TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    PELABUHAN KASIPUTE DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT DI KELURAHAN KASIPUTE KECAMATAN RUMBIA KABUPATEN BOMBANA: 2003-2020

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan dan dampak Pelabuhan Kasipute bagi kehidupan ekonomi masyarakat di Kelurahan Kasipute Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana 2003-2020. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja, yaitu sebagai berikut: pertama, pemilikan topik, kedua, heuristik atau pengumpulan sumber, ketiga kritik sumber, keempat interpretasi sumber, dan kelima yaitu historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pelabuhan Kasipute yang berdiri tahun 1969 memiliki peranan penting dalam mendukung aktivitas masyarakat di bidang kepelabuhanan dan bidang transportasi angkatan laut. Pembangunan pelabuhan kasipute memberikan dampak bagi masyarakat sekitar, di antaranya dapat menyerap tenaga kerja seperti buruh kapal, tukang ojek, dan pedagang-pedagang di sekitar pelabuhan. Pelabuhan Kasipute juga menjadi fasilitas penunjang dalam mendukung mobilitas atau perpindahan orang atau penumpang ke daerah lain, memperlancar arus barang dan hasil-hasil pertanian.  Pelabuhan Kasipute Kabupaten Bombana pada tahun 2003-2020 mengalami perkembangan yang pesat sejalan dengan perkembangan zaman, ditandai dengan derasnya arus penumpang dan barang serta fasilitas memadai. Hal tersebut ditandai dengan adanya fasilitas-fasilitas pendukung berupa area tambat, daya listrik/lampu sebanyak 12 titik, pos portal/PAD, dan terminal mobil penumpang.&nbsp

    Pewarisan Tari Pajogi Pada Masyarakat Desa Patuno Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

    No full text
    Tari Pajogi merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Tarian ini dilaksanakan sebagai bentuk hiburan bagi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui bentuk pertunjukan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi; dan 2) Mengetahui cara pewarisan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep, yaitu konsep tradisi lisan, konsep pewarisan, konsep tari tradisional, dan konsep Tari Pajogi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pajogi merupakan salah satu tarian hiburan di masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi. Pertunjukan Tari Pajogi biasanya dilakukan oleh 3 hingga 6 penari. Tarian ini terdiri dari tiga gerakan utama, yaitu: 1) Gerakan Umba Peku-Peku, 2) Gerakan Biasa, dan 3) Gerakan Mangu-Mangu. Pewarisan Tari Pajogi di Desa Patuno dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1) Pewarisan formal, yang dilakukan melalui pertunjukan dalam perlombaan kebudayaan dan acara perpisahan sekolah; dan 2) Pewarisan nonformal, yang dilakukan melalui pertunjukan pada acara adat seperti Karia serta lingkungan keluarga, di mana orang tua yang memiliki pengetahuan tentang Tari Pajogi mengajarkannya kepada anak-anak mereka

    IDENTIFIKASI MAKAM KUNO PADA BENTENG WABULA DI DESA WABULA, KECAMATAN WABULA, KABUPATEN BUTON

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman makam kuno di situs pemakaman kuno pada Benteng Wabula, Desa Wabula, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton. Penelitian ini juga akan menjelaskan nilai-nilai budaya yang memengaruhi bentuk kuburan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yaitu teknik penalaran induktif. Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari beberapa tahapan yaitu observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, kami memanfaatkan analisis morfologi (bentuk) dan analisis teknis (bahan dan teknologi pembuatan) dalam analisis data. Dari hasil survei tersebut, berdasarkan hasil observasi, teridentifikasi ada 202 kuburan. Berdasarkan hasil analisis dan klasifikasi jenis makam, maka terciptalah empat jenis makam yaitu: 1) makam tipe A1 dengan makam dan nisan sebanyak 107 makam; 2) Kuburan tipe A2, dengan Jirat tanpa nisan, total 62 kuburan. 3) Kuburan tipe A3 dengan tugu tanpa nisan, berjumlah 16 kuburan. 4) Kuburan tipe A4 dengan nisan tanpa jirat. Sebanyak 17 makam menggunakan bahan koral, batu kapur, semen, pasir, tegel, telur dan proses pembuatan zirat dengan teknik susun tanpa spesifikasi. Berdasarkan bentuk makam dan sejarahnya, dapat disimpulkan bahwa makam Benteng Wabula merupakan makam pada masa Islam yang masih dipengaruhi oleh tradisi megalitik. Pada situs pemakaman Benteng Wabula terdapat jirat yang terbuat dari koral, batu kapur, semen, pasir, teal dan telur, ada yang belum dibentuk, ada yang diukir, dan ada juga yang berukuran lebih besar dari makam

    SEJARAH PEMUKIMAN KAMPUNG SALO DISTRIK KENDARI :1930-1964

    No full text
    Penelitian ini menjelaskan mengenai latar belakang penamaan kampung, awal mula terbentuknya pemukiman Kampung Salo Distrik Kendari, serta hubungan antar etnik di pemukiman Kampung Salo. Penelitian ini metode sejarah yang memiliki beberapa tahapan yakni: pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan; Pertama, toponimi Kampung Salo memiliki banyak makna berdasarkan bahasa daerah yang ada di Kampung Salo, dalam bahasa bahasa muna dan Buton salo memiliki artinya minta. Sedangkan dalam bahasa Bugis berarti sungai atau kali; Kedua, latar belakang terbentuknya Kampung Salo awalnya Kampung Salo merupakan daerah dengan penduduk asli Tolaki, kemudian suku Bugis, Bajo, Muna, Buton dan Jawa menjadi penduduk Kampung Salo. ; Ketiga, hubungan antar etnik di Kampung Salo sangat baik dan terjalin sampai sekarang ini dengan memiliki ragam suku seperti Tolaki, Bugis, Bajo, Muna, Buton, dan Jawa

    SEJARAH DESA ONDOKE KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT TAHUN 1976-2022

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) latar belakang dibentuknya Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat (2) Perkembangan Desa Ondoke kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat Tahun 1976-2022. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yang terdiri atas lima tahap, sebagai berikut: (1) pemilihan topik, (2) Heuristik (3) verifikasi Sumber(4) Interpretasi umber (5)historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat terbentuk atas prakarsa masyarakkat dengan memperhatikan asal usul desa, jumlah, luas wilayah dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Selain itu juga terbentuknya Desa Ondoke disebabkan karena faktor geografis dan faktor demografi. (2) Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat tahun 1976-2022 secara umum menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan terutama perkembangan dalam bidang pemerintahan, perkembangan pelayanan umum, perkembangan di bidang ekonomi, perkembangan dibidang pendidikan, dan perkembangan sarana prasarana. Berbagai aspek kehidupan di Desa Ondoke terus mengalami perkembangan kearah kemajuan. Di tengah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin maju masyarakat tetap memelihara kehidupan sosial dan budaya dengan baik. Masyarakat Desa Ondoke memiliki jiwa kebersamaan dan semangat gotong royong. Masyarakat juga mampu mempertahankan nilai-nilai tradisional yang ada

    BENTENG LIPU KULISUSU SEBAGAI OBJEK WISATA SEJARAH DI KABUPATEN BUTON UTARA : 2007-2022

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan Benteng Lipu Kulisusu sebagai objek wisata sejarah di Kabupaten Buton Utara: 2007–2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Benteng Lipu Kulisusu menjadi objek wisata karena mengandung nilai sejarah dan memiliki peninggalan arkeologi yang menggambarkan kehidupan masyarakat Kulisusu. Benteng Lipu Kulisusu kini berubah fungsi menjadi tempat pemukiman dan tempat wisata. Adapun daya tarik Benteng Lipu Kulisusu sebagai objek wisata di Kabupaten Buton Utara yaitu terdapat bangunan-bangunan peninggalan sejarah Kerajaan Kulisusu, seperti masjid, makam kuno, baruga, Raha Bulelenga, meriam, dan kulisusu (kulit kerang), selain daya tarik peninggalan arkeologi, juga ada pertunjukan seni budaya berupa tarian daerah Buton Utara antara  lain tari Kompania, tari Lense, tari Ngibi dan tari Alionda. Tari-tari tersebut ditampilkan dalam Kawasan Benteng Lipu Kulisusu pada hari-hari besar seperti hari raya Idul Fitri  dan Idul Adha. (2) Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengembangkan Benteng Lipu Kulisusu sebagai objek wisata sejarah di Kabupaten Buton Utara yaitu:  Perbaikan infrakstuktur seperti (a) Pengaspalan jalan menuju Benteng Lipu Kulisusu, (b) Penataan kawasan wisata (c) Merenovasi bangunan yang mulai rusak, dan (d) melakukan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah sebagai karakteristik masyarakat Kulisusu, serta (e) menjadikan Benteng Lipu Kulisusu sebagai Cagar Budaya daerah Kabupaten Buton Utara

    ORANG BAJO DI DESA SANTIRI PULAU BALU KECAMATAN TIWORO UTARA KABUPATEN MUNA BARAT (1980 – 2022)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui proses awal kedatangan orang bajo di Desa Santiri Pulau Balu 1980, (2) Mengetahui perkembangan kehidupan sosial-ekonomi orang Bajo di Desa Santiri Pulau Balu Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat, 1980-2022. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan mengacu pada pendapat yang dikemukakan Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahapan penelitian,  yaitu: (a) Pemilihan Topik, (b) Heuristik Sumber, (c) Kritik Sumber, (d) Interpretasi Sumber, dan (e) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:  Orang Bajo yang mendiami Pulau Balu saat ini  merupakan etnik Bajo yang berasal dari daerah Bajoe Bone Sulawesi Selatan. Orang Bajo di Pulau Balu awalnya berasal dari daerah Towea dan Tinobu (Lasolo), sebelum mendiami Pulau Balu mereka menetap di pesisir Pelabuhan Tondasi, tetapi karena kurang cocok kemudian menyebrang ke Pulau Balu dan mulai menetap tahun 1980 hingga saat ini. Perkembangan kehidupan orang Bajo di Pulau Balu dapat dilihat dari kehidupan ekonominya yang secara perlahan mengalami perkembangan. Penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, petani rumput laut, berdagang, industri pembuatan perahu, dan mengembangkan industri kepiting rajungan yang direbus, serta ojek katinting. Perkembangan kehidupan masyarakat di bidang sosial dapat dilihat dengan adanya perubahan tingkat perekonomian masyarakat melalui perubahan tempat tinggal, kepemilikan kendaraan berupa motor dan kapal, hingga kemampuan orang Bajo di Pulau Balu dalam menunaikan ibadah haji. 

    PERJUANGAN TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL LAYANGAN PUTUS KARYA MOMMY ASF: KRITIK SASTRA FEMINIS

    No full text
    Pengungkapan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan dan tubuh mereka dalam sebuah karya sastra dapat lebih terungkap jika tulisan tersebut ditulis oleh perempuan dibandingkan dengan tulisan yang dihasilkan oleh laki-laki. Demikian halnya dengan novel Layangan Putus karya Mommy ASF.  Mommy ASF  dalam novel Layangan Putus menggambarkan perjuangan perempuan dalam kehidupannya. Perjuangan perempuan dalam novel ini akan dianalisis dengan menggunakan kajian kritik sastra feminis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel Layangan Putus karya Mommy ASF. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan dalam novel Layangan Putus karya Mommy ASF terdiri dari; (1) Perjuangan untuk melahirkan normal; (2) Perjuangan untuk memperbaiki penampilan; (3) Perjuangan membahagiakan suami; (4) Perjuangan mempertahankan rumah tangga; (5) Perjuangan untuk kembali berkarier; dan (6) Perjuangan membesarkan anak setelah bercerai. Peneliti melihat bahwa setiap persoalan yang terdapat dalam novel Layangan Putus digambarkan menggunakan pandangan penulis perempuan berdasarkan pengalaman penulis selama berumah tangga

    FAKTA CERITA DALAM NOVEL RASA KARYA TERE LIYE(ANALISIS STRUKTUR ROBERT STANTON)

    No full text
    Penelitian ini membahas fakta cerita ditinjau dari alur, latar, tokoh dan penokohan dalam novel Rasa karya Tere Liye. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil analisis fakta cerita yang terdiri dari alur, latar, tokoh dan penokohan. Penelitian ini menggunakan model analisis struktur Robert Stanton. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu membaca  dan menganalisis data dengan saksama secara keseluruhan dalam novel Rasa karya Tere Liye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat fakta cerita tentang alur, latar, tokoh dan penokohan. Novel Rasa menggunakan alur campuran atau alur maju mundur, karena terdapat beberapa kalimat yang flash back suatu kejadian. Latar pada penelitian ini ada tiga yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat di Jakarta, Rumah, Kampus, Surabaya, Studio, Terminal, Berlin, Rumah Sakit, Perempatan Lampu Merah. Sedangkan latar waktu yang digunakan adalah jam, hari, minggu, dan tahun. Adapun latar sosial dalam novel Rasa karya Tere Liye adalah  menghadirkan penggambaran keadaan ekonomi sosial tokoh. Di dalam novel terdapat 23 tokoh namun, peneliti hanya fokus pada tokoh utama dan tokoh tambahan yang terdiri dari 12 tokoh yang berpengaruh dalam cerita.

    THE ANALYSIS OF PLOT TRAGEDY OF THE DRAMA CORIOLANUS BY WILLIAM SHAKESPEARE

    No full text
    Coriolanus is a quintessential tragedy written by William Shakespeare around 1605 that explores the complexities of power, pride, political conflict, and personal betrayal. This research analyzed William Shakespeare\u27s Coriolanus plot structure using Gustav Freytag’s pyramid model and applied a qualitative research method. Freytag’s model of dramatic analysis divides the narrative into five parts: exposition, complication, climax, resolution, and denouement. This research investigated how the plot unfolds and how Shakespeare uses this structure to enhance the themes of pride, power, betrayal, and political conflict. By applying Freytag’s pyramid, this research seeks to identify key events and turning points that contribute to the development of the protagonist’s tragic flaws and eventual downfall. The research concludes that Freytag\u27s five-part structure effectively illuminates the narrative progression, shedding light on how Shakespeare manipulates the plot to intensify dramatic tension and reinforce the tragic themes.

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇