TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Silent Resistance Against Patriarchy in Two Short Stories by Yiyun Li and Ni Komang Ariani

    No full text
    This article explores the theme of women’s silent resistance against patriarchal oppression as depicted in Yiyun Li’s A Flawless Silence and Ni Komang Ariani’s Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara. Through a comparative literary analysis, the study examines how silence becomes a strategic form of resistance employed by the female protagonists Min and Dinaya who navigate the constraints of patriarchal expectations within their respective cultural settings. Rather than interpreting silence as submission, this article highlights how both characters use silence to assert agency, preserve identity, and subtly challenge the power structures that confine them. Central to this analysis are the interwoven themes of domestic constraint, cultural expectation, and psychological endurance, which shape the characters’ experiences and strategies of resistance. The study contributes to discussions on women’s narratives of struggle and resilience, offering insights into how literature portrays quiet defiance as a meaningful response to gender-based oppression

    Tradisi Kadamba Pada Masyarakat Desa Moko Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah

    No full text
    Tradisi kadamba adalah suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum kegiatan pelamaran selesai, bentuk kesepakatan serta keikhlasan seorang laki-laki kepada calon mempelai wanita dari pihak keluarga untuk selalu mengunjungi calon istri, pihak laki-laki mengunjungi calon mempelai wanita dianggap sebagai bukti bahwa keduanya sudah saling mengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsidan nilai-nilai di Desa Moko Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah.. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil Penelitian Tradisi kadamba adalah salah satu tradisi masyarakat Moko di buton tengah yang dilakukan setelah pelamaran. Tradisi kadamba bentuk kesepakatan serta keikhlasan seorang laki-laki kepada calon mempelai wanita dari pihak keluarga untuk selalu mengunjungi calon istri, pihak laki-laki mengunjungi calon mempelai wanita di anggap sebagai bukti bahwa keduanya sudah saling mengikat. Kegiatan yang sering dilakukan dengan membawakan bahan-bahan keperluan dapur, seperti beras, sayur-sayuran. Selain bentuk makan ada juga bentuk tenaga seperti, mempelai pria selalu membantu orang tua wanita dalam hal berkebun atau membersihkan pekarangan rumah dan lain. Fungsi yang terdapat dalam tradisi kadamba pada masyarakat desa moko, yakni; Adaptasi, Pencapain Tujuan, Integrasi, dan Pemeliharaan Pola.Nilai- nilai yangterkandung dalam tradisi kadamba pada masyarakat desa moko yakni; Nilai Komunikatif, Nilai Tanggung Jawab, Nilai Silaturahmi, Nilai Keikhlasan, Nilai Kejujuran

    Tradisi Mepupuri di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan

    No full text
    Tradisi mepupuri merupakan pengobatan yang digunakan oleh masyarakat Desa Langkowala untuk mengobati penyakit cacar yang ada dalam tubuh dengan cara di tiup-tiup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi mepupuri yang ada di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan, untuk menjelaskan bagaimanakah fungsi dari tradisi mepupuri yang ada di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan, untuk mengetahui pola pewarisan di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan. Metode  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini adalah deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive,data di analisis dengan teknik pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pelaksanaan tradisi mepupuri terdiri dari beberapa tahap  yaitu tahap persiapan, tahap ini adalah tahap untuk menyiapkan gelas yang berisi air putih, tahap proses pelaksanaan dan  tahap akhir proses pengobatan. Adapun fungsi tradisi mepupuri pada suku Wawonii  diDesa Langkowala  Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan yaitu  untuk pengobatan, untuk mengurangi biaya pengeluaran dan untuk mempertahankan pola tradisi. Pola pewarisan dalam tradisi mepupuri pada suku Wawonii di Desa Langkowala  Kecamatan Wawonii BaratKabupaten Konawe Kepulauan yaitu proses pewarisan tradisi mepupuri melalui keluarga dan pola pewarisan melalui lingkungan keluarga.

    Implementation of Multicultural Education Values in the Modernization Era in Kupang City, East Nusa Tenggara

    No full text
    Pendidikan multikultural tidak hanya berfungsi sebagai strategi pemeblajaran dikelas, tetapi juga sebagai medium penting untuk memahami melestarikan dan mengkritisi dinamikabudaya serta sejarah lokal. Penelitian ini menekankan bagaimana pendekatan multikultural dapat merefleksi kekayaan radisi dan odentitas kultural masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) Yang sejak lama dikenal dengan pluralisme sosial dan warisan budayanya. Dalam konteks modernisasi, pendidikan multikultural membantu sisw dan masyarakat untuk melihat kembali nilai-nilai historis sekaligus mengadaptasinya pada tantnangan global , termasuk melalui pemanfaataan teknologi digital yang memperluas pemahaman litas budaya lokal. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif melalui studi kepustakaan atas dokumen, artikel, jurnal, serta karya akademik yang relevan. Temuan penelitian menegaska bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat lokal merupakan kunci dalam menjaga kesinambungan warisan budaya sejarah serta mendorong sikap toleran, disiplin, dan tanggung jawab pada generasi muda. Dengan demikian, pendidikan multikulturalise bukan hanya wacana pedagogis, tetapi juga kontribusi nyata bagi studi budaya dan sejarah lokal di Indoesia, Khususnya NTTMulticultural education serves not only as a classroom learning strategy but also as an important medium for understanding, preserving, and critiquing the dynamics of local culture and history. This study emphasizes how a multicultural approach can reflect the rich traditions and cultural identity of the people of East Nusa Tenggara (NTT), long known for their social pluralism and cultural heritage. In the context of modernization, multicultural education helps students and the community re-examine historical values and adapt them to global challenges, including through the use of digital technology that broadens local cross-cultural understanding. This research method uses descriptive analysis through a literature review of relevant documents, articles, journals, and academic works. The research findings emphasize that collaboration between the government, educational institutions, and local communities is key to maintaining the continuity of historical cultural heritage and fostering tolerance, discipline, and responsibility in the younger generation. Thus, multicultural education is not only a pedagogical discourse but also a tangible contribution to the study of local culture and history in Indonesia, particularly in NTT

    POLITENESS PRINCIPLES OF PAM MILLER IN TOTALLY KILLER MOVIE

    No full text
    This research explored the use of politeness maxims by the character Pam Miller in Totally Killer (2023), using Leech’s (1983) politeness principle theory, which consisted of six politeness maxims, as the theoretical framework. This research aims to identify the types of politeness maxims Pam uses in her interactions and how they reflect her character across different time settings. Using a qualitative descriptive method, the data were collected through observation and transcription of Pam’s dialogues from selected scenes set in both the 1987 and 2023 timelines in the movie. These utterances were then classified and analyzed based on Leech’s six politeness maxims: tact, generosity, approbation, modesty, agreement, and sympathy. The findings show that Pam applies four of the six maxims in varying frequency. The tact maxim is the most dominant with 6 data, followed by the approbation maxim with 5 data, the sympathy maxim with 4 data, and the agreement maxim with 1 data. Meanwhile, the generosity and modesty maxims are not found in the data. These politeness maxims appear consistently in both her teenage and adult versions, indicating continuity in her character over time. The research concludes that Pam’s use of politeness not only shapes her relationships but also enhances the emotional and narrative depth of the movie

    PSIKOEDUKASI GURU SEKOLAH DASAR: PERMAINAN SEBAGAI SARANAMENINGKATKAN PERKEMBANGAN EMOSIONAL PADA ANAK USIA DINI

    No full text
    Anak usia dini berada pada tahap penting perkembangan berbagai aspek didirinya, salah satunya adalah perkembangan emosional. Di usia tersebut, anak sangat memerlukan stimulasi dari lingkungan untuk mendukung perkembangan aspek tersebut. Salah satu lingkungan yang memiliki peran cukup signifikan adalah guru di sekolah. Di SDS Islam Terpadu Al-Qalam Kendari ditemukan permasalahan pada proses pembelajaran yang belum optimal menggunakan permainan sebagai sarana untuk perkembangan emosional siswa. Siswa hanya difasilitasi dengan hal-hal yang belum konkrit, sehingga cenderung belum mampu untuk memahami proses pembelajaran. Sementara, salah satu pendekatan yang efektif dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini adalah permainan. Setelah diberikan psikoedukasi, terjadi peningkatan pemahaman guru kelas 1 dan 2. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan tentang perkembangan emosi anak usia dini dan strategi stimulasi emosi melalui permainan. Selain itu, antusiasme, partisipasi aktif peserta, dan dukungan penuh dari pihak sekolah menjadi faktor pendukung keberhasilan psikoedukasi ini

    PELATIHAN MENULIS PROSA SEBAGAI BENTUK PENDAMPINGAN TERHADAP KOMUNITAS LITERASI MAHASISWA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO

    No full text
    Kemampuan menulis karya sastra berbentuk prosa merupakan salah satu skill menarik dan istimewa yang idealnya dimiliki mahasiswa. Kemampuan menulis prosa membutuhkan proses berlatih yang tepat dan fokus. Oleh karena itu, mahasiswa mesti dilatih untuk mengasah bakat menulisnya dengan baik melalui motivasi maupun latihan berkesimnambungan. Terkait dengan hal tersebut, tim pengabdian dari Universitas Halu Oleo berupaya berkonstribusi untuk memberikan pendampingan kelas menulis terhadap sejumlah mahasiswa dari Komunitas Literasi FIB UHO. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan Pelatihan dan Diskusi Kelompok kepada sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Literasi FIB. Pertama, peserta diberikan pengetahuan mengenai pentingnya memiliki kemampuan menulis prosa. Kedua, peserta diberikan pengetahuan tentang kiat-kiat mengasah dan mengembangkan kemampuan menulis prosa. Ketiga, dilakukan proses latihan menulis serta diskusi kelompok mengenai topik pengabdian. Dari hasil pengamatan kegiatan di lapangan, diperoleh informasi bahwa sebagian peserta yang tergabung dalam komunitas literasi memiliki minat untuk mengembangkan kemampuan menulisnya, khususnya untuk menulis karya sastra berbentuk prosa. Setelah mengikuti pelatihan penulisan, para peserta semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan menulisnya

    Citra Perempuan dalam Cerpen Mademoiselle Fifi, Madame Baptiste, dan Le Papa de Simon Karya Guy de Maupassant

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan citra perempuan dalam cerpen Madame Baptiste, Le Papa de Simon dan Mademoiselle Fifi karya Guy de Maupassant”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan kata-kata, bahasa, serta konteks yang menggambarkan citra perempuan. Adapun data yang diambil untuk penelitian ini bersumber dari cerpen Mademoiselle Fifi, Madame Baptiste, dan Le papa de Simon. Analisis data dilakukan dengan menggunakan kajian Simone de Beauvoir untuk mendeskripsikan bagaimana citra perempuan yang terdapat dalam cerpen Mademoiselle Fifi, Madame Baptiste, dan Le papa de Simon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga cerpen ini mengambarkan bagaimana citra perempuan pada abad 19 di Prancis. Stigmatisasi keperawanan terdapat pada cerpen Madame Baptiste. Beban moral dalam mengurus anak terdapat pada cerpen Le Papa de Simon. Diskriminasi dan intimidasi terhadap perempuan terdapat pada cerpen Mademoiselle Fifi. Dengan demikian citra perempuan terbagi menjadi citra diri dan citra sosial yang terdiri atas aspek fisik, aspek psikis, citra sosial dalam keluarga dan masyarakat

    Akulturasi Budaya Aljazair Prancis Oleh Imigran dalam Roman Des Rêves et Des Assassins Karya Malika Mokeddem

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penggambaran akulturasi Aljazair Prancis oleh imigran yang terdapat dalam roman Des Rêves et Des Assassins Karya Malika Mokeddem. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan merupakan penelitian kepustakaan yang melibatkan membaca buku, majalah dan sumber data lainnya untuk mendapatkan informasi. Penelitian ini berfokus pada pendekatan poskolonialisme Homi K. Bhabha. Hasil penelitian ini menunjukkan akulturasi pada pakaian Prancis dan pakaian Arab, akulturasi pada makanan – makanan Aljazair dan Eropa, dan akulturasi pada gaya hidup masyarakat imigran Aljazair di Prancis. Kolonialisme yang dilakukan Prancis di masa lalu berdampak pada meningkatnya imigran asal Aljazair di Prancis. Kedatangan imigran-imigran tersebut juga berdampak pada terjadinya alkulturasi budaya dari dua tersebut. Meskipun dengan perbedaan agama yang mencolok namun pengarang membuktikan bahwa alkulturasi tersebut masih memungkinan terjadi dan menciptakan budaya baru yang merupakan percampuran keduanya

    Petani Ladang di Desa Winning  Kecamatan Pasar Wajo Kabupaten Buton

    No full text
    This research is entitled "Field Farmers in Winning Village, Pasar Wajo District, Buton Regency. This study uses the theory by Clifford Geertz (1983) regarding "from the Native\u27s point of View" and the religious theory formulated by Preusz. The results of the study can be concluded that: The local knowledge possessed by farmers in Winning Village is by planting various types of crops in the fields, namely: rice (bhae), corn (kaitela), and vegetables (tawanakau). In farming these plants, each plant has its own local knowledge, the stages in farming are: (1) preparing land for farming. (2) rice plants, the stages are: planting rice using tugal with a distance between trees of about 15cm, rice plant care by making fences, harvesting rice using termites (pongkutu), and storing crops in kampiri. (3) corn plants, local knowledge, namely: planting corn using tugal with a distance between plants that is quite far about an adult\u27s foot, protecting plants from pest attacks by making a fence around the field, harvested crops that are stored in a storage area (kampiri) above the attic of the house. (4) Vegetable crops, local knowledge possessed, namely: Vegetable plants chosen by farmers are types of vegetables that can be consumed by themselves and sold for sale. The belief system in farming is by carrying out rituals ranging from land preparation to storing crops that are addressed to the ancestors (ompu). (1) Rituals in rice farming, namely: khabelai and paburasa. (2) Rituals in corn farming, namely: khabelai, pengkaana-aana, katela mangura and pokambewe

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇