TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Integrating Constructivist, Assessment, and Cultural Dimensions in EFL Writing Pedagogy

    No full text
    This narrative literature review investigates the integration of cognitive-constructivist, social-collaborative, assessment-based, and cultural-rhetorical frameworks to enhance English as a Foreign Language (EFL) writing instruction. Addressing persistent gaps between theoretical knowledge and classroom implementation, this study synthesizes empirical evidence from 2020 to 2025 to develop an integrated pedagogical framework. The methodology employed a literature search across multiple databases (JSTOR, Google Scholar, ERIC, Web of Science, Scopus) using specified conceptual clusters, with thematic analysis conducted through a three-phase synthesis approach involving comparative methods, critical evaluation, and theoretical integration. Findings demonstrate that when systematically integrated, cognitive self-regulation strategies and social collaborative processes produce synergistic effects on writing complexity, accuracy, and fluency. Assessment effectiveness emerges through differentiated approaches combining formative, summative, and dynamic evaluation methods across proficiency levels. Cultural-rhetorical analysis reveals that learners\u27 first language traditions significantly influence second language rhetorical choices, requiring explicit, culturally adaptive pedagogical interventions. The synthesis identifies professional development, reflective practice, and communities of practice as essential mechanisms for sustainable theory-to-practice translation. The study contributes an initial conceptual framework for understanding multidimensional approaches to EFL writing instruction, though geographic bias toward East Asian contexts and methodological limitations constrain generalizability. Future research should prioritize longitudinal investigations, implementation science methodologies, and collaborative inquiry approaches to develop a scalable, culturally inclusive writing pedagogy that effectively serves diverse learner populations across varied institutional contexts.

    Private Ownership of Marine Territories in Sumba: Cultural Identity, Globalization, and Algorithmic Power in the Struggles of Coastal Communities

    No full text
    The extension of private land ownership into marine territories in Sumba has generated socio-economic tensions by restricting traditional fishing grounds and undermining communal access to coastal resources; yet, scholarly attention to its cultural and digital implications remains limited. This study aims to examine how such privatization affects the livelihoods and cultural identity of coastal communities in the context of globalization and algorithmic power. Employing a qualitative ethnographic approach combined with digital discourse analysis, the research investigates community narratives, policy documents, and representations across social media platforms. The findings reveal that privatization disrupts indigenous systems of reciprocity, compels local communities to renegotiate their cultural identity, and exposes them to global economic models that privilege individual ownership. Moreover, algorithmic amplification in digital media tends to marginalize indigenous voices while reinforcing dominant narratives aligned with commercial interests. The study concludes that marine privatization in Sumba not only reshapes socio-cultural relations but also illustrates how globalization and algorithmic systems jointly reconfigure cultural identity and resource legitimacy in contemporary Indonesia

    Tradisi Pengobatan Lara pada Masyarakat Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat

    No full text
    Lara merupakan salah satu jenis penyakit langka yang tergolong sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi dari penyakit sebelumnya, seperti bisul, cacar, maupun luka pada bagian tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan masyarakat terhadap tradisi pengobatan Lara serta untuk mengetahui proses pengobatan Lara pada masyarakat di Desa Walelei, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengetahuan masyarakat, Lara dipahami sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi daripenyakit lain yang sebelumnya telah ada. Penyakit ini muncul apabila luka atau penyakit awal tidak ditangani dengan baik dan tidak kunjung sembuh. Lara juga memiliki beberapa jenis, di antaranya: Lara ifi (api), Lara oe (air), dan Lara wandoke. Dalam pengobatan tradisional, prosespenyembuhan Lara melalui beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan bahan-bahan berupa air di dalam gelas, daun kapuk (kadhawa), daun popasa,daun rincik bumi (kambea moloku), daun turi (kambadhawa), dan biji labu tua. Daun kapuk (kadhawa) dikucek dengan sedikit air lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Daun popasa, daun rincik bumi (kambea moloku), dan daun turi (kambadhawa) dicampur dengan sedikit air,kemudian disaring dan diminum oleh pasien. Pasien juga mengonsumsi biji labu tua yang telah dikupas kulitnya, yang dapat dilakukan secara mandiri setelah proses pengobatan. Selain itu, pasien juga meminum air yang telah dibacakan mantra, yang dalam tradisi disebut sebagai air kaferebu

    Pewarisan Pandai Besi di Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat

    No full text
    Pandai besi adalah orang yang bekerja membuat benda-benda dari besi atau baja. Benda-benda yang dibuatnya bisa berupa alat-alat pertanian, perabot rumah tangga dan senjata. Tujuan penelitian ini yaitu Untuk menganalisis proses pembuatan keterampilan pandai besi dan Untuk mengetahui proses pewarisan dan upaya pelestarian keterampilan pandai besi di Desa Walelei Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik Purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan parang oleh pandai besi di Desa Walelei terdiri atas beberapa tahapan, yaitu pembelahan besi (kaewengkaha ghuti), pemipihan besi (dopepe’e), pengasahan mata parang (dowintoe), serta proses sepuhan dan pemasangan hulu parang (pangko). Setiap tahapan membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan pengalaman yang tinggi, serta memadukan teknik tradisional dengan penggunaan alat sederhana yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain itu, pewarisan keterampilan pandai besi dilakukan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga melalui pembelajaran langsung dan keterlibatan anak-anak sejak usia dini. Upaya pelestarian dilakukan dengan menjaga kualitas produk, mempertahankan teknik tradisional, serta menanamkan nilai-nilai budaya dan etos kerja kepada generasi penerus

    SEJARAH PASAR TRADISIONAL MOTAHA DI DESA MOTAHA KECAMATAN ANGATA KABUPATEN KONAWE SELATAN (1993-2021)

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah, perubahan, faktor pendukung dan penghambat dibangunnya pasar tradisional Motaha Kecamatan Angata Konawe Selatan pada tahun 1993-2021. Pasar tradisional Motaha memiliki peran penting dalam memenuhi kehidupan ekonomi masyarakat Desa Motaha. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasar tradisional Motaha dibangun pada tahun 1993 karena pada saat itu masyarakat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-harinya. Masyarakat Motaha saat itu juga tidak mendapatkan akses untuk melakukan transaksi jual beli terhadap hasil tani mereka. faktor pendukung perkembangan pasar tradisional yaitu aksesibilitas dengan posisi geografis strategis yang terletak di tengah pemukiman masyarakat, jaringan jalan bagus sehingga pasar tradisional Motaha mudah dijangkau dengan transportasi pribadi dan angkutan umum. Pasar tradisional Motaha juga didukung dengan tersedianya infrastruktur seperti ketersediaan los pasar tradisional, ketersediaan meja pedagang pos keamanan, kantor pasar tradisional, toilet umum, lahan parkir, tempat sampah, dan adanya saluran air. Faktor penghambat pembangunan pasar Motaha yaitu terbatasnya anggaran dan adanya permasalahan perizinan lahan

    DIASPORA ORANG BUGIS DI KECAMATAN SAMPARA PADA ABAD XX

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan diaspora orang Bugis di Kecamatan Sampara pada abad XX. (2) menjelaskan penyebab diaspora orang Bugis di Kecamatan Sampara. (3) menjelaskan bagaimana orang Bugis mempertahankan budaya mereka setelah melakukan diaspora. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan langkah: (1) Pemilihan topik, (2) Pengumpulan sumber, (3) Kritik sumber, (4) Interpretasi sumber, (5) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Diaspora orang Bugis di Kecamatan Sampara pada abad XX ditandai dengan  perpindahan mereka secara berangsur-angsur atau bertahap. Perpindahan tersebut biasanya terlebih dahulu dilakukan oleh kepala rumah tangga yang memboyong keluarganya untuk mencari lokasi yang cocok untuk ditempati. (2) Diaspora orang Bugis di Kecamatan Sampara dilatarbelakangi oleh faktor pendorong dan faktor penarik sehingga orang Bugis. (3) Ketahanan budaya orang Bugis setelah berdiaspora tetap terjaga. Walaupun mereka berada di lingkungan budaya berbeda, namun mereka tidak terpengaruh dan tetap mempertahankan budayanya

    OBJEK WISATA PANTAI WALENGKABOLA DESA OEMPU KECAMATAN TONGKUNO KABUPATEN MUNA: 1989-2022

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) latar belakang dibukanya objek wisata Pantai Walengkabola pada tahun 1989, (2) perkembangan objek wisata pantai Walengkabola pada tahun 1989-2022, (3) dampak objek wisata Pantai Walengkabola bagi masyarakat sekitar pada tahun 1989-2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sejarah yang terdiri dari (1) Topik, (2) Heuristik, (3) Verifikasi, (4) Interpretasi, dan (5) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Tahun 1989 menjadi tahun dibukanya objek wisata Pantai Walengkabola di Desa Oempu. Sebelum dijadikan objek wisata, pantai ini masih berupa hamparan pasir luas yang tidak mengundang perhatian masyarakat. (2) Tahun 2000 Pemerintah Desa setempat mulai melakukan pembangunan dengan membuat vila sebagai tempat istirahat para wisatawan. Pada tahun 2017 dan 2018 Pemerintah Desa membangun pos pintu masuk dan gazebo. (3) Pantai Walengkabola mempunyai dampak bagi masyarakat di bidang sosial dan ekonomi

    SEJARAH TRANSMIGRAN JAWA DI DESA KARYA MULYA KECAMATAN KULISUSU BARAT KABUPATEN BUTON UTARA, 1992-2022

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan sejarah awal kedatangan transmigran Jawa di Desa Karya Mulya Kecamatan Kulisusu Barat Kabupaten Buton Utara Tahun 1992 dan (2) menjelaskan kondisi sosial ekonomi transmigran Jawa di Desa Karya Mulya Kecamatan Kulisusu Barat Kabupaten Buton Utara 1992-2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo, (2013: 69-81) yang terdiri dari lima tahapan yaitu: pertama pemilihan topik, kedua heuristik sumber, ketiga verifikasi sumber, keempat interprestasi sumber dan kelima historiografi. Konsep yang digunakan yaitu konsep sejarah, konsep transmigran dan konsep sosial ekonomi. Hasil penelitian menunjukan bahwa  transmigran Jawa di Desa Karya Mulya tahun 1992 berasal dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Para transmigrant tersebut tentunya memerlukan waktu untuk beradaptasi baik itu dengan lingkungan, kultur, serta dalam hubungan sosial yang pada dasarnya masih tergolong baru bagi mereka. Mereka kebanyakan bekerja sebagai petani dengan membuka lahan Perkebunan. Kondisi sosial ekonomi transmigran Jawa di Desa Karya Mulya terbagi atas beberapa periodesasi yaitu: Periode tahun1992-2002 dan Periode tahun 2002-2022. Proses perkembangan perekonomian masyarakat transmigran Jawa dari rentetan tahun ke tahun mengalami perubahan yang terus berkembang. Perubahan dinamis terlihat dalam struktur sosial ekonomi transmigran Jawa di Desa Karya Mulya. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusianya yang menjadi kunci kesuksesan dalam menghadapi tantangan zaman

    ISTILAH-ISTILAH ADAT POSUO SEBAGAI CERMINAN BUDAYA MASYARAKAT CIACIA: KAJIAN ETNOLINGUISTIK

    No full text
    Penelitian ini mengkaji istilah-istilah adat posuo sebagai cerminan budaya masyarakat Ciacia melalui pendekatan etnolinguistik. Posuo merupakan salah satu tradisi adat yang dijalankan oleh masyarakat Ciacia, khususnya berkaitan dengan proses pendewasaan anak perempuan. Tradisi ini tidak hanya mengandung nilai ritual, tetapi juga sarat dengan makna budaya yang tercermin dalam penggunaan istilah-istilah adat yang khas. Istilah-istilah tersebut berfungsi sebagai simbol, penanda nilai sosial, serta media pewarisan pengetahuan budaya dari generasi ke generasi.  Pendekatan etnolinguistik digunakan untuk menelaah hubungan antara bahasa dan budaya dalam konteks tradisi posuo. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan tokoh adat, observasi langsung terhadap pelaksanaan posuo, serta dokumentasi istilah-istilah adat yang digunakan dalam setiap tahapan ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah-istilah adat posuo mencerminkan nilai-nilai utama masyarakat Cia-Cia, seperti kesucian, kedewasaan, tanggung jawab, penghormatan terhadap perempuan, serta ketaatan pada norma adat. Setiap istilah memiliki makna leksikal dan makna kultural yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial masyarakat pendukungnya. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa istilah-istilah dalam Posuo meliputi pokunde, pebaho, pauncura, panimpa, padole, palego, pasipo, bhaliana yimpo, dan matana posuo. Istilah-istilah dalam tradisi Posuo memiliki fungsi sosial yang meliputi pendidikan karakter, penanaman nilai religius, identitas budaya, dan solidaritas masyarakat Ciacia. Penggunaan istilah adat dalam tradisi posuo memperlihatkan fungsi bahasa sebagai sarana pembentuk identitas budaya masyarakat Cia-Cia

    WOMEN\u27S IMAGES IN THE NOVEL TO KILL A MOCKINGBIRD BY HARPER LEE

    No full text
    This study aims to analyze the representation of female characters in Harper Lee’s To Kill a Mockingbird using Gilbert and Gubar’s angel and monster feminist theory. The purpose of this research is to examine how women are constructed within patriarchal ideology and how their identities are shaped through social expectations. This study focuses on five major female characters: Scout Finch, Calpurnia, Miss Maudie Atkinson, Mayella Ewell, and Aunt Alexandra, who represent different social, racial, and economic backgrounds. This research employs a qualitative descriptive method with a feminist literary criticism approach. The primary data source is To Kill a Mockingbird (1960), while secondary data are obtained from academic books and journals related to feminism and literary studies. Data were collected through close reading to identify passages related to women’s roles, behaviors, and social positions. The selected data were then classified and analyzed using Gilbert and Gubar’s concept of “angel” and “monster.” The analysis process involved interpretation, categorization, and comparison with previous studies to ensure theoretical validity. The findings reveal that female characters in the novel are positioned within restrictive gender roles. Women who conform to social norms are portrayed as “angels,” while those who challenge these norms are labeled as “monsters.” This binary system functions as a form of social control that limits women’s freedom and individuality. However, Harper Lee presents her female characters as complex individuals who negotiate and resist these imposed roles. Therefore, the novel criticizes rigid gender stereotypes and emphasizes that women’s identities are socially constructed and dynamic. This study confirms the relevance of Gilbert and Gubar’s theory in understanding feminist issues in classic American literature

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇