COVID-19. Tujuan penelitian ini untuk melihat besaran risiko faktor prediktor yang mempengaruhi derajat keparahan COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain studi crossectional dengan purposive sampling. Sampel berjumlah 1530 responden, diambil dari seluruh kasus positif COVID-19 yang berada di 4 puskesmas di Kabupaten Bandung pada Desember 2021 hingga Mei 2022 dan memiliki ketersediaan data lengkap. Data dianalisis dengan menggunakan software analisis dengan Regresi Logistik. Hasil penelitian didapatkan bahwa odds responden yang belum mendapat vaksin sebesar 2,8 kali untuk mengalami tingkat keparahan COVID-19 dibandingkan subjek penelitian yang sudah booster. Jenis vaksin AstraZeneca 1,8 kali mengalami tingkat keparahan COVID-19 dibandingkan vaksin Pfizer. Vaksinasi terbukti dapat mencegah keparahan COVID-19 namun tidak dapat mencegah tertular COVID-19