TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
ARSITEKTUR MASJID WAWOANGI DI DESA WAWOANGI KECAMATAN SAMPOLAWA KABUPATEN BUTON SELATAN: 1627-2000
Artikel ini bertujuan untuk untuk menjelaskan (1) bentuk arsiktektur Masjid Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan: 1627-2000, (2) makna simbol-simbol pada arsitektur Masjid Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan tahun 1627-2000. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Arsitektur pada bangunan masjid Wawaongi memiliki keunikan, yaitu Masjid Wawoangi tidak memiliki kubah dan bentuknya seperti rumah. Masjid Wawoangi memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Keraton Buton, tetapi dalam ukuran lebih kecil. Bangunan ini mempunyai empat tiang sanggah yang terbuat dari kayu jati yang kokoh, dengan ukuran panjang sekitar 6 meter. Masjid Wawoangi memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 9 x 12 meter. Bangunan masjid berdiri di atas pondasi yang disusun dengan menggunakan batu gunung, dengan tinggi 1 meter sampai 2 meter yang mengikuti bentuk permukaan tanah yang menurun. Terdapat mihrab di bagian sisi barat dengan panjang 2,20 meter dan lebar 1,90 meter yang menonjol ke arah barat. Masjid juga memiliki serambi di bagian kanan dan kiri bangunan masjid dengan ukuran lebar 1,5 meter dan mengikuti panjang pada badan bangunan masjid. (2) Makna simbol-simbol pada arsitektur Masjid Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan yakni (a) Ganda (Beduk), beduk atau ganda dalam bahasa Sampolawa digunakan sebagai penanda waktu sholat (b) Ukiran kaligrafi yang pertama bertuliskan "Laillahailaullah Muhammad Dorasullah" yang ditempatkan di atas mihrab atau tempat imam (c) Guci atau guri dalam bahasa Sampolawa yang artinya adalah tempat air
ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILLS PADA BERITA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA LESTI KEJORA DI HARIAN CNN.COM EDISI SEPTEMBER-OKTOBER 2022
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi salah satu isu hangat pada media termasuk media online. Korban KDRT sebagaian besar adalah kaum perempuan, namun ada kemungkinan kaum laki-laki juga bisa mengalaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) posisi subjek-objek dalam tujuh artikel berita yang dimuat cnnindonesia.com dengan topik KDRT; (2) posisi penulis-pembaca dalam tujuh artikel berita yang dimuat cnn.com dengan topik KDRT. Peneliti menggunakan metode campuran yaitu, kuantitatif sebagai penarikan sampel data, dan deskriptif kualitatif sebagai analisis data. Deskriptif kualitatif data penelitian adalah kutipan mengenai analisis wacana kritis Sara Mills. Sumber data penelitian ini adalah artikel berita cnn.com yaitu berita mengenai Lesti Kejora Mengalami Kekerasan dalam Rumah Tangga Berulang Kali yang terbit pada Sabtu, 8 Oktober 2022; Hasil Visum Lesti Alami Luka Memar di Leher Hingga Tangan Rabu 05 Oktober 2002; Pengacara Rizki Billar duga Lesti Dikompori untuk Lapor Polisi Kamis 06 Oktober 2022; Pengacara Lesti Buka Suara Soal Peluang Rizki Billar Bebas Jumat 14 oktober 2022; Lesti Kejora Cabut Laporan Netizen Kesal pada Minggu, 16 Oktober 2022; Lesti Kejora Jawab Kekecewaan Penggemar Usai Cabut Laporan, Jumat, 14 Oktober 2022; Anak Jadi Alasan Lesti Cabut Laporan Jumat 14 Oktober 2022. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada teks media, perempuan digambarkan sebagai korban KDRT dan posisi perempuan selalu disalahkan. Subjek pemberitaan cenderung merasionalisasi KDRT dengan menyalahkan korban dalam hal ini perempuan. Para komentator juga memiliki perspektif yang berbeda. Sisi pertama mendukung korban. Pihak kedua, mencoba menyalahkan korban dengan tuduhan yang tidak terbukti
Citra Perempuan Korban Rudapaksa dalam Madame Baptiste Karya Guy De Maupassant
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan citra perempuan korban rudapaksa dalam cerpen Madame Baptiste karya Guy de Maupassant melalui perspektif feminisme. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan kata, frasa, dan kalimat dalam cerpen Baptiste karya Guy de Maupassant yang menggambarkan citra perempuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca berulang teks cerita pendek, mencatat, memperhatikan setiap kalimat dan dialog yang terdapat dalam cerita pendek, lalu mengklasifikasikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Madame Baptiste sebagai korban dari ketidakadilan merepresentasikan citra diri perempuan pada abad ke-19 yang terdiri atas aspek fisik, aspek psikis, citra sosial dalam keluarga dan masyarakat. Stigmatisasi keperawanan terdapat pada cerpen Madame Baptiste. Tuduhan-tuduhan yang tidak pernah hilang akibat rudapaksa yang dialami perempuan membuktikan bahwa perempuan sebagai korban pada abad 19 justru harus menderita dan menaggung stigma negatif dari masyarakat
BERLAYAR SEBAGAI AKTIVITAS KULTURAL ETNIS KULISUSU: FAKTA KEMANUSIAAN DONGENG-DONGENG KULISUSU
Sebagai sebuah produk kultural, karya sastra selalu mengandung apa yang diistilahkan Goldmann sebagai fakta kemanusiaan. Fakta kemanusiaan dapat berupa perilaku ataupun aktivitas manusia. Fakta kemanusiaan yang dijabarkan dalam penelitian ini adalah fakta kemanusiaan aktivitas kultural, yaitu karakteristik budaya yang terkait dengan kehidupan masyarakat. Objek yang diteliti adalah 12 dongeng etnis Kulisusu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann sebagai pijakannya. Hasil penelitian ini menyimpulkan aktivitas berlayar sebagai fakta kemanusiaan aktivitas kultural dalam cerita rakyat Kulisusu. Dari kumpulan cerita rakyat tersebut ditemukan bahwa dalam kehidupan masyarakat Kulisusu di masa lampau, berlayar bukan hanya aktifitas mencari nafkah tapi telah menjadi budaya dan karakteristik dari etnis ini. Ada tiga jenis mata pencaharian masyarakat yang dapat ditemukan dalam kumpulan cerita ini, yaitu bertani, melaut, dan berlayar. Pekerjaan bertani dan melaut hanya dilakukan oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Sementara berlayar dilakukan oleh laki-laki dari kelas bawah, menengah, kaum bangsawan, hingga raja (Lakino Lipu). Di masa lalu, berlayar telah menjadi semacam kebiasaan yang membentuk kebudayaan masyarakat bahwa laki-laki pada hakikatnya melakukan pelayaran
KEHIDUPAN KOTA JAKARTA DALAM NOVEL RE: DAN PEREMPUAN KARYA MAMAN SUHERMAN (KAJIAN KRITIK MIMESIS)
Penelitian ini berjudul Kehidupan Kota Jakarta dalam Novel Re: dan peRempuan karya Maman Suherman Kajian Kritik Mimesis. Kehidupan Kota Jakarta yang tergambar di dalam novel dianalisis menggunakan kajian kritik mimesis. Kritik mimesis menilai hubungan karya sastra dengan kenyataan dan menilai sejauh mana karya sastra menggambarkan kenyataan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan kata, kalimat yang ditemukan dalam novel, beserta berbagai data dari media daring, artikel atau jurnal serta buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa refleksi tentang kehidupan kota Jakarta digambarkan melalui klasifikasi kejahatan, kehidupan prostitusi, dan harapan dan gaya hidup masyarakat urban
Perilaku Masyarakat dalam Pemanfaatan Pekarangan Rumah dalam Rangka Mewujudkan Kemandirian Pangan Keluarga di Desa Wakorambu Kabupaten Muna
This study describes the community\u27s behavior in utilizing home yards to achieve family food self-sufficiency in Wakorambu Village, Muna Regency. The objective is to analyze the behavior of the Wakorambu Village community in utilizing home yards as productive land. The research employs a qualitative method with a descriptive analysis model. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The study results show that the behavior of the community in utilizing home yards is influenced by three main factors: (1) adequate yard size, allowing the community to grow various types of plants; (2) soil fertility that supports plant growth without requiring significant additional fertilizers, and (3) active use of home yards, ensuring the land is not left idle. Residents who utilize their home yards significantly improve their family income. The study recommends that communities who have not yet utilized their home yards should start managing them optimally to gain more significant economic and environmental benefits
The Role of Women in Climate Change Adaptation in Langkai Island, Makassar, Indonesia
This study aims to determine women\u27s role in climate change adaptation on Langkai Island. This study uses a descriptive qualitative approach to describe the role of women on Langkai Island as an adaptation to climate change. The research was conducted on Langkai Island, Makassar, Indonesia, July 5-10, 2024. The informants numbered 12 people, including women, members of non-governmental organizations (NGOs), and local government officials. The results show that women on Langkai Island have an important role in families and coastal communities, managing small businesses and processing their husbands\u27 catches, as part of climate change adaptation. They formed the Merpati Putih business group to address income instability, which processes octopus and fish into value-added products. Empowerment programs that improve financial skills and literacy help them manage family finances, reduce debt, and improve economic stability while contributing to the sustainability of coastal ecosystems
The Implementation of Dalihan Na Tolu Values as Christian Education in Approaching Domestic Violence Conflict Resolution
Domestic Violence (DV) remains a significant social issue in Indonesia, causing profound negative effects on individuals, families, and society at large. This study aims to explore how the integration of Dalihan Na Tolu values—an indigenous Batak cultural wisdom—with Christian education can contribute to the peaceful and harmonious resolution of DV conflicts. Dalihan Na Tolu emphasizes principles such as respect for family, gentle treatment of women, and mutual respect within the extended family, which align closely with Christian teachings on love, forgiveness, and reconciliation. The integration of Dalihan Na Tolu values with Christian education offers a holistic approach that combines the strengths of both cultural and religious frameworks in conflict mediation and resolution. Using a qualitative research method based on literature analysis, this study examines the application of values such as love, forgiveness, and reconciliation within the family context. The findings indicate that the combination of indigenous cultural wisdom and Christian education provides an effective and culturally relevant solution to address DV and promote family harmony. Therefore, the roles of the church, cultural leaders, and families are essential for successfully implementing this integrated approach. This research highlights the importance of leveraging both cultural and religious dimensions in developing comprehensive strategies to mitigate domestic violence and foster sustainable family well-being
Perubahan Komoditi dari Bertani Nilam ke Bertani Pisang Pada Masyarakat di Desa Aere Kecamatan Aere Kabupaten Kolaka Timur
This research aims to find out and describe the reasons for the transition from patchouli farming to banana farming in the community in Aere Village, Aere District, East Kolaka Regency and to describe the implications for the community of this change. Data collection was carried out using participant observation techniques and in-depth interviews. The data obtained was analyzed using adaptation theory according to John William Bennett. Data analysis is intended to simplify the data obtained so that it is easier to read and understand. The research results show that people who have switched from farming patchouli to bananas in 2021, have experienced economic sufficiency with an increase in their income. The transition that occurred in the Aere Village community was influenced by several things, namely; the production results of patchouli farmers are less than optimal, the land is no longer suitable for patchouli plants, the price of patchouli tends to fall, farming bananas is easier than patchouli, the types of bananas harvest bananas faster, and the price of bananas is relatively stable and market demand is high which makes people choose to switch commodities from patchouli farming to banana farming and have an impact on the economy which results in the movement or change in the position of a person or group at different times. And the social impact that occurs on the community, whether because an incident affects the community or other things within the community in Aere Village
Minuman Pongasi dalam Ritual Adat Tolaki
The pongasi drink in Tolaki traditional rituals is a legacy from our ancestors that has become a habit in society. This research aims to understand the existence of pongasi drinks in Tolaki conventional rituals in the past and present. This research reads data using two theories: functional structural theory according to Radcilffe-Brown (1979) and universal social evolutionary theory according to Herbert Spencer (1820). Data collection techniques in this research are involved observation, in-depth interviews and documentation. The results of this research show that pongasi drinks are drinks that must be served and cannot be separated from Tolaki traditional rituals. As time goes by, there are social changes in its existence, namely, apart from traditional Tolaki rituals, nowadays pongasi drinks have also been used as a medicine for tiredness, as a source of income, and as a link between communities. This can happen due to environmental factors in society which has now become a complex society. Thus, given these conditions, it can be understood that the pongasi drink in Tolaki traditional rituals can survive and change depending on the social structure in a societ