TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Tradisi Karia pada Masyarakat di Desa Masalili Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna
Research on Karia tradition aims to describe the process of implementing Karia tradition in Masalili Village, Kontunaga District, Muna Regency and analyze the meaning of materials and tools used in the process of implementing Karia tradition in Masalili Village, kontunaga District, Muna Regency. Research methods in data collection are conducted by observation techniques (observation), interviews and documentation. The informant technique uses purposive techniques. Data is analyzed by data collection techniques, data reduction, data presentation, and conclusion drawing (verification). Research methods in data collection are carried out by observation techniques (observation), interviews and documentation. The informant technique uses purposive techniques. Data is analyzed by data collection techniques, data reduction, data presentation, and conclusion drawing (verification). This research uses the theory of semiotics Charles Sanders Peirce posits that the theory of semiotics is based on logic, because logic studies how people reason besides it does signs that allow us to think relate to others and give meaning to what is displayed by the universe. The results of this study show that in the process of implementing the Karia tradition has 2 stages, namely (1) the preparation stage consisting of Karia participants and deliberation. (2) The implementation stages consisting of the recitation of the Bharasanji prayer (recitation of Sholawat), Kafoluku, Kaghombo, Kafosampu, Katandano Wite, Linda Dance, and finally Kaghorono Bhansa. The importance of materials and tools that contain meaning in the Karia procession, namely the collection of Kaghombo water, is interpreted as the purity of Karia participants, which means that all their ugliness has disappeared according to the pouring of Kaghombo water bathed by Pamantoto. Then the use of coconut mayang and areca nut (bhansa) is interpreted as that the Karia participants have grown up and. For the tools used in the accompaniment of the Karia procession, namely gongs and drums called rambi wuna which has a meaning as a sign of notification in the form of an invitation to the community to attend the Karia ceremony so that the atmosphere is always crowded
Ritual Pengobatan Maduai Kaka’ pada Suku Bajo di Desa Langara Bajo Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan
The Maduai Kaka\u27 Treatment Ritual is a ritual performed by the Bajo Tribe Community in Langara Bajo Village, West Wawonii District, Konawe Islands Regency. Inheritance pattern of the Maduai Kaka\u27 Medicine Ritual in Langara Bajo Village, West Wawonii District, Konawe Islands Regency. The research method used in this research is descriptive qualitative. Data collection was carried out by observation, interview and documentation techniques. The technique of determining informants used purposive techniques, the data were analyzed using data collection techniques, data reduction, data presentation, and drawing conclusions.The results showed that the process of carrying out the Maduai Kaka\u27 Treatment Ritual consisted of several stages, (1) the stage of disease diagnosis, this stage was the stage of examining the disease, (2) the stage of preparing tools and materials, (3) the stage of preparing the preparation of tools and materials this is the stage of preparing the offerings, (4) the stage of carrying out the treatment ritual, finally (5) the final stage of the treatment process. The function of the Maduai Kaka Treatment Ritual for the Bajo tribe in Langara Bajo Village, West Wawonii District, Konawe Islands Regency, namely (1) to maintain traditional ritual patterns (2) for treatment and (3) to reduce expenses. The pattern of inheritance in the Madua Kaka\u27s Treatment Ritual is obtained through traditional leaders, namely sandro/shaman who leads the maduai kaka\u27 treatment ritual, the type of inheritance of Madua Kaka\u27 is enculturation and socialization
EKSODUS AMBON DI DESA TIROAU KECAMATAN TOMIA TIMUR KABUPATEN WAKATOBI: 1999-2021
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menjelaskan latar belakang kehadiran Eksodus Ambon di Desa Tiroau. (2) Menjelaskan adaptasi sosial yang terjadi pada Eksodus Ambon di Desa Tiroau. (3) Menjelaskan faktor penghambat dan pendorong yang terjadi pada Eksodus Ambon di Desa Tiroau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sejarah menurut Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahap penelitian, yaitu: (a) Pemilihan Topik, (b) Heuristik Sumber, (c) Verifikasi Sumber (d) Interpretasi Sumber, dan (e) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang kehadiran Eksodus Ambon di Desa Tiroau diawali oleh konflik besar yang terjadi di Ambon sehingga menyebabkan banyak warga Ambon pindah meninggalkan Kota Ambon demi menghindari konflik, namun ada unsur lain masyarakat Eksodus Ambon untuk menetap di Desa Tiroau yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup karena keterbatasan lahan usaha (tanah) di daerah Ambon. (2) Adaptasi sosial masyarakat Eksodus Ambon dan penduduk lokal di Desa Tiroau terjalin melalui hubungan kerjasama melalui kegiatan gotong royong dengan menerapkan konsep saling mengajak dan bermusyawarah. (3) Faktor penghambat dan pendorong adaptasi sosial yang terjadi pada Eksodus Ambon di Desa Tiroau yaitu: Faktor Penghambat: (a) Perbedaan Budaya, (b) Perbedaan Bahasa. (2) Faktor Pendorong: (a) Penerimaan Oleh Masyarakat Setempat
PERPINDAHAN ORANG TIONGHOA DI KOTA KENDARI: DARI KOTA LAMA (KANDAI) KE MANDONGA 1990-2012
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan “Perpindahan Orang Tionghoa di Kota Kendari: Dari Kota Lama (Kandai) Ke Mandonga 1990-2012”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan penelitian, yaitu: 1) Pemilihan Topik, 2) Heuristik, 3) Kritik sumber, 4) Interpretasi Sumber, 5) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Proses perpindahan orang Tionghoa dari Kota Lama ke Mandonga yaitu pada tahun 1990 ketika orang Tionghoa yang berada di Kota Lama mulai mencari tempat yang ada di Kota Kendari. Hal tersebut dilakukan orang Tionghoa karena pembangunan yang Pemerintah Kota lakukan membawa dampak pada tempat perdagangan mereka yang ada di Kota Lama (Kandai). Orang Tionghoa dominan pindah ke Mandonga dengan jumlah kartu keluarga sebanyak 46, mereka memilih Mandonga karena posisi tempat tersebut strategis. Sebanyak 12 kartu keluarga tidak menyepakati perjanjian tersebut memutuskan untuk menetap di Kota Lama karena biaya kompenisasi yang diberikan pemerintah tidak sebanding dengan bangunan yang mereka miliki dan penyediaan lahan yang disediakan tidak di dapatkan secara merata. Selain itu ada yang tidak terkena pergusuran yang dilakukan PEMKOT. (2) Faktor yang menyebabkan Orang Tionghoa pindah dari Kota Lama ke Mandonga karena adannya penggusuran yang menyebabkan banyak Orang-orang Tionghoa terpaksa pindah karena adanya pembangunan jembatan sehingga lahan perdagangan mereka di gusur oleh pemerintah setempat
SEJARAH DESA DAHIANGO KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH (1981-2022)
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menjelaskan latar belakang terbentuknya Desa Dahiango Kecamatan Mawasangka, (2) Menjelaskan bagaimana perubahan sosial ekonomi masyarakat di Desa Dahiango. Penelitian ini menggunakan metode sejarah menurut Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahapan penelitian, yaitu: (a) Pemilihan topik, (b) Heuristik sumber, (c) Kritik sumber, (d) Interpretasi sumber, dan (e) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Penduduk Desa Dahiango berasal dari dua desa yaitu Desa Lolibu dan Desa Mone. Mereka datang ke Dahiango yang merupakan hutan belantara untuk berkebun. Mereka kemudian membuka lahan pada tahun 1981 dan pada perkembangannya jumlah penduduk mulai bertambah. Tahun 2007 wilayah ini resmi menjadi sebuah desa dan merupakan salah satu desa dari kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. (2) Kehidupan Sosial Ekonomi Desa Dahiango Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah tahun 1981-2022 secara umum menunjukkan perubahan yang sangat signifikan terutama dalam bidang pemerintahan, pelayanan umum, ekonomi, pendidikan, dan sarana prasarana
CONSTRUCTING WOMEN BEAUTY IN BROTHERS GRIMMS’ FAIRY TALES
Fairy tales are folk stories that present fantasy characters that are not only revealing educational values but also instilling ideology smootly. One of the most obvious is the patriarchal ideology that is believed to be able to influence women\u27s mindsets. This article shows how patriarchal ideology embebed in fairy tales written by the Brothers Grimm. Three fairy tales; Beauty and The Beast, Sleeping Beauty, and Rapunzel are closely related to patriarchal ideology when presenting female characters. Based on the concept of beauty myth in Naomy Wolf\u27s view, this article finds that there is a beauty myth that is trying to be constructed in the three Brother Grimms\u27 folk tales. Through the the female protagonist characters who emphasize physical perfection and ignoring non-physical potential to find a life partner, it shows that these three folk tales display the construction of a beauty myth based on patriarchal ideology to instill values ??that can perpetuate women\u27s oppression through their beauty. Women only need to be beautiful, they don\u27t need to be smart to achieve success in life
ARGUMENTATIVE LANGUAGE OF TIKTOK CEO SHOU ZI CHEW’STESTIMONY ON CBS NEWS YOUTUBE CHANNEL
The importance of argumentative language in language use is to convince, persuade, and defend a point of view. The method used in this research is descriptive qualitative. The data source of this research is taken from YouTube videos (TikTok congressional hearing). The Researcher found that the results ofthe data analysis are about the argumentation process conveyed by the CEO of TikTok. The results of this research indicate ten data in the video. As in the principles of relevance (five data), sufficiency (one data), structural (one data), acceptance (one data), and rebuttal (two data). The researcher found that the principle of relevance is most dominantly used in argumentation because the CEO of TikTok provides premises that function as reasons that show their truth to support or challenge a position or perspective to convince the audience and parliamentarians, sufficiency provides evidence to strengthen the argument, the structure is used in the argument because there are claims from the opinion of the CEO of TikTok to strengthen the statements given by the parliamentarians and the principle of rebuttal, namely criticism or rejection of the CEO of TikTok against the arguments presented by parliamentarians. Therefore, it can be concluded that in the congressional hearing, the arguments conveyed by the CEO of TikTok were not accepted even according to the parliamentarians, the arguments presented by the CEO of TikTok did not make sense, and still considered that TikTok had harmed the country
SOSIALISASI PENGGUNAAN GOOGLE DRIVE DALAM PENYIMPANAN DOKUMEN PADA PEMBELAJARAN MATA KULIAH MANUSIA DAN KEBUDAYAAN OLEH MAHASISWA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa sehingga mereka memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) khususnya dalam hal proses digitalisasi penggunaan Google Drive pada penyimpanan dokumen. Dengan adanya kegiatan pengabdian ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menguasai proses penyimpanan data elektronik sehingga ke depannya mahasiswa akan memiliki pemahaman dan menggunakan Google Drive sebagai tempat penyimpan dokumen penting dan dokumen dengan kapasitas yang besar. Metode pengabdian yang digunakan dalam pelatihan ini yaitu dengan sistem pembelajaran tatap muka yang disertai materi pelatihan yang dianggap paling mutakhir dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Proses pelaksanaan pengabdian ini melibatkan mahasiswa secara langsung pada proses digitalisasi penggunaan Google Drive dalam penyimpanan dokumen elektronik sehingga mereka dipersiapkan menjadi lulusan yang kreatif, inovatif dan berkualitas
Penguatan Kesadaran Tentang Pentingnya Pendidikan Formal Bagi Masyarakat Bajo di Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe
Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Bajo di Desa Bajo Indah tentang pentingnya pendidikan formal. Pendidikan formal tidak hanya penting untuk pengembangan pribadi, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan memberdayakan komunitas. Saat ini, masyarakat Bajo menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses pendidikan, seperti isolasi geografis, keterbatasan ekonomi, dan pengaruh budaya. Oleh karena itu, perlu ada usaha bersama untuk mengatasi hambatan-hambatan ini. Pentingnya pendidikan formal terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan keterampilan hidup, membuka peluang kerja, dan memperkuat posisi komunitas dalam berpartisipasi dalam pembangunan lokal. Pendidikan juga dapat disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai lokal untuk memastikan penerimaan yang lebih baik. Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi keterlibatan masyarakat dalam inisiatif pendidikan, dukungan dari pemerintah, serta integrasi pendidikan dengan budaya lokal. Melalui pendekatan ini, diharapkan masyarakat Bajo di Desa Bajo Indah akan lebih memahami dan menghargai pentingnya pendidikan formal bagi masa depan mereka. Ajakan untuk bertindak disampaikan kepada masyarakat untuk lebih memprioritaskan pendidikan dan berpartisipasi aktif dalam program-program yang ada, demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang
PELATIHAN DAN PENYULUHAN TOLEA DAN PABITARA DI KELURAHAN TUDAONE KECAMATAN KONAWE KABUPATEN KONAWE
Pelatihan dan penyuluhan Tolea dan Pabitara di Kelurahan Tudaone, Kecamatan Konawe, Kabupaten Konawe bertujuan memberikan pengetahuan dan wawasan yang mendalam mengenai tata cara pelaksanaan tugas-tugas mereka. Kegiatan ini dilaksanakan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat serta memperkuat peran Tolea dan Pabitara dalam menjaga adat dan budaya lokal. Selama kegiatan pelatihan, nanti para peserta akan diberikan materi yang mencakup etika, protokol adat, dan teknik komunikasi efektif yang esensial dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Pelatihan juga meliputi simulasi situasi nyata yang sering dihadapi oleh Tolea dan Pabitara, seperti mediasi konflik adat dan penyelenggaraan upacara adat. Hal ini bertujuan agar para peserta dapat lebih siap dan percaya diri dalam melaksanakan tugas mereka di lapangan. Selain itu, penyuluhan ini juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap nilai-nilai budaya lokal serta bagaimana cara menjaga dan melestarikannya. Tolea dan Pabitara diberi pengetahuan tentang sejarah dan makna simbol-simbol adat, yang diharapkan dapat memperkuat identitas budaya mereka. Dengan pelatihan ini, diharapkan Tolea dan Pabitara dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih profesional dan berdedikasi, serta mampu menjadi teladan dalam masyarakat. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal, sehingga warisan budaya dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang