TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Analisis Relasi Sosial dan Ekonomi Pedagang dengan Bank Keliling di Pasar Tradisional

    No full text
    Traditional markets are economic spaces that allow for direct negotiations between sellers and buyers to meet daily needs such as household goods, agricultural products, and seafood. In this context, mobile banks serve as an alternative source of capital for small traders who have difficulty accessing formal financial institutions. This research was conducted in Pasar Minggu, Bengkulu City, with the aim of analyzing the social and economic relationships between traders and mobile banks. The study employed dependency theory and a qualitative approach to understand the unequal economic relationship patterns resulting from the inferior position of traders who rely on financial resources from mobile banks. Data were collected through unstructured interviews, two months of observation, and documentation, using a purposive method for selecting informants. The results revealed four main findings: money lending practices among Pasar Minggu traders, the role of trust in lending, information dissemination patterns about mobile banks, and the emergence of financial dependence on mobile banks. The study concluded that although mobile banks play a role in assisting small businesses with capital, the resulting relationship patterns actually create long-term economic dependence for the traders

    JEMBATAN TELUK KENDARI DAN DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT (2015-2023)

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk untuk menjelaskan  awal pembangunan Jembatan Teluk Kendari di Kota Lama Kendari. Serta untuk menjelaskan dampak pembangunan Jembatan Teluk Kendari terhadap penduduk Kandai dan masyarakat sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pembangunan Jembatan Teluk Kendari dibentuk pada tahun 2015 hingga selesai dan diresmikan pada tahun 2020, dengan tujuan utama untuk meningkatkan konektivitas antardua kecamatan dan memajukan perekonomian. Dalam pembangunan infrastruktur yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. Penganggaran dalam proyek pembangunan jembatan teluk Kendari ini melibatkan dana dari APBN sebesar Rp. 800 miliyar. Untuk pemilihan lokasi merupakan langkah krusial dalam pembangunan jembatan teluk Kendari. Proses pembangunan jembatan teluk Kendari memiliki kendala yang berkaitan aspek sosial dan budaya hingga memiliki suatu permasalahan dengan masyarakat di Kelurahan Kandai, namun dengan pendekatan persuasif, negosiasi hingga akhirnya mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. (2) Jembatan teluk Kendari memiliki dampak terdapat penduduk Kota Kendari dan masyarakat sekitarnya. Dampak yang ditimbulkan kebanyakan lebih ke dampak positif. Hal tersebut mencakup dengan aspek perekonomian masyarakat, mempermudah akses trasportasi dan juga aspek sosial budaya. Dampak negatifnya jembatan teluk Kendari mengakibatkan hilangnya pemukiman etnis Tionghoa dan kerusakan pada peninggalan sejarah di kawasan kota lama Kendari. Terdampat juga dampak negatif lainnya yang timbul dari masyarakat seperti meningkatkan jumlah kendaraan, dan lain sebagainya

    SEJARAH DESA LATAWE KECAMATAN NAPANO KUSAMBI KABUPATEN MUNA BARAT: 1986-2022

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor yang melatarbelakangi  terbentuknya Desa Latawe di Kecamatan Napano Kusambi Kabupaten Muna Barat tahun 1986-2022. Penelitian ini juga membahas tentang perkembangan Desa Latawe di Kecamatan Napano Kusambi Kabupaten Muna Barat tahun 1986-2022. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah desa dengan menggunakan pendekatan multidimensional. Metode yang digunakan adalah metode sejarah. Menurut Kuntowijoyo, (2013: 69-81) metode sejarah terdiri atas lima tahapan di antaranya; pemlihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Desa Latawe adalah sebagai berikut; (1) jumlah penduduk. Jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang mendukung terbentuknya desa tersebut. Berhubung Desa Latawe saat itu penduduknya sudah memenuhi 400 jiwa, maka sesuai ketentuan undang-undang tentang pembentukan desa, Latawe telah terpenuhi dan dapat dibentuk menjadi desa yang difinitif. (2) luas wilayah dan letak geografis. Luas wilayah dan letak geografis sangat mendukung terjadinya pembentukan Desa Latawe. Secara keseluruhan desa ini memiliki luas wilayah sekitar 13,14 km2. Dengan luas wilayah yang dimiliki, masyarakat Latawe dominan menggunakan lahannya sebagai tempat perkebunan, peternakan bahkan juga dimanfaatkan sebagai lahan perikanan (tambak ikan) bahkan desa ini sebenarnya tergolong desa pesisir. (3) sosial budaya, faktor ini juga merupakan pendukung terbentuknya Desa Latawe. Secara umum Latawe telah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat sejak terbentuknya menjadi desa yang mandiri. Kemajuan Desa Latawe dapat dilihat di bidang pemerintahan, ekonomi, sosial budaya, politik, serta sarana dan prasarana. Bidang-bidang tersebut telah mendorong kemajuan Desa Latawe ke arah yang lebih baik

    AGAMA KRISTEN PROTESTAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA DI KAMPUNG MOWEWE (1916-2010)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Latar belakang Kristenisasi di Kampung Mowewe, (2) Perkembangan agama Kristen Protestan di Kampung Mowewe, (3) Strategi yang diterapkan Zending dalam menyebarkan agama Kristen Protestan di Kampung Mowewe? (4) dampak penyebaran agama Kristen Protestan terhadap kehidupan sosial budaya di Kampung Mowewe. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang dijelaskan oleh Gottschalk yang terdiri dari 4 tahap di antaranya (1) Heuristik (pengumpulan sumber) (2) Verifikasi, (3) Interprestasi, dan (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1). Mowewe merupakan perkampungan terpencil dengan kondisi masyarakat yang masih jauh dari peradaban. Faktor ini menjadikan utusan NZV (Hendrick Van der Klift) tertarik untuk menjadikan Mowewe sebagai basis pusat pekabaran Injil (2). Perkembangan Kristen Protestan di Mowewe dapat dilihat dari jumlah pemeluknya yang terus mengalami peningkatan. Pelayanan Zending meluas hingga ke wilayah Sanggona, Moronene (Bombana) hingga Lambuya serta berkembangnya sarana dan prasarana umum di bidang keagamaan, pendidikan dan kesehatan (3) Strategi Zending yang digunakan dibagi dalam dua kelompok yakni strategi umum di antaranya aktivitas diakonia, kesaksian pribadi dan penerjemahan alkitab. Untuk strategi khusus terdiri atas pelayanan di bidang pendidikan, strategi pelayanan kesehatan, pelayanan di bidang penyuluhan dan pertanian, bidang perekonomian dan kaderisasi kepemimpinan gereja bagi pribumi. (4) Dampak dari penyebaran agama Kristen Protestan di Mowewe terjadi dalam aspek sosial seperti pendidikan dan kesehatan sedangkan dalam sisi budaya terjadi perubahan dalam kepercayaan maupun adat istiadat

    PERKEMBANGAN DESA LAMAEO KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA, 1977-2023

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang terbentuknya Desa Labasa Kecamatan Tongkuno Selatan dan perkembangan Desa Labasa Kecamatan Tongkuno Selatan 1996-2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo dengan tata kerja metode sebagai berikut: (1) Pemilihan Topik, (2) Heuristik, (3) Kritik Sumber, (4) Interpretasi Sumber dan (5) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Desa Labasa merupakan wilayah yang terbentuk sejak tahun 1996 melalui hasil musyawarah masyarakat. Dahulu orang menyebutnya kampung Katumpu yang bermakna tempat berhenti atau pertemuan pembesar-pembesar atau utusan raja-raja dari Muna dan Buton. Pada Tahun 1966 berdasarkan kesepakatan para tokoh-tokoh kampung Katumpu disepakati dengan nama baru yaitu Desa Labasa. Dalam perjalanannya Desa Labasa telah dipimpin oleh beberapa orang Kepala Desa antara lain Bapak La Saata, Oskar Taate, Ahmad Jamaluddin dan La Ode Abdul Kadir Guru (2) Perkembangan Desa Labasa dapat dilihat dari segi pemerintahan yang berjalan sesuai dengan yang seharusnya, kemudian dari segi sarana pemerintahan, pendidikan dan sarana penunjang masyarakat lainya. Sarana Pemerintahan yang ada di Desa Labasa terdiri dari Kantor Desa, kantor BPD, Kantor LKM, Kantor PKK dan Balai Pertemuan. Adapun sarana pendidikan di Desa Labasa sudah lengkap yang dimulai dari TK sampai dengan tingkat menengah atas dan dari segi sarana penunjang lainya sudah terdapat total 7 sumur gali, 7 unit jamban keluarga, 1 unit pasar dan 2 unit infastruktur jalan tani. Perkembangan dari segi ekonomi juga dapat dilihat dengan semakin bertambahnya jenis usaha yang masyarakat lakukan dari yang awalnya hanya sekedar bertani saja

    DENOTATION AND CONNOTATION OF ALLEGORY IN SANGKURIANG FOLKLORE

    No full text
    This study explores the denotative and connotative meanings of allegory in the Sangkuriang folklore, a well-known Sundanese legend from Indonesia. The analysis aims to uncover how literal elements in the story such as the characters, setting, and events served as allegorical representations of cultural, moral, and philosophical values embedded within Sundanese society. This study employs a qualitative descriptive method with a semiotic approach to analyze the denotation and connotation of allegorical elements in the Sangkuriang folklore using a semiotic approach grounded in Barthes\u27 theory. The research identifies how the surface meanings (denotations) of the narrative components are linked to deeper symbolic meanings (connotations). The incestuous relationship between Sangkuriang and Dayang Sumbi is read as an allegory of human error and the consequences of ignorance. The study highlights how traditional folklore uses allegorical structure not merely for storytelling but for transmitting values and worldviews across generations. Through this study, Sangkuriang is revealed not only as a myth of origin but also as a repository of collective consciousness, where mythic imagination and moral teachings intertwine. The findings contribute to a deeper understanding of Indonesian folklore and its function as a cultural semiotic system

    REPRESENTASI IDEOLOGI LIBERALISME DALAM NOVEL MALIKA KARYA FAIKA BURHAN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi ideologi liberalisme dalam novel Malika karya Faika Burhan. Penelitian ini menggunakan teori ideologi liberalisme John Locke, mencakup enam prinsip dasar yaitu individualisme, rasionalisme, kebebasan, tanggung jawab, keadilan, dan toleransi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa fenomena dan upaya tokoh dalam novel Malika karya Faika Burhan menunjukkan adanya pelegalan kebebasan yang direpresentasikan mencakup enam prinsip dasar dalam konsep ideologi liberalisme yang dikemukakan John Locke, Prinsip individualisme diwujudkan oleh tokoh Malika yang mengekspresikan identitas gendernya, sementara rasionalisme tercermin pada tokoh Puang Kasing dan Candra yang memperjuangkan hak yang tertindas. Kebebasan ditunjukkan melalui ekspresi ketertarikan Malika pada sesama jenis, dan Candra yang memperjuangkan hak buruh dan kaum LGBT. Tanggung jawab digambarkan melalui kepedulian Malika terhadap keluarga dan perjuangan Candra terhadap hak-hak yang terpinggirkan. Keadilan tergambar pada upaya Farah dan Candra untuk menegakkan hak asasi manusia, meski keduanya menghadapi penindasan dari pihak berkuasa. Toleransi tercermin pada sikap Puang Kasing yang menerima perbedaan keyakinan dalam keluarganya. Novel Malika karya Faika Burhan, berupaya melegalkan ideologi liberalisme, namun upaya tersebut terhambat oleh berbagai ideologi lain yang mengontrol kebebasan demi melindungi struktur kekuasaan yang dominan. Temuan lain pada novel Malika karya Faika Burhan menunjukkan bahwa liberalisme dalam sudut pandang masyarakat Bugis, menghadirkan perspektif yang unik melalui karakter Malika, yang menunjukkan kebebasan berekspresi dan penerimaan diri tanpa melanggar nilai-nilai moral. Novel ini mengangkat isu-isu penting seperti kebebasan individu, hak asasi manusia, dan kebebasan berpendapat, sekaligus mendapatkan kritik tajam dari ideologi-ideologi yang berlawanan

    Loyalitas dalam Le ventre de Paris Karya Émile Zola

    No full text
    This study examines the French people\u27s loyalty to the government in the novel Le Ventre de Paris. As a naturalist author, Émile Zola depicts reality objectively, without manipulation or idealization. Through this novel, Zola depicts the life of society in his time with explicit and realistic details in the 19th century. The tension in society in this market divided society into anti-government and pro-government. This study will discuss the group loyal to the government, explaining how their loyalty is formed. This study\u27s results indicate that the supporting authority tends to be apathetic and prefers to obey the existing power for personal gain, without trying to encourage change, even though they witness injustice around them. The group supporting authority is individuals who benefit from the stability of the existing social order because the system guarantees their security, wealth, and social position. For them, the existence of authority is not only a tool to protect economic interests, but also a symbol of stability and order that they consider essential to maintain their lifestyle

    Kekerabatan Bahasa Tolaki dan Bahasa Mori (Pendekatan Linguistik Historis Komparatif)

    No full text
    Penelitian ini mengeksplorasi hubungan kekerabatan antara dua bahasa daerah Indonesia, yaitu bahasa Tolaki dan bahasa Mori. Berdasarkan sejarah migrasi suku di wilayah Sulawesi, penelitian ini mencari bukti-bukti keterkaitan historis dan linguistik antara kedua bahasa ini. Temuan utama meliputi identifikasi 107 pasangan kata yang berkerabat, termasuk 51 pasangan kata yang identik, 28 pasangan kata yang mirip secara fonetis, dan 28 pasangan kata yang memiliki satu fonem berbeda. Berdasarkan analisis data, kesimpulan penelitian menegaskan bahwa bahasa Tolaki dan bahasa Mori memiliki tingkat kekerabatan sebesar 54%, mengindikasikan bahwa keduanya berasal dari keluarga bahasa yang sama. Lebih lanjut, penelitian menetapkan bahasa Tolaki dan bahasa Mori merupakan bahasa tunggal pada 1.459 ± 186 tahun yang lalu. Bahasa Tolaki dan bahasa Mori merupakan bahasa tunggal pada 1.645—1.459 tahun yang lalu. Bahasa Tolaki dan bahasa Mori berpisah dengan bahasa proto antara 379-565 sebelum masehi (dihitung dari 2024).Penelitian ini mengeksplorasi hubungan kekerabatan antara dua bahasa daerah Indonesia, yaitu bahasa Tolaki dan bahasa Mori. Berdasarkan sejarah migrasi suku di wilayah Sulawesi, penelitian ini mencari bukti-bukti keterkaitan historis dan linguistik antara kedua bahasa ini. Temuan utama meliputi identifikasi 107 pasangan kata yang berkerabat, termasuk 51 pasangan kata yang identik, 28 pasangan kata yang mirip secara fonetis, dan 28 pasangan kata yang memiliki satu fonem berbeda. Berdasarkan analisis data, kesimpulan penelitian menegaskan bahwa bahasa Tolaki dan bahasa Mori memiliki tingkat kekerabatan sebesar 54%, mengindikasikan bahwa keduanya berasal dari keluarga bahasa yang sama. Lebih lanjut, penelitian menetapkan bahasa Tolaki dan bahasa Mori merupakan bahasa tunggal pada 1.459 ± 186 tahun yang lalu. Bahasa Tolaki dan bahasa Mori merupakan bahasa tunggal pada 1.645—1.459 tahun yang lalu. Bahasa Tolaki dan bahasa Mori berpisah dengan bahasa proto antara 379-565 sebelum masehi (dihitung dari 2024)

    Damage and Mitigation at Jabal Nur Cave and Niche Site, North Kolaka

    No full text
    This study aims to identify and explain the causes of damage and mitigation efforts at the Jabal Nur Cave and Niche Site in Jabal Nur Village, Kodeoha District, North Kolaka Regency. Utilizing a qualitative research method, data collection involved both literature review (secondary data) and direct field observation (primary data). Field data were gathered through interviews, documentation, and analysis of damage factors and their management. The findings indicate that damage at the Jabal Nur Cave and Niche Site includes physical, chemical, and biological weathering (due to plants and moss), vandalism, and temperature-induced deterioration. Mitigation efforts undertaken include designating the site as cultural heritage, installing information boards, and educating the local community.Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menjelaskan penyebab kerusakan serta upaya penanggulangan pada Gua dan Ceruk Jabal Nur di Desa Jabal Nur, Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara. Menggunakan metode kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan (sekunder) dan observasi langsung di lapangan (primer). Data lapangan dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, dan analisis faktor kerusakan serta penanganannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan di Gua dan Ceruk Jabal Nur meliputi pelapukan fisik, kimia, biologis (akibat tumbuhan dan lumut), vandalisme, serta kerusakan akibat fluktuasi suhu. Upaya penanggulangan yang telah dilakukan mencakup penetapan situs sebagai cagar budaya, pemasangan papan informasi, dan edukasi masyarakat setempat

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇