Faculty of Public Health Journal Universitas Indonesia
Not a member yet
1218 research outputs found
Sort by
ANALYSIS OF THE IMPLEMENTATION OF MENTAL HEALTH POLICY AT KEDAUNG HEALTH CENTER, SUKATANI HEALTH CENTER AND LIMO HEALTH CENTER IN DEPOK CITY
Mental health is one of the important indicators of health services that must be provided. Diagnosing and long-term treatment are challenges in handling mental health disorders. Puskesmas, which organizes promotive, preventive, and curative efforts, handles and improves community mental health. This study aims to determine the implementation of mental health policies in several Health Centers in Depok City. The research method uses a qualitative approach through in-depth interviews, document review by referring to the concept of policy evaluation from the Van Meter framework, and data validity using source and method triangulation. This research was conducted from October to December 2020. The results showed that several mental health implementation activities were not carried out due to the constraints of the COVID-19 pandemic situation, social restriction policies, the size and objectives of the policy were understood and had been implemented, the characteristics of the implementing agency supported the policy, the lack of availability of human resources and competence in the field of mental health, inter-organizational communication went well, the disposition of implementers was good, and there was an influence of the economic, social and political environment. The research concludes that the implementation of mental health policies has not gone well due to the COVID-19 pandemic, social restrictions, lack of human resources, and competence in mental health. It is necessary to develop SOPs that regulate the implementation of mental health during a pandemic, including mitigation efforts and coaching, training, and increasing the competence of health workers at public health centers
Faktor-Faktor Terjadinya Kematian Neonatal Di Indonesia (Analisis Data Sdki 2017)
Kematian neonatal merupakan masalah yang harus diselesaikan dalam SDGs. Sama halnya di Indonesia, masih adanya ketimpangan antara target RPJMN 2020-2024 untuk menurunkan angka kematian neonatal menjadi 10 per 1000 kelahiran hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya kematian neonatal di Indonesia sebagai salah satu cara untuk mencapai target RPJMN. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan analisis data sekunder SDKI 2017. Sampel yang digunakan penelitian ini adalah 34.972 wanita usia subur usia 15-49 tahun yang pernah melahirkan di Indonesia. Analisis menggunakan pembobotan dan analisis yang digunakan adalah analisis spasial, Chi-Square, dan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan faktor sosial-ekonomi (pekerjaan ibu dan status kekayaan), faktor ibu (usia ibu, paritas, jarak kehamilan, dan komplikasi persaslinan), faktor bayi (berat badan lahir), dan faktor pelayanan kesehatan (antenatal care dan penolong persalinan) dengan kejadian kematian neonatal. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel BBLR (P value<0,0001; POR=12,58; 95% CI=8,07-19,63), paritas (P value=0,001; POR=2,29; 95% CI=1,38-3,80) serta pekerjaan ibu (P value=0,002; POR=2,11; 95% CI=1,32-3,36) masuk ke dalam model akhir multivariat. Simpulan penelitian ini menyatakan bahwa BBLR merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian kematian neonatal di Indonesia
Analisis Kematian COVID-19 dengan Standardisasi Usia Berdasarkan Wilayah di Indonesia periode Maret 2020 – Mei 2021
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan jenis penyakit menular baru yang sampai saat ini masih ditetapkan sebagai pandemi. Berbagai studi menyebutkan risiko kematian COVID-19 lebih tinggi pada kelompok lanjut usia terutama dengan riwayat penyakit penyerta. Ketersediaan rumah sakit dan laboratorium pemeriksa COVID-19 yang tidak adekuat juga dapat memberikan pengaruh terhadap tingginya angka kematian COVID-19. Studi ini bertujuan untuk membandingkan tingkat kematian COVID-19 di wilayah Indonesia dengan mengontrol variabel usia serta didukung dengan analisis ketersediaan rumah sakit dan laboratorium pemeriksa COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional) dengan data sekunder laporan COVID-19 nasional di Kementerian Kesehatan periode Maret 2020 – Mei 2021. Analisis dilakukan dengan metode standardisasi langsung terhadap variabel usia sehingga dihasilkan nilai Age Standardized Mortality Rate (ASMR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian COVID-19 di Indonesia tertinggi yaitu pada kelompok lanjut usia (>65 tahun). Setelah dilakukan standardidasi, pulau Jawa (3,82 per 100 kasus) dan pulau Sumatera (3,76 per 100 kasus) menjadi wilayah dengan rate kematian tertinggi. Berdasarkan provinsi, rate kematian tertinggi yaitu provinsi Sumatera Selatan (6,14 per 100 kasus), Jawa Timur (5,93 per 100 kasus) dan Aceh (5,59 per 100 kasus). Ketersediaan rumah sakit berbanding terbalik dengan jumlah kematian COVID-19 yang dilaporkan. Sedangkan, ketersediaan laboratorium pemeriksa COVID-19 berbanding linier dengan jumlah kasus konfirmasi COVID-19 yang dilaporkan. Ketersediaan rumah sakit dan laboratorium pemeriksa COVID-19 harus didukung dengan sarana penunjang operasional. Penelitian ini menjadi penting terutama bagi pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menentukan prioritas kelompok intervensi serta mendukung upaya percepatan penanggulangan pandemi COVID-19
Relationship Between Muscle Dysmorphia and other Factors with Supplement Consumption Among Selected Gym Members in Jakarta
Ergogenic supplements can enhance exercise performance. However, many gym members use them without consulting professionals such as nutritionists/dietitians, increasing the risk of adverse effects. This study investigates the consumption of ergogenic supplements and factors associated with them among members of selected fitness centers in Jakarta. This cross-sectional study was conducted on 116 participants from 3 fitness centers in Jakarta. The independent variables studied were Muscle Dysmorphia, Exercise Addiction, self-esteem, body image, age, gender, exercise duration, exercise experience, exercise intensity, and social media exposure. Data was collected via interviews based on a prepared questionnaire. Results showed that 67.2% of the respondents had used ergogenic supplements, with the majority using whey protein for muscle enhancement reasons. The main sources of information were friends (39.7%) and the internet (37.2%). The chi-square test showed a significant relationship between male gender (OR = 3.055; 95%CI: 1.298—7.188), exercise experience of 7—12 months (OR = 5.4; 95%CI: 1.621—17.991), and >1 year (OR = 5.091; 95%CI: 1.910—13.571) with supplement consumption. In conclusion, this study unveils a high prevalence of ergogenic supplement consumption, particularly whey protein for muscle enhancement, among fitness center members
Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Fungsi Paru Masyarakat di Sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Penyebab utama kelainan fungsi paru adalah kebiasaan merokok dan diperburuk oleh faktor lain seperti polusi udara dan paparan bahan kimia. Residu dari aktivitas pembangkit listrik tenaga uap yang salah satu bahan bakarnya batubara dapat menurunkan kesehatan paru-paru dalam jangka panjang atau menyebabkan penyakit karsinogenik kronis. Abu terbang sebagai residu berpotensi terlepas ke udara dalam jumlah yang dapat terhirup dan beracun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi paru-paru warga sekitar PLTU X. Penelitian cross-sectional dilakukan pada 146 orang yang dipilih menggunakan purposive sampling dan tinggal di sekitar PLTU X. COPD Assessment Test (CAT) dan kuesioner mMRC digunakan untuk mengumpulkan data. Data dianalisis menggunakan metode regresi logistik. Penelitian ini menemukan 17,81% responden kategori CAT sedang-berat dan 23% menunjukkan mMRC 2. Faktor yang mempengaruhi penurunan fungsi paru masyarakat sekitar PLTU X adalah jenis kelamin (POR=0,31; 95% CI=0,11-0,87), riwayat penyakit infeksi paru (POR=5,74; 95% CI=2,18-32,09), dan pendapatan (POR=0,31; 95% CI=0,11-0,87). Faktor risiko yang paling mempengaruhi penurunan fungsi paru masyarakat sekitar PLTU X pada skor CAT dan mMRC adalah jenis kelamin laki-laki, riwayat penyakit menular, berpendapatan rendah, dan memelihara hewan di dalam dan sekitar rumah
FAKTOR PADA PERAWAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEPSI MELAPORKAN KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN (KTD) DI RUMAH SAKIT PRIMA MEDIKA DENPASAR TAHUN 2020
Rumah sakit merupakan tempat pelayanan kesehatan yang komplek dan padat resiko, keselamatan pasien sangat penting untuk meningkatan mutu rumah sakit, salah satu caranya adalah dengan melaporkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD). Perawat memiliki kontak paling lama dengan pasien sehingga menjadi komponen terpenting dalam pelaporan KTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi melaporan KTD di Rumah Sakit Prima Medika Denpasar tahun 2020. Rumah Sakit Prima Medika Denpasar merupakan rumah sakit swasta tipe C. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian cross sectional dengan sampel penelitian 140 perawat yang dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2020. Didapatkan gambaran persepsi perawat yang tidak pernah melaporkan KTD sebesar 63.6% karena tidak pernah menemukan kejadian KTD atau mungkin pernah mendapat kejadian KTD tetapi tidak berani mealpor. Variabel yang berhubungan signifikan dengan persepsi melaporkan KTD oleh perawat adalah variabe sikap (p value = 0.002), pendidikan (p value = 0,046), porsi beban kerja berat (p value = 0,003 ) dan porsi beban kerja ringan (p value = 0,026 ). Variabel yang paling berpengaruh adalah sikap perawat ( OR 4,33 ). Saran antara lain adalah rumah sakit menumbuhkan sikap positif perawat dalam hal melaporkan KTD dengan memberikan penghargaan kepada yang melapor, rumah sakit melakukan pelatihan keselamatan pasien secara rutin dan regular, shif kerja malam selama 12 jam perlu di evaluasi
Determinan Kematian Bayi Ditinjau dari Perilaku Kesehatan Ibu : Tinjauan Literatur
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih belum mencapai target SDGS tahun 2030 dan RPJMN tahun 2020-2024 pada bidang kesehatan. AKB perlu diperhatikan karena merupakan indikator sensitif untuk mengukur keberhasilan pencapaian pembangunan kesehatan dan juga mengukur pencapaian indeks modal manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mereview determinan perilaku kesehatan ibu terhadap kejadian kematian bayi dengan metode literature review. Penelusuran literature dilakukan di database PubMed, Portal Garuda, Semantic Scholar, dan Google Scholar. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah artikel penelitian yang terbit pada 2016-2022, menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta menggunakan desain studi observasional. Hasil akhir dari proses pencarian studi di database, didapatkan sebanyak 13 artikel yang masuk ke analisis. Segara garis besar, hasil penelitian dari 13 studi menunjukkan bahwa perilaku kesehatan ibu yang negatif seperti tidak melakukan kunjungan ANC, tidak memberikan IMD, ASI dan imunisasi dapat meningkatkan risiko kematian bayi. Oleh karena itu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam menurunkan angka kematian bayi adalah berfokus kepada peningkatan perilaku kesehatan ibu seperi kunjungan ANC, pemberian IMD, ASI, serta imunisasi
ANALYSIS IMPLEMENTATION OF THE SUPERVISION ROLE COMMISSION IX OF DPR RI IN THE HEALTH PROGRAM FOR THE 2014-2019 PERIOD: CASE STUDY IN THE PRIMARY CARE DOCTOR PROGRAM
Prolonged health problems have been recurring for a long time have raised questions abouthealth program anditssupervisory. The supervisory function carried out by Commission IX of the DPR RI on its partners from the government continues to be carried out in various ways. However, analysis has never beenconducted to assess whether the various supervisory activities have been effective. This study uses a qualitative method based on phenomena, symptoms, facts, or social informants. Informants are determineddirectly basedon the principles of appropriateness and adequacy. The data is then converted into transcript form, then analyzed, and a Logical Framework is created. This study shows that Commission IX's supervision of the Primary Care Doctor (Dokter Layanan Primer/DLP) Program is ineffective because the program is regulated in the Medical Education Law which is a product of Commission X DPR RI and involves The MinistryofResearchandEducation(Kemenristekdikti), which is not a working partner of Commission IX DPR RI. Supervision by Commission IX of DPR RI on work partners can positively influence partners' performance improvement. However, it is difficult to conclude that the increase in performance is entirely due to oversight from Commission IX of DPR RI. The supervisory function of Commission IX DPR RI for the DLP Program did not work effectively because the program was regulated in the Medical Education Law which was a product of Commission X DPR RI and involved Kemenristekdikti which was not a working partner of Commission IX DPR RI
PERILAKU PETUGAS MEDIS DALAM MERUJUK PASIEN ANTENATAL CARE (ANC) KE RUMAH SAKIT
Tingginya rujukan dapat meningkatkan beban kerja rumah sakit dan mengakibatkan bertambahnya biaya klaim ke BPJS Kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku petugas medis puskesmas dalam merujuk pasien antenatal care ke rumah sakit. Metode penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan Health Belief Model. Informan dipilih menggunakan teknik purposive. Data dikumpulkan menggunakan panduan wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen di salah satu puskesmas di Kota Palembang. Validasi data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber, metode, dan data. Studi ini menggunakan analisis isi sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan petugas medis merujuk pasien antenatal care ketika terdapat indikasi penyakit dan pasien resiko tinggi. Rumah sakit dipilih berdasarkan pertimbangan jarak antara rumah pasien dengan rumah sakit. Rujukan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan kapitasi. Hambatan dalam merujuk pasien Antenatal Care lebih kepada hambatan dari luar berupa hambatan teknis. Petugas medis memiliki kepercayaan diri dan mengetahui batasan dalam merujuk pasien. Petugas medis melakukan pemeriksaan dan memastikan kondisi pasien sebelum melakukan rujukan. Adanya rujukan yang tinggi disebabkan karena adanya permintaan rujukan dari pasien. BPJS Kesehatan diharapkan mengadakan koordinasi dengan puskesmas untuk mengatasi kendala kendala yang dirasakan petugas medis dalam merujuk pasien
The Effect of COVID-19-related Occupational Stress and Burnout in Referral Hospital Nurses
Nurses' continuous contribution to patient health makes them prone to occupational stress, which has been exacerbated during the COVID-19 pandemic. Occupational stress that lasts for a long time and is not resolved may cause burnout. Burnout experienced by nurses can impact patients, hospital services, and themselves. This study aimed to determine the effect of occupational stress on the incidence of nurse burnout during the COVID-19 pandemic. It used a quantitative approach with a cross-sectional design. The study sample was 235 nurses in six COVID-19 referral hospitals in West Sumatra from a proportional random sampling technique. Data were collected using a digital questionnaire distributed via a Google Forms link from February to April 2022. The results showed that the stress level of nurses was most commonly moderate (68.1%), and the burnout level was most commonly low (82.1%), with a significant effect of occupational stress on burnout. This study reveals the effect of occupational stress on the burnout of nurses treating COVID-19 patients