TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Ritual Nyera pada Mesin Kapal bagi Masyarakat Etnis Bajo di Desa Banu-Banua Jaya Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara

    No full text
    This research aims to analyze the importance of the Nyera Ritual on Ship Engines for the Bajo Ethnic Community and the meaning of the Nyera ritual in the Bajo ethnic community in Banu-Banua Jaya Village, Kulisusu District, North Buton Regency. The research method for collecting data was carried out using observation, interviews and documentation techniques. Using Edward B Tylor\u27s theoretical basis, the technique for determining informants uses the purposive technique. Data were analyzed using data collection techniques, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this research show that the importance of the Nyera ritual consists of 5 types: 1.) Purification, 2.) Protection/Safety, 3.) Preserve, 4.) Fortune, 5). Friendship. The meaning in the Nyera ritual has 3 types of meaning: 1.) The meaning of materials such as water, incense, chicken, 2.) The meaning of the Nyera Ritual process, namely reciting prayers on water, the meaning of bathing a chicken, the meaning of reciting prayers on a knife, the meaning of wiping chicken blood on each side of the machine. 3.) The meaning of the final stage of reading prayers on the machine so that all wishes are carried out. The Nyera Ritual can be fulfilled by the Almighty and the meaning of giving syndikka money so that the person giving the syndikka money has good fortune

    Makna Tuturan Mowindahako (Pelamaran) Suku Moronene di Desa Tontonuhu Kecamatan Kontununu Kabupaten Bombana

    No full text
    This study aims to determine and describe the meaning of speech in the Mowindahako (proposal) stages of Moronene tribal marriage in Tontonunu Village, Tontonunu District, Bombana Regency. This study uses a qualitative research type, namely research whose procedures produce descriptive data in the form of written or spoken words from traditional leaders (Tolea). Data collection techniques in the study used observation, interview, and documentation methods. The research analysis used a qualitative descriptive method. The results of the study show that the meaning of the Mowindahako (proposal) tradition speech of the Moronene tribe in Tontonunu Village can be seen in several stages, namely: the Kohala stage, the first Mowindahako (Proposal) stage, the second Mowindahako (Proposal) stage, the Moduduhi stage, and the Mompokontodo stage

    Tuturan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar Kecamatan Lakuko Kabupaten Buton Tengah

    No full text
    Tari Mangaru menggambarkan keberanian para lelaki yang berperang di masa lampau. Tarian ini menampilkan dua orang laki-laki yang berperan sebagai pejuang di medan perang. Keduanya menjadi elemen penting dalam pertunjukan karena merepresentasikan semangat dan suasana pertempuran. Dalam pertunjukan Tari Mangaru, keris digunakan sebagai alat utama. Sebagai tarian yang melambangkan keberanian, penggunaan senjata seperti keris menjadi unsur wajib bagi setiap penari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, dengan fokus pada: (1) fungsi dan makna Tari Mangaru; (2) pola pewarisan tradisi lisan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Informan dalam penelitian ini ditentukan melalui metode purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi dan makna Tari Mangaru bagi masyarakat Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, adalah sebagai simbol kesatria atau laki-laki perkasa. Tari Mangaru merupakan tarian perang yang awalnya digunakan untuk melawan penjajah yang berusaha menguasai wilayah Buton. Namun, saat ini Tari Mangaru difungsikan sebagai sarana hiburan dan penyambutan tamu dalam berbagai acara adat. Pewarisan Tari Mangaru dilakukan oleh tokoh adat melalui beberapa metode, di antaranya: (1) sosialisasi dan (2) pelatihan kepada generasi muda

    Tradisi Wandile Pada Masyarakat Wolio di Desa Lambusango Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton

    No full text
    Tradisi Wandile merupakan tradisi khas masyarakat Lambusango yang secara khusus dilaksanakan untuk anak pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan dan makna yang terkandung dalam tradisi Wandile. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan tradisi Wandile terdiri atas tiga tahapan: (1) tahap persiapan, meliputi penentuan hari baik serta persiapan alat dan bahan; (2) tahap pelaksanaan, yang berlangsung di rumah pelaku tradisi dan dipimpin oleh bisa (dukun); dan (3) tahap akhir, yaitu pembacaan doa selamat. Tradisi Wandile memiliki makna simbolis di setiap tahapannya, yakni sebagai upaya menjauhkan anak yang diwandile dari hal-hal buruk menurut kepercayaan masyarakat Lambusango. Hingga saat ini, tradisi Wandile masih dilestarikan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Lambusango

    Makna Ungkapan Adat Melamar dalam Proses Menikah (Fenagho Tungguno Karete) pada Masyarakat Muna di Desa Katobu Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ungkapan adat melamar dalam proses pernikahan (feenagho tungguno karete) pada masyarakat Desa Katobu, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini secara khusus mendeskripsikan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam adat melamar serta makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap mengetahui secara mendalam adat melamar. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat melamar dalam masyarakat Muna dikenal dengan istilah feenagho tungguno karete, yang secara harfiah berarti "menanyakan penjaga pekarangan." Proses penyampaian adat ini dilakukan dalam forum atau pertemuan adat menggunakan bahasa Muna antara delegasi pihak pelamar dan pihak yang dilamar. Adat ini memiliki makna simbolik, di mana kata tungguno menyimbolkan seseorang yang menjaga, merawat, atau mengikat/melamar, sedangkan karete menyimbolkan pekarangan tempat bunga berada, yang menjadi simbol seorang gadis. Proses adat melamar terdiri dari tiga tahapan, yaitu musyawarah (rompu), membawa janji (deowa too), dan melamar secara resmi (fofeena)

    ANALISIS ANTROPOLOGI SASTRA DALAM NOVEL CALABAI KARYA PEPI AL BAYQUNIE

    No full text
    Novel Calabai karya Pepi Al Bayqunie mengangkat kisah perjalanan tokoh Saidi menjadi bissu. Latar tempat yang dihadirkan yakni masyarakat Bugis di Segeri, Kabupaten Pangkep-Sulawesi Selatan. Sejumlah permasalahan dan dinamika masyarakat dihadirkan melalui perwujudan berbagai unsur budaya lokal yang unik dan penuh makna. Unsur-unsur budaya tersebut perlu dikaji untuk menemukan makna yang tersirat.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat unsur budaya dalam novel Calabai menggunakan pendekatan antropologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Calabai karya Pepi Al Bayqunie menyuguhkan beberapa unsur budaya masyarakat Bugis. Unsur-unsur tersebut yakni: pertama, bahasa Indonesia dialek Bugis menjadi ikon dalam novel tersebut dan meneguhkan latar masyarakat Bugis di dalamnya. Kedua, aspek religi terlihat dari kepercayaan terhadap ajaran Islam dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural bissu. Ketiga, kesenian tergambar melalui pementasan naskah La Galigo. Keempat, sistem mata pencaharian masyarakat Bugis pada umumnya masih bergantung pada bidang pertanian. Kelima, sistem peralatan hidup tergambar dari penggunaan pesawat. Keenam, sistem kemasyarakatan tergambar melalui masyarakat yang gemar tolong-menolong dengan tetap mengedepankan siri. Ketujuh, sistem pengetahuan tergambar dari ritual pelepasan nazar beserta ritual menanam padi. Unsur-unsur budaya tersebut menunjukkan nilai-nilai yang dipegang teguh masyarakat Bugis dalam menjalani kehidupannya

    Formula Romance dalam Roman Mes Amis Mes Amours Karya Marc Lévy

    No full text
    In popular literature, there are schemes or formulas that are commonly used to construct the romance genre in a way that caters to readers\u27 tastes and be widely  appreciated. This thesis deals with formulas and characteristics aimed at identifying the patterns of narratives of popular literature as popular literary works. This research aims to analyze the formula of romance present in the novel "Mes Amis Mes Amours" by Marc Levy, as well as to identify the characteristics of popular literary works of the romance genre. The author uses the formula theory proposed by John G. Cawelti to analyze the formulas and characteristics constructed in the novel "My Friends My Loves", in accordance with the characteristics of the novel presented by Joyce G. Saricks. This research uses a qualitative descriptive method, with data analyzed according to a structuralist approach. The results obtained are as follows: First, the novel "Mes Amis Mes Amours" by Marc Levy is part of the genre of popular romance that corresponds to the tastes of readers. Second, there are five common characteristics of popular romance novels, including: (1) the novel "My Friends My Loves" evokes readers\u27 emotions; (2) the characters in the story are easily identifiable; (3) it has misunderstandings; (4) the story involves interesting temporal details; and (5) the style of writing is easily recognizable

    Tradisi Pengobatan Kasighurambe Pada Bayi dan Balita Etnis Muna di Desa Lailangga Kecamatan Wadaga Kabupaten Barat

    No full text
    Pengobatan Kasighurambe dalam bahasa Muna merujuk pada kondisi salah urat yang umumnya terjadi pada bayi berusia 0–12 bulan dan balita usia 1–5 tahun. Kasighurambe biasanya disebabkan oleh bayi atau balita yang sering terjatuh, sehingga mengakibatkan gangguan urat. Gejala yang muncul pada anak yang mengalami Kasighurambe antara lain demam dan batuk, yang diyakini sebagai akibat darigangguan urat tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi pengobatan Kasighurambe serta menjelaskanmakna mantra yang terkandung di dalamnya pada masyarakat Suku Muna di Desa Lailangga, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pengobatan Kasighurambe memiliki tahapan-tahapan tertentu, antara lain penentuan waktu dan tempat pelaksanaan, serta keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam proses pengobatan. Proses pelaksanaan pengobatan dimulai dengan tahapan diagnosis penyakit oleh dukun, kemudian dilanjutkan dengan tahappengobatan. Langkah awal dalam proses ini adalah mempersiapkan minyak gosok, yang kemudian dituangkan dan dioleskan oleh dukun ke seluruh tubuh bayi sambil membacakan mantra. Setelah itu, dukun akan melakukan pengurutan pada kaki kiri dan kanan secara berulang, dilanjutkan dengan mengurut seluruh tubuh untuk mencari bagian urat yang dianggap sakit. Sebagai penutup, dukun membacakan mantra ke dalam air minum yang kemudian diberikan kepada bayi untuk diminum. Dalam proses ini, mantra yang digunakan memiliki makna tersendiri yang menjadi bagian penting dari tradisi pengobatan Kasighurambe

    Kabupaten Muna pada Masa Pemerintahan La Ode Saafi Amane, 1981-1986

    No full text
    This research examines the government of La Ode Saafi Amane in Muna Regency, 1981-1986. The objectives of this research are as follows: First, to explain the social, economic, and political conditions of Muna Regency during the reign of La Ode Saafu Amane. Second, to explain La Ode Saafi Amane\u27s policy on implementing government in Muna Regency. This research uses a historical method with several stages: topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. The research results show that, first, in the social aspect, La Ode Saafi Amane has the vision to develop from the village by organizing communities in remote villages. In the economic aspect, La Ode Saafi Amane utilizes natural resources in Muna Regency, such as agricultural products. In contrast, in the political aspect, La Ode Saafi Amane has been known as an honest bureaucrat by the community, so during his reign as Regent of Muna, the situation was politically stable. Second, during his reign, La Ode Saafi Amane implemented various programs and developments, including a resettlement program, improving the quality of education by establishing several educational facilities and infrastructure, as well as improving supporting infrastructure such as roads

    BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK SULAPA’ EPPA’ SEBAGAI FALSAFAH HIDUP SUKU BUGIS-MAKASSAR

    No full text
    Sulapa’ Eppa’ yang merupakan falsafah hidup masyarakat suku Bugis-Makassar memiliki bentuk dan makna simbolik. Ada tiga tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menguraikan sejarah, bentuk, dan eksistensi Sulapa’ Eppa’. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis dan sosiologi. Langkah-langkah dalam penelitian ini yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini yaitu, Pertama, sejarah Sulapa’ Eppa’ bermula dari sebuah bentuk kepercayaan masyarakat berupa simbol alam semesta berupa angin, api, air, dan tanah yang dianggap sebagai sebuah unsur kesempurnaan. Kedua, bentuk dan makna Sulapa’ Eppa’ berasal dari walasuji sebagai tempat ditemukannya, selanjutnya digambarkan juga ke dalam huruf aksara lontara’ “sa”. Selain itu, Sulapa’ Eppa’ dapat digambarkan melalui: kosmogini (angin, api, air, dan tanah), susunan alam semesta (langit, dunia, dan dunia bawah) dan konsep manusia (tau). Ketiga, eksistensi Sulapa’ Eppa’ dalam tatanan kehidupan masyarakat suku Bugis-Makassar masih bisa ditemukan pada upacara pernikahan, pakaian adat, tempat tinggal dan berbagai bentuk kehidupan lainnya. Sulapa’ Eppa’ yaitu sebuah falsafah hidup yang menunjukkan karakter masyarakat Bugis-Makassar yang bukan hanya sekedar gagasan semata tetapi memiliki makna yang mendalam. Adapun urgensi penelitian ini terlihat dalam pengadaptasian bentuk falsafah Sulapa’ Eppa’ yang diharapkan agar nilai-nilai sejarah dan budaya lokal tetap lestari di era globalisasi saat ini

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇