TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Penerapan Fungsi Public Relation Melalui Program CSR Dalam Pembentukan Citra Perusahaan
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Fungsi Public Relation Melalui Program CSR Dalam Pembentukan Citra Perusahaan. Perusahaan (PT Panca Logam Makmur) memiliki pilar-pilar tanggung jawab yang harus selalu dijaga agar tetap tegak sehingga mampu menopang keberadaan perusahaan di tengah-tengah masyarakat. Seiring dengan perkembangan kesadaran perusahaan akan pentingnya hubungan dengan masyarakat maka berkembang pula prinsip-prinsip manajemen salah satunya adalah Corporate Social Responsibility/CSR (tanggung jawab sosial perusahaan). Melalui program CSR berupaya untuk menciptakan kesan positif dari berbagai pihak agar dapat melanggengkan dan mendapatkan keuntungan dari masyarakat sekitar tambang dalam pengelolahan tambang emas. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, subjeknya adalah pihak manajemen PT. Panca Logam dan masyarakat sekitar pengelolahan tambang emas. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi pustaka/-dokumen, dan diskusi terfokus. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan statistic deskriptif. Hasil yang diinginkan dalam penelitian ini adalah menemukan pola baru dalam menciptakan citra positif PT. Panca Logam Makmur pada masyarakat sekitar beroperasinya tambang emas.
Kata kunci: public, relation, perusahaanABSTRACT
This study aims to determine the application of the Public Relations Function through CSR Program in Corporate Image Formation. The company (PT Panca Logam Makmur) has pillars of responsibility that must be kept, so as to shore up the company\u27s presence in the middle of the community. In a row with the development of the company\u27s awareness of the importance in developing a relationship with the community, hence, the developing of management principles, one of which is the management of Corporate Social Responsibility/CSR. Through CSR program strives to create a positive impression of the various parties in order to perpetuate and to get benefit from communities around mining in managing the gold mine. This study uses qualitative research. The subject is the management of PT. Panca Logam and surrounding communities of gold mine. Data was collected through observation, interviews, literature / documents, and focused discussions. The data were analyzed by qualitative and descriptive statistics. The result of this research has found new patterns in creating a positive image of PT. Panca Logam Makmur in the community around the operation of a gold mine.
Keywords: public, relation, compan
Reformasi Birokrasi Pemerintah
ABSTRAK
Birokrasi merupakan mesin utama dari sektor pemerintah. Birokrasi memfasilitasi pelaksanaan fungsi negara dan strategi-strategi pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan. Peran birokrasi pemerintah di Indonesia dalam mempromosikan barang-barang publik, melindungi bangsa, dan melanjutkan kekuatan ekonomi masih jauh dari harapan. Sayangnya, desain reformasi birokrasi yang diadopsi dan telah diimplementasikan oleh pemerintah tidak diarahkan oleh suatu teori yang konvergen. Desain reformasi birokrasi selain bersifat parsial juga belum menjangkau prinsip-prinsip tipe ideal birokrasi yang telah teruji daya tahannya secara universal. Makalah ini berasumsi bahwa birokrasi pemerintah Indonesia masih memerlukan proses rasionalisasi, belum pada taraf reformasi birokrasi. Pemerintah Indonesia masih harus berkonsentrasi pada usaha untuk merasionalkan birokrasi menuju birokrasi Weberian. Birokrasi masih memerlukan pembenahan dalam hal standardisasi dan formalisasi; pembagian kerja dan spesialisasi; hirarki otoritas; profesionalisasi; dan dokumentasi tertulis.
Kata kunci: birokrasi, reformasi, pemerintahABSTRACT
Bureaucracy is the main engine of the government sector. Bureaucracy facilitates the implementation of the government’s functions and strategies to achieve development goals. The role of government bureaucracy in Indonesia in promoting public goods, protecting the nation, and continuing economic strength is still far from expectations. Unfortunately, the design of bureaucratic reform that has been adopted and implemented by the government is not directed by a convergent theory. The design of bureaucratic reform is not only partial program, but it has not reached the principles of an ideal type of bureaucracy that has proven its durability as universal. This paper assumes that the Indonesian government bureaucracy still requires rationalization process, not on the level of bureaucratic reform. The Indonesian government should concentrate on efforts to rationalize the bureaucracy towards Weberian bureaucracy. Bureaucracy still needs improvement in terms of standardization and formalization; division of labor and specialization; hierarchical authority; professionalization, and written documentation.
Keywords: bureaucracy, reform, governmen
Pengaruh Etos Kerja Pegawai Terhadap Kinerja Organisasi pada Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan; (1) untuk mengetahui etos kerja pegawai terhadap kinerja organisasi pada Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara; (2) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh etos kerja pegawai terhadap kinerja organisasi pada Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan populasi penelitian adalah seluruh staf pegawai Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, dokumentasi. Model yang digunakan dalam menganalisis data adalah berbentuk regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menemukan bahwa; (1) etos kerja pegawai pada Kantor Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara yakni pada dimensi otonomi individu, menaruh kepercayaan, adanya dukungan, saling menghargai, dan pertumbuhan kepribadian, berpengaruh terhadap kinerja pada Kantor Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara, yakni pada dimensi akutanbilitas, responsibilitas, responsivitas, kualitas pelayanan dan produktivitas pegawai dalam organisasi; (2) variabel etos kerja (X) secara parsial berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja organisasi (Y) pada Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara dapat diterima atau terbukti. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukan variabel etos kerja (X) mempunyai nilai t hitung = 5,037 dengan signifikansi t = 0,000, jika dibanding dengan nilai (t) tabel = 1,671 dengan taraf signifikansi α = 0,05. Dengan demikian nilai t hitung atau nilai signifikan t < α = 0,05 dapat diartikan bahwa hipotesis pertama secara parsial yang diajukan dalam penelitian ini terbukti dapat diterima.
Kata kunci: etos kerja, kinerja, regresiABSTRACT
This study aims (1) to determine the work ethic of employees toward the organization\u27s performance at the Department of Crops and Horticulture of Southeast Sulawesi. (2) To determine how much the influence the work ethic of employees toward the organization\u27s performance at the Department of Crops and Horticulture of Southeast Sulawesi. The method of this study was survey. The population of this study was all officers in the Department of Crops and Horticulture of Southeast Sulawesi. Techniques of data collection were questionnaires, interviews, documentation. The model used in analyzing the data is in the form of simple linear regression. The Results of this study found that (1) work ethic of employees at the Department of Crops and Horticulture of Southeast Sulawesi province, namely the dimensions of individual autonomy, trust, the support, mutual respect, and personal growth, affected the performance of the Department of Crops and Horticulture of Southeast Sulawesi office, namely on accountability, dimensions, responsibility, responsiveness, quality of service and productivity of employees in the organization. (2) Variable of work ethic (X) is partially positive significant effected on organizational performance (Y) at the Department of Crops and Horticulture of Southeast Sulawesi acceptable or proven. Simple linear regression analysis showed variable work ethic (X) has a t value = 5.037 with a significance of t = 0.000 , when compared with the value of t table = 1.671 with a significance level α = 0.05. Thus, t value or significant t value < α = 0.05 could be interpreted that the first hypothesis was partially raised in this study proved to be acceptable.
Keywords: work ethic, performance, regressio
“Kalo Sara†Sebagai Alat Komunikasi dalam Sistem Kepemimpinan Tradisional Suku Tolaki: (Studi Di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara)
ABSTRAK
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif guna memperoleh gambaran tentang sistem kepemimpinan tradisonal masyarakat suku Tolaki; makna simbolik, peran dan fungsi kalo sara; dan gambaran kalo sara sebagai alat komunikasi sosial dalam sistem kepemimpinan tradisonal masyarakat suku Tolaki di Kabupaten Konawe. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemimpin menurut masyarakat suku Tolaki dibaratkan sebagai gunung batu besar yang kuat, pohon beringin besar yang kokoh yang mampu memberi solusi atas berbagai masalah dalam kehidupan sosial masyarakat dengan berpedoman pada kalo sara. Dasar hukum kepemimpinan mereka adalah berdasarkan hukum adat silsilah yang disebut “londara†atau “kukua†dimana pemimpin ditentukan berdasarkan latar belakang asal-usul keturunannya. Tipe-tipe kepemimpinan mereka memiliki ciri-ciri kesamaan dengan tipe-tipe kepemimpinan moderen yang sasarannya kepada orang-orang atau masyarakat yang dipimpin agar mau bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, pemimpin harus senantiasa berpedoman pada kalo sara yang sejak dulu telah menjadi simbol kebesaran dan sebagai alat komunikasi sosial diantara mereka dalam menjalani hidup bermasyarakat dan berpemerintahan.
Kata kunci: kalo sara, alat komunikasi, kepemimpinan tradisional, suku TolakiABSTRACT
The type of this research is a qualitative descriptive in order to gain an overview of the traditional system in traditional society of Tolaki ethnic; symbolic meaning, the role and function of kalo sara, and the description of kalo sara as a tool of social communication in the traditional leadership system of Tolaki communities in Konawe regency. The Results of this study indicated that the leaders based on Tolaki communities described as a strong big rock, a solid big banyan tree that able to provide solutions to various problems in the social life of the community based on the kalo sara. The legal basis of their leadership was based on common law pedigree called "londara" or "kukua" where the leader was determined based on the background of genealogy. Their leadership types had similar characteristics with modern leadership types that targeted to the people or community that led to work together towards a common goal. In performing its duties and obligations, the leader must be guided by kalo sara which had been a symbol of greatness and as a means of social communication among social life and self-governing society.
Keywords: kalo sara, tools communication, leadership traditional, Tolak
Mendorong Kebijakan Partisipatif dalam Mengentaskan Kemiskinan: Studi Kasus Implementasi BLSM di Kota Kendari
Penelitian ini bertujuan mengkaji dari sisi proses implementasi kebijakan BLSM. Berdasarkan perspektif tersebut, suatu program berhasil jika pelaksanaan program sesuai denganpolicy guidelines yang telah ditentukan. Metode penelitian pemantauan implementasi BLSM inibersifat eksploratif dengan maksud untuk mengetahui bagaimana proses implementasi BLSM dilapangan serta menemukan berbagai masalah yang muncul sekitar implementasi program tersebut. Penelitian ini merupakan studi kasus di Kota Kendari menggunakan pendekatan kualitatif. Informan penelitian adalah Kantor Pos selaku penyalur Kartu Perlindungan Sosial (KPS), Statistik sebagai penyedia data Rumah Tangga Sasaran (RTS), Dinas Sosial Kota Kendari, 4 orang TKSK, 3 orang Kepala Kelurahan, dan Bappeda Kota (TKPK). Kesimpulan penelitian yakni: (1) Jika melihat dari persiapan program, pelaksanaan, penyaluran KPS, dan dana secara umum dikatakan berhasil. Indikator secara umum yakni penyaluran tahap I BLSM di Kota Kendari mencapai prosentase 94,78 %. Untuk Provinsi Sulawesi Tenggara yakni 97,91 %. Prosentase di atas lebih tinggi secara nasional yang hanya mencapai 92,70 %; (2) Sosialisasi juga masih lemah yang terlihat mulai dari tahap persiapan,pelaksanaan, sampai dengan pembayaran, lebih banyak diadakan hanya khusus untuk jajaran pemerintah dengan desain yang sangat sentralistik, dan waktu yang agak mepet sehingga mereka tidak terlalu memahami setiap tahapan pelaksanaan program BLSM. Keterpaduan dan koordinasi antar lembaga belum terlihat dengan jelas; (3) Koordinasi yang tidak nyambung antar pelaksana program di lapangan (street bureaucracy level). Saran penelitian yakni (1) perlu kebijakan yang partisipatif untuk mengakomodasi keanekaragaman karakteristik dan tuntutan lokal; (2) perlu dibentuk komite BLT yang melibatkan berbagai unsur terkait. Komite ini bertugas untuk melakukan pendekatan langsung berupa dialog kepada masyarakat untuk merespons aksi protes masyarakat akibat dugaan salah sasaran. Hasil pertemuan bisa menyepakati pendaftaran ulang mereka yang berhak menerima bantuan BLSM secara lebih terbuka.
Kata kunci: monitoring implementation, BLSM, kebijakan partisipatif.This research aims to examine the process of implementation of BLSM policy. Based on that perspective, a program will success if the realization of the program is appropriate with the given guidelines policy. The method of observing BLSM implementation is explorative with objectives to find out how the process of BLSM implementation in the field as well as to note various problems that occurred around the implementation itself. This research is a case study in Kendari using qualitative approach. The informants of this study are Post office as the supplier of social protection card, statistics as the data provider of targeted households, social department of Kendari, 4 people of TKSK, 3 chiefs of sub districts, and Bappeda Kota (TKPK). The conclusions of this study are: (1) if it is seen from the program preparation, implementation, channelization step 1 of BLSM in Kendari which reached 94,78 %. For Southeast Sulawesi, it is 97,91 %. This percentage is higher than national level which only reached 92,70 %; ( 2) socialization it is also still weak, seen from the stage of preparation, implementation, until the payment which were conducted more for only government party with very centralistic design, and a bit hurried time sothat they do not really understand every phase of implementation of BLSM program. In addition, the cohesiveness and coordination among departments is not clear yet; (3) The unconnected coordination in conducting the program in the field (street bureaucracy level). Suggested Research are: (1) need local participative policy aimed to accommodate the diversity in local characteristics and demand; (2) the local government at the Kecamatan level immediately forms a BLT that involved various stakeholders. This committee was created to respond to community protest actions resulting from suspecting wrong target. The result of meeting can agree also immediately under took the reregistration in a more open.
Keywords: monitoring implementation, BLSM, participative policy
Sejarah Hubungan Kekerabatan Masyarakat Kota Kendari
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk (1) untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan raja-raja kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tenggara; (2) untuk mengkritisi perkembangan jejaring sosial, budaya, ekonomi, dan politik di Kota Kendari; (3) mengkritisi perkembangan jejaring system kekerabatan masyarakat Kota Kendari; (4) untuk mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat ditampilkan untuk menjahit jejaring hubungan kekerabatan di Kota Kendari. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yakni bulan juli sampai dengan bulan september tahun 2011. Tempat penelitian di Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan structural. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode dokumen, metode pengamatan langsung, dan metode wawancara mendalam terhadap informan terpilih. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan kekerabatan raja-raja kerajaan-kerajaan di Kota Kendari terbangun sejak awal berkembangnya hubungan dagang dan diplomasi antar kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan Tenggara bahkan meluas di Nusantara. Hubungan kekerabatan etnik-etnik di Kota Kendari terbangun melalui jejaring sosial melalui relasi sosial, budaya yaitu persamaan bahasa, falsafah, dan budaya fisik dalam bentuk bangunan yaitu arsitektur, ekonomi melalui jejaring perdagangan, dan politik silsilah raja-raja. Sistem kekerabatan masyarakat Kota Kendari telah berkembang sejak masa perdagangan di kawasan timur Indonesia, terbentuknya Kabupaten Sulawesi Tenggara, dan terbentuknya Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada tonggak-tonggak sejarah itu inklud perkawinan antar keluarga yang membentuk o rapu, rapu, dan kapolo serta wititinae. Pada etnik-etnik di Kota Kendari terbentuk nilai-nilai: Kebersamaan dalam satu o rapu yang saling memeberi dan menerima. Nilai kapolo kebersamaan keluarga-keluarga yang berhubungan satu dengan lainnya dalam jaringan yang luas karena perkawinan antar o rapu etnik-etnik dan menyatakan komitmen untuk saling memelihara, saling memajukan dan saling melindungi baik ancaman dari dalam maupun luar.
Kata kunci: hubungan, kekerabatan, o rapuABSTRACT
The objectives of this study are (1) to identify the kinship kings kingdoms relationship in Southeast Sulawesi, (2) to criticize the development of social networks, cultural, economic, and political in Kendari city. (3) To criticize the development of kinship system networks of Kendari. (4) To identify any values that can be shown to sew kinship networks in Kendari. The research was conducted for 3 months that located in in Kendari. This research is qualitative by using a structural approach. The data was collected by applying the method of the document, direct observation, and in-depth interviews of the informants. The data collected was analyzed as qualitatively. This study found that kinship kings kingdoms relationship in Kendari built in early development of trade and diplomatic relations between the kingdoms in South and Southeast Sulawesi widespread even in the archipelago. Ethnic kinship relationship in Kendari city developed through social networking like social and culture relations such as language equations, philosophy, and physical culture in the form of building such as architecture, economies through trade networks, and political genealogy of the kings. The kinship system of Kendari has evolved since the time of trade in eastern Indonesia, the formation of the District of Southeast Sulawesi, and Southeast Sulawesi province. On the milestones included the marriage alliances that form o rapu, rapu, kapolo, and wititinae. The ethnics in Kendari form values: Togetherness in one o rapu is mutual giving and receiving. The value of kapolo is togetherness of families related to each other in a vast network for o rapu ethnic intermarriage and expressed their commitment to maintain, to promote, and to protect each other from threats both inside and outside.
Keywords: relationship, kinship, o rap
PEMETAAN PERMASALAHAN KRIMINALITAS PADA ANAK: ANAK BERMASALAH DENGAN HUKUM DI KOTA TOMOHON PROVINSI SULAWESI UTARA
This study was conducted to seek answer questions relating to child criminal chases among others: (i) criminal forms of what children do and what causes it, (ii) what are the problems faced by children with problems of law ranging from arrest, litigation and while in prison,; (3) the rights of children who are in prison based on Law No. 12 of 1995 on Corrections and also about the protection of Children Act No. 23 of 2002. The purposes of this study were: (1) to describe the forms of crimes commited by children, the causes of violations of law, and family background; (2) an inventory of child problematic legal issues ranging from the arrest and trial process; (3) an inventory of child problematic legal issues while in prison (problem: clothing, food, rooms, health, education, psychological, safety, recreation, access to information, and so on); (4) to reveal the fulfillment of the rights of Children who have a legal trouble that stayed in prison accordance with Law No. 12 of 1995 on Correctional and the Law on Child Protection No. 23 of 2002 that have been fulfilled or not. The research respondents were 21 as residents of Tomohon prison under 18 years old. The case that brought them to prison, generally consist six kinds of cases. The case categorized as severe, moderate, and mild. The Severe cases murder, rape, and stabbing. Molestation was categorized medium, while the light cases were theft and fights. Not all law cases especially mild cases ended with immurement, but they were placed on daycare for a while. There were some problems faced by children during in prison: (1) lack of prison facilities to support the development of children, especially in terms of education, health, and skills; (2) there was physical violence that commited by officer such as kicked and slapped, (3) as well as sexual harassment form the officer toward the child. This study concluded that the main causes of child law problem in Tomohon prison were; fights, molestation, murder, stabbing, woman or rape, and theft. During detention, children with problems of law were not comprehensive and less sensitive. The growth of children towards positive still questionable. Therefore, the expected involvement of all parties or all stakeholders for handling legal problems of children in a comprehensive and sensitive, so that they can help in a positive growth, both intellectual and emotional intelligence as well as their life skills
Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil di Rampea Jaya Desa Burangasi Rumbia Kecamatan Lapandewa Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan persiapan pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) pada calon lokasi pemukiman Rampea Jaya, antara lain untuk meningkatkan taraf hidup/kesejahteraan masyarakat melalui program (1) penyediaan sarana dan prasarana sosial ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan dasar Komunitas Adat Terpencil (KAT); (2) penyiapan SDM KAT yang berkualitas dan mandiri agar mampu menyerap nilai-nilai baru yang muncul bersamaan dengan program pembangunan yang diterapkan, tanpa harus melepaskan nilainilai budaya tradisional yang dianut dan telah berakar dalam kehidupan mereka secara turuntemurun; dan (3) peningkatan peran aktif KAT dalam rangka memelihara dan mendaya gunakan potensi pembangunan di bidang sosial, ekonomi dan budaya, serta lingkungan setempat.Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik wawancara mendalam dan partisipasi observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah kepala keluarga yang tergolong kategori komunitas adat terpencil di Rampea Jaya sebanyak 76 KK (323 jiwa); dengan kondisi kehidupan kominitas adat terpencil (KAT) di Rampea Jaya memiliki rumah kurang layak huni, kehidupan keluarga kurang memenuhi kriteria hidup sehat, kesadaran tentang arti dan manfaat pendidikan formal sangat rendah, pemanfataan lahan kurang maksimal, belum ada bimbingan dan penyuluhan yang intensif dari berbagai sektor; kesediaan calon warga binaan untuk diberdayakan dalam Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil sangat tinggi; pemantapan rencana pemberdayaan komunits adat terpencil di Rampea Jaya, telah didukung oleh surat hibah dari warga yang memiliki lahan yang disaksikan oleh tokoh masyarakat (parabela) serta dukungan dari pemerintah setempat, dan SKPD yang terkait seperti Dinas Kehutanan; dengan mempertimbangkan aspirasi calon warga binaan dan aparat Desa Burangasi Rumbia serta hasil pengkajian/pengamatan lapangan, maka pengkaji menetapkan bahwa calon lokasi pemberdayaan di Rampea Jaya, dinilai layak untuk dijadikan lokasi pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil tahun 2013; dan calon lokasi yang ditetapkan dinilai cukup memiliki berbagai sumberdaya yang potensial dikembangkan untuk mendorong peningkatan kesejahteran warga KAT. pemberdayaan komunitas adat terpencil, sumber daya yang potensial