TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Persuasive Language in Pauline Hanson\u27s Speech
The objective of this research is to describe and find out the kinds of linguistic tools for influence and persuasion used in Pauline Hanson\u27s speech using McPheat’s theory. This research used a qualitative descriptive method where the data refers to the speech, and the source of data is written words and utterances in speech. The data were collected by watching the video and the transcript of the speech and selecting the related tools for persuasion. The data were analyzed by presenting, describing, interpreting, and concluding the data. The results show that her speech to the Senate was a highly persuasive speech that had a significant impact on Australian politics. Hanson used a variety of linguistic tools to persuade her audience, especially using someone\u27s name lost performative, reframing, cause-effect relationship, tag questions, presupposition, and embedded commands. Her speech was particularly persuasive because it appealed to a sense of grievance and frustration that many Australians were feeling at the time. Many Australians were concerned about the country\u27s high immigration rate, the loss of jobs to overseas workers, the increasing diversity of Australian society, and also the sensitive issue of Islam and its teachings. Her speech gave voice to these concerns and offered a simple solution: reduce immigration and Islamic teachings and return to a more traditional Australian identity
MITOS CERITA RAKYAT FOTUNO SANGIA (PENDEKATAN STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS)
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah struktur mitos cerita rakyat fotuno sangia pendekatan strukturalisme Levi-Strauss. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan struktur cerita rakyat fotuno sangia pendekatan stukturalisme Levi-Strauss. Data yang terdapat pada penelitian ini berupa teks cerita rakyat. Sumber data yang terdapat dalam penelitian ini yaitu berupa teks hasil dari rekaman informan atau narasumber. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu berupa wawancara (in-deth nterview), observasi, dokumentasi, transkripsi dan terjemahan. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Mitos Cerita Rakyat Fotuno Sangia terbagi menjadi dua, yaitu cerita penjaga mata air dan masyarakat kabangka. Data yang diperoleh dapat dianalisis dengan menggunakan kajian Strukturalisme Levi-Strauss untuk menentukan miteme, persamaan dan perbedaan ceriteme serta oposisinya. Melalui analisis strukturalnya, maka penjaga mata air menghasilakan 5 episode dan 37 unit naratif, dan masyarakat kabangka menghasilkan 3 episode dan 18 unit naratif. Melaui unit naratif dan episode tersebut terdapat miteme, persamaan dan perbedaan ceriteme serta oposisi-oposisinya. Persamaan dan perbedaan dari dua cerita tersebut dapat dilihat melalui unti-unit naratif pada setiap cerita.Masalah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah struktur mitos cerita rakyat fotuno sangia pendekatan strukturalisme Levi-Strauss. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan struktur cerita rakyat fotuno sangia pendekatan stukturalisme Levi-Strauss. Data yang terdapat pada penelitian ini berupa teks cerita rakyat. Sumber data yang terdapat dalam penelitian ini yaitu berupa teks hasil dari rekaman informan atau narasumber. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu berupa wawancara (in-deth nterview), observasi, dokumentasi, transkripsi dan terjemahan. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Mitos Cerita Rakyat Fotuno Sangia terbagi menjadi dua, yaitu cerita penjaga mata air dan masyarakat kabangka. Data yang diperoleh dapat dianalisis dengan menggunakan kajian Strukturalisme Levi-Strauss untuk menentukan miteme, persamaan dan perbedaan ceriteme serta oposisinya. Melalui analisis strukturalnya, maka penjaga mata air menghasilakan 5 episode dan 37 unit naratif, dan masyarakat kabangka menghasilkan 3 episode dan 18 unit naratif. Melaui unit naratif dan episode tersebut terdapat miteme, persamaan dan perbedaan ceriteme serta oposisi-oposisinya. Persamaan dan perbedaan dari dua cerita tersebut dapat dilihat melalui unti-unit naratif pada setiap cerita
BENTUK DAN TIPOLOGI GAMBAR CADAS DI SITUS CERUK LAKANTAGHO I DESA LIANGKOBORI
The Liangkobori Karst area is known for its many archaeological remains, namely cave sites and niches. The Lakantagho I Niche site is one of several sites in Liangkobori Village that has rock art. This research aims to determine and identify the form and typology of rock art at the Lakantagho I niche Site. The research methods used are primary data collection, secondary data, data recording and data processing. Based on the results of research conducted at the Lakantagho I Niche site,there are 41 panels with a total of 77 images. The images found have different forms of rock art. Among them there are 44 pictures of human forms, 8 pictures of human and fauna forms, 3 pictures of human and boat shapes, 8 pictures of fauna shapes, 1 picture of boat shapes, 7 pictures of geometric shapes and 6 pictures of abstract shapes.Then the results of the type grouping classification carried out were 32 types including MKBMmg2, MKBMtg2, MKMmg2, MKMtg2, MMtg2, MBmg2, MBtg2, MBKtg2, MKBtg1, MKBtg2, MKtg1, MKtg2, MMF1a, MMF1b, MMF2a, MMF3c, MMP 1t12, MMP 1ttl2, MMP2t11, F1, F2, F3, F4, F5, PT2t11,GLC, GCQ, GT, GP, GD, GO and GU, as well as abstract shapes.Kawasan karst Liangkobori dikenal karena banyaknya tinggalan arkeologi, berupa situs gua dan ceruk. Situs Ceruk Lakantagho I merupakan salah satu dari beberapa situs di Desa Liangkobori yang memiliki gambar cadas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi bentuk serta tipologi gambar cadas di Situs Ceruk Lakantagho I. Metode penelitian yang digunakan meliputi pengumpulan data primer, data sekunder, pencatatan data, dan pengolahan data. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Situs Ceruk Lakantagho I, terdapat 41 panel dengan total 77 gambar. Gambar-gambar yang ditemukan memiliki bentuk gambar cadas yang berbeda-beda. Di antaranya terdapat 44 gambar berbentuk manusia, 8 gambar berbentuk manusia dan fauna, 3 gambar berbentuk manusia dan perahu, 8 gambar berbentuk fauna, 1 gambar berbentuk perahu, 7 gambar berbentuk geometris, dan 6 gambar berbentuk abstrak. Kemudian, hasil pengelompokan tipe yang dilakukan menghasilkan 32 tipe, termasuk MKBMmg2, MKBMtg2, MKMmg2, MKMtg2, MMtg2, MBmg2, MBtg2, MBKtg2, MKBtg1, MKBtg2, MKtg1, MKtg2, MMF1a, MMF1b, MMF2a, MMF3c, MMP 1t12, MMP 1ttl2, MMP2t11, F1, F2, F3, F4, F5, PT2t11, GLC, GCQ, GT, GP, GD, GO, dan GU, serta bentuk abstrak
URBANIZATION OF BAJO TRIBE COMMUNITIES IN KENDARI CITY
Nowadays, many Indonesian people are urbanizing from villages to cities, one of which is the Bajo tribe community in Kendari City to improve their welfare. This is done because cities are seen socially as communities that were created from the start to increase productivity, through concentration and specialization of the workforce and allowing for intellectual, cultural, and recreational diversity in cities. An area is called a city if the area can provide the needs/services needed by the population in that area. However, several areas consider urbanization to be a process of population movement which causes the target area to create slum settlements, health problems, education problems, and increasing unemployment so urbanization is considered to only hurt the target area. This perception has given rise to the fact that urbanization does not need to be carried out in every region, especially in big cities in Indonesia. With this, research on "Urbanization of the Bajo Tribe Community in Kendari City" needs to be carried out to determine the impacts on the people of Kendari City.
Keywords: Urbanization, Bajo Tribe, Kendari City
PRASANGKA RASIAL DALAM CERPEN MENANTU KARYA REDA GAUDIAMO
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena prasangka rasial antara etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis untuk menjelaskan analisis teks. Data penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang menunjukkan kondisi latar teks wacana dalam cerpen. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku yang berisi kumpulan cerpen yang berupa teks wacana berjudul China Moon. Hasil penelitian memetakan skema Teun A. Van Dijk dalam analisis teks ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro merupakan tema cerpen Menantu. Cerpen Menantu bertema tentang sikap saling prasangka antara etnis pribumi dengan Tionghoa. Superstruktur merupakan skema atau alur. Skema dalam cerpen Menantu yakni alur cerita dari awal sampai akhir. Analisis diawali dari pendahuluan, isi, penutup, dan simpulan. Bagian isi menunjukkan bahwa terbentang jarak antara pribumi dan Tionghoa akibat sikap saling prasangka yang berlarut-larut. Bagian isi juga menunjukkan bahwa seorang anak yang terlahir dari pernikahan campur antara pribumi dan Tionghoa mengakui bahwa dirinya mengalami ketidakjelasan identitas. Ia merasakan bukan pribumi bukan pula Cina. Struktur mikro di dalamnya terdiri atas semantik (latar, detail, dan maksud). Sintaksis (koherensi, kata ganti, dan bentuk kalimat) stilistik dan retoris (grafis, metafora, dan ekspresi. Pada struktur mikro dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk dan memperkuat pesan bahwa cerpen Menantu karya Reda Gaudiamo merupakan cerpen yang berisi sikap saling antipati antara pribumi dan Tionghoa
PELATIHAN MENULIS ESSAI SEBAGAI BENTUK PENDAMPINGAN TERHADAP KOMUNITAS LITERASI DI KOTA KENDARI
Minat menulis generasi muda di era digital menghadapi tantangan yang cukup besar. Kemajuan teknologi khususnya keberadaan gadget mengalihkan perhatian dan minat anak muda untuk membaca dan menulis. Sejumlah anak muda justru tertarik dengan tampilan audio visual yang dihadirkan oleh gadget dan teknologi canggih lainnya. Sejumlah anak muda saat ini juga cenderung terjebak dalam dunia media sosial. Tentu saja hal tersebut menjadi penghambat untuk mengembangkan kemampuan menulis mereka. Terkait dengan hal tersebut, tim pengabdian dari Universitas Halu Oleo berupaya berkonstribusi untuk memberikan pendampingan kelas menulis terhadap sejumlah anak muda dari Komunitas Menulis di Kota Kendari. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan Pelatihan dan Diskusi Kelompok kepada sejumlah anak muda yang tergabung dalam Komunitas Menulis se-Kota Kendari. Pertama, peserta diberikan pengetahuan mengenai pentingnya memiliki kemampuan menulis essai. Kedua, peserta diberikan pengetahuan tentang kiat-kiat mengasa dan mengembangkan kemampuan menulis essai. Ketiga, dilakukan proses latihan menulis serta diskusi kelompok mengenai topik pengabdian. Dari hasil pengamatan kegiatan di lapangan, diperoleh informasi bahwa sebagian peserta yang tergabung dalam komunitas menulis memiliki minat untuk mengembangkan kemampuan menulisnya, khususnya untuk menulis essai panjang. Setelah mengikuti pelatihan penulisan, para peserta semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan menulisnya
Penyuluhan Pemanfaatan Lahan Pekarangan Sebagai Modal Ketersediaan Pangan Keluarga Secara Mandiri di Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengobservasi pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman pekarangan di Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan. Pengabdian ini menggunakan teori Etnosains menurut William (1964) dalam Ahimsa-Putra (2022:14). Metode yang digunakan adalah metode etnografi dengan memadukan pengamatan dan wawancara mendalam. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat di Desa Cialam Jaya terbagi menjadi 4 jenis tanaman yaitu tanaman TOGA seperti kunyit, sereh dan daun klorofil. Tanaman sayur-sayuran seperti kelor, cabai, dan kemangi kemudian tanaman buah-buahan seperti pisang, jeruk, jambu biji, pepaya, dan kelapa. Terakhir yaitu tanaman bunga seperti bunga asoka, bunga tai ayam, bunga daun merah, dan bunga pukul 9. Pemanfaatan dilakukan dengan menurunkan pengetahuan ke generasi selanjutnya dengan memperkenalkan jenis tanaman dan kegunaannya kepada anak-anak mereka. Alasan pemanfaatan tanaman yaitu kondisi tanah yang subur dan kebutuhan konsumsi serta kebutuan ekonomi. Dalam pemanfaatan tanaman masyarakat memperoleh pengetahuan dari interaksi dengan masyarakat lainnya. Dampak yang terjadi pada pemanfaatan tanaman pekarangan yaitu dapat memenuhi kebutuhan pengobatan serta konsumsi sehari-hari. Sebaiknya Pemerintah mengadakan pemberian bibit kepada masyarakat terlebih pada tanaman yang dapat berguna untuk dijadikan obat, sayuran, dan juga buah-buahan
Kritik Sosial dalam Lirik Lagu Mon Précieux Karya Penyanyi Soprano
This research aims to understand the denotative, connotative meaning and their relationship with the social criticism contained in the lyrics of the song "Mon Précieux" by Soprano. The type of research method used is qualitative descriptive using words as research data. The data sources used in this research come from primary data sources, namely the video clip titled "Mon Précieux" on the YouTube platform, and secondary data sources, such as literary studies, relevant research and the Larousse dictionary . The data collection technique was carried out by data identification, listening and reading, as well as scoring and interpretation. Next, the data was analyzed using Roland Barthes\u27 study of semiotics which contains denotative and connotative meanings as well as their relationship with social criticism. Based on the results and discussions conducted, it was found that the song “Mon Précieux” by Soprano criticizes man\u27s dependence on technology and electronic devices such as smartphones. The lyrics of the song present a duality of meaning with the denotation describing the literal action of using a cell phone and the connotation describing an unbalanced relationship between man and technology. The song raises the question of whether addiction to technology has reached a point where we can no longer function without it. Although technology allows us to stay connected with others, consume media and make purchases, the song also highlights its negative impacts such as social isolation and neglect of real life. Therefore, the song invites listeners to think about wise use of technology and live their real lives to the fullest.
PENGETAHUAN MEGALU (BERKEBUN) PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LINDO KECAMATAN WADAGA KABUPATEN MUNA BARAT (1992-2022)
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: 1) Pengetahuan masyarakat Muna tentang megalu di Desa Lindo Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat. 2) Teknologi megalu pada masyarakat Muna di Desa Lindo Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang mengacu pada pendapat Kuntowijoyo yang terdiri atas lima tahap sebagai berikut: (1) Pemilihan Topik, (2) Heuristik (Pengumpulan Sumber) yang terdiri dari penelitian kepustakaan, pengamatan, wawancara, dan studi dokumen, (3) Verifikasi (Kritik Sumber) yang terdiri dari kritik ektern dan kritik intern, (4) Interpretasi yang terdiri dari analisis dan sintesis, (5) Historiografi (Penulisan Sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Pengetahuan masyarakat Muna tentang Megalu di Desa Lindo meliputi: kepercayaan dalam hal pemilihan lokasi, pelaksanaan ritual, penentuan waktu penanaman, kepercayaan terhadap keadaan, dan kondisi geografis, mulai dari detambori, dewei, dosula, deghala/dekatondo, defematai, dotisa, dedhaghani kantisa, depasele, detongka. Hal tersebut sudah merupakan kebiasaan sejak dahulu yang diwariskan dari nenek moyang mereka. 2) Teknologi Megalu pada masyarakat Muna di Desa Lindo dibagi dua periode, periode pertama pada (1992-2002); sistem pertanian tradisional menggunakan alat-alat sederhana dan seadanya. Periode kedua (2003-2022); sistem pertanian sudah berkembangdan alat-alat yang digunakan sudah modern
Strategi Pengembangan Wisata Budaya Berbasis Tradisi Kamooru Wuna di Kabupaten Muna
Cultural tourism has become one of the most dynamic sectors in the global tourism industry. Muna Regency has a variety of traditions that can be used as cultural tourism, one of which is the kamooru wuna tradition. In addition to its woven fabric products (kamooru), weaving activities can also be an exciting cultural tourism attraction because the process and tools used are still traditional. For kamooru wuna to succeed as a leading tourism commodity and to preserve this craft, it is necessary to conduct a study aimed at identifying the prospects for developing kamooru wuna-based cultural tourism and formulating strategies for developing cultural tourism based on the kamooru wuna tradition. This research was conducted in Muna Regency. Data collection was conducted through observation, in-depth interviews, literature reviews, and focus group discussions. Informants were determined using snowball sampling. Data analysis used qualitative descriptive analysis and SWOT analysis methods. The results of the study show that the Kamooru Wuna tradition can be utilized as a cultural tourism offering that incorporates elements of authenticity, uniqueness, quality, characteristic products, and a source of pride for the region, as well as a diverse range of tourist attractions. Based on the results of the SWOT analysis and FGD, several strategies were formulated for the development of cultural tourism based on the kamooru wuna tradition in Muna Regency, namely: 1) Development of the appeal of kamooru Wuna and the Masalili Weaving Tourism Village, 2) Addition of tourism support facilities and environmental cleanliness, 3) Development of integrated cultural tourism (agro-tourism and rural tourism), 4) Developing human resources and strengthening institutions, and 5) Developing local cotton and yarn centres in Muna Regency